“Karena anak itu bukan lagi pewaris keluarga Mahendra.”
Kalimat perempuan di hadapanku membuat ruangan klinik mendadak terasa sunyi.
Aku masih menggenggam pergelangan tangannya. Di belakangku, Bima mencengkeram jas putihku begitu erat sampai jemarinya memutih.
“Apa maksudmu?” tanyaku.
Perempuan itu menarik tangannya dengan kasar.
“Nama saya Siska. Istri Raka.”
Dadaku terasa seperti dihantam benda berat.
Istri Raka.
Siska merapikan lengan blusnya, lalu menatap Bima dengan jijik yang bahkan tidak berusaha dia sembunyikan.
“Anak itu sudah membuat cukup banyak masalah. Serahkan dia kepada saya.”
Aku berdiri semakin kokoh di depan Bima.
“Jawab pertanyaan saya dulu. Kenapa tubuhnya penuh memar?”
Siska tertawa kecil.
“Anak laki-laki jatuh, berkelahi, nakal. Wajar.”
“Lututnya mengalami cedera lama yang tidak ditangani dengan benar.”
Senyumnya menghilang.
“Dokter klinik kecil seperti Anda tidak perlu ikut campur urusan keluarga kami.”
Aku menatap dua pria berjas di belakangnya.
Mereka bukan polisi.

Bukan pula petugas perlindungan anak.
Kemungkinan besar sopir atau pengawal keluarga Mahendra.
“Keluar dari klinik saya.”
Siska melotot.
“Apa?”
“Saya bilang keluar.”
Dia melangkah mendekat.
“Sepertinya Anda belum tahu sedang berhadapan dengan siapa.”
“Saya tahu persis.”
Aku menoleh kepada Bima.
Untuk pertama kalinya dalam lima tahun, aku mengucapkan kalimat yang selama ini hanya berani kukatakan dalam hati.
“Saya ibunya.”
Wajah Siska seketika pucat.
Dua pria di belakangnya saling berpandangan.
Bima perlahan mengangkat wajah.
“Ibu?”
Satu kata itu menghancurkan seluruh pertahananku.
Aku ingin memeluknya.
Ingin mengatakan bahwa aku tidak pernah meninggalkannya karena tidak mencintainya.
Namun sebelum sempat menjawab, Siska mendadak menarik Bima dari belakangku.
“Ayo pulang!”
Bima menjerit.
“Jangan!”
Aku langsung merebut tangannya kembali.
Dalam kepanikan itu, kantong plastik Bima terjatuh.
Botol-botol bekas berguling di lantai.
Di antara kardus dan plastik, sebuah benda kecil berwarna hitam ikut terjatuh.
Perekam suara.
Wajah Siska berubah drastis.
Dia langsung membungkuk hendak mengambilnya.
Aku lebih cepat.
“Apa ini?”
“Berikan!”
Siska mencoba merebutnya.
Aku mundur dan menekan tombol putar.
Suara berisik terdengar beberapa detik.
Kemudian suara seorang perempuan memenuhi ruangan.
“Kalau kamu bilang kepada ayahmu, Tante akan patahkan kaki satunya juga.”
Tubuhku membeku.
Bima mulai menangis tanpa suara.
Rekaman berlanjut.
“Kamu bukan anak yang diinginkan keluarga ini lagi. Mama akan segera punya bayi sendiri. Jadi berhenti bertingkah seperti tuan muda.”
Lalu terdengar suara benda jatuh dan tangisan seorang anak.
Aku mematikan rekaman.
Tidak ada seorang pun berbicara.
Siska menerjangku.
Aku memasukkan alat itu ke saku jas.
“Sentuh saya sekali lagi dan saya telepon polisi.”
“Kamu tidak mengerti!”
“Apa yang tidak saya mengerti?”
Wajahnya memerah.
“Raka bahkan tidak tahu anak itu kabur!”
Aku terdiam.
“Di mana Raka?”
Siska tidak menjawab.
Aku mengeluarkan ponsel.
“Baik. Kita tanyakan langsung kepadanya.”
Siska mendadak panik.
“Jangan.”
Reaksinya justru membuatku semakin curiga.
Aku masih mengingat nomor Raka.
Lima tahun berlalu, tetapi beberapa angka memang tidak pernah benar-benar hilang dari ingatan.
Aku menelepon.
Nomor itu masih aktif.
Sekali.
Dua kali.
Tiga kali.
“Hallo?”
Suara laki-laki di seberang membuat napasku tercekat.
Lebih berat daripada lima tahun lalu, tetapi aku mengenalinya.
“Raka.”
Hening.
“Nadira?”
Suaranya berubah.
“Nadira, kamu di mana?”
Aku memandang Bima.
“Putramu ada bersamaku.”
“Apa?”
“Datang ke Klinik Hati Sehat di Yogyakarta.”
Aku menatap Siska.
“Dan sebaiknya datang sekarang sebelum saya membawa masalah ini ke polisi.”
Telepon terputus.
Siska menatapku penuh kebencian.
“Kamu akan menyesal.”
“Yang akan menyesal adalah orang yang melakukan ini kepada anak lima tahun.”
Aku meminta dua pria itu membawa Siska keluar. Anehnya, mereka menurut.
Salah seorang bahkan berbisik sebelum pergi.
“Kami hanya diperintahkan mencari Tuan Muda. Kami tidak tahu soal luka-lukanya.”
Setelah pintu tertutup, aku mengunci klinik.
Bima duduk di ranjang pemeriksaan.
Dia tidak lagi menangis.
Justru itu yang membuat hatiku semakin sakit.
Anak seusianya seharusnya menangis ketika kesakitan.
Bima tampaknya sudah belajar bahwa menangis tidak akan menolongnya.
Aku membersihkan luka di kakinya.
“Kapan terakhir kali kakimu diperiksa dokter?”
Dia berpikir lama.
“Tidak tahu.”
“Kamu tinggal di rumah besar?”
Dia mengangguk.
“Kenapa harus mencari botol?”
Bima menatap uang dua puluh ribu di tangannya.
“Tante Siska bilang kalau aku mau pergi ke dokter, aku harus bayar sendiri.”
Aku menggigit bibir.
“Ayahmu membiarkan?”
“Ayah jarang di rumah.”
“Kenapa?”
“Kerja.”
Jawabannya begitu sederhana.
Aku bertanya pelan, “Ayahmu pernah memukulmu?”
Bima langsung menggeleng.
“Ayah baik.”
“Lalu kenapa tidak bilang kepada Ayah?”
Bima menatap pintu.
“Tante bilang kalau aku mengadu, Ayah akan mati.”
Aku terdiam.
“Dia bilang orang-orang jahat sedang mengincar Ayah. Kalau aku membuat masalah, mereka akan menyakiti Ayah.”
Aku memejamkan mata.
Jadi ketakutan anak ini sengaja dibangun sedikit demi sedikit.
“Perekam itu dari mana?”
“Pak Joko.”
“Siapa Pak Joko?”
“Supir Ayah.”
Bima menjelaskan bahwa beberapa minggu lalu Pak Joko melihat Siska mendorongnya sampai jatuh dari tangga belakang. Pria itu diam-diam memberinya perekam kecil.
“Pak Joko bilang kalau Tante marah lagi, tekan tombol merah.”
“Di mana Pak Joko sekarang?”
Bima menunduk.
“Dipecat.”
Semakin banyak yang kudengar, semakin mengerikan gambarnya.
Aku kemudian memeriksa lutut Bima dengan alat sederhana yang kumiliki.
Kemungkinan ada kerusakan ligamen atau tulang yang pernah retak lalu sembuh tidak sempurna.
Dia membutuhkan pemeriksaan radiologi lengkap.
Namun malam itu aku tidak akan membiarkan siapa pun membawanya sebelum semuanya jelas.
Hampir empat jam kemudian, sebuah mobil berhenti di depan klinik.
Pintu terbuka.
Seorang laki-laki turun bahkan sebelum pengemudi sempat membuka payung.
Raka.
Dia berlari menembus hujan.
Saat masuk, rambut dan kemejanya basah.
Matanya pertama kali menemukan aku.
Lalu Bima.
Wajahnya langsung berubah.
“Bima!”
Anak itu melompat dari ranjang.
“Ayah!”
Raka memeluknya erat.
Namun ketika tangannya menyentuh kaki kanan Bima, anak itu meringis.
Raka langsung melepaskan pelukannya.
“Apa yang terjadi?”
Aku menggulung celana Bima.
Raka membeku.
Dia melihat memar di paha.
Bekas luka.
Pergelangan tangan.
Kemudian lutut yang berubah bentuk.
Wajahnya kehilangan warna.
“Siapa melakukan ini?”
Aku mengeluarkan perekam suara.
“Dengarkan.”
Setelah rekaman selesai, Raka tidak bergerak hampir satu menit.
Lalu dia berdiri.
“Di mana Siska?”
“Sudah pergi.”
Raka mengambil ponselnya.
Aku menahan tangannya.
“Jangan bodoh.”
“Dia menyiksa anakku!”
“Dan kamu mau melakukan apa? Memukulnya? Lalu bukti berubah menjadi pertengkaran rumah tangga?”
Raka menatapku.
Aku mengenali tatapan itu.
Marah.
Hancur.
Dan bersalah.
“Kita lapor polisi,” kataku. “Kita dokumentasikan seluruh luka Bima. Pemeriksaan medis lengkap. Rekaman ini juga disalin.”
Raka menunduk.
“Aku gagal.”
Aku tidak menjawab.
“Selama ini dia bilang Bima sering jatuh. Katanya psikolog menyarankan aku jangan terlalu memanjakannya.”
“Psikolog mana?”
Raka terdiam.
“Siska yang mengatur semua konsultasinya.”
Aku mengembuskan napas panjang.
“Kamu tidak pernah ikut?”
“Aku…”
“Tidak pernah?”
Dia menutup wajah.
“Aku sedang membuka dua rumah sakit baru. Aku pikir…”
“Kamu pikir uang cukup menggantikan kehadiran seorang ayah?”
Raka tidak membantah.
Bima tiba-tiba menarik ujung bajunya.
“Ayah jangan marah.”
Raka berjongkok.
“Kenapa?”
“Tante bilang kalau Ayah tahu, Ayah akan membuang Bima.”
Raka langsung memeluknya.
“Tidak. Tidak pernah.”
Tangisnya pecah.
Untuk pertama kalinya aku melihat Raka Mahendra, lelaki yang dibesarkan dalam keluarga yang menganggap emosi sebagai kelemahan, menangis seperti anak kecil.
Namun malam itu belum selesai.
Ketika kami bersiap membawa Bima ke rumah sakit untuk pemeriksaan, pintu klinik diketuk.
Seorang pria tua berdiri di luar.
Bima langsung berteriak.
“Pak Joko!”
Pria itu masuk dengan napas terengah.
“Saya dengar Tuan Muda ditemukan.”
Dia membawa sebuah map cokelat.
Raka berdiri.
“Pak Joko, kenapa Anda tidak pernah menghubungi saya?”
Pria itu tersenyum pahit.
“Saya mencoba, Pak. Nomor saya diblokir dari ponsel Bapak.”
Dia membuka map.
Di dalamnya terdapat puluhan foto.
Foto Bima tidur di gudang belakang.
Foto makanan basi.
Foto obat-obatan.
Dan beberapa salinan dokumen.
Aku mengambil salah satunya.
Tanganku gemetar.
Itu laporan medis Bima.
Namun nama rumah sakit dan dokter di dalamnya palsu.
“Apa ini?”
Pak Joko menatap Raka.
“Ny. Siska sudah hampir setahun memberi obat tidur kepada Tuan Muda setiap kali Bapak pulang larut malam. Supaya anak itu terlihat lemas dan tidak banyak bicara.”
Raka mengepalkan tangan.
“Ada lagi, Pak.”
Pak Joko mengeluarkan salinan laporan laboratorium.
“Saya tidak mengerti medis. Tapi sebelum dipecat, saya menemukan ini di ruang kerja Ny. Siska.”
Raka membacanya.
Wajahnya mendadak pucat.
“Apa?”
Aku mengambil kertas itu.
Itu hasil tes DNA.
Nama Raka tercantum sebagai ayah.
Nama Bima sebagai anak.
Hasilnya menunjukkan kecocokan biologis.
Aku bingung.
“Kenapa Siska menyimpan ini?”
Pak Joko menarik napas.
“Karena selama hampir setahun, Ny. Siska meyakinkan Nyonya Besar bahwa Tuan Bima bukan darah keluarga Mahendra.”
Aku menatap Raka.
“Bagaimana mungkin?”
“Dia membuat tes DNA palsu,” jawab Pak Joko. “Sejak itu Nyonya Besar berhenti menganggap Bima sebagai pewaris.”
Potongan-potongan kejadian mulai menyatu.
Siska tidak sekadar membenci Bima.
Dia sedang menyingkirkannya.
“Kenapa?” tanyaku.
Pak Joko mengeluarkan dokumen terakhir.
Surat kehamilan.
Siska sedang mengandung.
“Karena kalau Tuan Bima dianggap bukan anak kandung Pak Raka, anak Ny. Siska yang akan menjadi pewaris utama.”
Raka terduduk.
Namun aku melihat sesuatu yang aneh pada tanggal pemeriksaan kehamilan itu.
Aku menghitung cepat.
Kemudian menatap Raka.
“Kapan terakhir kali kamu dan Siska bersama sebelum kamu berangkat ke Singapura?”
Raka menatapku bingung.
“Sekitar delapan bulan lalu.”
Aku menunjukkan kertas itu.
“Usia kehamilannya dua puluh dua minggu.”
Wajah Raka perlahan berubah.
Tidak perlu seorang dokter spesialis untuk memahami masalahnya.
Anak yang dikandung Siska kemungkinan bukan anak Raka.
Keesokan paginya, kami membawa semua bukti kepada polisi dan unit perlindungan perempuan dan anak.
Bima menjalani pemeriksaan lengkap.
Hasil rontgen menunjukkan cedera lutut lama dan retakan tulang yang pernah dibiarkan tanpa perawatan memadai. Dokter ortopedi mengatakan peluang pemulihannya masih sangat baik karena usianya muda, tetapi dia membutuhkan terapi panjang.
Siska ditangkap dua hari kemudian ketika mencoba meninggalkan Yogyakarta.
Penyelidikan berikutnya membuka lebih banyak kebohongan.
Dia memalsukan laporan DNA, mengisolasi Bima dari orang-orang yang dekat dengan Raka, memecat pengasuh dan sopir yang mengetahui kekerasan itu, lalu membuat Raka percaya putranya memiliki masalah perilaku.
Yang paling mengejutkan justru terjadi seminggu kemudian.
Nenek Raka datang ke klinikku.
Perempuan yang lima tahun lalu meletakkan cek tiga miliar rupiah di depanku kini berdiri tanpa pengawal.
Rambutnya jauh lebih putih.
Dia membawa sebuah map.
“Aku datang untuk mengembalikan sesuatu.”
Dia meletakkan dokumen hak asuh di meja.
“Aku yang memisahkanmu dari anakmu.”
Aku tidak berkata apa-apa.
“Aku pikir kekayaan bisa menjamin kebahagiaan seorang anak.”
Suaranya bergetar.
“Ternyata rumah terbesar sekalipun bisa menjadi penjara kalau orang-orang di dalamnya tidak melihat penderitaan seorang anak.”
Dia kemudian menatapku.
“Aku tidak meminta kamu memaafkanku.”
“Bagus,” jawabku. “Karena saya belum bisa.”
Dia mengangguk.
“Tapi izinkan aku memperbaiki yang masih bisa diperbaiki.”
Beberapa bulan kemudian, keputusan sementara pengadilan memberikan pengasuhan Bima kepadaku selama proses hukum berlangsung.
Raka tidak melawan.
Dia justru pindah sementara ke Yogyakarta.
Bukan untuk merebut Bima.
Untuk belajar menjadi ayah.
Hubunganku dengannya tidak kembali seperti dulu.
Setidaknya belum.
Ada terlalu banyak luka yang tidak bisa diselesaikan hanya dengan satu permintaan maaf.
Namun setiap pagi, Raka mengantar Bima menjalani fisioterapi.
Setiap sore, dia menjemputnya.
Dan setiap malam, dia membacakan buku sampai Bima tertidur.
Enam bulan kemudian, aku berdiri di depan Klinik Hati Sehat ketika mendengar suara langkah kecil dari belakang.
Satu langkah.
Lalu satu langkah lagi.
Tidak ada seretan.
Aku menoleh.
Bima berjalan ke arahku tanpa tongkat.
Masih sedikit pincang, tetapi dia berjalan sendiri.
Di tangannya ada kantong plastik.
Jantungku langsung mencelos.
“Bima, itu apa?”
Dia tersenyum lebar.
Lalu mengeluarkan sebuah botol plastik kosong.
“Aku nemu di depan rumah.”
Aku hampir menangis.
Dia memasukkan botol itu ke tempat sampah daur ulang di samping klinik.
Kemudian mengeluarkan uang dua puluh ribu rupiah yang sudah kusut dari saku kecilnya.
Uang yang dulu dibawanya saat pertama kali datang.
“Aku masih simpan.”
Aku berjongkok.
“Kenapa?”
Bima meletakkannya di telapak tanganku.
“Dulu aku pikir kalau tidak punya uang, tidak ada yang mau menolong Bima.”
Mataku panas.
Dia memeluk leherku.
“Ternyata Bima salah.”
Aku memeluknya erat.
Di ambang pintu, Raka berdiri diam.
Matanya merah.
Bima kemudian mengambil kembali uang itu dari tanganku dan memasukkannya ke sebuah kotak donasi kecil di meja klinik.
Di atas kotak itu tertulis dana pengobatan gratis untuk anak-anak dari keluarga tidak mampu.
“Buat anak lain,” katanya.
Aku menatap putraku.
Lima tahun lalu, aku kehilangan seorang bayi karena merasa tidak cukup kuat untuk melawan keluarga yang jauh lebih berkuasa dariku.
Lima tahun kemudian, bayi itu kembali kepadaku dengan kaki terluka, sekantong botol bekas, dan uang dua puluh ribu rupiah.
Aku pernah berpikir hari ketika mereka mengambil Bima adalah kegagalan terbesar dalam hidupku.
Namun akhirnya aku memahami sesuatu.
Menjadi ibu bukan tentang siapa yang memiliki rumah paling besar, rekening paling banyak, atau nama keluarga paling berpengaruh.
Menjadi orang tua berarti memastikan seorang anak tahu bahwa ketika dunia membuatnya takut, selalu ada satu pintu yang bisa dia datangi tanpa membawa uang, tanpa membawa botol bekas, tanpa harus membuktikan bahwa dirinya pantas ditolong.
Dan kali ini, pintu itu tidak akan pernah kututup lagi.
