SUAMIKU BILANG AKU TERJATUH SENDIRI MALAM ITU. AKU PERCAYA PADANYA, SAMPAI AKU MENYADARI SATU-SATUNYA KAMERA CCTV DI DEPAN RUMAH TIBA-TIBA MENGHADAP KE ARAH YANG SALAH PADA MALAM AKU TERLUKA.

Hal pertama yang membuatku curiga bukanlah luka di kepalaku, melainkan cara suamiku menjawab pertanyaan sederhana.

“Siapa yang menelepon ambulans?”

Arman terdiam beberapa detik sebelum menjawab.

“Aku.”

Aku menatap wajahnya. Selama tujuh tahun menikah, aku mengenal setiap perubahan kecil dalam ekspresinya. Aku tahu kapan dia lelah, kapan dia berbohong tentang harga sepatu yang baru dibelinya, bahkan kapan dia menyembunyikan kejutan ulang tahun.

Namun, malam itu, ada sesuatu dalam tatapannya yang tidak kukenal.

“Kamu kenapa?” tanyanya.

“Tidak apa-apa. Aku cuma ingin mengingat kejadian malam itu.”

Arman mengusap rambutku.

“Jangan dipaksakan, Naya. Dokter bilang ingatanmu bisa pulih perlahan. Yang penting sekarang kamu istirahat.”

Aku mengangguk.

Saat itu, aku masih memercayainya.

Bagaimanapun, Arman adalah laki-laki yang pernah menemaniku melewati masa paling sulit dalam hidupku. Ketika ibuku meninggal tiga tahun lalu, dialah yang mengurus pemakaman, menenangkan ayahku, dan memastikan aku tidak sendirian.

Aku tidak pernah membayangkan laki-laki yang sama mungkin memiliki alasan untuk menginginkan aku tidak pernah bangun lagi.

Empat hari kemudian, aku diperbolehkan pulang.

Rumah dua lantai kami di kawasan Bintaro tampak sama seperti sebelumnya. Dinding putih, tanaman monstera di dekat pintu, dan aroma pengharum ruangan yang selalu kupilih sendiri.

Namun, begitu memasuki ruang tengah, dadaku mendadak sesak.

Aku memandang tangga menuju lantai dua.

Ada tujuh belas anak tangga.

Aku tahu jumlahnya karena dulu aku menghitungnya ketika kami pertama kali pindah.

“Jangan lihat terus,” kata Arman sambil meletakkan tas rumah sakit. “Nanti kamu malah kepikiran.”

Aku memaksakan senyum.

Malam itu, ketika Arman tertidur, aku turun ke ruang tengah.

Pergelangan tangan kiriku masih dibalut gips. Setiap gerakan terasa menyakitkan.

Aku berdiri di kaki tangga, mencoba membayangkan bagaimana tubuhku bisa terjatuh.

Menurut Arman, aku terpeleset ketika hendak turun mengambil air minum.

Namun, ada sesuatu yang menggangguku.

Aku selalu menyimpan botol air di kamar.

Bahkan sebelum tidur, aku hampir tidak pernah turun ke dapur.

Aku menyalakan lampu tangga.

Cahayanya terang.

Lantainya juga tidak licin.

Lalu aku melihat sesuatu di balik kaki meja konsol dekat tangga.

Sebuah pecahan kaca kecil.

Aku mengambilnya menggunakan tangan kanan.

Warnanya biru tua.

Aku langsung mengenalinya.

Pecahan itu berasal dari vas keramik kesayangan ibuku.

Vas tersebut biasanya berada di meja kerja lantai dua, bukan di dekat tangga.

Keesokan paginya, aku bertanya kepada Arman.

“Mas, vas biru peninggalan Ibu ke mana?”

Tangannya berhenti mengaduk kopi.

“Pecah waktu kamu jatuh.”

“Kok bisa?”

“Mungkin tersenggol.”

“Tapi vas itu ada di ruang kerja.”

Arman menatapku.

“Naya, kamu jatuh cukup keras. Bisa saja kamu menabraknya sebelum jatuh.”

Aku tidak membantah.

Namun, aku mulai menyadari satu hal.

Setiap kali aku bertanya, jawaban Arman selalu terdengar masuk akal sampai aku memikirkannya lebih lama.

Dua hari kemudian, tetangga kami, Bu Ratih, datang membawa sup ayam.

Perempuan berusia lima puluhan itu sudah tinggal di sebelah rumah sejak sebelum kami pindah.

“Syukurlah kamu sudah sehat, Nak,” katanya sambil menggenggam tanganku.

“Terima kasih, Bu.”

Bu Ratih memandang ke arah tangga.

“Ibu benar-benar kaget malam itu.”

Aku langsung menoleh.

“Ibu dengar saya jatuh?”

Dia mengangguk.

“Ada suara keras sekali. Seperti lemari dijatuhkan.”

“Jam berapa?”

“Sekitar setengah sebelas.”

Aku terdiam.

Arman mengatakan kecelakaan itu terjadi sekitar pukul sebelas lewat.

“Setelah itu Ibu dengar apa?”

Bu Ratih tampak berpikir.

“Sepertinya ada suara orang bertengkar sebelumnya. Tapi Ibu tidak yakin. Televisi Ibu juga sedang menyala.”

Jantungku mulai berdebar.

“Bertengkar?”

“Suara laki-laki dan perempuan. Ibu kira kalian sedang membicarakan sesuatu.”

Sebelum aku sempat bertanya lebih jauh, Arman muncul dari dapur.

“Wah, Bu Ratih. Terima kasih sudah menjenguk Naya.”

Percakapan kami langsung terhenti.

Setelah Bu Ratih pulang, Arman bertanya apa yang kami bicarakan.

“Cuma soal kejadian malam itu.”

Wajahnya berubah.

“Naya, sampai kapan kamu mau membahasnya?”

Aku terkejut mendengar nada suaranya.

“Aku cuma ingin tahu apa yang terjadi.”

“Yang terjadi adalah kamu jatuh. Kenapa susah sekali menerima itu?”

Itulah pertama kalinya Arman membentakku sejak aku pulang dari rumah sakit.

Malamnya, dia meminta maaf.

Katanya dia hanya kelelahan dan takut kehilangan aku.

Aku ingin percaya.

Sungguh.

Namun, keesokan harinya, aku menemukan sesuatu yang membuat semua penjelasannya terasa semakin ganjil.

Aku sedang menyiram tanaman di teras ketika melihat kamera CCTV di atas pintu garasi.

Kamera itu dipasang dua tahun lalu setelah sepeda motor tetangga dicuri.

Biasanya kamera menghadap gerbang dan sebagian halaman depan.

Namun, sekarang posisinya sedikit miring.

Aku teringat sesuatu.

Pada malam sebelum kecelakaan, Arman sempat mengatakan kamera itu bermasalah.

Aku membuka aplikasi CCTV melalui ponsel.

Rekaman malam kecelakaan masih tersimpan.

Aku memilih tanggal tersebut.

Pukul 22.00.

Halaman terlihat normal.

Pukul 22.12, Arman masuk melalui gerbang menggunakan mobilnya.

Pukul 22.17, kamera tiba-tiba bergerak.

Gambar berguncang selama beberapa detik.

Ketika kembali stabil, kamera tidak lagi menghadap gerbang.

Lensa justru mengarah ke tembok samping garasi.

Aku memperbesar gambar.

Tidak ada apa-apa.

Hanya dinding putih.

Selama hampir satu jam, kamera merekam tembok itu.

Pukul 23.08, gambar kembali berguncang.

Kemudian kamera menghadap gerbang seperti semula.

Aku menatap layar tanpa berkedip.

Menurut laporan rumah sakit, ambulans membawaku dari rumah pukul 23.21.

Berarti kamera dipindahkan sebelum aku terluka dan dikembalikan sebelum ambulans tiba.

Tanganku mulai gemetar.

Aku memutar rekaman berulang kali.

Pada pukul 22.17, tepat sebelum kamera berputar, terlihat ujung lengan seseorang.

Lengan kemeja berwarna abu-abu.

Aku mengenal kemeja itu.

Arman memakainya malam kecelakaan.

Aku segera mengambil tangkapan layar dan menyimpannya di penyimpanan awan pribadiku.

Ketika Arman pulang, aku tidak mengatakan apa-apa.

Untuk pertama kalinya dalam tujuh tahun pernikahan, aku takut kepada suamiku sendiri.

Keesokan harinya, aku menghubungi Dinda, sahabatku yang bekerja sebagai pengacara.

Kami bertemu di sebuah kafe dekat rumah sakit tempat aku menjalani kontrol.

Setelah mendengar ceritaku, Dinda tidak langsung menyimpulkan apa pun.

“Kamera yang diputar memang mencurigakan,” katanya. “Tapi kita perlu bukti lain.”

“Aku harus bagaimana?”

“Pertama, jangan menghadapi Arman sendirian. Kedua, simpan semua rekaman dan dokumen medis. Ketiga, kita cari tahu siapa yang sebenarnya menghubungi ambulans.”

Dinda membantuku menghubungi rumah sakit untuk meminta salinan dokumen yang berhak kuakses.

Dua hari kemudian, kami mendapatkan catatan kedatangan ambulans.

Di sana tertulis nama penelepon.

Bukan Arman.

Melainkan seorang perempuan bernama Siska Maharani.

Aku tidak mengenal nama itu.

Dinda mencoba menghubungi nomor yang tercantum.

Tidak aktif.

Namun, ada informasi lain.

Dalam catatan petugas, tertulis bahwa pasien ditemukan tidak sadarkan diri di ruang tengah, sementara seorang perempuan menunggu di luar rumah.

Aku membaca kalimat itu berulang kali.

Seorang perempuan.

Arman tidak pernah menyebutkan ada perempuan lain malam itu.

Malam berikutnya, ketika Arman mandi, aku memeriksa laci meja kerjanya.

Aku tahu tindakanku berisiko. Namun, aku juga tahu aku tidak akan bisa tidur sebelum menemukan jawaban.

Di antara kuitansi dan dokumen perusahaan, aku menemukan sebuah amplop cokelat.

Di dalamnya terdapat fotokopi polis asuransi jiwa atas namaku.

Nilai pertanggungannya tiga miliar rupiah.

Penerima manfaatnya Arman.

Aku mengenali tanda tanganku pada dokumen itu.

Namun, tanggal pengajuannya membuatku membeku.

Polis tersebut baru diterbitkan enam minggu sebelum kecelakaan.

Aku tidak pernah mengajukan asuransi itu.

Aku memotret seluruh dokumen.

Lalu terdengar suara pintu kamar mandi terbuka.

Aku buru-buru mengembalikan amplop dan naik ke kamar.

Malam itu, aku berpura-pura tidur.

Arman masuk sekitar pukul sebelas.

Dia berdiri cukup lama di sisi ranjang.

Aku merasakan jemarinya menyentuh rambutku.

Kemudian dia berbisik sangat pelan.

“Kenapa kamu harus mulai mengingat semuanya, Naya?”

Darahku terasa membeku.

Aku tidak bergerak sedikit pun.

Pagi berikutnya, aku pergi ke rumah Dinda dengan alasan kontrol dokter.

Kami langsung mendatangi kantor polisi untuk berkonsultasi dan menyerahkan bukti awal.

Penyelidikan pun dimulai.

Melalui pemeriksaan rekaman tambahan dari rumah tetangga, polisi menemukan sebuah mobil putih berhenti di depan rumah kami pukul 22.25.

Seorang perempuan turun.

Wajahnya tidak terlihat jelas, tetapi nomor kendaraannya terbaca.

Mobil itu terdaftar atas nama Siska Maharani.

Setelah ditelusuri, Siska ternyata mantan staf administrasi perusahaan Arman.

Aku semakin bingung.

Mengapa mantan karyawan suamiku datang ke rumah kami malam itu?

Jawabannya datang tiga hari kemudian.

Siska akhirnya bersedia menemui penyidik setelah polisi berhasil menghubunginya melalui alamat keluarganya di Depok.

Aku tidak diizinkan mengikuti pemeriksaan, tetapi Dinda mendampingiku ketika penyidik menjelaskan perkembangan kasus.

Menurut keterangan awal Siska, malam itu dia datang karena Arman memintanya mengambil sejumlah dokumen.

Namun, ketika tiba, dia mendengar kami bertengkar.

Aku menatap Dinda.

“Aku bertengkar dengan Arman?”

Dinda menggenggam tanganku.

“Dengarkan dulu.”

Siska mengatakan aku berteriak bahwa aku akan melaporkan sesuatu kepada polisi.

Lalu terdengar suara benda pecah.

Setelah itu, suara benturan keras.

Siska masuk melalui pintu yang tidak terkunci dan menemukan aku tergeletak di bawah tangga.

Arman berdiri beberapa langkah dariku.

Dia tidak sedang menelepon ambulans.

Dia justru memegang ponselku.

Menurut Siska, Arman memintanya pergi.

Namun, perempuan itu ketakutan melihat kondisiku dan menelepon layanan darurat.

Ketika ambulans datang, Arman mengaku sebagai orang yang menemukan aku.

“Kenapa Siska baru bicara sekarang?” tanyaku.

“Dia mengaku diancam akan dilaporkan atas pencurian dokumen perusahaan,” jawab Dinda. “Tapi keterangannya masih harus diverifikasi.”

Aku menunduk.

Potongan ingatan mulai muncul.

Ruang kerja.

Amplop cokelat.

Suara Arman.

Dan kalimat yang pernah kuucapkan dengan marah.

“Aku tidak akan membiarkan kamu menggunakan namaku lagi!”

Tiba-tiba kepalaku berdenyut hebat.

Aku mulai menangis.

Aku teringat sesuatu yang jauh lebih penting daripada pertengkaran kami.

Seminggu sebelum kecelakaan, aku menerima surat dari sebuah bank mengenai pinjaman perusahaan senilai delapan miliar rupiah.

Namaku tercantum sebagai salah satu penjamin.

Padahal aku tidak pernah menandatangani perjanjian tersebut.

Ketika kutanyakan kepada Arman, dia mengatakan ada kesalahan administrasi.

Namun, aku diam-diam menghubungi pihak bank.

Mereka mengirimkan salinan dokumen.

Tanda tanganku dipalsukan.

Malam kecelakaan, aku berencana membawa dokumen itu kepada pengacara.

Aku naik ke ruang kerja untuk mengambilnya.

Arman menyusul.

Kami bertengkar.

Dia berusaha merebut map dari tanganku.

Aku mundur.

Tanganku menyenggol vas peninggalan Ibu.

Vas itu pecah.

Kemudian Arman mendorong bahuku.

Aku kehilangan keseimbangan di dekat tangga.

Ingatan berikutnya hanyalah suara benturan.

Aku menangis semakin keras.

“Dia mendorongku, Din.”

Dinda memelukku.

“Aku ingat sekarang. Dia mendorongku.”

Namun, penyelidikan belum selesai.

Polisi masih harus memeriksa kecocokan keteranganku dengan bukti fisik dan kesaksian.

Dari pemeriksaan perangkat CCTV, ditemukan bahwa perubahan arah kamera dilakukan secara manual.

Rekaman dari kamera tetangga juga memperlihatkan Arman menaiki tangga kecil di dekat garasi sebelum Siska datang.

Penyidik kemudian menemukan pesan yang dikirim Arman kepada Siska malam itu.

Dalam salah satu pesan, Arman memintanya datang untuk mengambil dokumen.

Dalam pesan berikutnya, setelah ambulans pergi, dia menulis agar Siska tidak menceritakan pertengkaran kami kepada siapa pun.

Arman akhirnya dipanggil untuk diperiksa.

Awalnya dia menyangkal semuanya.

Dia mengatakan aku jatuh karena terpeleset ketika kami sedang berdebat.

Namun, ketika dihadapkan pada sejumlah bukti, keterangannya berubah.

Dia mengakui sempat menarik map dari tanganku.

Dia juga mengakui telah mendorongku.

Katanya dia tidak bermaksud membuatku jatuh.

“Aku cuma kehilangan kendali,” begitu penjelasannya.

Kalimat itu membuatku merasa lebih hancur daripada ketika pertama kali mengetahui kebohongannya.

Selama bertahun-tahun, Arman selalu mengatakan bahwa dia tidak pernah tega menyakitiku.

Ternyata, ketika dia benar-benar menyakitiku, hal pertama yang dilakukannya bukanlah meminta pertolongan.

Dia justru berusaha mengatur cerita.

Beberapa minggu kemudian, Arman ditetapkan sebagai tersangka dalam perkara kekerasan terhadapku. Dugaan pemalsuan dokumen keuangan ditangani dalam penyelidikan terpisah.

Aku mengajukan gugatan cerai.

Tidak mudah.

Ada malam-malam ketika aku masih terbangun dan secara refleks mencari Arman di sisi ranjang.

Ada pagi ketika aku hampir meneleponnya untuk menanyakan hal-hal kecil.

Aku membenci kenyataan bahwa sebagian diriku masih merindukan laki-laki yang pernah kucintai.

Dinda mengatakan perasaan itu tidak membuat keputusanku salah.

“Kenangan baik tidak menghapus perbuatan buruk, Nay.”

Aku mencoba mengingat kalimat itu setiap kali mulai meragukan diriku sendiri.

Dua bulan setelah kejadian, Siska meminta bertemu denganku.

Kami duduk di sebuah kafe kecil di Jakarta Selatan.

Dia tampak lebih kurus daripada dalam foto profil yang pernah kulihat.

“Aku minta maaf,” katanya.

Aku menggeleng.

“Kamu yang menelepon ambulans. Kalau bukan karena kamu, mungkin aku tidak selamat.”

Siska menunduk.

“Ada sesuatu yang belum aku ceritakan.”

Aku langsung menegang.

Dia mengeluarkan sebuah amplop putih.

Di dalamnya terdapat kartu memori kecil.

“Malam itu, sebelum datang ke rumahmu, aku menerima pesan dari Arman. Dia memintaku menghapus beberapa berkas dari komputer kantor.”

“Berkas apa?”

“Dokumen pinjaman. Bukti pemalsuan tanda tanganmu.”

Aku menatap kartu memori itu.

“Aku tidak menghapus semuanya,” lanjut Siska. “Aku menyimpan salinannya karena takut suatu hari nanti aku ikut disalahkan.”

“Kenapa baru memberikannya sekarang?”

Siska mengusap air matanya.

“Karena aku juga takut. Tapi aku tidak mau terus hidup dengan rasa bersalah.”

Aku menerima kartu itu dan menyerahkannya kepada Dinda untuk diteruskan kepada penyidik.

Sebelum berpisah, Siska mengatakan sesuatu yang membuatku terdiam.

“Naya, sebenarnya malam itu Arman sempat bilang kamu tidak akan mengingat apa-apa.”

Aku menatapnya.

“Maksudmu?”

“Ketika kamu dibawa ambulans, dia berkata kepadaku bahwa benturan di kepala biasanya membuat orang lupa kejadian sebelum kecelakaan.”

Dadaku terasa dingin.

Aku tidak tahu apakah Arman benar-benar mengandalkan hilangnya ingatanku atau hanya berusaha meyakinkan dirinya bahwa kebohongannya akan berhasil.

Namun, satu hal menjadi jelas.

Dia tahu persis apa yang ingin disembunyikannya.

Enam bulan kemudian, aku kembali ke rumah Bintaro untuk terakhir kalinya.

Rumah itu sedang dalam proses dijual sebagai bagian dari penyelesaian urusan harta kami.

Aku berdiri di depan tangga.

Tujuh belas anak tangga yang dulu membuatku gemetar kini terlihat biasa saja.

Aku naik perlahan menuju ruang kerja.

Di sana masih ada bekas kecil pada dinding tempat vas ibuku pernah jatuh.

Aku menyentuhnya.

Untuk pertama kalinya, aku tidak menangis.

Saat hendak keluar, ponselku bergetar.

Sebuah pesan dari nomor yang tidak kukenal.

Naya, aku tahu kamu tidak akan memaafkanku. Tapi percayalah, aku tidak pernah ingin kamu mati.

Aku langsung mengenali cara Arman menulis.

Aku membaca pesan itu sekali.

Lalu menghapusnya tanpa membalas.

Ketika berjalan menuju gerbang, aku melihat kamera CCTV yang masih terpasang di atas garasi.

Kamera itu sekarang menghadap ke arah yang benar.

Aku teringat betapa seringnya Arman mengatakan bahwa dia memasang kamera tersebut untuk melindungiku.

Ironis sekali.

Benda yang seharusnya menjadi simbol rasa aman justru membantuku menyadari bahwa orang yang paling kutakuti tinggal serumah denganku.

Aku mengunci pintu untuk terakhir kalinya.

Di dalam mobil, Dinda menungguku.

“Sudah selesai?” tanyanya.

Aku memandang rumah itu melalui kaca spion.

“Sudah.”

Dinda menyalakan mesin.

Kami melaju meninggalkan kompleks perumahan.

Beberapa menit kemudian, aku menerima telepon dari penyidik yang menangani dugaan pemalsuan dokumen.

Dia mengatakan pemeriksaan terhadap berkas dari Siska telah menghasilkan temuan baru.

Ternyata, tanda tanganku bukan satu-satunya yang diduga dipalsukan.

Ada beberapa dokumen lain yang menggunakan identitas orang berbeda.

Salah satunya adalah identitas seorang perempuan yang pernah menikah dengan Arman sebelum aku mengenalnya.

Aku membeku.

“Maaf, Pak. Arman pernah menikah?”

“Ibu tidak mengetahuinya?”

Aku tidak bisa menjawab.

Selama tujuh tahun, Arman mengatakan aku adalah istri pertamanya.

Penyidik melanjutkan bahwa perempuan tersebut telah meninggal sembilan tahun lalu akibat kecelakaan di rumah.

Menurut catatan lama yang sedang ditelusuri kembali, dia ditemukan tidak sadarkan diri di bawah tangga.

Tanganku langsung kehilangan tenaga.

Ponsel hampir terlepas.

Dinda menepi ketika melihat wajahku memucat.

“Naya, ada apa?”

Aku menatap lurus ke depan.

Di luar jendela, kendaraan terus bergerak. Orang-orang berjalan menuju kantor, pedagang membuka lapak, dan kehidupan berlangsung seperti biasa.

Namun, duniaku seakan berhenti.

Aku akhirnya memahami sesuatu yang mengerikan.

Mungkin aku bukan perempuan pertama yang mendengar Arman mengatakan bahwa semuanya hanyalah kecelakaan.

Aku hanya perempuan pertama yang selamat, menemukan kamera yang sengaja diputar, dan berani mempertanyakan ceritanya.

Aku menggenggam ponsel erat-erat.

“Din,” bisikku, “kita harus memastikan apa yang sebenarnya terjadi pada istri pertamanya.”

Dinda menatapku, lalu mengangguk.

Saat itulah aku menyadari bahwa mendapatkan kembali ingatanku bukanlah akhir dari perjuanganku.

Itu baru permulaan.

Dan kali ini, aku tidak akan membiarkan siapa pun mengubah kebenaran menjadi cerita tentang seorang perempuan yang katanya jatuh sendiri.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang