“Citra pernah menjadi pasienku.”
Kalimat itu membuat wajah Raka berubah.
Sinta menatapku, lalu menoleh ke arah Raka yang masih berdiri di ambang pintu. Untuk beberapa detik, ruang tindakan terasa begitu sunyi hingga bunyi monitor dari ruangan sebelah terdengar jelas.
Aku masih mengingat hari pertama Citra datang ke rumah sakit.
Saat itu usianya dua puluh tiga tahun. Ia baru enam bulan menjadi anggota kepolisian dan mengikuti pelatihan negosiasi di bawah bimbingan Raka. Orang-orang mengenalnya sebagai perempuan ceria, cerdas, dan keras kepala.
Namun perempuan yang kutemui malam itu sama sekali berbeda.
Ia ditemukan petugas keamanan di atap gedung rumah sakit.
Berdiri di balik pagar pembatas.
Menatap jalan raya belasan lantai di bawahnya.
Aku sedang menjalani shift malam ketika seorang perawat berlari mencariku.
“Dokter Laras, ada perempuan di atap.”
Ketika aku tiba, Citra berdiri membelakangiku.
“Jangan mendekat.”
Suaranya bergetar.

Aku berhenti beberapa meter di belakangnya.
“Aku tidak akan mendekat.”
“Semua orang bilang begitu.”
“Aku bukan polisi.”
Ia terdiam.
“Aku dokter.”
Untuk pertama kalinya, ia menoleh.
Matanya bengkak karena menangis.
Malam itu aku duduk hampir dua jam di lantai atap rumah sakit bersamanya.
Citra akhirnya menceritakan semuanya.
Ayahnya meninggal ketika ia masih kecil. Ibunya membesarkannya sendirian, tetapi meninggal dua tahun sebelum ia masuk akademi kepolisian. Sejak itu Citra hidup sendirian.
Raka adalah instruktur pertama yang memperlakukannya seperti keluarga.
Ia mengajari Citra menembak, bernegosiasi, membaca gerakan tersangka, bahkan memarahinya ketika ia melewatkan makan siang.
Citra menganggapnya sebagai kakak.
Mungkin bahkan sebagai sosok ayah yang tidak pernah benar-benar ia miliki.
Tetapi beberapa bulan sebelum malam itu, sebuah operasi yang dipimpinnya berakhir buruk.
Seorang sandera terluka.
Citra menyalahkan dirinya sendiri.
“Aku seharusnya tidak menjadi polisi,” katanya kepadaku sambil menangis. “Orang seperti aku cuma akan membuat orang lain celaka.”
Aku tidak tahu berapa kali aku mengatakan bahwa kegagalan tidak menentukan seluruh hidup seseorang.
Yang kuingat, menjelang subuh Citra akhirnya mengulurkan tangannya kepadaku.
Aku menariknya menjauh dari pagar.
Sejak malam itu, aku menjadi salah satu dokter yang menangani pemulihan psikologisnya.
Dan ada satu hal yang tidak pernah kukatakan kepada Raka.
Citra pernah mencoba mengakhiri hidupnya dua kali.
Aku merahasiakannya karena permintaan Citra sendiri.
Sampai tiga minggu sebelum penculikan itu terjadi.
Malam itu Raka pulang sangat larut.
Aku sedang membaca jurnal medis ketika ia duduk di tepi ranjang.
“Laras.”
Aku menoleh.
“Ada apa?”
Ia terlihat ragu cukup lama.
“Kalau suatu hari aku harus memilih antara menyelamatkanmu atau seseorang yang hidupnya bergantung kepadaku, apa yang harus kulakukan?”
Aku tertawa kecil waktu itu.
Kupikir ia hanya sedang lelah.
“Pertanyaan macam apa itu?”
“Aku serius.”
Aku menutup laptop.
Wajah Raka benar-benar tegang.
Aku kemudian mengatakan sesuatu yang selama lima tahun terus menghantuiku.
“Kalau aku masih bisa bertahan, selamatkan orang yang tidak bisa bertahan tanpa bantuanmu.”
Raka menunduk.
“Jangan pernah mengatakan itu kalau kamu tidak sungguh-sungguh.”
“Aku sungguh-sungguh.”
Aku tidak tahu tiga minggu kemudian kalimat itu akan menjadi hukuman terberat dalam hidupku.
Aku kembali menatap Raka di ambang pintu.
“Pada hari kami diculik, Citra mengalami serangan panik.”
Raka akhirnya masuk ke ruang tindakan.
“Laras…”
“Aku belum selesai.”
Ia berhenti.
Aku menatap Sinta.
“Penculik itu tidak memilih kami secara acak. Dia tahu siapa Citra. Dia tahu siapa aku. Dan dia tahu hubungan kami dengan Raka.”
Raka mengepalkan tangan.
“Ketika dia menyuruh Raka memilih, kondisi Citra sudah sangat buruk. Kalau dibiarkan lebih lama, kemungkinan dia akan melakukan sesuatu yang membahayakan dirinya sendiri atau memprovokasi penculik.”
Sinta perlahan memahami.
“Jadi Komandan memilih Citra karena…”
“Karena dia pikir aku lebih kuat.”
Aku tersenyum pahit.
“Dan karena aku pernah mengatakan kepadanya untuk melakukan itu.”
Raka akhirnya bicara.
“Aku tidak pernah mengira mereka akan menyerangmu setelah melepaskan Citra.”
“Benar.”
Aku menatapnya.
“Kamu hanya salah dalam satu hal.”
“Apa?”
“Kamu tidak menoleh.”
Wajahnya menegang.
“Aku tergeletak di lantai, Raka. Aku masih sadar. Aku melihatmu memeluk Citra.”
“Laras, saat itu tim penyerbu sudah masuk dari belakang. Aku pikir mereka akan langsung mencapai posisimu.”
“Tapi kamu tidak melihatku.”
Suaraku tetap rendah.
“Itulah yang tidak pernah bisa kulupakan.”
Raka membuka mulut, tetapi tak ada kata yang keluar.
Aku berdiri.
“Aku bisa memahami keputusan seorang negosiator menyelamatkan sandera yang paling rentan.”
Aku mengambil lengan prostetik cadangan dari lemari kecil di ruang staf dan memasangnya perlahan.
“Tapi selama lima tahun, aku tidak bisa memahami keputusan seorang suami yang tidak menoleh kepada istrinya.”
Aku berjalan melewatinya.
Raka tiba-tiba berkata, “Aku menoleh.”
Langkahku berhenti.
“Apa?”
“Aku menoleh.”
Suaranya bergetar.
“Kamu sudah tidak melihatnya.”
Aku berbalik.
Raka mengeluarkan ponselnya. Tangannya gemetar ketika membuka sebuah folder lama.
Kemudian ia menunjukkan sebuah rekaman.
Video dari kamera tubuh salah satu anggota tim penyelamat.
Tanggalnya sama dengan hari penyanderaan.
Raka menekan tombol putar.
Gambar berguncang.
Teriakan terdengar.
Citra berlari keluar dari gudang.
Raka menangkap tubuhnya.
Persis seperti yang kuingat.
Ia memeluk Citra.
Namun hanya selama beberapa detik.
Kemudian terdengar suara benda berat jatuh dari dalam gudang.
Raka menoleh.
Wajahnya berubah.
“LARAS!”
Ia melepaskan Citra begitu saja.
Dalam rekaman itu, tiga polisi harus menahannya karena tim penyerbu belum memberikan izin masuk.
Raka mengamuk.
Benar-benar mengamuk.
“Istri saya di dalam!”
Ia mencoba menerobos.
Seorang anggota tim menarik tubuhnya.
“Komandan, tunggu!”
“LEPASKAN SAYA!”
Suara tembakan terdengar.
Video berguncang hebat.
Beberapa detik kemudian tim masuk.
Raka adalah orang pertama yang berlari ke arahku.
Aku melihat diriku sendiri tergeletak di lantai.
Tidak bergerak.
Raka berlutut di sampingku.
Tangannya menekan luka di lenganku sambil berteriak meminta petugas medis.
“Laras, buka mata.”
Tidak ada respons.
“Sayang, tolong buka mata.”
Aku menatap layar tanpa berkedip.
Suara Raka dalam rekaman semakin pecah.
“Maaf.”
Ia mencium dahiku.
“Maafkan aku.”
Aku tidak pernah mengetahui bagian itu.
Karena saat itu aku sudah kehilangan kesadaran.
Raka mematikan rekaman.
“Aku ikut ambulans sampai rumah sakit.”
Aku menatapnya.
“Tapi ketika aku sadar, kamu tidak ada.”
Raka mengangguk perlahan.
“Ayahmu mengusirku.”
Dadaku seperti dipukul.
“Apa?”
“Dia bilang kamu tidak ingin melihatku lagi.”
Aku terdiam.
“Ayah juga bilang kepadaku bahwa kamu meminta cerai.”
“Itu memang benar.”
“Tapi bukan pada hari itu.”
Raka mengeluarkan sesuatu dari dompetnya.
Selembar kertas yang sudah dilipat berkali-kali.
“Ayahmu memberikannya kepadaku tiga hari setelah operasi amputasimu.”
Tulisan di atasnya mirip tulisan tanganku.
Raka, jangan datang lagi. Aku tidak ingin melihatmu. Pilihanmu hari itu sudah cukup menjelaskan semuanya.
Aku menatap kertas itu lama.
“Aku tidak pernah menulis ini.”
Raka membeku.
Untuk pertama kalinya selama lima tahun, kami sama-sama menyadari bahwa ada sesuatu yang jauh lebih besar telah terjadi di antara kami.
Namun sebelum kami sempat bicara lagi, seorang petugas datang tergesa-gesa.
“Komandan.”
Raka menoleh.
“Kami sudah memeriksa identitas penyerang tadi.”
“Ada apa?”
“Namanya Dimas Prasetyo.”
Wajah Raka langsung berubah.
Aku mengenali nama itu.
Dimas adalah adik dari penculik yang menyerang kami lima tahun lalu.
Petugas itu melanjutkan, “Dia mengaku datang ke rumah sakit karena tahu Dokter Laras bekerja di sini.”
Darahku terasa dingin.
“Dia sengaja mencariku?”
Petugas itu mengangguk.
“Dan dia mengatakan satu hal lagi.”
“Apa?”
“Katanya penculikan lima tahun lalu bukan operasi balas dendam terhadap kepolisian.”
Raka maju satu langkah.
“Lalu?”
Petugas itu menatapku.
“Target sebenarnya sejak awal adalah Dokter Laras.”
Aku merasa seluruh ruangan berputar.
“Kenapa aku?”
“Dia belum mau menjelaskan. Tapi kami menemukan beberapa transfer lama ke rekening kakaknya sebelum penculikan.”
“Dari siapa?”
Petugas itu ragu.
“Rekening perusahaan milik keluarga Dokter.”
Aku tidak langsung memahami maksudnya.
Sampai satu nama muncul di kepalaku.
Ayah.
Malam itu juga polisi membuka kembali penyelidikan.
Dua hari kemudian, kebenaran yang terkubur selama lima tahun akhirnya muncul.
Ayahku tidak pernah menyukai Raka.
Menurutnya, seorang polisi lapangan tidak pantas menjadi suami satu-satunya putri keluarga pemilik jaringan rumah sakit besar.
Namun itu bukan alasan utama.
Beberapa bulan sebelum penculikan, aku menemukan manipulasi pembelian alat medis di salah satu perusahaan keluarga. Ada perangkat bekas yang dicatat sebagai barang baru dengan harga berkali-kali lipat.
Aku berniat melaporkannya.
Ayah mengetahuinya.
Ia membayar seseorang untuk menakutiku agar menyerahkan bukti.
Bukan untuk membunuhku.
Setidaknya itulah pengakuannya.
Namun orang yang dibayar ternyata memiliki hubungan dengan jaringan kriminal yang sedang diselidiki unit Raka.
Mereka kemudian mengubah rencana.
Menculikku dan Citra sekaligus.
Satu tindakan pengecut menghancurkan begitu banyak kehidupan.
Ayah ditangkap.
Aku tidak menangis ketika melihatnya dibawa pergi.
Aku hanya bertanya satu hal.
“Kenapa Ayah memalsukan suratku?”
Ia menatapku lama.
“Karena setelah kehilangan tanganmu, kamu membutuhkan hidup yang tenang.”
“Itu bukan jawaban.”
“Raka akan selalu membawa bahaya.”
Aku tersenyum pahit.
“Jadi Ayah menghancurkan pernikahanku demi melindungiku?”
Ia tidak menjawab.
Saat itulah aku memahami sesuatu.
Ada orang yang melukai kita karena membenci kita.
Namun ada juga orang yang menghancurkan hidup kita sambil meyakinkan dirinya sendiri bahwa semua itu dilakukan demi cinta.
Tiga bulan berlalu.
Suatu sore aku keluar dari rumah sakit dan menemukan Raka berdiri di dekat gerbang.
Bahunya sudah sembuh.
Ia tidak mendekat.
Tidak memaksaku bicara.
Selama tiga bulan itu ia melakukan hal yang sama setiap Jumat.
Datang.
Berdiri beberapa menit.
Lalu pergi.
Hari itu aku akhirnya menghampirinya.
“Kamu mau berdiri di sini sampai kapan?”
Raka tersenyum tipis.
“Sampai kamu menyuruhku berhenti.”
Aku memandang tangan kananku.
Prostetik baru yang kupakai jauh lebih canggih daripada yang pertama.
Raka mengikuti tatapanku.
“Aku tidak akan meminta kita kembali seperti dulu,” katanya.
“Bagus.”
“Karena kita memang tidak bisa kembali.”
Aku menatapnya.
Ia melanjutkan, “Tapi kalau kamu mengizinkan, aku ingin mengenal Laras yang sekarang.”
Untuk pertama kalinya setelah lima tahun, aku tertawa kecil.
“Mulai dari nol?”
“Kalau perlu, dari minus seratus.”
Aku mengulurkan tangan kiriku.
Raka menatapnya.
Kemudian menjabatnya perlahan.
“Laras.”
“Raka.”
Seperti dua orang asing yang baru bertemu.
Aku pikir itulah akhir dari semuanya.
Ternyata aku salah.
Enam bulan kemudian, Citra datang ke rumah sakit membawa seorang anak perempuan berusia sekitar empat tahun.
Anak itu berlari ke arahku dan memeluk kakiku.
“Tante Laras!”
Aku terkejut.
Citra tertawa sambil mengejarnya.
“Maaf, Dok. Dia lihat foto Dokter di rumah.”
Aku berjongkok.
“Namamu siapa?”
“Aluna.”
Aku tersenyum.
“Cantik sekali.”
Citra tiba-tiba terdiam.
Matanya berkaca-kaca.
“Ada sesuatu yang belum pernah saya ceritakan.”
Aku berdiri.
Citra menggenggam tangan anak itu.
“Setelah kejadian lima tahun lalu, saya terus merasa bersalah karena Komandan memilih saya.”
“Citra…”
“Tapi ada alasan lain kenapa saya begitu takut mati hari itu.”
Tangannya menyentuh kepala Aluna.
“Saat diculik, saya sedang hamil enam minggu.”
Aku membeku.
Citra tersenyum sambil menangis.
“Tidak ada yang tahu. Bahkan Komandan Raka.”
Aku menatap anak kecil di hadapanku.
“Jadi waktu itu…”
Citra mengangguk.
“Bukan hanya saya yang dia selamatkan.”
Aku tidak tahu harus mengatakan apa.
Selama lima tahun aku mengira Raka memilih satu kehidupan dan mengorbankan kehidupan lain.
Ternyata hari itu tidak pernah sesederhana itu.
Tidak ada seorang pun di gudang itu yang mengetahui seluruh kebenaran.
Tidak Raka.
Tidak aku.
Bahkan mungkin tidak Citra.
Aluna tiba-tiba memegang tangan prostetikku.
“Tante, tangan Tante robot?”
Aku tertawa kecil.
“Iya.”
“Keren.”
Hanya satu kata.
Keren.
Bukan cacat.
Bukan kasihan.
Bukan luka.
Aku menatap tangan yang selama bertahun-tahun kuanggap sebagai bukti bahwa sebagian diriku telah direnggut.
Untuk pertama kalinya, aku melihatnya dengan cara berbeda.
Raka tidak pernah bisa mengembalikan tangan kananku.
Aku tidak pernah bisa mendapatkan kembali lima tahun yang hilang.
Dan mengetahui kebenaran tidak serta-merta menghapus rasa sakit.
Tetapi mungkin sembuh memang bukan berarti kembali menjadi orang yang sama seperti sebelum terluka.
Mungkin sembuh berarti menerima bahwa ada bagian dari diri kita yang telah berubah, lalu tetap memilih menjalani hidup tanpa membiarkan luka itu menentukan siapa kita.
Aluna masih menggenggam jari prostetikku.
Aku menggerakkannya perlahan.
Mata anak itu membesar.
“Wah!”
Aku tertawa.
Dan entah kenapa, untuk pertama kalinya sejak hari di gudang itu, suara tawaku tidak terasa seperti milik seseorang yang sedang berusaha melupakan masa lalu.
Suara itu benar-benar milikku.
