Senin pagi, pukul delapan lewat lima belas menit, Budi masih belum tahu bahwa hidupnya tinggal menunggu satu pintu terbuka.
Ruang rapat utama Valda Investment Group di lantai tiga puluh dua sebuah gedung perkantoran di kawasan Sudirman terasa lebih dingin daripada biasanya. Di balik dinding kaca, langit Jakarta tampak kelabu setelah hujan sejak subuh.
Budi duduk di ujung meja bersama Direktur Keuangan Teknologi Nusantara, dua orang komisaris, dan penasihat hukumnya.
Wajahnya terlihat tegang.
Sudah hampir tiga bulan perusahaan itu bertahan dengan arus kas yang semakin tipis. Gaji karyawan bulan berikutnya belum memiliki kepastian. Dua vendor teknologi mengirimkan somasi, sementara salah satu kreditur memberikan batas waktu lima hari sebelum mengambil langkah hukum.
Sembilan puluh miliar rupiah dari Valda Investment Group adalah satu-satunya jalan keluar.
“Tenang saja, Pak Budi,” bisik Arman, Direktur Keuangannya. “Tim mereka sudah melakukan due diligence berbulan-bulan. Kalau hari ini kita dipanggil untuk finalisasi, berarti kemungkinan besar tinggal tanda tangan.”
Budi mengangguk.
Ponselnya tergeletak di meja.
Tidak ada balasan dari Putri sejak Sabtu malam.

Semalam dia bahkan sempat mengirim pesan lain.
Pulang sebelum Senin pagi. Aku masih kasih kamu kesempatan minta maaf kepada Ibu.
Pesan itu hanya centang dua.
Tidak dibalas.
Budi mendengus kecil.
Dalam pikirannya, Putri pasti sedang menumpang di rumah Indah sambil menangis. Cepat atau lambat perempuan itu akan kembali. Budi merasa Putri tidak memiliki cukup uang untuk bertahan lama sendirian di Jakarta.
“Setelah urusan pendanaan selesai, saya akan ambil cuti dua hari,” katanya sambil tersenyum tipis. “Ada masalah keluarga yang harus saya bereskan.”
Arman tertawa kecil.
“Pengantin baru sudah ada masalah?”
“Perempuan kadang perlu diajari batas.”
Kalimat itu baru saja selesai ketika pintu ruang rapat terbuka.
Seorang pria berusia sekitar lima puluh tahun masuk membawa beberapa dokumen.
Budi langsung berdiri.
“Selamat pagi, Pak Hendra.”
“Pagi.”
Hendra tidak membalas uluran tangan Budi dengan kehangatan seperti biasanya.
Dia duduk.
Di sebelahnya masuk tiga orang dari divisi investasi dan hukum.
Namun kursi utama masih kosong.
Budi melirik jam.
“Maaf, Pak Hendra. Apakah Direktur Investasi Valda akan hadir?”
Hendra membuka map.
“Bukan Direktur Investasi.”
Budi mengernyit.
“Lalu?”
“Hari ini keputusan akan dipimpin langsung oleh pemegang saham pengendali kami.”
Mata Budi membesar.
Selama berbulan-bulan bernegosiasi dengan Valda Investment Group, dia tidak pernah bertemu pemilik sebenarnya.
Sosok itu nyaris tidak pernah muncul di media.
Budi langsung merapikan jasnya.
“Beliau datang sendiri?”
Hendra menatapnya.
“Sudah datang.”
Pintu terbuka sekali lagi.
Suara sepatu hak tinggi terdengar perlahan mendekat.
Budi menoleh.
Wajahnya seketika kehilangan warna.
Putri masuk.
Bukan dengan gaun pengantin merah muda.
Bukan dengan pakaian sederhana yang biasa dikenakannya ketika mereka berkencan.
Pagi itu Putri mengenakan setelan kerja berwarna gelap dengan rambut tersisir rapi. Bekas kemerahan di pipi kirinya sudah hampir hilang, meskipun masih terlihat samar.
Di belakangnya berjalan seorang sekretaris dan dua anggota tim hukum.
Putri tidak memandang Budi.
Dia berjalan langsung menuju kursi utama.
“Selamat pagi.”
Semua orang dari Valda Investment Group berdiri.
“Selamat pagi, Bu Putri.”
Budi membeku.
Bu Putri?
Putri meletakkan tablet di atas meja, kemudian duduk.
Barulah matanya bertemu dengan mata Budi.
Tidak ada kebencian di sana.
Justru ketenangan itu yang membuat tengkuk Budi terasa dingin.
“Silakan duduk,” katanya.
Budi masih berdiri.
“Putri?”
Tidak ada jawaban.
“Kenapa kamu ada di sini?”
Hendra menutup mapnya.
“Pak Budi, izinkan saya memperkenalkan secara resmi. Ibu Putri Valda Sanjaya, pendiri dan pemegang saham pengendali Valda Investment Group.”
Seolah-olah seluruh suara di ruangan lenyap.
Budi menatap Putri.
Lalu Hendra.
Kemudian kembali kepada Putri.
“Tidak mungkin.”
Putri menyandarkan tubuhnya.
“Kenapa tidak mungkin?”
“Kamu staf administrasi.”
“Aku memang pernah bekerja sebagai staf administrasi.”
“Kontrakanmu di Tebet?”
“Milik salah satu yayasan yang kubangun untuk tempat tinggal sementara pegawai perempuan yang baru merantau ke Jakarta. Aku tinggal di sana beberapa bulan karena ingin menjalani hidup sederhana.”
Bibir Budi bergetar.
“Tapi selama ini kamu bilang gajimu cuma…”
“Aku tidak pernah mengatakan jumlah gajiku.”
Budi terdiam.
Putri benar.
Selama ini Budi sendirilah yang membuat kesimpulan.
Dia melihat pakaian sederhana Putri, kendaraan umum yang digunakannya, tempat tinggalnya, lalu menganggap perempuan itu miskin.
Putri membuka dokumen di depannya.
“Sekarang kita kembali ke urusan bisnis.”
Budi perlahan duduk.
Tangannya mulai berkeringat.
Putri membalik halaman pertama.
“Teknologi Nusantara mengajukan pendanaan restrukturisasi sebesar sembilan puluh miliar rupiah. Berdasarkan laporan terakhir, perusahaan memiliki kewajiban kepada vendor sebesar dua puluh tujuh miliar, pinjaman jangka pendek tiga puluh satu miliar, dan kebutuhan modal kerja minimal dua puluh miliar untuk enam bulan.”
Arman menelan ludah.
“Benar, Bu.”
“Selain itu, ada kewajiban pajak yang belum selesai.”
Wajah Arman berubah.
Budi langsung menoleh kepadanya.
“Pajak apa?”
Putri mengangkat mata.
“Jadi CEO perusahaan bahkan tidak mengetahui itu?”
Arman buru-buru menjawab, “Sedang dalam proses penyelesaian.”
Putri mengangguk.
“Menarik.”
Budi mulai kehilangan kesabaran.
“Putri, kita bisa bicara berdua dulu.”
“Tidak.”
“Ini masalah suami istri.”
Putri menatapnya lurus.
“Tamparanmu Sabtu malam memang masalah rumah tangga. Pendanaan sembilan puluh miliar ini bukan.”
Ruangan kembali hening.
Budi memandang orang-orang di sekelilingnya. Rasa malu mulai berubah menjadi ketakutan.
“Jadi kamu sengaja melakukan ini untuk membalas dendam?”
Putri tidak langsung menjawab.
Dia menutup dokumen.
“Kalau aku ingin membalas dendam, rapat ini tidak akan pernah terjadi.”
Budi terdiam.
“Aku datang karena ada hampir dua ratus karyawan Teknologi Nusantara yang tidak ikut menamparku. Mereka punya keluarga, cicilan, anak yang harus sekolah, dan hidup mereka tidak pantas hancur hanya karena CEO mereka tidak mampu mengendalikan tangannya.”
Kalimat itu menghantam Budi lebih keras daripada bentakan.
Putri mendorong sebuah dokumen ke tengah meja.
“Kami tetap bersedia menyuntikkan dana.”
Budi mengangkat kepala cepat.
Matanya kembali menyala.
“Benarkah?”
“Tapi bukan dengan struktur lama.”
Senyumnya lenyap.
Putri melanjutkan.
“Valda Investment Group akan mengambil saham pengendali melalui skema restrukturisasi. Dana tahap pertama digunakan untuk membayar kewajiban karyawan dan vendor strategis. Penggunaan dana akan diawasi langsung.”
Budi berdiri.
“Kamu mau mengambil perusahaanku?”
“Tidak.”
Putri tetap tenang.
“Utangmu yang hampir mengambil perusahaanmu.”
Budi mengepalkan tangan.
“Aku pendirinya!”
“Dan karena itu kamu seharusnya memahami bahwa mendirikan perusahaan tidak memberimu hak menghancurkan uang investor dan masa depan karyawan.”
Budi menatap dokumen tersebut.
“Aku tetap CEO.”
Putri memandang Hendra.
Hendra mengeluarkan satu lembar lain.
“Berdasarkan hasil evaluasi tata kelola, investor meminta perubahan manajemen sebagai syarat pendanaan.”
Wajah Budi pucat.
“Maksudnya?”
Putri menjawab pelan.
“Kamu tidak lagi menjadi CEO.”
Budi menghantam meja.
“Ini balas dendam!”
Dua petugas keamanan di luar langsung bergerak, tetapi Putri mengangkat tangan agar mereka tetap di tempat.
“Aku tidak mengambil keputusan itu karena pernikahan kita.”
Putri menggeser sebuah laporan.
“Baca.”
Budi mengambilnya.
Beberapa detik kemudian wajahnya berubah.
Ada pengeluaran perusahaan untuk perjalanan pribadi, pembayaran kendaraan atas nama anggota keluarga, renovasi sebuah rumah, serta sejumlah transaksi yang tidak memiliki justifikasi bisnis jelas.
Nama penerima beberapa pembayaran membuat Budi semakin pucat.
Rosma Hartati.
Ibunya.
“Aku bisa jelaskan.”
“Jelaskan kepada auditor.”
Ponsel Budi tiba-tiba berdering.
IBU.
Dia mematikannya.
Namun telepon kembali masuk.
Lagi.
Dan lagi.
Akhirnya Budi mengangkatnya.
“Apa, Bu?”
Suara Ibu Rosma terdengar begitu keras hingga beberapa orang di meja bisa mendengarnya.
“Budi! Ada orang datang ke rumah! Mereka bilang mobil yang kamu kasih ke Ibu ternyata atas nama perusahaan! Mereka mau menariknya!”
Budi memejamkan mata.
“Ibu, nanti dulu.”
“Terus kartu tambahan yang biasa Ibu pakai juga tidak bisa dipakai! Ini apa-apaan?”
Budi memutus sambungan.
Putri menatapnya tanpa ekspresi.
“Aku tidak memerintahkan penarikan apa pun. Itu rekomendasi auditor independen karena aset perusahaan digunakan untuk kepentingan pribadi.”
Untuk pertama kalinya, Budi tidak memiliki jawaban.
Rapat berlangsung hampir dua jam.
Pada akhirnya, komisaris Teknologi Nusantara menyetujui restrukturisasi darurat karena pilihan lainnya jauh lebih buruk.
Budi dicopot sementara dari posisi CEO sambil menunggu audit internal.
Ketika semua orang mulai meninggalkan ruangan, Budi tetap duduk.
“Putri.”
Putri berhenti.
“Kita masih suami istri.”
Putri menatap cincin kosong di jarinya.
“Secara administratif, untuk sementara.”
Budi berdiri dan mendekat.
Kali ini dia tidak berani menyentuhnya.
“Aku salah.”
Putri diam.
“Aku emosi malam itu. Ibu juga memang kadang keterlaluan.”
Putri tersenyum hambar.
Menarik sekali.
Kurang dari empat puluh delapan jam lalu, Budi menyuruhnya bersujud meminta maaf.
Sekarang semua kesalahan perlahan dipindahkan kepada ibunya.
“Aku bisa berubah,” lanjut Budi. “Kita mulai lagi. Aku tidak peduli kamu kaya atau miskin.”
Putri menatapnya cukup lama.
“Justru sekarang aku tahu kamu peduli.”
Budi terdiam.
“Ketika kamu mengira aku miskin, kamu merasa boleh merendahkanku. Sekarang setelah tahu siapa aku, kamu tiba-tiba berbicara lembut.”
“Bukan begitu.”
“Kalau Senin ini aku benar-benar hanya staf administrasi bergaji pas-pasan, apakah kamu tetap akan meminta maaf?”
Budi membuka mulut.
Tidak ada kata yang keluar.
Putri mendapatkan jawabannya.
Dia berjalan pergi.
Tiga minggu kemudian, proses perceraian dimulai.
Namun kejutan terbesar justru datang ketika audit Teknologi Nusantara selesai.
Ternyata masalah perusahaan jauh lebih dalam daripada yang diketahui Putri.
Sejumlah transaksi mencurigakan memang tercatat atas persetujuan Budi, tetapi penyelidikan menemukan bahwa sebagian besar uang tersebut sebenarnya dialihkan oleh Direktur Keuangan, Arman, menggunakan dokumen persetujuan digital yang dimanipulasi.
Arman ditetapkan sebagai pihak utama dalam penyelidikan internal dan kemudian dilaporkan kepada aparat berwenang berdasarkan temuan audit.
Budi memang buruk sebagai suami.
Namun ternyata dia juga CEO ceroboh yang terlalu percaya kepada orang-orang di sekitarnya.
Putri tetap tidak mengubah keputusan pribadinya.
Kesalahan Arman tidak menghapus tamparan Budi.
Kelalaian bisnis tidak menghapus penghinaan.
Enam bulan kemudian, Teknologi Nusantara berhasil bertahan di bawah manajemen baru. Sebagian besar karyawan tetap bekerja, kewajiban vendor mulai diselesaikan, dan perusahaan perlahan kembali sehat.
Budi menjual sebagian besar aset pribadinya untuk memenuhi kewajiban yang menjadi tanggung jawabnya.
Ibu Rosma pindah dari rumah besar yang selama bertahun-tahun dibanggakannya.
Sementara itu, Putri kembali menjalani hidupnya.
Suatu sore, setelah menghadiri rapat, Putri menerima sebuah amplop tanpa nama pengirim.
Di dalamnya hanya ada cincin pernikahan yang pernah ditinggalkannya di meja rias.
Ada pula secarik kertas.
Tulisan tangan Budi.
“Aku akhirnya mengerti. Yang kehilangan segalanya malam itu bukan kamu. Aku.”
Putri membaca kalimat tersebut beberapa saat.
Kemudian dia memasukkan cincin itu kembali ke dalam amplop.
Indah yang duduk di seberangnya bertanya, “Mau kamu simpan?”
Putri tersenyum.
“Tidak.”
“Dibuang?”
Putri menggeleng.
Beberapa hari kemudian, cincin itu dilebur dan nilainya disumbangkan melalui sebuah lembaga pendampingan perempuan korban kekerasan dalam rumah tangga.
Tidak ada nama Putri dalam donasi tersebut.
Tidak ada publikasi.
Tidak ada foto.
Baginya, cincin itu tidak lagi memiliki arti sebagai simbol pernikahan.
Tetapi sesuatu yang pernah menjadi simbol kesalahan bisa diubah menjadi sesuatu yang berguna bagi orang lain.
Malam itu, Putri berdiri sendirian di balkon apartemennya memandang lampu Jakarta.
Dia teringat ember pakaian kotor.
Tamparan.
Ancaman.
Ruang rapat.
Sembilan puluh miliar rupiah.
Anehnya, bukan uang itu yang terasa paling penting sekarang.
Sebab kalau dirinya benar-benar miskin, tamparan itu tetap salah.
Kalau dirinya benar-benar hanya staf administrasi, penghinaan itu tetap tidak bisa dibenarkan.
Dan kalau tidak ada sembilan puluh miliar rupiah di tangannya, harga dirinya tetap tidak berkurang sedikit pun.
Putri akhirnya memahami sesuatu yang selama ini bahkan kekayaan keluarganya tidak pernah bisa mengajarkannya.
Dia tidak menang karena memiliki perusahaan yang lebih besar daripada milik Budi.
Dia menang pada saat memilih berjalan keluar dari rumah itu setelah tamparan pertama.
Karena nilai seseorang tidak pernah ditentukan oleh berapa banyak uang yang bisa dia bawa ke meja perundingan.
Melainkan oleh keberaniannya meninggalkan meja ketika orang lain sudah tidak lagi memperlakukannya sebagai manusia.
