Ia Menghapus Suami Palsu dari Data Pernikahan, Lalu Pria Berstatus Meninggal Itu Memburunya Bersama Puluhan Pengacara

“Sembilan puluh tujuh persen.”

Nadia menatap Raka tanpa berkedip.

Untuk pertama kalinya sejak mengetahui dirinya memiliki suami yang tak pernah dinikahinya dan utang miliaran rupiah yang tak pernah disentuhnya, wajah Nadia benar-benar kehilangan ketenangan.

“Ulangi.”

Raka memutar monitor sedikit lebih jauh.

“Hasil verifikasi wajah menunjukkan kecocokan sembilan puluh tujuh persen. Sidik jarinya juga cocok dengan data biometrik Anda.”

Nadia mendekat.

“Kalau begitu ada dua kemungkinan. Saya punya saudara kembar yang tidak diketahui keluarga saya, atau sistem kalian dibobol.”

Raka terdiam.

Nadia menunjuk layar.

“Dan saya anak tunggal.”

Raka segera menutup halaman tersebut.

“Jangan membicarakan dugaan kedua terlalu keras.”

Nadia menatapnya tajam.

“Kenapa?”

Raka melirik ke kanan dan kiri sebelum menurunkan suaranya.

“Karena autentikasi biometrik seperti ini tidak bisa dimasukkan hanya dengan mengunggah foto KTP. Ada akses khusus yang diperlukan.”

“Orang dalam?”

“Saya tidak mengatakan itu.”

“Tapi wajah Anda mengatakannya.”

Raka mengembuskan napas.

Ia mencetak beberapa lembar dokumen, memasukkannya ke map cokelat, lalu menyerahkannya kepada Nadia.

“Ajukan pembekuan data terlebih dahulu. Jangan tanda tangani apa pun dari kreditur. Dan kalau ada orang yang menghubungi Anda mengenai utang itu, rekam semuanya.”

Nadia menerima map tersebut.

“Bagaimana dengan status pernikahan?”

“Pembatalannya membutuhkan pemeriksaan.”

“Berapa lama?”

“Normalnya beberapa minggu.”

Nadia tersenyum tipis.

“Besok utang tiga koma satu miliar dialihkan kepada saya.”

Raka tak menjawab.

Nadia berdiri.

Saat itulah matanya menangkap papan nama sebuah kantor di gedung sebelah melalui jendela.

Kantor Notaris dan PPAT
Hendra Kusuma, S.H., M.Kn.

Lima belas menit kemudian, Nadia sudah duduk di depan seorang notaris berusia sekitar lima puluh tahun.

Hendra membaca dokumen yang dibawanya dua kali.

Anehnya, semakin lama ia membaca, wajahnya justru semakin pucat.

“Pak Hendra?”

Pria itu mengangkat kepala.

“Nama suami yang tercatat ini Rangga Mahendra?”

“Ya.”

“Anda mengenalnya?”

“Pernah bertemu beberapa kali.”

Hendra melepas kacamatanya.

“Kapan terakhir?”

“Lebih dari setahun lalu.”

Hendra terdiam begitu lama hingga Nadia mulai curiga.

“Bapak kenal dia?”

“Tidak.”

Jawabannya terlalu cepat.

Nadia menyandarkan tubuh.

“Kalau Bapak mau berbohong, setidaknya tunggu tiga detik sebelum menjawab.”

Hendra memandang Nadia.

Kemudian ia membuka laci dan mengeluarkan sebuah kartu nama.

“Hubungi pengacara ini. Malam ini juga.”

“Kenapa?”

“Karena perkara Anda mungkin bukan sekadar pemalsuan identitas.”

Hendra menuliskan sesuatu di belakang kartu.

“Dan satu hal lagi. Jangan beri tahu keluarga bahwa Anda sedang mengurus pembatalan pernikahan.”

Nadia berhenti tersenyum.

“Termasuk Citra?”

Tangan Hendra membeku.

Hanya sesaat.

Namun Nadia melihatnya.

Jadi ia benar-benar tahu sesuatu.

Malam itu Nadia tidak pulang ke apartemennya.

Ia menginap di hotel kecil di kawasan Lengkong dan menghabiskan malam mengumpulkan semua bukti.

Absensi kantor.

Rekaman CCTV.

Riwayat transaksi.

Lokasi ponsel.

Bahkan struk kopi yang dibelinya pada 17 Maret 2024 pukul 10.12.

Pada waktu yang hampir bersamaan dengan pencatatan pernikahan itu, Nadia sedang memimpin rapat administrasi di kantornya.

Keesokan paginya ia bertemu pengacara yang direkomendasikan Hendra.

Namanya Dimas Ardiansyah.

Setelah membaca dokumen selama hampir satu jam, Dimas hanya mengajukan satu pertanyaan.

“Anda ingin sekadar menghapus pernikahan ini atau mencari orang yang melakukannya?”

Nadia menjawab tanpa ragu.

“Keduanya.”

Dimas mengangguk.

“Kalau begitu jangan bertahan. Serang dulu.”

Dalam dua puluh empat jam berikutnya, mereka mengirim keberatan resmi terhadap kewajiban utang, laporan dugaan pemalsuan dokumen, permohonan pembekuan hubungan hukum, dan permintaan audit autentikasi biometrik.

Namun temuan paling aneh muncul sore berikutnya.

Dimas menelepon Nadia.

“Nad, kamu sedang duduk?”

“Sedang makan bakso.”

“Bagus. Jangan berdiri.”

“Ada apa?”

“Rangga Mahendra secara administratif meninggal sebelas bulan lalu.”

Sendok Nadia berhenti di udara.

“Apa?”

“Akta kematiannya tercatat sah. Tanggal kematian 8 April tahun lalu.”

Nadia perlahan menurunkan sendok.

“Tapi pernikahan saya dicatat 17 Maret.”

“Benar. Tiga minggu sebelum dia meninggal.”

“Penyebab kematian?”

“Kecelakaan mobil.”

“Mayat ditemukan?”

Dimas diam.

“Itu masalahnya. Tidak ada informasi yang cukup jelas.”

Nadia tertawa pendek.

Jadi seorang pria menikahinya tanpa kehadirannya, berutang menggunakan namanya, kemudian meninggal, sementara perempuan dalam foto pernikahan menghilang.

Semuanya terlalu rapi.

Sore itu Nadia mengajukan koreksi administratif berdasarkan bukti kematian Rangga sekaligus sengketa identitas.

Proses yang seharusnya rumit mendadak bergerak sangat cepat setelah audit internal menemukan ketidaksesuaian autentikasi.

Empat puluh delapan jam kemudian, sistem memperbarui data.

Hubungan perkawinan Nadia dibekukan.

Namanya dicoret sebagai penjamin sambil menunggu penyelidikan.

Dan Rangga tetap tercatat meninggal.

Nadia mengira kemenangan kecil itu cukup untuk membuatnya tidur nyenyak.

Ia salah.

Malam berikutnya, pukul 20.17, ponselnya bergetar.

Nomor asing.

Kemudian nomor lain.

Lalu nomor lain lagi.

Dalam dua puluh menit terdapat tiga puluh satu panggilan tak terjawab.

Menjelang pukul sembilan, jumlahnya menjadi lima puluh dua.

Pesan masuk kemudian muncul.

Saya Rangga.

Telepon saya sekarang.

Nadia menatap pesan itu sambil duduk di salon, sebelah tangannya memegang ceker pedas.

Ia mengetik dengan santai.

“Sinyal di alam kubur mungkin kurang bagus. Minta keluargamu mengirim menara pemancar.”

Ia mematikan ponsel.

Baru keesokan paginya Nadia mengetahui apa yang terjadi.

Rangga Mahendra ternyata masih hidup.

Pria itu baru tiba dari Singapura dan tertahan di Bandara Soekarno-Hatta karena sistem mendeteksi identitasnya sebagai orang yang telah meninggal.

Yang membuat situasi menjadi lebih aneh, Rangga tidak datang sendirian.

Dalam waktu kurang dari sehari, belasan firma hukum mengirim surat kepada Nadia.

Ada permintaan mediasi.

Somasi.

Tuntutan pencemaran nama baik.

Permintaan pemulihan status.

Bahkan ancaman gugatan kerugian bisnis puluhan miliar rupiah.

Nadia membaca semuanya di apartemennya sambil makan mi instan.

Dimas yang duduk di seberangnya terlihat jauh lebih gelisah.

“Orang biasa tidak bisa menggerakkan sebanyak ini pengacara dalam semalam.”

Nadia menyeruput kuah.

“Berarti dia bukan orang biasa.”

“Dan sekarang dia mencarimu.”

“Biarkan.”

“Nadia.”

“Apa?”

“Dua orang tadi pagi datang ke kantor saya menanyakan alamatmu.”

Nadia meletakkan sumpit.

Untuk pertama kalinya, persoalan itu terasa berbeda.

Bukan lagi sekadar angka dalam sistem.

Seseorang benar-benar sedang mendekatinya.

Tiga hari kemudian, Nadia dipanggil ke kantor Hendra.

Begitu pintu ruang rapat dibuka, langkahnya berhenti.

Rangga duduk di sana.

Pria yang selama setahun tercatat meninggal itu mengenakan setelan abu-abu gelap. Wajahnya persis seperti foto pernikahan.

Di belakangnya berdiri enam pengacara.

Hendra berada di ujung meja.

Wajah notaris itu pucat.

Rangga bangkit.

“Nadia.”

“Wah.”

Nadia menutup pintu.

“Mayat zaman sekarang pakai jas mahal juga.”

Salah seorang pengacara hendak berbicara, tetapi Rangga mengangkat tangan.

“Aku hanya ingin kamu mengembalikan status pernikahan kita.”

Nadia tertawa.

“Kita?”

“Secara hukum, kamu istriku.”

“Secara hukum, kamu juga jenazah.”

Rahang Rangga mengeras.

“Aku tidak pernah mengurus akta kematian itu.”

“Dan saya tidak pernah mengurus akta pernikahan kita. Cocok. Kita pasangan yang sangat kompak.”

Hendra tiba-tiba berdiri.

“Cukup.”

Semua orang menoleh.

Tangannya gemetar.

Ia mengambil sebuah map lama dari lemari besi.

“Saya seharusnya menyerahkan ini sejak Nadia datang pertama kali.”

Rangga berubah ekspresi.

“Pak Hendra.”

Namun Hendra meletakkan map di depan Nadia.

Di dalamnya terdapat salinan surat kuasa lama, dokumen perusahaan, dan sebuah foto.

Nadia mengambil foto itu.

Darah di wajahnya seolah menghilang.

Perempuan yang berdiri di samping Rangga dalam foto pernikahan memang Citra.

Namun di belakang foto terdapat tulisan tangan.

Jika sesuatu terjadi kepada kami, berikan ini kepada Nadia.

Nadia menatap Hendra.

“Citra datang ke sini?”

“Setahun lalu.”

“Kapan?”

“Dua hari sebelum Rangga dinyatakan meninggal.”

Ruangan menjadi sunyi.

Hendra menjelaskan semuanya.

Citra memang menggunakan identitas Nadia.

Namun bukan untuk menikah demi cinta.

Rangga dan Citra saat itu sedang menyelidiki perusahaan investasi milik keluarga Rangga sendiri.

Mereka menemukan aliran dana ilegal melalui puluhan perusahaan cangkang. Nilainya jauh lebih besar daripada utang Rp3,1 miliar.

Citra membutuhkan identitas yang tidak terkait langsung dengan jaringan perusahaan.

Ia memilih Nadia.

Awalnya hanya untuk membuka satu lapisan dokumen sementara.

Namun seseorang mengetahui penyelidikan mereka.

Rangga dipaksa menghilang.

Kematiannya dipalsukan.

Citra juga lenyap.

“Kenapa utangnya atas nama saya?” Nadia bertanya.

Rangga menatapnya.

“Itu bukan utang.”

Dimas yang sejak tadi diam membuka salah satu dokumen.

Wajahnya berubah.

“Ini pencairan dana.”

Rangga mengangguk.

“Tiga koma satu miliar adalah sebagian uang yang kami keluarkan dari perusahaan sebelum bukti dihancurkan.”

“Lalu uangnya di mana?”

Rangga memandang Nadia.

“Itulah alasan semua orang mencarimu.”

Nadia mengernyit.

“Saya tidak punya uang kalian.”

“Bukan uangnya.”

Rangga menunjuk KTP lama Nadia yang tergeletak di meja.

“Kuncinya.”

Nadia terdiam.

Hendra kemudian menjelaskan bahwa Citra menyimpan seluruh bukti transaksi dalam penyimpanan terenkripsi. Sistem itu membutuhkan identitas Nadia sebagai salah satu kunci autentikasi.

Rangga kembali dari persembunyian karena seseorang mulai menghapus jejak perusahaan.

Ia membutuhkan Nadia untuk membuka arsip sebelum semuanya hilang.

“Dan Citra?” tanya Nadia.

Tidak ada yang menjawab.

Nadia menatap Rangga.

“Di mana sepupu saya?”

Untuk pertama kalinya, pria itu kehilangan ketenangannya.

“Aku tidak tahu.”

Nadia langsung berdiri.

“Kalau begitu percakapan selesai.”

“Nadia.”

“Tidak.”

Ia menatap semua pengacara di ruangan.

“Kalian boleh membawa seratus orang sekalipun. Sampai Citra ditemukan, tidak ada satu pun data yang akan saya buka.”

Rangga ikut berdiri.

“Kamu tidak mengerti siapa yang sedang kita hadapi.”

Nadia menoleh.

“Justru sekarang saya mulai mengerti.”

Pintu ruang rapat mendadak terbuka.

Raka dari Disdukcapil berdiri di sana.

Wajahnya tegang.

“Nadia, jangan buka arsip apa pun.”

Semua orang terdiam.

Raka mengeluarkan flashdisk kecil.

“Saya sudah menemukan siapa yang memasukkan biometrik palsu itu.”

Nadia memandangnya.

“Siapa?”

Raka tidak menjawab langsung.

Ia berjalan menuju laptop Hendra, memasukkan flashdisk, kemudian membuka rekaman audit.

Nama operator muncul di layar.

Hendra Kusuma.

Nadia perlahan menoleh.

Notaris itu sudah tidak berada di kursinya.

Pintu samping terbuka.

Hendra berlari.

Rangga langsung mengejarnya.

Namun Nadia tidak bergerak.

Matanya masih tertuju pada layar.

Ada satu informasi lain di bawah nama Hendra.

Waktu autentikasi.

17 Maret 2024.

10.14.

Dua menit setelah transaksi kopi Nadia.

Raka memperbesar catatan perangkat yang digunakan.

Kemudian ia membeku.

“Ada apa?” tanya Nadia.

Raka menunjuk kode perangkat.

“Autentikasi dilakukan dari komputer kantor tempat kamu bekerja.”

Nadia merasa tengkuknya dingin.

Tiba-tiba ia teringat sesuatu.

Pada hari itu, ketika ia meninggalkan meja untuk mengambil kopi, hanya ada satu orang yang mengetahui kata sandi komputernya karena pernah membantu memperbaiki sistem absensi.

Atasannya sendiri.

Nadia segera mengambil ponsel.

Ada pesan baru.

Nomor tidak dikenal.

Sebuah foto terlampir.

Citra duduk di sebuah ruangan sempit, masih hidup, memegang koran hari itu.

Di bawah foto terdapat satu kalimat.

Kalau ingin sepupumu pulang, datang sendiri dan bawa KTP-mu.

Nadia menatap layar cukup lama.

Kemudian ia melakukan sesuatu yang tidak diperkirakan siapa pun.

Ia tersenyum.

“Kenapa kamu tersenyum?” tanya Rangga yang baru kembali setelah gagal mengejar Hendra.

Nadia memperlihatkan foto itu.

“Karena orang yang mengirim ini melakukan satu kesalahan.”

“Apa?”

Nadia memperbesar bagian belakang Citra.

Di kaca jendela terdapat pantulan samar papan nama sebuah gedung.

Gedung tempat Nadia bekerja.

Empat jam kemudian polisi memasuki kantor tersebut.

Citra ditemukan di ruang arsip lama lantai bawah tanah.

Atasan Nadia ditangkap bersama Hendra sebelum keduanya sempat meninggalkan Bandung.

Penyelidikan berikutnya membongkar jaringan pemalsuan data yang selama bertahun-tahun menggunakan identitas warga untuk memindahkan dana perusahaan.

Rangga akhirnya membersihkan status kematiannya.

Utang Nadia dibatalkan sepenuhnya.

Beberapa bulan kemudian, Citra datang ke apartemen Nadia membawa dua kotak martabak.

Ia duduk di sofa tanpa berani menatap sepupunya.

“Aku tahu maaf tidak cukup.”

Nadia membuka kotak martabak.

“Memang tidak.”

“Aku siap kalau kamu mau melaporkanku.”

Nadia mengambil satu potong.

“Aku sudah melakukannya.”

Citra terbelalak.

Nadia menggigit martabak.

“Keluarga tetap keluarga. Tapi tindak pidana tetap tindak pidana.”

Citra menunduk, lalu perlahan tertawa sambil menangis.

Setelah beberapa saat, Nadia mendorong kotak martabak ke arahnya.

“Makan dulu sebelum dingin.”

Beberapa minggu setelah itu, Nadia kembali ke Disdukcapil.

Raka menyerahkan KTP elektronik barunya.

Nadia memeriksa setiap baris.

Nama benar.

Alamat benar.

Status perkawinan: Belum Kawin.

Ia mengangguk puas.

Ketika hendak pergi, Raka memanggilnya.

“Nadia.”

Ia berbalik.

“Ya?”

“Kalau suatu hari status itu berubah lagi, mudah-mudahan kali ini karena kamu sendiri yang datang mendaftarkannya.”

Nadia menatapnya beberapa detik.

Kemudian sudut bibirnya terangkat.

“Kalau calon suaminya masih hidup, mungkin saya pertimbangkan.”

Ia berjalan keluar sambil memasukkan KTP baru ke dompet.

Di luar gedung, ponselnya berbunyi.

Pesan dari Rangga.

Terima kasih sudah membantu menemukan Citra. Dan maaf karena secara teknis aku pernah menjadi suamimu.

Nadia mengetik balasan.

Sama-sama. Tapi jangan coba-coba mati lagi. Administrasinya merepotkan.

Ia memasukkan ponsel ke tas dan membeli martabak telur mini dari pedagang yang sama.

Kali ini Nadia memakannya selagi masih hangat.

Setelah semua yang terjadi, ia akhirnya memahami satu hal.

Identitas bukan sekadar nama, nomor, atau foto di dalam sistem.

Identitas adalah hak seseorang untuk menentukan siapa dirinya, dengan siapa ia ingin menjalani hidup, dan keputusan apa yang boleh dibuat atas namanya.

Dan hak itu tidak boleh diserahkan kepada siapa pun.

Bahkan kepada keluarga sendiri.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang