Keluarga Suamiku Memaksaku Menyamar Jadi Pelayan Demi Menjaga Nama Baik Mereka, Tapi Saat Pengusaha Terkaya Datang, Dia Justru Membungkuk Hormat di Depanku hingga Rahasia Kelam Mertuaku Terbongkar!

Tanganku gemetar begitu hebat hingga lembar terakhir hampir terlepas dari genggaman.

Aku membacanya sekali lagi, berharap mataku keliru.

Namun nama itu tetap ada di sana.

Handoko Wijaya.

Ayah mertuaku sendiri.

Di bawah namanya tercantum keterangan yang membuat darahku terasa membeku.

Mantan Direktur Keuangan Utama Group.

Aku perlahan mengangkat kepala.

“Papa pernah bekerja untuk ayah kandung saya?”

Tidak ada jawaban.

Bapak Handoko berdiri kaku dengan wajah pucat. Ibu Ratna yang biasanya paling lantang kini bahkan tidak berani menatapku.

Aditya terlihat sama bingungnya.

“Pa, apa maksud semua ini?”

“Diam!” bentak Bapak Handoko.

Pak Surya maju satu langkah.

“Biar saya yang menjelaskan.”

Tatapannya tertuju kepadaku.

“Dua puluh tahun lalu, ayah kandung Anda, Bapak Darmawan Djojohadikusumo, adalah pemilik Utama Group. Handoko merupakan salah satu orang yang paling beliau percaya.”

Pak Surya mengeluarkan beberapa lembar dokumen dari kotak kayu.

“Namun kepercayaan itu dikhianati.”

Suasana ruangan berubah begitu sunyi hingga suara pendingin udara terdengar jelas.

“Handoko memindahkan dana perusahaan melalui sejumlah perusahaan cangkang. Ketika ayah Anda menemukan kejanggalan tersebut, beliau berniat melaporkannya kepada pihak berwenang.”

“Cukup, Surya!” bentak Bapak Handoko.

Pak Surya tidak berhenti.

“Tiga hari sebelum laporan resmi dibuat, terjadi kecelakaan mobil yang menewaskan kedua orang tua Nona Nisa.”

Aku merasa lantai di bawah kakiku seperti bergoyang.

“Kecelakaan?”

Pak Surya menatapku penuh kesedihan.

“Setidaknya itulah yang diberitakan saat itu.”

Jantungku berdegup semakin keras.

“Apa maksud Bapak?”

Pak Surya mengeluarkan sebuah map tipis.

“Beberapa bulan lalu, kami menemukan kembali laporan pemeriksaan kendaraan milik ayah Anda. Ada indikasi sistem rem telah dirusak sebelum kecelakaan terjadi.”

Para tamu mulai berbisik.

Aku menatap Bapak Handoko.

“Papa tahu soal ini?”

“Tidak!” jawabnya cepat. “Aku tidak ada hubungannya dengan kecelakaan itu!”

“Tapi Papa tahu siapa saya?”

Dia terdiam.

“Jawab saya!”

Untuk pertama kalinya selama tiga tahun tinggal di rumah itu, suaraku menggema lebih keras daripada suara siapa pun.

Bapak Handoko akhirnya menundukkan kepala.

“Iya.”

Satu kata itu terasa lebih menyakitkan daripada semua hinaan yang pernah kuterima.

Aku menoleh kepada Aditya.

“Dan kamu?”

Aditya mundur satu langkah.

“Nis, aku bisa jelaskan.”

“Sejak kapan kamu tahu?”

Wajahnya berubah pucat.

Ibu Ratna buru-buru menyela.

“Aditya tidak tahu semuanya!”

Aku menatap suamiku.

“Sejak kapan?”

Aditya mengusap wajahnya dengan gelisah.

“Beberapa bulan sebelum kita menikah.”

Dunia seakan berhenti.

Ternyata lelaki yang selama tiga tahun kupanggil suami telah mengenal identitasku jauh sebelum aku sendiri mengetahuinya.

Aku tertawa kecil, tetapi air mata terus mengalir.

“Jadi waktu kamu datang ke toko tempatku bekerja di Yogyakarta itu bukan kebetulan?”

Aditya tidak menjawab.

Aku langsung memahami jawabannya.

Dulu aku bekerja di sebuah toko buku kecil. Aditya datang sebagai pelanggan. Dia kembali beberapa kali, kemudian mulai mengajakku makan. Dia mengatakan pertemuan kami adalah takdir.

Aku mempercayainya.

Ternyata seluruh kisah cinta kami dibangun di atas kebohongan.

“Kenapa?” tanyaku.

Aditya memejamkan mata.

“Perusahaan keluarga kami sudah bermasalah sejak lama. Papa mengetahui bahwa ahli waris Utama Group masih hidup. Kalau kami bisa menemukanmu sebelum pihak Utama Group menemukanmu…”

Dia berhenti.

Aku menatapnya dingin.

“Lanjutkan.”

“Kami berharap pernikahan bisa membuat aset itu suatu hari masuk ke keluarga Wijaya.”

Beberapa tamu menarik napas kaget.

Putri yang sejak tadi berdiri di dekat Aditya langsung melepaskan lengannya.

“Kalian menikahkan dia demi hartanya?”

“Putri, jangan ikut campur!” bentak Ibu Ratna.

Namun Putri justru mundur menjauh.

Aku merasa mual.

Tiga tahun.

Selama tiga tahun aku memasak untuk mereka, merawat Aditya ketika sakit, menemani Ibu Ratna ke rumah sakit, bahkan menjual perhiasan pemberian ibu angkatku ketika perusahaan keluarga mereka kesulitan membayar gaji karyawan.

Dan selama itu pula mereka mengetahui siapa aku.

“Lalu kenapa kalian justru memperlakukan saya seperti sampah?”

Ibu Ratna akhirnya kehilangan kendali.

“Karena kamu seharusnya tidak pernah mengetahui siapa dirimu!”

Ruangan mendadak senyap.

Bapak Handoko menoleh tajam.

“Ratna!”

Namun semuanya sudah terlambat.

Aku menatapnya.

“Apa maksud Ibu?”

Ibu Ratna bernapas terengah-engah.

Pak Surya mengambil alih.

“Mereka takut jika Anda mengetahui identitas Anda, Anda akan menyelidiki masa lalu.”

Aku memandang seragam pelayan yang kukenakan.

Mendadak semuanya terasa masuk akal.

Selama ini Ibu Ratna terus mengatakan bahwa aku tidak berpendidikan tinggi, tidak pantas bergaul dengan pengusaha, dan sebaiknya hanya mengurus rumah.

Ketika aku ingin bekerja kembali, dia melarang.

Ketika aku ingin melanjutkan kuliah, Aditya mengatakan belum waktunya.

Mereka bukan sekadar merendahkanku.

Mereka sedang membuatku tetap kecil.

Tetap bergantung.

Tetap tidak tahu apa-apa.

Aku menatap Aditya.

“Apakah kamu pernah mencintaiku?”

Pertanyaan itu membuat wajahnya berubah.

“Nis…”

“Jawab.”

Aditya terdiam cukup lama.

Kemudian dia berkata pelan, “Awalnya aku mendekatimu karena Papa.”

Dadaku terasa sesak.

“Tapi setelah menikah, aku benar-benar mencintaimu.”

Aku tersenyum pahit.

“Cinta macam apa yang menyuruh istrinya memakai seragam pelayan agar perempuan lain bisa berdiri di sampingnya?”

Aditya tidak mampu menjawab.

Aku melepaskan name tag dari dadaku.

NISA — PELAYAN.

Aku meletakkannya di atas meja.

“Mulai malam ini, saya bukan pelayan siapa pun.”

Aku berbalik kepada Pak Surya.

“Bapak bilang ada surat wasiat?”

Pak Surya mengangguk.

Dia membuka dokumen lain.

“Ayah Anda menetapkan bahwa seluruh saham pribadinya di Utama Group akan diwariskan kepada Anda setelah identitas Anda terverifikasi. Selama Anda belum ditemukan, saham tersebut dikelola oleh yayasan keluarga.”

“Berapa besar?”

“Lima puluh satu persen.”

Ruangan kembali gaduh.

Aku sendiri hampir tidak memahami besarnya angka itu.

Namun reaksi keluarga Wijaya menjelaskan semuanya.

Ibu Ratna memegang sandaran kursi.

Bapak Handoko menutup wajah.

Sementara Aditya hanya berdiri menatapku seperti orang yang baru menyadari sesuatu telah terlepas dari tangannya.

Pak Surya melanjutkan.

“Ada satu hal lagi.”

Dia mengeluarkan sebuah dokumen.

“Utama Group saat ini adalah kreditur terbesar Wijaya Sentosa.”

Bapak Handoko langsung mengangkat kepala.

“Apa?”

Pak Surya menatapnya dingin.

“Utang perusahaan Anda telah dialihkan kepada divisi investasi Utama Group enam bulan lalu.”

Wajah Bapak Handoko benar-benar kehilangan warna.

Aku mulai mengerti.

Perusahaan keluarga Wijaya ternyata bukan sedang menunggu kerja sama dengan Utama Group.

Nasib mereka memang sudah berada di tangan Utama Group.

Dan sekarang kendali perusahaan itu secara hukum akan jatuh kepadaku.

Bapak Handoko mendadak mendekat.

“Nisa.”

Nada suaranya berubah drastis.

Tidak ada lagi kesombongan.

“Nisa, dengarkan Papa.”

Aku mundur.

“Jangan panggil saya seperti itu.”

Dia berhenti.

“Kita keluarga. Semua ini bisa diselesaikan baik-baik.”

Aku hampir tertawa.

“Beberapa menit lalu saya bahkan tidak boleh mengaku sebagai anggota keluarga ini.”

Ibu Ratna menangis.

“Nisa, Ibu memang keras, tapi semua itu demi—”

“Demi apa?”

Dia tidak mampu melanjutkan.

Saat itulah suara sirene terdengar dari luar.

Beberapa kendaraan berhenti di halaman.

Bapak Handoko menatap Pak Surya.

“Kamu memanggil polisi?”

Pak Surya menggeleng.

“Bukan saya.”

Semua mata beralih kepadaku.

Aku sendiri kebingungan.

Kemudian seorang perempuan tua muncul dari pintu utama didampingi dua penyidik.

Aku langsung mengenalinya.

“Ibu?”

Ibu angkatku.

Perempuan yang membesarkanku sejak kecil berdiri di sana dengan mata berkaca-kaca.

Aku berlari memeluknya.

“Ibu kenapa di sini?”

Tangannya membelai rambutku.

“Maafkan Ibu, Nisa.”

Aku terdiam.

“Maaf untuk apa?”

Dia mengeluarkan liontin batu giok dari tasnya.

Liontin yang sama seperti yang ada di kotak Pak Surya.

“Selama dua puluh tahun Ibu menunggu hari ini.”

Ternyata ibu angkatku bukan perempuan desa biasa.

Dulu dia bekerja sebagai perawat pribadi ibuku.

Pada malam kecelakaan, aku yang masih berusia delapan tahun tidak berada di mobil bersama orang tuaku karena sedang demam. Ibuku menitipkanku kepadanya.

Beberapa jam sebelum kecelakaan, ayahku telah memberikan dokumen dan liontin itu kepadanya.

“Bapakmu bilang kalau sesuatu terjadi pada mereka, Ibu harus membawa kamu pergi.”

Air mataku mengalir.

“Kenapa Ibu tidak pernah cerita?”

“Karena orang yang mencari kamu belum berhenti.”

Dia menoleh kepada Bapak Handoko.

“Beberapa minggu setelah pemakaman orang tuamu, ada orang datang mencari kamu. Mereka menawarkan uang. Lalu mengancam akan mengambilmu.”

Bapak Handoko berteriak, “Itu bohong!”

Ibu angkatku mengeluarkan sebuah telepon lama dari tas.

“Kalau begitu, mungkin rekaman ini bisa menjelaskan.”

Salah seorang penyidik menerima perangkat itu.

Ternyata selama bertahun-tahun ibu menyimpan rekaman percakapan dengan seseorang yang mengancamnya.

Dan suara dalam rekaman tersebut dikenali dengan jelas.

Bukan suara Bapak Handoko.

Melainkan suara Ibu Ratna.

Wajahku membeku.

Ibu Ratna langsung terduduk.

Bapak Handoko menatap istrinya dengan syok.

“Ratna?”

Ibu Ratna menangis histeris.

“Aku cuma ingin melindungi keluarga kita!”

“Melindungi?” teriak Bapak Handoko. “Kamu bilang tidak pernah terlibat!”

Rahasia terakhir akhirnya terbongkar.

Bapak Handoko memang melakukan penggelapan dana, tetapi menurut bukti yang ditemukan, tidak ada dokumen yang menunjukkan dia memerintahkan sabotase kendaraan.

Justru Ibu Ratna yang diam-diam membayar seseorang untuk menakut-nakuti ayahku agar menghentikan penyelidikan.

Orang tersebut merusak sistem rem tanpa sepengetahuan Ratna bahwa tindakan itu akan menyebabkan kematian.

Setelah kecelakaan terjadi, Ratna panik dan berusaha menemukan aku karena takut suatu hari aku akan kembali sebagai ahli waris.

Dua penyidik mendekatinya.

Ibu Ratna menangis sambil memohon kepada Aditya.

Namun Aditya hanya berdiri terpaku.

Untuk pertama kalinya, keluarga yang selama ini begitu bangga menjaga nama baiknya hancur bukan karena orang luar.

Melainkan karena rahasia mereka sendiri.

Sebelum dibawa pergi, Ibu Ratna menatapku.

“Nisa… maafkan Ibu.”

Aku tidak menjawab.

Aku belum tahu apakah suatu hari aku bisa memaafkannya.

Beberapa bulan kemudian, penyelidikan resmi dibuka kembali. Bapak Handoko harus mempertanggungjawabkan kasus keuangan masa lalunya, sementara keterlibatan Ibu Ratna dalam rangkaian peristiwa sebelum kecelakaan diperiksa melalui proses hukum.

Aku mengajukan gugatan cerai terhadap Aditya.

Dia datang menemuiku untuk terakhir kali di kantor Utama Group.

“Nis, kalau aku bisa mengulang semuanya…”

Aku menatap lelaki yang pernah sangat kucintai.

“Aku tidak membencimu, Dit.”

Matanya berkaca-kaca.

“Tapi aku juga tidak mau kembali.”

“Karena aku miskin sekarang?”

Aku menggeleng.

“Karena ketika kamu mengira aku tidak punya apa-apa, kamu memperlakukanku seolah aku bukan siapa-siapa.”

Dia terdiam.

“Itulah satu-satunya jawaban yang kubutuhkan.”

Setelah Aditya pergi, aku berdiri di depan jendela kantor ayahku.

Jakarta terbentang luas di bawah sana.

Di meja kerjaku tergeletak seragam pelayan hitam dari malam itu.

Aku sengaja menyimpannya.

Bukan untuk mengingat penghinaan.

Melainkan untuk mengingat siapa diriku sebelum semua orang mengetahui nama keluargaku.

Pak Surya pernah bertanya mengapa aku tidak membuangnya.

Aku hanya tersenyum.

“Karena malam itu mengajarkan sesuatu kepada saya.”

“Apa?”

Aku menatap name tag kecil bertuliskan NISA — PELAYAN.

“Bahwa kekayaan bisa membuat orang membungkuk di depan kita. Tapi cara seseorang memperlakukan kita ketika dia mengira kita tidak punya apa-apa, itulah yang menunjukkan siapa dirinya sebenarnya.”

Setahun kemudian, aku mengubah sebagian rumah keluarga kandungku menjadi yayasan pendidikan untuk anak-anak yang kehilangan orang tua.

Aku menamainya Yayasan Prameswari.

Bukan Djojohadikusumo.

Bukan pula nama perusahaan besar yang kini diwariskan kepadaku.

Prameswari adalah nama yang diberikan ibu angkatku ketika dia menyelamatkanku.

Pada hari peresmian, wartawan bertanya mengapa aku tidak menggunakan nama keluarga kandungku.

Aku menoleh kepada perempuan sederhana yang berdiri di barisan depan dengan mata penuh air mata.

Kemudian aku tersenyum.

“Karena warisan terbesar dalam hidup saya bukan perusahaan.”

Aku menghampiri ibu dan menggenggam tangannya.

“Warisan terbesar saya adalah seseorang yang tidak memiliki hubungan darah dengan saya, tetapi mempertaruhkan hidupnya selama dua puluh tahun agar saya tetap hidup.”

Ibu memelukku erat.

Saat itulah aku akhirnya memahami sesuatu.

Malam ketika keluarga Wijaya memaksaku menyamar sebagai pelayan memang menjadi malam ketika aku menemukan bahwa aku adalah pewaris sebuah kerajaan bisnis.

Namun itu bukan rahasia terbesar yang terbongkar.

Rahasia terbesar justru jauh lebih sederhana.

Aku menghabiskan bertahun-tahun merasa rendah karena tidak mengetahui siapa ayah kandungku, dari keluarga mana aku berasal, atau berapa banyak harta yang seharusnya menjadi milikku.

Padahal selama ini aku sudah memiliki keluarga.

Seorang ibu yang memilihku setiap hari meskipun dunia memintanya meninggalkanku.

Dan pada akhirnya, aku tidak pulang untuk menjadi pewaris Utama Group.

Aku pulang untuk menjadi diriku sendiri.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang