BAYI PUTRI PENGUSAHA ITU MENANGIS SEPANJANG PENERBANGAN—SAMPAI SEORANG REMAJA DARI KELAS EKONOMI MEMBISIKKAN SATU KALIMAT, LALU FOTO MENDIANG ISTRINYA JATUH DARI TAS DAN MEMBUAT TANGANNYA GEMETAR

Raka tidak langsung mengambil flashdisk itu.

Kalimat Dimas menggantung di udara, jauh lebih menakutkan daripada ancaman apa pun.

“Kamu akan tahu kenapa Nadira merahasiakan anak ini darimu.”

Raka menatap Bagas.

Remaja itu berdiri dengan wajah pucat, kedua tangannya mencengkeram amplop cokelat seperti benda itu adalah satu-satunya perlindungan yang ia miliki.

“Apa maksudnya?” tanya Raka.

Dimas mengembuskan napas panjang.

“Tidak semua rahasia Nadira perlu kamu ketahui.”

“Dia istriku.”

“Justru karena itu.”

Raka melangkah mendekat.

“Dimas, jangan paksa saya bertanya dua kali.”

Namun sebelum Dimas menjawab, suara tangisan kecil terdengar lagi.

Kirana.

Raka spontan menoleh.

Perawat bayi sedang menggendongnya, tetapi bayi itu mulai gelisah.

Bagas segera bersenandung pelan.

Melodi yang sama.

Ajaibnya, Kirana kembali tenang.

Raka memandang Bagas lama.

Kemudian ia mengambil flashdisk tersebut.

“Indah.”

Pramugari itu mendekat.

“Apakah ada laptop yang bisa saya gunakan?”

Beberapa menit kemudian, Raka duduk di kursinya dengan sebuah laptop di atas meja.

Bagas duduk di seberangnya.

Dimas tetap berdiri beberapa langkah dari mereka, diawasi oleh kepala kabin setelah keributan sebelumnya.

Flashdisk dimasukkan.

Ada empat folder.

Laporan Yayasan.

Transfer.

Dokumen Bagas.

Dan satu folder terakhir.

Untuk Raka.

Tangan Raka berhenti di atas touchpad.

Ia membuka folder itu.

Hanya ada satu video.

Tanggal rekamannya sembilan hari sebelum Nadira melahirkan.

Raka menekan tombol putar.

Layar menjadi gelap beberapa detik.

Kemudian wajah Nadira muncul.

Raka kehilangan napas.

Istrinya duduk di ruang kerja kecil yang ia kenal.

Rambutnya diikat.

Wajahnya tampak lelah.

Perutnya yang besar terlihat di bagian bawah layar.

“Hai, Ka.”

Suara itu.

Sudah hampir sebulan Raka tidak mendengarnya.

Raka langsung menundukkan kepala.

Rahangnya mengeras.

Di sampingnya, Bagas diam.

“Kalau kamu menonton video ini,” lanjut Nadira, “berarti aku tidak berhasil menyelesaikan semuanya sendiri.”

Nadira menarik napas.

“Aku minta maaf karena merahasiakan Bagas darimu.”

Raka menatap layar.

“Bagas bukan anakku. Dan dia juga bukan anak Dimas.”

Bagas menunduk.

“Dua tahun lalu aku bertemu dia di sebuah rumah singgah di Bogor. Waktu itu umurnya empat belas tahun. Ibunya baru meninggal dan dia hampir putus sekolah.”

Nadira berhenti sebentar.

“Aku mengenal ibunya.”

Raka mengerutkan kening.

“Namanya Sari.”

Tubuh Dimas mendadak menegang.

Raka melihatnya.

Nadira melanjutkan.

“Sari pernah bekerja di bagian administrasi perusahaan keluarga kami. Lima belas tahun lalu, dia menemukan penggelapan dana yang dilakukan seseorang di keluarga Pradana.”

Tatapan Nadira berubah.

“Orang itu adalah kakakku sendiri.”

Dimas memejamkan mata.

Beberapa penumpang yang sejak tadi memperhatikan mulai berbisik.

“Sari mengumpulkan bukti. Tapi sebelum dia bisa menyerahkannya kepada polisi, dia dituduh mencuri uang perusahaan.”

Bagas mengepalkan tangannya.

“Dia kehilangan pekerjaan. Namanya hancur. Selama bertahun-tahun dia membesarkan Bagas sendirian.”

Suara Nadira mulai bergetar.

“Aku baru mengetahui kebenarannya dua tahun lalu.”

Raka menoleh kepada Dimas.

“Benar?”

Dimas diam.

“Jawab.”

“Benar,” katanya akhirnya.

Satu kata itu membuat Bagas menutup mata.

Nadira di layar kembali berbicara.

“Aku ingin memberitahumu sejak awal, Ka. Tapi aku tahu kamu. Kalau kamu tahu, kamu pasti langsung menghadapi Dimas.”

Raka menahan napas.

“Kakakku sudah tahu aku menyelidikinya. Aku takut kalau terlalu banyak orang tahu tentang Bagas, dia akan menjadi sasaran.”

Raka menatap remaja di hadapannya.

Untuk pertama kalinya ia mengerti.

Nadira bukan menyembunyikan Bagas karena malu.

Ia sedang melindunginya.

“Aku menggunakan Yayasan Lentera untuk membiayai sekolah Bagas dan beberapa anak lain yang menjadi korban dari kasus lama perusahaan keluarga kami. Tapi tiga bulan terakhir aku menemukan transaksi yang tidak pernah kusetujui.”

Nadira mengangkat beberapa dokumen ke kamera.

“Dimas menggunakan akses lama untuk memindahkan uang yayasan ke perusahaannya.”

Dimas tiba-tiba berkata, “Matikan videonya.”

Raka bahkan tidak menoleh.

“Belum selesai.”

“Raka.”

“Saya bilang belum selesai.”

Nadira melanjutkan.

“Aku sudah mengumpulkan bukti. Tapi ada sesuatu yang lebih penting.”

Ia terdiam cukup lama.

“Sari tidak meninggal karena penyakit seperti yang selama ini diyakini Bagas.”

Bagas mendongak cepat.

“Apa?”

Ia berdiri.

“Apa maksudnya?”

Raka juga membeku.

Di layar, Nadira tampak menahan air mata.

“Sari meninggal setelah kecelakaan tabrak lari.”

Bagas menatap layar tanpa berkedip.

“Tapi kecelakaan itu bukan kebetulan.”

Dimas bergerak.

Raka langsung berdiri menghalanginya.

Nadira kemudian menyebut tanggal kejadian.

Wajah Bagas berubah.

“Itu hari Mama meninggal…”

Nadira mengangguk kecil seolah sedang berbicara langsung kepadanya.

“Beberapa jam sebelum kecelakaan, Sari menghubungiku. Dia bilang akhirnya menemukan salinan buku besar perusahaan yang hilang. Bukti asli penggelapan itu.”

Bagas mulai menangis tanpa suara.

“Setelah kematiannya, dokumen tersebut menghilang.”

Video berhenti.

Layar membeku.

“Kenapa berhenti?” tanya Raka.

Bagas mendekat.

“Videonya belum selesai.”

Raka mencoba memutar lagi.

File berikutnya ternyata terpisah.

Ia membukanya.

Nadira muncul kembali.

Kali ini suaranya lebih pelan.

“Aku tidak punya bukti bahwa Dimas menyebabkan kecelakaan Sari.”

Dimas mengangkat wajah.

“Tuh, dengar itu!”

“Tapi aku menemukan sesuatu yang membuatku yakin seseorang sedang berusaha menutupi jejak.”

Nadira memperlihatkan sebuah dokumen.

“Mobil yang menabrak Sari ditemukan dua hari kemudian dalam kondisi terbakar. Kendaraan itu terdaftar atas nama perusahaan cangkang.”

Raka menatap Dimas.

“Perusahaan milik siapa?”

Dimas tidak menjawab.

Nadira menjawabnya dari layar.

“Perusahaan itu sekarang dimiliki Dimas.”

Suasana kabin berubah mencekam.

Bagas tiba-tiba menerjang ke arah Dimas.

“Om bunuh Mama saya?”

Raka menangkap tubuhnya.

“Bagas!”

“Lepaskan saya!”

“Dengar saya!”

Bagas berusaha melepaskan diri.

“Dia membunuh Mama saya!”

“Kita belum tahu itu.”

“Mama saya hidup susah karena dia!”

Suara Bagas pecah.

“Aku berhenti sekolah setahun buat kerja! Mama sampai jual cincin nikahnya buat bayar kontrakan!”

Dimas mundur.

“Aku tidak membunuh ibumu.”

“Bohong!”

“Aku memang mencuri uang perusahaan.”

Semua orang terdiam.

Dimas menatap lantai.

“Aku memalsukan laporan. Aku menjebak Sari.”

Bagas menatapnya penuh kebencian.

“Tapi aku tidak menabraknya.”

“Lalu siapa?”

Dimas tidak menjawab.

Raka melihat sesuatu dalam ekspresinya.

Bukan rasa bersalah.

Ketakutan.

“Kamu tahu siapa pelakunya,” kata Raka.

Dimas menatapnya.

“Bukan di sini.”

“Siapa?”

Dimas menelan ludah.

“Ayah kami.”

Raka merasa seolah lantai pesawat bergeser.

Bagas terdiam.

“Apa?”

Dimas duduk perlahan.

“Ayah tahu Sari punya bukti.”

Ayah Nadira.

Surya Pradana.

Pria tujuh puluh tiga tahun yang selama bertahun-tahun dikenal sebagai pengusaha dermawan.

Orang yang berdiri paling depan di pemakaman Nadira.

Orang yang memeluk Raka sambil berkata agar ia menjaga Kirana.

Dimas mengusap wajahnya.

“Aku mencuri uang. Sari tahu. Ayah menyuruhku membereskan masalah itu.”

“Membereskan bagaimana?” tanya Raka.

“Aku memecatnya. Itu saja.”

Dimas menatap Bagas.

“Tapi Sari terus mencari bukti. Dia mengancam akan membawa semuanya ke polisi. Aku memberi tahu Ayah.”

Suaranya mengecil.

“Setelah itu Sari meninggal.”

Bagas terduduk.

Untuk beberapa saat ia tidak mengeluarkan suara apa pun.

Kemudian Raka kembali melihat layar.

Masih ada satu file terakhir.

Namanya sederhana.

Kirana.

Raka membukanya.

Nadira kembali muncul.

Kali ini ia tersenyum.

Tangannya mengusap perut.

“Kalau sampai bagian ini, mungkin kamu sudah marah padaku.”

Air mata Raka akhirnya jatuh.

“Tapi ada alasan terakhir kenapa aku melakukan semua ini sendirian.”

Nadira mengangkat sebuah map.

“Aku sudah mengubah struktur Yayasan Lentera.”

Ia menjelaskan bahwa seluruh aset pribadi yang ia masukkan ke yayasan tidak dapat diwariskan kepada keluarga Pradana.

Jika sesuatu terjadi padanya, pengawasan yayasan akan berpindah kepada dua wali.

Raka Mahendra.

Dan seseorang bernama Bagas Santoso setelah mencapai usia dua puluh satu tahun.

Bagas menatap layar dengan mata membesar.

“Saya?”

Nadira tersenyum.

“Aku tidak ingin memberimu uang, Gas. Aku ingin memberimu kesempatan untuk memastikan anak-anak seperti kamu tidak mengalami apa yang kamu alami.”

Bagas menutup mulutnya.

Raka tak mampu berkata-kata.

Kemudian ekspresi Nadira berubah lembut.

“Dan Raka…”

Ia memandang kamera.

“Kalau aku tidak ada saat Kirana lahir, ada satu hal yang harus kamu tahu.”

Raka menahan napas.

“Aku mengajari Bagas lagu itu karena aku memintanya merekam melodinya untukku.”

Bagas mulai menangis.

“Waktu kandunganku tujuh bulan, dokter bilang ada kemungkinan aku harus menjalani tindakan darurat saat persalinan. Aku takut.”

Nadira tersenyum tipis.

“Bukan takut mati.”

Ia mengusap perutnya.

“Aku takut anak kita tumbuh tanpa pernah mengenal bagian kecil dari diriku.”

Raka menutup mata.

“Jadi aku meminta Bagas menghafal lagu itu. Kalau suatu hari aku tidak bisa menyanyikannya untuk Kirana, setidaknya masih ada seseorang yang bisa mengajarkannya kepadamu.”

Tangisan Kirana terdengar pelan dari belakang.

Seolah mengetahui namanya disebut.

Nadira kemudian mengatakan kalimat terakhir.

“Ka, selama ini kamu selalu berpikir melindungi seseorang berarti menyediakan semua yang mereka butuhkan.”

Ia tersenyum.

“Tapi kadang seseorang tidak membutuhkan kita untuk berdiri di depannya.”

“Mereka hanya membutuhkan kita untuk tidak meninggalkannya sendirian.”

Video berakhir.

Tidak ada seorang pun berbicara.

Raka duduk mematung.

Selama bertahun-tahun ia merasa dirinya mengenal Nadira.

Namun ternyata perempuan itu meninggalkan sesuatu yang jauh lebih besar daripada rahasia.

Ia meninggalkan tanggung jawab.

Pesawat mendarat di Istanbul beberapa jam kemudian.

Sebelum pintu dibuka, Raka meminta kepala kabin memastikan Dimas tidak pergi lebih dulu.

Begitu jaringan ponselnya kembali aktif, Raka mengirim seluruh dokumen dan salinan isi flashdisk kepada pengacaranya di Jakarta.

“Serahkan kepada penyidik,” katanya melalui telepon.

Dimas menatapnya.

“Kalau kamu lakukan itu, keluarga Nadira akan hancur.”

Raka memasukkan ponselnya ke saku.

“Yang menghancurkannya bukan saya.”

Ia menatap Dimas.

“Rahasia kalian yang menghancurkannya.”

Bagas berdiri beberapa meter jauhnya.

Ia tampak bingung hendak pergi ke mana.

Raka mendekatinya.

“Kamu datang ke Istanbul untuk apa?”

Bagas terdiam.

“Bu Nadira membelikan tiket ini tiga bulan lalu.”

“Untuk apa?”

Bagas membuka dompet kainnya.

Dari sana ia mengeluarkan secarik kertas.

“Katanya kalau Kirana lahir dengan selamat, saya harus ikut menemui seseorang.”

Raka membaca alamat di kertas.

Alamat ibu Nadira.

Mereka ternyata menuju tempat yang sama.

Beberapa jam kemudian, pintu apartemen di kawasan Üsküdar terbuka.

Seorang perempuan tua berdiri dengan tongkat.

Begitu melihat Kirana, matanya langsung dipenuhi air mata.

Namun kemudian ia melihat Bagas.

Tongkatnya hampir terlepas.

“Bagas?”

Raka menoleh cepat.

“Kalian saling kenal?”

Perempuan itu tidak menjawab.

Ia berjalan tertatih mendekati Bagas.

Tangannya yang keriput menyentuh wajah remaja itu.

“Kamu benar-benar mirip ibumu.”

Bagas membeku.

“Ibu kenal Mama saya?”

Perempuan itu menangis.

“Sari bukan sekadar pegawai keluarga kami.”

Semua orang terdiam.

Ia menatap Raka.

Lalu mengucapkan kalimat yang membuat seluruh rahasia malam itu berubah arah sekali lagi.

“Sari adalah anak pertama suamiku.”

Bagas mundur selangkah.

“Apa?”

“Ia lahir sebelum aku menikah dengan Surya. Bertahun-tahun aku baru tahu keberadaannya. Saat aku ingin membawanya masuk ke keluarga, Surya melarang.”

Air matanya jatuh.

“Karena kalau dunia tahu Sari adalah putrinya, semua orang juga akan tahu bahwa Bagas adalah cucunya.”

Raka menatap Bagas.

Itulah sebabnya Nadira melindunginya.

Bukan sekadar karena rasa bersalah kepada seorang anak korban ketidakadilan.

Bagas adalah keponakannya sendiri.

Perempuan tua itu memeluk Bagas.

Untuk pertama kalinya, remaja itu tidak melawan.

Ia menangis di bahu nenek yang bahkan tidak pernah ia tahu masih dimilikinya.

Kirana tiba-tiba terbangun.

Bayi kecil itu mengeluarkan suara pelan.

Bagas melepaskan pelukan dan menatapnya.

Lalu, tanpa diminta, ia mulai menyenandungkan lagu Nadira.

Kirana langsung tenang.

Raka berdiri di ambang pintu sambil memandang mereka.

Barulah ia memahami sesuatu.

Nadira tidak meninggalkan satu keluarga dalam keadaan hancur.

Ia justru menghabiskan dua tahun terakhir hidupnya mencoba menyatukan bagian-bagian keluarga yang selama puluhan tahun sengaja dipisahkan oleh kebohongan.

Raka mendekati Bagas dan menyerahkan Kirana kepadanya.

Bagas terkejut.

“Pak?”

“Pegang kepalanya.”

“Saya takut.”

“Saya juga.”

Bagas menatapnya.

Untuk pertama kalinya malam itu, Raka tersenyum kecil.

“Tapi sepertinya Nadira percaya pada kita berdua.”

Bagas menerima Kirana dengan hati-hati.

Bayi itu membuka matanya sebentar, lalu menggenggam satu jari Bagas.

Di tengah apartemen kecil itu, tiga orang yang kehilangan orang yang mereka cintai berdiri dalam keheningan.

Mereka tidak bisa membawa Nadira kembali.

Tidak bisa menghapus masa lalu Bagas.

Tidak bisa mengembalikan Sari.

Tetapi ketika Raka mendengar lagu sederhana itu kembali memenuhi ruangan, ia akhirnya mengerti pesan terakhir istrinya.

Keluarga tidak selalu dibentuk oleh orang-orang yang memiliki nama belakang yang sama.

Kadang keluarga justru lahir ketika seseorang memilih untuk tetap tinggal setelah mengetahui seluruh kebenaran.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang