Pesan dari Nenek Sabel membuat darahku seolah berhenti mengalir.
Kau tahu kau kembali.
Aku menatap layar ponsel selama beberapa detik. Di luar jendela pusat kebugaran, langit Bandung masih kelabu. Hujan semalam meninggalkan genangan di sepanjang trotoar.
Bagaimana Nenek bisa tahu?
Di kehidupan sebelumnya, aku baru mengetahui rahasia kedua ulat itu setelah kematianku. Selama tiga tahun, kesadaranku terperangkap di sebuah rumah ibadah tua di Banyuwangi. Aku mendengar bisikan orang-orang yang datang berdoa, membaca catatan kuno yang tersimpan di sana, tetapi tidak pernah bisa menyentuh apa pun.

Kini, perempuan yang memiliki kedua makhluk itu justru mengirimkan pesan seolah telah menungguku.
Ponselku kembali bergetar.
Jangan kembali ke rumah. Dan apa pun yang terjadi, jangan biarkan Bianca mengetahui tentang hari ketujuh.
Aku segera meneleponnya.
Namun, panggilanku tidak tersambung.
Sebagai gantinya, sebuah pesan suara masuk.
Suara Nenek terdengar lemah.
“Mara, kalau kau ingin hidup, datanglah ke Banyuwangi sebelum malam ketujuh. Ada sesuatu yang belum sempat kuberitahukan kepadamu.”
Pesan itu berakhir dengan suara benda pecah.
Lalu terdengar bisikan seorang laki-laki.
“Dia sudah memilih lagi, Sabel?”
Aku mengenali suara itu.
Suara yang sama pernah kudengar di rumah ibadah tua setelah kematianku.
Suara seseorang yang seharusnya sudah meninggal puluhan tahun lalu.
Kakek buyut kami.
Aku langsung memesan tiket pesawat menuju Surabaya untuk keesokan harinya.
Namun, sebelum berangkat, aku harus menghadapi gelombang lapar kedua.
Pada malam ketiga, rasa lapar itu datang ketika aku sedang berbaring di kamar penginapan.
Awalnya hanya perut yang terasa kosong. Kemudian, seluruh tubuhku menggigil. Aroma makanan dari warung di seberang jalan terasa begitu tajam hingga aku bisa membayangkan setiap butir nasi yang sedang dimasak.
Aku hampir kehilangan akal.
Tanganku sudah memegang aplikasi pemesanan makanan ketika sebuah kalimat dari catatan kuno terlintas dalam ingatanku.
Makhluk yang memakan lemak tidak pernah benar-benar kenyang karena yang dicarinya bukan makanan, melainkan kepatuhan manusia.
Aku mematikan ponsel.
Aku tidak akan membiarkan makhluk itu mengendalikan pikiranku.
Namun, aku juga teringat perkataan pelatih di pusat kebugaran. Tubuh manusia tidak bisa dipaksa bertahan tanpa makanan hanya demi membuktikan sesuatu.
Aku pergi ke rumah sakit terdekat.
Dokter yang memeriksaku bernama dr. Ratna.
“Kadar gula darahmu rendah. Kamu juga mengalami dehidrasi,” katanya setelah melihat hasil pemeriksaan.
Aku mengangguk.
“Aku merasa lapar terus-menerus, Dok. Bahkan setelah makan.”
Dokter Ratna menatapku serius.
“Kalau begitu, kita harus mencari penyebabnya. Jangan mencoba mengatasinya dengan olahraga berlebihan atau berhenti makan.”
Aku menerima cairan infus dan makanan yang diberikan petugas medis.
Anehnya, begitu aku makan secukupnya tanpa menuruti dorongan untuk melahap semuanya, sesuatu di dalam perutku bergerak dengan kasar.
Seolah marah.
Lalu rasa lapar itu perlahan mereda.
Aku akhirnya memahami sesuatu yang tidak tertulis dengan jelas dalam catatan kuno.
Bertahan bukan berarti menyiksa diri.
Bertahan berarti tetap memiliki kendali.
Sementara itu, Bianca mulai kehilangan kesabarannya.
Aku mengetahuinya dari sebuah video yang dikirimkan teman lama kami.
Dalam video itu, Bianca berdiri di depan cermin kamar sambil menangis.
Wajahnya pucat.
“Aku sudah makan sedikit sekali! Aku bahkan tidak menyentuh nasi sejak kemarin! Kenapa berat badanku masih naik?”
Ibu berdiri di belakangnya.
“Mungkin ulat itu sedang bekerja, Sayang.”
“Bekerja bagaimana? Setiap kali timbanganku naik, rasanya seperti tulangku diremukkan!”
Ayah menyuruhnya bersabar.
Namun, Bianca justru membanting timbangan ke lantai.
“Aku tidak mau menunggu bertahun-tahun! Mara bisa menjadi model karena ulat ini. Kenapa aku tidak?”
Aku mematikan video.
Bianca hanya melihat hasil akhir kehidupanku sebelumnya.
Ia tidak pernah melihat pagi-pagi ketika aku berlatih dengan kaki gemetar. Ia tidak mengetahui berapa kali aku gagal mengikuti audisi, berapa banyak penolakan yang kuterima, atau bagaimana aku belajar mencintai tubuhku tanpa menjadikan angka timbangan sebagai ukuran harga diri.
Baginya, kesuksesanku hanyalah hadiah dari seekor ulat.
Dan kini, ia menginginkan hadiah yang sama tanpa memahami harganya.
Keesokan paginya, aku tiba di Banyuwangi.
Rumah Nenek Sabel terletak di pinggir desa, tidak jauh dari kebun kopi tua. Bangunannya sederhana, dengan dinding kayu dan halaman yang dipenuhi tanaman obat.
Namun, pintu depannya terbuka.
Di ruang tamu, kursi terbalik. Pecahan cangkir berserakan.
“Nenek?”
Tidak ada jawaban.
Aku menemukan secarik kertas di bawah meja.
Tulisan tangan Nenek tampak bergetar.
Jika kau membaca ini, pergilah ke sumur belakang. Jangan percaya kepada siapa pun yang menawarkan jalan pintas.
Aku berlari menuju halaman belakang.
Di dekat sumur tua, terdapat pintu kayu kecil yang tertutup tanaman merambat.
Di baliknya ada tangga menuju ruang bawah tanah.
Bau tanah basah memenuhi hidungku ketika aku turun.
Di ujung tangga, Nenek Sabel duduk bersandar pada dinding.
Tangannya terikat.
“Nenek!”
Aku segera melepaskan ikatannya.
Nenek membuka mata dan mencengkeram pergelangan tanganku.
“Berapa hari?”
“Hari keempat.”
Wajahnya berubah tegang.
“Kalau begitu, kita masih punya waktu.”
“Siapa yang melakukan ini?”
Nenek tidak langsung menjawab.
Ia menunjuk sebuah peti besi kecil.
“Buka.”
Di dalamnya terdapat buku tua bersampul kulit.
Pada halaman pertama tertulis dua nama.
Pelahap Lemak.
Pelahap Tulang.
Namun, di bawahnya terdapat tulisan lain yang membuat napasku tertahan.
Keduanya bukan anugerah.
Keduanya adalah penjaga perjanjian.
Nenek mulai bercerita.
Puluhan tahun lalu, keluarga kami mengalami kelaparan hebat. Leluhur kami mencari pertolongan kepada seorang dukun yang tinggal di lereng Gunung Raung.
Dukun itu memberikan dua makhluk yang mampu mengubah hubungan manusia dengan rasa lapar dan rasa sakit.
Namun, ada syaratnya.
Kedua makhluk harus diberikan kepada dua orang yang memiliki hubungan darah.
Satu akan diuji oleh keinginan yang tidak pernah puas.
Satu lagi akan diuji oleh ketakutan terhadap penderitaan.
Jika keduanya berhasil menguasai diri, perjanjian berakhir.
Tetapi jika salah satu menyerah, makhluk itu akan mulai mengambil sesuatu dari tubuh pemiliknya.
“Ulat Pelahap Lemak membuat manusia terus lapar sampai ia kehilangan kendali,” jelas Nenek.
“Sedangkan Ulat Pelahap Tulang?”
Nenek menutup mata.
“Ia tidak memakan tulang secara langsung. Ia menyerap kekuatan hidup melalui rasa sakit. Semakin pemiliknya membenci tubuhnya sendiri, semakin kuat makhluk itu.”
Aku teringat Bianca yang menjerit di depan timbangan.
“Jadi, bagaimana cara menyelamatkannya?”
Nenek menatapku lama.
“Bianca harus berhenti melawan tubuhnya dengan kebencian. Tetapi ada satu hal yang lebih penting.”
“Apa?”
“Pada malam ketujuh, kedua pemilik harus datang ke tempat perjanjian pertama dibuat. Jika tidak, ikatan itu menjadi permanen.”
Aku menelan ludah.
“Kenapa Nenek tidak memberitahu kami sejak awal?”
Air mata mengalir di pipinya.
“Karena aku pengecut, Mara.”
Untuk pertama kalinya, aku melihat perempuan yang selama ini dianggap paling kuat dalam keluarga kami menangis.
“Aku berharap kalian bisa memutus kutukan ini tanpa mengetahui betapa mengerikannya sejarah keluarga kita.”
Tiba-tiba terdengar tepuk tangan dari arah tangga.
“Indah sekali.”
Aku berbalik.
Bianca berdiri di pintu masuk.
Di belakangnya ada Ayah dan Ibu.
Wajah Bianca tampak lebih kurus, tetapi matanya menyala penuh kemarahan.
“Jadi benar. Kau mengetahui rahasianya.”
Aku mundur selangkah.
“Bianca, dengarkan aku.”
“Tidak!”
Ia menunjuk wajahku.
“Sejak dulu kau selalu mengambil semuanya! Perhatian orang lain, kesempatan, ketenaran! Bahkan setelah kita mati, kau masih ingin menang!”
Aku menatapnya dengan perasaan campur aduk.
“Kau yang mendorongku dari rooftop.”
Ruangan mendadak sunyi.
Ibu menatap kami bergantian.
“Apa maksud kalian?”
Bianca tertawa getir.
“Kenapa? Kau mau mengadu lagi?”
Aku menggeleng.
“Aku tidak datang untuk membalas dendam.”
“Pembohong!”
Bianca mengeluarkan pisau kecil dari sakunya.
Ayah segera bergerak.
“Bianca, turunkan itu!”
Namun, Bianca justru mengarahkan pisau ke perutnya sendiri.
“Kalau aku tidak bisa mendapatkan ulat milik Mara, aku akan mengeluarkan makhluk ini!”
Nenek berteriak.
“Jangan!”
Terlambat.
Bianca menusukkan ujung pisau ke kulit perutnya.
Darah mulai membasahi bajunya.
Aku segera menerjang dan merebut pisau itu sebelum lukanya semakin dalam.
Bianca jatuh ke lantai sambil menangis.
“Aku cuma ingin menjadi sepertimu…”
Untuk pertama kalinya, suaranya terdengar seperti suara kakak yang kukenal ketika kecil.
Bukan perempuan yang dipenuhi iri hati.
Melainkan seorang anak yang sepanjang hidupnya merasa tidak pernah cukup.
Aku menekan kain bersih pada lukanya sementara Ayah menelepon ambulans.
“Kau tidak perlu menjadi sepertiku,” bisikku.
Bianca menggeleng lemah.
“Kau tidak mengerti. Ibu selalu membandingkan kita.”
Aku menoleh kepada Ibu.
Wajahnya memucat.
Bianca melanjutkan.
“Setiap kali aku makan, Ibu bilang aku akan semakin gemuk. Setiap kali Mara mendapat pujian, Ibu bilang aku harus mencontohnya. Aku membencimu karena kupikir hanya dengan mengalahkanmu, akhirnya aku akan dianggap berharga.”
Ibu menutup mulutnya.
Tidak ada pembelaan yang keluar.
Di rumah sakit, luka Bianca berhasil ditangani. Dokter juga menemukan gangguan kesehatan yang memerlukan pemeriksaan lanjutan.
Namun, malam ketujuh semakin dekat.
Ketika Bianca sudah cukup stabil, Nenek menjelaskan seluruh perjanjian kepadanya.
Awalnya ia menolak percaya.
Tetapi saat Nenek menunjukkan catatan lama tentang para pemilik ulat sebelumnya, wajahnya berubah.
“Apa yang terjadi kalau aku gagal?”
Nenek menjawab pelan.
“Kau akan terus merasakan sakit, bahkan ketika tidak ada lagi yang bisa diambil makhluk itu.”
Bianca memandangku.
“Dan Mara?”
“Jika ia gagal, rasa laparnya tidak akan pernah berhenti.”
Malam keenam, kami berangkat menuju sebuah bangunan tua di lereng Gunung Raung setelah dokter mengizinkan Bianca pulang dengan pengawasan dan perawatan lanjutan.
Sepanjang perjalanan, tidak seorang pun banyak berbicara.
Hanya suara hujan yang menghantam kaca mobil.
Menjelang tengah malam ketujuh, kami tiba di sebuah rumah ibadah tua yang tersembunyi di antara pepohonan.
Aku langsung mengenalinya.
Tempat kesadaranku pernah terperangkap selama tiga tahun.
Di tengah ruangan terdapat dua mangkuk batu.
Nenek meminta kami berdiri di hadapannya.
“Ketika lonceng berbunyi, kalian harus menghadapi keinginan terbesar yang selama ini menguasai kalian.”
Tepat pukul dua belas, lonceng tua berdentang.
Perutku langsung terasa terbakar.
Rasa lapar ketiga datang seperti gelombang besar.
Di hadapanku muncul bayangan meja panjang penuh makanan.
Aku mendengar bisikan.
Makanlah. Kau tidak perlu menahan diri lagi. Kau bisa memiliki semuanya.
Tanganku gemetar.
Namun, aku memejamkan mata.
“Aku boleh makan ketika tubuhku membutuhkan makanan. Tetapi aku tidak akan membiarkan rasa takut dan keserakahan menentukan hidupku.”
Bayangan itu pecah.
Sesuatu yang dingin bergerak naik dari perutku menuju tenggorokan.
Aku terbatuk keras.
Seekor ulat hitam jatuh ke dalam mangkuk batu.
Tubuhnya menggeliat sebelum berubah menjadi abu.
Nenek menangis lega.
Namun, jeritan Bianca membuat kami semua menoleh.
Ia berlutut sambil memegangi tubuhnya.
Di hadapannya muncul bayangan dirinya mengenakan gaun mahal, berjalan di panggung peragaan busana, disambut ribuan kamera.
Kemudian bayangan itu berubah.
Ia melihat dirinya berdiri di depan cermin, sementara suara Ibu terus mengulang kalimat yang sama.
Kau terlalu gemuk.
Kau tidak secantik adikmu.
Kau harus berusaha lebih keras.
Bianca menutup telinga.
“Hentikan!”
Aku ingin mendekat, tetapi Nenek menahanku.
“Ini pilihannya.”
Bianca menangis tersedu-sedu.
“Aku sudah berusaha! Kenapa aku tidak pernah cukup?”
Bayangan di cermin tersenyum kejam.
Karena kau memang tidak pernah cukup.
Aku melihat kakakku perlahan mengangkat wajah.
Untuk sesaat, aku takut ia akan menyerah.
Namun, kemudian ia berkata dengan suara bergetar.
“Aku memang tidak sempurna.”
Bayangan itu berhenti tersenyum.
“Aku pernah iri. Aku pernah menyakiti adikku. Aku bahkan membunuhnya di kehidupan sebelumnya.”
Air matanya terus mengalir.
“Tapi aku tidak mau menghabiskan hidupku hanya untuk membenci diriku sendiri.”
Tiba-tiba terdengar suara retakan.
Bayangan cermin pecah berkeping-keping.
Bianca terjatuh.
Dari mulutnya keluar seekor ulat pucat yang menggeliat sebelum jatuh ke mangkuk kedua.
Makhluk itu mengeluarkan suara melengking.
Kemudian berubah menjadi debu.
Lonceng berhenti berdentang.
Kutukan itu berakhir.
Namun, ketika kami hendak meninggalkan ruangan, Nenek Sabel tiba-tiba jatuh berlutut.
Tubuhnya mulai memudar seperti kabut.
“Nenek!”
Aku berlari memeluknya.
Ia tersenyum lemah.
“Setiap perjanjian membutuhkan penjaga. Selama ini, akulah penjaganya.”
Aku menggeleng panik.
“Tidak! Kita bisa mencari cara lain!”
Nenek mengusap pipiku.
“Tidak semua kesalahan bisa diperbaiki tanpa kehilangan sesuatu, Mara.”
Bianca merangkak mendekat.
“Nenek, jangan pergi.”
Nenek memandang kami berdua.
“Kalian sudah melakukan sesuatu yang tidak pernah mampu dilakukan leluhur kita.”
“Apa itu?” tanyaku.
“Kalian memilih berhenti saling menyakiti.”
Cahaya pucat menyelimuti tubuhnya.
Dalam beberapa detik, Nenek Sabel menghilang.
Yang tertinggal hanyalah buku tua dan sebuah foto keluarga yang sudah menguning.
Kami menangis hingga matahari terbit.
Beberapa bulan kemudian, kehidupan kami berubah.
Aku kembali belajar, berolahraga dengan wajar, dan mengikuti audisi model karena memang itulah impianku.
Aku tidak langsung terkenal.
Aku tetap mengalami penolakan.
Namun, kali ini aku tidak terburu-buru.
Bianca menjalani pemulihan fisik dan konseling psikologis. Ia mulai memahami bahwa hubungan dengan makanan dan tubuhnya membutuhkan perhatian, bukan hukuman.
Hubungan kami juga tidak langsung membaik.
Ada luka yang terlalu dalam untuk sembuh hanya dengan satu permintaan maaf.
Tetapi kami mulai berbicara.
Tanpa saling membandingkan.
Tanpa berusaha menang.
Setahun kemudian, aku mendapat kontrak pertamaku dengan sebuah agensi model di Jakarta.
Bianca datang ke acara pemotretan perdanaku.
Ia membawa sebuket bunga putih.
“Aku bangga padamu,” katanya.
Aku menatapnya.
Untuk pertama kalinya, aku percaya bahwa ia sungguh-sungguh mengatakannya.
Namun, ketika hendak pulang, Bianca menyerahkan sebuah amplop tua.
“Aku menemukannya di antara barang peninggalan Nenek.”
Di dalamnya terdapat surat dengan tulisan tangan Nenek Sabel.
Mara dan Bianca, jika kalian membaca surat ini, berarti kalian telah berhasil.
Namun, ada satu kebenaran terakhir yang harus kalian ketahui.
Kedua ulat itu tidak pernah menentukan siapa yang akan menjadi cantik, terkenal, atau berhasil.
Mereka hanya memperbesar sesuatu yang sudah ada di dalam hati pemiliknya.
Keserakahan menjadi kelaparan.
Kebencian terhadap diri sendiri menjadi penderitaan.
Dan keberanian untuk berubah menjadi kebebasan.
Aku hampir menutup surat itu ketika melihat satu kalimat terakhir.
Di kehidupan pertama, kalian berdua sebenarnya sudah berhasil melewati ujian masing-masing.
Tanganku membeku.
Aku membaca kelanjutannya.
Mara, kau telah belajar mengendalikan keinginanmu melalui kedisiplinan.
Bianca, kau seharusnya bisa melepaskan makhlukmu jika berhenti menyerahkan hidupmu kepada rasa lapar.
Namun, kalian tidak pernah mengetahui bahwa ikatan kedua ulat akan terputus apabila salah satu saudari dengan tulus memilih menyelamatkan yang lain.
Aku menatap Bianca.
Air matanya mulai jatuh.
Berarti, di kehidupan pertama, ketika ia menyeretku jatuh dari rooftop, sebenarnya hanya satu keputusan yang memisahkan kami dari kebebasan.
Ia bisa meminta pertolongan.
Aku bisa membantunya.
Kami mungkin masih bisa hidup.
Namun, kecemburuan telah menghancurkan kesempatan itu.
Bianca menggenggam tanganku.
“Maafkan aku, Mara.”
Aku tidak langsung menjawab.
Aku teringat rasa takut ketika tubuhku jatuh dari gedung tinggi. Aku teringat tahun-tahun yang hilang, rasa sakit, dan kesepian yang tidak akan pernah bisa dihapus.
“Aku belum bisa melupakan semuanya,” kataku.
Bianca mengangguk sambil menangis.
“Aku tahu.”
“Tapi aku mau mencoba menjalani kehidupan ini tanpa terus membencimu.”
Ia memelukku.
Untuk pertama kalinya, pelukan itu tidak terasa seperti ancaman.
Bertahun-tahun kemudian, ketika fotoku akhirnya terpampang di sebuah papan iklan besar di Paris, aku tidak memikirkan ulat, kutukan, ataupun kehidupan sebelumnya.
Aku memikirkan Nenek Sabel.
Aku memikirkan kakakku yang kini menjalankan sebuah usaha kecil di Bandung dan membantu perempuan lain membangun hubungan yang lebih sehat dengan tubuh mereka.
Dan aku memikirkan satu hal yang akhirnya kupahami.
Takdir tidak selalu berubah karena kita diberi kesempatan hidup untuk kedua kalinya.
Kadang, takdir berubah karena pada kesempatan kedua itu, kita berani membuat pilihan yang berbeda.
Malam itu, setelah pertunjukan busana selesai, sebuah pesan masuk dari Bianca.
Ada foto dirinya sedang tersenyum di depan toko kecilnya.
Di bawahnya tertulis satu kalimat.
Dulu aku ingin memiliki hidupmu. Sekarang, untuk pertama kalinya, aku bahagia memiliki hidupku sendiri.
Aku tersenyum sambil menghapus air mata.
Lalu membalas pesannya.
Dan itulah kemenangan terbesar kita, Kak.
