Aku menatap cincin pasangan yang baru saja kulepas dari jari, lalu tertawa kecil.
Dulu, satu kalimat Raka cukup membuatku membuang kesempatan yang mungkin tidak datang dua kali.
Sekarang, pria yang sama bahkan tidak ragu meninggalkanku sendirian di tengah hujan demi membela perempuan lain.
Aku membuka laptop dan membalas surel dari bagian hubungan internasional kampus.
Saya bersedia mengikuti program pertukaran mahasiswa.
Setelah menekan tombol kirim, dadaku terasa aneh.
Bukan lega sepenuhnya.
Bukan pula sedih.
Rasanya seperti akhirnya membuka jendela setelah bertahun-tahun tinggal di ruangan yang pengap.
Malam semakin larut ketika ponselku berbunyi.
Dinda mengirim pesan.
Nadia, kamu sudah sampai kos?
Aku tidak menjawab.
Beberapa menit kemudian, pesan kedua masuk.
Jangan salah paham soal Raka. Dia hanya merasa berutang budi kepadaku karena kejadian di Nusa Penida.
Lalu sebuah foto muncul.
Dinda sedang memegang sebuah syal sutra berwarna krem.
Ada bekas noda kecokelatan samar di salah satu ujungnya.
Jantungku seketika berhenti berdetak normal.
Aku mengenali jahitan kecil berbentuk bunga di sudut syal itu.
Aku sendiri yang membuatnya.
Itu syalku.
Syal yang kugunakan untuk menekan luka Raka di Nusa Penida.
Di bawah foto itu, Dinda menulis lagi.

Raka mengembalikannya kepadaku malam ini. Dia menyimpannya selama ini karena katanya benda ini sangat berarti baginya.
Tanganku gemetar, tetapi bukan karena sedih.
Aku akhirnya mengerti.
Dinda tahu.
Sejak awal, dia tahu Raka salah mengira dirinya sebagai orang yang menyelamatkannya.
Dan dia memilih diam.
Aku mengetik perlahan.
Bagaimana syal itu bisa ada padamu?
Tanda mengetik muncul cukup lama sebelum akhirnya menghilang.
Tidak ada jawaban.
Aku meneleponnya.
Ditolak.
Aku menelepon lagi.
Kali ini ponselnya sudah tidak aktif.
Aku menatap layar selama beberapa detik sebelum membuka galeri lama.
Foto-foto perjalanan ke Nusa Penida masih tersimpan.
Ada foto ketika aku mengenakan syal itu di pelabuhan.
Ada foto kakiku yang terluka setelah kejadian.
Ada juga foto yang diambil seorang petugas penyelamat ketika aku duduk di ambulans, basah kuyup, dengan darah mengering di betis.
Aku tidak pernah mengirim foto-foto itu kepada Raka.
Saat itu aku berpikir tidak perlu.
Yang penting dia selamat.
Betapa bodohnya aku.
Keesokan paginya, aku menemui Dekan Wibowo untuk menyerahkan dokumen terakhir keberangkatanku.
Program pertukaran itu akan dimulai tiga minggu lagi.
Aku hanya punya waktu dua puluh satu hari untuk menyelesaikan semua urusan di Bandung.
Saat keluar dari gedung administrasi, aku melihat Raka berdiri di bawah pohon.
Dia masih mengenakan seragam instruktur.
Dinda berdiri di sampingnya.
Begitu melihatku, Dinda langsung menunduk.
Raka berjalan mendekat.
“Kemarin kamu pulang bagaimana?”
Aku hampir tertawa.
Dia baru bertanya sekarang.
“Jalan kaki.”
Alisnya berkerut.
“Kenapa tidak pesan kendaraan?”
“Tidak ada yang menerima.”
Raka terdiam sesaat.
“Aku tidak tahu hujannya akan selama itu.”
Aku menatap wajah yang sudah kukenal sejak kecil.
Aneh sekali.
Dulu, hanya dengan melihat ekspresinya, aku bisa menebak apakah dia sedang senang, marah, atau kelelahan.
Sekarang rasanya aku sedang melihat orang asing.
“Kalau sudah selesai, aku mau pergi.”
Aku melewatinya.
Namun Raka menangkap pergelangan tanganku.
“Kamu belum meminta maaf kepada Dinda.”
Aku menatap tangannya.
“Lepaskan.”
“Nadia.”
“Lepaskan tanganku.”
Nada suaraku membuatnya terdiam.
Aku menarik tanganku kembali.
Dinda buru-buru mendekat.
“Sudahlah, Raka. Aku tidak apa-apa.”
Dia menatapku dengan mata berkaca-kaca.
“Aku tahu Nadia marah karena kamu memperlakukanku dengan baik. Aku bisa mengerti.”
Kalimat itu terdengar lembut.
Namun setiap katanya seperti sengaja menempatkanku sebagai perempuan pencemburu.
Aku tersenyum.
“Dinda, bagaimana syalku bisa menyelamatkan Raka kalau kamu tidak pernah datang ke Nusa Penida?”
Wajahnya seketika pucat.
Raka menoleh kepadanya.
“Apa maksudmu?”
Dinda membuka mulut, tetapi tidak ada suara keluar.
Aku mengeluarkan ponsel dan menunjukkan foto lama.
Foto pertama memperlihatkan aku mengenakan syal tersebut beberapa jam sebelum kecelakaan.
Foto kedua memperlihatkan luka di kakiku.
Foto ketiga memperlihatkan aku duduk bersama petugas penyelamat.
Tatapan Raka berubah.
“Dinda?”
“Aku bisa menjelaskan.”
“Jelaskan sekarang.”
Beberapa mahasiswa mulai memperhatikan kami.
Dinda menggigit bibir.
“Aku memang tidak ikut ke pulau hari itu.”
Wajah Raka membeku.
“Lalu kenapa kamu bilang kamu yang menyelamatkanku?”
“Aku tidak pernah mengatakannya secara langsung!”
Suara Dinda meninggi.
“Kamu sendiri yang bertanya apakah aku perempuan yang menelepon petugas setelah menyelamatkanmu. Aku hanya tidak membantah.”
Aku tertawa kecil.
“Tidak membantah selama dua bulan?”
Dinda menatapku tajam.
“Aku takut.”
“Takut apa?”
“Takut kehilangan semuanya!”
Air matanya jatuh.
“Kamu selalu punya semuanya, Nadia. Keluarga yang mendukungmu, bakat, beasiswa, dan Raka yang sejak kecil selalu ada untukmu.”
Aku terdiam.
Dinda melanjutkan dengan suara bergetar.
“Untuk sekali saja, aku ingin seseorang memandangku sebagai orang yang penting.”
Raka mundur selangkah.
“Jadi selama ini semuanya bohong?”
Dinda menangis.
“Aku memang berbohong, tapi perasaanku kepadamu tidak bohong.”
Suasana di sekitar kami mendadak senyap.
Raka menoleh kepadaku.
Matanya merah.
“Nadia, kenapa kamu tidak pernah bilang?”
Pertanyaan itu membuat sesuatu di dalam diriku benar-benar patah.
“Karena aku tidak pernah berpikir orang yang kuselamatkan akan membutuhkan bukti untuk mempercayaiku.”
Raka terlihat seperti baru ditampar.
“Aku tidak tahu.”
“Benar. Kamu tidak tahu.”
Aku menatapnya lurus.
“Kamu juga tidak tahu aku alergi makanan laut meskipun kita mengenal satu sama lain selama delapan belas tahun.”
“Kamu tidak tahu aku berjalan pulang sendirian semalam.”
“Kamu tidak tahu aku terluka saat menyelamatkanmu.”
“Dan ketika seluruh kampus mempermalukanku karena foto itu, kamu bahkan tidak mencoba mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi.”
Wajah Raka kehilangan warna.
“Nadia, aku salah.”
Aku mengangguk.
“Iya.”
Hanya itu.
Aku berbalik dan pergi.
Untuk pertama kalinya, Raka mengejarku.
“Nadia!”
Aku tidak berhenti.
Dia berdiri di depanku.
“Aku akan menjelaskan semuanya di forum kampus. Aku akan bilang kita memang pacaran. Aku akan membersihkan namamu.”
“Tidak perlu.”
“Kenapa?”
Aku menatapnya.
“Karena kita sudah tidak pacaran.”
Raka terdiam.
Aku mengeluarkan cincin pasangan dari saku dan meletakkannya di telapak tangannya.
“Seharusnya aku mengembalikan ini kemarin.”
Tangannya mengepal di sekitar cincin.
“Kamu sedang marah. Jangan mengambil keputusan saat emosi.”
“Aku justru baru bisa mengambil keputusan setelah tidak lagi dikuasai perasaan.”
“Nadia.”
“Selama bertahun-tahun aku pikir mencintaimu berarti menunggumu.”
Aku menarik napas.
“Ternyata aku terlalu sibuk menunggumu sampai lupa hidupku sendiri juga harus berjalan.”
Aku meninggalkannya.
Tiga hari kemudian, unggahan baru muncul di forum kampus.
Kali ini bukan tentang aku.
Salah seorang mahasiswa ternyata merekam percakapan kami.
Pengakuan Dinda tersebar.
Orang-orang yang sebelumnya mengejekku mulai meminta maaf. Beberapa akun menghapus foto-fotoku.
Raka juga membuat klarifikasi resmi.
Dia mengakui bahwa aku adalah pacarnya ketika insiden hujan terjadi dan bahwa tindakannya saat itu telah menyebabkan kesalahpahaman.
Namun semua itu tidak lagi penting.
Aku sibuk mengurus visa, dokumen akademik, dan keberangkatan.
Seminggu sebelum aku pergi, ibu Raka datang ke kosku.
Begitu pintu terbuka, beliau langsung memelukku.
“Kenapa tidak bilang kepada Tante?”
Aku terdiam.
Sejak kecil, keluarga Raka sudah seperti keluarga keduaku.
“Tante kira kalian baik-baik saja.”
Aku tersenyum.
“Sekarang juga baik-baik saja, Tante. Hanya saja jalannya sudah berbeda.”
Beliau menggenggam tanganku.
“Raka hampir setiap malam pulang terlambat. Dia mencari petugas penyelamat yang waktu itu menolong kalian.”
Aku sedikit terkejut.
“Untuk apa?”
“Dia ingin memastikan semuanya.”
Ternyata Raka kembali ke Nusa Penida.
Dua hari sebelum keberangkatanku, dia muncul di depan kos.
Wajahnya terlihat lebih kurus.
Di tangannya ada kantong plastik transparan.
Di dalamnya terdapat syal krem itu.
“Nadia.”
Aku tidak mengundangnya masuk.
Raka berdiri di depan pintu.
“Aku menemui petugas penyelamat.”
Aku diam.
“Mereka masih menyimpan laporan kejadian.”
Dia mengeluarkan salinan dokumen.
Di sana tercatat nama korban.
Raka Pratama.
Dan nama orang yang memberikan pertolongan pertama.
Nadia Maheswari.
Raka menelan ludah.
“Ada satu hal lagi.”
Dia membuka syal tersebut.
Selama ini, noda yang dianggap darah Raka ternyata berada di bagian tengah kain.
Namun setelah syal dibentangkan sepenuhnya, di salah satu ujungnya terdapat noda lain yang lebih gelap.
Raka menunjuknya.
“Petugas bilang darah di bagian ini bukan darahku.”
Aku menunduk.
“Itu darahku.”
Tatapan Raka jatuh ke kakiku.
Bekas luka tipis masih terlihat di betis.
“Aku baru tahu lukamu sedalam itu.”
Aku tersenyum hambar.
“Kamu tidak pernah bertanya.”
Kalimat sederhana itu membuat matanya memerah.
“Aku ingat sedikit sekarang.”
Aku menatapnya.
“Waktu setengah sadar, aku ingat ada seseorang yang terus memanggil namaku.”
Suaranya serak.
“Dia bilang, Raka, jangan tidur.”
Aku tidak menjawab.
“Aku ingat tangan seseorang menekan bahuku sampai gemetar.”
Raka menatapku.
“Itu kamu.”
“Sudah tidak penting.”
“Penting bagiku.”
“Untukmu mungkin baru penting sekarang.”
Aku menatap syal itu.
“Untukku, yang penting justru apa yang terjadi setelah kamu selamat.”
Raka tidak bisa menjawab.
Dia mengulurkan syal kepadaku.
“Aku ingin mengembalikannya kepada pemilik sebenarnya.”
Aku menerimanya.
Bukan karena ingin menyimpan kenangan tentang Raka.
Syal itu milikku sebelum mengenalnya sebagai kekasih.
Dan akan tetap menjadi milikku setelah hubungan kami berakhir.
Raka menarik napas panjang.
“Aku dengar kamu akan pergi.”
“Besok.”
“Berapa lama?”
“Dua tahun.”
Rahangnya menegang.
“Kalau aku menunggumu?”
Aku hampir tersenyum.
Delapan belas tahun aku menunggu dirinya.
Sekarang dia bertanya apakah boleh melakukan hal yang sama.
“Jangan.”
Satu kata itu membuat matanya berubah.
“Nadia, beri aku satu kesempatan.”
“Aku sudah memberimu terlalu banyak kesempatan bahkan sebelum kamu memintanya.”
Aku menutup pintu perlahan.
Keesokan harinya, pesawatku meninggalkan Indonesia.
Ketika melihat kota semakin kecil di balik jendela, aku mengira akan menangis.
Ternyata tidak.
Dua tahun berlalu lebih cepat daripada yang kubayangkan.
Aku belajar, mengikuti pameran, memenangkan kompetisi desain, dan untuk pertama kalinya hidup tanpa mengatur semua keputusan berdasarkan keberadaan seseorang.
Setelah program selesai, sebuah studio desain internasional menawariku pekerjaan.
Namun aku memilih pulang.
Bukan karena Raka.
Aku pulang karena ingin membangun studio sendiri di Bandung.
Pada hari pembukaan studio, sebuah paket tiba tanpa nama pengirim.
Di dalamnya terdapat sebuah kotak kecil.
Aku membukanya.
Cincin pasangan lama kami tergeletak di sana.
Di bawahnya ada secarik kertas.
Aku pernah memintamu tinggal karena takut kehilanganmu. Sekarang aku tahu, cinta yang meminta seseorang mengecilkan dunianya bukan cinta yang layak dipertahankan.
Tidak ada permintaan untuk kembali.
Tidak ada nomor telepon.
Tidak ada alamat.
Aku berdiri cukup lama memandangi tulisan itu.
Kemudian asistanku masuk.
“Mbak Nadia, tamu dari galeri Jakarta sudah datang.”
Aku menutup kotak tersebut.
“Baik. Aku segera ke sana.”
Sebelum keluar, aku memasukkan cincin itu ke laci paling bawah.
Bukan untuk disimpan sebagai harapan.
Hanya sebagai pengingat bahwa aku pernah menghabiskan bertahun-tahun mencintai seseorang sampai hampir melupakan diriku sendiri.
Di ruang depan, puluhan lukisan tergantung di dinding.
Salah satunya menarik perhatian banyak orang.
Lukisan seorang perempuan berdiri sendirian di tengah hujan.
Tidak ada payung di atas kepalanya.
Namun wajahnya tidak terlihat sedih.
Dia justru sedang berjalan menuju cahaya di ujung jalan.
Seorang pengunjung bertanya kepadaku, “Apa judul lukisan ini?”
Aku menatap perempuan dalam lukisan itu.
Kemudian aku tersenyum.
“Pulang.”
Bukan pulang kepada seseorang.
Melainkan pulang kepada diriku sendiri.
