AKU SALAH MENGGANDENG TANGAN MAHASISWA PEMALU SEJAUH LIMA KILOMETER, LALU TEMAN-TEMAN KAMI MENGUBAHNYA MENJADI GOSIP SATU KAMPUS

Wulan tidak langsung menjawab.

Dia malah mundur selangkah sambil memeluk sebungkus keripik kentang ke dada, seolah benda itu bisa melindunginya dari amarahku.

“Jangan lihat aku seperti itu.”

“Wulan.”

“Aku cuma membantu.”

“Membantu menghancurkan harga diriku?”

“Bukan. Membantu kehidupan percintaanmu.”

Aku mengejarnya di antara rak makanan ringan sampai seorang pegawai supermarket menatap kami dengan curiga. Wulan akhirnya berlindung di balik troli seorang ibu sambil tertawa sampai hampir menangis.

Aku baru berhenti setelah ponselku bergetar.

Sebuah pesan WhatsApp masuk.

Nomor baru.

Raka Mahendra.

Aku langsung diam.

Wulan yang tadi masih tertawa mendadak muncul di samping bahuku.

“Dia chat?”

Aku buru-buru menutupi layar.

“Privasi.”

“Lima kilometer pegangan tangan sama orang asing nggak masalah, tapi aku lihat chat saja privasi?”

Aku mengabaikannya dan membuka pesan itu.

Maaf soal teman-temanku tadi.

Hanya enam kata.

Anehnya, aku bisa membayangkan Raka membutuhkan waktu lima menit hanya untuk mengetik kalimat sesederhana itu.

Aku tersenyum kecil lalu membalas.

Harusnya aku yang minta maaf. Tanganku menculik tanganmu tanpa izin.

Tanda bahwa dia sedang mengetik muncul.

Hilang.

Muncul lagi.

Hilang lagi.

Hampir dua menit kemudian, balasannya datang.

Tidak apa-apa.

Beberapa detik setelahnya, muncul pesan kedua.

Sebenarnya tidak sampai lima kilometer.

Aku menatap layar.

Lalu tertawa keras.

Wulan langsung merebut ponselku.

“Wah! Ternyata bisa bercanda juga!”

Aku merebutnya kembali.

Raka mengirim pesan lagi.

Menurut aplikasi langkah di jam saya, sekitar 1,8 kilometer.

Aku tertawa semakin keras.

Ternyata di balik wajah pemalu itu ada manusia yang cukup menyebalkan.

Aku membalas.

Berarti kalau ketemu lagi, kita lanjut 3,2 kilometer supaya genap lima?

Kali ini tanda mengetik muncul cukup lama.

Aku menunggu.

Satu menit.

Dua menit.

Lalu balasannya masuk.

Boleh.

Aku tidak tahu kenapa satu kata itu membuatku terdiam.

Mungkin karena aku membayangkan wajahnya yang memerah saat mengetiknya.

Mungkin juga karena untuk pertama kalinya aku merasa kejadian memalukan di supermarket tadi tidak sepenuhnya buruk.

Sayangnya, aku belum tahu bahwa dalam waktu kurang dari dua puluh empat jam, seluruh kampus akan mengetahui kejadian itu.

Keesokan paginya, aku baru saja memasuki gerbang kampus ketika dua mahasiswi yang berjalan dari arah berlawanan menatapku sambil berbisik.

Awalnya aku tidak peduli.

Kemudian seorang mahasiswa dari fakultas lain melewatiku sambil berkata kepada temannya cukup keras untuk kudengar.

“Itu, kan?”

“Iya. Yang gandeng Raka.”

Langkahku berhenti.

Aku menoleh.

Mereka langsung mempercepat langkah.

Perasaanku mulai tidak enak.

Begitu sampai di kelas, Wulan sudah duduk di bangkunya dengan ekspresi seorang terdakwa yang menunggu vonis mati.

Aku meletakkan tas perlahan.

“Wulan.”

“Selamat pagi.”

“Apa yang kamu lakukan?”

“Aku sayang kamu.”

“Apa yang kamu lakukan?”

Dia mengangkat ponselnya dengan tangan gemetar.

Ternyata salah satu teman Raka mengunggah foto kami di grup komunitas kampus.

Foto itu diambil dari belakang saat aku sedang menggandeng tangan Raka di supermarket.

Masalahnya, sudut pengambilannya sangat sempurna.

Aku terlihat sedang menarik Raka dengan santai, sementara dia berjalan di sampingku dengan kepala sedikit menunduk.

Tulisan di bawah foto jauh lebih mengerikan.

Mahasiswi semester lima berhasil membawa pulang mahasiswa paling susah didekati hanya dengan menggandeng tangannya.

Unggahan itu sudah tersebar ke beberapa grup.

Bahkan ada yang menambahkan cerita bahwa aku dan Raka sebenarnya sudah berpacaran diam-diam selama enam bulan.

Versi lain mengatakan kami dijodohkan keluarga.

Versi paling gila menyebut Raka melamarku di lorong makanan beku.

“Aku bahkan nggak lewat lorong makanan beku!” seruku.

Wulan menepuk bahuku.

“Fokusmu aneh.”

Ponselku terus bergetar.

Teman-teman sekelas mulai mengirim foto yang sama.

Beberapa bertanya sejak kapan aku pacaran.

Yang lain meminta traktiran.

Aku langsung membuka WhatsApp Raka.

Namun sebelum sempat mengetik, sebuah pesan darinya masuk.

Maaf.

Aku mengerutkan kening.

Kenapa kamu yang minta maaf?

Balasannya baru muncul beberapa menit kemudian.

Temanku yang unggah. Sudah saya suruh hapus.

Aku menatap kata saya dan hampir tersenyum di tengah kekacauan.

Dia benar-benar berbicara seperti sedang mengirim email kepada dosen.

Aku mengetik.

Santai saja. Besok juga orang lupa.

Ternyata aku salah.

Orang-orang tidak lupa.

Justru semakin parah.

Saat makan siang di kantin, aku melihat Raka untuk pertama kalinya sejak kejadian supermarket.

Dia duduk di sudut bersama tiga temannya.

Begitu aku masuk, salah satu dari mereka langsung melihatku.

Pria berkaus abu-abu kemarin berdiri sambil melambai.

“Kak Nadia!”

Setengah kantin menoleh.

Aku ingin melempar nampan.

Raka langsung menundukkan kepala.

Aku berjalan ke meja mereka.

“Siapa yang unggah foto?”

Ketiganya serempak menunjuk pria berkaus abu-abu.

Dia menunjuk dirinya sendiri dengan wajah tidak percaya.

“Pengkhianat.”

“Nama kamu siapa?”

“Dimas.”

“Dimas, kalau kamu ingin melihat wisuda dengan kedua kaki masih utuh, jangan unggah foto orang sembarangan lagi.”

Dimas langsung mengangguk.

“Siap, Kak.”

Aku hendak pergi ketika mendengar suara pelan.

“Kak Nadia.”

Aku berhenti.

Raka menatapku.

Itu pertama kalinya dia memanggilku secara langsung.

Dan sialnya, pikiranku di supermarket kemarin terbukti benar.

Panggilan itu memang terdengar terlalu bagus keluar dari mulutnya.

“Ada apa?”

Dia berdiri.

“Bisa bicara sebentar?”

Dimas dan dua temannya langsung memasang ekspresi heboh.

Aku melotot kepada mereka sebelum mengikuti Raka keluar kantin.

Kami berhenti di taman kecil belakang gedung perpustakaan.

Raka berdiri sekitar satu meter dariku.

Tangannya masuk ke saku celana.

“Aku minta maaf.”

“Kamu sudah bilang itu.”

“Bukan cuma soal foto.”

Aku menatapnya.

Dia menarik napas.

“Ada orang yang mulai ngomong macam-macam tentang Kak Nadia.”

Aku terdiam.

Raka melanjutkan dengan susah payah.

“Mereka bilang Kak Nadia sengaja mendekati aku karena tahu keluargaku.”

Aku mengerutkan kening.

“Tahu keluargamu?”

Raka terlihat terkejut.

“Kak Nadia nggak tahu?”

“Nggak.”

Dia diam beberapa detik.

Barulah aku mengetahui bahwa ayah Raka memiliki perusahaan properti yang cukup besar di Jakarta. Nama keluarganya rupanya dikenal oleh beberapa mahasiswa karena perusahaan itu menjadi salah satu sponsor kegiatan kampus.

Aku benar-benar tidak tahu.

Kemarin aku bahkan tidak tahu namanya ketika menggandeng tangannya.

Aku tertawa tidak percaya.

“Jadi sekarang aku dianggap pemburu harta?”

Raka menunduk.

“Kurang lebih.”

Aku menghela napas.

Anehnya, bukan gosip itu yang membuatku kesal.

Yang membuatku kesal adalah ekspresi Raka.

Dia terlihat seperti merasa semua ini kesalahannya.

“Raka.”

Dia mengangkat kepala.

“Aku nggak peduli.”

Dia berkedip.

“Orang mau bilang aku mengejar hartamu, mengejar mobilmu, atau mengejar tanganmu sekalipun, terserah.”

Wajahnya langsung memerah ketika mendengar kalimat terakhir.

Aku hampir tertawa.

“Tapi kalau kamu merasa terganggu, kita bisa jaga jarak sampai gosipnya reda.”

Aku mengatakan itu dengan ringan.

Namun ekspresinya berubah.

Untuk pertama kalinya sejak mengenalnya, Raka langsung menatap mataku.

“Jangan.”

Aku terdiam.

Dia sendiri tampaknya terkejut mendengar suaranya.

“Kenapa?”

Raka membuka mulut.

Menutupnya lagi.

Aku menunggu.

Akhirnya dia berkata pelan, “Aku tidak terganggu kalau sama Kak Nadia.”

Jantungku seperti salah berdetak.

Sebelum aku sempat menjawab, dia buru-buru menambahkan, “Maksudku, gosipnya memang mengganggu. Tapi bukan Kak Nadia.”

Aku tersenyum.

“Paham.”

Sejak hari itu, sesuatu berubah.

Aku dan Raka mulai sering bertukar pesan.

Awalnya hanya beberapa kalimat sehari.

Kemudian menjadi puluhan.

Aneh sekali.

Di dunia nyata, Raka bisa menghabiskan tiga menit hanya untuk mengatakan bahwa kursi di sebelahku kosong.

Di WhatsApp, dia bisa mengirim lima paragraf untuk menjelaskan kenapa kopi sachet tertentu lebih enak daripada kopi mahal.

Aku mulai mengetahui banyak hal tentangnya.

Dia suka memasak ketika stres.

Dia membenci tempat ramai.

Dia pernah bersembunyi di toilet selama hampir satu jam karena harus menghadiri acara keluarga dengan seratus tamu.

Kecemasan sosialnya bukan sekadar sifat pemalu yang lucu.

Kadang-kadang tubuhnya benar-benar bereaksi.

Tangannya gemetar.

Dadanya sesak.

Pikirannya kosong ketika terlalu banyak orang memperhatikannya.

Suatu malam dia mengirim pesan kepadaku.

Waktu di supermarket itu sebenarnya aku sudah mau bilang kalau Kak Nadia salah orang.

Kenapa nggak bilang?

Sudah coba tiga kali.

Terus?

Nggak keluar suaranya.

Aku menatap pesan itu cukup lama.

Tiba-tiba kejadian yang selama ini kami tertawakan terasa berbeda.

Aku membalas.

Maaf kalau waktu itu bikin kamu nggak nyaman.

Balasannya datang.

Awalnya iya.

Lalu pesan kedua.

Setelah beberapa menit tidak terlalu.

Pesan ketiga muncul hampir semenit kemudian.

Tangan Kak Nadia hangat.

Aku membeku.

Lalu menutup wajah dengan bantal.

Untuk pertama kalinya, aku memahami bagaimana rasanya menjadi Raka.

Wulan yang sedang belajar di meja sebelah menoleh.

“Kenapa?”

“Nggak apa-apa.”

“Wajahmu merah.”

“Panas.”

“AC dua puluh derajat.”

“Diam.”

Hubungan kami terus berkembang tanpa nama.

Sampai dua minggu kemudian, gosip itu meledak lagi.

Seseorang mengunggah foto Raka sedang mengantarku pulang setelah hujan deras.

Keesokan harinya, akun anonim kampus membuat unggahan baru.

Katanya aku memanfaatkan Raka karena kekayaan keluarganya.

Komentarnya jauh lebih kejam daripada sebelumnya.

Aku mencoba bersikap tidak peduli.

Tetapi malam itu, untuk pertama kalinya, aku menangis diam-diam di kamar.

Bukan karena orang-orang menghinaku.

Aku hanya takut Raka akhirnya lelah.

Dan ketakutanku seolah terbukti ketika selama dua hari dia tidak mengirim satu pesan pun.

Hari ketiga, aku melihatnya di kampus.

Dia melewatiku begitu saja.

“Raka.”

Dia berhenti.

Namun tidak menoleh.

Dadaku terasa sesak.

“Kalau kamu memang mau jaga jarak, bilang saja.”

Raka berbalik.

Wajahnya terlihat pucat.

“Aku bukan menghindari Kak Nadia.”

“Lalu?”

Dia menatap sekeliling.

Ada banyak mahasiswa.

Terlalu banyak.

Tangannya mulai gemetar.

Aku langsung menyadarinya.

“Raka, nggak perlu jawab sekarang.”

Namun kali ini dia menggeleng.

“Aku capek.”

Aku terdiam.

Dia menarik napas dalam-dalam.

“Aku capek selalu takut.”

Beberapa orang mulai memperhatikan kami.

Raka jelas menyadarinya.

Wajahnya memerah.

Tetapi dia tidak pergi.

“Aku sudah takut bicara sama orang sejak SMA. Takut salah ngomong. Takut dilihat. Takut ditertawakan.”

Suaranya bergetar.

“Aku pikir kalau aku diam, semuanya lebih aman.”

Dia menatapku.

“Ternyata nggak.”

Mataku mulai panas.

Raka mengeluarkan ponselnya lalu menyerahkannya kepadaku.

Di layar terdapat sebuah unggahan baru.

Dari akun pribadinya.

Foto supermarket itu.

Foto pertama yang memulai seluruh kekacauan.

Namun kali ini ada tulisan dari Raka sendiri.

Dia menjelaskan bahwa aku memang salah menggandeng tangannya hari itu.

Bahwa aku sama sekali tidak mengenalnya.

Bahwa aku tidak tahu siapa keluarganya.

Dan kalimat terakhir membuatku tidak bisa berkata apa-apa.

Kalau sekarang saya sering bersama Nadia, itu bukan karena dia mengejar saya. Justru saya yang berharap dia tidak berhenti menggandeng tangan saya setelah hari itu.

Aku menatap Raka.

“Kamu unggah ini?”

Dia mengangguk.

“Kamu sadar satu kampus bisa baca?”

Dia mengangguk lagi.

“Kamu yang bahkan takut pesan makanan kalau kasirnya galak?”

Raka tertawa kecil.

“Iya.”

“Kenapa?”

Kali ini dia tidak membutuhkan waktu lama untuk menjawab.

“Karena aku lebih takut kehilangan Kak Nadia daripada takut sama orang-orang.”

Aku benar-benar kehilangan kata-kata.

Di sekitar kami, beberapa mahasiswa sudah terang-terangan melihat.

Bahkan terdengar seseorang berbisik.

Raka menarik napas.

Kemudian, perlahan-lahan, dia mengulurkan tangannya kepadaku.

Telapak tangannya terbuka.

Tangannya gemetar.

Aku menatap tangan itu.

Lalu wajahnya.

“Ini apa?”

Raka menelan ludah.

“Waktu pertama, Kak Nadia yang salah ambil.”

Aku hampir tertawa.

“Sekarang?”

“Sekarang aku kasih dengan sengaja.”

Aku menggenggam tangannya.

Hangat.

Sedikit berkeringat.

Persis seperti hari pertama.

Dari belakang tiba-tiba terdengar teriakan keras.

“Akhirnya!”

Aku menoleh.

Wulan, Dimas, dan dua teman Raka berdiri tidak jauh dari kami.

Entah sejak kapan mereka ada di sana.

Dimas bahkan mengangkat ponsel.

Aku langsung menunjuknya.

“Kalau kamu foto, aku bunuh!”

Dia buru-buru memasukkan ponsel ke saku.

“Nggak foto! Sumpah!”

Wulan malah tertawa sampai membungkuk.

Raka menggenggam tanganku sedikit lebih erat.

Aku menoleh kepadanya.

“Kamu sadar setelah ini gosipnya malah tambah parah?”

Dia mengangguk.

“Takut?”

Dia berpikir sebentar.

“Sedikit.”

Aku tersenyum.

“Kalau begitu, lepas saja.”

Raka langsung menggeleng.

“Nggak.”

Itu mungkin jawaban tercepat yang pernah keluar dari mulutnya.

Aku tertawa.

Beberapa bulan kemudian, aku baru mengetahui satu rahasia terakhir.

Ternyata foto supermarket yang pertama kali tersebar itu bukan diambil Dimas.

Wulan yang mengambilnya.

Dan lebih parah lagi, ketika aku salah menggandeng tangan Raka hari itu, Wulan sebenarnya sudah menyadarinya sejak tiga menit pertama.

Dia sengaja tidak memanggilku.

Saat aku mengetahui semuanya, aku mengejarnya mengelilingi kos sambil membawa bantal.

Wulan berlari sambil tertawa.

“Kalau waktu itu aku panggil, kalian nggak bakal jadian!”

“Kamu membiarkan aku menggandeng orang asing hampir dua kilometer!”

“Lihat hasilnya!”

Aku melempar bantal ke kepalanya.

Namun diam-diam aku tahu dia benar.

Kesalahan paling memalukan dalam hidupku justru membawaku kepada seseorang yang tidak pernah berani mengulurkan tangannya lebih dulu.

Dan mungkin itulah bagian paling aneh dari cinta.

Kadang-kadang, seseorang tidak datang dengan cara yang kita rencanakan.

Kadang kita bahkan salah mengenalinya.

Aku mengira sedang menggandeng tangan sahabatku.

Raka mengira dia terlalu takut untuk mencintai seseorang.

Kami berdua sama-sama salah.

Karena setahun kemudian, di supermarket yang sama, Raka kembali mengulurkan tangannya kepadaku.

Kali ini tidak gemetar.

Aku menggenggamnya sambil tersenyum.

Lalu sengaja berjalan melewati rak makanan ringan yang menjadi saksi kekacauan pertama kami.

“Masih ingat?” tanyaku.

Raka mengangguk.

“Masih.”

“Kalau sekarang aku salah orang lagi bagaimana?”

Dia menatapku cukup lama sebelum tersenyum.

Untuk seseorang yang dulu bahkan tidak berani mengatakan bahwa tangannya sedang digandeng perempuan asing, jawabannya kali ini terdengar sangat tenang.

“Nggak mungkin.”

“Kenapa?”

Jari-jarinya mengerat di sela jemariku.

“Karena sekarang aku yang nggak akan melepaskan.”

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang