IBU MERTUAKU MENGIRA AKU SEDANG MANDI, LALU DIAM-DIAM MELEMPARKAN BENDA BERBAHAYA KE KAMAR MANDI UNTUK MENAKUTIKU—TAPI ORANG YANG KELUAR DARI DALAM TERNYATA BUKAN AKU!

“Ayahmu memasukkan nama Nadira ke dalam dokumen itu karena dia tahu sesuatu yang kalian semua tidak tahu.”

Suara Bu Ratna terdengar pelan, tetapi cukup untuk membuat seluruh ruang keluarga mendadak sunyi.

Aku berdiri di samping Fajar dengan napas tertahan. Beberapa menit sebelumnya, perempuan yang selama empat tahun kupanggil Ibu itu baru saja melakukan sesuatu yang membuatku sadar bahwa kebenciannya kepadaku jauh lebih dalam daripada yang selama ini kubayangkan.

Sekarang, sebuah surat lama dari almarhum Pak Hendra seolah membuka pintu menuju rahasia yang bahkan tidak pernah kuketahui.

Fajar menatap ibunya tajam.

“Apa maksud Ibu?”

Bu Ratna tidak langsung menjawab. Matanya tertuju pada amplop tua di tangan Fajar.

Siska mengambil beberapa lembar dokumen bank yang tercecer di atas meja.

“Ini rekening atas nama Ayah,” katanya. “Tapi ada nama Nadira sebagai penerima manfaat.”

Aku spontan menoleh.

“Aku tidak pernah tahu soal rekening itu.”

“Jangan pura-pura!” bentak Bu Ratna.

Aku tersentak.

Bu Ratna menunjuk wajahku dengan tangan gemetar.

“Kamu pikir Ibu tidak tahu? Tiga minggu lalu surat itu datang. Sejak melihat namamu, Ibu langsung tahu semuanya pasti sudah direncanakan.”

“Direncanakan apa?”

“Untuk mengambil rumah ini!”

“Bu!” Fajar membentak.

Untuk pertama kalinya sejak aku mengenalnya, Fajar berbicara kepada ibunya dengan suara setinggi itu.

Bu Ratna terdiam.

Fajar membuka surat peninggalan ayahnya. Kertasnya sudah menguning di bagian tepi. Tanda tangan Pak Hendra terlihat jelas di bagian bawah.

Aku berdiri di sampingnya ketika ia mulai membaca.

Surat itu ditulis hampir lima tahun lalu.

Beberapa bulan sebelum aku dan Fajar menikah.

Pak Hendra menjelaskan bahwa rumah yang kami tempati selama ini memang terdaftar atas namanya dan Bu Ratna. Namun bagian kepemilikannya tidak otomatis seluruhnya berpindah kepada istrinya setelah ia meninggal.

Ada sebuah syarat khusus.

Separuh bagian milik Pak Hendra ditempatkan dalam sebuah pengaturan warisan terpisah.

Penerimanya adalah Fajar.

Dan seseorang bernama Nadira Prameswari.

Namaku.

Tanganku langsung dingin.

“Kenapa?” bisikku.

Siska membaca bagian berikutnya.

Lalu wajahnya berubah.

“Kak…”

“Apa?”

Dia tidak menjawab.

Fajar merebut surat itu dan membaca kalimat yang sama.

Aku melihat matanya perlahan melebar.

Kemudian ia menatapku.

“Nadira… siapa nama lengkap ayahmu?”

Pertanyaan itu terasa aneh.

“Prasetyo Wibowo.”

Bu Ratna memejamkan mata.

Fajar menoleh kepadanya.

“Ibu tahu?”

Tidak ada jawaban.

“IBU TAHU?”

“Iya!”

Teriakan Bu Ratna membuat kami semua terdiam.

Air matanya mulai mengalir.

“Ibu tahu siapa ayah Nadira.”

Aku semakin bingung.

“Apa hubungan ayah saya dengan keluarga ini?”

Bu Ratna tertawa pendek, tetapi tidak ada kebahagiaan di sana.

“Hubungannya?”

Ia menatapku dengan mata merah.

“Kalau bukan karena ayahmu, rumah ini bahkan tidak akan pernah menjadi milik keluarga kami.”

Aku seperti kehilangan suara.

Bu Ratna akhirnya duduk.

Dua puluh tujuh tahun lalu, sebelum Pak Hendra menjadi pengusaha sukses, ia pernah membangun perusahaan konstruksi kecil bersama ayahku.

Mereka bersahabat sejak kuliah.

Pak Hendra menangani operasional.

Ayahku menangani modal dan keuangan.

Ketika krisis menghantam bisnis mereka, perusahaan hampir bangkrut. Rumah yang sekarang ditempati keluarga Fajar bahkan hampir disita bank.

Saat itulah ayahku menjual sebidang tanah warisan keluarganya.

Uang hasil penjualan digunakan untuk menyelamatkan perusahaan dan melunasi sebagian besar cicilan rumah.

Aku menatap Bu Ratna tidak percaya.

“Kenapa Ayah tidak pernah menceritakannya?”

“Karena ayahmu bodoh.”

“Bu!”

Fajar langsung menegur.

Namun Bu Ratna tidak peduli.

“Prasetyo terlalu percaya pada suamiku. Tidak ada perjanjian resmi. Tidak ada pembagian saham yang jelas. Semuanya hanya berdasarkan persahabatan.”

Beberapa tahun kemudian, ayahku meninggal karena serangan jantung.

Aku masih duduk di bangku SMP ketika itu.

Setelah kematiannya, ibuku membesarkanku seorang diri sampai beliau juga meninggal beberapa tahun kemudian.

Selama ini aku mengira hubungan keluargaku dengan keluarga Fajar dimulai ketika aku bertemu Fajar di sebuah perusahaan tempat kami sama-sama bekerja.

Ternyata tidak.

Pak Hendra sudah mengenal namaku jauh sebelum itu.

Fajar kembali membaca surat tersebut.

Di bagian terakhir, Pak Hendra menulis bahwa dirinya tidak pernah mampu mengembalikan seluruh uang yang pernah diberikan ayahku.

Ketika bisnisnya berkembang, ia berusaha mencari keluargaku.

Namun ibuku selalu menolak menerima uang.

Karena itulah Pak Hendra membuat keputusan sendiri.

Ia memasukkan namaku sebagai penerima sebagian hak atas rumah tersebut dan sebuah rekening investasi.

Jumlah yang tertulis di dokumen bank membuat Siska sampai menutup mulut.

Hampir dua miliar rupiah.

Aku terduduk.

“Tidak mungkin…”

“Itu uang yang berkembang dari investasi selama bertahun-tahun,” kata Fajar.

Aku bahkan tidak tahu harus merasakan apa.

Namun kemudian aku menyadari sesuatu.

Aku menatap Bu Ratna.

“Kalau surat ini baru datang tiga minggu lalu, kenapa Ibu sudah tahu cerita tentang ayah saya?”

Bu Ratna langsung terdiam.

Fajar pun menyadarinya.

“Ibu?”

Wajah Bu Ratna kembali pucat.

Siska perlahan meletakkan dokumen.

“Ibu sudah tahu sebelumnya, kan?”

Tidak ada jawaban.

“Ibu sudah tahu sejak kapan?”

Bu Ratna menggenggam ujung bajunya.

“Sejak sebelum kalian menikah.”

Dadaku serasa dihantam.

Aku berdiri.

“Jadi selama empat tahun Ibu membenci saya karena ini?”

“Awalnya tidak.”

“Lalu karena apa?”

Bu Ratna menatapku.

“Karena suamiku memilihmu.”

Kalimat itu membuatku semakin bingung.

“Memilih saya?”

“Pak Hendra tahu kamu berpacaran dengan Fajar. Ketika pertama kali Fajar membawa fotomu pulang, ayahnya langsung mengenal wajahmu. Kamu sangat mirip ibumu.”

Fajar terdiam.

Bu Ratna melanjutkan.

“Sejak saat itu dia bilang, mungkin Tuhan sedang memberi kesempatan kepada keluarga kami untuk memperbaiki kesalahan lama.”

Aku merasakan tenggorokanku tercekat.

“Kesalahan apa?”

Bu Ratna tidak menjawab.

Justru Siska yang memperhatikan ibunya dengan curiga.

“Ibu mengambil sesuatu dari Om Prasetyo, ya?”

Bu Ratna mendadak menoleh.

Reaksinya terlalu cepat.

Dan kami semua melihatnya.

Fajar langsung berdiri.

“Apa yang Ibu lakukan?”

Bu Ratna mulai menangis.

Bukan tangisan marah seperti sebelumnya.

Kali ini tangisannya terdengar seperti seseorang yang akhirnya tidak sanggup lagi memikul rahasia.

“Waktu perusahaan hampir bangkrut, ayah Nadira memberikan uang kepada Ayah. Tapi bukan cuma itu.”

Ia mengusap wajahnya.

“Ada sebidang tanah di Bekasi. Tanah itu milik keluarga Prasetyo.”

Aku mengangguk perlahan.

Aku pernah mendengar ibuku menyebut tanah tersebut ketika masih kecil.

“Setelah ayah Nadira meninggal, harga tanah itu naik berkali-kali lipat. Ibu dan Pak Hendra sedang terlilit utang.”

Fajar mulai memahami.

“Jangan bilang…”

“Ibu memalsukan tanda tangan.”

Ruangan terasa membeku.

Bu Ratna menangis semakin keras.

“Pak Hendra tidak tahu pada awalnya. Ibu menggunakan surat kuasa lama untuk membantu proses penjualan. Uangnya menyelamatkan perusahaan.”

Aku tidak bisa berkata-kata.

Berarti rumah, bisnis, bahkan kehidupan nyaman keluarga ini selama bertahun-tahun dibangun dengan sesuatu yang seharusnya menjadi milik keluargaku.

“Ayah tahu kapan?” tanya Fajar.

“Beberapa tahun kemudian.”

“Dan Ayah membiarkan Ibu?”

“Tidak!”

Bu Ratna menggeleng cepat.

“Dia marah besar. Kami hampir bercerai. Dia ingin mengaku kepada ibumu, Nadira. Tapi ibumu sudah sakit. Dia takut semuanya justru membuat keadaan semakin buruk.”

Aku teringat tahun-tahun terakhir kehidupan ibuku.

Biaya rumah sakit.

Tagihan yang menumpuk.

Aku bekerja sambil kuliah.

Kami bahkan pernah menjual motor untuk membeli obat.

Tanganku mulai gemetar.

“Ibu saya sakit,” kataku pelan. “Kami kesulitan membayar rumah sakit.”

Bu Ratna menunduk.

“Maaf.”

Satu kata itu justru membuat dadaku semakin sakit.

Aku tertawa kecil sambil menangis.

“Maaf?”

“Nadira…”

“Ibu tahu keluarga saya kesulitan?”

Dia tidak menjawab.

Itu sudah cukup.

Aku berbalik.

Aku tidak ingin berada di rumah itu lagi.

Namun sebelum sempat berjalan, Siska memegang lenganku.

“Kak, tunggu.”

Ia menunjuk surat Pak Hendra.

“Ada satu halaman lagi.”

Fajar membalik lembar terakhir.

Ternyata ada secarik kertas yang menempel di bagian belakang amplop.

Tulisan tangan Pak Hendra.

Tanggalnya hanya dua minggu sebelum ia meninggal.

Fajar membacanya keras-keras.

Pak Hendra menulis bahwa ia sudah mengetahui semua perbuatan istrinya dan telah menyiapkan dokumen untuk mengembalikan hak keluarga Prasetyo.

Namun ada satu kalimat yang membuatku menahan napas.

“Jika Nadira menikah dengan Fajar, jangan pernah mengatakan kepadanya bahwa warisan ini diberikan karena pernikahan mereka. Hak Nadira tidak berasal dari statusnya sebagai menantuku. Hak itu adalah milik keluarganya sejak awal.”

Aku menutup mulut.

Air mataku jatuh.

Selama empat tahun Bu Ratna selalu menyebutku perempuan yang beruntung karena menikahi anaknya.

Katanya aku masuk ke keluarga yang jauh lebih berada.

Katanya tanpa Fajar, hidupku tidak akan pernah seperti sekarang.

Ternyata kenyataannya justru sebaliknya.

Fajar menatap ibunya.

“Jadi selama ini Nadira tidak pernah mengambil apa pun dari keluarga kita.”

Bu Ratna menangis.

Fajar meletakkan surat itu di meja.

“Justru keluarga kita yang mengambil miliknya.”

Tidak ada seorang pun berbicara setelah itu.

Beberapa saat kemudian aku mengambil tasku.

Fajar langsung mendekat.

“Kamu mau ke mana?”

“Keluar sebentar.”

“Aku ikut.”

Aku menggeleng.

“Aku perlu sendiri.”

Aku berjalan menuju pintu.

Namun suara Bu Ratna menghentikanku.

“Nadira.”

Aku menoleh.

Perempuan itu berdiri beberapa meter dariku. Untuk pertama kalinya sejak aku menjadi menantunya, aku tidak melihat kebencian di wajahnya.

Hanya ketakutan dan penyesalan.

“Ibu tidak bermaksud mencelakaimu tadi.”

Aku menatapnya lama.

“Mungkin Ibu memang hanya ingin menakuti saya.”

Ia mengangguk cepat.

“Tapi seseorang yang membiarkan kebencian tumbuh bertahun-tahun akhirnya tidak tahu lagi batas antara menakuti dan menyakiti.”

Bu Ratna terdiam.

Aku keluar.

Malam itu aku menginap di hotel.

Fajar tidak memaksaku pulang. Ia hanya mengirim satu pesan.

Aku akan membereskan semuanya. Bukan sebagai suamimu, tapi sebagai anak dari keluarga yang berutang kepada keluargamu.

Tiga hari kemudian, Fajar dan Siska datang menemuiku bersama seorang notaris.

Bu Ratna tidak ikut.

Dokumen-dokumen lama telah diperiksa.

Surat Pak Hendra sah.

Rekening investasi itu memang disiapkan untukku.

Dan hak atas sebagian rumah tersebut secara hukum juga telah diatur sebelum Pak Hendra meninggal.

Tetapi ada kejutan lain.

Notaris menyerahkan sebuah amplop kecil.

“Ini dititipkan Pak Hendra. Hanya boleh diberikan jika seluruh dokumen akhirnya dibuka.”

Di dalamnya ada sebuah foto.

Dua lelaki muda berdiri di depan sebuah rumah sederhana sambil tersenyum.

Salah satunya Pak Hendra.

Yang lain ayahku.

Di belakang foto terdapat tulisan.

Hendra, kalau suatu hari anak-anak kita bertemu, jangan biarkan urusan uang merusak persahabatan yang pernah kita bangun.

Aku mengenali tulisan tangan ayahku.

Aku menangis untuk pertama kalinya bukan karena marah, melainkan karena merasa seperti menemukan kembali bagian dari ayah yang telah hilang selama bertahun-tahun.

Sebulan kemudian aku kembali ke rumah itu.

Bukan untuk tinggal.

Aku dan Fajar tetap memutuskan pindah ke apartemen kecil yang sudah kami rencanakan.

Bu Ratna menungguku di ruang keluarga.

Wajahnya tampak jauh lebih tua.

Ia menyerahkan sebuah kotak kepadaku.

Isinya perhiasan, sertifikat deposito, dan bukti transfer.

“Apa ini?”

“Bagian yang seharusnya sudah Ibu kembalikan sejak dulu.”

Aku menutup kotak itu.

“Saya tidak datang untuk mengambil ini.”

Bu Ratna menatapku heran.

“Aku datang karena ada satu hal yang ingin kusampaikan.”

Aku duduk di hadapannya.

“Aku akan mengurus hak keluarga saya melalui jalur yang benar. Fajar dan Siska tidak perlu kehilangan hubungan dengan ibunya karena kesalahan masa lalu.”

Air mata Bu Ratna mengalir.

“Tapi saya juga tidak bisa berpura-pura semua yang terjadi tidak pernah ada.”

Ia mengangguk.

“Aku mengerti.”

Aku berdiri.

Ketika hendak pergi, Bu Ratna memanggilku.

“Nadira.”

Aku berhenti.

“Kenapa kamu masih mau memberi Ibu kesempatan?”

Aku menatap perempuan yang selama bertahun-tahun menganggapku musuhnya.

“Karena Pak Hendra dan ayah saya sudah menghabiskan terlalu banyak waktu memperbaiki kesalahan generasi mereka.”

Aku tersenyum tipis.

“Saya tidak ingin kita mewariskan kebencian yang sama kepada generasi berikutnya.”

Enam bulan kemudian rumah itu dijual atas kesepakatan bersama.

Sebagian uang menjadi hak Bu Ratna.

Sebagian menjadi hak Fajar dan Siska.

Dan bagian yang diwariskan Pak Hendra kepadaku kugunakan untuk mendirikan sebuah yayasan kecil yang membantu keluarga pasien yang kesulitan membayar biaya pengobatan.

Aku menamainya Yayasan Prasetyo Hendra.

Fajar sempat bertanya kenapa nama ayahnya ikut kutaruh di sana.

Jawabanku sederhana.

Karena satu orang pernah melakukan kesalahan.

Satu orang lain terlambat memperbaikinya.

Tetapi keduanya pernah menjadi sahabat.

Dan mungkin cara terbaik mengakhiri sebuah warisan buruk bukanlah dengan memastikan seseorang kalah.

Melainkan memastikan kesalahan yang sama berhenti pada kita.

Pada hari peresmian yayasan, Bu Ratna datang paling akhir.

Ia tidak banyak bicara.

Sebelum pulang, ia menghampiriku dan menyerahkan sebuah amplop.

Aku sempat mengira itu dokumen lain.

Ternyata hanya sebuah foto.

Foto pernikahanku dan Fajar empat tahun lalu.

Di belakangnya, Bu Ratna menulis satu kalimat dengan tangan.

Maaf karena selama ini Ibu mengira kamu datang untuk mengambil keluarga Ibu, padahal keluargalah yang sejak lama mengambil sesuatu darimu.

Aku menatap tulisan itu lama.

Lalu untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, aku memanggilnya tanpa rasa terpaksa.

“Bu.”

Bu Ratna berhenti di ambang pintu.

Aku menghampirinya.

“Pulanglah bersama kami.”

Ia menatapku dengan mata berkaca-kaca.

Dan malam itu aku akhirnya memahami sesuatu.

Rahasia terbesar yang ditinggalkan Pak Hendra ternyata bukan tentang rumah, rekening, atau warisan.

Melainkan tentang bagaimana kesalahan yang disembunyikan satu generasi dapat berubah menjadi kebencian pada generasi berikutnya.

Dan bagaimana satu orang harus berani menghentikannya sebelum kebencian itu kembali melukai seseorang yang sama sekali tidak bersalah.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang