“Apa maksudmu dia tidak membiarkanmu tidur?”
Suara Dimas terdengar begitu pelan, tetapi aku tahu kakakku sedang menahan amarah.
Mobil berhenti di pinggir jalan yang masih basah oleh hujan sore. Lampu kendaraan sesekali menyapu wajah Dimas. Rahangnya mengeras.
Aku menunduk menatap Alya yang tertidur dalam pelukanku.
“Setiap Alya tidur, Mama sengaja membangunkanku.”
“Untuk apa?”
Aku menarik napas panjang.
“Katanya ibu yang baru melahirkan tidak boleh terlalu banyak tidur karena nanti darah kotor menumpuk. Jam dua pagi aku pernah dibangunkan cuma untuk menyapu ruang tamu.”
Dimas menatapku seolah tidak yakin dengan apa yang baru didengarnya.
“Enam hari setelah melahirkan?”
Aku mengangguk.
“Kemarin dia menyuruhku mencuci baju Alya dengan tangan. Katanya mesin cuci bikin pakaian bayi tidak bersih.”
“Arga tahu?”
Pertanyaan itu membuatku terdiam.
“Arga berangkat kerja pagi-pagi.”
“Itu bukan jawabanku.”
Aku menelan ludah.

“Dia tahu sebagian.”
Dimas memejamkan mata sesaat.
“Dan dia membiarkannya?”
“Arga pernah membela aku. Tapi setiap dia bicara, Bu Ratna menangis. Bilang anak laki-lakinya berubah setelah menikah. Akhirnya mereka bertengkar.”
“Jadi kamu memilih diam?”
“Aku pikir cuma beberapa hari.”
Dimas tertawa pendek tanpa sedikit pun terdengar lucu.
“Dira, tubuhmu habis melahirkan manusia. Kamu bukan sedang habis liburan.”
Air mataku jatuh.
“Aku tahu.”
“Tidak. Kamu baru tahu sekarang.”
Dimas kembali menjalankan mobil.
Sepanjang perjalanan menuju rumah Mama di Bogor, kami hampir tidak berbicara lagi.
Sekitar empat puluh menit kemudian, ponselku bergetar.
Arga.
Aku tidak mengangkatnya.
Dia menelepon lagi.
Lalu lagi.
Pada panggilan kelima, Dimas berkata, “Angkat.”
Aku akhirnya menekan tombol hijau.
“Nadira, kamu di mana?”
Suara Arga terdengar panik.
“Di mobil.”
“Mobil siapa?”
“Mas Dimas.”
Hening beberapa detik.
“Kamu pergi?”
“Iya.”
“Kenapa tidak menungguku pulang?”
Aku hampir tertawa.
“Kalau aku menunggu kamu pulang, mungkin aku tidak jadi pergi.”
“Nadira, dengar dulu. Mama telepon aku. Katanya kalian bertengkar cuma gara-gara sup.”
“Kalau menurutmu aku pergi karena sup, berarti selama ini kamu benar-benar tidak melihat apa-apa.”
Arga terdiam.
Aku melanjutkan, “Aku cuma ingin tidur, Ga.”
“Apa?”
“Enam hari ini aku cuma ingin tidur lebih dari dua jam tanpa dibangunkan untuk menyapu, mencuci, merebus air, atau mendengar ceramah bahwa aku perempuan manja.”
Suara napas Arga berubah.
“Mama menyuruh kamu menyapu?”
Aku tertawa kecil, pahit.
“Kamu bahkan tidak tahu.”
“Nadira, pulang dulu. Kita bicara.”
“Tidak.”
“Aku akan bicara dengan Mama.”
“Sudah terlambat.”
Untuk pertama kalinya dalam tiga tahun pernikahan, aku mematikan telepon saat suamiku masih berbicara.
Sesampainya di rumah Mama, aku bahkan tidak sempat menjelaskan apa pun.
Begitu Mama melihat cara jalanku, wajahnya langsung pucat.
“Kamu kenapa jalannya begitu?”
“Aku cuma capek.”
Mama mendekat, kemudian melihat bercak pada pakaianku.
Ekspresinya berubah.
“Dimas, ambil mobil lagi.”
“Ma, aku cuma perlu tidur.”
“Kita ke rumah sakit.”
Aku mencoba menolak, tetapi tubuhku sendiri mengkhianatiku. Ketika hendak melangkah menuju sofa, pandanganku mendadak gelap.
Hal berikutnya yang kuingat adalah bau antiseptik.
Aku membuka mata dan melihat langit-langit putih.
Seorang dokter perempuan berdiri di samping tempat tidur.
“Bu Nadira?”
Aku mengangguk lemah.
“Anda mengalami perdarahan pascapersalinan dan jahitan Anda mengalami iritasi cukup berat. Untung keluarga segera membawa Anda ke sini.”
Aku menatap Mama.
Matanya merah.
Dokter melanjutkan dengan suara tegas, “Beberapa hari ke depan Anda harus benar-benar istirahat. Tidak mengangkat benda berat, tidak melakukan pekerjaan rumah yang menguras tenaga. Kalau perdarahannya bertambah banyak atau muncul demam, segera kembali.”
Aku tidak berani menatap Dimas.
Namun aku bisa melihat kedua tangannya mengepal.
Malam itu Arga datang.
Dia masih mengenakan kemeja kantor. Rambutnya berantakan, wajahnya pucat.
Begitu masuk kamar rawat dan melihat infus di tanganku, langkahnya berhenti.
“Apa yang terjadi?”
Dimas berdiri.
Aku langsung tahu sesuatu yang buruk akan terjadi.
“Mas.”
Aku memanggil kakakku.
Dimas menatapku, lalu kembali duduk.
Arga berjalan mendekat.
“Dira…”
“Aku tidak apa-apa.”
Kalimat itu keluar secara otomatis.
Dokter yang kebetulan masih berada di ruangan menoleh kepadaku.
“Jangan mengatakan Anda tidak apa-apa kalau memang tidak.”
Ruangan mendadak sunyi.
Dokter menjelaskan kondisiku kepada Arga.
Semakin lama dia mendengarkan, semakin pucat wajahnya.
Setelah dokter keluar, Arga duduk di kursi samping ranjang.
“Kenapa kamu tidak bilang?”
Aku menatapnya.
“Aku bilang aku sakit.”
“Aku pikir sakit biasa setelah melahirkan.”
“Aku bilang aku capek.”
“Aku tahu.”
“Aku bilang Mama terlalu banyak menyuruhku melakukan sesuatu.”
Arga menunduk.
Aku melanjutkan, “Tapi setiap kali aku bicara, kamu bilang Mama cuma ingin membantu.”
Arga tidak menjawab.
Aku menatap lelaki yang selama tiga tahun kupanggil suami itu.
Aku masih mencintainya.
Justru itulah yang membuat semuanya terasa jauh lebih menyakitkan.
“Aku tidak membutuhkan suami yang baru membelaku setelah aku masuk rumah sakit, Ga.”
Mata Arga memerah.
“Aku salah.”
Tidak ada alasan.
Tidak ada pembelaan.
Hanya dua kata itu.
Dan entah mengapa, justru itulah pertama kalinya malam itu aku merasa dia benar-benar mendengarkanku.
Sekitar pukul sebelas, Bu Ratna datang bersama Pak Hendra.
Begitu masuk kamar, dia langsung berkata, “Ya ampun, sampai masuk rumah sakit segala. Mama dulu habis melahirkan Arga bahkan…”
“Ma.”
Arga berdiri.
Bu Ratna berhenti.
“Apa?”
“Cukup.”
Aku belum pernah mendengar Arga berbicara kepada ibunya dengan nada seperti itu.
Bu Ratna tampak tersinggung.
“Kamu membentak Mama?”
“Aku tidak membentak. Aku minta Mama berhenti membandingkan Nadira dengan Mama.”
“Mama cuma mendidik istrimu supaya tidak manja.”
“Dokter bilang jahitannya bermasalah karena terlalu banyak aktivitas.”
“Itu kata dokter zaman sekarang.”
Arga menatap ibunya cukup lama.
Kemudian dia bertanya, “Mama membangunkan Nadira jam dua pagi untuk menyapu?”
Bu Ratna diam.
“Mama menyuruh dia mencuci baju dengan tangan?”
“Memangnya kenapa? Mama dulu…”
“Dan Mama buang makanan yang aku masak untuk istriku ke mangkuk Bruno?”
“Makanannya sudah dingin.”
“Aku simpan di kulkas supaya bisa dipanaskan.”
Bu Ratna mulai meninggikan suara.
“Kamu sekarang mau menyalahkan Mama cuma karena istrimu mengadu?”
Arga menggeleng.
“Aku menyalahkan diriku sendiri.”
Semua orang terdiam.
“Karena aku membiarkan Mama masuk terlalu jauh ke dalam rumah tanggaku.”
Wajah Bu Ratna langsung berubah.
“Jadi sekarang Mama orang luar?”
“Mama ibuku. Tapi Nadira istriku.”
Bu Ratna tertawa sinis.
“Bagus. Baru punya anak perempuan satu saja sudah lupa siapa yang melahirkanmu.”
Arga tidak menjawab.
Pak Hendra yang sejak tadi diam akhirnya berkata, “Ratna, pulang.”
“Aku belum selesai.”
“Tapi aku sudah.”
Nada suara Pak Hendra membuat istrinya menoleh.
Kemudian dia mengatakan sesuatu yang membuat kami semua terdiam.
“Aku sudah memperingatkanmu sejak Nadira hamil.”
Bu Ratna membeku.
Pak Hendra menatap Arga.
“Bapak pernah bilang ke ibumu jangan tinggal di rumah kalian terlalu lama. Dia tidak mau dengar.”
Bu Ratna langsung memotong.
“Hendra!”
Tetapi Pak Hendra melanjutkan.
“Waktu Arga bayi, ibumu juga diperlakukan seperti ini oleh nenekmu.”
Aku menatap Bu Ratna.
Pak Hendra menarik napas panjang.
“Nenek Arga memaksanya bangun, memasak, mencuci, melayani keluarga padahal baru melahirkan. Ratna menangis hampir setiap malam.”
Bu Ratna terlihat seperti kehilangan kata-kata.
“Aku pikir karena dia pernah merasakan sakitnya, dia tidak akan melakukan hal yang sama kepada menantunya.”
Untuk pertama kalinya, aku melihat wajah Bu Ratna benar-benar runtuh.
Dia tidak meminta maaf malam itu.
Dia hanya pergi.
Aku pulang ke rumah Mama dua hari kemudian.
Arga tidak memaksaku kembali.
Dia datang setiap sore setelah bekerja. Membawakan makanan, mengganti popok Alya, mencuci botol susu, lalu pulang sekitar pukul sembilan.
Kadang kami berbicara.
Kadang tidak.
Pada hari kelima, dia memberikan sebuah kunci kepadaku.
Aku mengenalinya.
Kunci rumah kami.
“Aku sudah ganti semua kunci.”
Aku menatapnya.
“Mama?”
“Tidak punya lagi.”
“Dia bagaimana?”
“Marah.”
“Dan kamu?”
Arga tersenyum tipis.
“Takut.”
Aku mengernyit.
“Takut apa?”
“Takut kamu tidak mau pulang.”
Aku tidak menjawab.
“Dira, aku tidak akan bilang semuanya langsung berubah. Aku juga tidak akan minta kamu percaya hanya karena aku bilang aku berubah.”
Dia meletakkan kunci di meja.
“Kalau suatu hari kamu mau pulang, pulanglah karena kamu merasa aman. Bukan karena merasa wajib.”
Untuk pertama kalinya sejak meninggalkan rumah, dadaku terasa sedikit lebih ringan.
Tiga minggu kemudian, aku akhirnya pulang.
Bukan karena Bu Ratna meminta maaf.
Bukan pula karena keluarga memaksaku.
Aku pulang karena aku ingin melihat apakah rumah itu masih bisa menjadi rumahku.
Bu Ratna tidak tinggal di sana lagi.
Tempat tidur kecil yang dulu ingin diletakkannya di kamar kami sudah diberikan kepada orang lain.
Arga mengambil cuti seminggu.
Malam pertama aku kembali, Alya menangis pukul dua pagi.
Aku refleks bangun.
Namun Arga lebih dulu mengangkatnya.
“Tidur.”
“Alya mungkin lapar.”
“Aku bawa ke kamu kalau memang lapar. Sekarang popoknya basah.”
Aku kembali berbaring.
Beberapa menit kemudian aku mendengar Arga berjalan pelan di lorong sambil menenangkan putri kami.
Tanpa sadar aku menangis.
Bukan karena sedih.
Aku baru menyadari betapa lama tubuhku hidup dalam keadaan waspada.
Dua bulan berlalu.
Hubunganku dengan Bu Ratna hampir tidak ada.
Sampai suatu sore dia datang.
Dia tidak masuk.
Dia berdiri di depan pagar membawa sebuah panci.
Arga hendak keluar, tetapi aku menahannya.
Aku sendiri yang menemui Bu Ratna.
Dia terlihat lebih kurus.
“Ada apa, Ma?”
Dia mengangkat panci.
“Sup iga.”
Aku terdiam.
“Mama masak sendiri.”
Aku tidak menerimanya.
Bu Ratna menunduk.
“Nenek Arga meninggal sudah lama. Tapi ternyata Mama masih hidup seperti dia ada di kepala Mama.”
Aku tetap diam.
“Waktu kamu melahirkan Alya, Mama melihat kamu dimanja Arga. Dibuatkan makanan. Disuruh istirahat. Mama malah marah.”
Dia menarik napas.
“Bukan karena kamu salah.”
Matanya mulai berkaca-kaca.
“Mama marah karena dulu Mama tidak pernah mendapatkan itu.”
Aku tidak menyangka akan mendengar pengakuan tersebut.
“Lalu Mama melakukan hal yang sama kepada saya.”
“Iya.”
Tidak ada alasan.
Tidak ada kalimat tetapi.
Hanya pengakuan sederhana yang terasa jauh lebih berat daripada seribu permintaan maaf.
“Mama pikir kalau Mama bisa melewatinya, semua perempuan juga harus bisa.”
Aku akhirnya menerima panci itu.
Namun sebelum Bu Ratna tersenyum, aku berkata, “Menerima sup ini bukan berarti semuanya sudah selesai.”
Senyumnya menghilang.
“Aku tahu.”
“Aku belum siap memberikan Mama kunci rumah lagi.”
“Mama juga tidak akan minta.”
“Kalau Mama datang, telepon dulu.”
Dia mengangguk.
“Dan satu lagi.”
“Apa?”
Aku menatapnya.
“Alya tidak membutuhkan adik laki-laki hanya untuk membuat keluarga ini lengkap.”
Bu Ratna menunduk lama.
Kemudian dia mengangguk sekali lagi.
“Iya.”
Sore itu dia pergi tanpa masuk ke rumah.
Aku membawa panci ke dapur.
Arga berdiri di sana bersama Alya.
“Sup apa?”
“Sup iga.”
Wajahnya langsung berubah.
Aku hampir tertawa.
“Kali ini bukan untuk Bruno.”
Arga tertawa kecil.
Enam bulan kemudian, sesuatu yang tidak pernah kuduga terjadi.
Bu Ratna datang ke rumah Mama membawa sebuah kotak tua.
Di dalamnya terdapat beberapa buku catatan.
Salah satunya adalah buku hariannya ketika baru melahirkan Arga.
Aku membaca satu halaman.
Tulisan tangannya sudah memudar.
Hari kelima setelah melahirkan. Aku ingin tidur. Ibu membangunkanku karena dapur belum dibersihkan. Hendra diam saja. Aku marah kepadanya karena tidak membelaku.
Aku berhenti membaca.
Kalimat itu hampir sama persis dengan kehidupanku enam bulan sebelumnya.
Bu Ratna duduk di depanku.
“Mama menemukan buku itu ketika membersihkan gudang.”
Aku menatapnya.
“Kenapa diberikan kepada saya?”
“Karena Mama baru sadar sesuatu.”
Dia memandang Alya yang sedang bermain di lantai.
“Kalau Mama tidak berhenti, suatu hari kamu mungkin melakukan hal yang sama kepada Alya.”
Dadaku seperti dihantam sesuatu.
“Mama tidak mau itu terjadi.”
Aku menutup buku tersebut.
Saat itulah aku akhirnya memahami bahwa luka keluarga terkadang tidak diwariskan melalui darah.
Ia diwariskan melalui kalimat.
Dulu Mama juga begitu.
Dulu aku juga kuat.
Dulu aku bisa.
Kalimat-kalimat kecil yang terdengar biasa itu bisa berubah menjadi rantai yang mengikat perempuan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Aku menatap Alya.
Putriku tertawa sambil mencoba meraih mainannya.
Aku menggendongnya.
Dalam hati, aku membuat sebuah janji yang tidak pernah kuucapkan kepada siapa pun.
Suatu hari jika Alya menjadi seorang ibu, aku tidak akan berdiri di samping tempat tidurnya dan menceritakan betapa kuatnya aku dulu.
Aku akan bertanya satu hal sederhana.
“Kamu mau makan apa?”
Dan jika dia menjawab ingin tidur, aku akan mengambil cucuku dari pelukannya, menutup pintu kamar perlahan, lalu membiarkannya tidur selama yang dia butuhkan.
Karena malam ketika aku meninggalkan rumah sambil menggendong bayi berusia enam hari itu akhirnya mengajariku sesuatu yang jauh lebih penting daripada bagaimana menjadi istri atau menantu yang baik.
Menjadi keluarga bukan tentang seberapa banyak rasa sakit yang mampu kita tahan demi satu sama lain.
Kadang, menjadi keluarga justru berarti memastikan orang yang kita cintai tidak perlu menanggung rasa sakit yang pernah kita alami.
