Setelah Melahirkan Dua Anak, Aku Mengambil Rp10 Miliar dan Pergi—Ternyata Itu Bukan Uang Perpisahan

Pesan dari Aditya hanya terdiri dari lima kata.

“Kenapa kamu menyukai unggahan itu?”

Aku menatap layar beberapa detik.

Entah mengapa, pertanyaan itu terasa lebih aneh daripada seluruh hubungan kami selama tiga tahun.

Aku mengetik singkat.

“Tidak sengaja.”

Balasannya datang hampir seketika.

“Kamu menertawakanku?”

“Tidak.”

“Lalu kenapa?”

Aku menghela napas.

“Karena baru kali ini aku tahu ternyata kamu juga bisa marah.”

Tanda mengetik muncul cukup lama.

Hilang.

Muncul lagi.

Akhirnya hanya satu kalimat yang datang.

“Pulanglah.”

Jantungku seperti berhenti sesaat.

Aku membaca kata itu berulang kali, memastikan tidak salah melihat.

“Untuk apa?”

Tidak ada jawaban.

Lima menit.

Sepuluh menit.

Setengah jam.

Aditya tidak membalas lagi.

Aku meletakkan ponsel di meja dan memandangi Raka yang masih bermain di kolam.

Dulu, satu kata seperti itu mungkin cukup membuatku berlari kembali.

Sekarang tidak.

Karena untuk pertama kalinya dalam tiga tahun, aku mulai memahami bahwa rumah bukanlah bangunan besar dengan belasan kamar.

Rumah adalah tempat di mana seseorang merasa diinginkan.

Dan aku tidak pernah merasa diinginkan di rumah keluarga Pranata.

Keesokan paginya, seseorang mengetuk pintu kamar hotel.

Ketika kubuka, Bagas berdiri di luar dengan napas terengah-engah.

“Kamu?”

“Pak Aditya menyuruh saya datang.”

Aku langsung hendak menutup pintu.

Bagas menahan daun pintu dengan telapak tangannya.

“Tunggu, Mbak Laras. Saya cuma mau menyerahkan ini.”

Ia mengulurkan sebuah map cokelat.

“Apa?”

“Saya juga tidak tahu. Pak Aditya bilang harus sampai ke tangan Mbak.”

Aku tidak mengambilnya.

“Kalau isinya dokumen soal anak, kirim lewat pengacara.”

“Bukan soal anak.”

“Lalu?”

Bagas menatapku aneh.

“Sejujurnya saya juga bingung kenapa Mbak pergi.”

Aku tertawa kecil.

“Bosmu memberi saya sepuluh miliar dan menyuruh saya meninggalkan rumah. Bagian mana yang membingungkan?”

Wajah Bagas berubah.

“Dia menyuruh Mbak pergi?”

Aku terdiam.

“Pesannya jelas.”

Aku menunjukkan percakapan kami.

Sudah menandatangani dokumennya?

Sudah.

Uangnya sudah masuk?

Sudah.

Kalau begitu, pergilah.

Bagas memijat kening.

“Astaga.”

“Apa?”

“Tidak ada.”

“Bagas.”

Ia terlihat seperti orang yang baru menyadari sebuah bencana besar terjadi hanya karena dua manusia terlalu keras kepala untuk berbicara.

“Baca map ini dulu.”

Setelah mengatakan itu, ia berbalik.

Aku membawa map tersebut ke dalam kamar.

Ada salinan dokumen yang kutandatangani.

Baru kali itu aku benar-benar membacanya.

Halaman pertama membahas rekening atas namaku.

Halaman kedua membahas pengalihan aset.

Halaman ketiga membuat tanganku berhenti.

Dana Rp10 miliar tersebut bukan disebut kompensasi perpisahan.

Bukan pesangon.

Bukan pula pembayaran atas kelahiran dua anak.

Di sana tertulis dana perlindungan pribadi.

Aku membaca kalimat berikutnya.

Penerima memiliki hak penuh atas dana tersebut terlepas dari status hubungan dengan pihak pemberi.

Lalu ada dokumen lain.

Sebuah rumah di Jakarta Selatan.

Atas namaku.

Saham perusahaan investasi.

Atas namaku.

Asuransi pendidikan Raka dan Naya sampai mereka berusia dua puluh lima tahun.

Semuanya telah disiapkan sebelum Naya lahir.

Tanganku mulai dingin.

Aku menelepon Pak Hendra.

Ia menjawab pada dering kedua.

“Bu Laras?”

“Saya mau bertanya.”

“Silakan.”

“Sepuluh miliar itu uang apa?”

Sunyi.

“Pak Hendra?”

“Itu dana yang Pak Aditya siapkan untuk Ibu.”

“Untuk membuat saya pergi?”

“Tidak.”

Aku berdiri begitu cepat hingga kursi di belakangku bergeser.

“Lalu kenapa ada perjanjian kerahasiaan?”

Pak Hendra menghela napas panjang.

“Karena keluarga Pranata sedang mengalami konflik internal. Ada beberapa pihak yang mencoba menggugat struktur kepemilikan perusahaan. Pak Aditya ingin nama Ibu dan anak-anak tidak terseret.”

Aku tidak mampu berkata apa-apa.

“Lalu kenapa saya harus meninggalkan rumah dalam tiga hari?”

“Karena rumah utama keluarga Pranata bukan lagi tempat yang dianggap aman.”

Darahku terasa mengalir menjauh dari wajah.

“Pak Aditya menyuruh saya pergi karena itu?”

“Saya kira beliau sudah menjelaskannya.”

Aku tertawa hambar.

“Dia tidak menjelaskan apa pun.”

Kali ini Pak Hendra yang terdiam.

Aku menutup telepon.

Ada kemarahan yang muncul, tetapi bukan hanya kepada Aditya.

Aku marah kepada diriku sendiri.

Aku telah tinggal bersamanya selama tiga tahun, tetapi kami seperti dua orang asing yang kebetulan memiliki anak bersama.

Dia tidak pernah menjelaskan.

Aku tidak pernah bertanya.

Kami membangun seluruh hubungan dari asumsi.

Sore harinya, Bu Ratna menelepon.

Itu pertama kalinya perempuan tersebut meneleponku secara pribadi.

“Kembalikan Raka.”

Bahkan salam pun tidak ada.

“Tidak.”

“Dia cucu keluarga Pranata.”

“Dia anak saya.”

“Laras, jangan merasa sepuluh miliar membuatmu setara dengan kami.”

Kalimat itu justru membuat semuanya kembali jelas.

Apa pun alasan Aditya memberikan uang tersebut, posisiku di mata keluarganya tidak berubah.

“Aku tidak pernah ingin setara dengan keluarga Ibu.”

“Lalu apa yang kamu inginkan?”

Aku melihat Naya tidur di ranjang.

“Anak-anak saya tumbuh di tempat di mana ibu mereka dihargai.”

Aku memutus sambungan.

Dua hari berikutnya berjalan tenang.

Aku mulai mencari rumah kecil di Bali.

Bukan vila mewah.

Hanya rumah dengan halaman yang cukup untuk Raka berlari dan kamar dengan jendela besar untuk Naya.

Aku bahkan mulai membayangkan membuka studio desain kecil. Gelar kuliahku selama ini seperti benda yang kusimpan dalam kotak dan tidak pernah kugunakan.

Namun pada malam ketiga, Bagas menelepon.

Suaranya panik.

“Mbak Laras, Pak Aditya masuk rumah sakit.”

Tanganku berhenti saat sedang melipat pakaian Naya.

“Kenapa?”

“Dia pingsan di kantor.”

Aku mencoba mempertahankan suara datar.

“Hubungi keluarganya.”

“Sudah.”

“Lalu?”

“Dia terus memanggil nama Raka.”

Aku memejamkan mata.

“Bagas, jangan gunakan anak saya untuk membuat saya kembali.”

“Saya tidak berani.”

Suara Bagas melemah.

“Tapi ada sesuatu yang harus Mbak tahu. Tiga hari terakhir dia hampir tidak tidur. Semua orang kira karena masalah perusahaan. Ternyata dia mencari Mbak.”

“Mencari saya?”

“Dia menyuruh orang mengecek setiap hotel, rumah sewa, bahkan rumah sakit di Bali.”

“Dia tahu saya di Sanur.”

“Sekarang tahu. Awalnya tidak.”

Aku terdiam.

“Kenapa?”

Bagas menjawab pelan.

“Karena Pak Aditya pikir Mbak pergi bukan cuma dari rumah. Dia pikir Mbak membawa anak-anak dan tidak akan membiarkannya bertemu mereka lagi.”

Malam itu aku tidak bisa tidur.

Pukul lima pagi, aku membeli tiket ke Jakarta.

Aku membenci diriku sendiri karena melakukannya.

Namun ketika Raka bertanya apakah kami akan bertemu Papa, aku tidak sanggup berbohong.

Aditya dirawat di sebuah rumah sakit swasta.

Ketika aku masuk, ia sedang duduk bersandar dengan infus di tangan.

Wajahnya pucat.

Begitu melihatku, tatapannya berubah.

Namun mulutnya tetap sama menyebalkannya.

“Kenapa kembali?”

Aku hampir tertawa karena kesal.

“Bagas bilang kamu sekarat.”

“Aku cuma kelelahan.”

“Bagus. Berarti aku bisa pulang.”

Aku berbalik.

“Laras.”

Untuk pertama kalinya, aku mendengar namaku keluar dari mulutnya dengan nada yang hampir terdengar seperti permohonan.

Aku berhenti.

“Apa?”

“Anak-anak?”

“Bersama Bu Yanti.”

Ia mengangguk.

Lalu hening.

Aku akhirnya kehilangan kesabaran.

“Kalau cuma mau bertanya tentang anak-anak, telepon saja.”

“Aku tidak tahu harus mengatakan apa.”

“Selama tiga tahun kamu memang tidak pernah tahu harus mengatakan apa.”

Wajahnya mengeras.

Aku melanjutkan.

“Kamu tahu apa yang kupikirkan ketika pengacaramu datang? Aku pikir kamu membayar sepuluh miliar supaya aku menghilang.”

“Aku tidak pernah mengatakan itu.”

“Kamu juga tidak mengatakan sebaliknya.”

“Aku mengira Hendra sudah menjelaskan.”

“Jangan salahkan pengacaramu karena kamu tidak bisa berbicara dengan perempuan yang melahirkan dua anakmu.”

Ia menunduk.

Untuk pertama kalinya sejak mengenalnya, Aditya tidak memiliki jawaban.

Beberapa detik kemudian ia berkata, “Aku memang buruk dalam hal seperti ini.”

“Hal seperti apa?”

“Mempertahankan seseorang.”

Aku membeku.

Aditya menatap jendela.

“Ayahku meninggalkan ibuku ketika aku berumur delapan tahun. Ibuku kemudian mengajariku bahwa kalau ingin seseorang tetap berada di sisimu, pastikan dia membutuhkan sesuatu darimu.”

Aku perlahan duduk.

“Jadi kamu memberiku uang?”

“Awalnya.”

Jawabannya menyakitkan karena terlalu jujur.

“Ketika nenek meminta penerus, aku tahu keadaanmu. Aku tahu kamu membutuhkan uang.”

“Jadi aku memang hanya perempuan yang kamu bayar untuk melahirkan anak.”

“Awalnya.”

Aku menatapnya tajam.

Aditya menghela napas.

“Setelah Raka lahir, aku tidak tahu bagaimana memintamu tetap tinggal.”

“Kamu bisa bilang.”

“Aku tidak bisa.”

“Kenapa?”

“Karena aku takut kamu mengatakan tidak.”

Aku tertawa getir.

“Jadi pilihanmu adalah memberiku lima puluh juta setiap bulan?”

“Aku pikir selama kamu tidak perlu mengkhawatirkan apa pun, kamu akan tinggal.”

“Aditya, manusia bukan investasi.”

“Aku tahu sekarang.”

Matanya merah.

“Ketika Naya lahir, aku ada di rumah sakit.”

Aku langsung menatapnya.

“Jangan bohong.”

“Aku berada di lorong.”

“Kenapa tidak masuk?”

“Karena dokter bilang kondisimu stabil. Aku melihatmu dari kaca. Kamu memeluk Naya dan tersenyum.”

Suaranya merendah.

“Aku tiba-tiba sadar kalian terlihat seperti keluarga bahkan tanpa aku.”

Dadaku terasa sesak.

“Aku takut masuk.”

“Kamu selalu takut.”

“Iya.”

Itulah pertama kalinya Aditya Pranata mengakui kelemahannya.

Bukan dengan uang.

Bukan dengan dokumen.

Hanya satu kata.

Iya.

“Lalu sepuluh miliar itu?”

“Aku tahu konflik perusahaan akan semakin buruk. Aku ingin kamu membawa anak-anak keluar dari rumah utama.”

“Kenapa sebanyak itu?”

Ia menatapku seolah jawabannya sangat sederhana.

“Karena aku tidak tahu bagaimana memastikan kamu kembali.”

Aku mengernyit.

“Apa hubungannya?”

“Aku pikir kalau uangmu, rumahmu, dan masa depan anak-anak sudah aman, kamu tidak akan lagi tinggal bersamaku karena membutuhkan sesuatu.”

Aku perlahan memahami.

Ia melanjutkan.

“Setelah itu aku ingin bertanya apakah kamu mau tinggal karena memilihku.”

Air mataku hampir jatuh, tetapi aku menahannya.

“Lalu kenapa pesanmu mengatakan, kalau begitu pergilah?”

Aditya menutup mata.

“Karena Hendra bilang kamu menandatangani semuanya tanpa bertanya dan mengatakan akan pergi malam itu juga.”

“Dan?”

“Aku marah.”

“Kepadaku?”

“Kepada diriku sendiri.”

Ia tertawa pendek, pahit.

“Tapi aku terlalu bodoh untuk mengatakan jangan pergi.”

Kami terdiam cukup lama.

Aku tidak langsung memaafkannya.

Cinta tidak menghapus tiga tahun kesepian.

Penjelasan tidak otomatis menyembuhkan semua luka.

“Aku tidak akan kembali ke rumah itu,” kataku akhirnya.

Wajah Aditya menegang.

“Baik.”

“Anak-anak tetap bersamaku.”

“Baik.”

“Aku akan tinggal di Bali.”

Ia terdiam lebih lama.

“Baik.”

Aku menatapnya curiga.

“Semudah itu?”

“Aku sudah mencoba mempertahankanmu dengan uang selama tiga tahun.”

Aditya menatapku.

“Kali ini aku ingin mencoba dengan cara yang benar.”

Aku pulang ke Bali bersama anak-anak.

Aditya tidak mengejar.

Tidak ada mobil yang dikirim.

Tidak ada pengacara.

Tidak ada tambahan uang.

Namun seminggu kemudian, sebuah paket datang.

Isinya hanya satu buku cerita anak.

Di halaman pertama tertulis dengan tulisan tangan yang buruk.

Untuk Raka dan Naya. Papa sedang belajar menjadi orang yang pantas dirindukan.

Sejak itu, setiap Jumat malam Aditya menelepon.

Bukan untuk bertanya kapan aku kembali.

Ia membacakan cerita untuk anak-anak.

Kadang Raka tertidur sebelum cerita selesai.

Kadang Naya menangis.

Kadang aku hanya meletakkan ponsel di meja dan mendengarkan dari dapur.

Tiga bulan kemudian, seseorang mengetuk pintu rumah kecil yang akhirnya kusewa di Sanur.

Aditya berdiri di depan pagar.

Tidak ada sopir.

Tidak ada Bagas.

Tidak ada jas mahal.

Ia mengenakan kemeja biasa dan membawa dua kantong belanja.

Raka berlari keluar.

“Papa!”

Aditya berlutut dan memeluknya.

Aku melihat dari ambang pintu.

Setelah anak-anak tidur malam itu, kami duduk di teras.

“Aku membeli rumah di dekat sini,” katanya.

Aku langsung menatapnya.

“Jangan bilang kamu pindah.”

“Aku tidak akan tinggal bersamamu.”

“Bagus.”

“Setidaknya belum.”

Aku hampir melempar bantal kepadanya.

Untuk pertama kalinya, Aditya tertawa.

Setahun berlalu.

Aku membuka studio desain kecil di Denpasar. Uang sepuluh miliar itu hampir tidak kusentuh. Aku ingin membuktikan kepada diriku sendiri bahwa aku mampu hidup tanpa menjadi tanggungan siapa pun.

Aditya datang setiap minggu.

Ia belajar mengganti popok.

Mengantar Raka ke kelompok bermain.

Menunggu Naya ketika demam.

Dan yang paling sulit baginya, ia belajar berbicara.

Suatu sore, saat Raka berusia hampir empat tahun, ia sedang menggambar di lantai.

“Bunda.”

“Hm?”

“Papa sekarang butuh kita?”

Aku berhenti bekerja.

Pertanyaan itu sama seperti pertanyaannya malam ketika kami meninggalkan Jakarta.

Aku belum sempat menjawab ketika Aditya keluar dari dapur membawa potongan buah.

Ia berjongkok di samping Raka.

“Papa tidak butuh Bunda dan kalian.”

Aku menatapnya tajam.

Namun ia melanjutkan.

“Papa memilih kalian.”

Raka mengernyit.

“Apa bedanya?”

Aditya memandangku.

“Kalau butuh, kita takut kehilangan karena hidup kita bergantung padanya. Kalau memilih, kita tahu kita bisa hidup sendiri, tapi tetap ingin hidup bersama.”

Aku tidak tahu sejak kapan laki-laki yang dulu hanya mampu berbicara melalui transfer bank bisa mengatakan sesuatu seperti itu.

Malam itu, setelah anak-anak tidur, Aditya memberiku sebuah amplop.

Aku langsung tertawa.

“Kalau ini uang lagi, aku lempar kamu ke kolam.”

“Bukan.”

Aku membukanya.

Di dalamnya ada salinan dokumen lama yang pernah kutandatangani.

Namun pada halaman terakhir terdapat tulisan tangan Aditya.

Aku membaca perlahan.

Sepuluh miliar rupiah bukan uang agar Laras pergi.

Bukan pula uang agar Laras tinggal.

Uang itu adalah pengakuan atas tiga tahun ketika aku membiarkannya merasa tidak memiliki apa pun yang benar-benar menjadi miliknya.

Aku mengangkat kepala.

Aditya berdiri di depanku.

Tidak membawa cincin.

Tidak berlutut.

Tidak menjanjikan kerajaan bisnis keluarga Pranata.

“Aku tidak akan meminta kamu kembali ke hidupku,” katanya. “Aku ingin bertanya apakah aku boleh masuk ke hidupmu yang baru.”

Aku menatap laki-laki yang pernah kukira tidak memiliki hati.

Ternyata aku salah.

Aditya memiliki hati.

Ia hanya dibesarkan dalam keluarga yang mengajarinya bahwa uang adalah bahasa paling aman untuk mengatakan jangan tinggalkan aku.

Aku tersenyum tipis.

“Mulai besok kamu antar Raka sekolah.”

Wajahnya berubah.

“Itu jawabanmu?”

“Itu masa percobaan.”

“Berapa lama?”

Aku berdiri dan masuk ke rumah.

“Seumur hidup kalau kamu banyak tanya.”

Untuk pertama kalinya, aku mendengar Aditya tertawa keras di belakangku.

Dan untuk pertama kalinya pula, aku tidak merasa sedang tinggal di rumah seorang laki-laki kaya.

Aku merasa sedang membangun rumahku sendiri.

Bertahun-tahun kemudian, aku baru mengetahui satu rahasia terakhir.

Pada hari aku menerima Rp10 miliar dan pergi, ternyata ada satu dokumen yang tidak pernah diberikan Pak Hendra kepadaku.

Dokumen itu ditemukan Raka ketika membantu ayahnya membereskan berkas lama.

Tanggalnya sama persis dengan hari keberangkatanku ke Bali.

Isinya hanya satu halaman.

Permohonan pencatatan pernikahan yang telah disiapkan Aditya bersama pengacaranya.

Di bagian calon pasangan, namaku sudah tertulis.

Namun kolom tanda tanganku kosong.

Di belakang halaman itu ada catatan kecil dengan tulisan tangan Aditya.

Jika Laras tetap tinggal setelah semua miliknya dijamin atas namanya sendiri, aku akan bertanya apakah kali ini dia bersedia menjadi keluargaku bukan karena uang, bukan karena anak-anak, dan bukan karena keluarga Pranata.

Karena aku mencintainya.

Aku membaca kalimat itu dua kali.

Kemudian tiga kali.

Aditya berdiri beberapa langkah dariku, wajahnya tampak jauh lebih gugup dibanding ketika menghadapi rapat pemegang saham mana pun.

“Kenapa kamu tidak pernah menunjukkan ini?”

Ia menggaruk tengkuk.

“Karena kamu keburu pergi.”

“Setelah itu?”

“Aku malu.”

Aku menahan tawa sekaligus air mata.

Ternyata selama bertahun-tahun aku mengira Rp10 miliar adalah harga yang diberikan seorang laki-laki agar aku meninggalkan hidupnya.

Padahal kenyataannya jauh lebih sederhana dan jauh lebih menyakitkan.

Uang itu adalah cara seorang laki-laki yang tidak pernah belajar mencintai mencoba melepaskan satu-satunya alasan yang membuatku bergantung padanya.

Agar ketika ia akhirnya meminta aku tinggal, ia bisa mengetahui jawabannya benar-benar berasal dariku.

Bukan dari rasa takut miskin.

Bukan dari kebutuhan.

Bukan dari kewajiban sebagai ibu dari anak-anaknya.

Melainkan dari pilihan.

Dan mungkin itulah pelajaran terbesar dari hubungan kami.

Cinta yang sehat bukan tentang membuat seseorang tidak mampu pergi.

Cinta adalah memberi seseorang kebebasan untuk pergi, lalu membangun sesuatu yang membuatnya dengan sadar memilih untuk kembali.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang