Aris menatap foto kecil itu begitu lama hingga suara kendaraan yang melintas di ujung jalan seolah menghilang dari pendengarannya.
Jemarinya gemetar.
Tidak mungkin dia salah mengenali perempuan dalam foto itu.
Rambut pendek yang mulai memutih di bagian pelipis. Senyum hangat yang selalu membuat matanya menyipit. Celemek bermotif bunga yang dulu sering dipakai saat memasak.
Itu Maya.
Istrinya.
Namun foto itu jelas diambil bertahun-tahun lalu.
Di samping Maya berdiri seorang remaja kurus dengan rambut berantakan. Wajahnya pucat, kausnya kebesaran, dan kedua tangannya memegang mangkuk sup seolah makanan itu adalah benda paling berharga di dunia.
Aris perlahan mengangkat kepala.
“Itu kamu?”
Rendy mengangguk.
“Sekitar lima belas tahun lalu.”
Rian yang berdiri di dekat pagar segera mendekat.

“Dari mana kamu dapat foto kakak saya?”
Nada suaranya terdengar seperti interogasi.
Rendy tidak menjawab Rian. Tatapannya tetap tertuju pada Aris.
“Bu Maya yang memberikan foto itu kepada saya.”
Aris merasa dadanya sesak.
“Maya mengenalmu?”
“Bukan sekadar mengenal saya, Pak.”
Rendy menarik napas panjang.
“Bu Maya pernah menyelamatkan hidup saya.”
Kalimat itu membuat Aris terdiam.
Rendy kemudian duduk di tepian pot beton. Untuk pertama kalinya, pemuda yang selama berbulan-bulan hanya dianggap Aris sebagai tetangga berisik mulai menceritakan masa lalunya.
Lima belas tahun lalu, ketika berusia lima belas tahun, Rendy kabur dari rumah.
Ayahnya meninggal ketika ia masih kecil. Ibunya menikah lagi dengan seorang pria yang temperamental. Rumah yang seharusnya menjadi tempat berlindung berubah menjadi tempat yang selalu ingin ia hindari.
Rendy berhenti sekolah.
Selama beberapa minggu ia tidur berpindah-pindah, dari emperan toko hingga musala kecil dekat terminal.
Suatu malam saat hujan deras, ia duduk sendirian di depan sebuah warung yang sudah tutup.
Saat itulah Maya menemukannya.
“Bu Maya bertanya apakah saya lapar,” kata Rendy.
“Saya bilang tidak.”
Rendy tersenyum tipis.
“Padahal sudah dua hari saya cuma minum air.”
Aris menundukkan pandangannya ke foto.
Dia mulai mengingat sesuatu.
Bertahun-tahun lalu Maya memang sering pulang terlambat dari kegiatan sosial di sebuah komunitas dekat terminal. Namun setiap kali Aris bertanya, Maya hanya menjawab bahwa ia membantu beberapa anak yang membutuhkan.
Aris tidak pernah bertanya lebih jauh.
“Maya membawamu ke rumah ini?” tanyanya.
Rendy menggeleng.
“Bu Maya tahu saya takut pada orang dewasa. Jadi beliau tidak memaksa. Beliau cuma datang membawa makanan.”
Hari pertama semangkuk sup.
Hari kedua nasi dan ayam.
Hari ketiga sebuah jaket.
Kemudian Maya mulai membawa buku.
Setelah beberapa minggu, Maya menemukan bengkel kecil yang bersedia menerima Rendy sebagai pembantu.
“Beliau yang membayar uang muka kamar kos pertama saya,” lanjut Rendy. “Beliau juga yang membelikan perkakas pertama saya.”
Rian mendengus.
“Kak Maya membantu banyak orang. Itu tidak menjelaskan kenapa sekarang kamu tiba-tiba mendekati Aris.”
Rendy menatapnya.
“Saya tidak tiba-tiba datang.”
Dia menunjuk rumah di sebelah.
“Saya pindah ke sana hampir dua tahun lalu.”
Aris tersentak.
Dua tahun.
Berarti Rendy sudah tinggal di sebelah ketika Maya masih hidup.
“Maya tahu?”
Rendy mengangguk.
“Beliau yang memberi tahu rumah itu dikontrakkan.”
Aris merasa seperti orang asing di rumahnya sendiri.
Bagaimana mungkin Maya menyimpan semua ini tanpa pernah menceritakannya?
“Kenapa dia tidak pernah bilang kepadaku?”
Rendy diam sesaat.
“Karena Bu Maya bilang Bapak tidak suka menerima bantuan.”
Jawaban itu menusuk tepat ke bagian dirinya yang paling ingin disangkal Aris.
Maya benar.
Sepanjang hidup, Aris selalu bangga menjadi orang yang mampu menyelesaikan segalanya sendiri.
Ketika lututnya mulai bermasalah, ia menolak menggunakan tongkat sampai akhirnya terjatuh di kamar mandi.
Ketika Maya menyarankan menyewa tukang kebun, Aris berkata ia masih mampu melakukannya sendiri.
Bahkan setelah Maya meninggal dan rumah itu perlahan berubah menjadi bangunan kusam, Aris tetap menolak semua orang yang datang menawarkan bantuan.
Rendy kemudian mengeluarkan dompetnya.
Di balik foto lama itu terselip secarik kertas yang sudah menguning.
“Sebenarnya ada sesuatu yang lain.”
Rendy menyerahkannya kepada Aris.
Tulisan tangan itu langsung dikenali Aris.
Tulisan Maya.
Jika suatu hari Pak Aris benar-benar sendirian, jangan paksa dia bicara. Jangan paksa dia melupakan saya. Tolong pastikan saja dia membuka pintunya sesekali.
Aris membaca kalimat itu dua kali.
Lalu tiga kali.
Tongkat kayu di tangannya jatuh ke lantai.
Untuk pertama kalinya sejak pemakaman Maya, air matanya jatuh di depan orang lain.
“Maya tahu dia akan pergi?”
Rendy menunduk.
“Dokter sudah memberitahunya penyakitnya memburuk beberapa bulan sebelum beliau memberi saya pesan itu.”
Aris membeku.
“Tidak.”
Ia menggeleng keras.
“Tidak mungkin. Maya bilang kondisinya stabil.”
“Beliau tidak ingin Bapak menghabiskan bulan-bulan terakhirnya dengan ketakutan.”
Aris menutup wajahnya.
Maya memang seperti itu.
Bahkan saat sakit, perempuan itu masih sibuk memikirkan bagaimana orang lain akan hidup setelah dirinya pergi.
Namun sebelum Aris sempat mengatakan sesuatu, Rian tiba-tiba merebut kertas itu.
“Wah, hebat sekali.”
Rian tertawa pendek.
“Sepotong tulisan tangan dan sebuah foto. Dengan ini kamu mau membuat kami percaya semuanya?”
“Rian.”
Aris menatapnya.
Namun Rian justru semakin keras.
“Kamu tahu rumah ini nilainya berapa sekarang? Hampir empat miliar. Tanah di daerah ini terus naik. Lalu tiba-tiba seorang pemuda asing punya surat sentimental dari Maya?”
Rendy berdiri.
“Saya tidak menginginkan rumah Pak Aris.”
“Semua penipu bilang begitu.”
“Sudah!” bentak Aris.
Suara itu begitu keras sampai burung-burung di pohon melati beterbangan.
Rian terdiam.
Aris belum pernah membentak adik iparnya seperti itu.
“Dia pergi sekarang,” kata Rian sambil menunjuk Rendy. “Atau aku panggil keamanan.”
Rendy memandang Aris.
“Saya akan pergi kalau Pak Aris memang menginginkannya.”
Aris menatap foto Maya sekali lagi.
Lalu pandangannya jatuh pada dua kantong sampah penuh daun kering.
Pada pohon melati yang sudah diikat rapi.
Pada jalan setapak yang untuk pertama kalinya dalam berbulan-bulan bisa dilewati tanpa menginjak rumput liar.
“Biarkan dia.”
Wajah Rian berubah.
“Apa?”
“Aku bilang biarkan dia.”
Rian mengepalkan rahangnya.
“Aris, kamu sedang tidak berpikir jernih.”
“Aku justru baru mulai berpikir jernih.”
Rian pergi beberapa menit kemudian dengan wajah kesal.
Sebelum masuk mobil, ia mengatakan akan kembali karena ada urusan penting mengenai rumah tersebut.
Kalimat itu terdengar aneh bagi Aris.
Namun ia terlalu lelah untuk memikirkannya.
Hari itu, untuk pertama kalinya dalam sembilan bulan, Aris duduk di teras.
Rendy membuatkan dua gelas teh.
Mereka tidak banyak bicara.
Anehnya, Aris tidak merasa perlu.
Hari berikutnya Rendy datang membawa bibit mawar.
Aris sempat memarahinya karena jenis mawar yang dibeli salah.
“Yang Maya suka warna merah muda, bukan merah.”
Rendy tertawa.
“Kalau begitu besok saya tukar.”
“Tidak usah.”
Aris mengambil sekop kecil.
“Tanam saja. Maya juga pasti tidak keberatan.”
Hari-hari berikutnya perlahan mengubah rumah itu.
Rendy memperbaiki pagar yang berkarat.
Aris mulai menyiram tanaman setiap pagi.
Mereka membersihkan gudang dan menemukan radio tua milik Maya.
Untuk pertama kalinya setelah berbulan-bulan, musik terdengar dari rumah itu.
Tetangga mulai melihat Aris berjalan sampai ujung jalan pada sore hari.
Ketua RT bahkan terkejut ketika suatu pagi Aris datang sendiri ke rumahnya.
“Saya mau minta maaf soal waktu itu.”
Ketua RT tersenyum.
“Yang penting Bapak baik-baik saja.”
Namun ketenangan itu hanya berlangsung sebelas hari.
Pada suatu siang, sebuah mobil berhenti di depan rumah.
Rian turun bersama dua pria berjas.
Salah satunya membawa map.
“Kita perlu bicara.”
Mereka duduk di ruang tamu.
Rian meletakkan beberapa dokumen di meja.
“Aku sudah menemukan pembeli rumah ini.”
Aris menatapnya tidak percaya.
“Pembeli?”
“Kamu tidak bisa tinggal sendirian terus. Jual rumah ini. Pindah ke fasilitas lansia yang bagus. Aku sudah mengurus semuanya.”
“Aku tidak pernah menyuruhmu menjual rumahku.”
Rian menghela napas.
“Kamu sudah tua, Aris. Kondisimu juga tidak stabil sejak Maya meninggal.”
Aris merasa darahnya mendidih.
“Keluar.”
“Jangan keras kepala.”
“Keluar dari rumahku.”
Salah satu pria berjas buru-buru berdiri, tetapi Rian tetap duduk.
“Ada surat kuasa yang pernah kamu tanda tangani.”
Aris membeku.
Rian mengeluarkan dokumen lain.
Aris mengenali tanda tangannya.
Dokumen itu ditandatangani beberapa hari setelah Maya meninggal, ketika pikirannya kacau dan Rian datang membawa setumpuk berkas yang katanya diperlukan untuk mengurus administrasi rumah sakit.
“Aku hanya ingin memastikan kamu aman,” kata Rian.
Tiba-tiba terdengar suara dari pintu.
“Dengan menjual rumahnya tanpa izin?”
Rendy berdiri di sana.
Rian bangkit.
“Ini urusan keluarga!”
“Kalau begitu kenapa ada agen properti?”
Rian kehilangan kesabaran.
Ia mendorong bahu Rendy.
“Keluar!”
Rendy tidak membalas.
Namun dompetnya terjatuh.
Beberapa kartu dan kertas berserakan.
Sebuah kartu kecil jatuh tepat di kaki Aris.
Aris membungkuk mengambilnya.
Kartu nama sebuah kantor hukum.
Di belakangnya tertulis satu nama yang ia kenal.
Maya Prasetyo.
“Apa ini?”
Rendy tampak ragu.
“Pak…”
“Apa lagi yang Maya sembunyikan dariku?”
Akhirnya Rendy menceritakan semuanya.
Beberapa minggu sebelum meninggal, Maya menemui notaris.
Bukan untuk memberikan rumah kepada Rendy.
Justru sebaliknya.
Maya khawatir setelah kematiannya Aris akan terlalu rapuh untuk memahami dokumen yang diberikan kepadanya.
Karena itu ia meminta notaris mencatat bahwa rumah tersebut tidak boleh dialihkan melalui surat kuasa umum tanpa verifikasi langsung dari Aris dan dua saksi independen.
Rendy adalah salah satu saksi yang ditunjuk Maya.
Wajah Rian langsung pucat.
“Omong kosong.”
Rendy mengeluarkan ponsel.
“Saya sudah menghubungi notarisnya pagi tadi setelah melihat ada orang memotret rumah ini kemarin.”
Kurang dari setengah jam kemudian, seorang notaris datang bersama stafnya.
Dokumen yang dibawa Rian ternyata tidak cukup untuk menjual rumah tersebut.
Lebih buruk lagi, setelah diperiksa, terdapat perubahan pada beberapa bagian surat kuasa yang ditandatangani Aris.
Rian tidak lagi mengatakan apa-apa.
Ia mengambil mapnya dan pergi.
Di depan pintu, Aris memanggilnya.
“Rian.”
Pria itu berhenti.
“Aku tidak tahu apa yang membuatmu melakukan ini. Tapi mulai hari ini, jangan pernah memakai nama Maya untuk membenarkan keserakahanmu.”
Rian pergi tanpa menoleh.
Malam itu Aris dan Rendy duduk di teras.
Hujan tipis turun di halaman yang kini mulai hidup kembali.
Aris memandangi bunga mawar merah yang mereka tanam bersama.
“Aku salah menilaimu.”
Rendy tersenyum kecil.
“Karena tato?”
“Karena banyak hal.”
Aris terdiam sebentar.
“Kenapa tidak pernah bilang sejak awal tentang Maya?”
Rendy memandang pohon melati.
“Karena Bu Maya tidak meminta saya membuat Bapak berutang budi kepada saya.”
“Lalu apa yang dia minta?”
Rendy mengeluarkan secarik kertas lain dari dompetnya.
Aris langsung mengernyit.
“Masih ada lagi?”
Rendy tertawa kecil.
“Yang terakhir.”
Aris membukanya.
Tulisan Maya memenuhi setengah halaman.
Rendy, kalau suatu hari Aris akhirnya bertanya kenapa kamu terus datang, katakan kepadanya bahwa aku tidak menitipkan dia kepadamu. Aku menitipkan kalian berdua satu sama lain. Kamu pernah membutuhkan keluarga ketika masih muda. Mungkin suatu hari dia juga akan membutuhkan seseorang yang bersedia duduk di teras tanpa banyak bertanya.
Aris berhenti membaca.
Matanya basah.
Namun kali ini ia tersenyum.
Tiga bulan kemudian, halaman rumah itu hampir tidak bisa dikenali.
Mawar tumbuh kembali.
Pohon melati berbunga.
Rumput dipotong rapi.
Setiap Minggu pagi, dua kursi selalu diletakkan di teras.
Satu untuk Aris.
Satu untuk Rendy.
Suatu sore Aris sedang menyiram bunga ketika seorang tetangga baru berhenti di depan pagar.
Pria itu melirik Rendy yang sedang memperbaiki motor di garasi sebelah.
“Tetangga Bapak itu kelihatannya agak menyeramkan, ya. Tattonya banyak sekali.”
Aris mematikan selang.
Ia menatap Rendy, lalu tersenyum.
“Dulu saya juga berpikir begitu.”
“Terus?”
Aris melihat pohon melati yang bergerak pelan tertiup angin.
“Rupanya, umur tujuh puluh enam tahun pun belum cukup untuk mengajari saya agar tidak menilai isi hati seseorang dari kulitnya.”
Malam itu, sebelum tidur, Aris meletakkan foto Maya di meja samping tempat tidur.
Di samping foto pernikahan mereka, kini ada satu foto baru.
Foto Aris dan Rendy berdiri di halaman sambil memegang sekop, keduanya kotor oleh tanah dan tertawa seperti ayah dan anak.
Di belakang foto itu Aris menulis satu kalimat.
Maya, pintunya sudah kubuka.
Baru ketika hendak memasukkan foto itu ke dalam bingkai, Aris menyadari sesuatu yang membuatnya terdiam.
Di sudut foto lama Maya dan Rendy yang selama ini disimpan pemuda itu, ada tulisan sangat kecil yang hampir pudar.
Tulisan tangan Maya.
Aris membacanya di bawah cahaya lampu.
Kalau suatu hari dua lelaki keras kepala ini akhirnya menjadi keluarga, berarti rencanaku berhasil.
Aris tertawa sambil menangis.
Bahkan setelah sembilan bulan meninggalkan dunia, Maya ternyata masih mengenalnya lebih baik daripada siapa pun.
Dan untuk pertama kalinya sejak istrinya pergi, rumah itu tidak lagi terasa seperti tempat yang ditinggalkan seseorang.
Rumah itu kembali menjadi tempat seseorang pulang.
