Melihat jam tangan emas yang rusak itu, seluruh tubuh saya mendadak menjadi kaku.
Saya mengenali jam itu.
Bukan karena pernah melihat Hendra memakainya, melainkan karena benda itu pernah menjadi bagian dari masa lalu keluarga saya.
Di bagian belakang jam terdapat ukiran kecil berbentuk huruf A dan S.
Arman Santoso.
Nama kakak laki-laki saya.

Kaki saya seketika kehilangan tenaga. Saya mencengkeram ujung meja agar tidak terjatuh.
Kakak saya menghilang 41 tahun lalu, tepat setahun sebelum saya menikah dengan Hendra.
Saat itu saya baru berusia 21 tahun.
Arman adalah satu-satunya keluarga yang saya miliki setelah kedua orang tua kami meninggal. Dia bekerja sebagai fotografer untuk sebuah surat kabar di Jakarta dan dikenal keras kepala jika sedang mengejar sebuah berita.
Suatu malam dia pergi sambil membawa kamera dan mengatakan akan bertemu seseorang.
Dia tidak pernah pulang.
Polisi melakukan pencarian selama berbulan-bulan, tetapi tidak menemukan apa pun.
Beberapa tahun kemudian kasusnya perlahan terlupakan.
Namun saya tidak pernah lupa.
Dengan tangan gemetar, saya mengambil jam itu.
Di balik kaca yang pecah, jarumnya berhenti tepat pada pukul 23.47.
Saya merasa udara di ruang bawah tanah itu semakin dingin.
Lalu pandangan saya jatuh pada buku harian bersampul kulit di atas meja.
Saya membukanya.
Halaman pertama membuat jantung saya berdegup semakin cepat.
Tulisan tangan Hendra.
Saya mengenalnya dengan sangat baik.
Tulisan yang sama yang selama puluhan tahun mengisi kartu ulang tahun saya dengan kalimat-kalimat romantis.
Tulisan yang sama yang selalu menuliskan daftar belanja ketika saya pergi ke pasar.
Namun kali ini, kata-kata yang ditulisnya terasa seperti milik orang asing.
“12 November 1984. Arman mulai curiga.”
Saya menutup mulut.
Mata saya membaca kalimat berikutnya.
“Dia sudah menemukan hubungan antara gudang lama di Tanjung Priok dan pengiriman barang perusahaan. Aku sudah memperingatkannya agar berhenti menyelidiki.”
Napas saya tercekat.
Tahun itu adalah tahun kakak saya menghilang.
Saya membalik halaman dengan terburu-buru.
Beberapa halaman berisi catatan tentang transaksi, nama-nama perusahaan, nomor rekening, dan nama orang-orang yang tidak saya kenal.
Kemudian saya menemukan satu halaman yang membuat tangan saya berhenti.
“Arman datang malam ini. Dia membawa negatif foto dan mengancam akan menyerahkannya kepada polisi. Kami bertengkar. Dia terjatuh saat mencoba merebut tasnya kembali. Kepalanya menghantam sudut meja.”
Saya tidak sanggup melanjutkan.
Air mata mengalir tanpa suara.
Namun beberapa detik kemudian, saya memaksa diri membaca kalimat berikutnya.
“Aku tidak bermaksud membuatnya celaka.”
Dunia seakan berhenti.
Selama puluhan tahun, Hendra selalu mengatakan dia pertama kali mengenal saya beberapa bulan setelah Arman menghilang.
Dia datang ke toko tempat saya bekerja.
Dia menghibur saya ketika saya menangis.
Dia membantu saya berurusan dengan polisi.
Dia menemani saya mencari kakak saya.
Dia bahkan berdiri di samping saya ketika saya menempelkan poster orang hilang di berbagai sudut Jakarta.
Ternyata dia sudah mengenal Arman jauh sebelum mengenal saya.
Saya membalik halaman berikutnya.
“Kalau Sari tahu, semuanya selesai.”
Saya terduduk di kursi.
Untuk pertama kalinya dalam 40 tahun pernikahan kami, saya merasa tidak pernah benar-benar mengenal pria yang tidur di samping saya setiap malam.
Telepon saya tiba-tiba berdering.
Nama anak sulung kami, Rian, muncul di layar.
“Ibu, di mana? Dokter bilang Ayah akan segera masuk ruang operasi.”
Saya menatap buku harian itu.
“Ibu masih di rumah.”
“Cepat, Bu. Rumah sakit menunggu dokumen asuransinya.”
Saya hampir menjawab, tetapi sesuatu membuat saya menoleh ke lemari tua di sudut ruangan.
Pintunya terkunci.
Entah mengapa, naluri saya mengatakan ada sesuatu di sana.
“Rian, beri Ibu waktu sebentar.”
Saya mematikan telepon.
Saya mencari di meja dan menemukan beberapa anak kunci di dalam laci kecil. Kunci ketiga berhasil membuka lemari.
Ketika pintunya terbuka, saya tidak menemukan pakaian.
Ada puluhan kotak arsip.
Foto.
Negatif film.
Surat kabar lama.
Dan sebuah kamera analog yang sudah berkarat.
Saya mengenali kamera itu.
Milik Arman.
Saya memeluk kamera tersebut sambil menangis.
Namun kemudian sebuah amplop cokelat jatuh dari salah satu rak.
Di bagian depannya tertulis nama saya.
SARI.
Saya membukanya.
Di dalamnya terdapat sebuah surat.
Tulisan itu bukan tulisan Hendra.
Saya mengenal tulisan itu bahkan setelah empat puluh tahun berlalu.
Tulisan Arman.
“Sari, kalau surat ini sampai kepadamu, berarti aku gagal menyelesaikan apa yang sedang kuselidiki.”
Saya membaca sambil terisak.
Arman menulis bahwa dia sedang menyelidiki jaringan penyelundupan barang elektronik melalui sebuah perusahaan ekspedisi.
Salah satu orang yang terlibat adalah Hendra.
Namun ada kalimat lain yang membuat saya terdiam.
“Hendra sebenarnya ingin keluar. Dia yang diam-diam memberiku informasi. Tapi orang-orang di atasnya mulai mencurigainya.”
Saya mengerutkan kening.
Ini berbeda dari apa yang saya bayangkan.
Saya kembali membuka buku harian Hendra dan membaca halaman-halaman selanjutnya dengan lebih teliti.
Ternyata malam ketika Arman mengalami kecelakaan bukanlah akhir ceritanya.
Setelah kepalanya terbentur, Arman masih hidup.
Hendra membawanya ke klinik kecil milik seorang kenalannya karena takut rumah sakit akan melaporkan kejadian tersebut.
Namun kondisi Arman memburuk.
Dalam catatan bertanggal dua hari kemudian, Hendra menulis bahwa Arman meninggal karena pendarahan di otak.
Saya menekan dada.
Tetapi pertanyaan terbesar masih belum terjawab.
Mengapa Hendra tidak mengatakan apa pun kepada saya?
Jawabannya ada beberapa halaman kemudian.
“Aku pengecut. Kalau aku melapor, mereka akan tahu Arman bekerja denganku. Mereka akan mencari Sari. Aku menyembunyikan semua bukti dan mengatakan kepada mereka bahwa negatif foto sudah kubakar.”
Saya terus membaca.
Setelah kematian Arman, Hendra ternyata menyerahkan salinan dokumen kepada seorang penyidik secara anonim.
Beberapa anggota jaringan itu akhirnya ditangkap dalam kasus berbeda dua tahun kemudian.
Tetapi Hendra tidak pernah mengaku tentang Arman.
Bukan kepada polisi.
Bukan kepada saya.
Sebaliknya, dia mendekati saya.
Awalnya untuk memastikan saya aman.
Kemudian hubungan itu berubah.
Dia jatuh cinta kepada saya.
Atau setidaknya itulah yang ditulisnya.
“Setiap kali Sari tersenyum kepadaku, rasa bersalahku semakin berat. Aku ingin pergi, tetapi aku juga tidak sanggup meninggalkannya sendirian.”
Saya merasa mual.
Empat puluh tahun kehidupan kami dibangun di atas sebuah rahasia.
Mungkin Hendra benar-benar mencintai saya.
Tetapi cinta itu tumbuh dari kebohongan.
Saya memasukkan buku harian, surat Arman, jam tangan, dan beberapa dokumen ke dalam tas.
Saat hendak pergi, saya melihat sebuah kotak besi kecil di lantai lemari.
Di dalamnya terdapat sebuah kaset video lama dengan tulisan tangan Hendra.
“Untuk Sari, jika aku tidak sempat mengatakannya.”
Saya membawanya.
Tiga puluh menit kemudian saya tiba di rumah sakit.
Rian dan adiknya, Maya, langsung menghampiri saya.
“Ibu dari mana saja?”
Saya menyerahkan dokumen asuransi kepada petugas tanpa menjawab.
Operasi berlangsung hampir lima jam.
Saya duduk di depan ruang operasi sambil memegang tas yang berisi seluruh masa lalu kami.
Ketika dokter akhirnya keluar, wajahnya terlihat lelah.
“Operasinya berhasil. Tetapi kondisinya masih sangat lemah.”
Saya tidak tahu apakah harus merasa lega atau marah.
Dua hari kemudian Hendra sadar.
Saya masuk ke ruang ICU sendirian.
Tubuhnya dipenuhi selang. Wajah yang selama ini selalu terlihat kuat kini pucat dan rapuh.
Ketika melihat saya, matanya berkaca-kaca.
“Sari.”
Saya mengeluarkan jam tangan emas itu.
Wajah Hendra seketika berubah.
Bibirnya bergetar.
“Kamu sudah turun ke sana.”
Saya meletakkan jam itu di meja.
“Empat puluh tahun, Hendra.”
Dia menutup mata.
“Empat puluh tahun saya tidur di samping orang yang tahu apa yang terjadi pada kakak saya.”
Air mata mengalir dari sudut matanya.
“Saya takut.”
“Takut kehilangan saya?”
Dia menggeleng perlahan.
“Awalnya takut mereka membunuhmu. Setelah mereka ditangkap, aku takut kehilanganmu.”
Saya tertawa pahit.
“Jadi kamu memilih berbohong.”
Hendra tidak membantah.
“Saya mencintaimu, Sari.”
“Jangan gunakan cinta untuk membenarkan kebohongan.”
Ruangan itu sunyi.
Kemudian Hendra mengatakan sesuatu yang membuat saya terdiam.
“Arman tidak dikuburkan tanpa nama.”
Saya menatapnya.
“Apa maksudmu?”
Hendra meminta saya membuka laci kecil di samping ranjangnya.
Di dalamnya terdapat sebuah kartu lama berisi nama sebuah pemakaman di Bogor dan nomor petak makam.
“Saya mengurus pemakamannya,” katanya pelan. “Setiap tahun saya pergi ke sana.”
Saya tiba-tiba teringat.
Setiap tanggal 14 November, Hendra selalu mengatakan akan mengunjungi makam seorang teman lama.
Selama empat puluh tahun.
Saya tidak pernah curiga.
“Kenapa tidak pernah membawa saya?”
“Karena aku pengecut.”
Kali ini dia tidak mencari alasan.
“Saya tahu saya tidak berhak meminta maaf. Setelah keluar dari sini, saya akan pergi ke polisi. Semua dokumen masih ada. Saya akan mengatakan semuanya.”
Saya tidak menjawab.
Saya meninggalkan ruangan.
Beberapa minggu kemudian, setelah kondisi Hendra membaik, dia memenuhi janjinya.
Kasus lama itu dibuka kembali.
Karena sebagian besar orang yang terlibat sudah meninggal dan beberapa bukti tidak lagi lengkap, proses penyelidikan berlangsung berbulan-bulan.
Namun satu hal akhirnya dapat dipastikan.
Sisa jenazah yang dimakamkan di Bogor memang milik Arman berdasarkan pemeriksaan DNA.
Empat puluh satu tahun setelah menghilang, kakak saya akhirnya pulang kepada keluarganya.
Saya memindahkan makamnya ke pemakaman keluarga.
Pada hari pemakaman kembali, Hendra berdiri jauh dari kami.
Tubuhnya jauh lebih kurus setelah operasi.
Dia tidak berani mendekat.
Setelah semua orang pergi, saya melihatnya berlutut di depan makam Arman.
“Saya minta maaf,” katanya.
Hanya itu.
Tidak ada pembelaan.
Tidak ada alasan.
Saya berdiri beberapa meter di belakangnya.
Saya menyadari sesuatu yang selama ini tidak pernah saya bayangkan.
Seseorang bisa mencintai kita dengan tulus sekaligus melakukan kesalahan yang menghancurkan hidup kita.
Keduanya bisa menjadi kenyataan pada saat yang sama.
Saya tidak langsung memaafkan Hendra.
Bahkan sampai hari ini, saya tidak tahu apakah saya sudah sepenuhnya memaafkannya.
Kami tidak lagi tinggal sekamar.
Namun saya juga tidak menghapus empat puluh tahun kehidupan kami seolah semuanya tidak pernah terjadi.
Anak-anak akhirnya mengetahui kebenaran.
Mereka marah.
Mereka kecewa.
Tetapi saya meminta mereka tidak memilih pihak.
“Biarkan Ibu menyelesaikan hidup Ibu sendiri,” kata saya.
Beberapa bulan kemudian, saya kembali ke ruang bawah tanah.
Kali ini pintunya tidak lagi dikunci.
Saya membersihkan ruangan itu.
Semua dokumen saya serahkan kepada penyidik.
Kamera Arman saya simpan.
Jam tangannya saya perbaiki.
Ketika tukang jam membuka bagian belakangnya, dia menemukan sesuatu yang bahkan Hendra tidak pernah ketahui.
Ada secarik kertas sangat kecil terselip di dalam penutup jam.
Tulisan di atasnya hampir pudar.
Hanya satu kalimat.
“Kalau sesuatu terjadi padaku, jangan salahkan Sari karena aku memilih jalan ini sendiri.”
Saya menangis ketika membacanya.
Bukan karena sedih.
Melainkan karena setelah lebih dari empat dekade, saya seperti mendengar suara kakak saya sekali lagi.
Sekarang jam itu berada di meja kecil di samping tempat tidur saya.
Jarumnya kembali bergerak.
Tik.
Tik.
Tik.
Dulu saya mengira jam yang berhenti pada pukul 23.47 itu adalah simbol sebuah kehidupan yang direnggut.
Sekarang saya memahami sesuatu yang berbeda.
Waktu memang tidak bisa diputar kembali.
Kebenaran yang datang terlambat tidak mampu mengembalikan orang yang telah pergi.
Permintaan maaf juga tidak selalu bisa memperbaiki luka.
Namun selama kita masih hidup, selalu ada kesempatan untuk berhenti bersembunyi.
Ruang bawah tanah itu kini menjadi ruang keluarga kecil.
Tidak ada lagi gembok.
Tidak ada lagi pintu yang dilarang untuk dibuka.
Foto Arman tergantung di dinding bersama foto anak-anak dan cucu-cucu saya.
Dan setiap kali Hendra melewati ruangan itu, dia selalu berhenti beberapa detik di depan foto kakak saya.
Kami tidak pernah membicarakan apa yang dia katakan dalam hati.
Saya tidak perlu tahu.
Karena setelah empat puluh tahun hidup bersama, akhirnya saya memahami bahwa rahasia paling mengerikan di rumah kami bukanlah apa yang tersimpan di ruang bawah tanah.
Melainkan kebohongan yang kami biarkan hidup terlalu lama hanya karena kami takut kehilangan orang yang kami cintai.
