SAAT LIBUR NASIONAL, ORANG TUAKU MENGHABISKAN BANYAK UANG UNTUK MEMBELI RV DEMI MENGAJAK KELUARGA ROAD TRIP. LALU IBU MENULIS DI GRUP, “AYO BERANGKAT! PUTRI-PUTRI IBU SUDAH SIAP?”

Malam itu, untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku berhenti menunggu.

Aku tidak menelepon Ibu. Tidak bertanya kepada Ayah. Tidak pula mengirim pesan marah kepada Sari atau Kak Indah.

Aku hanya membuka aplikasi perbankan dan mengembalikan Rp700.000 yang baru saja ditransfer Ibu.

Di kolom keterangan, kutulis singkat.

“Mulai bulan depan tidak perlu kirim lagi.”

Tidak sampai lima menit, ponselku berdering.

Ibu.

Aku menatap namanya sampai panggilan itu berhenti sendiri.

Kemudian masuk sebuah pesan.

“Ayu, kamu kenapa? Jangan mulai drama saat keluarga sedang liburan.”

Aku membaca kalimat itu tanpa merasa terkejut.

Aneh. Selama bertahun-tahun aku selalu takut membuat mereka kecewa. Namun malam itu, rasa takut tersebut seperti menghilang begitu saja.

Aku mematikan ponsel, mengenakan helm, lalu mengambil pesanan berikutnya.

Selama enam hari berikutnya, aku bekerja seperti orang yang sedang mengejar sesuatu.

Atau mungkin sedang melarikan diri dari sesuatu.

Pagi aku kuliah. Sore aku menjadi kurir. Malam aku mengurus dokumen untuk program pertukaran ke Finlandia.

Bu Lestari beberapa kali memergokiku tertidur di perpustakaan.

Suatu sore, beliau duduk di depanku.

“Ayu.”

Aku buru-buru mengangkat kepala.

“Iya, Bu?”

“Kamu masih kurang berapa?”

Aku tahu maksudnya.

“Sekitar empat juta untuk tiket dan beberapa dokumen.”

Bu Lestari menghela napas.

“Kamu sudah lolos beasiswa. Akomodasi dan biaya hidup utama ditanggung. Jangan sampai kesempatan sebesar ini hilang cuma karena biaya keberangkatan.”

“Aku bisa cari, Bu.”

“Kamu selalu bilang begitu.”

Aku tersenyum.

“Karena selama ini memang bisa.”

Beliau menatapku lama sebelum berkata pelan, “Mandiri itu bagus, Ayu. Tapi jangan sampai kamu mengira menerima bantuan berarti menjadi beban.”

Kalimat itu membuatku terdiam.

Menjadi beban.

Entah sejak kapan aku begitu takut terhadap dua kata itu.

Mungkin sejak Ayah mengatakan aku terlalu sering mencari perhatian.

Mungkin sejak Ibu menyuruhku tidur di sofa.

Atau mungkin sejak aku menyadari bahwa keberadaanku selalu dianggap sebagai biaya tambahan.

Dua hari kemudian, sesuatu yang tidak kuduga terjadi.

Perusahaan tempatku bekerja mengumumkan bonus khusus untuk kurir dengan performa terbaik selama periode liburan.

Namaku berada di urutan kedua.

Bonusnya cukup besar.

Ditambah tabunganku, uang itu akhirnya cukup untuk seluruh biaya keberangkatan.

Aku hampir menangis ketika melihat saldo rekening.

Malam itu aku membeli tiket pesawat.

Jakarta menuju Helsinki.

Keberangkatan enam minggu lagi.

Untuk pertama kalinya, masa depanku terasa seperti sesuatu yang benar-benar kumiliki.

Sementara itu, keluarga masih menikmati perjalanan mereka.

Aku tahu karena notifikasi grup keluarga sesekali masih kulihat.

Sari mengunggah foto di pantai.

Kak Indah memamerkan sarapan dari dalam RV.

Ibu mengirim foto keluarga bertiga bersama Ayah di depan kendaraan itu.

Empat orang.

Mereka tampak seperti keluarga yang sempurna.

Dan mungkin memang begitulah keluarga yang mereka inginkan.

Tanpa aku.

Aku tidak memberikan reaksi apa pun.

Sampai hari kelima, sebuah pesan pribadi dari Kak Indah masuk.

“Ayu, kamu masih marah?”

Aku tidak menjawab.

Beberapa menit kemudian dia mengirim pesan lagi.

“Jangan terlalu dipikirin. RV-nya memang sempit. Kalau berlima malah nggak nyaman.”

Aku tersenyum pahit.

Jadi sekarang alasannya kendaraan terlalu sempit.

Padahal pagi keberangkatan, Ibu sendiri yang menandai namaku dan bertanya apakah semua putrinya sudah siap.

Aku akhirnya mengetik.

“Kalau memang dari awal aku nggak diajak, kenapa Ibu menyuruhku menunggu?”

Status mengetik muncul cukup lama.

Kemudian hilang.

Tidak ada jawaban.

Aku mengunci ponsel.

Jawabannya sebenarnya sudah kuketahui.

Mereka ingin aku menunggu.

Entah sebagai lelucon atau sekadar untuk membuktikan bahwa aku masih akan datang setiap kali dipanggil.

Seminggu kemudian keluarga pulang.

Aku sedang berada di kamar kos kecil dekat kampus ketika Ibu menelepon berkali-kali.

Akhirnya kuangkat.

“Kamu di mana?”

“Di kos.”

“Kos?”

Nada suara Ibu langsung meninggi.

“Kamu punya rumah. Kenapa tinggal di kos?”

Aku hampir tertawa.

Rumah?

Selama bertahun-tahun aku bahkan tidak memiliki kamar di sana.

“Aku pindah.”

“Kapan?”

“Minggu lalu.”

“Kenapa nggak bilang?”

Aku terdiam sebentar.

“Kalau aku bilang, memang ada yang berubah?”

Ibu tidak menjawab.

Lalu terdengar suara Ayah mengambil telepon.

“Ayu, pulang sekarang. Kita bicara.”

“Aku ada kerja.”

“Berhenti kerja jadi kurir itu. Ayah malu kalau teman bisnis melihat anak Ayah antar makanan.”

Aku menggenggam ponsel lebih erat.

Dulu aku mungkin akan langsung meminta maaf.

Namun kali ini tidak.

“Ayah malu aku kerja, tapi nggak malu membiarkan aku hidup dengan tujuh ratus ribu sebulan?”

Suasana di ujung telepon mendadak sunyi.

“Ayu, jaga bicaramu.”

“Aku cuma bertanya.”

“Pulang.”

“Aku nggak bisa.”

“Ayah bilang pulang!”

Aku menarik napas.

“Besok aku datang ambil sisa barang. Setelah itu aku nggak akan merepotkan Ayah dan Ibu lagi.”

Aku memutus sambungan.

Tanganku gemetar.

Tapi anehnya, aku merasa lega.

Keesokan harinya aku datang.

RV baru itu terparkir di halaman rumah, masih mengilap.

Begitu masuk, aku melihat dua koper besar di ruang keluarga.

Milik Kak Indah dan Sari.

Di sofa yang selama bertahun-tahun menjadi tempat tidurku, terdapat tumpukan oleh-oleh.

Seolah tempatku bahkan sudah dilupakan hanya dalam seminggu.

Ibu duduk dengan wajah dingin.

“Apa maksudmu mengembalikan uang?”

“Aku sudah punya penghasilan.”

“Kamu sengaja mau mempermalukan kami?”

Aku mengernyit.

“Aku cuma nggak mau menerima uang lagi.”

“Orang lain kalau dikasih uang orang tua bersyukur.”

Sari yang duduk di sebelah Ibu mendengus.

“Kak Ayu memang begitu. Sedikit-sedikit merasa paling tersakiti.”

Aku menoleh kepadanya.

“Video di depan kampus itu lucu?”

Wajah Sari berubah.

Kak Indah langsung menunduk.

Ibu berkata cepat, “Sari cuma bercanda.”

“Pesan Ibu juga bercanda?”

Ibu terdiam.

Aku melanjutkan.

“Yang bilang dari awal memang nggak menyiapkan tempat buat aku.”

Wajah Ayah menegang.

Dia menoleh tajam kepada Ibu.

“Kamu bilang begitu?”

Untuk pertama kalinya, aku melihat Ibu kehilangan kata-kata.

Sari buru-buru menyela.

“Ya memang mau tidur di mana kalau Kak Ayu ikut? RV-nya cuma punya dua tempat tidur.”

Aku menatapnya.

“Makanya aku nggak marah karena nggak diajak.”

“Terus?”

“Aku marah karena kalian menyuruhku menunggu, lalu melewatiku sambil merekam dan menertawakanku.”

Ruangan itu mendadak sunyi.

Ayah memandang Sari.

“Kalian merekam Ayu?”

Sari pucat.

“Itu cuma bercanda, Yah.”

“Mana videonya?”

“Sudah dihapus.”

Aku mengambil ponsel.

“Aku punya.”

Sebenarnya video itu otomatis tersimpan ketika pertama kali kubuka.

Aku memutarnya.

Suara tawa dari dalam RV memenuhi ruang keluarga.

Kemudian terdengar suara Sari.

“Jangan-jangan dia benar-benar mengira bakal ikut liburan sama kita?”

Wajah Ayah berubah.

Namun yang mengejutkanku bukan kemarahannya.

Dia justru berkata kepadaku,

“Kenapa kamu menyimpan video seperti ini? Kamu mau memperbesar masalah keluarga?”

Aku menatapnya beberapa detik.

Lalu aku tertawa.

Pelan.

Jadi begitulah.

Bahkan setelah melihat semuanya, yang salah tetap aku.

Aku memasukkan ponsel ke saku.

“Nggak apa-apa.”

Aku berjalan menuju sofa dan mengambil sebuah kotak kecil berisi dokumen, beberapa pakaian, serta foto Nenek.

Ibu bangkit.

“Kamu mau ke mana?”

“Kembali ke kos.”

“Terus kuliahmu?”

“Tetap lanjut.”

“Biayanya?”

“Aku urus sendiri.”

Ayah mendengus.

“Dengan mengantar makanan?”

Aku berhenti di dekat pintu.

“Bukan cuma itu.”

Aku mengeluarkan sebuah amplop dari tasku dan meletakkannya di meja.

Ibu membukanya.

Beberapa detik kemudian wajahnya berubah.

“Finlandia?”

Sari langsung berdiri.

“Apa?”

“Aku lolos program pertukaran mahasiswa.”

Ibu membaca surat itu cepat-cepat.

“Kenapa kamu nggak bilang?”

Pertanyaan itu terdengar hampir lucu.

Aku menatapnya.

“Waktu aku juara satu SD, Ibu bilang aku mencari perhatian. Waktu aku diterima universitas, Ibu bilang aku harus memikirkan perasaan Sari. Jadi untuk apa aku bilang?”

Tidak ada yang menjawab.

Aku mengambil kotakku dan pergi.

Enam minggu berlalu jauh lebih cepat daripada yang kubayangkan.

Pada hari keberangkatan, Bu Lestari dan dua sahabatku mengantarku ke bandara.

Aku tidak memberi tahu keluarga.

Namun ketika sedang mengantre check-in, ponselku bergetar.

Ibu.

Aku hampir tidak mengangkatnya.

“Ayu, kamu di bandara?”

Aku terkejut.

“Dari mana Ibu tahu?”

“Kak Indah lihat unggahan temanmu.”

Lalu suara Ibu melemah.

“Kamu benar-benar pergi?”

“Iya.”

“Berapa lama?”

“Satu semester.”

Sunyi.

Kemudian untuk pertama kalinya sepanjang hidupku, aku mendengar Ibu mengatakan sesuatu yang tidak pernah kuduga.

“Kamu nggak mau kami antar?”

Aku memandang Bu Lestari yang berdiri beberapa meter dariku sambil memegang kopi.

Dua sahabatku sibuk menjaga koper.

Orang-orang yang bahkan tidak memiliki hubungan darah denganku justru datang pagi-pagi hanya untuk memastikan aku tidak berangkat sendirian.

Aku tersenyum.

“Nggak perlu, Bu. Aku sudah ada yang mengantar.”

Aku menutup telepon.

Empat bulan kemudian, kehidupanku berubah jauh lebih besar daripada yang pernah kubayangkan.

Proyek penelitian kelompok kami memenangkan kompetisi inovasi mahasiswa dan aku mendapat tawaran magang dari sebuah perusahaan teknologi logistik Eropa.

Berita tentang prestasi itu dimuat di situs kampus.

Barulah setelah itu keluargaku mulai sering menghubungiku.

Ayah bahkan mengirim pesan panjang tentang betapa bangganya dia.

Aku tidak membalas.

Sampai suatu malam, Kak Indah menelepon.

Suaranya terdengar aneh.

“Ayu, aku mau kasih tahu sesuatu.”

“Apa?”

“RV itu dijual.”

Aku terdiam.

“Kenapa?”

“Setelah kamu pergi, Ayah sama Ibu nggak pernah pakai lagi.”

Aku tidak tahu harus menjawab apa.

Lalu Kak Indah berkata pelan.

“Aku juga baru tahu sesuatu tentang waktu kamu kecil.”

Jantungku berdegup lebih cepat.

“Apa?”

“Nenek ternyata beberapa kali minta Ayah Ibu membawa kamu pulang.”

Aku membeku.

“Tapi Ibu selalu bilang kamu lebih nyaman tinggal sama Nenek.”

Aku menutup mata.

Selama bertahun-tahun aku percaya bahwa aku ditinggalkan karena keadaan.

Ternyata bahkan alasan itu tidak sepenuhnya benar.

“Tapi ada satu lagi,” kata Kak Indah.

“Apa?”

“Setelah Nenek meninggal, beliau meninggalkan rekening pendidikan atas namamu. Jumlahnya cukup besar.”

Aku langsung berdiri.

“Aku nggak pernah tahu.”

“Itulah masalahnya.”

Suara Kak Indah bergetar.

“Uang itu selama ini dipegang Ayah.”

Dunia seolah berhenti sesaat.

Beberapa minggu kemudian, setelah aku meminta dokumen melalui bantuan kerabat di kampung, semuanya terbukti.

Nenek memang menabung untuk pendidikanku sejak aku kecil.

Jumlahnya bahkan cukup untuk membiayai kuliahku tanpa harus meminta uang bulanan kepada siapa pun.

Ayah akhirnya mengakui sebagian dana itu pernah dipakai sebagai tambahan modal usaha dengan niat akan dikembalikan.

Ironisnya, usaha itulah yang kemudian membuat keluarga kami kaya.

Aku tidak berteriak.

Tidak memaki.

Aku hanya meminta seluruh hakku dikembalikan melalui rekening terpisah dan semua dokumen diserahkan kepadaku.

Untuk pertama kalinya, Ayah tidak membantah.

Setahun kemudian aku pulang ke Indonesia.

Di bandara, aku melihat Ayah dan Ibu menunggu.

Ibu menangis ketika melihatku.

Namun aku tidak berlari memeluk mereka seperti yang mungkin dulu akan kulakukan.

Aku hanya mendekat dan menyapa dengan tenang.

Hubungan kami tidak langsung membaik.

Beberapa luka memang tidak selesai hanya karena seseorang akhirnya meminta maaf.

Namun aku belajar bahwa memaafkan tidak sama dengan kembali menerima perlakuan yang sama.

Beberapa bulan setelah kepulanganku, aku menggunakan sebagian uang peninggalan Nenek untuk sesuatu yang sudah lama kupikirkan.

Bukan mobil.

Bukan apartemen.

Aku mendirikan dana bantuan kecil bagi mahasiswa berprestasi yang harus bekerja sambil kuliah.

Pada hari program itu diluncurkan, seseorang bertanya kepadaku mengapa aku memilih nama Dana Pendidikan Nenek Sri.

Aku menatap foto Nenek di meja.

Lalu tersenyum.

“Karena ada orang yang mengajariku bahwa kalau seseorang benar-benar menyayangimu, dia tidak akan terus menyuruhmu menunggu sampai lain kali.”

Malam itu Ibu mengirim sebuah foto lama.

Foto diriku saat SD, berdiri sambil memegang piagam juara satu yang dulu tidak pernah mereka lihat.

Di bawah foto itu hanya ada satu pesan.

“Maaf karena Ibu terlambat melihatmu.”

Aku menatap kalimat itu cukup lama.

Kemudian membalas.

“Aku sudah memaafkan Ibu. Tapi sekarang aku juga sudah belajar melihat diriku sendiri.”

Aku meletakkan ponsel.

Di luar jendela, lampu kota Jakarta menyala satu per satu.

Dulu aku mengira hal paling menyakitkan adalah mengetahui bahwa di dalam RV keluarga sendiri tidak ada tempat untukku.

Sekarang aku mengerti sesuatu.

Hari ketika mereka meninggalkanku di depan gerbang kampus bukanlah hari ketika aku kehilangan keluargaku.

Itu adalah hari ketika aku akhirnya berhenti mengetuk pintu yang tidak pernah benar-benar dibuka untukku.

Dan mulai membangun tempatku sendiri.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang