PEREMPUAN PENGGANTI DALAM KENCAN BUTA ITU PINGSAN DI PELUKAN PRIA YANG SEJAK AWAL MENGETAHUI IDENTITAS PALSU NYA

Laras tidak langsung bergerak.

Tubuhnya masih lemas setelah demam tinggi, tetapi tatapan Citra dari balik jendela mobil membuat rasa dingin menjalar jauh lebih cepat daripada angin malam.

“Masuklah,” ulang Citra. “Aku tidak punya banyak waktu.”

Laras menatap kompleks kos yang hanya berjarak beberapa meter. Ia bisa saja berjalan pergi. Namun ia mengenal Citra cukup baik untuk tahu bahwa perempuan itu tidak akan datang sendiri tengah malam hanya untuk membicarakan sesuatu yang sepele.

Akhirnya Laras membuka pintu penumpang dan masuk.

Begitu pintu tertutup, aroma parfum mahal memenuhi ruang sempit itu.

Citra menatap jarum bekas infus di tangan Laras.

“Kamu sakit?”

“Bukan urusanmu.”

“Masih galak rupanya.”

“Kalau cuma mau mengejek, aku turun.”

Laras baru menyentuh gagang pintu ketika Citra berkata pelan.

“Raka sudah tahu.”

Tangan Laras berhenti.

“Apa?”

“Dia tahu kamu bukan aku.”

Untuk beberapa detik, Laras merasa suara kendaraan di jalan menghilang.

Ia menoleh perlahan.

Citra mengambil sebuah amplop cokelat dari kursi belakang dan melemparkannya ke pangkuan Laras.

Di dalamnya terdapat beberapa lembar foto.

Foto Laras keluar dari kampus.

Foto dirinya bekerja di bar.

Foto rumah kosnya.

Bahkan ada foto dirinya bersama Raka di depan restoran pada malam kencan buta pertama mereka.

Di sudut kanan bawah setiap foto tercetak tanggal.

Beberapa di antaranya diambil bahkan sebelum kencan itu berlangsung.

“Dari mana kamu mendapatkan ini?”

“Bukan aku yang menyelidikimu.”

Laras mengangkat kepala.

“Raka.”

Satu kata itu terasa seperti sesuatu yang menghantam dadanya.

Citra menyandarkan tubuhnya.

“Raka bukan laki-laki bodoh yang bisa kamu tipu hanya dengan gaun mahal dan riasan. Sebelum bertemu seseorang, orang-orangnya akan memeriksa latar belakang orang itu. Apalagi keluargaku sedang menjodohkan kami.”

“Kalau dia tahu, kenapa dia diam?”

“Itu yang seharusnya kamu tanyakan kepadanya.”

Laras menatap foto-foto di tangannya.

Mendadak setiap percakapan dengan Raka kembali terlintas.

Pertanyaan-pertanyaan kecilnya tentang Paris.

Tatapan anehnya saat Laras salah menyebut nama jalan.

Senyum tipisnya ketika Laras mengatakan keluarganya memiliki vila di Prancis.

Semua itu bukan karena Raka hampir mengetahui kebohongannya.

Raka memang sudah tahu.

Sejak awal.

Laras tertawa kecil, tetapi tidak ada kegembiraan di dalamnya.

“Jadi selama ini dia sedang menonton sandiwara saya?”

“Jangan merasa terlalu penting.”

Ucapan Citra membuat Laras menatapnya tajam.

“Aku datang bukan untuk membahas perasaanmu.”

“Lalu untuk apa?”

Ekspresi Citra berubah serius.

“Berhenti menemui Raka.”

Laras hampir tertawa lagi.

“Bukankah sejak awal itu yang kamu inginkan? Kamu membayar saya untuk menggantikanmu karena kamu tidak mau datang ke kencan itu.”

“Waktu itu berbeda.”

“Berbeda bagaimana?”

Citra terdiam beberapa detik.

“Aku pikir Raka akan menolakmu.”

Laras mengernyit.

Citra memalingkan wajah ke luar jendela.

“Aku sengaja memilihmu karena wajah kita cukup mirip. Aku memberimu pakaian, mengajarimu beberapa hal tentang keluargaku, lalu memintamu membuat Raka tidak tertarik. Seharusnya setelah satu malam semuanya selesai.”

“Dan sekarang?”

“Sekarang dia terus mencarimu.”

Laras membeku.

Citra menatapnya lagi.

“Dia membatalkan dua makan malam keluarga. Dia menolak ketika ayahku meminta pertemuan kedua. Dan tiga hari lalu, ketika keluargaku kembali membicarakan pertunangan, dia mengatakan sendiri bahwa dia tidak tertarik kepadaku.”

Laras menelan ludah.

“Lalu apa hubungannya dengan saya?”

“Jangan berpura-pura bodoh.”

Untuk pertama kalinya, kemarahan muncul di wajah Citra.

“Dia memilih perempuan yang bahkan tidak pernah ada.”

Kalimat itu membuat sesuatu dalam diri Laras terasa sakit.

Namun sebelum ia menjawab, ponsel Citra bergetar.

Nama yang muncul di layar membuat wajahnya berubah.

Ayah.

Citra langsung mematikan panggilan.

Beberapa detik kemudian pesan masuk.

Laras tidak bisa membaca seluruhnya, tetapi sempat melihat beberapa kata.

Besok pagi.

Raka.

Kesepakatan keluarga.

Citra buru-buru membalik ponselnya.

Saat itulah Laras mulai memahami sesuatu.

“Kamu takut.”

Citra menoleh.

“Kamu bukan marah karena saya menipu Raka. Kamu takut dia menolak perjodohan itu.”

“Jangan sok tahu.”

“Kalau cuma soal harga diri, kamu tidak akan datang ke kos saya tengah malam.”

Wajah Citra mengeras.

Laras melanjutkan dengan suara lebih pelan.

“Apa yang sebenarnya dipertaruhkan?”

Citra tidak menjawab.

Namun diamnya justru menjadi jawaban.

Laras meraih gagang pintu.

“Kalau kamu tidak mau bicara jujur, kita selesai.”

“Perusahaan ayahku sedang bermasalah.”

Laras berhenti.

Citra menundukkan kepala.

Untuk pertama kalinya sejak mereka bertemu, perempuan itu tidak terlihat seperti putri keluarga Adiningrat yang sempurna.

“Dua tahun terakhir, perusahaan keluarga kami kehilangan banyak proyek. Ayah mengambil pinjaman besar untuk mempertahankan bisnis. Kalau kerja sama dengan kelompok usaha keluarga Raka gagal, beberapa aset kami mungkin harus dijual.”

“Jadi perjodohan ini tentang bisnis?”

“Awalnya tidak sepenuhnya.”

Citra tersenyum pahit.

“Tapi sekarang semuanya sudah bercampur.”

Laras menatap perempuan di sampingnya dan tiba-tiba merasa kemarahannya sedikit surut.

Ternyata kemewahan pun bisa menjadi penjara.

Hanya dindingnya yang lebih mahal.

“Saya tidak ingin mengambil Raka darimu.”

Citra tertawa hambar.

“Masalahnya, mungkin kamu sudah melakukannya tanpa sadar.”

Laras membuka pintu.

“Saya tidak mengambil siapa pun. Raka bukan barang yang bisa kita perebutkan.”

Sebelum turun, ia menoleh.

“Dan kalau keluarga kalian membangun kesepakatan dengan menjadikan dua orang sebagai jaminan, mungkin sejak awal kesepakatan itu memang tidak seharusnya ada.”

Laras menutup pintu.

Ia berjalan menuju gerbang kos tanpa menoleh lagi.

Namun baru beberapa langkah, pandangannya mendadak berkunang-kunang.

Ia berhenti dan memegang pagar.

Demamnya ternyata belum benar-benar turun.

Dari kejauhan, sebuah mobil lain terparkir dalam gelap.

Galang yang berada di balik kemudi langsung meraih ponselnya.

“Pak, Mbak Laras sudah sampai di kos. Tapi tadi Mbak Citra menemuinya.”

Suara Raka berubah.

“Citra?”

“Mereka bicara di mobil sekitar lima belas menit.”

“Laras bagaimana?”

“Kelihatannya masih lemah.”

Hening sesaat.

“Jangan biarkan dia sendirian kalau kondisinya memburuk.”

“Baik, Pak.”

Keesokan paginya, Laras bangun dengan kepala berat.

Jam menunjukkan pukul tujuh lewat dua belas menit.

Presentasinya dimulai pukul sembilan.

Ia meminum obat, mandi dengan air hangat, lalu mengenakan kemeja putih dan celana hitam. Wajahnya masih pucat, sehingga ia mengoleskan sedikit riasan agar terlihat lebih sehat.

Saat hendak keluar, sebuah pesan masuk.

Raka.

Sudah bangun?

Laras menatap layar cukup lama.

Pesan kedua muncul.

Jangan bilang kamu pergi ke kampus.

Laras hampir tersenyum.

Namun setelah percakapannya dengan Citra semalam, ada rasa pahit yang muncul.

Ia mengetik.

Saya ada presentasi.

Balasan datang hampir seketika.

Kamu baru keluar dari rumah sakit.

Saya tahu.

Tiga titik muncul.

Kemudian menghilang.

Muncul lagi.

Akhirnya Raka hanya menulis satu kalimat.

Kita perlu bicara.

Laras mematikan layar.

Tidak sekarang.

Ia harus menyelesaikan satu hal terlebih dahulu.

Presentasi berlangsung hampir empat puluh menit.

Laras berdiri di depan dosen dan mahasiswa lain sambil menahan tubuhnya agar tidak gemetar. Anehnya, begitu mulai berbicara, pikirannya menjadi jernih.

Semua malam yang ia habiskan bekerja sambil kuliah, semua rasa lelah, dan semua ketakutannya kehilangan beasiswa seolah berkumpul menjadi tenaga terakhir.

Ketika presentasi selesai, dosennya menutup laptop.

“Bagus, Laras.”

Hanya dua kata.

Namun mata Laras terasa panas.

Setidaknya ada satu hal dalam hidupnya yang ia dapatkan tanpa berpura-pura menjadi orang lain.

Ketika keluar dari gedung kampus, ia melihat sebuah mobil hitam terparkir di seberang jalan.

Raka berdiri di sampingnya.

Laras berhenti.

Raka berjalan menghampiri.

“Kamu benar-benar datang ke kampus.”

“Saya bilang saya punya presentasi.”

“Kamu juga bilang akan menghubungi saya setelah sampai kos.”

Laras terdiam.

Raka memperhatikan wajahnya.

“Masih demam?”

“Sudah lebih baik.”

Tangannya hampir menyentuh kening Laras, tetapi gadis itu mundur.

Gerakan kecil itu membuat Raka berhenti.

“Kamu sudah tahu.”

Raka tidak bertanya apa maksudnya.

Ia hanya menurunkan tangannya.

“Citra menemuimu semalam.”

“Jawab pertanyaan saya.”

Tatapan mereka bertemu.

“Sejak kapan?”

Raka menarik napas.

“Sejak sebelum kencan pertama.”

Meski sudah mendengar hal itu dari Citra, mendengarnya langsung tetap terasa menyakitkan.

“Jadi saya ini apa?”

“Laras.”

“Jangan.”

Suaranya bergetar.

“Jangan panggil nama saya seolah semuanya baik-baik saja.”

Beberapa mahasiswa yang lewat mulai melirik.

Raka membuka pintu mobil.

“Kita bicara di tempat lain.”

“Tidak perlu.”

“Laras.”

“Saya cuma ingin tahu satu hal. Kenapa?”

Raka menatapnya lama.

“Karena saya ingin tahu kenapa seorang mahasiswi bernama Laras Prameswari bersedia menyamar sebagai Citra Adiningrat.”

“Dan setelah tahu?”

“Saya tetap ingin mengenalmu.”

Jawaban itu terlalu sederhana hingga Laras justru semakin marah.

“Anda membiarkan saya berbohong.”

“Karena setiap kali kamu berbohong tentang siapa dirimu, kamu justru menunjukkan lebih banyak tentang dirimu yang sebenarnya.”

Laras terdiam.

Raka melanjutkan.

“Citra asli tidak pernah bekerja sampai pukul dua pagi lalu masuk kuliah pukul delapan. Dia tidak menghitung harga makanan sebelum memesannya. Dia juga tidak akan mengembalikan pakaian yang saya berikan setelah mencucinya sendiri dan menulis terima kasih di selembar kertas.”

Wajah Laras memanas.

“Anda membaca itu?”

“Ya.”

“Saya mau mengakhiri semuanya.”

Tatapan Raka berubah.

“Apa?”

“Tidak ada lagi pertemuan. Tidak ada lagi makan malam. Tidak ada lagi sandiwara.”

“Karena Citra memintamu?”

“Karena saya capek.”

Laras menarik napas.

“Saya capek menjadi orang yang selalu harus menggantikan orang lain supaya bisa mendapatkan uang. Saya capek bertanya apakah seseorang bicara kepada saya karena saya Laras atau karena wajah saya mirip Citra.”

Ia menatap Raka.

“Dan saya tidak mau menjadi alasan keluarga orang lain hancur.”

Raka hendak menjawab ketika sebuah sedan abu-abu berhenti beberapa meter dari mereka.

Seorang pria berusia sekitar lima puluhan turun.

Wajah Laras langsung pucat.

Pria itu adalah Surya Adiningrat, ayah Citra.

Namun yang mengejutkan bukan kehadirannya.

Melainkan ekspresi pria itu saat melihat Laras.

Surya berdiri membeku.

Map di tangannya terjatuh.

Beberapa dokumen berserakan di trotoar.

Ia menatap Laras seolah baru melihat seseorang yang seharusnya sudah mati.

“Kamu…”

Raka bergerak sedikit ke depan.

“Pak Surya?”

Namun Surya tidak memedulikannya.

Ia mendekati Laras dengan langkah gemetar.

“Siapa nama ibumu?”

Laras mengernyit.

“Apa?”

“Nama ibumu.”

“Saya tidak tahu kenapa Bapak bertanya.”

“Jawab!”

Suara itu membuat Laras tersentak.

“Ratih Prameswari.”

Wajah Surya kehilangan seluruh warnanya.

Ia mundur satu langkah.

Raka segera menyadari ada sesuatu yang jauh lebih besar daripada masalah perjodohan.

“Bapak mengenal ibunya?”

Surya tidak menjawab.

Tangannya gemetar ketika mengambil ponsel. Ia membuka sebuah foto lama.

Dalam foto itu berdiri seorang perempuan muda.

Di sampingnya ada Surya yang masih berusia sekitar dua puluhan.

Perempuan itu memiliki mata yang sama dengan Laras.

“Tidak mungkin,” bisik Surya.

Laras merasakan tengkuknya dingin.

“Siapa perempuan itu?”

Surya menatapnya.

“Ratih.”

Dunia Laras seakan berhenti.

Surya kemudian membuka dokumen yang tadi jatuh.

Salah satunya adalah hasil pemeriksaan lama dari sebuah rumah sakit di Bandung.

“Tiga puluh tahun lalu, Ratih bekerja untuk keluarga kami. Setelah dia pergi, kami kehilangan kontak. Beberapa tahun kemudian, istri saya melahirkan Citra.”

Ia berhenti.

“Ada komplikasi. Rumah sakit mengatakan salah satu bayi tidak selamat.”

Laras tidak memahami maksudnya.

Sampai Raka mengambil dokumen itu.

Matanya bergerak cepat membaca setiap baris.

Lalu ekspresinya berubah.

“Pak Surya.”

Suara Raka sangat pelan.

“Di sini tertulis bayi kembar.”

Laras membeku.

Surya menutup mata.

“Ya.”

Napas Laras terasa tercekat.

“Tidak.”

“Citra punya saudara kembar,” lanjut Surya. “Kami diberi tahu bahwa bayi kedua meninggal beberapa jam setelah lahir.”

Laras menggeleng.

“Itu tidak ada hubungannya dengan saya.”

Namun Surya menatap wajahnya.

Wajah yang hampir sama persis dengan putrinya.

“Ratih bekerja di rumah sakit itu setelah meninggalkan keluarga kami.”

Laras mundur.

Potongan-potongan yang selama ini tidak masuk akal mendadak tersusun sendiri.

Mengapa wajahnya sangat mirip Citra.

Mengapa Citra begitu mudah menjadikannya pengganti.

Mengapa ibunya selalu menghindari pertanyaan tentang ayah kandungnya.

Dan mengapa sebelum meninggal lima tahun lalu, Ratih pernah mengatakan satu kalimat aneh.

Kalau suatu hari kamu bertemu seseorang yang wajahnya seperti kamu, jangan membencinya.

Laras selama ini mengira ibunya sedang mengigau.

Tangannya mulai gemetar.

“Citra… saudara saya?”

Surya tidak mampu menjawab.

Tiba-tiba terdengar suara dari belakang.

“Bukan.”

Mereka semua menoleh.

Citra berdiri beberapa meter dari sana.

Matanya merah.

Di tangannya ada sebuah amplop putih.

“Aku sudah melakukan tes DNA tiga minggu lalu.”

Laras menatapnya tidak percaya.

Citra berjalan mendekat dan menyerahkan amplop itu.

“Aku menemukan foto Ibu Ratih di ruang kerja Ayah. Karena itu aku mencarimu. Karena itu juga aku memilihmu untuk menggantikanku dalam kencan buta.”

Suara Citra pecah.

“Aku sudah curiga sejak pertama kali melihat wajahmu.”

Laras membuka hasil pemeriksaan dengan tangan gemetar.

Probabilitas hubungan saudara kandung biologis menunjukkan angka yang hampir pasti.

Air mata Laras jatuh tanpa ia sadari.

“Kenapa kamu tidak bilang?”

Citra menahan tangis.

“Karena aku takut.”

“Takut apa?”

“Takut kalau ternyata benar.”

Citra menatapnya.

“Seumur hidup aku menjadi anak tunggal. Lalu tiba-tiba ada seseorang dengan wajahku, darahku, bahkan mungkin hak yang sama atas keluarga yang kupikir hanya milikku.”

Laras menatap perempuan di hadapannya.

Untuk pertama kalinya, ia tidak melihat Citra sebagai perempuan kaya yang memanfaatkannya.

Ia melihat seorang perempuan yang sama ketakutannya dengan dirinya.

“Jadi kencan buta itu…”

“Aku sengaja memilihmu.”

Citra tersenyum getir di antara air matanya.

“Aku pikir kalau aku mendekatkanmu dengan seseorang dari lingkaran keluarga, aku bisa mencari tahu siapa dirimu tanpa membuat Ayah curiga.”

Raka menatap Citra.

“Jadi sejak awal kita semua saling membohongi.”

Tidak seorang pun membantah.

Citra membohongi Raka.

Laras membohongi Raka.

Raka mengetahui kebohongan Laras tetapi berpura-pura tidak tahu.

Dan sebuah keluarga menyimpan rahasia selama lebih dari dua puluh tahun.

Laras menatap hasil DNA di tangannya.

Tiba-tiba semua yang selama ini ia kejar terasa berbeda.

Ia tidak pernah membutuhkan nama keluarga besar.

Tidak membutuhkan rumah mewah.

Tidak membutuhkan warisan.

Yang ia inginkan sejak kecil hanyalah mengetahui mengapa hidupnya selalu terasa seperti potongan cerita yang kehilangan halaman pertama.

Kini halaman itu akhirnya ditemukan.

Namun isinya jauh lebih menyakitkan daripada yang pernah ia bayangkan.

Laras mengusap air matanya.

“Saya tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi dua puluh tiga tahun lalu.”

Ia memandang Surya, lalu Citra.

“Tapi saya tidak mau menjalani hidup sebagai pengganti siapa pun lagi.”

Kemudian ia menoleh kepada Raka.

“Termasuk menjadi pengganti Citra di hidup Anda.”

Raka mendekat satu langkah.

“Kamu tidak pernah menjadi penggantinya.”

Laras menatapnya.

Raka mengeluarkan secarik kertas kecil dari saku jas.

Kertas yang ditulis Laras malam sebelumnya.

Terima kasih, Om, untuk semuanya.

“Orang yang saya tunggu sadar semalaman di rumah sakit bukan Citra Adiningrat.”

Suara Raka tenang.

“Orang yang membuat saya turun kembali ke Bukit Dago hanya untuk mencari kantong kertas basah juga bukan Citra.”

Ia menatap Laras tepat di mata.

“Dan perempuan yang sejak awal ingin saya kenal bukan perempuan yang datang memakai nama palsu itu.”

Raka meletakkan kertas tersebut di telapak tangan Laras.

“Namanya Laras Prameswari.”

Untuk pertama kalinya sejak mengetahui seluruh kebenaran, Laras menangis bukan karena takut.

Di sampingnya, Citra ikut menunduk sambil menyeka air mata.

Surya berdiri tanpa mampu berkata apa-apa.

Pagi itu, di trotoar sederhana di depan kampus, tidak ada lagi perempuan kaya dan perempuan pengganti.

Tidak ada Citra asli dan Citra palsu.

Yang ada hanyalah dua perempuan muda yang selama dua puluh tiga tahun hidup di dua dunia berbeda tanpa mengetahui bahwa mereka pernah memulai kehidupan dari tempat yang sama.

Dan Laras akhirnya memahami sesuatu.

Kebohongan memang membawa dirinya bertemu Raka.

Namun justru ketika seluruh kebohongan itu runtuh, untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia tidak perlu menjadi siapa pun selain dirinya sendiri.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang