Ibu berdiri di ambang pintu dengan wajah sepucat dinding rumah sakit.
Kotak makan yang terjatuh di lantai terbuka. Sendok berguling sampai ke kaki Pak Arjuna, tetapi tak seorang pun bergerak untuk mengambilnya.
Tatapan Ibu hanya tertuju kepadaku.
“Sari,” katanya pelan. “Apa yang baru saja kamu katakan?”
Untuk pertama kalinya, aku tidak menundukkan kepala ketika menatapnya.
“Aku bilang, aku tahu Ibu bukan ibu kandungku.”
Wajahnya menegang.
Bu Indah memeluk bayinya semakin erat. Pak Arjuna berdiri di depan ranjang istrinya, seolah memastikan Ibu tidak bisa mendekat.
Namun Ibu justru tertawa kecil.

“Kamu belajar sedikit soal golongan darah lalu merasa jadi dokter?”
“Aku memang bukan dokter.”
“Kalau begitu jangan bicara sembarangan.”
Ibu melangkah hendak menarikku, tetapi Pak Arjuna langsung menghalanginya.
“Jangan sentuh Sari.”
Ibu terdiam.
Mungkin baru saat itu dia sadar keadaan sudah berubah. Selama bertahun-tahun, dia bisa membentakku, mengambil uangku, mengancam akan menghentikan sekolahku, dan aku selalu diam.
Tetapi sekarang ada orang lain di ruangan itu.
Ada rekaman kamera.
Ada saksi.
Dan ada dua bayi yang hampir menjadi korban rencananya.
Ibu mencoba mengubah nada bicara.
“Pak Arjuna, ini salah paham. Sari masih anak-anak. Dia suka mengarang cerita.”
Pak Arjuna menatapnya tanpa ekspresi.
“Rumah sakit sedang memeriksa rekaman CCTV.”
Bibir Ibu langsung terkatup.
“Kalau memang salah paham,” lanjutnya, “kita tunggu petugas keamanan dan polisi datang.”
Kaki Ibu mundur satu langkah.
Aku melihatnya.
Dan aku tahu dia ingin kabur.
Benar saja, beberapa detik kemudian dia berbalik.
Namun dua petugas rumah sakit sudah muncul di ujung lorong.
Ibu berhenti.
Salah seorang perawat yang tadi kuberi tahu ikut datang.
“Bu Siti, kami perlu meminta keterangan mengenai kejadian di ruang bayi.”
“Aku cuma mau melihat anakku.”
“Tapi Anda memindahkan bayi.”
“Aku salah lihat tempat tidur!”
“Dua bayi sekaligus?”
Ibu tak menjawab.
Tak lama kemudian, petugas kepolisian datang setelah pihak rumah sakit membuat laporan. Ibu dibawa ke ruangan lain untuk dimintai keterangan.
Sebelum pergi, dia sempat menoleh kepadaku.
Tatapan itu membuat tengkukku dingin.
“Kamu akan menyesal, Sari.”
Aku mengepalkan tangan.
Biasanya kalimat seperti itu cukup membuatku ketakutan sepanjang malam.
Kali ini tidak.
“Yang hampir kehilangan anaknya bukan Ibu.”
Dia terdiam.
Lalu pintu tertutup di antara kami.
Aku baru menyadari tubuhku gemetar setelah semuanya selesai.
Bu Indah mengulurkan tangan.
“Sini.”
Aku mendekatinya.
Dia menggenggam tanganku.
“Sari, dengarkan Ibu. Apa pun yang terjadi setelah ini, kamu tidak pulang sendirian ke rumah.”
Aku menatapnya.
“Tapi rumah saya…”
“Kalau ibumu benar-benar ditahan, kamu tinggal bersama kami sementara sampai semuanya jelas.”
Aku ingin menolak.
Keluarga Harahap adalah keluarga kaya. Rumah mereka besar, sementara aku hanyalah anak pembantu.
Tetapi kemudian aku teringat ancaman Ibu.
Jangan pulang lagi.
Anehnya, kali ini ancaman itu terdengar seperti kebebasan.
Malam itu aku tidur di sebuah kamar kecil di rumah keluarga Harahap. Kamar itu biasanya digunakan untuk tamu. Kasurnya begitu empuk sampai aku kesulitan tidur.
Aku menatap langit-langit sambil memikirkan satu pertanyaan.
Kalau Siti bukan ibuku, siapa ibuku sebenarnya?
Keesokan paginya, Pak Arjuna membawaku kembali ke rumah sakit.
Polisi ingin menanyakan beberapa hal.
Saat pemeriksaan berlangsung, seorang penyidik bernama Pak Dimas bertanya tentang kecurigaanku mengenai golongan darah.
“Kamu pernah bertanya langsung kepada Bu Siti?”
“Pernah.”
“Jawabannya?”
“Katanya data golongan darah saya mungkin salah.”
“Lalu?”
“Aku diam.”
“Kenapa?”
Aku menatap kedua tanganku.
“Karena kalau aku banyak bertanya, Ibu marah.”
Pak Dimas mencatat sesuatu.
Kemudian dia bertanya, “Ada dokumen kelahiranmu?”
“Ada akta kelahiran di rumah.”
“Rumah sakit tempat kamu dilahirkan?”
Aku menyebut sebuah rumah sakit bersalin kecil di Jakarta yang namanya pernah kulihat pada berkas lama.
Pak Dimas berhenti menulis.
“Kamu yakin?”
Aku mengangguk.
Dia bertukar pandang dengan rekannya.
Sore harinya, aku mengetahui alasannya.
Rumah sakit itu sama dengan tempat Bu Indah melahirkan anak pertamanya empat belas tahun lalu.
Aku menatap Pak Arjuna.
“Bu Indah punya anak lain?”
Wajahnya berubah.
“Punya.”
Bu Indah yang duduk di sebelahnya menundukkan kepala.
“Seorang anak perempuan.”
“Sekarang di mana?”
Tidak ada yang langsung menjawab.
Akhirnya Bu Indah berkata dengan suara hampir berbisik.
“Dia meninggal ketika baru lahir.”
Dadaku mendadak sesak.
“Bagaimana?”
“Perawat mengatakan kondisinya memburuk beberapa jam setelah persalinan. Aku bahkan tidak sempat menggendongnya lama.”
Pak Arjuna menambahkan, “Waktu itu rumah sakit masih kecil. Sistem administrasinya belum seperti sekarang.”
Aku tidak tahu kenapa, tetapi jantungku mulai berdetak lebih cepat.
Pak Dimas kemudian meletakkan sebuah salinan dokumen di meja.
“Kami memeriksa data lama. Pada hari yang sama, seorang perempuan bernama Siti juga tercatat berada di rumah sakit itu.”
Aku menoleh tajam.
“Ibu?”
“Dia belum bekerja untuk keluarga Harahap saat itu,” kata Pak Arjuna.
Bu Indah memandangku lama.
Wajahnya semakin pucat.
“Umurmu berapa, Sari?”
“Empat belas.”
“Kapan ulang tahunmu?”
Aku menyebut tanggalnya.
Tangan Bu Indah langsung menutup mulut.
Tanggal itu sama.
Ruangan mendadak terasa terlalu sempit.
Aku segera berdiri.
“Tidak mungkin.”
Pak Dimas mengangkat tangan.
“Kita belum menyimpulkan apa pun.”
Tetapi aku sudah mengerti apa yang sedang dipikirkan semua orang.
Empat belas tahun lalu.
Rumah sakit yang sama.
Hari yang sama.
Seorang bayi perempuan keluarga Harahap dinyatakan meninggal.
Dan Siti pulang membawa seorang bayi perempuan.
Aku.
Pak Arjuna langsung meminta tes DNA.
Hasilnya tidak keluar hari itu.
Aku harus menunggu.
Tiga hari terasa seperti tiga tahun.
Selama itu, penyelidikan terhadap Ibu terus berjalan. Polisi menemukan bahwa beberapa minggu sebelum melahirkan adikku, Ibu berkali-kali mencari informasi tentang jadwal persalinan Bu Indah.
Dia tahu perkiraan tanggal kelahiran.
Dia juga sengaja memilih rumah sakit yang sama.
Lebih mengejutkan lagi, ditemukan pesan di ponselnya kepada seseorang.
Kalau kali ini berhasil, anakku tidak akan hidup susah.
Kata-kata itu terus terngiang di kepalaku.
Kalau kali ini berhasil.
Kali ini.
Berarti sebelumnya pernah ada “kali pertama”.
Aku mulai takut pada jawaban yang selama ini kucari.
Pada hari keempat, Pak Dimas datang ke rumah keluarga Harahap.
Dia membawa sebuah amplop.
Bu Indah duduk di sofa sambil menggendong putranya. Pak Arjuna berdiri di belakangnya.
Aku duduk di kursi seberang.
Pak Dimas membuka hasil pemeriksaan.
“Sari memiliki kecocokan biologis sebagai anak kandung Pak Arjuna dan Bu Indah.”
Tak ada suara.
Aku merasa seperti tidak mendengar kalimat itu dengan benar.
Bu Indah berdiri perlahan.
Air matanya langsung jatuh.
“Sari…”
Aku mundur.
Bukan karena membencinya.
Aku hanya tidak tahu harus melakukan apa.
Selama empat belas tahun aku hidup sebagai anak seorang pembantu. Aku memakai seragam bekas, menghitung uang untuk membeli buku, dan hampir setiap hari mendengar bahwa sekolah tinggi bukan untuk anak sepertiku.
Sekarang seseorang mengatakan bahwa rumah besar tempat ibuku bekerja seharusnya adalah rumahku sendiri.
“Kalau saya anak Ibu…” suaraku bergetar, “bayi yang meninggal itu siapa?”
Itulah pertanyaan yang mengubah semuanya.
Penyelidikan dibuka kembali.
Catatan rumah sakit lama ditelusuri. Beberapa pegawai sudah pensiun, tetapi seorang mantan perawat akhirnya ditemukan.
Namanya Bu Rukmini.
Ketika diperlihatkan foto Siti, wajah perempuan tua itu berubah.
“Saya ingat dia.”
Pak Dimas bertanya, “Apa yang Anda ingat?”
Bu Rukmini menarik napas panjang.
“Dia kehilangan bayinya malam itu.”
Aku membeku.
“Bayi Siti lahir dengan kondisi sangat lemah dan tidak tertolong.”
Bu Indah menggenggam tanganku.
Perawat itu melanjutkan.
“Pada malam yang sama, listrik rumah sakit sempat padam. Generator terlambat menyala. Ada kekacauan di ruang bayi.”
Pak Dimas menunjukkan dokumen lama.
“Bayi keluarga Harahap kemudian dinyatakan meninggal.”
Bu Rukmini menggeleng.
“Itulah yang aneh. Saya tidak pernah melihat jenazah bayi keluarga Harahap.”
Pak Arjuna langsung berdiri.
“Maksud Anda?”
“Saya hanya melihat satu bayi perempuan yang meninggal malam itu.”
Ruangan menjadi sunyi.
“Saya mengira administrasi sudah mengurus semuanya. Beberapa hari kemudian saya dengar keluarga Harahap kehilangan bayi. Saya tidak berani bertanya.”
Air mata Bu Indah mengalir semakin deras.
Jadi empat belas tahun lalu, ketika bayinya sendiri meninggal, Siti memanfaatkan kekacauan rumah sakit.
Dia menukar identitas bayi.
Aku dibawa pulang sebagai anaknya.
Sementara bayi Siti yang meninggal dicatat sebagai putri keluarga Harahap.
Itu sebabnya dia begitu tenang ketika menukar dua bayi kali ini.
Dia bukan baru belajar melakukan kejahatan itu.
Dia sedang mengulanginya.
Ketika aku diperbolehkan menemui Siti dengan pendampingan polisi, aku duduk di seberangnya tanpa memanggilnya Ibu.
Dia tampak jauh lebih tua hanya dalam beberapa hari.
“Kenapa?”
Siti memalingkan wajah.
“Jawab aku.”
“Apa yang mau kamu dengar?”
“Kenapa mengambil aku?”
Dia tertawa pahit.
“Karena hidup tidak pernah adil.”
“Itu bukan jawaban.”
“Aku kehilangan anakku malam itu. Lalu aku melihat ibumu.” Dia menatapku. “Dia punya suami kaya, kamar terbaik, dokter terbaik. Aku bahkan tidak punya uang untuk biaya pemakaman bayiku.”
“Jadi Ibu mengambil anaknya?”
“Aku sedang hancur.”
“Selama empat belas tahun?”
Dia terdiam.
Air mataku akhirnya jatuh.
“Aku bisa memahami seseorang kehilangan akal selama satu malam. Tapi empat belas tahun, Bu? Setiap hari Ibu tahu siapa aku.”
Wajahnya mulai berubah.
“Aku membesarkanmu.”
“Dan Ibu bilang aku anak murahan.”
Dia menunduk.
“Ibu mau menghentikan sekolahku.”
Tak ada jawaban.
“Ibu menyuruhku bekerja dan memberikan semua gajiku.”
Siti mengepalkan tangan.
“Aku tetap memberimu makan.”
Kalimat itu membuat sesuatu di dalam diriku benar-benar putus.
Aku berdiri.
“Memberi makan anak yang Ibu culik bukan kebaikan.”
Dia mendongak.
Aku berjalan menuju pintu.
“Sari.”
Aku berhenti.
“Aku tetap ibumu.”
Untuk beberapa detik, aku hanya menatapnya.
Dulu aku mungkin akan menangis mendengar kalimat itu.
Sekarang aku hanya menjawab pelan.
“Seorang ibu tidak menentukan masa depan anaknya dengan mencuri masa depan anak lain.”
Aku keluar tanpa menoleh lagi.
Beberapa bulan kemudian, kasus itu masuk proses hukum.
Aku resmi kembali ke keluarga kandungku.
Tetapi ternyata pulang tidak sesederhana mengganti nama di dokumen.
Aku tidak langsung memanggil Bu Indah “Mama”.
Aku juga tidak langsung memanggil Pak Arjuna “Ayah”.
Mereka tidak memaksaku.
Bu Indah hanya mengetuk pintu kamarku setiap pagi dan bertanya apakah aku sudah sarapan.
Pak Arjuna membelikanku meja belajar, tetapi ketika melihatku tidak nyaman dengan barang-barang mahal, dia berhenti membanjiriku dengan hadiah.
Sebaliknya, suatu malam dia meletakkan formulir sekolah di mejaku.
“Kamu pernah bilang nilaimu cukup bagus.”
Aku menatapnya.
“Lalu?”
“Lanjutkan sekolah setinggi yang kamu mau.”
Kalimat sederhana itu membuatku menangis lebih keras daripada ketika mengetahui hasil DNA.
Bukan karena sekolahnya mahal.
Tetapi karena untuk pertama kalinya, seseorang tidak bertanya berapa banyak uang yang bisa kuhasilkan untuk mereka.
Mereka bertanya apa yang ingin kulakukan dengan hidupku.
Adik laki-lakiku tetap menjadi adik kandung Siti.
Dia ditempatkan dalam pengasuhan yang aman sambil menunggu keputusan keluarga dan pihak berwenang.
Bu Indah tidak pernah membencinya.
Suatu sore aku melihatnya menggendong bayi itu ketika petugas sosial datang.
Aku bertanya, “Ibu tidak marah melihat dia?”
Bu Indah menatap bayi tersebut.
“Kenapa harus marah kepada anak yang tidak melakukan apa-apa?”
Saat itulah, tanpa sadar, aku memanggilnya.
“Mama.”
Bu Indah membeku.
Aku juga.
Lalu dia menangis sambil tertawa.
Aku memeluknya.
Namun kejutan terakhir datang setahun kemudian.
Pada hari ulang tahunku yang kelima belas, aku menerima sebuah surat dari penjara.
Tulisan tangan Siti.
Aku hampir membuangnya, tetapi akhirnya kubuka.
Isinya hanya beberapa baris.
Dia tidak meminta aku memaafkannya.
Dia menulis bahwa selama bertahun-tahun dia selalu mengatakan adik laki-lakiku “lahir untuk hidup enak”, karena dalam pikirannya, menjadi kaya adalah satu-satunya cara untuk menang melawan hidup.
Lalu di bagian akhir dia menulis sesuatu yang tidak pernah kuduga.
Sebenarnya, anak yang paling beruntung bukan dia.
Kamu.
Bukan karena kamu kembali menjadi anak keluarga Harahap, tetapi karena ketika diberi kesempatan melakukan apa yang kulakukan, kamu memilih mengembalikan bayi-bayi itu ke tempat yang benar.
Aku membaca kalimat itu berulang kali.
Kemudian kulipat suratnya.
Aku tidak tahu apakah suatu hari nanti aku akan memaafkan Siti.
Mungkin iya.
Mungkin tidak.
Tetapi aku akhirnya memahami satu hal.
Darah menentukan dari siapa kita dilahirkan.
Uang menentukan seberapa nyaman hidup kita.
Namun pilihan yang kita buat ketika tidak ada seorang pun yang mengawasi, itulah yang menentukan siapa diri kita sebenarnya.
Empat belas tahun lalu, seorang perempuan menukar dua bayi karena merasa dunia tidak adil kepadanya.
Empat belas tahun kemudian, aku berdiri di ruangan yang hampir sama dan mendapatkan kesempatan untuk mengulang kesalahannya.
Aku memilih sebaliknya.
Dan ternyata, dengan mengembalikan dua bayi ke tempat mereka seharusnya berada, aku bukan hanya menyelamatkan dua keluarga.
Aku juga menemukan jalan pulangku sendiri.
