Aku tidak langsung menjawab pertanyaan Budi.
Suara tetesan air dari kamar mandi terdengar lebih keras daripada biasanya. Budi berdiri beberapa langkah dariku dengan rambut masih basah dan handuk kecil tersampir di bahunya. Wajahnya pucat, sementara ponsel di atas meja kembali bergetar.
Nama Dewi masih terlihat di layar.
“Aku tidak menyentuh ponselmu,” kataku pelan. “Pesannya muncul sendiri.”
Budi menelan ludah.
“Bu Sari, saya bisa jelaskan.”
“Kalau begitu jelaskan.”
Dia menarik kursi, tetapi tidak langsung duduk.
Aku menunjuk layar ponselnya.
“Siapa Dewi?”
Budi mengembuskan napas panjang.
“Dia seseorang yang harus saya bantu.”
“Empat juta setiap bulan?”
Dia terdiam.
“Selama sepuluh tahun?”

Budi menatapku cepat. Jelas dia terkejut aku mengetahui sebanyak itu.
Aku mengeluarkan tiga struk yang kutemukan dari dompetnya dan meletakkannya di meja.
“Ini yang jatuh tadi.”
Wajahnya semakin tegang.
“Aku tidak marah karena uangmu diberikan kepada orang lain, Pak. Itu uangmu. Kita juga baru menikah. Tapi kenapa kamu memberikan kartu pensiun kepadaku seolah semua uang itu bisa kupakai, padahal saldonya hampir kosong?”
Budi menunduk.
“Dan kenapa perempuan itu bilang aku tidak boleh tahu?”
Lama sekali dia tidak menjawab.
Akhirnya Budi berkata, “Besok saya ceritakan semuanya.”
Aku tertawa kecil, pahit.
“Rahasia sepuluh tahun mau ditunda satu malam lagi?”
“Bukan begitu.”
“Lalu bagaimana?”
Budi memejamkan mata.
“Dewi bukan selingkuhan saya.”
Kalimat itu seharusnya membuatku lega.
Anehnya, justru membuat dadaku semakin sesak.
“Kalau bukan, siapa?”
Budi memandangku.
“Dia anak almarhumah istri saya.”
Aku membeku.
Selama mengenal Budi, aku tahu mendiang istrinya bernama Ratna. Aku juga tahu Budi memiliki seorang anak laki-laki bernama Andi yang bekerja di Surabaya.
Tidak pernah sekali pun dia menyebut anak perempuan.
“Anakmu?”
“Bukan.”
“Lalu?”
“Anak Ratna dari sebelum menikah dengan saya.”
Budi mulai bercerita.
Puluhan tahun lalu, sebelum mengenalnya, Ratna pernah menikah sangat muda. Pernikahan itu hanya bertahan beberapa tahun. Dari hubungan tersebut lahirlah Dewi.
Ketika Ratna menikah dengan Budi, Dewi sudah tinggal bersama ayah kandungnya di Semarang. Hubungan ibu dan anak itu renggang karena persoalan keluarga yang rumit.
“Tapi beberapa bulan sebelum Ratna meninggal,” kata Budi, “dia meminta satu hal kepada saya.”
“Apa?”
“Jangan biarkan Dewi hidup sendirian.”
Setelah Ratna meninggal, Budi mencari Dewi.
Saat itu hidup perempuan tersebut sedang kacau. Suaminya pergi meninggalkannya dengan utang. Ia harus menghidupi seorang anak dan ibunya yang sakit.
Budi mulai membantu.
Awalnya hanya beberapa ratus ribu.
Kemudian satu juta.
Setelah pensiun, hampir separuh uang pensiunnya dikirim setiap bulan.
“Kenapa empat juta?”
“Untuk biaya hidup dan pengobatan.”
Aku memandangnya tajam.
“Kalau hanya itu, kenapa harus dirahasiakan?”
Budi kembali diam.
Di situlah aku tahu cerita sebenarnya belum selesai.
“Pak.”
Dia mengusap wajah.
“Karena Dewi tidak tahu saya menikah lagi sampai dua minggu lalu.”
Aku mengernyit.
“Kenapa dia harus keberatan?”
“Dia takut saya berhenti membantu.”
Aku hampir tertawa karena kecewa.
“Jadi kamu memberikan kartu itu kepadaku supaya aku merasa memegang keuangan rumah tangga, sementara uangnya sudah dipindahkan?”
“Tidak.”
“Lalu apa?”
“Saya benar-benar ingin Ibu yang mengatur uang saya mulai sekarang.”
“Tapi uangnya tidak ada.”
Kalimatku membuat Budi terdiam.
Malam itu aku tidur membelakanginya.
Paginya, sebelum warung dibuka, aku mengambil keputusan.
“Aku mau bertemu Dewi.”
Budi langsung menolak.
“Tidak perlu.”
“Kalau kita mau menjalani rumah tangga tanpa rahasia, aku harus tahu siapa orang yang menerima hampir separuh penghasilan suamiku setiap bulan.”
Budi akhirnya menyerah.
Dia menelepon Dewi.
Ternyata perempuan itu tinggal di Bekasi, bukan Semarang seperti yang kubayangkan.
Dua hari kemudian kami pergi menemuinya.
Sepanjang perjalanan, Budi hampir tidak berbicara.
Kami berhenti di depan rumah kecil di sebuah perumahan sederhana. Cat temboknya mulai kusam. Di teras terdapat beberapa pot tanaman dan sebuah sepeda motor tua.
Seorang perempuan berusia sekitar empat puluh lima tahun membuka pintu.
Wajahnya langsung berubah ketika melihatku.
“Pak Budi.”
Budi mengangguk.
“Ini Bu Sari.”
Dewi tidak tersenyum.
Kami masuk.
Aku memperhatikan rumah itu. Tidak ada barang mewah. Televisi kecil, sofa lama, lemari plastik, dan meja makan empat kursi.
Sulit membayangkan seseorang yang menerima empat juta setiap bulan selama sepuluh tahun tinggal sesederhana itu.
Dewi membuatkan teh.
Tangannya terlihat gemetar.
Akhirnya aku berkata, “Saya sudah tahu soal uang itu.”
Dewi menatap Budi.
“Bapak bilang apa?”
“Yang perlu saya tahu,” jawabku.
Dewi tertawa pendek.
“Berarti belum semuanya.”
Budi langsung menegakkan badan.
“Dewi.”
“Apa? Sampai kapan mau ditutup-tutupi?”
Aku menoleh kepada suamiku.
Dewi bangkit, masuk ke kamar, lalu kembali membawa sebuah map cokelat tebal.
Dia meletakkannya di hadapanku.
“Buka.”
Di dalamnya terdapat puluhan bukti transfer, kuitansi rumah sakit, dokumen bank, dan beberapa surat.
Aku membaca satu demi satu.
Kemudian tanganku berhenti pada sebuah buku tabungan.
Namanya bukan Dewi.
Namanya Budi Santoso.
Saldo terakhirnya membuatku terdiam.
Lebih dari empat ratus juta rupiah.
Aku mengangkat wajah.
“Ini apa?”
Dewi menatap Budi sebelum menjawab.
“Uang yang selama ini Bapak kirim kepada saya.”
Aku semakin bingung.
“Katanya untuk kebutuhanmu.”
“Tidak.”
Dewi membuka halaman demi halaman.
Hampir setiap transfer empat juta yang dikirim Budi ternyata dipindahkan kembali ke rekening lain atas nama Budi.
Hanya sebagian kecil yang pernah digunakan.
Aku menatap suamiku.
“Kenapa?”
Budi terlihat seperti seseorang yang rahasianya akhirnya terbongkar setelah bertahun-tahun.
Dewi menjawab lebih dahulu.
“Karena Bapak tidak pernah benar-benar mengirim uang untuk saya.”
Aku kehilangan kesabaran.
“Lalu untuk siapa?”
Dewi memandangku tepat di mata.
“Untuk Ibu.”
Aku tidak langsung memahami maksudnya.
“Untuk saya?”
Dewi mengangguk.
Sepuluh tahun lalu, Budi ternyata sudah mengenalku.
Bukan sebagai teman.
Bukan pula sebagai perempuan yang ingin dinikahinya.
Dia mengenalku sebagai pemilik warung kecil di ujung gang yang setiap pagi membuka toko sebelum matahari terbit.
Aku teringat sesuatu.
Sekitar sepuluh tahun lalu, ketika anak bungsuku masih kuliah, aku pernah hampir kehilangan rumah karena utang biaya pengobatan suamiku dulu.
Saat itu aku tidak punya cukup uang untuk membayar tunggakan.
Anehnya, seorang petugas bank tiba-tiba memberi tahu bahwa sebagian kewajibanku telah dilunasi melalui program bantuan anonim.
Aku selalu mengira itu bantuan sosial.
“Jangan bilang…”
Budi menunduk.
Dewi melanjutkan.
“Bapak yang membayar.”
Aku merasa kursi di bawahku seperti menghilang.
“Kenapa?”
Budi akhirnya bicara.
“Karena dulu Ratna pernah dirawat satu kamar dengan almarhum suami Ibu.”
Aku mencoba mengingat.
Bertahun-tahun lalu, suamiku memang beberapa kali dirawat. Di ranjang sebelah pernah ada seorang perempuan sakit yang sering ditemani suaminya.
Aku tidak pernah mengingat wajah lelaki itu.
Budi.
Ternyata lelaki itu Budi.
“Waktu Ratna sakit,” katanya, “Ibu sering membawakan makanan untuk kami. Padahal Ibu sendiri sedang susah. Ratna tidak pernah lupa.”
Aku mulai mengingat perempuan kurus yang pernah kuberi bubur karena keluarganya belum datang.
“Setelah Ratna meninggal, saya beberapa kali lewat warung Ibu. Saya tahu keadaan Ibu. Saya ingin membantu, tapi saya tahu Ibu tidak akan menerima.”
Memang benar.
Aku pasti menolak.
“Jadi kamu pakai nama Dewi?”
Budi mengangguk.
Dewi menjelaskan bahwa selama bertahun-tahun dia membantu Budi menyimpan uang. Sebagian digunakan diam-diam untuk melunasi utang rumahku, membantu biaya kuliah anak bungsuku melalui beasiswa dari yayasan kecil, dan membayar beberapa tagihan rumah sakit ketika aku sakit.
Aku teringat semua “keberuntungan” yang datang di saat-saat paling sulit.
Aku selalu menganggap Tuhan mengirim pertolongan melalui orang yang tidak kukenal.
Ternyata salah satu orang itu selama ini duduk setiap sore di depan warungku sambil membeli air mineral yang sebenarnya tidak dia butuhkan.
Air mataku jatuh.
“Tapi kenapa masih menyimpan uang sebanyak ini?”
Budi tersenyum lemah.
“Karena saya takut mati lebih dulu.”
Aku menatapnya.
“Ratna meninggalkan saya tanpa persiapan. Saya tahu rasanya hidup sendirian ketika usia sudah tidak muda.”
Dia menunjuk buku tabungan.
“Saya ingin kalau suatu hari saya meninggal, Ibu tidak perlu bergantung kepada anak-anak.”
Aku tidak tahu harus marah atau menangis.
“Lalu pesan Dewi? Kenapa dia bilang jangan sampai aku tahu?”
Dewi tertawa kecil.
“Itu salah saya.”
Ternyata setelah mendengar Budi akan menikah denganku, Dewi meminta Budi menghentikan skema rahasia itu dan menyerahkan seluruh tabungan secara terbuka.
Namun Budi takut aku akan menolak.
“Dia keras kepala,” kata Dewi. “Katanya setelah menikah, dia mau kasih kartu pensiunnya dulu. Pelan-pelan baru cerita soal tabungan.”
Aku menatap Budi.
“Jadi uang bulan ini belum dikirim karena kamu menikah denganku?”
Budi mengangguk.
“Saya mau mengakhiri semuanya.”
“Tapi kamu malah memberiku kartu yang saldonya kosong.”
Budi tampak malu.
“Saya lupa transfer otomatis untuk beberapa kebutuhan masih jalan.”
Untuk pertama kalinya sejak dua hari terakhir, aku tertawa.
Dewi ikut tertawa.
Budi justru terlihat semakin salah tingkah.
Namun masih ada satu hal yang mengganjal.
“Kalau uang itu untukku, kenapa rekeningnya atas namamu?”
Budi membuka map dan mengambil satu amplop putih.
Dia menyerahkannya kepadaku.
Di dalamnya ada dokumen dari notaris.
Aku membaca perlahan.
Rumah Budi telah dialihkan menjadi hak bersama setelah pernikahan kami tercatat. Tabungan tersebut juga telah disiapkan dengan surat kuasa dan dokumen ahli waris yang mencantumkan namaku.
Tanganku kembali gemetar.
“Pak, kenapa sejauh ini?”
Budi menatapku lama.
“Karena saya tidak menikahi Ibu supaya ada orang yang memasak atau merawat saya.”
Dia berhenti sebentar.
“Saya menikahi Ibu karena saya ingin kita sama-sama punya seseorang ketika pulang ke rumah.”
Aku menangis.
Bukan karena empat ratus juta.
Bukan karena rumah.
Aku menangis karena selama dua belas tahun aku terbiasa menjadi orang yang selalu kuat.
Aku lupa rasanya memiliki seseorang yang memikirkan bagaimana aku akan hidup jika suatu hari dia tidak ada.
Dalam perjalanan pulang, aku menggenggam kartu ATM pensiun Budi.
“Kartu ini tetap kamu pegang,” kataku.
“Kenapa?”
“Karena kalau aku yang pegang, kamu nanti tidak punya uang buat beli pisang goreng.”
Dia tertawa.
“Tapi tabungannya Ibu yang pegang.”
Aku menggeleng.
“Kita pegang bersama.”
Budi terdiam.
“Bersama?”
“Iya. Kalau sudah menikah, jangan ada lagi uangmu, uangku, atau rahasia sepuluh tahun.”
Dia mengangguk.
Beberapa bulan kemudian, kami menggunakan sebagian kecil tabungan itu untuk memperbaiki warung.
Bukan menjadi minimarket besar.
Aku tidak menginginkannya.
Kami hanya memperluas teras, mengganti rak tua, dan menambahkan dua bangku panjang.
Dewi kadang datang bersama keluarganya.
Anak-anakku juga akhirnya mengetahui semuanya.
Putriku menangis ketika tahu siapa yang diam-diam membantu biaya kuliah adiknya bertahun-tahun lalu.
Suatu sore, ketika aku dan Budi sedang duduk di depan warung, seorang tetangga bercanda.
“Bu Sari enak sekarang. Menikah lagi dapat suami pensiunan. Tinggal menikmati uang pensiun.”
Aku menoleh kepada Budi.
Dia juga menatapku.
Kami tertawa bersamaan.
Tetangga itu tentu tidak tahu bahwa kartu pensiun yang dulu membuatku curiga justru membongkar sesuatu yang jauh lebih berharga daripada saldo rekening.
Malam itu, setelah warung tutup, aku menemukan Budi sedang menulis sesuatu di buku kecil.
“Apa itu?”
“Catatan pengeluaran.”
Aku mengambil bukunya.
Di halaman pertama tertulis dua nama.
Budi dan Sari.
Di bawahnya ada kalimat pendek.
Tidak boleh ada rahasia, sekecil apa pun.
Aku tersenyum.
Lalu di halaman berikutnya aku menemukan satu baris pengeluaran hari itu.
Pisang goreng, dua puluh ribu rupiah.
Aku menatapnya.
“Pak.”
“Ya?”
“Kamu beli pisang goreng lagi?”
Budi tersenyum seperti anak kecil ketahuan berbohong.
“Cuma dua puluh ribu.”
Aku tertawa sambil menutup buku itu.
Pada usia enam puluh tahun, aku akhirnya memahami sesuatu yang tidak pernah diajarkan kehidupan kepadaku sebelumnya.
Cinta di usia senja bukan tentang siapa yang mampu menjanjikan sisa hidup paling indah.
Bukan pula tentang siapa yang memiliki rumah, pensiun, atau tabungan paling banyak.
Cinta adalah menemukan seseorang yang mengetahui betapa kerasnya kamu berjuang sendirian, lalu memilih berdiri di sebelahmu tanpa mengambil kemudi dari tanganmu.
Seseorang yang tidak membuatmu merasa lemah karena menerima bantuan.
Seseorang yang tetap menghormati harga dirimu ketika ingin menjagamu.
Dan yang terpenting, seseorang yang akhirnya berani membuka semua rahasianya agar kalian tidak perlu menghabiskan sisa usia dengan saling menebak.
Aku memang menemukan rahasia yang disembunyikan suamiku selama sepuluh tahun.
Tetapi rahasia terbesar itu ternyata bukan perempuan lain.
Bukan perselingkuhan.
Bukan pula keluarga kedua.
Rahasia itu adalah kenyataan bahwa jauh sebelum Budi berani meminta tanganku dalam pernikahan, dia sudah menjadi salah satu tangan tak terlihat yang berkali-kali menolongku berdiri.
Dan baru pada usia enam puluh tahun aku menyadari bahwa terkadang orang yang datang paling terlambat dalam hidup kita justru adalah orang yang sudah paling lama mendoakan agar kita baik-baik saja.
