Suamiku Berpura-pura Bisu Tiga Tahun, Lalu Memanggil Nama Sahabatku Saat Aku Berdarah

Malam pertama setelah pulang dari rumah sakit, aku duduk sendirian di ruang kerja sambil memandangi tiga koper yang terbuka di lantai.

Rumah itu begitu sunyi.

Dulu aku takut pada kesunyian seperti ini.

Aku selalu merasa harus mengisinya dengan sesuatu. Cerita tentang pekerjaanku, tentang kucing yang tidur di depan minimarket, tentang tetangga yang mengganti warna pagar, atau tentang tanaman melati yang akhirnya berbunga setelah berbulan-bulan.

Sekarang aku baru mengerti.

Selama tiga tahun, aku bukan sedang mengisi kesunyian Raka.

Aku sedang berusaha sendirian menghidupkan pernikahan yang sebenarnya sudah lama mati.

Aku memasukkan pakaian ke koper satu per satu.

Dokter mengatakan luka di tenggorokanku membutuhkan waktu. Aku dilarang banyak berbicara, bahkan mungkin selama beberapa bulan.

Lucu sekali.

Dulu aku begitu ingin mendengar suara suamiku.

Sekarang aku justru kehilangan suaraku sendiri.

Pintu ruang kerja terbuka.

Raka berdiri di sana.

Tatapannya jatuh pada koper-koper di lantai.

Wajahnya berubah.

Ia berjalan cepat mendekat, lalu mengeluarkan ponsel.

“Mau ke mana?”

Aku menatap tulisan di layar itu beberapa detik.

Kemudian aku mengambil ponselku sendiri.

“Aku akan tinggal di apartemen lama milik Mama.”

Raka langsung mengetik.

“Kenapa?”

Aku hampir tertawa.

Tiga tahun menikah denganku ternyata tidak membuatnya cukup mengenalku untuk memahami alasan sesederhana itu.

Aku mengetik lagi.

“Aku butuh ketenangan.”

Untuk pertama kalinya, aku melihat jemarinya berhenti di atas layar.

Ketenangan.

Bukankah itu yang selalu ia inginkan?

Aku menutup koper.

Raka tiba-tiba meraih pergelangan tanganku.

Matanya menatapku tajam, seolah mencoba menemukan sesuatu di wajahku.

Aku tahu apa yang ia cari.

Nadia yang lama.

Perempuan yang akan tersenyum, menyentuh pipinya, lalu menjelaskan panjang lebar bahwa semuanya baik-baik saja.

Namun perempuan itu sudah tertinggal di dalam mobil yang hancur.

Aku menarik tanganku perlahan.

Raka tampak panik.

Ia mengetik lagi.

“Kalau karena Sinta, aku tidak peduli apa yang dia katakan.”

Aku membaca kalimat itu, lalu menatapnya.

Jadi ia masih belum mengerti.

Aku hanya menggeleng.

Malam itu aku meninggalkan rumah kami tanpa mengatakan apa pun.

Raka berdiri di teras saat mobil yang kupesan bergerak meninggalkan halaman.

Melalui kaca belakang, aku melihatnya semakin kecil.

Entah kenapa, ia terlihat sangat kesepian.

Namun kali ini aku tidak kembali.

Tiga hari kemudian, Laras datang ke apartemenku.

Aku baru selesai mengganti perban ketika bel berbunyi.

Begitu membuka pintu dan melihat wajahnya, tanganku otomatis hendak menutup kembali pintu.

Laras menahannya.

“Nadia, tunggu.”

Aku menatapnya dingin.

“Aku tahu kamu mendengar percakapan kami di rumah sakit.”

Dadaku terasa sesak.

Jadi dia tahu.

Laras menunduk.

“Aku baru sadar setelah melihat perubahan sikapmu.”

Aku mengambil ponsel.

“Kalau kamu datang untuk meminta aku menjaga rahasia Raka, tidak perlu. Aku sudah tidak peduli.”

“Bukan itu.”

Laras mengeluarkan sebuah map dari tasnya.

“Aku datang karena ada sesuatu yang harus kamu ketahui.”

Ia meletakkan map itu di meja.

Di dalamnya terdapat beberapa dokumen terapi Raka.

Tanggal paling atas membuatku membeku.

Dua tahun lalu.

Diagnosis dokter tertulis jelas.

Fungsi pita suara telah pulih secara signifikan. Pasien secara fisiologis mampu menghasilkan suara dan berbicara.

Tanganku mulai dingin.

Artinya Raka bukan baru bisa bicara saat kecelakaan.

Ia sudah bisa bicara dua tahun lalu.

Aku menatap Laras.

Perempuan itu tampak pucat.

“Awalnya aku juga tidak tahu. Enam bulan lalu aku tidak sengaja bertemu Raka di klinik. Saat itu dia menelepon seseorang di parkiran.”

Aku mengetik cepat.

“Siapa?”

“Ayahnya.”

Aku terdiam.

Laras menarik napas.

“Setelah itu dia memintaku merahasiakannya.”

Aku menatapnya tajam.

“Dan kamu setuju?”

Laras menunduk.

“Aku salah.”

Air mata muncul di matanya.

“Aku pikir itu hanya masalah antara kalian. Raka bilang dia belum siap bicara denganmu karena setiap kali mendengar suaramu, dia teringat kecelakaan yang membuat tenggorokannya cedera.”

Jantungku berdegup lebih cepat.

Aku tahu kecelakaan yang dimaksud.

Empat tahun lalu, sebelum kami menikah, Raka mengalami kecelakaan mobil saat perjalanan menuju Bandung.

Aku adalah orang pertama yang tiba di rumah sakit.

Sejak hari itu ia hampir tidak pernah membicarakan kecelakaan tersebut.

Laras melanjutkan.

“Tapi setelah kecelakaan kalian kemarin, aku sadar ada yang aneh.”

Aku mengetik.

“Apa?”

“Orang pertama yang dia panggil adalah aku.”

Kalimat itu terasa seperti pisau kedua.

Namun Laras buru-buru berkata, “Bukan karena dia mencintaiku.”

Aku menatapnya.

Laras mengeluarkan sebuah flashdisk.

“Nama yang sebenarnya ingin dia teriakkan waktu kecelakaan empat tahun lalu juga Laras.”

Dunia terasa berhenti.

Aku tidak memahami maksudnya.

Laras menyalakan laptopku dan membuka sebuah rekaman lama.

Video kamera jalan raya.

Tanggalnya sama dengan kecelakaan Raka empat tahun lalu.

Mobil Raka terlihat melaju cepat.

Beberapa detik kemudian, sebuah mobil lain keluar dari persimpangan.

Tabrakan terjadi.

Namun sebelum benturan, terdengar rekaman suara dari kamera dasbor.

Suara Raka.

“Laras, jangan!”

Aku menatap layar tanpa berkedip.

Laras berkata pelan.

“Aku ada di mobil itu.”

Aku menoleh.

Wajahnya penuh rasa bersalah.

“Empat tahun lalu aku dan Raka pernah berpacaran.”

Tanganku membeku.

“Tapi kami putus jauh sebelum kamu mengenalnya.”

Laras menatapku.

“Malam kecelakaan itu, aku meneleponnya karena aku bertengkar dengan tunanganku. Raka datang untuk menolongku. Aku panik dan mencoba mengambil setir. Mobil kami kecelakaan.”

Aku merasa mual.

Ternyata seluruh pernikahanku berdiri di atas bagian masa lalu yang tidak pernah kuketahui.

“Setelah kecelakaan, Raka kehilangan suaranya. Dia juga menyalahkan dirinya sendiri karena masih datang ketika aku memanggil.”

Aku mengetik dengan tangan gemetar.

“Lalu kenapa menikah denganku?”

Laras terdiam lama.

“Karena dia mencintaimu.”

Aku tertawa tanpa suara.

Laras menangis.

“Aku tahu kedengarannya tidak masuk akal. Tapi justru karena mencintaimu, dia takut mengakui bahwa suaranya sudah kembali.”

Aku menggeleng keras.

Tidak.

Aku tidak membutuhkan alasan romantis untuk sebuah kebohongan selama bertahun-tahun.

Laras melanjutkan.

“Raka pernah bilang, saat dia mulai bisa bicara lagi, dia mendengar kamu bercerita di luar ruang terapi. Kamu bilang kepada ibumu bahwa kamu takut suatu hari nanti, kalau Raka sembuh, dia tidak lagi membutuhkanmu.”

Aku teringat percakapan itu.

Aku memang pernah mengatakannya.

Bukan karena ingin Raka tetap sakit.

Aku hanya takut.

Takut kehilangan seseorang yang begitu kucintai.

“Dia mendengar kalimat itu,” kata Laras. “Dan dia membuat keputusan paling bodoh. Dia berpikir kalau tetap diam, kamu akan merasa dibutuhkan.”

Aku menutup mata.

Jadi awalnya ia berbohong karena takut kehilangan aku.

Namun kemudian kebohongan itu berubah menjadi kebiasaan.

Lalu menjadi kenyamanan.

Sampai akhirnya kehadiranku sendiri dianggap berisik.

Aku mengambil ponsel.

“Alasan tidak mengubah akibat.”

Laras membaca kalimat itu dan menangis.

“Aku tahu.”

Malam itu, setelah Laras pergi, aku mengirim satu pesan kepada Raka.

“Besok pukul sepuluh. Datang ke kantor pengacara.”

Ia membalas dalam waktu kurang dari semenit.

“Untuk apa?”

Aku menjawab singkat.

“Perceraian.”

Keesokan harinya Raka datang lima belas menit lebih awal.

Ia duduk di seberangku dengan wajah pucat.

Pengacara menyerahkan dokumen kepadanya.

Raka membaca halaman pertama.

Tangannya mulai gemetar.

Kemudian ia menatapku dan mengeluarkan ponsel.

“Jangan.”

Aku tidak bereaksi.

Ia mengetik lagi.

“Aku bisa menjelaskan.”

Aku menunjuk tenggorokannya.

Kalau memang ingin menjelaskan, gunakan suaramu.

Raka memahami maksudku.

Wajahnya berubah.

Beberapa detik berlalu.

Lalu satu menit.

Ia tetap diam.

Aku tersenyum pahit.

Bahkan sekarang.

Bahkan ketika pernikahan kami tinggal satu tanda tangan.

Ia masih memilih diam.

Aku mengambil pena.

Saat ujung pena hampir menyentuh kertas, tiba-tiba terdengar suara serak.

“Nadia.”

Tanganku berhenti.

Ruangan itu mendadak terasa terlalu sempit.

Aku pernah menunggu tiga tahun untuk mendengar namaku keluar dari mulutnya.

Ternyata ketika akhirnya terjadi, aku tidak merasakan kebahagiaan sedikit pun.

“Nadia, jangan tanda tangan.”

Suara Raka bergetar.

“Aku salah.”

Air matanya jatuh.

“Aku bisa bicara sejak dua tahun lalu.”

“Aku tahu.”

Ia membeku.

Aku menunjukkan pesan dari Laras.

Wajah Raka kehilangan warna.

“Aku tidak selingkuh dengannya.”

Aku tetap diam.

“Aku bersumpah.”

Aku menulis di secarik kertas.

“Masalah kita bukan Laras.”

Raka membaca kalimat itu.

“Lalu apa?”

Aku menulis lagi.

“Kamu membuatku mencintai seseorang yang sebenarnya tidak ada.”

Matanya langsung merah.

“Aku tetap Raka.”

Aku menggeleng.

Tidak.

Raka yang kucintai adalah lelaki yang kupikir sedang berjuang.

Lelaki yang membuatku percaya bahwa setiap terapi yang gagal melukainya.

Lelaki yang membuatku merasa setiap kata yang kuucapkan adalah jembatan menuju dunianya.

Padahal selama dua tahun terakhir, ia berdiri di seberang jembatan itu sambil sengaja tidak berjalan ke arahku.

Aku menandatangani dokumen.

Raka berdiri begitu cepat sampai kursinya jatuh.

“Nadia, aku mencintaimu!”

Semua orang di ruangan menoleh.

Aku juga menatapnya.

Ironis sekali.

Tiga tahun aku menunggu satu kalimat.

Ketika akhirnya mendengarnya, kalimat itu datang terlambat.

Aku pergi.

Enam bulan kemudian, pita suaraku pulih.

Dokter mengatakan aku boleh kembali berbicara normal.

Namun aku tidak langsung melakukannya.

Aku terbiasa dengan ketenangan.

Aku mulai menyadari bahwa diam bukanlah hukuman.

Kadang-kadang diam adalah cara untuk mendengar diri sendiri.

Aku pindah ke Yogyakarta dan membuka studio desain kecil bersama seorang teman.

Hidupku sederhana.

Aku mulai kembali memperhatikan hal-hal kecil.

Hujan pertama.

Aroma kopi.

Bunga bougenvil di depan studio.

Bedanya, sekarang aku tidak perlu menceritakan semuanya kepada seseorang agar merasa bahwa hal-hal itu berarti.

Suatu sore, hampir setahun setelah perceraian kami, aku menerima sebuah paket.

Tidak ada nama pengirim.

Di dalamnya terdapat sebuah alat perekam suara.

Aku menekan tombol.

Suara Raka terdengar.

“Hari pertama tanpa kamu, rumah sangat tenang.”

Rekaman berganti.

“Hari ketujuh. Tanaman melati yang kamu tanam berbunga.”

Rekaman berikutnya.

“Hari ketiga puluh. Stroberi di minimarket sedang diskon. Aku baru sadar dulu kamu selalu memberitahuku hal seperti ini.”

Aku menahan napas.

Rekaman terus berjalan.

“Hari keseratus. Aku sekarang mengerti kenapa kamu selalu bercerita.”

Suara Raka terdengar lebih berat.

“Kamu tidak berisik.”

“Kamu sedang mencoba berbagi hidup denganku.”

Air mataku jatuh.

Rekaman terakhir diputar.

“Hari ketiga ratus enam puluh lima.”

“Aku tidak mengirim ini supaya kamu kembali.”

“Aku hanya ingin akhirnya mengatakan sesuatu yang seharusnya kukatakan sejak lama.”

“Terima kasih sudah membuat tiga tahun hidupku penuh suara.”

“Dan maaf karena aku membuatmu percaya bahwa suaramu tidak layak didengar.”

Rekaman berhenti.

Aku duduk lama di dekat jendela.

Di luar, hujan baru saja reda.

Seorang anak kecil berlari di trotoar sambil mencoba menghindari genangan. Seorang penjual bunga merapikan dagangannya. Langit Yogyakarta berubah jingga.

Begitu banyak hal kecil terjadi.

Dulu aku pasti ingin segera menceritakannya kepada Raka.

Ponselku tiba-tiba bergetar.

Pesan dari nomor yang tidak kukenal.

“Nadia, aku Laras.”

“Aku hanya ingin memberitahumu satu hal. Raka akan menikah bulan depan.”

Aku membaca pesan itu tanpa merasakan apa-apa.

Lalu pesan kedua masuk.

“Dengan Sinta.”

Aku membeku.

Sinta.

Perempuan yang menghina Raka di depan rumah sakit.

Beberapa detik kemudian Laras mengirim sebuah foto.

Raka dan Sinta duduk di sebuah kafe.

Di meja mereka terdapat dokumen.

Bukan dokumen pernikahan.

Melainkan berkas kepolisian.

Aku memperbesar foto itu.

Nama Sinta tercetak di halaman paling atas.

Laras mengirim pesan terakhir.

“Maaf. Aku bohong soal pernikahan supaya kamu membaca pesan ini.”

“Sinta adalah pengemudi mobil yang menabrak kami empat tahun lalu.”

Napas seakan berhenti di dadaku.

“Dia mengenal Raka jauh sebelum mengenalmu.”

“Dan kecelakaan kalian tahun lalu bukan kecelakaan.”

Tanganku menjadi dingin.

Telepon berdering.

Nama Raka muncul di layar.

Untuk pertama kalinya sejak perceraian, aku mengangkatnya.

“Nadia?”

Suara itu terdengar sangat jauh.

“Nadia, dengarkan aku. Jangan pulang ke apartemenmu.”

Aku menatap ke luar jendela.

Di seberang jalan, sebuah mobil hitam berhenti.

Pintu pengemudi terbuka.

Sinta turun.

Ia menatap tepat ke arah jendelaku.

Raka berteriak dari telepon.

“Nadia, jawab aku!”

Aku berdiri perlahan.

Selama bertahun-tahun, aku pernah bermimpi tentang saat Raka memohon agar aku berbicara kepadanya.

Aku tidak pernah membayangkan saat itu akan terjadi seperti ini.

Sinta mulai menyeberang jalan.

Aku menarik napas.

Kemudian, untuk pertama kalinya setelah hampir setahun, aku menggunakan suaraku.

“Raka.”

Di ujung telepon, ia langsung terdiam.

Aku tidak menangis.

Tidak tersenyum.

Aku hanya berkata dengan suara yang masih sedikit serak.

“Sekarang giliranmu mendengarkan.”

Lalu aku memutus sambungan telepon dan menelepon polisi.

Karena akhirnya aku memahami sesuatu yang tidak pernah kupahami selama pernikahan kami.

Suara bukan sekadar kemampuan untuk berbicara.

Suara adalah keberanian untuk mengatakan kebenaran ketika diam terasa jauh lebih mudah.

Dan kali ini, aku tidak akan menyerahkan suaraku kepada siapa pun lagi.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang