Pukul delapan lewat dua puluh menit keesokan paginya, aku sudah meninggalkan rumah.
Tidak ada semur daging di atas kompor.
Tidak ada belanjaan khusus untuk Sari.
Dan untuk pertama kalinya sejak menikah, aku tidak merasa bersalah karenanya.
Aditya sudah berangkat ke kantor sejak pukul tujuh. Sebelum pergi, ia sempat mengingatkanku bahwa ibunya dan Sari akan datang makan siang.
Aku hanya menjawab singkat.
“Aku ingat.”
Ia tidak bertanya lebih jauh.
Mungkin karena selama tiga tahun terakhir aku selalu melakukan apa yang diharapkan keluarganya.
Aku memasak ketika mereka datang.

Membersihkan rumah setelah mereka pulang.
Membeli makanan ketika Bu Ratna menginginkan sesuatu.
Bahkan sering kali membayar kebutuhan keluarga tanpa pernah mempermasalahkan uangnya.
Mereka terbiasa melihatku mengalah sampai mengira aku tidak memiliki batas.
Pukul sembilan tepat, aku tiba di sebuah kantor notaris di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan.
Seorang perempuan bernama Ibu Melinda sudah menungguku.
Kami pernah bertemu setahun sebelumnya ketika ayahku meninggal dan meninggalkan beberapa aset atas namaku.
Begitu melihat map cokelat yang kubawa, ia langsung memahami maksud kedatanganku.
“Sudah yakin, Bu Ayu?”
Aku mengangguk.
“Sangat yakin.”
Ia membuka dokumen di hadapannya.
Rumah yang selama ini kutempati bersama Aditya ternyata bukan milik kami berdua.
Rumah itu dibeli ayahku enam bulan sebelum pernikahan dan diberikan kepadaku sebagai hadiah. Sertifikatnya sejak awal hanya atas namaku.
Namun setelah menikah, aku tidak pernah mempermasalahkan siapa pemiliknya.
Bagiku, rumah itu adalah rumah kami.
Aku bahkan membiarkan Pak Hendra dan Bu Ratna tinggal bersama kami setelah rumah lama mereka dijual untuk membantu melunasi utang usaha Sari dan suaminya.
Dua tahun.
Selama dua tahun mereka tinggal tanpa membayar listrik, air, kebutuhan dapur, ataupun biaya rumah tangga lainnya.
Aku tidak pernah menghitung.
Sampai malam sebelumnya.
“Saya tidak ingin menjual rumah ini,” kataku.
“Lalu apa yang ingin Ibu lakukan?”
“Ada satu unit apartemen milik saya di Tebet yang sekarang kosong, kan?”
Ibu Melinda memeriksa dokumen.
“Benar.”
“Saya ingin rumah ini disewakan.”
Ia mengangkat wajah.
“Termasuk meminta seluruh penghuni mengosongkannya?”
Aku diam beberapa detik.
“Ya.”
Untuk pertama kalinya, mengucapkan keputusan itu terasa lebih mudah daripada yang kubayangkan.
Aku tidak sedang mengusir siapa pun karena empat ekor lobster.
Aku sedang menghentikan pola yang sudah berlangsung bertahun-tahun.
Sepulang dari kantor notaris, ponselku penuh panggilan.
Tujuh panggilan dari Bu Ratna.
Empat dari Sari.
Dua dari Pak Hendra.
Aku baru menelepon kembali ketika mobilku berhenti di sebuah kedai kopi.
Bu Ratna langsung membentak begitu telepon tersambung.
“Ayu, kamu di mana?”
“Sari sudah datang dari tadi. Makanannya mana?”
Aku menatap lalu lintas di balik kaca.
“Saya sedang di luar, Bu.”
“Di luar?”
“Bukannya Ibu sudah bilang kemarin Sari mau makan di rumah?”
“Iya.”
“Terus kenapa kamu pergi?”
Aku tersenyum tipis.
“Karena saya punya urusan.”
Hening.
Mungkin Bu Ratna tidak terbiasa mendengar jawaban seperti itu dariku.
“Pulang sekarang,” katanya akhirnya.
“Sari sedang hamil. Dia tidak boleh telat makan.”
Aku menarik napas.
“Kalau Sari lapar, dia bisa pesan makanan, Bu.”
Telepon langsung terputus.
Sekitar satu jam kemudian aku pulang.
Begitu pintu terbuka, aroma makanan memenuhi ruang tengah.
Ternyata mereka sudah memesan makanan dari restoran.
Sari duduk di meja makan dengan wajah masam.
Perutnya memang mulai membesar, tetapi kehamilannya baru memasuki bulan kelima.
Di sebelahnya, Bu Ratna menatapku seolah aku baru melakukan kesalahan besar.
“Enak sekali sekarang.”
Aku meletakkan tas.
“Kenapa, Bu?”
“Kamu tahu orang mau datang, malah pergi.”
“Saya ada urusan.”
“Urusan apa yang lebih penting daripada keluarga?”
Pertanyaan itu membuatku hampir tertawa.
Namun aku menahannya.
Pak Hendra duduk di ujung meja dan tidak berkata apa-apa.
Sari menyandarkan tubuh ke kursi.
“Kak Ayu kalau keberatan aku makan di sini, bilang saja.”
Aku menatapnya.
“Aku tidak pernah bilang begitu.”
“Tapi sikap Kakak jelas.”
Bu Ratna langsung menyela.
“Sudahlah, Sari. Jangan dipikirkan. Nanti cucu Ibu ikut stres.”
Kemudian matanya kembali kepadaku.
“Lobster kemarin juga sudah dimakan Sari. Katanya enak sekali.”
“Suaminya juga suka.”
Empat lobster.
Untuk perempuan hamil, katanya.
Ternyata suaminya ikut makan.
Aku hanya mengangguk.
“Syukurlah.”
Bu Ratna terlihat sedikit bingung melihat reaksiku.
Mungkin ia berharap aku marah sehingga ia punya alasan untuk menyebutku pelit.
Namun aku sudah tidak membutuhkan pertengkaran.
Keputusan yang kuambil pagi itu jauh lebih kuat daripada seribu kalimat kemarahan.
Malamnya, setelah Sari pulang, aku meminta semua orang berkumpul di ruang tengah.
Aditya baru pulang dari kantor.
Ia tampak lelah.
“Ada apa?”
Aku meletakkan tiga amplop di atas meja.
Satu untuk Aditya.
Satu untuk Pak Hendra.
Satu untuk Bu Ratna.
Bu Ratna langsung mengambil miliknya.
“Apa ini?”
“Pemberitahuan.”
“Pemberitahuan apa?”
Aku menatap mereka satu per satu.
“Mulai bulan depan rumah ini akan disewakan.”
Aditya langsung berdiri.
“Apa?”
Pak Hendra yang sejak tadi diam akhirnya mengangkat kepala.
Bu Ratna tertawa kecil.
“Kamu bercanda?”
“Tidak.”
Aku mengeluarkan salinan sertifikat rumah.
“Rumah ini milik saya. Ayah membelinya sebelum saya menikah.”
“Mulai tiga puluh hari dari sekarang, penyewa baru akan masuk.”
Ruangan itu mendadak sunyi.
Aditya mengambil dokumen tersebut.
“Ayu, kenapa tiba-tiba?”
“Tidak tiba-tiba.”
Aku menatapnya.
“Aku sudah memikirkannya cukup lama.”
Bu Ratna berdiri.
“Kalau rumah ini disewakan, kami tinggal di mana?”
“Saya sudah menyiapkan pilihan.”
Aku menyerahkan sebuah kertas kepada Pak Hendra.
“Apartemen saya di Tebet kosong. Ayah dan Ibu boleh tinggal di sana selama enam bulan tanpa membayar sewa.”
“Setelah itu, Ayah dan Ibu bisa menentukan tempat tinggal sendiri.”
Wajah Bu Ratna memerah.
“Jadi kamu mengusir mertua?”
“Tidak.”
Suaraku tetap tenang.
“Saya memberi waktu enam bulan dan tempat tinggal gratis.”
“Selama dua tahun terakhir, Ayah dan Ibu tinggal di sini tanpa membayar apa pun.”
Bu Ratna menepuk meja.
“Aditya!”
“Kamu diam saja istrimu memperlakukan ibumu seperti ini?”
Semua mata tertuju kepada suamiku.
Dan seperti yang sudah kuduga, Aditya membeku.
Ia melihat ibunya.
Lalu melihatku.
“Ayu, mungkin keputusan seperti ini seharusnya dibicarakan dulu.”
Kalimat itu membuat dadaku terasa dingin.
“Dibicarakan dengan siapa?”
“Dengan aku.”
Aku menatapnya lama.
“Ketika ibumu mengambil barang di rumah ini tanpa bertanya, kamu bilang jangan dimasukkan ke hati.”
“Ketika beliau menyuruhku memasak untuk Sari tanpa pernah bertanya apakah aku punya kegiatan lain, kamu diam.”
“Ketika tabunganku dipakai membantu menutup utang usaha Sari dua tahun lalu, kamu bilang keluarga harus saling membantu.”
Aditya menelan ludah.
Aku melanjutkan.
“Tapi ketika aku menentukan apa yang akan kulakukan dengan rumah milikku sendiri, tiba-tiba keputusan harus dibicarakan?”
Bu Ratna menunjuk wajahku.
“Jadi semua ini gara-gara lobster?”
“Bukan.”
Aku menatap matanya.
“Lobster itu hanya membuat saya akhirnya melihat semuanya dengan jelas.”
Pak Hendra tiba-tiba bersuara.
“Ratna, cukup.”
Kami semua terdiam.
Selama ini, aku hampir tidak pernah mendengar beliau membantah istrinya.
Bu Ratna menoleh tajam.
“Apa?”
Pak Hendra meletakkan amplopnya.
“Ayu benar.”
Wajah Bu Ratna berubah.
“Kamu membela dia?”
“Saya bukan membela siapa-siapa.”
Pak Hendra menarik napas panjang.
“Dua tahun kita tinggal di rumah anak dan menantu.”
“Kita tidak pernah bayar apa-apa.”
“Kemarin kamu mengambil empat lobster tanpa izin.”
“Kamu bahkan menyuruh Ayu masak lagi hari ini.”
“Aku sudah bilang berkali-kali jangan terlalu ikut campur.”
Bu Ratna menatap suaminya tidak percaya.
“Kamu sekarang menyalahkan aku?”
Pak Hendra justru mengatakan sesuatu yang tidak pernah kuduga.
“Bukan hanya lobster yang kamu bawa ke Sari, kan?”
Tubuhku menegang.
Aditya menatap ayahnya.
“Maksud Ayah?”
Pak Hendra bangkit dan berjalan menuju lemari kecil di dekat televisi.
Dari dalamnya ia mengambil sebuah buku catatan.
Ia meletakkannya di meja.
“Ayah sebenarnya sudah lama mencatat.”
Bu Ratna langsung pucat.
“Pak, jangan.”
Tetapi Pak Hendra membuka buku itu.
Ternyata selama hampir setahun terakhir, Bu Ratna beberapa kali mengambil uang belanja rumah yang kuberikan dan mengirimkannya kepada Sari.
Jumlahnya tidak sedikit.
Rp1 juta.
Rp2 juta.
Kadang Rp3 juta.
Ada pula uang yang kuberikan untuk membayar servis AC, membeli kebutuhan dapur, dan memperbaiki pompa air.
Sebagiannya ternyata dialihkan kepada Sari.
Totalnya hampir Rp38 juta.
Aku menatap angka itu lama.
Anehnya, aku tidak marah.
Aku justru merasa semakin yakin.
Aditya menatap ibunya dengan wajah berubah.
“Bu, ini benar?”
Bu Ratna mulai menangis.
“Sari banyak kebutuhan.”
“Suaminya usahanya sedang susah.”
“Dia adikmu sendiri.”
Aditya mengusap wajahnya.
“Tapi itu uang Ayu.”
“Kalian suami istri!”
Bu Ratna membalas cepat.
“Uang Ayu berarti uang kamu juga!”
Aku hampir menjawab ketika ponsel Bu Ratna tiba-tiba berbunyi.
Nama Sari muncul di layar.
Bu Ratna buru-buru mengangkatnya.
Namun karena tangannya gemetar, tanpa sengaja ia menekan pengeras suara.
Suara Sari terdengar jelas.
“Bu, sudah bicara soal uang muka rumahnya belum?”
Ruangan mendadak membeku.
Bu Ratna langsung mencoba mematikan pengeras suara, tetapi terlambat.
Aditya berdiri.
“Uang muka rumah apa?”
Tidak ada jawaban.
Aku menatap Bu Ratna.
Wajahnya kehilangan warna.
Pak Hendra memejamkan mata.
Akhirnya semuanya terbuka.
Ternyata Bu Ratna sudah menjanjikan kepada Sari bahwa rumah kami akan dijadikan jaminan pinjaman agar Sari dan suaminya bisa membeli rumah baru.
Ia mengira rumah itu milik Aditya.
Lebih buruk lagi, ia sudah memberikan fotokopi beberapa dokumen keluarga kepada seorang perantara kredit.
Aditya terduduk.
Untuk pertama kalinya, aku melihatnya benar-benar memahami bahwa diam bukanlah sikap netral.
Diam juga bisa memberi ruang kepada seseorang untuk terus melewati batas.
“Ayu…”
Ia menatapku.
“Aku benar-benar tidak tahu.”
“Aku tahu.”
Jawabanku membuatnya semakin terpukul.
Karena memang itu masalahnya.
Ia tidak tahu karena selama ini ia memilih untuk tidak tahu.
Tiga puluh hari kemudian, kami benar-benar meninggalkan rumah itu.
Pak Hendra dan Bu Ratna pindah ke apartemen Tebet.
Namun ada satu hal yang tidak mereka ketahui.
Aku tidak ikut pindah bersama Aditya.
Aku menyewa sebuah apartemen kecil dekat kantorku.
Ketika Aditya melihat koperku berada di bagasi mobil, wajahnya langsung berubah.
“Kamu mau ke mana?”
“Aku butuh waktu.”
“Ayu, aku sudah bicara sama Ibu. Aku janji semuanya berubah.”
Aku menatap laki-laki yang sudah menjadi suamiku selama tiga tahun itu.
“Aku percaya kamu ingin berubah.”
“Tapi aku juga harus tahu apakah perubahan itu muncul karena kamu benar-benar memahami kesalahannya, atau hanya karena kamu takut kehilangan aku.”
Matanya memerah.
“Berapa lama?”
“Aku tidak tahu.”
Aku masuk ke mobil.
Enam bulan kemudian, sesuatu yang tidak pernah kubayangkan terjadi.
Bu Ratna datang menemuiku sendirian.
Tidak membawa Sari.
Tidak membawa tuntutan.
Tidak membawa daftar makanan yang harus kumasak.
Ia hanya membawa sebuah tas pendingin kecil.
Kami duduk berhadapan di apartemenku.
Ia membuka tas itu.
Di dalamnya ada satu ekor lobster matang.
Aku menatapnya tanpa mengerti.
Bu Ratna tersenyum canggung.
“Ibu beli lima.”
“Empat Ibu tinggalkan di rumah.”
“Yang satu Ibu bawa untuk kamu.”
Mataku panas.
Ia menunduk.
“Ibu baru sadar selama ini bukan Sari yang terlalu banyak meminta.”
“Ibulah yang tidak pernah mengajarinya berhenti meminta.”
Untuk pertama kalinya, Bu Ratna meminta maaf tanpa mencari alasan.
Aditya pun berubah.
Bukan dengan janji, melainkan dengan tindakan.
Ia pindah ke tempat kos selama kami berpisah, membantu ayahnya mencari rumah kontrakan, dan berhenti menjadi perantara setiap kali ibunya atau Sari membutuhkan uang.
Kami menjalani konseling pernikahan selama beberapa bulan.
Setahun setelah malam lobster itu, aku dan Aditya akhirnya tinggal bersama lagi.
Bukan di rumah lama.
Rumah itu tetap kusewakan.
Kami membeli sebuah rumah kecil bersama, masing-masing membayar setengah.
Pada malam pertama di sana, Aditya membawa pulang lima ekor lobster.
Ia menaruhnya di meja dan tertawa.
“Sekarang bagaimana pembagiannya?”
Aku pura-pura berpikir.
“Satu buat kamu.”
“Satu buat aku.”
“Terus tiga lagi?”
Aku tersenyum.
“Kita simpan.”
“Kalau ada orang mau, mereka harus bertanya dulu.”
Aditya tertawa.
Aku pun ikut tertawa.
Karena pada akhirnya, yang mengubah hidupku bukan empat ekor lobster yang dibawa pergi.
Melainkan satu keputusan sederhana yang selama bertahun-tahun tidak berani kuambil.
Berhenti menganggap kesabaran sebagai kewajiban.
Sebab mencintai keluarga tidak berarti membiarkan mereka melewati batas.
Dan terkadang, cara terbaik untuk mempertahankan sebuah keluarga bukanlah terus mengalah.
Melainkan berani mengatakan bahwa mulai hari ini, sesuatu harus berubah.
