Setelah Tiga Kali Dipukul Suami, Nadira Diam-Diam Belajar Muay Thai—Enam Bulan Kemudian, Raka Justru Masuk Rumah Sakit

Pagi pertama aku masuk ke sasana Muay Thai itu, aku hampir berbalik sebelum sempat menyentuh gagang pintu.

Dari balik kaca terdengar suara pukulan menghantam samsak, teriakan pelatih, dan derap kaki yang bergerak cepat di atas matras. Aku berdiri di trotoar dengan pakaian olahraga yang baru kubeli malam sebelumnya, merasa seperti orang asing yang tersesat.

Aku tidak pernah berkelahi seumur hidupku.

Bahkan ketika Raka memukulku, tanganku selalu refleks melindungi wajah, bukan membalas.

“Cari siapa, Mbak?”

Seorang pria berusia sekitar empat puluh tahun berdiri di belakangku. Tubuhnya tidak terlalu besar, tetapi sorot matanya tajam.

“Saya sudah daftar kemarin. Nadira.”

“Oh, Nadira.” Ia mengulurkan tangan. “Saya Dimas. Pelatih di sini.”

Matanya sempat berhenti pada memar samar di pipiku.

Ia tidak bertanya.

Aku justru menyukainya karena itu.

Latihan pertamaku jauh lebih buruk daripada bayanganku.

Lima menit lompat tali membuat napasku tersengal. Saat diminta melakukan tendangan dasar, keseimbanganku hilang dan aku hampir jatuh.

Pak Dimas menangkap lenganku.

“Pelan-pelan. Kita bukan sedang mengejar siapa-siapa.”

Aku tersenyum pahit.

Dalam hati aku berpikir, aku justru sedang berusaha mengejar diriku sendiri yang hilang selama empat tahun terakhir.

Aku mulai berlatih tiga kali seminggu.

Kepada Raka, aku mengatakan sedang mengikuti kelas kebugaran bersama beberapa ibu dari sekolah Alya. Ia tidak pernah memeriksa karena selama rumah tetap bersih, makanan tersedia, dan aku tidak mempertanyakan kegiatannya, Raka tidak terlalu peduli apa yang kulakukan.

Bulan pertama, tubuhku penuh lebam karena latihan.

Anehnya, aku tidak membencinya.

Memar itu berbeda.

Untuk pertama kalinya, rasa sakit di tubuhku berasal dari sesuatu yang kupilih sendiri.

Pak Dimas tidak pernah mengajariku untuk mencari perkelahian.

Justru sebaliknya.

“Kalau masih bisa pergi, pergi,” katanya suatu sore. “Bela diri bukan soal membuktikan siapa paling kuat. Tujuannya memastikan kamu pulang dengan selamat.”

Kalimat itu terus terngiang di kepalaku.

Dua bulan berlalu.

Tubuhku mulai berubah.

Napas menjadi lebih panjang. Kakiku lebih kuat. Refleksku lebih cepat.

Tetapi perubahan terbesar bukan pada ototku.

Aku mulai berani mengatakan tidak.

Ketika Bu Ratna menyuruhku membatalkan janji dengan teman hanya karena ia ingin ditemani berbelanja, aku menolak.

Ketika Raka menyuruhku mengambilkan air padahal ia berdiri dua langkah dari dispenser, aku berkata, “Ambil sendiri.”

Ia menatapku lama.

“Kamu sekarang beda.”

Aku tersenyum.

“Mungkin.”

Raka tidak menyukai perubahan itu.

Ia mulai memeriksa ponselku.

Menanyakan aku pergi ke mana.

Bahkan suatu malam ia berkata, “Jangan sampai kamu macam-macam di belakangku.”

Aku hampir tertawa.

Orang yang selama bertahun-tahun membuatku takut ternyata mulai merasa tidak nyaman ketika aku berhenti takut.

Memasuki bulan keempat, aku mulai sparring ringan.

Suatu sore setelah latihan, Pak Dimas memanggilku.

“Nadira.”

Aku menghentikan langkah.

“Kamu sebenarnya latihan untuk apa?”

Pertanyaan itu membuatku diam cukup lama.

Akhirnya aku menjawab jujur.

“Supaya kalau suami saya memukul lagi, saya bisa melawan.”

Wajah Pak Dimas berubah serius.

“Sudah berapa kali?”

“Tiga.”

“Dan kamu masih tinggal bersamanya?”

Aku mengangguk.

“Ada anak.”

Ia menarik napas.

“Nadira, kemampuan bela diri tidak membuat rumah yang penuh kekerasan menjadi aman.”

“Aku tahu.”

“Tidak. Sepertinya kamu belum tahu.”

Nada suaranya tegas, tetapi tidak menghakimi.

“Kalau tujuanmu cuma menunggu pukulan keempat supaya bisa membalas, berarti hidupmu masih dikendalikan dia.”

Kalimat itu menghantamku lebih keras daripada latihan mana pun.

Malam itu aku tidak langsung pulang.

Aku duduk hampir satu jam di dalam mobil sambil menatap foto Alya di ponsel.

Kemudian aku mulai membuat rencana.

Diam-diam aku menghubungi pengacara.

Aku menyimpan salinan dokumen penting.

Aku membuka rekening pribadi.

Aku juga menyimpan foto luka dari tiga kejadian sebelumnya, termasuk rekam medis yang akhirnya kubuat beberapa hari setelah kejadian terakhir.

Aku tidak lagi mempersiapkan diri untuk memukul Raka.

Aku mempersiapkan diri untuk pergi.

Namun aku tidak tahu bahwa Raka mulai curiga.

Bulan keenam, semuanya meledak.

Malam itu hujan deras mengguyur Bekasi.

Aku baru selesai menidurkan Alya ketika mendengar suara pintu depan dibanting.

Raka pulang.

Dari langkah kakinya saja aku tahu ia mabuk.

“Nadira!”

Aku keluar dari kamar.

Raka berdiri di ruang tengah dengan wajah merah.

Di tangannya ada kartu anggota sasana milikku.

Darahku seperti berhenti mengalir.

“Ini apa?”

Aku tidak menjawab.

Raka melempar kartu itu ke lantai.

“Muay Thai?”

Bu Ratna keluar dari kamarnya.

“Ada apa?”

Raka tertawa pendek.

“Istri kesayangan Ibu ternyata diam-diam belajar berkelahi.”

Bu Ratna menatapku seolah aku baru saja melakukan kejahatan.

“Kamu belajar begituan buat apa?”

Aku menarik napas.

“Untuk diri saya sendiri.”

Raka berjalan mendekat.

“Buat diri sendiri atau buat lawan aku?”

Aku mundur satu langkah.

Bukan karena takut.

Aku sedang menciptakan jarak.

Persis seperti yang diajarkan Pak Dimas.

“Raka, kamu sedang mabuk. Kita bicara besok.”

“Aku tanya, kamu belajar itu buat lawan aku?”

Ia mencengkeram pergelangan tanganku.

Enam bulan lalu aku mungkin akan membeku.

Malam itu tubuhku bergerak otomatis.

Aku melepaskan cengkeramannya dan mundur.

Raka tertegun.

Untuk pertama kalinya aku melihat sesuatu yang belum pernah kulihat di wajahnya.

Keterkejutan.

“Aku tidak mau berkelahi,” kataku.

Raka maju lagi.

“Nadira, jangan kurang ajar.”

“Berhenti.”

Ia mengangkat tangan.

Dan waktu seolah melambat.

Aku melihat bahunya bergerak.

Tangannya datang menuju wajahku.

Aku menghindar.

Telapak tangannya hanya menyapu udara.

Raka kehilangan keseimbangan karena mabuk.

Namun itu justru membuatnya semakin marah.

Ia mencoba mencengkeramku lagi.

Aku menahan lengannya dan mendorong tubuhnya menjauh sekadar untuk menciptakan jarak.

“Jangan sentuh aku.”

Raka tersandung karpet.

Tumitnya terpeleset.

Tubuhnya jatuh ke belakang.

Suara benturan keras memenuhi ruang tamu.

Kepalanya menghantam sisi meja.

“Raka!”

Bu Ratna menjerit.

Raka terbaring dengan mata terpejam.

Aku membeku selama satu detik.

Lalu semua latihan tentang keselamatan mengambil alih.

Aku tidak menyentuh atau memindahkan kepalanya.

Aku segera menelepon ambulans.

Dua puluh menit kemudian Raka dibawa ke rumah sakit.

Bu Ratna menangis sepanjang perjalanan.

“Lihat apa yang kamu lakukan!”

Aku tidak menjawab.

Di IGD, dokter mengatakan Raka mengalami gegar otak ringan dan luka di bagian belakang kepala yang membutuhkan jahitan. Ia harus dirawat untuk observasi.

Bu Ratna langsung menelepon keluarga.

Versinya sederhana.

Aku belajar Muay Thai diam-diam lalu menghajar suamiku sampai masuk rumah sakit.

Pagi berikutnya beberapa kerabat datang.

Tatapan mereka membuatku merasa seperti terdakwa.

Seorang kakak sepupu Raka bahkan berkata, “Apa pun masalah rumah tangga kalian, sampai suami masuk rumah sakit itu keterlaluan.”

Aku tetap diam.

Sampai Raka sadar.

Begitu membuka mata dan melihatku, ekspresinya berubah.

“Kamu…”

Bu Ratna segera mendekat.

“Raka, bilang ke semuanya. Nadira yang menyerang kamu, kan?”

Raka menatap ibunya.

Kemudian menatapku.

Aku bisa melihat pikirannya bekerja.

Kalau ia berbohong, aku mungkin akan menjadi orang yang disalahkan.

Namun sebelum ia berbicara, pintu kamar terbuka.

Seorang petugas kepolisian masuk bersama seorang perempuan yang memperkenalkan diri sebagai pendamping dari unit pelayanan perempuan dan anak.

Bu Ratna berdiri.

“Kenapa ada polisi?”

Aku menjawab untuk pertama kalinya.

“Saya yang menghubungi mereka.”

Wajah Raka berubah.

Aku mengeluarkan ponsel.

“Aku sudah menyimpan bukti tiga kejadian sebelumnya.”

Foto wajahku yang lebam.

Foto bahuku.

Rekam medis.

Pesan permintaan maaf Raka.

Bahkan pesan Bu Ratna yang pernah memintaku mengatakan kepada dokter bahwa aku jatuh di kamar mandi.

Semuanya tersimpan.

Namun bukti terakhir adalah yang paling penting.

Aku membuka sebuah rekaman.

Suara Raka terdengar jelas.

“Aku tanya, kamu belajar itu buat lawan aku?”

Kemudian suaraku.

“Aku tidak mau berkelahi.”

Lalu suara Raka.

“Nadira, jangan kurang ajar.”

Setelah itu terdengar keributan, benturan, dan jeritan Bu Ratna.

Aku sudah menyalakan perekam suara di ponsel sejak Raka menunjukkan kartu sasana.

Ruangan mendadak sunyi.

Raka menutup mata.

Bu Ratna tampak kehilangan kata-kata.

Aku menatap suamiku.

“Enam bulan lalu aku belajar Muay Thai karena kupikir aku harus menjadi cukup kuat untuk melawanmu.”

Air mataku akhirnya jatuh.

“Ternyata aku salah.”

Raka membuka mata.

“Aku tidak perlu menjadi lebih kuat darimu. Aku hanya perlu berhenti menerima perlakuanmu.”

Untuk pertama kalinya, tidak ada permintaan maaf darinya.

Tidak ada bunga.

Tidak ada kalung.

Tidak ada janji bahwa itu terakhir kali.

Hanya keheningan.

Dua minggu kemudian aku mengajukan gugatan cerai.

Bu Ratna mencoba menggunakan Alya lagi.

Ia berkata perceraian akan menghancurkan masa depan cucunya.

Namun kali ini aku tidak mundur.

Aku justru membawa Alya menemui psikolog anak.

Dari sanalah aku mengetahui sesuatu yang membuat dadaku sesak.

Alya masih mengingat kejadian ketika Raka memukul bahuku.

Ia melihatnya dari balik pintu kamar.

Selama ini aku bertahan karena mengira sedang melindungi anakku.

Padahal tanpa kusadari, aku sedang mengajarinya bahwa perempuan harus bertahan ketika disakiti.

Hari ketika aku membawa koper keluar dari rumah, Alya menggenggam tanganku.

Raka sudah pulang dari rumah sakit.

Ada perban kecil di belakang kepalanya.

Ia berdiri di depan pintu.

“Nadira.”

Aku berhenti.

“Aku akan ikut konseling.”

Aku menatapnya.

“Bagus.”

“Aku bisa berubah.”

“Mudah-mudahan.”

Ia terlihat terkejut.

“Kamu tetap pergi?”

“Iya.”

“Aku bilang aku akan berubah.”

Aku tersenyum tipis.

“Berubahlah untuk dirimu sendiri, Raka. Bukan sebagai syarat supaya aku kembali.”

Aku berjalan keluar bersama Alya.

Enam bulan kemudian aku kembali ke sasana.

Bukan untuk belajar menghajar seseorang.

Aku datang membawa sarung tinju kecil berwarna merah muda.

Alya berdiri di sampingku.

Pak Dimas tertawa ketika melihatnya.

“Siapa yang mau latihan?”

Alya mengangkat tangan.

“Aku.”

Aku berjongkok di depannya.

“Alya, Mama mau bilang sesuatu.”

“Apa?”

“Kalau suatu hari ada orang yang membuat Alya takut, Alya tidak harus diam hanya supaya orang itu tetap sayang sama Alya.”

Ia mengangguk meski mungkin belum sepenuhnya memahami.

“Kalau ada yang jahat, aku pukul?”

Aku tertawa kecil.

“Bukan begitu.”

Pak Dimas ikut berjongkok.

“Kalau bisa pergi, pergi. Kalau bisa minta bantuan, minta bantuan. Bela diri itu pilihan terakhir.”

Alya berpikir sebentar.

Lalu mengangguk serius.

Saat melihat putriku mulai belajar posisi berdiri, aku teringat perempuan yang datang ke sasana enam bulan lalu.

Perempuan itu mengira kekuatan berarti mampu membalas pukulan.

Sekarang aku tahu kekuatan sebenarnya jauh lebih sunyi.

Kekuatan adalah menyimpan bukti ketika orang lain menyuruhmu menutupi luka.

Kekuatan adalah meminta pertolongan ketika keluarga menyuruhmu bertahan.

Kekuatan adalah berani meninggalkan seseorang yang kau cintai ketika cintanya mulai membuatmu takut.

Dan yang paling penting, kekuatan adalah memastikan anakmu tidak tumbuh dengan menganggap kekerasan sebagai harga yang harus dibayar untuk mempertahankan sebuah keluarga.

Raka memang masuk rumah sakit malam itu.

Namun bukan karena aku akhirnya menjadi perempuan yang lebih pandai memukul.

Ia jatuh karena untuk pertama kalinya, ketika tangannya terangkat ke arahku, aku tidak lagi berdiri diam di tempat yang sama.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang