Kirana menatap map cokelat itu seolah-olah benda tersebut bisa meledak kapan saja.
Ponselnya masih berada di tangannya. Pesan tentang rapat darurat dewan direksi belum hilang dari layar, tetapi jemarinya sudah mulai gemetar.
“Buka,” kataku sekali lagi.
“Apa yang kamu lakukan pada keluargaku?”
“Aku tidak melakukan apa pun pada keluargamu.”
Aku menarik kursi dan duduk di seberangnya.

“Aku hanya berhenti membiarkan keluargamu melakukan apa pun yang mereka mau pada perusahaanku.”
Kirana akhirnya meraih map itu.
Begitu halaman pertama terbuka, wajahnya berubah.
Itu bukan surat perceraian.
Bukan pula dokumen penjualan saham seperti yang mungkin ia bayangkan.
Halaman pertama adalah laporan audit internal PT Arunika Karya selama empat bulan terakhir.
Di bawahnya terdapat salinan transaksi, daftar perusahaan vendor, catatan transfer, dan beberapa lembar korespondensi elektronik yang sudah dicetak.
Kirana membalik halaman dengan cepat.
Lalu berhenti.
“Dari mana kamu dapat ini?”
“Dari perusahaan yang seharusnya tidak pernah kamu sentuh.”
Dia mengangkat kepala.
“Aku tidak mengerti.”
“Kamu mengerti.”
Aku menunjuk salah satu nama yang dicetak tebal.
PT Nawasena Konsultan.
Selama enam bulan terakhir, perusahaan itu menerima pembayaran hampir Rp6,4 miliar dari Arunika Karya untuk jasa konsultasi pengembangan proyek.
Masalahnya, tidak pernah ada tim konsultan yang datang.
Tidak pernah ada laporan pekerjaan.
Tidak pernah ada hasil kajian.
Yang ada hanya invoice.
Dan PT Nawasena Konsultan ternyata dikendalikan oleh seseorang bernama Adrian Mahesa.
Sepupu Kirana.
Wajah Kirana kehilangan warna.
“Itu urusan bisnis.”
“Bisnis apa?”
“Papa tahu.”
“Aku sudah bertanya langsung pada papamu.”
Kirana membeku.
Aku masih ingat pertemuan itu.
Empat hari lalu aku duduk berhadapan dengan Surya Mahesa di sebuah ruangan rapat di lantai dua puluh enam kantornya.
Pria berusia enam puluh dua tahun itu membaca dokumen yang sama selama hampir satu jam tanpa bicara.
Ketika akhirnya mengangkat kepala, wajahnya tampak sepuluh tahun lebih tua.
Dia hanya mengatakan satu kalimat.
“Aku tidak pernah menyetujui ini.”
Saat itulah aku tahu masalahnya jauh lebih besar daripada dugaan awalku.
Kirana menutup map dengan keras.
“Kamu menemui Papa di belakangku?”
“Ya.”
“Kamu mengadu?”
“Tidak. Aku membawa bukti.”
“Itu sama saja!”
“Tidak.”
Aku menatapnya.
“Anak kecil mengadu. Orang dewasa menyerahkan bukti.”
Napas Kirana semakin cepat.
“Aku Direktur Investasi Mahesa Capital. Aku punya kewenangan.”
“Tidak untuk membuat vendor fiktif dan mengalihkan uang.”
“Aku tidak mengambil uang itu.”
“Benar.”
Dia tampak sedikit lega.
Aku melanjutkan.
“Kamu menyuruh Adrian mengambilnya.”
Kelegaan itu hilang.
Aku mengeluarkan ponsel dan membuka satu rekaman.
Suara Kirana terdengar jelas.
“Pecah invoice-nya. Jangan lebih dari sembilan ratus juta per transaksi. Kalau terlalu besar, finance Raka bisa curiga.”
Kirana langsung berdiri.
“Matikan!”
Aku mematikan rekaman.
Ruangan menjadi sunyi.
Hanya suara hujan yang memukul kaca.
“Empat bulan lalu,” kataku, “kepala keuangan menemukan pola pembayaran aneh. Dia melapor kepadaku.”
“Kamu merekamku?”
“Bukan aku.”
Aku kembali membuka map dan menunjukkan satu nama.
Nadia Prameswari.
Mantan staf investasi Mahesa Capital.
Kirana mengenal nama itu.
Aku bisa melihatnya dari ekspresi wajahnya.
“Nadia?”
“Dia yang menyerahkan rekaman.”
“Perempuan itu dipecat karena mencuri data perusahaan.”
“Tidak.”
Aku menggeleng.
“Dia dipecat karena menolak menandatangani dokumen transaksi Nawasena.”
Kirana perlahan duduk kembali.
Untuk beberapa saat tidak ada lagi kesombongan dalam tatapannya.
Yang tersisa hanya ketakutan.
Kemudian suara langkah terdengar dari lantai atas.
Aku menoleh.
Dimas berdiri di ujung tangga.
“Papa?”
Aku segera berdiri.
“Kenapa turun?”
“Lala mau Papa.”
Aku berjalan menghampirinya.
Kirana tiba-tiba berkata, “Dimas.”
Anakku berhenti.
Aku melihat tubuhnya langsung menegang.
Kirana sepertinya menyadarinya juga.
Untuk pertama kalinya aku melihat sesuatu yang selama ini tidak pernah kuperhatikan.
Dimas takut padanya.
Bukan sekadar tidak menyukai.
Takut.
Aku menahan napas.
“Dimas,” kataku pelan. “Naik dulu. Papa sebentar lagi menyusul.”
Dia mengangguk.
Namun sebelum berbalik, dia berkata sangat pelan.
“Papa jangan pergi lagi.”
Kalimat itu menghantamku lebih keras daripada semua dokumen dalam map.
Aku naik bersamanya.
Di kamar, Lala duduk di atas ranjang sambil memeluk boneka kelincinya.
Begitu melihatku, dia mengulurkan tangan.
Aku menggendongnya.
“Papa di sini.”
“Papa jangan marah sama Kak Dimas.”
Aku mengernyit.
“Kenapa Papa harus marah?”
Lala memandang pintu.
Kemudian berbisik.
“Soalnya vasnya bukan Kak Dimas yang pecahin.”
Aku duduk.
“Apa yang terjadi?”
Lala menggenggam kerah bajuku.
“Tante Kirana marah sama Kak Dimas karena Kak Dimas ambil foto Mama.”
Dadaku seketika terasa sesak.
“Foto Mama?”
Dimas berdiri di dekat meja belajar. Wajahnya pucat.
Aku memandangnya.
“Foto yang mana?”
Dia membuka laci meja.
Dari dalamnya, dia mengeluarkan sebuah foto lama.
Foto almarhumah istriku, Maya, sedang menggendong Lala yang waktu itu masih bayi. Dimas berdiri di sampingnya sambil tertawa.
Foto itu biasanya berada di meja kecil ruang keluarga.
Aku baru menyadari sudah beberapa bulan tidak melihatnya.
“Tante Kirana buang fotonya ke kotak,” kata Dimas.
“Aku ambil lagi.”
“Terus?”
“Tante lihat.”
Dia menunduk.
“Katanya Mama sudah meninggal dan fotonya nggak perlu ada di rumah.”
Aku menutup mata sesaat.
Semua tanda yang selama ini kuabaikan mulai tersusun menjadi gambaran yang jauh lebih buruk.
Aku terlalu sibuk bekerja.
Terlalu percaya bahwa diam berarti semuanya baik-baik saja.
Aku menggenggam bahu Dimas.
“Dengar Papa.”
Dia mengangkat wajah.
“Kamu tidak pernah salah karena menyimpan foto Mama.”
Matanya langsung berkaca-kaca.
“Benar?”
“Benar.”
Aku menarik kedua anakku ke dalam pelukan.
Dan saat itulah aku membuat keputusan yang seharusnya sudah kubuat sejak lama.
Malam itu juga, Kirana harus pergi.
Namun sebelum aku kembali ke bawah, suara beberapa mobil terdengar memasuki halaman.
Aku melihat dari jendela.
Tiga mobil berhenti di depan rumah.
Dari mobil pertama turun Surya Mahesa.
Ayah Kirana.
Dari mobil kedua turun ibunya, Ratna, bersama Adrian.
Aku tersenyum pahit.
Rupanya rapat keluarga dimulai lebih cepat.
Ketika aku turun, ruang keluarga sudah dipenuhi suara.
“Kamu mempermalukan keluarga kita!”
Suara Surya terdengar bahkan sebelum aku sampai.
Kirana berdiri sambil menangis.
“Papa bahkan tidak dengar penjelasanku!”
“Apa yang mau dijelaskan?”
Surya melempar beberapa dokumen ke meja.
“Enam miliar lebih dialihkan ke perusahaan Adrian!”
Adrian langsung berdiri.
“Om, aku cuma menjalankan instruksi.”
“Diam!”
Ratna mencoba menenangkan mereka.
“Jangan teriak-teriak. Ada anak-anak.”
Aku hampir tertawa mendengarnya.
Baru sekarang mereka ingat ada anak-anak di rumah ini.
Surya menatapku.
“Raka.”
Aku turun dari anak tangga terakhir.
“Pak.”
“Kita selesaikan semuanya malam ini.”
“Silakan.”
Kirana menunjukku.
“Dia sengaja melakukan ini! Dia ingin mengambil perusahaan dari keluarga kita.”
Surya menatap putrinya lama.
“Perusahaan itu bukan milik kita.”
“Tapi kita punya tiga puluh lima persen!”
“Tidak lagi.”
Ruangan mendadak sunyi.
Bahkan aku sedikit terkejut mendengar kalimat itu diucapkan begitu langsung.
Kirana menatap ayahnya.
“Apa?”
Surya membuka tas dokumennya.
“Pagi ini Mahesa Capital menyetujui penjualan seluruh sahamnya di Arunika Karya.”
“Ke siapa?”
Surya tidak menjawab.
Dia justru memandangku.
Aku mengeluarkan satu lembar dokumen terakhir dari map cokelat.
“Kepadaku.”
Kirana tertawa.
Namun tawanya terdengar gugup.
“Kamu bahkan tidak punya dana untuk membeli tiga puluh lima persen.”
“Aku memang tidak punya.”
Aku meletakkan dokumen itu di meja.
“Tapi Arunika Holdings punya.”
“Perusahaan apa lagi itu?”
“Perusahaan yang kubentuk delapan bulan lalu.”
Aku menjelaskan sesuatu yang selama ini bahkan Kirana tidak pernah pedulikan.
Setelah Arunika Karya mulai pulih, aku tidak mengambil dividen besar.
Aku mengalihkan sebagian keuntungan ke perusahaan induk baru.
Dua investor lama ikut masuk.
Kemudian, tiga bulan lalu, sebuah perusahaan logistik asal Surabaya membeli saham minoritas di holding tersebut.
Dengan struktur itu, kami memiliki dana dan fasilitas kredit yang cukup untuk membeli saham Mahesa Capital jika suatu hari mereka ingin keluar.
Aku tidak pernah merencanakannya untuk melawan Kirana.
Aku merencanakannya agar perusahaan tidak lagi bergantung pada satu keluarga.
Kirana memandang ayahnya.
“Papa setuju menjual?”
Surya mengangguk.
“Setelah aku tahu kamu menggunakan investasi keluarga untuk mengendalikan suamimu dan menyalahgunakan akses perusahaan.”
“Papa memilih dia daripada anak sendiri?”
Surya terdiam.
Kemudian menjawab pelan.
“Aku memilih tidak menutup mata terhadap kesalahan anak sendiri.”
Kirana mulai menangis.
Ratna mendekatinya.
Namun saat itulah Adrian tiba-tiba bergerak menuju pintu.
Surya memanggilnya.
“Kamu mau ke mana?”
“Aku nggak ada urusan lagi di sini.”
“Justru kamu punya urusan paling besar.”
Adrian berhenti.
Aku mengeluarkan dokumen lain.
“Ada satu hal yang belum dibaca Kirana.”
Aku meletakkannya di meja.
“Itu laporan aliran dana dari Nawasena.”
Kirana mengernyit.
“Memangnya kenapa?”
“Hanya Rp1,7 miliar yang masuk ke rekening yang kamu kendalikan.”
Dia langsung menoleh kepada Adrian.
Aku melanjutkan.
“Sisanya, hampir Rp4,7 miliar, dipindahkan Adrian ke beberapa rekening lain.”
Wajah Adrian berubah.
“Bohong.”
“Termasuk pembayaran apartemen di Singapura.”
Kirana berdiri.
“Kamu bilang uangnya aman.”
Adrian mundur.
“Kirana, dengar dulu.”
“Kamu mencuri dariku?”
Ironis.
Orang yang beberapa jam lalu mengancam akan menghancurkan perusahaanku kini marah karena orang yang diajaknya mengalihkan uang ternyata mengkhianatinya.
Surya mengambil ponselnya.
“Aku sudah menyerahkan seluruh bukti kepada tim hukum.”
Adrian panik.
“Om!”
“Besok pagi kau datang ke kantor bersama pengacaramu.”
Adrian berusaha bicara lagi, tetapi Surya tidak menghiraukannya.
Kirana jatuh terduduk.
Untuk pertama kalinya malam itu, dia terlihat benar-benar kalah.
Namun aku tidak merasakan kemenangan.
Aku hanya merasa lelah.
“Kirana.”
Dia mengangkat wajah.
“Besok pengacaraku akan menghubungi pengacaramu.”
Dia langsung memahami maksudku.
“Raka…”
“Pernikahan kita selesai.”
Ratna menatapku.
“Raka, jangan mengambil keputusan saat emosi.”
“Aku justru terlambat mengambil keputusan.”
Aku menunjuk lantai atas.
“Anak saya yang berumur delapan tahun merasa harus melindungi adiknya dari istri saya sendiri.”
Tidak seorang pun menjawab.
“Kirana boleh membenci saya. Dia boleh meninggalkan saya. Dia bahkan boleh mencoba mengambil perusahaan saya.”
Aku menatapnya.
“Tapi begitu dia membuat anak-anak saya merasa tidak aman di rumah mereka sendiri, tidak ada lagi yang perlu dibicarakan.”
Kirana menangis semakin keras.
“Aku bisa berubah.”
“Mungkin.”
Aku mengangguk.
“Tapi perubahanmu tidak boleh dibayar dengan ketakutan anak-anakku.”
Surya berdiri.
“Ayo, Kirana.”
Dia tidak bergerak.
Ratna akhirnya membantu putrinya berdiri.
Sebelum keluar, Kirana berhenti di depanku.
“Aku kehilangan semuanya gara-gara kamu.”
Aku menatapnya.
“Tidak.”
Aku menjawab pelan.
“Kamu kehilangan semuanya saat kamu mulai menganggap cinta sebagai sesuatu yang bisa dipaksa dengan ancaman.”
Dia pergi tanpa menjawab.
Rumah akhirnya kembali sunyi menjelang tengah malam.
Aku naik ke kamar anak-anak.
Lala sudah tidur.
Dimas masih terjaga.
“Papa?”
“Hmm?”
“Tante Kirana pergi?”
“Iya.”
“Dia balik lagi?”
Aku duduk di sampingnya.
“Tidak untuk tinggal di sini.”
Dimas terdiam cukup lama.
Kemudian dia mengambil foto ibunya dan menyerahkannya kepadaku.
“Boleh dipasang lagi?”
Aku melihat wajah Maya dalam foto itu.
Selama setahun terakhir, mungkin karena takut membuat Kirana merasa menjadi orang luar, aku perlahan menghapus terlalu banyak bagian dari kehidupan lamaku.
Foto-foto dipindahkan.
Tradisi kecil dihentikan.
Nama Maya semakin jarang disebut.
Aku pikir itulah cara memberi ruang kepada istri baru.
Ternyata tanpa sadar, aku justru membuat anak-anakku merasa kenangan tentang ibu mereka adalah sesuatu yang harus disembunyikan.
“Boleh,” kataku.
“Besok kita pasang.”
Dimas tersenyum untuk pertama kalinya malam itu.
Namun keesokan paginya, justru Lala yang membuatku terdiam.
Saat sarapan, dia membawa sebuah amplop kecil.
“Ini buat Papa.”
“Apa ini?”
“Dari Kak Dimas.”
Dimas langsung terlihat panik.
“Lala!”
Aku membuka amplop itu.
Di dalamnya ada selembar kertas yang dilipat empat.
Tulisan tangan Dimas memenuhi bagian tengah.
Itu bukan surat.
Itu daftar.
Jangan pulang telat hari Senin.
Tante Kirana marah kalau Lala berisik.
Jangan taruh foto Mama di bawah.
Kalau Tante Kirana ada tamu, kami harus di kamar.
Kalau Papa pergi tiga hari, tidur sama Mbak Sari.
Kalau Tante Kirana marah, jangan jawab.
Di bagian paling bawah terdapat satu kalimat yang membuat tanganku berhenti.
Kalau Papa menikah lagi, tanya dulu ke aku dan Lala.
Aku menatap Dimas.
“Sejak kapan kamu menulis ini?”
Dia menunduk.
“Biar aku nggak lupa.”
“Lupa apa?”
“Cara supaya Tante Kirana nggak marah.”
Aku tidak bisa menjawab.
Semalam aku mengira map cokelat di meja adalah dokumen paling penting yang kubuka.
Aku salah.
Kertas kecil dari anakku jauh lebih menghancurkan.
Karena laporan audit bisa menunjukkan uang yang hilang.
Rekaman bisa membuktikan pengkhianatan.
Kontrak bisa menyelamatkan perusahaan.
Namun tidak ada laporan keuangan yang bisa menghitung berapa banyak rasa aman seorang anak yang hilang ketika orang dewasa terlalu sibuk menjaga bisnis, pernikahan, dan harga dirinya sendiri.
Aku memeluk Dimas.
Lala ikut memeluk dari samping.
“Papa minta maaf.”
Dimas menggeleng.
“Papa nggak salah.”
Aku mencium kepalanya.
“Papa salah karena terlambat melihat.”
Enam bulan kemudian, proses hukum terhadap transaksi Nawasena masih berjalan.
Adrian menghadapi penyelidikan.
Kirana mengundurkan diri dari Mahesa Capital dan kami menyelesaikan perceraian tanpa pertengkaran terbuka.
Arunika Karya tetap berdiri.
Bahkan tanpa jaringan keluarga Mahesa, perusahaan tidak runtuh seperti ancaman Kirana malam itu.
Tetapi perubahan terbesar justru terjadi di rumah.
Foto Maya kembali ke ruang keluarga.
Mainan Lala kembali berserakan sesekali.
Dimas boleh membawa teman pulang.
Aku mengurangi perjalanan bisnis dan menyerahkan sebagian pekerjaan operasional kepada direksi.
Pada suatu Minggu sore, aku sedang membersihkan meja ketika menemukan map cokelat lama itu di lemari.
Dimas melihatnya.
“Papa, itu map yang bikin Tante Kirana pergi?”
Aku berpikir sejenak.
Lalu menggeleng.
“Bukan.”
“Terus apa?”
Aku menutup lemari.
“Yang membuat Tante Kirana pergi adalah pilihan yang dia buat sendiri.”
Dimas tampak berpikir.
“Terus map itu buat apa?”
Aku tersenyum.
“Map itu cuma membuat orang dewasa berhenti berbohong.”
Dia mengangguk seolah memahami, lalu berlari ke halaman karena Lala memanggilnya.
Aku berdiri di depan jendela dan melihat mereka bermain.
Dulu aku mengira kekayaan terbesar yang harus kulindungi adalah perusahaan yang kubangun bertahun-tahun.
Saham.
Proyek.
Rumah.
Rekening.
Jaringan bisnis.
Ternyata aku hampir kehilangan sesuatu yang jauh lebih mahal hanya karena terlalu sibuk mempertahankan semua itu.
Kepercayaan dua anak yang masih menganggap ayahnya sebagai tempat paling aman di dunia.
Dan kali ini, aku tidak akan terlambat menjaganya.
