ADIKKU MEMPERMALUKANKU DI GALA PENSIUN AYAH DAN MENUNJUKKAN BEKAS LUKAKU—LALU SEORANG LAKSAMANA BERDIRI TEGAK DAN MENYAPAKU, “KAPTEN NADIRA WIJAYA,” DI DEPAN DUA RATUS TAMU

“Kapten Nadira Wijaya.”

Tiga kata itu mengubah seluruh suasana ballroom.

Beberapa detik sebelumnya, aku adalah putri sulung Hendra Wijaya yang dianggap gagal, menghilang lima tahun tanpa penjelasan, lalu kembali dengan bekas luka yang baru saja dipamerkan adiknya sendiri.

Sekarang seorang laksamana berdiri tegak di hadapanku dan memberi hormat.

Aku membalas hormatnya.

“Laksamana.”

Maya menatapku seolah baru pertama kali melihat wajahku.

Ayah bahkan tidak berkedip.

Laksamana Madya Surya Adinata menurunkan tangannya.

“Kami kira Anda masih berada di Surabaya sampai besok.”

“Jadwal saya berubah, Pak.”

“Bagus. Karena ada beberapa orang yang sudah lama ingin bertemu dengan Anda.”

Tatapannya turun sekilas ke blusku yang rusak. Wajahnya mengeras, tetapi dia tidak bertanya.

Dia hanya melepas jas seragam putih yang dikenakannya di atas kemeja dinas lalu menyodorkannya kepadaku.

“Pak, tidak perlu.”

“Pakai.”

Aku menerimanya.

Saat kain putih itu menutupi bahuku, bisikan mulai memenuhi ruangan.

“Kapten?”

“Dia perwira?”

“Bukannya anak Pak Hendra kerja di luar negeri?”

“Aku kira dia tidak punya pekerjaan tetap.”

Aku mendengar semuanya.

Begitu pula Maya.

Wajahnya memucat.

“Ini bercanda, kan?”

Laksamana Surya menoleh kepadanya.

Tidak marah.

Justru ketenangannya membuat Maya langsung kehilangan keberanian.

“Anda siapa?”

“Maya Wijaya. Adiknya.”

“Begitu.”

Hanya satu kata.

Namun entah mengapa Maya mundur setengah langkah.

Ayah akhirnya menemukan suaranya.

“Pak Laksamana, mungkin ada kesalahpahaman. Nadira memang putri saya, tapi setahu saya dia bekerja di perusahaan logistik.”

Aku menatap Ayah.

Lima tahun.

Selama lima tahun, dia tidak pernah sekali pun benar-benar bertanya apa pekerjaanku.

Setiap kali Ibu mencoba menyebut namaku, Ayah selalu menjawab hal yang sama.

Kalau dia mau pulang, dia tahu alamat rumah.

Sekarang dia tampak terkejut karena ternyata dunia terus bergerak meskipun dia berhenti mengenalku.

Laksamana Surya menatapnya.

“Tidak ada kesalahpahaman, Pak Hendra.”

Dia lalu kembali menatapku.

“Kapten Nadira memimpin tim integrasi sistem komunikasi maritim dalam operasi kemanusiaan dan evakuasi di Laut Natuna tiga tahun lalu.”

Ruangan semakin sunyi.

Jantungku berdetak lebih keras.

Aku tidak suka bagian ini.

Aku tidak pernah suka ketika orang membicarakan apa yang terjadi malam itu.

Laksamana Surya melanjutkan.

“Ketika kapal pendukung kehilangan komunikasi utama akibat kebakaran di ruang perangkat, Kapten Nadira dan timnya bertahan untuk mengaktifkan sistem cadangan.”

Mata Ibu langsung jatuh ke bahuku.

Ke tempat bekas luka tadi terlihat.

Aku tahu dia mulai memahami.

“Api?” bisiknya.

Aku tidak menjawab.

Laksamana Surya seolah menyadari sesuatu, lalu berhenti bicara.

Tetapi sudah terlambat.

Maya menatap punggungku.

Bekas luka itu tiba-tiba tidak lagi terlihat lucu baginya.

“Jadi itu karena…”

“Ya,” jawabku pelan.

Ibu menutup mulut.

Ayah masih berdiri kaku.

“Apa yang terjadi?”

Pertanyaan itu akhirnya keluar dari mulutnya.

Lima tahun terlambat.

Aku menatapnya lama.

“Sekarang Ayah ingin tahu?”

Wajahnya berubah.

“Nadira…”

“Lima tahun lalu aku bilang aku harus pergi. Ayah bilang kalau aku keluar malam itu, jangan berharap keluarga menungguku.”

“Itu karena kamu menolak pekerjaan di perusahaan.”

“Aku menolak menjadi direktur hanya karena aku anak Ayah.”

“Aku sedang mempersiapkan masa depanmu.”

“Bukan. Ayah sedang mempersiapkan penerus.”

Aku menarik napas.

“Aku ingin punya hidup yang benar-benar kupilih sendiri.”

Maya tiba-tiba menyela.

“Tapi kenapa tidak pernah bilang kamu masuk militer?”

Aku tertawa kecil.

“Kapan kamu pernah bertanya?”

Maya membuka mulut, lalu menutupnya lagi.

Laksamana Surya memandang jam tangannya.

“Kapten, upacara penghargaan akan dimulai.”

Ayah menoleh cepat.

“Penghargaan?”

Laksamana Surya mengangguk.

“Bukankah Pak Hendra sudah diberi tahu?”

Ayah terlihat bingung.

Saat itulah seorang pria dari panitia mendekati kami dengan wajah gugup.

“Pak Hendra, sebenarnya susunan acara malam ini memiliki satu agenda tambahan dari Kementerian Pertahanan dan TNI AL. Kami diminta merahasiakannya karena merupakan kejutan.”

Ayah menatap pria itu.

“Agenda apa?”

Pria tersebut melihat ke arahku.

“Penghargaan kepada tim pengembangan sistem komunikasi darurat generasi terbaru.”

Aku sudah tahu apa yang akan terjadi.

Dan aku sangat ingin pergi.

Namun Laksamana Surya berkata pelan, “Lima menit saja.”

Aku mengangguk.

Pembawa acara kembali naik ke panggung.

Para tamu perlahan kembali ke tempat masing-masing.

Aku hendak berjalan, tetapi Ibu memegang lenganku.

“Nadira.”

Aku berhenti.

Matanya sudah basah.

“Kamu terluka separah itu dan Ibu tidak tahu?”

Aku tidak sanggup menatapnya lama.

“Aku dirawat hampir tiga bulan.”

“Tiga bulan?”

“Aku menelepon rumah setelah operasi kedua.”

Wajah Ibu membeku.

“Apa?”

Aku menatap Ayah.

Dia langsung mengalihkan pandangan.

Dan saat itulah aku tahu.

Ibu mengikuti tatapanku.

“Hendra?”

Ayah tidak menjawab.

“Hendra, apa Nadira pernah menelepon?”

Maya juga menatap Ayah.

Rahangnya mengeras.

“Aku menerima satu telepon.”

Dada Ibu naik turun.

“Kenapa kamu tidak pernah bilang?”

“Waktu itu kondisinya sedang kacau. Nadira sudah memilih pergi. Aku pikir dia hanya menghubungi kita karena—”

“Karena apa?”

Suara Ibu pecah.

“Karena dia gagal.”

Aku menutup mata sebentar.

Ternyata aku masih bisa terluka oleh kalimat yang sebenarnya sudah kuduga.

Ayah melanjutkan dengan suara lebih rendah.

“Aku tidak tahu dia dirawat.”

“Ayah tidak memberi kesempatan aku menjelaskan.”

Aku masih ingat telepon itu.

Tubuhku dipenuhi perban. Tangan kiriku bahkan sulit digerakkan.

Aku hanya ingin mendengar suara Ibu.

Ayah yang mengangkat.

Begitu mendengar namaku, dia berkata, Kalau kamu menelepon hanya karena hidupmu tidak berjalan sesuai rencana, selesaikan sendiri. Kamu yang memilih pergi.

Lalu telepon ditutup.

Aku tidak pernah menelepon lagi.

Ibu melepaskan lenganku.

Bukan karena marah kepadaku.

Dia berbalik menatap suaminya.

“Lima tahun, Hendra.”

“Aku tidak tahu.”

“Kamu tidak mau tahu.”

Kalimat itu membuat Ayah diam.

Suara pembawa acara terdengar dari panggung.

“Pada malam yang istimewa ini, kami juga memberikan penghormatan kepada seorang perwira yang memiliki kontribusi penting dalam pengembangan sistem komunikasi darurat kapal nasional.”

Laksamana Surya memberi isyarat kepadaku.

Aku berjalan menuju panggung.

Dua ratus pasang mata mengikutiku.

Beberapa menit lalu aku ingin bersembunyi karena bekas lukaku terlihat.

Sekarang aku berjalan melewati mereka tanpa menundukkan kepala.

Di atas panggung, layar besar berubah.

Muncul foto sebuah kapal di tengah laut.

Lalu foto tim kami.

Aku berdiri di tengah dengan seragam lapangan, rambut pendek, wajah lelah, dan perban terlihat di leher.

Maya menatap layar tanpa bergerak.

Pembawa acara melanjutkan.

“Kapten Nadira Wijaya memimpin tim teknis yang mengembangkan protokol redundansi komunikasi untuk kapal pendukung operasi. Sistem tersebut kemudian dikembangkan lebih lanjut menjadi Arunika Maritime Emergency Network.”

Aku mendengar suara kecil dari arah meja perusahaan Ayah.

Beberapa direkturnya saling menatap.

Aku tahu kenapa.

PT Samudra Vantara Teknologi sedang mengikuti tender besar untuk menjadi mitra manufaktur sistem Arunika.

Mereka sudah mengejarnya hampir setahun.

Dan Ayah belum tahu satu hal.

Laksamana Surya naik ke panggung.

Dia menyerahkan sebuah plakat kepadaku.

“Kapten Nadira.”

“Siap, Pak.”

“Silakan sampaikan beberapa kata.”

Aku berdiri di depan mikrofon.

Dari panggung, aku bisa melihat seluruh keluargaku.

Ibu menangis.

Maya menunduk.

Ayah menatapku dengan ekspresi yang tidak bisa kubaca.

“Aku tidak menyiapkan pidato,” kataku.

Beberapa orang tersenyum.

“Jadi saya hanya ingin mengatakan satu hal.”

Aku berhenti sebentar.

“Bekas luka sering membuat orang bertanya apa yang terjadi pada tubuh kita. Tapi jarang ada yang bertanya apa yang harus kita lalui agar bisa tetap berdiri setelah mendapatkannya.”

Ruangan sunyi.

“Saya tidak bangga karena pernah terluka. Saya bangga karena orang-orang di tim saya pulang hidup-hidup.”

Aku melihat beberapa anggota timku di meja belakang.

Mereka berdiri.

Satu per satu memberi hormat.

Aku menahan napas.

“Penghargaan ini milik mereka.”

Tepuk tangan memenuhi ballroom.

Aku turun dari panggung setelah acara selesai.

Kupikir malam itu sudah cukup mengejutkan.

Ternyata belum.

Direktur utama PT Samudra Vantara Teknologi mendekati Ayah dengan wajah tegang.

“Pak Hendra.”

“Ada apa?”

Dia membisikkan sesuatu.

Ayah langsung menoleh kepadaku.

“Nadira.”

Aku tahu pertanyaan berikutnya.

“Arunika… kamu terlibat dalam evaluasi mitra industri?”

Aku mengangguk.

“Ya.”

Wajahnya pucat.

“Seberapa jauh?”

“Saya ketua panel teknis.”

Maya menatap kami bergantian.

“Apa maksudnya?”

Direktur perusahaan Ayah menjawab pelan.

“Perusahaan kita sedang mengajukan kontrak sebagai salah satu pemasok utama proyek itu.”

Maya langsung menutup mulut.

Ayah mendekatiku.

Untuk pertama kalinya dalam hidupku, Hendra Wijaya tampak tidak tahu harus bicara sebagai ayah atau sebagai pengusaha.

“Nadira, soal tadi…”

Aku langsung mengangkat tangan.

“Jangan.”

Dia berhenti.

“Kalau Ayah mau meminta maaf, jangan lakukan karena proyek.”

“Aku tidak—”

“Kalau perusahaan Ayah memenuhi persyaratan, perusahaan akan dinilai secara profesional. Kalau tidak memenuhi, perusahaan tidak akan lolos.”

Aku menatapnya.

“Hubungan keluarga tidak akan mengubah keputusan.”

Ayah menelan ludah.

“Aku tidak pernah berniat memanfaatkanmu.”

“Bagus.”

Aku hendak pergi ketika Maya berdiri di depanku.

Matanya merah.

Untuk pertama kalinya, tidak ada senyum mengejek di wajahnya.

“Kak.”

Aku menunggu.

“Aku minta maaf.”

Aku tidak langsung menjawab.

Dia menatap lantai.

“Aku pikir Kakak pergi karena merasa lebih hebat dari kami.”

“Kenapa?”

“Karena itu yang selalu Ayah bilang.”

Aku menoleh kepada Ayah.

Dia memejamkan mata.

Maya melanjutkan.

“Ayah bilang Kakak terlalu keras kepala. Tidak peduli keluarga. Tidak pernah mau berjuang bersama kita.”

Aku menatap adikku.

“Tapi kamu tetap menarik bajuku.”

Dia mulai menangis.

“Iya.”

Tidak ada alasan yang bisa membenarkan itu.

Dan aku tidak ingin berpura-pura satu permintaan maaf bisa menghapus semuanya.

“Aku belum bisa memaafkanmu malam ini.”

Maya mengangguk.

“Tapi terima kasih sudah meminta maaf.”

Aku melewatinya.

Ibu mengejarku sampai ke teras hotel.

“Nadira.”

Udara malam Jakarta terasa lebih ringan dibanding ballroom itu.

Ibu berdiri di belakangku.

“Pulanglah.”

Aku menatapnya.

“Ke rumah?”

Ibu menggeleng.

“Bukan.”

Dia menggenggam tanganku.

“Pulang ke Ibu.”

Kalimat itu menghancurkan sesuatu yang selama bertahun-tahun kubangun di dalam dada.

Aku memeluknya.

Untuk pertama kalinya setelah lima tahun.

Beberapa minggu kemudian, PT Samudra Vantara Teknologi gagal dalam tahap pertama evaluasi proyek Arunika.

Bukan karena aku.

Tim audit menemukan ketidaksesuaian spesifikasi pada beberapa perangkat yang diajukan.

Ayah tidak meneleponku untuk meminta bantuan.

Sebaliknya, aku menerima sebuah pesan singkat.

Ayah akan memperbaikinya. Sesuai prosedur.

Aku membaca pesan itu berkali-kali.

Enam bulan kemudian, perusahaan mengajukan kembali setelah melakukan perombakan standar produksi.

Kali ini mereka lolos.

Saat kontrak ditandatangani, Ayah datang sebagai komisaris perusahaan.

Aku hadir sebagai perwakilan panel teknis.

Kami berjabat tangan seperti dua profesional.

“Nadira.”

“Ya, Pak Hendra?”

Dia tersenyum pahit mendengar panggilanku.

“Ayah bangga padamu.”

Aku terdiam.

Dulu aku mungkin akan melakukan apa pun untuk mendengar kalimat itu.

Sekarang rasanya berbeda.

Bukan tidak berarti.

Hanya saja aku tidak lagi membutuhkannya untuk mengetahui siapa diriku.

“Terima kasih.”

Ayah mengangguk.

Kemudian dia berkata sesuatu yang jauh lebih penting.

“Dan Ayah minta maaf karena baru bangga setelah orang lain menunjukkan siapa kamu.”

Aku menatapnya.

Tidak ada pembelaan.

Tidak ada alasan.

Untuk pertama kalinya, hanya ada penyesalan.

Aku mengulurkan tangan.

Bukan untuk berjabat.

Aku memeluknya.

Singkat.

Canggung.

Tetapi nyata.

Setahun setelah gala itu, Ayah benar-benar pensiun.

Bukan di ballroom mewah.

Dia memilih makan malam kecil di rumah.

Hanya keluarga.

Maya datang lebih awal dan membantuku menata meja.

Hubungan kami belum sempurna.

Mungkin tidak akan pernah sempurna.

Namun sekarang dia belajar bertanya sebelum menilai.

Ayah belajar mendengarkan sebelum memutuskan.

Dan aku belajar bahwa memaafkan bukan berarti berpura-pura luka tidak pernah ada.

Setelah makan malam, Ibu meminta kami berfoto.

Maya berdiri di sampingku.

Ayah di sisi lain.

Ketika kamera hampir memotret, Maya berbisik.

“Kak.”

“Hmm?”

“Bekas luka Kakak kelihatan sedikit.”

Aku mengenakan gaun dengan bagian bahu agak terbuka.

Dulu aku pasti langsung menutupinya.

Namun malam itu aku tidak bergerak.

“Biarkan.”

Maya tersenyum kecil.

Kamera berbunyi.

Dan untuk pertama kalinya, dalam foto keluarga Wijaya, bekas lukaku terlihat jelas.

Tidak ada yang berusaha menyembunyikannya.

Karena akhirnya mereka memahami sesuatu yang selama bertahun-tahun juga harus kupelajari sendiri.

Bekas luka itu bukan bukti bahwa hidup pernah menghancurkanku.

Itu bukti bahwa aku pernah berada di tempat yang hampir menghancurkanku, tetapi aku tetap pulang sebagai diriku sendiri.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang