“Saya sudah punya pacar.”
Kalimat itu keluar lebih tenang daripada yang kubayangkan.
Namun sesaat setelah mengucapkannya, aku melihat sesuatu berubah di mata Raka.
Hanya sepersekian detik.
Lalu wajahnya kembali datar.
“Begitu?”
“Iya.”
“Kalau begitu, aku semakin tidak mengerti.” Raka bersandar di sofa. “Perempuan yang sudah punya pacar datang ke kamar mantannya hampir tengah malam, mengenakan gaun seperti itu, lalu membuka kancing bajunya demi meminta uang. Pacarmu pasti orang yang sangat pengertian.”
Sindiran itu menusuk tepat ke tempat yang paling ingin kusembunyikan.
Aku mengepalkan tangan.
“Ini bukan soal uang untuk saya pribadi.”
“Semua orang mengatakan hal yang sama ketika membutuhkan uang.”
“Film itu melibatkan hampir enam puluh orang. Ada kru yang sudah bekerja berbulan-bulan. Kalau sponsor mundur sekarang, bukan cuma saya yang rugi.”
Raka menatapku cukup lama.
“Dan itu urusanku?”

Aku terdiam.
Tentu saja bukan.
Enam tahun lalu, aku sendiri yang memastikan bahwa semua urusanku tidak lagi ada hubungannya dengan dia.
Aku berdiri.
“Maaf sudah mengganggu.”
Aku baru melangkah dua langkah ketika suara Raka terdengar.
“Siapa pacarmu?”
Aku berhenti.
“Tidak penting.”
“Bukankah kamu baru saja menjadikannya alasan?”
Aku menoleh. “Pak Raka ingin membantu saya atau tidak?”
“Tidak.”
Jawabannya terlalu cepat.
Dadaku terasa kosong, tetapi aku mengangguk.
“Baik.”
Aku berjalan menuju pintu.
“Tapi aku bisa membeli proyek filmmu.”
Tanganku berhenti di gagang pintu.
Aku menoleh perlahan.
Raka masih duduk dengan posisi yang sama.
“Bukan berinvestasi,” lanjutnya. “Aku membeli seluruh proyeknya. Hak produksi, distribusi, keputusan kreatif, semuanya.”
Aku tertawa kecil karena tidak percaya.
“Itu sama saja dengan mengambil film saya.”
“Bukankah kamu datang karena membutuhkan dana?”
“Saya membutuhkan investor, bukan pemilik baru.”
“Kalau begitu kita tidak punya urusan.”
Aku menatapnya beberapa detik sebelum akhirnya membuka pintu.
Saat hampir keluar, Raka berkata lagi.
“Laras.”
Itu pertama kalinya malam itu dia memanggil namaku tanpa embel-embel Nona.
Aku menoleh.
Tatapannya jatuh pada luka di betisku.
“Obati lukamu.”
Entah mengapa, kalimat sederhana itu justru lebih menyakitkan daripada semua hinaannya.
Aku pergi tanpa menjawab.
Keesokan paginya, masalah yang sebenarnya baru dimulai.
Kak Mira menelepon ketika aku baru tidur dua jam.
“Laras, Wira menarik pendanaannya.”
Aku langsung duduk.
“Berapa?”
“Semuanya.”
Aku memejamkan mata.
Kak Mira melanjutkan dengan suara bergetar. “Dua sponsor lain ikut mundur. Katanya mereka sedang mengevaluasi ulang kerja sama.”
Itu bukan evaluasi.
Itu tekanan.
Dalam industri seperti ini, orang tidak perlu menghancurkanmu dengan terang-terangan. Cukup membuat beberapa telepon, menutup beberapa pintu, lalu membiarkanmu kehabisan napas sendiri.
Aku datang ke kantor sebelum pukul sembilan.
Ruangan kecil yang kusewa di Kemang sudah penuh. Produser, editor, penata kamera, bagian keuangan, semuanya menunggu.
Tak seorang pun menyalahkanku.
Itulah yang membuatnya lebih buruk.
Selama empat tahun terakhir, perusahaan kecil ini kubangun dari proyek iklan, video musik, dokumenter, dan film pendek. Film panjang pertama kami seharusnya menjadi langkah terbesar.
Sekarang kami bahkan mungkin tidak sanggup membayar gaji bulan depan.
“Aku akan cari dana lain,” kataku.
Kak Mira menatapku.
“Dalam tiga minggu?”
“Aku akan cari.”
Aku mengatakannya seolah yakin.
Padahal rekening perusahaan hanya cukup untuk bertahan dua puluh enam hari.
Selama seminggu berikutnya, aku menemui siapa pun yang bersedia mendengarkan.
Delapan pertemuan.
Lima penolakan.
Tiga orang mengatakan akan mempertimbangkan, lalu tidak pernah membalas pesan.
Pada hari kesembilan, seseorang akhirnya menghubungiku.
Bukan investor.
Rumah sakit.
Ibuku kembali masuk ruang perawatan.
Aku tiba di rumah sakit di Jakarta Barat menjelang malam. Ibu terlihat semakin kecil di atas ranjang. Penyakit ginjalnya memburuk, dan dokter mengatakan ada beberapa pemeriksaan tambahan yang harus segera dilakukan.
Aku berdiri di depan bagian administrasi sambil menatap angka pada layar.
Jumlahnya tidak sebesar biaya produksi film.
Namun saat itu bahkan angka sekecil apa pun terasa seperti gunung.
Aku membuka aplikasi bank.
Tabunganku hampir habis.
Tiba-tiba ponselku bergetar.
Pesan dari nomor yang tidak kukenal.
“Besok pukul sepuluh. Adinata Capital. Bawa proposal filmmu.”
Aku membaca pesan itu tiga kali.
Kemudian sebuah nama muncul di bawahnya.
Dimas Prasetyo, Direktur Investasi.
Aku seharusnya merasa lega.
Sebaliknya, telapak tanganku menjadi dingin.
Adinata Capital adalah perusahaan milik Raka.
Besoknya aku datang.
Bukan Raka yang menemuiku, melainkan Dimas, pria berusia sekitar empat puluh tahun dengan kacamata tipis dan sikap profesional.
Dia membaca proposal selama hampir satu jam.
“Secara komersial, proyek ini berisiko,” katanya.
Aku mengangguk.
“Tapi skenarionya menarik.”
Aku menahan napas.
“Kami bersedia mendanai delapan puluh persen kebutuhan produksi.”
Aku hampir mengira salah dengar.
“Tapi ada syarat.”
Tentu saja.
“Pak Raka akan menjadi executive producer.”
Aku langsung berdiri.
“Tidak.”
Dimas mengangkat alis.
“Anda bahkan belum mendengar syarat lainnya.”
“Tidak perlu.”
Aku mengambil proposal.
Dimas tidak mencegahku.
Dia hanya berkata, “Bu Laras, saya tidak tahu apa masalah pribadi Anda dengan Pak Raka. Tapi keputusan investasi ini dibuat setelah tim kami menilai proyek Anda. Kalau Anda menolaknya karena masalah pribadi, yang Anda korbankan bukan hanya diri sendiri.”
Langkahku terhenti.
Aku membenci kenyataan bahwa dia benar.
Akhirnya kontrak itu kutandatangani dua hari kemudian.
Sejak saat itu, hidupku berubah menjadi sesuatu yang hampir lucu.
Aku harus bertemu Raka tiga kali seminggu.
Dia tidak pernah terlambat.
Tidak pernah membicarakan masa lalu.
Tidak pernah menyentuhku.
Dan jauh lebih buruk daripada semua itu, dia memperlakukanku seperti orang asing.
“Lokasi ini terlalu mahal.”
“Karakter utama kehilangan motivasi di babak ketiga.”
“Jadwal produksi terlalu optimistis.”
Setiap komentarnya masuk akal.
Itu membuatku semakin kesal.
Suatu malam kami bertengkar hampir satu jam mengenai akhir film.
“Penonton tidak membutuhkan akhir bahagia,” kataku.
“Mereka membutuhkan akhir yang jujur.”
“Kadang-kadang orang tidak mendapat kesempatan kedua.”
Raka menatapku.
“Setidaknya kita sepakat soal itu.”
Ruangan langsung sunyi.
Aku menunduk pada naskah.
Beberapa luka rupanya tidak perlu disentuh untuk kembali berdarah.
Dua bulan kemudian, syuting dimulai.
Pada hari ketujuh belas, pemeran utama pria mengalami kecelakaan kecil di lokasi. Produksi berhenti sementara.
Pada hari yang sama, rumah sakit menelepon.
Kondisi Ibu memburuk.
Aku berlari meninggalkan lokasi tanpa sempat menjelaskan kepada siapa pun.
Ketika tiba di rumah sakit, dokter mengatakan Ibu membutuhkan tindakan segera.
Aku menandatangani dokumen dengan tangan gemetar.
“Pembayarannya bagaimana, Bu?” petugas administrasi bertanya.
Aku menatap layar ponsel.
Aku tidak punya cukup uang.
Lalu petugas itu memeriksa komputer.
“Oh, sudah dibayarkan.”
Aku membeku.
“Oleh siapa?”
“Tidak tercantum nama pribadi. Dari yayasan.”
Aku langsung tahu.
Malam itu aku menemukan Raka di parkiran rumah sakit.
Dia berdiri di samping mobil sambil berbicara di telepon.
Aku menghampirinya.
“Kamu yang bayar?”
Dia menutup telepon.
“Apa?”
“Biaya rumah sakit Ibu.”
“Bukan.”
“Jangan bohong.”
Raka menatapku.
“Aku bilang bukan.”
“Enam tahun lalu juga begitu.”
Wajahnya berubah.
Aku menyesali kalimat itu begitu keluar.
Namun semuanya sudah terlambat.
Raka mendekat satu langkah.
“Enam tahun lalu bagaimana?”
Aku diam.
“Enam tahun lalu kamu mengambil uang dari ibuku dan pergi.”
Suaranya sangat tenang.
“Bukankah itu ceritanya?”
Aku menatap lantai.
“Raka…”
“Berapa sebenarnya harga enam tahun hubungan kita, Laras?”
Aku tidak sanggup menjawab.
Karena untuk pertama kalinya, aku sadar kebohongan yang kubangun enam tahun lalu sudah terlalu lama hidup.
“Aku tidak pernah memakai uang itu.”
Raka terdiam.
Aku mengangkat wajah.
“Uang dari ibumu. Aku tidak pernah menggunakannya untuk diriku.”
“Apa maksudmu?”
Aku menarik napas.
Enam tahun lalu, ayah Raka terlibat sengketa bisnis besar. Salah satu pihak mengancam membuka hubungan Raka denganku kepada media dan menggunakan latar belakang keluargaku untuk menyerang posisinya dalam perebutan kendali perusahaan.
Ibunya mendatangiku.
Dia tidak pernah memaksaku.
Dia hanya meletakkan sebuah cek dan berkata bahwa selama aku tetap bersama Raka, orang-orang akan terus mencari cara menggunakan diriku untuk menghancurkannya.
Pada minggu yang sama, ayahku meninggal dan meninggalkan utang besar.
Aku menerima cek itu.
Lalu hampir seluruh uangnya kupakai untuk melunasi utang yang mengancam rumah Ibu.
Sisanya kusimpan.
Aku pergi karena percaya itulah satu-satunya cara membuat Raka berhenti mengejarku.
Karena jika kukatakan aku pergi demi melindunginya, dia tidak akan pernah membiarkanku pergi.
Jadi aku memilih menjadi perempuan yang paling dia benci.
“Aku mengatakan uang lebih penting daripada kamu karena aku tahu hanya itu yang bisa membuatmu berhenti.”
Raka tidak bergerak.
“Kenapa baru sekarang?”
“Karena tidak ada gunanya lagi.”
Aku tersenyum pahit.
“Kamu sudah punya hidupmu. Aku juga sudah punya…”
“Pacar?”
Aku terdiam.
Tatapan Raka berubah tajam.
“Siapa dia?”
Aku tidak menjawab.
“Laras.”
“Tidak ada.”
Untuk pertama kalinya dalam enam tahun, ketenangan di wajah Raka benar-benar runtuh.
“Apa?”
“Aku bohong.”
“Kenapa?”
“Karena malam itu kamu bertanya aku datang sebagai apa.”
Air mataku akhirnya jatuh.
“Aku takut kalau aku mengatakan aku masih sendirian, aku akan benar-benar memohon kepadamu untuk menerimaku kembali.”
Raka tertawa pendek, tetapi matanya merah.
“Kamu benar-benar kejam.”
“Aku tahu.”
“Enam tahun.”
“Aku tahu.”
“Aku membencimu selama enam tahun.”
“Aku tahu.”
Dia mendekat.
“Aku bahkan belajar hidup tanpa kamu.”
Aku mengangguk.
“Itu bagus.”
“Diam.”
Suaranya pecah untuk pertama kali.
Raka memalingkan wajah.
Aku belum pernah melihatnya seperti itu.
Beberapa menit kemudian dia berkata, “Biaya rumah sakit ibumu memang bukan dariku.”
Aku mengernyit.
“Lalu siapa?”
Raka mengeluarkan ponsel dan menunjukkan sebuah dokumen transfer.
Nama yayasan itu membuat napasku berhenti.
Yayasan Sari Gunawan.
“Sari?”
Raka mengangguk.
Pelayan perempuan yang kutolong di kapal ternyata bukan pelayan.
Dia adalah adik tiri Wira.
Selama bertahun-tahun, Sari hidup di luar keluarga karena menolak terlibat dalam bisnis ayahnya. Malam di kapal itu dia menyamar sebagai staf acara untuk mengumpulkan bukti mengenai perilaku Wira terhadap para pekerja perempuan.
Rekaman malam itu telah diserahkan kepada dewan perusahaan.
Wira dicopot dari jabatannya tiga hari sebelumnya.
Dan investasi yang selama ini kukira datang karena belas kasihan Raka ternyata berasal dari rekomendasi Sari kepada komite investasi Adinata Capital.
“Dia bilang orang yang berani berdiri di depan orang asing ketika kariernya sendiri dipertaruhkan layak diberi kesempatan,” kata Raka.
Aku tidak bisa berkata apa-apa.
Ternyata malam ketika kukira hidupku mulai hancur justru menjadi malam seseorang melihat siapa diriku sebenarnya.
Film kami selesai lima bulan kemudian.
Tidak menjadi film terlaris tahun itu.
Namun cukup berhasil untuk mengembalikan biaya produksi, memenangkan dua penghargaan, dan memberiku kesempatan membuat film kedua.
Pada malam pemutaran perdana, aku berdiri di belakang bioskop setelah semua tamu masuk.
Raka datang membawa dua gelas kopi.
Dia menyerahkan satu kepadaku.
“Enam tahun lalu,” katanya, “aku pernah bilang kamu tidak akan punya kesempatan untuk menyesal.”
Aku tersenyum tipis.
“Aku ingat.”
“Aku salah.”
Aku menatapnya.
Raka memasukkan tangan ke saku.
“Kamu boleh menyesal.”
Dia berhenti sebentar.
“Tapi aku tidak menjanjikan kita bisa kembali seperti dulu.”
Dadaku terasa sakit, tetapi aku mengangguk.
“Aku juga tidak mau kembali seperti dulu.”
Alisnya terangkat.
Aku menatap pintu bioskop tempat nama filmku terpampang besar.
“Aku ingin mulai dari awal.”
Untuk pertama kalinya, Raka tersenyum seperti laki-laki yang kukenal enam tahun lalu.
“Kalau begitu perkenalkan dirimu.”
Aku hampir tertawa.
Namun aku tetap mengulurkan tangan.
“Laras Prameswari. Sutradara. Tidak punya pacar.”
Raka menerima tanganku.
Genggamannya hangat.
“Raka Adinata. Investor.”
Dia menatapku beberapa detik sebelum menambahkan,
“Juga tidak punya calon istri seperti yang diberitakan.”
Aku membeku.
Raka melepaskan tanganku dan berjalan menuju pintu.
“Filmnya sudah mulai, Sutradara Laras.”
Aku mengejarnya.
Untuk pertama kalinya setelah enam tahun, aku tidak berjalan di belakangnya karena ingin meminta sesuatu.
Dan Raka tidak menungguku karena merasa harus menyelamatkanku.
Kami berjalan berdampingan.
Mungkin beberapa hubungan memang tidak bisa kembali ke tempat semula.
Mungkin itu bukan sesuatu yang harus disesali.
Karena cinta yang pernah hancur tidak selalu membutuhkan kesempatan kedua untuk menjadi seperti dulu.
Kadang-kadang, yang dibutuhkannya hanyalah dua orang yang akhirnya cukup dewasa untuk berhenti berbohong, lalu berani saling mengenal sekali lagi.
