…Hujan mulai turun saat Aisyah menyalakan mesin mobil.
Rintik-rintik kecil berubah menjadi hujan deras hanya dalam hitungan menit. Wiper bergerak cepat ke kiri dan ke kanan, tetapi pandangannya tetap kabur—bukan hanya karena hujan, melainkan karena air mata yang terus mengalir tanpa henti.
Di sepanjang perjalanan, tangannya tak berhenti mencoba menelepon Rizky.
Panggilan ke-31.
Ke-32.
Ke-33…
Tak satu pun dijawab.

Aisyah kemudian mengirim satu pesan singkat.
“Mas… kalau semua ini cuma salah paham, tolong angkat telepon. Aku cuma ingin dengar penjelasanmu.”
Pesan itu hanya centang satu.
Ia menginjak pedal gas lebih dalam.
Sementara itu…
Di sebuah kamar VIP Penginapan Melati Indah, ponsel Rizky terus bergetar di atas meja.
Layar menampilkan nama yang sama berulang kali.
Aisyah Istri ❤️
Namun sebelum ia sempat mengambilnya, gadis di sampingnya tertawa kecil lalu membalikkan ponsel itu.
“Sudahlah, Mas. Malam ini kan buat kita.”
Rizky menghela napas.
“Kalau aku angkat, dia bakal nangis berjam-jam.”
Gadis itu tersenyum sinis.
“Biarkan saja. Besok juga reda.”
Rizky akhirnya menekan tombol mode senyap.
Ponsel itu terus bergetar.
Lalu berhenti.
Lalu bergetar lagi.
Tanpa ia tahu…
Itu adalah kesempatan terakhir.
Di jalan tol, hujan semakin menggila.
Lampu kendaraan memantul di aspal yang licin seperti cermin.
Aisyah mencoba mengusap air matanya sambil tetap mengemudi.
Tiba-tiba…
BRAAAAK!
Sebuah truk besar dari arah berlawanan kehilangan kendali setelah bannya pecah.
Mobil Aisyah tak sempat menghindar.
Benturan keras membuat mobilnya berputar beberapa kali sebelum menghantam pembatas jalan.
Kaca depan pecah berkeping-keping.
Airbag mengembang.
Tubuh Aisyah terjepit di balik kemudi.
Darah mengalir dari pelipisnya.
Napasnya mulai berat.
Ponselnya terlempar ke kursi penumpang, tetapi layar masih menyala.
Dengan sisa tenaga yang hampir habis…
Ia meraih ponsel itu.
Jari-jarinya yang berlumuran darah gemetar saat mencari nama suaminya.
Ia menekan tombol panggil.
Tak dijawab.
Ia mencoba lagi.
Tak dijawab.
Sekali lagi.
Tak dijawab.
Akhirnya, dengan napas yang putus-putus, ia menekan ikon rekam suara.
Suara tangisnya terdengar lirih bercampur hujan dan bunyi klakson kendaraan.
“Mas…”
“Aku… sangat kesakitan…”
“Kalau kamu masih sayang… tolong… selamatkan aku…”
“Aku… takut…”
Suara itu berhenti sejenak.
Ia menoleh ke arah foto kecil putra mereka yang tergantung di dashboard.
Air matanya kembali jatuh.
“Tolong jaga anak kita…”
“Jangan biarkan dia tumbuh tanpa ibu…”
Rekaman itu terkirim otomatis melalui aplikasi pesan.
Pukul 23.47.
Beberapa detik kemudian…
Layar ponselnya kembali menyala.
Ia masih mencoba menelepon.
Panggilan ke-34.
Ke-35.
Ke-36…
Tak ada jawaban.
Di kamar penginapan, suara getaran ponsel kembali terdengar.
Gadis muda itu mulai merasa terganggu.
“Mas, istrimu cerewet banget.”
Rizky mengambil ponselnya sekilas.
Ada 30 panggilan tak terjawab.
Belasan pesan.
Dan satu pesan suara berdurasi 18 detik.
Ia bahkan tidak membukanya.
Dengan wajah kesal, ia menekan tombol blokir sementara.
“Besok saja urus.”
Lalu ia kembali menuangkan minuman ke gelasnya.
Tak sampai lima menit kemudian…
Ponsel gadis itu tiba-tiba berdering.
Ia mengangkatnya sambil tersenyum.
Namun beberapa detik kemudian…
Senyumnya perlahan menghilang.
“Mas…”
Rizky masih tertawa.
“Ada apa?”
Gadis itu menelan ludah.
“Wajahmu… masuk berita.”
Rizky langsung menoleh.
Di layar ponsel terpampang siaran langsung kecelakaan.
Sebuah mobil putih ringsek tak berbentuk.
Petugas pemadam sedang memotong bodi kendaraan untuk mengeluarkan seorang wanita yang terjebak di dalamnya.
Reporter berkata dengan suara serius,
“Korban sempat menghubungi seseorang berkali-kali sebelum kecelakaan. Berdasarkan informasi sementara, ditemukan puluhan panggilan yang tidak pernah dijawab serta sebuah pesan suara terakhir yang dikirim beberapa menit sebelum tabrakan…”
Jantung Rizky mendadak berdegup kencang.
Ia membuka aplikasi pesannya.
Pesan suara itu masih ada.
Tangannya tiba-tiba gemetar hebat saat menekan tombol putar.
Suara Aisyah memenuhi ruangan yang mendadak sunyi.
“Mas… aku sangat kesakitan… tolong… selamatkan aku…”
Gelas di tangan Rizky terlepas dan pecah di lantai.
Untuk pertama kalinya malam itu…
Ia merasa seluruh dunianya ikut hancur.
