DEMI ADIK YANG MENYEBABKAN TELINGAKU PEKAK, IBU MEMBATALKAN PEMBEDAHANKU….
Sepanjang perjalanan ke universiti, telefonku tidak berhenti bergetar. Ibu menelefon sebelas kali. Ayah enam kali. Reyhan menghantar tujuh belas mesej.
Sepanjang perjalanan ke universiti, telefonku tidak berhenti bergetar. Ibu menelefon sebelas kali. Ayah enam kali. Reyhan menghantar tujuh belas mesej.
Jam 4.20 pagi itu, aku masih belum tahu nama lelaki bertatu yang menggenggam tanganku. Aku hanya tahu tangannya besar, kasar
Lance mencondongkan tubuhnya ke layar monitor. Jari yang tadi sibuk mengetuk meja mendadak berhenti. Di rekaman CCTV, Pak Berting terlihat
Bunyi klik itu nyaris tak terdengar di tengah suara musik dari pengeras suara van. Namun bagiku, suara kecil itu terdengar
“Jangan sentuh dia! Dia sudah menelan obat! Panggil ambulans sekarang!” Suara perempuan itu memecah kesunyian kamar seperti petir. Pintu terbuka
Malam itu, pukul dua lewat tiga belas menit, aku duduk sendirian di ruang kerja apartemenku dengan tiga layar menyala di
Panggilan itu tersambung setelah tiga nada. “Halo?” Begitu mendengar suara di seberang, pertahanan Marianna yang sejak tadi ia bangun nyaris
Pukul empat lewat sedikit ketika suara mobil berhenti di halaman. Rina sedang duduk di meja makan bersama ibunya. Di hadapan
Suara retakan itu tidak keras. Hanya bunyi pendek. Krek. Namun saat layar laptop kerjaku berubah menjadi garis-garis hitam di bawah
Aku memutar ulang rekaman itu tiga kali. Bukan karena aku tidak mendengar ucapan Dimas dengan jelas. Justru karena setiap katanya