IBU MENTUA DARI BELANDA INI MENGHINA BAKAL MENANTUNYA DALAM BAHASA BELANDA DI MEJA MAKAN
“Maafkan saya, Hendrik. Saya tidak berniat mencelah.” Suara Ratna kedengaran tenang, namun bahasa Belanda yang keluar dari bibirnya begitu fasih
“Maafkan saya, Hendrik. Saya tidak berniat mencelah.” Suara Ratna kedengaran tenang, namun bahasa Belanda yang keluar dari bibirnya begitu fasih
Pak Rahman berdiri lama di bawah khemah sambil memandang jalan kampung yang lengang. Jam di dinding rumah menunjukkan pukul satu
Kapten Juan Marcos tidak terus menjawab soalan yang bermain di fikiran semua orang. Dia hanya berdiri di tengah lorong pesawat
Kepala Bima perlahan terangkat dari kasur. Dan tubuhnya mulai bergerak ke arahku. “Rani, jangan panik.” Suara Dinda terdengar kecil dari
Semakin jelas Rani melihat sesuatu yang tersembunyi di balik lemari itu, semakin terasa dingin seluruh tubuhnya. Noda hitam tersebut bukan
Maya tidak menangis ketika membaca mesej itu. Dia hanya duduk kaku di kerusi pejabat Puan Linda, dengan telefon di tangan
Jeritan Clara bergema di seluruh bilik tidur itu. Tangannya pantas menutup mulut, sementara matanya terbeliak melihat apa yang sedang berlaku
Pintu lif tertutup tepat di hadapan wajah Cielo yang pucat. Namun aku tahu, kisah ini belum berakhir. Telefonku bergetar lagi
“Sebab rumah ini memang tak pernah jadi milik kamu.” Suara Maya tidak tinggi. Tidak juga bergetar. Namun ayat itu terasa
“Masuklah, Aris.” Suara Bambang Pratama tidak tinggi, namun cukup untuk membuatkan lelaki itu membeku di muka pintu. Puan Ratna yang