Di Kereta Cepat Aku Memergoki Suamiku Menyuapi Sekretarisnya Jeruk, Padahal Pagi Itu Ia Mengaku Pergi Dinas Sendirian ke Bandung

Aku tidak langsung bertanya siapa Alina.

Aku hanya berdiri di depan meja resepsionis kantor cabang itu sambil menatap perempuan yang baru saja mengatakan bahwa suamiku tidak memiliki agenda kerja apa pun di Bandung.

Anehnya, aku tidak menangis.

Mungkin karena kebohongan yang terlalu besar tidak langsung menghasilkan air mata. Ia membuat tubuh mati rasa lebih dulu.

“Bu Maya?”

Pegawai perempuan itu memanggilku pelan.

Aku memaksakan senyum.

“Tidak apa-apa. Terima kasih sudah memberi tahu.”

Aku berbalik, tetapi baru dua langkah, dia mengejarku.

“Bu, tunggu.”

Aku menoleh.

Namanya ternyata Siska. Ia melihat ke kanan dan kiri sebelum merendahkan suara.

“Saya sebenarnya sudah lama ingin bilang sesuatu. Tapi saya takut salah.”

“Bilang saja.”

Siska menggigit bibir.

“Mbak Alina sudah hampir setahun jadi sekretaris Pak Rendra.”

Hampir setahun.

Kalimat itu menghantam lebih keras daripada yang kuduga.

Selama setahun terakhir, Rendra memang semakin sering pulang malam. Ia selalu punya alasan yang terdengar masuk akal.

Rapat direksi.

Makan malam dengan klien.

Presentasi mendadak.

Perjalanan bisnis.

Aku tidak pernah memeriksa.

Bukan karena aku bodoh, tetapi karena kupikir pernikahan tanpa kepercayaan hanyalah penjara dengan dua penghuni.

“Apakah mereka dekat?”

Siska tampak ragu.

“Di kantor mereka profesional. Tapi beberapa kali Mbak Alina ikut perjalanan yang sebenarnya tidak mengharuskan sekretaris ikut.”

“Seperti sekarang?”

Siska menunduk.

“Seperti sekarang.”

Aku mengucapkan terima kasih lalu keluar.

Di trotoar, aku membuka pesan Rendra.

Sayang, meeting-ku panjang sekali. Mungkin sampai malam.

Kali ini aku membalas.

Semangat ya. Jangan lupa makan.

Balasannya datang hampir seketika.

Siap, Bu Bos. Love you.

Aku menatap dua kata terakhir cukup lama.

Love you.

Betapa mudahnya manusia mengetik sesuatu yang bahkan mungkin sudah tidak lagi ia rasakan.

Aku kembali ke hotel tempatku menginap dan mencoba bekerja. Namun menjelang sore, pikiranku tidak bisa lagi diajak berkompromi.

Aku harus tahu.

Bukan menduga.

Bukan menyimpulkan.

Aku membutuhkan kebenaran.

Sekitar pukul tujuh malam, aku kembali ke Dago Meridian.

Aku duduk di lounge lobi dengan laptop terbuka seolah sedang bekerja.

Hampir empat puluh menit kemudian, lift terbuka.

Rendra keluar bersama Alina.

Aku mengenali gaun perempuan itu.

Hitam, sederhana, tetapi jelas bukan pakaian untuk meeting kantor.

Rendra mengenakan kemeja putih dengan dua kancing atas terbuka.

Mereka berjalan berdampingan menuju restoran hotel.

Aku mengikuti beberapa menit kemudian dan memilih meja yang tertutup tanaman dekoratif.

Suara mereka tidak selalu terdengar jelas.

Namun sesekali aku menangkap percakapan.

“Kamu yakin dia nggak curiga?” tanya Alina.

Rendra tertawa kecil.

“Maya? Nggak mungkin.”

Sendok di tanganku berhenti.

“Dia percaya banget sama kamu?”

“Bukan percaya.”

Rendra mengangkat gelasnya.

“Dia terlalu sibuk dengan pekerjaannya sendiri.”

Alina tertawa.

“Kasihan juga.”

Aku menundukkan kepala.

Ada perbedaan besar antara diselingkuhi dan mendengar orang yang kau cintai menjadikan kepercayaanmu bahan tertawaan.

Aku hampir bangkit.

Hampir mendatangi meja mereka.

Tetapi kemudian Alina berkata sesuatu yang membuatku tetap duduk.

“Terus soal saham itu gimana?”

Rendra menatapnya.

“Sudah hampir selesai.”

“Saham Maya?”

“Iya.”

Dadaku mendadak dingin.

Alina merendahkan suara, tetapi aku masih bisa mendengar sebagian.

“Kalau perusahaan jadi merger bulan depan, nilainya bisa naik banyak.”

Rendra tersenyum.

“Makanya sebelum itu semuanya harus beres.”

Aku tidak mengerti.

Saham apa?

Perusahaan apa?

Aku meninggalkan restoran sebelum mereka melihatku.

Begitu sampai kamar, aku langsung membuka laptop.

Rendra adalah direktur operasional PT Mahesa Karya Nusantara, perusahaan logistik yang didirikan ayahnya. Setelah ayah mertuaku meninggal dua tahun lalu, sebagian kepemilikan perusahaan dibagikan kepada anggota keluarga.

Aku memang memiliki saham.

Lima belas persen.

Bukan karena aku meminta.

Ayah Rendra sendiri yang memberikannya kepadaku setahun sebelum meninggal.

Waktu itu beliau berkata, “Maya, kamu satu-satunya orang yang bisa membuat Rendra berpikir sebelum bertindak.”

Aku tidak pernah terlalu memikirkan saham itu.

Dividennya masuk ke rekening investasi dan hampir tidak pernah kusentuh.

Aku membuka email lama.

Kemudian menemukan pesan dari bagian legal perusahaan tiga minggu lalu.

Ada dokumen persetujuan restrukturisasi kepemilikan.

Aku membukanya.

Jantungku langsung berdegup lebih cepat.

Terdapat rancangan pengalihan sebagian saham milikku ke sebuah perusahaan bernama Arunika Capital.

Aku tidak pernah menyetujuinya.

Namun di halaman terakhir terdapat tanda tangan digital atas namaku.

Tanganku mulai dingin.

Aku memperbesar dokumen itu.

Tanda tangannya mirip.

Sangat mirip.

Tetapi bukan milikku.

Aku langsung menelepon pengacara yang menangani urusan keluarga sejak ayah mertuaku masih hidup.

Namanya Pak Adrian.

“Bu Maya?”

“Pak, saya mau tanya sesuatu. Apakah saya pernah memberikan kuasa kepada Rendra untuk mengalihkan saham saya?”

Hening.

“Tidak pernah.”

“Kalau ada dokumen dengan tanda tangan saya?”

“Kalau Ibu tidak pernah menandatanganinya, jangan lakukan apa pun dulu.”

Nada suaranya berubah serius.

“Kirim dokumennya ke saya sekarang.”

Aku mengirimkan file.

Lima belas menit kemudian ia menelepon kembali.

“Bu Maya, besok pagi saya ke Bandung.”

“Separah itu?”

“Lebih baik kita bicara langsung.”

Malam itu aku akhirnya mengerti bahwa perempuan bernama Alina mungkin bukan masalah terbesar dalam pernikahanku.

Pagi berikutnya, Pak Adrian tiba.

Kami bertemu di ruang rapat kecil kantor tempatku melakukan audit.

Ia membawa beberapa dokumen.

“Arunika Capital didirikan delapan bulan lalu.”

“Pemiliknya siapa?”

Pak Adrian mendorong selembar kertas ke arahku.

Nama direktur perusahaan itu membuatku terpaku.

Alina Permatasari.

Sekretaris suamiku.

Aku membaca nama itu berkali-kali.

“Jadi Rendra mau memindahkan saham saya ke perusahaan milik Alina?”

“Secara tidak langsung, iya.”

“Kenapa?”

“Karena perusahaan keluarga akan menerima investasi besar bulan depan. Kalau transaksi selesai, nilai saham Ibu bisa naik hampir tiga kali lipat.”

Aku tertawa pendek.

Bukan karena lucu.

Karena akhirnya semuanya terasa terlalu jelas.

Perjalanan ke Bandung.

Kebohongan.

Hubungan dengan sekretaris.

Tanda tangan palsu.

Semuanya bukan sekadar perselingkuhan.

Rendra sedang mempersiapkan hidup baru.

Dan rupanya, modal untuk hidup baru itu hendak diambil dariku.

“Bisa dihentikan?”

Pak Adrian mengangguk.

“Selama Ibu bergerak sebelum rapat pemegang saham.”

“Kapan rapatnya?”

“Besok.”

Aku terdiam beberapa detik.

“Pak Adrian, jangan beri tahu siapa pun bahwa saya sudah tahu.”

Ia menatapku.

“Ibu punya rencana?”

Aku menutup dokumen.

“Kalau saya menghadapi Rendra sekarang, dia hanya akan berbohong.”

Aku menarik napas.

“Saya ingin mendengar sejauh mana dia berani berbohong ketika dia yakin saya tidak tahu apa-apa.”

Malam itu Rendra menelepon.

Aku mengangkatnya dari kamar hotel.

“Halo, Sayang.”

“Lagi apa?”

“Baru selesai kerja.”

“Kamu sendiri gimana meeting-nya?”

“Capek banget.”

Aku memejamkan mata.

“Kliennya jadi tanda tangan kontrak?”

“Kayaknya jadi.”

“Kamu menginap di Grand Aruna, kan?”

Ada jeda kecil.

“Iya.”

Aku tersenyum hambar.

“Baguslah.”

Kemudian aku bertanya, “Mas, kamu masih sayang aku?”

Telepon mendadak sunyi.

Beberapa detik kemudian ia tertawa.

“Kok tiba-tiba nanya begitu?”

“Jawab saja.”

“Tentu.”

“Kalau suatu hari aku kehilangan semuanya?”

“Aku tetap sama kamu.”

Aku menahan napas.

“Janji?”

“Janji.”

Setelah telepon ditutup, aku akhirnya menangis.

Bukan karena aku masih percaya.

Justru karena untuk pertama kalinya aku benar-benar tidak percaya.

Keesokan paginya rapat pemegang saham diadakan di kantor pusat perusahaan di Jakarta.

Rendra seharusnya kembali dari Bandung pagi-pagi sekali.

Aku pulang dengan kereta pertama bersama Pak Adrian.

Sekitar pukul sepuluh, seluruh pemegang saham sudah berada di ruang rapat.

Aku sengaja datang terlambat lima menit.

Ketika pintu kubuka, percakapan langsung berhenti.

Rendra berdiri.

Wajahnya berubah.

“Maya?”

Aku tersenyum.

“Hai, Mas.”

Alina duduk di sudut ruangan sebagai sekretaris rapat.

Wajahnya memucat.

Rendra segera menghampiriku.

“Kamu ngapain di sini?”

“Bukannya aku pemegang saham?”

“Tapi kamu bilang ada audit di Jakarta.”

“Auditnya di Bandung.”

Rendra terdiam.

Aku melanjutkan dengan tenang.

“Lucu ya. Kita ternyata sama-sama di Bandung dua hari terakhir.”

Wajahnya langsung kehilangan warna.

Aku berjalan menuju kursiku.

Rapat dimulai.

Ketika agenda pengalihan saham dibacakan, direktur legal menampilkan dokumen di layar.

“Berdasarkan persetujuan pemegang saham, lima belas persen kepemilikan atas nama Ibu Maya Prameswari akan dialihkan kepada Arunika Capital.”

Aku mengangkat tangan.

“Saya keberatan.”

Semua orang menoleh.

Direktur legal tampak bingung.

“Tapi tanda tangan Ibu sudah ada.”

“Bukan tanda tangan saya.”

Ruangan langsung gaduh.

Rendra berdiri.

“Maya, mungkin kamu lupa. Kita pernah bahas ini di rumah.”

Aku menatapnya.

“Kapan?”

“Beberapa minggu lalu.”

“Aneh.”

Aku membuka ponsel.

“Karena tiga minggu lalu saat dokumen ini dibuat, aku sedang di Singapura selama lima hari.”

Aku menampilkan bukti perjalanan.

Rendra membeku.

Pak Adrian kemudian berdiri.

“Kami sudah meminta pemeriksaan awal terhadap sertifikat tanda tangan digital. Ada indikasi akses dilakukan dari perangkat yang terdaftar atas nama Pak Rendra Mahesa.”

Semua mata tertuju kepada suamiku.

Alina tiba-tiba berdiri.

“Saya tidak tahu apa-apa.”

Aku menatapnya.

“Benarkah?”

Aku mengeluarkan dokumen lain.

“Arunika Capital milik siapa?”

Alina langsung terdiam.

Rendra membentak.

“Cukup, Maya!”

Aku menoleh kepadanya.

Untuk pertama kalinya aku melihat wajah asli lelaki yang selama tujuh tahun kucintai.

Bukan wajah lembut yang dulu memberiku air mineral.

Bukan lelaki yang menungguku di perpustakaan.

Melainkan seseorang yang marah karena rencananya gagal.

“Aku suami kamu!” katanya.

“Justru itu masalahnya.”

Suaraku tetap tenang.

“Orang asing mengambil uangku, itu pencurian. Tapi ketika suamiku sendiri mencoba melakukannya sambil tidur dengan sekretarisnya, namanya pengkhianatan.”

Alina mendadak menangis.

“Saya bukan selingkuhannya!”

Ruangan langsung hening.

Aku menatapnya.

“Apa?”

Alina memandang Rendra dengan ketakutan.

Kemudian sesuatu yang sama sekali tidak kuduga keluar dari mulutnya.

“Saya adik kandung Pak Rendra.”

Aku merasa seolah lantai di bawah kakiku bergeser.

Beberapa anggota keluarga langsung berdiri.

Rendra berteriak, “Alina, diam!”

Tetapi perempuan itu sudah menangis.

“Ayah Pak Rendra punya hubungan dengan ibu saya sebelum meninggal. Saya baru tahu dua tahun lalu.”

Aku menatap mereka bergantian.

“Kalau kalian saudara, kenapa di kereta kalian…”

Alina langsung menggeleng.

“Pak Rendra sengaja membuat orang mengira kami punya hubungan.”

Aku semakin tidak mengerti.

“Kenapa?”

Pak Adrian tiba-tiba membuka dokumen lain.

“Saya rasa saya tahu.”

Ia meletakkan salinan surat wasiat di meja.

Ayah mertua ternyata meninggalkan klausul yang selama ini tidak pernah diketahui Rendra.

Jika suatu hari terbukti ada anak biologis lain, sebagian kepemilikan perusahaan harus dialihkan kepada anak tersebut.

Alina adalah anak itu.

Namun ada syarat.

Pengalihan hanya bisa dilakukan melalui persetujuan mayoritas pemegang saham keluarga.

Rendra tidak ingin keluarganya mengetahui identitas Alina.

Ia membuat perusahaan atas nama Alina dan berusaha memindahkan sahamku ke sana secara diam-diam agar kelak ia dapat mengendalikan bagian tersebut melalui kesepakatan pribadi dengan adiknya.

“Jadi semua kemesraan itu?” tanyaku.

Alina menunduk.

“Pak Rendra menyuruh saya berpura-pura. Dia bilang kalau ada orang kantor melihat kami, lebih baik mereka mengira kami berselingkuh daripada mengetahui siapa saya sebenarnya.”

Aku hampir tidak percaya.

Lalu aku menatap Rendra.

“Apa kamu tidur dengan dia?”

“Tidak!”

Jawabannya cepat.

Dan untuk pertama kalinya sejak perjalanan itu, aku percaya.

Namun anehnya, kenyataan itu tidak membuat rasa sakitku berkurang.

Karena masalahnya ternyata jauh lebih buruk daripada perselingkuhan.

Suamiku rela menghancurkan kepercayaanku, memalsukan tanda tanganku, dan menjadikanku alat untuk menguasai warisan keluarganya.

“Kenapa tidak bilang padaku?” tanyaku.

Rendra menatapku.

“Karena kamu pasti akan menolak.”

Aku mengangguk perlahan.

“Nah. Akhirnya kamu jujur.”

Rapat dihentikan.

Dewan komisaris membekukan seluruh proses pengalihan saham dan memulai pemeriksaan internal.

Aku keluar dari ruangan tanpa menunggu Rendra.

Namun ia mengejarku hingga parkiran.

“Maya!”

Aku berhenti.

“Kita bisa perbaiki ini.”

Aku menatap lelaki yang dulu kupikir akan menemaniku sampai tua.

“Mas, kamu tahu apa yang paling menyakitkan?”

Ia diam.

“Bukan melihat kamu menyuapi Alina jeruk.”

Aku tersenyum pahit.

“Yang paling menyakitkan adalah aku sempat berharap masalah kita cuma perselingkuhan.”

Wajahnya runtuh.

Aku melepas cincin pernikahanku.

Namun aku tidak memberikannya kepadanya.

Aku memasukkannya ke dalam tas.

“Kenapa nggak kamu buang?” tanyanya lirih.

“Karena empat tahun pernikahan kita pernah nyata buatku. Aku tidak perlu berpura-pura semua kenangan itu sampah hanya karena akhirnya kamu memilih berbohong.”

Aku berjalan pergi.

Enam bulan kemudian, perceraian kami selesai.

Pemeriksaan internal membuktikan Rendra bertanggung jawab atas manipulasi dokumen. Ia dicopot dari jabatan direktur operasional, sementara kasus pemalsuan tanda tangan diselesaikan melalui proses hukum yang berjalan terpisah.

Alina akhirnya diakui keluarga secara resmi.

Anehnya, justru dia yang beberapa bulan kemudian datang menemuiku.

Kami duduk di sebuah kafe kecil di Jakarta.

Ia meletakkan sekantong jeruk di atas meja.

Aku menatapnya lalu tertawa.

Alina ikut tertawa sambil menangis.

“Maaf, Mbak. Setiap lihat jeruk saya juga trauma sekarang.”

Untuk pertama kalinya, aku menyadari bahwa perempuan yang sempat kubenci itu ternyata juga korban dari kebohongan yang sama.

Sebelum pergi, Alina berkata pelan, “Mas Rendra sebenarnya masih sering tanya tentang Mbak.”

Aku mengaduk kopiku.

“Kalau begitu bilang satu hal.”

“Apa?”

Aku menatap keluar jendela.

“Bilang aku baik-baik saja.”

Dua tahun kemudian aku kembali naik kereta cepat menuju Bandung.

Kali ini sendirian.

Aku mendapat kursi dekat jendela.

Saat kereta mulai bergerak, seorang lelaki di kursi seberang mengeluarkan kotak kecil berisi jeruk kupas.

“Mau?” tanyanya ramah.

Aku menatap jeruk itu beberapa detik.

Lalu tertawa.

“Tidak, terima kasih.”

Dia tampak bingung.

Aku kembali menatap pemandangan di luar jendela yang melesat cepat.

Dulu, di perjalanan menuju Bandung, aku pernah bertemu seorang lelaki yang akhirnya menjadi suamiku.

Bertahun-tahun kemudian, di perjalanan yang sama, aku menemukan bahwa aku tidak benar-benar mengenalnya.

Namun perjalanan itu juga mengajarkanku sesuatu.

Pengkhianatan tidak selalu berbentuk orang ketiga.

Kadang pengkhianatan adalah ketika seseorang yang paling kita percaya diam-diam mengambil hak kita, memanfaatkan cinta kita, lalu menganggap kepercayaan kita sebagai kelemahan.

Kereta terus melaju.

Dan untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, aku tidak sedang mengejar siapa pun.

Aku juga tidak sedang mengikuti siapa pun.

Aku hanya sedang menuju tempat yang kupilih sendiri.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang