AKU MENEMANI SUAMIKU BERJUALAN MI DI PASAR MALAM SAAT KAMI TAK PUNYA APA-APA. NAMUN TIGA TAHUN SETELAH IA MENJADI PENGUSAHA KAYA, RUMAH SAKIT MENELEPON DAN MENGATAKAN TUBUHNYA TAK BISA DIGERAKKAN DI KAMAR PEREMPUAN LAIN—LALU POLISI MENEMUKAN NAMAKU DALAM REKAMAN HOTEL SEBAGAI ORANG TERAKHIR YANG DATANG SEBELUM SEMUANYA TERJADI.

Aku sudah mengetahui hubungan mereka sejak tiga bulan lalu.

Dan malam itu, amplop hitam bukan satu-satunya benda yang kukirim ke apartemen tersebut.

Polisi menatapku lama setelah rekaman suara Nadia berhenti diputar.

“Kalau Ibu sudah tahu selama tiga bulan, kenapa baru bertindak sekarang?”

Aku memasukkan ponsel ke dalam tas.

“Karena mengetahui suami berselingkuh dan membuktikan bahwa dia sedang menghancurkan hidup kita adalah dua hal yang berbeda.”

Dari tempat tidur, Raka mengeluarkan suara tertahan. Matanya menatapku penuh kepanikan.

Aku mengenal tatapan itu.

Tatapan yang sama ketika dulu gerobak mi kami hampir disita karena terlambat membayar cicilan.

Bedanya, dahulu aku selalu berdiri di sampingnya.

Sekarang tidak.

Tiga bulan sebelumnya, semuanya bermula dari sebuah kuitansi hotel yang terselip di saku jas Raka. Dua malam di sebuah hotel kawasan Kuningan, padahal kepadaku ia mengatakan sedang melakukan perjalanan bisnis ke Surabaya.

Aku tidak langsung menuduhnya.

Aku memeriksa laporan perusahaan.

Kemudian rekening.

Lalu jadwal perjalanan.

Nama Nadia muncul berulang kali.

Awalnya sebagai konsultan pemasaran. Setelah itu sebagai penerima transfer. Kemudian namanya muncul dalam dokumen pembelian sebuah apartemen.

Ketika aku menanyakan Nadia, Raka hanya tertawa.

“Kamu sekarang suka curiga, ya?”

“Aku cuma bertanya.”

“Dia konsultan perusahaan.”

“Kenapa konsultan perusahaan menerima transfer pribadi darimu?”

Wajahnya sempat berubah, tetapi hanya sepersekian detik.

“Bonus proyek.”

Lalu ia memelukku.

“Kirana, kita sudah melewati semuanya bersama. Masa kamu masih nggak percaya sama aku?”

Dan seperti orang bodoh, aku meminta maaf.

Malam itu, setelah Raka tertidur, aku menangis di kamar mandi tanpa suara.

Bukan karena aku percaya penjelasannya.

Aku menangis karena untuk pertama kalinya aku sadar bahwa laki-laki yang dulu tidak pernah mampu berbohong kepadaku kini sudah sangat pandai melakukannya.

Aku mulai mengumpulkan bukti.

Diam-diam.

Aku tidak menyewa detektif. Aku hanya memeriksa perusahaan yang separuhnya dibangun dengan tabunganku sendiri.

Di sanalah aku menemukan sesuatu yang jauh lebih buruk daripada perselingkuhan.

Raka memindahkan uang perusahaan melalui beberapa vendor fiktif.

Nilainya hampir empat puluh miliar rupiah.

Sebagian besar uang berakhir di rekening yang dikendalikan Nadia.

Namun Nadia rupanya memiliki rencana sendiri.

Dua minggu sebelum kejadian di apartemen, seorang mantan staf keuangan bernama Dimas menghubungiku.

Ia membawa salinan percakapan Nadia dengan seorang laki-laki bernama Farel.

Dalam rekaman itu, Nadia berkata ia tidak pernah berniat menikahi Raka.

Begitu uang terakhir berhasil dipindahkan, ia akan pergi ke Singapura bersama Farel.

“Raka pikir aku mencintainya,” suara Nadia terdengar sambil tertawa. “Padahal kalau bukan karena uangnya, buat apa aku sama laki-laki beristri?”

Aku mendengarkan kalimat itu berkali-kali.

Bukan karena aku merasa kasihan kepada Raka.

Melainkan karena ironinya begitu kejam.

Laki-laki yang mengkhianati perempuan yang menemaninya ketika tidak punya apa-apa sedang ditipu oleh perempuan yang hanya menginginkannya ketika ia punya segalanya.

Malam kejadian itu, aku mengetahui Raka dan Nadia berada di apartemen.

Aku mencetak bukti transfer, salinan tiket pesawat Nadia, foto Nadia bersama Farel, serta sebuah alat perekam kecil berisi percakapan mereka.

Semuanya kumasukkan ke dalam amplop hitam dan kukirim melalui kurir.

“Apa benda lainnya?” tanya polisi.

Aku menatapnya.

“Sebuah kamera kecil.”

Ruangan mendadak hening.

“Kamera?”

“Apartemen itu sebenarnya milik perusahaan.”

Polisi mengernyit.

Aku menjelaskan bahwa apartemen tersebut dibeli enam bulan lalu menggunakan dana salah satu anak perusahaan. Raka menggunakannya tanpa sepengetahuan dewan direksi. Setelah aku menemukan dokumennya, pengacara perusahaan memasang sistem keamanan tambahan karena ada dugaan aset perusahaan digunakan untuk kepentingan pribadi.

Kamera itu tidak berada di kamar tidur.

Hanya di ruang tamu dan koridor menuju pintu masuk.

“Rekamannya ada di mana?”

“Server perusahaan.”

Raka tiba-tiba mengeluarkan suara keras.

“Ki…”

Semua orang menoleh.

“Kirana…”

Itu kata pertama yang berhasil diucapkannya dengan cukup jelas.

Aku mendekat.

“Kenapa?”

Bibirnya gemetar.

“Nadia… dorong…”

Polisi langsung mendekati tempat tidur.

“Pak Raka, apakah Nadia mendorong Anda?”

Air mata mengalir dari matanya.

Ia berkedip cepat.

Dokter segera meminta polisi tidak memaksanya berbicara.

Satu jam kemudian, rekaman kamera berhasil diperoleh.

Aku ikut melihatnya di ruang pemeriksaan.

Pukul delapan lewat dua belas menit, Nadia menerima amplop hitam.

Ia membukanya.

Wajahnya langsung pucat.

Raka mengambil dokumen dari tangannya.

Mereka mulai bertengkar.

Tidak ada suara yang terekam jelas, tetapi gerakan mereka cukup menjelaskan keadaan.

Raka menunjuk tiket pesawat.

Nadia mencoba mengambilnya.

Raka melemparkan beberapa lembar dokumen ke lantai.

Kemudian Nadia berlari menuju kamar.

Raka mengejarnya.

Bagian berikutnya tidak terlihat kamera.

Tiga menit kemudian terdengar benturan keras.

Lalu sunyi.

Sekitar dua menit setelah itu, Nadia muncul kembali.

Ia membawa tas besar.

Namun sebelum pergi, ia melakukan sesuatu yang membuat polisi menghentikan rekaman.

Nadia mengambil ponsel Raka.

Kemudian membuka aplikasi perbankan menggunakan wajah Raka yang tergeletak di lantai di luar jangkauan kamera.

“Astaga,” gumam salah seorang penyidik.

Beberapa menit kemudian, Nadia pergi.

Ternyata ambulans bukan dipanggil olehnya.

Panggilan dilakukan petugas keamanan gedung setelah menerima notifikasi sensor jatuh dari sistem apartemen.

Nadia telah berbohong.

Keesokan paginya, polisi menemukan bahwa hampir dua puluh dua miliar rupiah telah dipindahkan dari rekening Raka beberapa menit setelah ia jatuh.

Nadia menjadi buronan.

Namun masalahku belum selesai.

Dua hari setelah operasi, Raka mulai mampu berbicara meski sangat pelan.

Dokter belum bisa memastikan apakah ia akan kembali berjalan.

Aku datang ke kamarnya bersama pengacara.

Raka menangis ketika melihatku.

“Maaf.”

Hanya itu.

Aku duduk di kursi.

“Untuk apa?”

Ia menunduk.

“Semuanya.”

“Perselingkuhan?”

Ia diam.

“Uang perusahaan?”

Air matanya jatuh.

“Atau karena kamu memberikan kalung pernikahan kita kepada Nadia?”

“Kirana…”

“Aku ingin tahu bagian mana yang paling kamu sesali.”

Raka menangis seperti anak kecil.

“Aku bodoh.”

Aku menggeleng.

“Bukan. Kamu bukan bodoh.”

Aku menatapnya.

“Kamu cuma merasa setelah punya uang, kamu berhak mendapatkan hidup yang lebih menarik daripada perempuan yang menemanimu saat miskin.”

Ia memejamkan mata.

“Aku masih cinta kamu.”

Kalimat itu seharusnya menghancurkanku.

Anehnya, tidak.

Aku hanya teringat sebuah malam delapan tahun lalu ketika kami pulang dari pasar dengan penghasilan seratus tiga puluh ribu rupiah.

Raka membeli dua bungkus nasi goreng.

Kami makan di lantai kontrakan karena belum punya meja.

Ia menggenggam tanganku dan berkata, “Kalau suatu hari aku kaya, jangan biarkan aku berubah.”

Dulu aku tertawa.

Sekarang kalimat itu terdengar seperti ramalan.

Pengacaraku meletakkan beberapa dokumen di meja.

Raka melihatnya.

“Apa itu?”

“Gugatan cerai.”

Wajahnya membeku.

“Kirana, jangan.”

“Ada satu lagi.”

Pengacara membuka dokumen berikutnya.

Laporan audit internal perusahaan.

Karena hampir empat puluh miliar rupiah telah dipindahkan melalui perusahaan fiktif, dewan direksi melaporkan transaksi tersebut kepada pihak berwenang.

Raka bukan hanya korban Nadia.

Ia juga harus mempertanggungjawabkan tindakannya sendiri.

“Perusahaan itu milikku,” katanya lemah.

Aku menatapnya.

“Tidak sepenuhnya.”

Ia terdiam.

Mungkin baru saat itu ia ingat.

Ketika perusahaan didirikan, Raka tidak punya modal.

Uang awal berasal dari penjualan tanah warisan nenekku.

Atas saran ayahku, empat puluh sembilan persen saham perusahaan dicatat atas namaku.

Selama bertahun-tahun aku tidak pernah mencampuri bisnis karena mempercayainya.

Kepercayaan itulah yang ia gunakan untuk menyembunyikan semuanya.

Tiga minggu kemudian, Nadia tertangkap di sebuah hotel dekat Bandara Soekarno-Hatta.

Ia belum sempat meninggalkan Indonesia karena rekening yang hendak digunakannya telah dibekukan.

Namun penangkapannya membuka rahasia terakhir.

Nadia menyerahkan ponselnya kepada penyidik.

Di dalamnya terdapat ribuan percakapan dengan Raka.

Salah satu percakapan berasal dari hampir dua tahun sebelumnya.

Jauh sebelum Raka mengaku mengenalnya sebagai konsultan.

Aku membaca pesan pertama mereka dengan tangan dingin.

Raka yang menghubungi Nadia.

Bukan sebaliknya.

Ia mengenalnya melalui seorang teman.

Bahkan sebelum perselingkuhan dimulai, Raka pernah menulis satu kalimat yang membuatku akhirnya memahami semuanya.

Istriku terlalu mengenal versi lamaku. Kalau bersamanya, aku selalu merasa seperti penjual mi.

Aku membaca kalimat itu tiga kali.

Kemudian aku tertawa.

Untuk pertama kalinya sejak semuanya terjadi, aku benar-benar tertawa.

Jadi itulah masalahnya.

Bukan aku yang tidak cukup baik.

Aku hanya mengingatkan Raka pada masa ketika ia belum menjadi siapa-siapa.

Dan rupanya setelah menjadi kaya, ia ingin menghapus laki-laki yang pernah mendorong gerobak mi di tengah hujan.

Enam bulan kemudian, proses hukum masih berjalan.

Raka menjalani rehabilitasi dan mulai mampu menggerakkan dua jarinya. Dokter mengatakan kemungkinan pemulihannya tetap ada, tetapi perjalanan itu akan panjang.

Aku tidak pernah kembali kepadanya.

Aku juga tidak mengambil rumah mewah kami.

Rumah itu kujual.

Sebagian hakku dari hasil penjualan kugunakan untuk melunasi kewajiban perusahaan kepada pegawai dan mitra yang terdampak kasus tersebut.

Aku pindah ke sebuah apartemen yang jauh lebih sederhana.

Suatu malam, dalam perjalanan pulang, aku melewati Pasar Lama Tangerang.

Entah mengapa aku berhenti.

Di sudut jalan tempat kami dahulu berjualan, sekarang ada seorang pasangan muda mendorong gerobak mi.

Hujan baru saja turun.

Perempuan itu sibuk menutupi mangkuk dan bahan makanan dengan plastik.

Laki-laki di sampingnya melepas jaket lalu meletakkannya di bahu perempuan tersebut.

Aku terpaku.

Pemandangan itu terasa begitu familiar.

Perempuan tersebut menyadari aku berdiri di dekat gerobak.

“Mau pesan, Kak?”

Aku tersenyum.

“Dua mangkuk.”

“Dibungkus?”

Aku menggeleng.

“Makan di sini.”

Aku duduk di kursi plastik kecil.

Ketika mi hangat diletakkan di hadapanku, aku tiba-tiba menangis.

Bukan karena masih menginginkan Raka kembali.

Aku menangisi dua orang miskin yang pernah duduk bersama di tempat seperti ini dan percaya bahwa jika mereka berhasil menjadi kaya, semua masalah akan selesai.

Ternyata kemiskinan bukan ujian terbesar dalam sebuah hubungan.

Terkadang ujian sesungguhnya datang ketika seseorang akhirnya mendapatkan semua yang dahulu ia inginkan.

Ponselku bergetar.

Sebuah pesan masuk dari nomor yang tidak kukenal.

Aku hampir mengabaikannya.

Namun kemudian kubuka.

Pesan itu hanya berisi sebuah foto.

Raka di ruang rehabilitasi.

Di bawahnya terdapat satu kalimat.

Bu Kirana, Pak Raka meminta kami menyampaikan sesuatu. Beliau bilang kalau suatu hari Ibu melewati tempat kalian dulu berjualan, tolong belikan satu mangkuk mi untuknya.

Aku menatap mangkuk kedua di depanku.

Sejak awal aku memesannya tanpa tahu untuk siapa.

Aku tersenyum pahit.

Lalu memanggil penjual.

“Mas, yang satu lagi tolong bungkus.”

Aku membawa mi itu ke mobil.

Tetapi aku tidak pergi ke rumah sakit.

Di lampu merah berikutnya, kulihat seorang pengemudi ojek online duduk di pinggir jalan, basah kuyup setelah kehujanan.

Aku turun dan menyerahkan bungkusan tersebut kepadanya.

“Buat saya, Mbak?”

Aku mengangguk.

“Masih hangat.”

Ia tersenyum lebar dan berkali-kali mengucapkan terima kasih.

Aku kembali ke mobil.

Pesan dari rumah sakit masih terbuka di layar.

Untuk beberapa detik, jariku berada di atas tombol balas.

Kemudian aku mengetik.

Mi itu sudah kuberikan kepada seseorang yang masih berjuang dari bawah. Semoga kali ini, ketika hidupnya berubah, dia tidak lupa siapa dirinya.

Aku mengirim pesan itu.

Setelahnya, kuhapus nomor tersebut.

Hujan kembali turun di luar kaca mobil.

Untuk pertama kalinya dalam delapan tahun, aku pulang tanpa Raka.

Dan untuk pertama kalinya juga, aku tidak merasa kehilangan rumah.

Karena akhirnya aku mengerti bahwa rumah bukanlah seseorang yang harus terus kita maafkan hanya karena pernah menemani kita berjuang.

Rumah adalah tempat kita tidak perlu kehilangan diri sendiri agar tetap dicintai.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang