HARI KETIGA MENGANGGUR, AKU TAK SANGGUP LAGI MENAHAN TANGIS SAAT MEMBAWA KARDUS TERAKHIR KELUAR DARI KANTOR, TAPI PELUKAN PADA ORANG YANG SALAH MENGUBAH SEGALANYA

Aku tidak tidur malam itu.

Setiap kali mencoba memejamkan mata, dokumen itu kembali muncul di kepalaku. Namaku, nomor identitasku, dan tanda tangan yang dibuat begitu mirip hingga orang yang tidak mengenalku mungkin akan langsung percaya.

Pukul dua dini hari, aku menghubungi Rani.

Aku tidak berharap dia membalas.

Namun kurang dari semenit kemudian, ponselku berbunyi.

Jangan sentuh atau ubah file itu. Simpan salinan di tiga tempat berbeda. Besok bawa laptopmu.

Keesokan paginya aku datang paling awal ke kantor.

Rani sudah menunggu di ruang rapat kecil bersama Dian.

Aku meletakkan laptop di meja dan membuka dokumen tersebut.

Dian membacanya tanpa mengatakan apa pun. Wajahnya tetap tenang, tetapi tatapannya berubah ketika sampai pada halaman terakhir.

“Kamu yakin tidak pernah menandatangani ini?”

“Yakin.”

“Nomor identitasnya benar?”

Aku mengangguk.

“Siapa di kantor lama yang punya akses?”

“HR. Bagian keuangan mungkin juga punya salinannya.”

Dian menutup laptopku perlahan.

“Berarti masalahnya bukan lagi sekadar pencurian desain.”

Aku menatapnya.

“Lalu?”

“Pemalsuan dokumen.”

Ruangan mendadak terasa lebih dingin.

Rani kemudian meminta seluruh riwayat file Awan Senja. Selama hampir dua jam kami menyusun kronologi dari versi pertama hingga versi terakhir.

Di situlah kami menemukan sesuatu yang sebelumnya tidak kusadari.

File persetujuan pengalihan hak itu tercatat masuk ke folder cloud milikku pada pukul 02.13 dini hari.

Masalahnya, malam itu aku sedang berada di Bandung untuk survei proyek lain.

Aku bahkan memiliki tiket kereta, bukti hotel, dan laporan perjalanan dinas.

“Bagaimana dokumen perusahaan bisa masuk ke cloud pribadimu?” tanya Rani.

Aku menggeleng.

Kemudian aku teringat sesuatu.

Komputer kantor lamaku pernah terhubung otomatis dengan cloud.

Seseorang yang menggunakan komputer itu mungkin memasukkan dokumen tersebut ke folder sinkronisasi, lalu lupa bahwa file akan tersalin ke akun pribadiku.

Kesalahan kecil.

Tetapi mungkin itulah kesalahan yang akan menghancurkan rencana mereka.

Dian meminta bagian legal Arunika memeriksa dokumen tersebut. Aku juga berkonsultasi dengan pengacara independen agar tidak melibatkan perusahaan baruku terlalu jauh.

Saran mereka sama.

Jangan menghubungi Vivi.

Jangan mengunggah apa pun di media sosial.

Jangan memperingatkan siapa pun.

Kumpulkan bukti.

Tiga hari kemudian, panitia penghargaan mengumumkan bahwa Resort Awan Senja akan dipresentasikan dalam acara penghargaan nasional di sebuah hotel di Jakarta.

Vivi dijadwalkan berbicara sebagai desainer utama.

Aku membaca pengumuman itu berkali-kali.

Ada bagian dalam diriku yang ingin datang dan mempermalukannya di depan semua orang.

Namun Dian hanya mengatakan satu kalimat ketika aku menyampaikan keinginan itu.

“Kalau kamu datang untuk marah, kamu akan terlihat seperti orang yang kalah.”

Aku menatapnya kesal.

“Jadi aku harus diam?”

“Tidak.”

Dia menggeser sebuah map ke arahku.

“Kamu datang membawa bukti.”

Untuk pertama kalinya aku memahami perbedaan keduanya.

Hari acara tiba.

Aku mengenakan blazer hitam sederhana dan duduk di barisan belakang bersama Rani.

Dian tidak datang.

Katanya, ini bukan pertarungannya.

Aku harus berdiri atas namaku sendiri.

Ketika Vivi naik ke panggung, tepuk tangan memenuhi ruangan.

Dia terlihat berbeda dari terakhir kali kulihat. Rambutnya tertata sempurna, gaunnya elegan, dan senyumnya penuh percaya diri.

Di layar besar muncul gambar Resort Awan Senja.

Desain yang kukenal sampai ke setiap sudutnya.

Vivi mulai menjelaskan konsep.

“Gagasan awal proyek ini berasal dari keinginan saya menggabungkan ketenangan alam dengan pengalaman ruang kontemporer.”

Tanganku mengepal.

Kalimat itu milikku.

Aku menulisnya dalam konsep versi ketujuh.

Kemudian dia menjelaskan perubahan koridor utama.

Alasan pemilihan batu lokal.

Bahkan filosofi pencahayaan di area lobi.

Semuanya berasal dari catatanku.

Namun semakin lama dia berbicara, rasa marahku justru berkurang.

Karena aku mulai menyadari sesuatu.

Vivi menghafal hasilnya.

Dia tidak memahami prosesnya.

Kesempatan itu muncul ketika sesi tanya jawab.

Seorang juri bertanya tentang perubahan struktur di area restoran.

Vivi terdiam sepersekian detik.

“Perubahan itu dilakukan untuk meningkatkan estetika.”

Aku hampir tersenyum.

Salah.

Perubahan itu sama sekali bukan karena estetika.

Struktur awal bertabrakan dengan jalur utilitas bangunan.

Aku mengangkat tangan.

Moderator menunjukku.

Aku berdiri.

Vivi melihatku.

Senyumnya hilang.

“Saya ingin bertanya,” kataku. “Pada revisi ke-19, posisi restoran dipindahkan hampir empat meter. Kalau perubahan itu dilakukan demi estetika, mengapa pada revisi ke-18 terdapat catatan mengenai benturan jalur MEP dengan kolom eksisting?”

Ruangan mendadak sunyi.

Wajah Vivi memucat.

“Apa maksud Anda?”

Aku tidak menjawab pertanyaannya.

Aku mengeluarkan tablet.

“Saya memiliki empat puluh tujuh versi proses desain Resort Awan Senja, mulai dari sketsa pertama hingga file final. Semuanya memiliki metadata dan timestamp.”

Bisik-bisik mulai terdengar.

Direktur perusahaan lamaku yang duduk di meja depan langsung berdiri.

“Nien, jangan membuat keributan.”

Aku menatapnya.

Anehnya, aku tidak takut lagi.

“Saya belum selesai, Pak.”

Aku menyerahkan salinan dokumen kepada panitia.

“Saya juga menemukan surat pengalihan hak karya yang menggunakan nama, nomor identitas, dan tanda tangan saya. Saya tidak pernah menandatangani dokumen tersebut.”

Wajah direktur berubah.

Vivi langsung memotong.

“Dia berbohong! Nien memang memberikan desain itu kepadaku sebelum keluar!”

“Kalau begitu,” kataku, “seharusnya mudah menjelaskan prosesnya.”

Aku menatap layar.

“Konsep pertama Awan Senja menggunakan kolam refleksi berbentuk persegi panjang. Kenapa kemudian diubah menjadi tiga kolam kecil?”

Vivi membuka mulut.

Tidak ada jawaban.

“Kenapa material fasad versi kedua belas diganti?”

Dia diam.

“Kenapa jumlah kamar dikurangi enam unit pada versi dua puluh tiga?”

“Nien, cukup!”

Direktur membentak.

Aku menoleh kepadanya.

“Bapak tahu jawabannya?”

Dia pun diam.

Acara dihentikan sementara.

Panitia meminta kami masuk ke ruang terpisah.

Aku menyerahkan seluruh bukti yang telah disiapkan, termasuk riwayat file, email lama, catatan revisi, tiket perjalanan dinas, dan analisis awal mengenai dokumen pengalihan hak.

Penghargaan Vivi akhirnya ditangguhkan sampai penyelidikan selesai.

Namun kejutan terbesar datang dua hari kemudian.

Aku menerima telepon dari seseorang yang tidak kukenal.

“Apakah saya berbicara dengan Nien?”

“Iya.”

“Saya Arman. Mantan staf IT perusahaan tempat Mbak dulu bekerja.”

Jantungku berdegup lebih cepat.

Dia meminta bertemu di sebuah kedai kopi.

Ketika datang, Arman terlihat gelisah. Dia meletakkan sebuah flashdisk di atas meja.

“Saya seharusnya memberikan ini sejak dulu.”

“Apa isinya?”

“Log komputer.”

Aku menatapnya.

Arman menjelaskan bahwa seminggu sebelum aku diberhentikan, direktur memintanya membuka akses administrator ke komputerku dengan alasan audit keamanan.

Setelah itu, akun Vivi tercatat masuk ke perangkatku beberapa kali pada malam hari.

“Kenapa kamu diam?”

Arman menunduk.

“Saya punya anak dan cicilan rumah. Waktu itu saya takut kehilangan pekerjaan.”

Aku tidak langsung menyalahkannya.

Karena aku tahu rasa takut bisa membuat seseorang melakukan banyak hal.

“Tapi kenapa sekarang?”

Dia tertawa pahit.

“Mereka memecat saya bulan lalu. Katanya restrukturisasi.”

Kemudian dia menunjuk flashdisk.

“Setelah melihat berita penghargaan itu, saya sadar mereka mungkin melakukan hal yang sama lagi kepada orang lain.”

Data tersebut mengubah segalanya.

Log menunjukkan akun administrator membuka folder personalia sebelum dokumen pengalihan hak dibuat.

Tidak lama kemudian komputerku diakses menggunakan akun Vivi.

Namun ada satu nama lain yang muncul berkali-kali.

Mira.

Staf HR.

Aku mengenalnya.

Dia yang menyerahkan surat pemecatanku.

Penyelidikan internal perusahaan akhirnya tidak bisa dihentikan lagi. Klien Resort Awan Senja juga ikut meminta klarifikasi setelah panitia penghargaan menghubungi mereka.

Seminggu kemudian, Vivi meneleponku.

Aku hampir tidak mengangkatnya.

“Nien.”

Suaranya terdengar berbeda.

Tidak ada lagi kesombongan.

“Bisa kita bicara?”

“Bicaralah.”

“Aku bisa menjelaskan.”

“Aku mendengarkan.”

Dia terdiam lama.

Kemudian kalimat berikutnya membuatku membeku.

“Aku bukan orang yang merencanakan semuanya.”

Aku menggenggam ponsel lebih erat.

“Lalu siapa?”

“Direktur.”

Menurut Vivi, beberapa bulan sebelumnya perusahaan sedang mengalami masalah besar. Resort Awan Senja adalah proyek penting yang mereka butuhkan untuk menarik investor baru.

Namun klien menyukai desainku, sementara aku dianggap terlalu muda dan tidak memiliki jabatan cukup tinggi untuk dijadikan wajah utama proyek.

Direktur ingin proyek tersebut dikaitkan dengan seseorang yang berada di jajaran manajemen.

Vivi menerima tawaran itu.

Sebagai gantinya, dia dijanjikan promosi menjadi direktur desain.

“Jadi kamu setuju mencuri pekerjaanku?”

“Aku pikir kamu akan tetap bekerja di sana. Mereka bilang namamu hanya tidak dicantumkan untuk presentasi.”

Aku tertawa.

“Lalu surat pengalihan hak?”

Dia diam.

“Vivi?”

“Aku baru tahu setelah dibuat.”

“Dan kamu tetap menggunakannya.”

Tidak ada jawaban.

Saat itulah aku memahami sesuatu.

Tidak semua orang yang ikut melakukan kejahatan adalah dalangnya.

Tetapi mengetahui sesuatu salah dan tetap mengambil keuntungan darinya tetaplah sebuah pilihan.

“Aku punya bukti lain,” katanya cepat. “Kalau aku memberikannya, apakah kamu akan mencabut laporan?”

“Tidak.”

Dia terdiam.

“Tapi aku akan mengatakan yang sebenarnya tentang bagianmu jika kamu juga mengatakan yang sebenarnya.”

Tiga hari kemudian, Vivi menyerahkan rangkaian percakapan antara dirinya dan direktur.

Percakapan itu menjadi potongan terakhir.

Panitia penghargaan mencabut penghargaan tersebut.

Klien menghentikan kerja sama dengan perusahaan lamaku dan meminta audit terhadap kepemilikan desain.

Direktur diberhentikan oleh pemegang saham setelah pemeriksaan internal menemukan beberapa pelanggaran lain.

Mira mengakui bahwa dia memberikan data identitasku atas perintah atasannya.

Kasus pemalsuan dokumen kemudian diproses melalui jalur hukum.

Aku tidak mendapatkan kemenangan dramatis seperti dalam film.

Tidak ada ruangan penuh orang yang berdiri memberikan tepuk tangan.

Tidak ada Vivi yang berlutut meminta maaf.

Yang kudapatkan hanyalah sebuah email resmi dari panitia beberapa minggu kemudian.

Nama desainer Resort Awan Senja telah dikoreksi.

Namaku tercantum di sana.

Aku membaca email itu sendirian di meja kerja.

Aneh sekali.

Aku sudah membayangkan momen ini berkali-kali.

Kupikir aku akan menangis bahagia.

Ternyata tidak.

Aku hanya merasa tenang.

“Nien.”

Aku menoleh.

Dian berdiri di depan mejaku.

“Rani bilang masa percobaanmu selesai minggu depan.”

Aku langsung tegang.

“Lalu?”

Dia meletakkan sebuah map.

Aku membukanya.

Kontrak permanen.

Posisiku tetap sebagai ketua tim desain.

Namun gajinya naik.

Aku menatapnya.

“Ini karena kasus Awan Senja?”

“Tidak.”

“Karena Sowan?”

“Tidak.”

“Lalu?”

Dian menunjuk halaman terakhir laporan evaluasi.

“Tim kamu menyelesaikan proyek pusat perbelanjaan dua belas hari lebih cepat. Revisi klien turun hampir setengah dibanding proyek sebelumnya. Dan penghematan materialmu berada di atas target.”

Dia menatapku.

“Aku sudah bilang sejak awal. Aku menilai karya, bukan hubungan.”

Entah kenapa, kalimat sederhana itu membuat mataku panas.

Dian langsung menggeser kotak tisu ke arahku.

“Jangan.”

Aku tertawa untuk pertama kalinya setelah berminggu-minggu.

“Kenapa?”

“Kaus ini mahal.”

Aku tertawa semakin keras.

Beberapa bulan kemudian, Resort Awan Senja akhirnya dibangun.

Klien menghubungiku langsung dan meminta aku menjadi konsultan desain selama tahap penyelesaian.

Pada hari pembukaan, aku berdiri di lobi yang dulu hanya berupa garis-garis di layar laptop.

Cahaya sore masuk melalui jendela tinggi dan jatuh tepat di atas lantai batu.

Persis seperti yang kubayangkan ketika membuat sketsa pertama.

Sowan berdiri di sampingku.

Dian berada beberapa langkah di belakang kami.

“Kalau dipikir-pikir,” kata Sowan sambil tersenyum, “semua ini terjadi gara-gara kamu salah peluk orang.”

Aku melirik Dian.

“Jangan mengingatkan aku.”

Dian memasukkan tangan ke saku.

“Aku justru tidak keberatan.”

Aku menatapnya.

Dia tersenyum tipis.

Itu pertama kalinya aku melihatnya tersenyum seperti itu.

Sowan langsung menatap kami bergantian dengan wajah curiga.

Aku pura-pura tidak melihatnya.

Saat itulah seorang staf hotel menghampiriku membawa sebuah amplop.

“Untuk Mbak Nien.”

Aku membukanya.

Di dalamnya ada sebuah kartu kecil tanpa nama pengirim.

Tulisan tangan di sana hanya terdiri dari dua kalimat.

Maaf karena pernah memakai namamu untuk membangun namaku sendiri.

Sekarang aku sedang belajar membangun sesuatu yang benar-benar milikku.

Aku tahu siapa pengirimnya.

Vivi.

Aku melipat kartu itu dan memasukkannya kembali ke amplop.

Aku tidak tahu apakah suatu hari aku bisa memaafkannya sepenuhnya.

Mungkin iya.

Mungkin tidak.

Tetapi untuk pertama kalinya, aku menyadari bahwa aku tidak lagi membutuhkan permintaan maafnya untuk melanjutkan hidup.

Aku memandang ruangan di depanku.

Dulu aku mengira hari ketika membawa kardus keluar dari kantor adalah hari ketika hidupku runtuh.

Ternyata aku salah.

Ada pintu yang memang harus tertutup agar kita berhenti memohon untuk tetap berada di ruangan yang tidak pernah menghargai kita.

Dan lucunya, pintu baru dalam hidupku tidak dibuka oleh sebuah wawancara, penghargaan, atau kemenangan.

Semuanya dimulai dari sebuah kesalahan kecil.

Pada hari ketika aku kehilangan pekerjaan, kehilangan kepercayaan diri, dan merasa tidak punya tempat untuk pulang, aku masuk ke rumah sahabatku dengan mata penuh air mata.

Lalu tanpa melihat wajahnya terlebih dahulu, aku memeluk orang yang salah.

Atau mungkin, sejak awal, aku justru memeluk orang yang tepat.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang