Saat Acara Family Day Putriku, Suamiku Memilih Anak Selingkuhannya—Hingga Seekor Ular Menggigit Putri Kami dan Terbongkar Ke Mana Sebenarnya Uang dan Kasih Sayangnya Mengalir

“LIA!”

Jeritanku menggema di sepanjang koridor sekolah ketika melihat dua titik luka kecil di betis putriku. Seekor ular hijau masih menggeliat di dekat kakinya, sementara Lia terduduk di lantai dengan wajah sepucat kertas.

“Mommy, sakit sekali…”

Aku berlari menghampirinya. Seorang petugas keamanan segera menghalau ular itu menggunakan alat penjepit, sementara guru yang berada di dekat kami langsung menghubungi ambulans.

Aku berlutut di samping Lia dan memeluk bahunya.

“Sayang, dengarkan Mommy. Jangan banyak bergerak, ya. Bantuan sedang datang.”

Lia mengangguk lemah. Air matanya mengalir tanpa suara.

Dari ujung koridor, Adrian muncul bersama Camille dan Enzo.

“Ada apa lagi?” tanyanya dengan nada kesal.

Aku menoleh dengan mata berkaca-kaca.

“Anakmu digigit ular, Adrian!”

Untuk sesaat, wajahnya berubah. Namun, ketika melihat Enzo menangis ketakutan, dia justru menghampiri anak itu.

“Enzo tidak sengaja, Mara. Jangan langsung menyalahkannya.”

Aku hampir tidak percaya dengan apa yang kudengar.

“Putrimu mungkin sedang sekarat, dan kamu masih memikirkan perasaan Enzo?”

Camille menarik lengan Adrian.

“Sayang, Enzo juga syok. Kita harus membawanya pulang.”

Aku menatap perempuan itu dengan jijik.

“Kalau kalian ingin pergi, silakan. Tapi jangan pernah menghalangi orang yang sedang menyelamatkan anakku.”

Seorang guru bernama Bu Ratna bergegas menghampiri kami.

“Bu Mara, ambulans sudah dalam perjalanan. Kami juga sudah menghubungi petugas yang memahami penanganan reptil. Ularnya berhasil diamankan untuk diidentifikasi.”

Aku mengangguk sambil terus menggenggam tangan Lia.

Beberapa menit kemudian, ambulans tiba. Petugas medis menjaga kaki Lia agar tidak banyak bergerak dan segera membawanya ke rumah sakit.

Aku ikut naik ke ambulans.

Adrian tidak.

Dari balik pintu yang hampir tertutup, aku melihatnya sedang menenangkan Enzo yang menangis dalam pelukan Camille.

Pemandangan itu menjadi jawaban terakhir atas semua pertanyaan yang selama ini kusimpan.

Di rumah sakit swasta di Jakarta Selatan, dokter segera memeriksa kondisi Lia. Kakinya mulai membengkak dan dia mengeluh mual.

Aku berdiri di luar ruang tindakan dengan kedua tangan gemetar.

Seorang dokter keluar setelah pemeriksaan awal.

“Kami menduga ini gigitan ular berbisa. Kami sedang memantau tanda-tanda keracunan dan melakukan pemeriksaan darah. Identifikasi spesiesnya juga sedang dilakukan. Penanganan berikutnya akan disesuaikan dengan kondisi anak Ibu.”

“Dok, tolong selamatkan putri saya.”

“Kami akan melakukan yang terbaik.”

Aku menelepon ayahku, seorang pengusaha properti yang selama ini jarang mencampuri urusan rumah tanggaku.

“Papa…”

Baru satu kata keluar, tangisku pecah.

“Ada apa, Mara?”

“Lia digigit ular. Aku takut kehilangan dia.”

“Ayah berangkat sekarang.”

Tidak sampai satu jam kemudian, kedua orang tuaku tiba.

Ibuku langsung memelukku, sementara ayah berbicara dengan dokter untuk memastikan seluruh kebutuhan medis Lia tersedia.

Malam itu, hasil pemeriksaan menunjukkan adanya gangguan pembekuan darah yang membutuhkan penanganan segera. Dokter memberikan terapi yang sesuai dan memindahkan Lia ke ruang perawatan intensif anak untuk pemantauan ketat.

Aku duduk di samping ranjangnya sepanjang malam.

Wajah kecil itu terlihat begitu pucat di antara selang infus dan monitor.

Menjelang pukul dua dini hari, Lia membuka mata.

“Mommy…”

Aku langsung mendekat.

“Mommy di sini, Sayang.”

“Daddy datang?”

Pertanyaan itu terasa seperti pisau yang menusuk dadaku.

Aku tidak sanggup berbohong.

“Belum, Nak.”

Lia menatap langit-langit kamar.

“Kalau aku sakit lebih parah, Daddy bakal datang?”

Aku menggenggam tangannya erat.

“Kamu tidak perlu sakit supaya seseorang mau menyayangimu, Lia.”

Dia terdiam lama.

Kemudian berbisik, “Berarti Daddy memang lebih sayang Enzo, ya?”

Aku mencium keningnya.

“Yang Daddy lakukan itu salah. Tapi itu bukan karena kamu kurang baik, Sayang. Kamu tetap anak yang sangat berharga.”

Lia memejamkan mata.

Aku menahan tangis sampai dia kembali tertidur.

Pagi harinya, Adrian akhirnya datang.

Namun, dia tidak datang sendirian.

Camille berjalan di belakangnya sambil membawa tas bermerek, sedangkan Enzo sibuk memainkan ponsel.

“Bagaimana keadaan Lia?” tanya Adrian.

“Masih dipantau dokter.”

Dia menghela napas.

“Syukurlah. Aku sudah bilang, Enzo tidak bermaksud mencelakainya.”

Aku menatapnya tanpa ekspresi.

“Siapa yang memberitahumu bahwa aku sedang menyalahkan Enzo?”

“Camille bilang kamu mengancam akan melaporkannya ke polisi.”

“Memang akan kulaporkan.”

Camille langsung menyela.

“Bu Mara, ini cuma kecelakaan anak-anak. Jangan sampai masalah kecil merusak masa depan Enzo.”

Aku berdiri.

“Masalah kecil? Putriku sedang dirawat intensif karena gigitan ular yang kalian bawa ke sekolah tanpa pengamanan!”

Adrian meraih lenganku.

“Sudahlah. Jangan mempermalukan kami di rumah sakit.”

Aku melepaskan tangannya.

“Keluar.”

“Mara…”

“Keluar dari kamar anakku.”

Suara ayahku terdengar dari pintu.

“Adrian, sebaiknya kamu menuruti permintaan putri saya.”

Adrian menoleh. Wajahnya langsung menegang.

“Om Surya, saya bisa menjelaskan.”

Ayahku menatapnya dingin.

“Penjelasanmu nanti saja di hadapan pengacara.”

Mereka akhirnya pergi.

Namun, kejutan terbesar justru datang beberapa jam kemudian.

Asistenku, Dinda, tiba membawa sebuah map tebal.

“Bu Mara, tim audit menemukan sesuatu.”

Aku mengajaknya ke ruang tunggu pribadi.

Dinda membuka laptop dan memperlihatkan sejumlah transaksi.

“Setelah Ibu meminta pemeriksaan seluruh rekening keluarga dan aset milik Lia, kami menemukan pola transfer yang mencurigakan.”

Aku membaca angka-angka di layar.

Selama hampir empat tahun, Adrian telah menggunakan kartu tambahan dan akses ke rekening operasional yang sebelumnya kupercayakan kepadanya.

Uang itu mengalir ke sebuah perusahaan bernama CMR Lifestyle Consulting.

Pemilik perusahaan tersebut adalah Camille Robles.

Total transaksi yang berhasil dilacak mencapai Rp18,7 miliar.

Aku merasa seluruh tubuhku membeku.

“Untuk apa uang sebanyak itu?”

Dinda menunjukkan dokumen berikutnya.

“Pembelian rumah di kawasan Pondok Indah, kendaraan mewah, biaya sekolah Enzo, perjalanan ke Singapura, serta pembayaran beberapa investasi pribadi.”

Aku menatapnya.

“Rumah di Pondok Indah?”

Dinda mengangguk.

“Rumah itu dibeli tiga tahun lalu. Dalam dokumen pembelian, Adrian tercatat sebagai pihak yang membayar uang muka, sementara sertifikatnya atas nama Camille.”

Tiga tahun lalu.

Aku langsung teringat masa ketika Adrian mengatakan perusahaannya sedang mengalami kesulitan keuangan.

Dia memintaku membantu membayar sejumlah kewajiban bisnisnya.

Aku memberinya akses dana karena percaya bahwa kami sedang membangun masa depan bersama.

Ternyata, selama aku bekerja keras untuk keluarga kami, dia menggunakan hasil jerih payahku untuk membangun kehidupan lain.

“Masih ada satu hal lagi, Bu,” kata Dinda pelan.

Dia menggeser sebuah dokumen ke hadapanku.

Itu salinan perjanjian investasi.

Enam perhiasan milik Lia yang diklaim Adrian telah dijadikan dana perwalian ternyata sudah dijual melalui perantara.

Sebagian uangnya digunakan untuk membeli saham perusahaan Camille.

Sisanya dipakai membayar renovasi rumah.

Aku menutup mata.

Perhiasan yang diberikan kakek dan nenek kepada cucu mereka telah berubah menjadi lantai marmer, lemari mahal, dan kolam renang untuk keluarga lain.

“Siapkan seluruh bukti,” kataku.

Dinda mengangguk.

“Kami juga menemukan indikasi pemalsuan tanda tangan Ibu pada beberapa dokumen persetujuan transaksi.”

Aku membuka mata.

“Kalau begitu, ini bukan sekadar perselingkuhan.”

“Benar, Bu.”

“Ini penipuan.”

Dua hari kemudian, kondisi Lia mulai stabil. Pembengkakan di kakinya berangsur berkurang dan hasil pemeriksaan darah menunjukkan perbaikan.

Untuk pertama kalinya sejak kejadian itu, aku bisa bernapas sedikit lega.

Namun, pada sore yang sama, kepala sekolah menghubungiku.

“Bu Mara, kami telah menyelesaikan pemeriksaan rekaman CCTV.”

Aku langsung menuju sekolah bersama pengacara.

Di ruang rapat, kepala sekolah memutar video dari kamera koridor.

Rekaman itu menunjukkan Enzo berlari mengejar Lia sambil mengacungkan ular.

Namun, bagian yang membuat semua orang terdiam terjadi beberapa detik sebelumnya.

Camille terlihat menyerahkan kotak berisi ular kepada Enzo.

Dia membungkuk dan mengatakan sesuatu.

Rekaman kamera tidak memiliki suara, tetapi seorang guru yang berada tidak jauh dari mereka memberikan kesaksian.

Menurut guru tersebut, Camille sempat berkata, “Tunjukkan saja ke Lia. Biar dia berhenti merasa paling istimewa.”

Aku menatap layar dengan tangan mengepal.

Kepala sekolah melanjutkan, “Kami juga sudah memeriksa dokumen izin kegiatan. Hewan tersebut tidak pernah mendapat persetujuan untuk dibawa ke sekolah.”

Hasil identifikasi menunjukkan bahwa ular itu termasuk jenis ular berbisa yang tidak layak dipelihara atau ditangani anak-anak tanpa pengawasan ahli.

Pernyataan Camille bahwa kelenjar bisanya telah diangkat ternyata tidak benar.

Pengacaraku segera mengurus laporan resmi mengenai kelalaian dan dugaan tindak pidana yang berkaitan dengan kejadian tersebut.

Tetapi ada satu pertanyaan yang terus menggangguku.

Mengapa Camille begitu membenci Lia?

Jawabannya datang dari seseorang yang sama sekali tidak kuduga.

Malam itu, ibu Adrian meneleponku.

“Mara, boleh Mama bertemu denganmu?”

Aku sempat ragu, tetapi akhirnya setuju.

Kami bertemu di sebuah kafe yang tenang di Menteng.

Begitu duduk, Elena langsung menangis.

“Maafkan Mama. Mama seharusnya tidak membiarkan Adrian bertindak sejauh ini.”

Aku diam.

Dia mengeluarkan sebuah amplop cokelat.

“Setelah mendengar soal uang Lia, Papa Adrian memeriksa dokumen lama milik Adrian. Kami menemukan ini.”

Di dalam amplop terdapat hasil pemeriksaan DNA.

Nama Adrian dan Enzo tercantum jelas.

Tanganku gemetar saat membaca kesimpulannya.

Probabilitas hubungan ayah biologis mencapai lebih dari 99,9 persen.

Aku menatap Elena.

“Enzo… anak kandung Adrian?”

Elena mengangguk sambil menangis.

“Adrian sudah tahu sejak Enzo lahir.”

Aku merasa dunia di sekelilingku berhenti bergerak.

Selama ini, Adrian selalu mengatakan bahwa dia membantu Enzo karena merasa berutang budi kepada mendiang suami Camille.

Padahal, pria yang disebut sebagai suami Camille itu ternyata bukan ayah biologis Enzo.

“Kenapa Mama baru memberitahuku sekarang?”

“Kami juga baru mengetahuinya, Mara. Adrian menyembunyikan semuanya.”

Aku menunduk menatap dokumen itu.

Tiba-tiba seluruh kejadian terasa masuk akal.

Mengapa Adrian selalu berlari lebih dulu kepada Enzo.

Mengapa dia rela menghabiskan uang sebanyak itu.

Mengapa dia membela Camille bahkan ketika Lia hampir kehilangan nyawanya.

Bukan karena dia sekadar merasa kasihan.

Dia sedang melindungi keluarga rahasianya.

Keesokan harinya, aku meminta Adrian datang ke kantor pengacara.

Dia muncul dengan wajah kesal.

“Apa lagi sekarang, Mara? Aku sudah lelah dengan drama ini.”

Aku meletakkan hasil pemeriksaan DNA di hadapannya.

Seketika wajahnya kehilangan warna.

“Dari mana kamu mendapatkan ini?”

“Jadi benar?”

Adrian tidak menjawab.

Aku menatapnya lurus.

“Enzo anak kandungmu?”

Dia mengusap wajahnya.

“Iya.”

Satu kata itu menghancurkan sisa-sisa kepercayaanku.

“Sejak kapan?”

“Camille hamil ketika hubungan kita sedang bermasalah.”

Aku tertawa getir.

“Hubungan kita sedang bermasalah? Waktu itu aku sedang mengandung Lia dan menjalani perawatan karena kehamilanku berisiko!”

Adrian menunduk.

“Aku tidak pernah berniat menyakitimu.”

“Tapi kamu melakukannya selama delapan tahun.”

Dia mencoba meraih tanganku.

“Mara, dengarkan. Aku mencintai kedua anakku.”

Aku menarik tangan.

“Tidak. Kamu mencintai kenyamanan yang kuberikan, tetapi kamu memilih menghabiskan waktu, perhatian, dan uang untuk keluarga yang kamu sembunyikan.”

“Aku bisa memperbaiki semuanya.”

“Lia hampir meninggal, Adrian. Dan saat ambulans datang, kamu bahkan tidak ikut mengantarnya.”

Dia terdiam.

Aku mendorong map berikutnya.

“Ini bukti transfer dana perusahaan, penjualan perhiasan Lia, dan dokumen dengan tanda tanganku yang diduga dipalsukan.”

Adrian langsung berdiri.

“Kamu mau menghancurkanku?”

“Aku hanya ingin kamu mempertanggungjawabkan perbuatanmu.”

Wajahnya berubah panik.

“Mara, kalau kasus ini masuk pengadilan, karierku habis!”

Aku menatapnya tanpa berkedip.

“Ketika Lia memanggilmu dari lantai sekolah sambil kesakitan, apakah kamu memikirkan masa depannya?”

Tidak ada jawaban.

Beberapa minggu berikutnya, penyelidikan berjalan.

Pihak sekolah memperketat aturan kegiatan, sementara keluarga Camille dimintai keterangan terkait kepemilikan dan penanganan ular tersebut.

Enzo juga menjalani pendampingan psikologis karena tindakannya telah membahayakan orang lain.

Aku tidak pernah menyalahkan anak itu atas perselingkuhan orang tuanya.

Namun, aku menolak membiarkan siapa pun menganggap penderitaan Lia sebagai sesuatu yang sepele.

Sementara itu, audit keuangan menemukan bukti tambahan yang memperkuat dugaan penyalahgunaan dana oleh Adrian.

Aset yang berkaitan dengan transaksi bermasalah menjadi bagian dari proses hukum.

Camille akhirnya mengetahui bahwa rumah mewah yang selama ini ditempatinya terancam terseret sengketa.

Dia meneleponku sambil menangis.

“Mara, tolong hentikan semuanya. Enzo tidak punya tempat tinggal kalau rumah itu disita.”

Aku menjawab tenang.

“Anakmu tidak bersalah karena dilahirkan dari hubungan kalian. Tapi kamu dan Adrian bertanggung jawab atas keputusan yang kalian buat.”

“Adrian bilang semua uang itu miliknya!”

“Kalau begitu, mintalah dia membuktikannya.”

Aku menutup telepon.

Tiga bulan kemudian, Lia sudah bisa berjalan dan kembali bersekolah.

Bekas gigitan ular masih terlihat samar di betisnya.

Namun, luka yang paling sulit disembuhkan bukanlah luka di kulit.

Suatu sore, ketika kami sedang membuat kue di dapur, Lia tiba-tiba bertanya.

“Mommy, Daddy punya anak lain, ya?”

Aku berhenti mengaduk adonan.

Aku sudah mempersiapkan diri untuk pertanyaan itu bersama psikolog yang mendampingi Lia.

“Iya, Sayang. Enzo juga anak Daddy.”

Lia terdiam.

“Berarti Daddy lebih sayang dia karena dia anak laki-laki?”

Aku berjongkok di depannya.

“Bukan begitu. Tidak ada yang salah dengan kamu. Orang dewasa kadang membuat keputusan yang menyakiti orang lain. Itu tanggung jawab mereka, bukan kesalahan anak-anak.”

“Kalau aku jadi anak yang lebih pintar, Daddy bakal pulang?”

Air mataku hampir jatuh.

“Kamu tidak perlu berubah supaya pantas dicintai.”

Lia memeluk leherku.

“Kalau begitu, aku mau tetap jadi Lia saja.”

Aku tertawa sambil menangis.

“Dan Mommy sangat bersyukur kamu adalah Lia.”

Setelah proses hukum berjalan, pengadilan akhirnya menetapkan pengaturan pengasuhan yang mengutamakan keselamatan dan kepentingan Lia. Pertemuan Adrian dengan putrinya harus mengikuti ketentuan yang telah ditetapkan.

Adrian juga mulai menghadapi konsekuensi atas transaksi keuangan yang sebelumnya dia sembunyikan.

Namun, hukuman paling berat baginya justru datang pada hari ulang tahun Lia yang kesembilan.

Dia mengirimkan sebuah kotak hadiah besar.

Di dalamnya terdapat boneka mahal, kalung berlian, dan surat permintaan maaf.

Lia membaca surat itu dengan tenang.

Kemudian dia mengambil selembar kertas dan menulis balasan.

Aku tidak membaca isinya sampai dia sendiri menyerahkannya kepadaku.

Surat itu hanya terdiri dari beberapa kalimat.

Daddy, terima kasih untuk hadiahnya.

Tapi aku tidak membutuhkan kalung mahal.

Dulu aku cuma ingin Daddy menonton lomba lariku, membacakan cerita sebelum tidur, dan menggenggam tanganku ketika aku takut.

Sekarang aku sudah belajar bahwa aku bisa tetap bahagia meskipun Daddy tidak datang.

Aku harap Daddy belajar menjadi ayah yang baik, bukan hanya untukku, tetapi juga untuk Enzo.

Aku mencintai Daddy, tetapi aku tidak mau disakiti lagi.

Aku menangis ketika membaca kalimat terakhir.

Selama ini, aku mengira tugasku adalah melindungi Lia dari seluruh kesedihan.

Ternyata, putriku sedang belajar sesuatu yang bahkan membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk kupahami.

Mencintai seseorang tidak berarti harus terus menerima perlakuan yang menyakitkan.

Beberapa hari setelah ulang tahunnya, sekolah kembali mengadakan Family Sports Day.

Kali ini, Lia mengikuti lomba lari estafet bersama teman-temannya.

Aku duduk di barisan depan bersama kedua orang tuaku.

Ketika peluit berbunyi, Lia berlari sekuat tenaga.

Rambutnya berkibar, wajahnya berseri-seri, dan sepatunya menghentak lintasan dengan penuh semangat.

Timnya tidak memenangkan perlombaan.

Mereka hanya meraih posisi ketiga.

Namun, ketika mencapai garis finis, Lia langsung berlari ke arahku.

“Mommy! Aku berhasil!”

Aku memeluknya erat.

“Kamu hebat sekali, Sayang!”

Dia tertawa bahagia.

Lalu matanya tertuju pada seorang pria yang berdiri jauh di dekat pagar sekolah.

Adrian.

Dia datang sendirian, membawa buket bunga kecil.

Untuk pertama kalinya, dia tidak mengenakan seragam tim Enzo.

Dia hanya berdiri diam, menunggu.

Lia memandangnya beberapa saat.

Kemudian dia menoleh kepadaku.

“Mommy, boleh aku menyapa Daddy?”

“Tentu saja, Sayang. Kalau kamu mau.”

Lia berjalan menghampirinya dengan didampingi petugas sekolah yang telah ditunjuk.

Adrian berlutut ketika putrinya mendekat.

Aku melihat bibirnya bergerak mengucapkan sesuatu.

Kemudian dia menangis.

Lia menerima bunga itu, tetapi tidak langsung memeluknya.

Dia hanya menggenggam tangan ayahnya sebentar.

Setelah itu, dia kembali berlari ke arahku.

“Apa yang Daddy bilang?” tanyaku ketika dia sampai.

“Daddy bilang dia menyesal.”

“Lalu kamu jawab apa?”

Lia tersenyum kecil.

“Aku bilang, kalau Daddy benar-benar menyesal, Daddy harus membuktikannya pelan-pelan. Bukan cuma bilang.”

Aku memeluk putriku.

Di kejauhan, Adrian masih berdiri dengan mata merah.

Untuk pertama kalinya, aku tidak merasakan keinginan untuk membalas dendam.

Aku hanya merasa lega karena Lia tidak lagi menunggu ayahnya dengan hati yang hancur.

Malam itu, sebelum tidur, Lia meminta dibacakan cerita The Little Match Girl sekali lagi.

Aku sempat ragu, tetapi dia mengangguk yakin.

Ketika cerita selesai, Lia menatapku.

“Mommy, sekarang aku tahu kenapa gadis kecil itu terus menyalakan korek api.”

“Kenapa, Sayang?”

“Karena dia merasa sendirian dan ingin melihat orang yang dia sayang.”

Aku mengelus rambutnya.

“Betul.”

Lia meraih tanganku dan tersenyum.

“Tapi aku tidak perlu menyalakan korek api lagi, kan?”

“Kenapa?”

“Karena kalau aku membuka mata, Mommy selalu ada.”

Aku mematikan lampu kamar dan mencium keningnya.

Di luar jendela, cahaya kota Jakarta berkilauan seperti ribuan bintang.

Dulu aku mengira kekayaan terbesar yang bisa kuberikan kepada putriku adalah rumah mewah, pendidikan terbaik, dan masa depan tanpa kekurangan.

Namun, setelah semua yang kami lalui, aku akhirnya mengerti.

Anak-anak tidak selalu mengingat berapa mahal hadiah yang diberikan orang tuanya.

Mereka mengingat siapa yang datang ketika mereka menangis.

Siapa yang menggenggam tangan mereka ketika ketakutan.

Dan siapa yang tetap tinggal ketika dunia terasa runtuh.

Adrian pernah menghabiskan miliaran rupiah untuk membangun kehidupan yang dia sembunyikan.

Tetapi dia hampir kehilangan sesuatu yang tidak akan pernah bisa dibeli kembali dengan uang sebanyak apa pun.

Kepercayaan putrinya sendiri.

Sementara aku, yang pernah takut keluargaku hancur, akhirnya menemukan bahwa sebuah keluarga tidak ditentukan oleh berapa banyak orang yang tinggal di bawah satu atap.

Melainkan oleh siapa yang benar-benar membuat kita merasa aman di dalamnya.

Malam itu, Lia tertidur dengan senyum kecil di wajahnya.

Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama, aku pun tidur tanpa rasa takut.

Karena aku tahu, putriku tidak lagi harus menyalakan korek api untuk mencari cinta.

Dia sudah menemukannya di rumah kami sendiri.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang