“Baru Tahu Hamil Setelah 5 Tahun, Nadira Justru Mendapati Arga Diam-Diam Menceraikannya Sebulan Lalu Demi Cinta Pertamanya”

Keesokan paginya, aku benar-benar kembali ke rumah sakit.

Aku tidak tidur semalaman. Kotak kecil yang semula kupersiapkan sebagai hadiah ulang tahun pernikahan masih tergeletak di meja ruang tamu. Sepasang kaus kaki bayi berwarna putih menyembul dari dalamnya, berdampingan dengan hasil USG yang seharusnya menjadi kabar paling membahagiakan dalam hidup kami.

Aku menatapnya lama sebelum memasukkannya ke tas.

Entah mengapa aku membawanya.

Mungkin sebagian kecil dalam diriku masih berharap semua yang terjadi kemarin hanyalah mimpi buruk.

Di ruang tunggu klinik, aku duduk dengan kedua tangan saling menggenggam erat.

Ketika namaku dipanggil, kakiku terasa berat.

Dokter Maya, dokter kandungan yang kemarin memeriksaku, mengernyit begitu mendengar keputusanku.

“Bu Nadira, saya tidak akan menghakimi keputusan Ibu. Tapi saya ingin memastikan Ibu tidak mengambil keputusan besar saat sedang mengalami guncangan emosional.”

Aku menunduk.

“Dok, ayahnya menceraikan saya diam-diam sebulan lalu.”

Dokter Maya terdiam.

“Kemarin saya baru tahu. Beberapa jam setelah tahu saya hamil.”

Tatapannya melunak.

“Kalau begitu, justru saya menyarankan Ibu memberi waktu untuk diri sendiri.”

“Apa bedanya menunggu?”

“Bisa sangat berbeda.”

Aku ingin membantah, tetapi ponselku bergetar.

Nama Arga muncul.

Untuk sesaat aku hanya menatap layar.

Lima tahun menikah membuat tubuhku masih bereaksi terhadap namanya. Dulu, satu panggilan darinya bisa membuatku tersenyum tanpa sadar.

Sekarang rasanya seperti melihat nama orang asing.

Aku mengangkat telepon.

“Apa?”

“Nadira, kamu di mana?”

“Bukan urusanmu.”

“Aku perlu bicara.”

Aku tertawa hambar.

“Lima tahun aku menjadi istrimu. Kamu menceraikanku tanpa bicara. Sekarang kamu merasa perlu bicara?”

Arga diam beberapa detik.

“Kita selesaikan baik-baik. Datang ke rumah siang ini. Pengacaraku akan membawa dokumen pembagian aset.”

“Aku tidak butuh uangmu.”

“Jangan kekanak-kanakan.”

Kalimat itu membuat sesuatu dalam diriku membeku.

Aku menatap layar monitor di ruangan dokter. Di sana masih terpampang gambar kecil janin yang bahkan belum berbentuk sempurna.

“Aku sedang di rumah sakit.”

Suara Arga berubah.

“Kamu sakit?”

Refleks.

Setelah semua yang dilakukannya, refleks pertamanya masih bertanya apakah aku sakit.

Aku hampir menangis.

Namun kemudian terdengar suara perempuan di belakangnya.

“Arga, sayang, kita terlambat fitting cincin.”

Laras.

Aku menutup mata.

“Tidak. Aku baik-baik saja.”

Aku memutus sambungan.

Dokter Maya menggeser kotak tisu ke arahku.

“Pulanglah dulu,” katanya pelan. “Tiga hari saja. Setelah itu datang lagi. Apa pun keputusan Ibu, kita bicarakan dengan kepala yang lebih tenang.”

Aku akhirnya mengangguk.

Ternyata tiga hari itu mengubah segalanya.

Ketika aku tiba di rumah yang selama lima tahun kutempati bersama Arga, pintu elektronik tidak mengenali sidik jariku.

Aku mencoba lagi.

Ditolak.

Sekali lagi.

Tetap ditolak.

Seorang petugas keamanan kompleks mendekat dengan wajah canggung.

“Maaf, Bu Nadira. Tadi pagi ada instruksi bahwa akses Ibu sudah dinonaktifkan.”

Aku hampir tertawa.

Bahkan rumahku sendiri sudah menghapus keberadaanku.

Aku menelepon Arga.

Tidak dijawab.

Lalu sebuah mobil berhenti di depan rumah.

Laras turun.

Ia mengenakan kemeja krem sederhana dan celana panjang. Tidak ada gaun mewah seperti kemarin. Wajahnya pun tidak terlihat seperti perempuan yang baru saja memenangkan cinta hidupnya.

Justru pucat.

“Kak Nadira.”

Aku menatapnya dingin.

“Aku tidak ingin bicara denganmu.”

“Aku tahu. Tapi ada sesuatu yang harus Kakak ketahui.”

“Kalau kamu datang untuk meminta maaf karena mengambil suamiku, simpan saja.”

“Aku tidak mengambil Arga.”

Aku berhenti.

Laras menelan ludah.

“Aku juga baru tahu kalian sudah bercerai kemarin.”

Aku menatapnya tajam.

“Jangan bohong.”

“Aku tidak bohong. Arga bilang Kakak sudah setuju bercerai enam bulan lalu. Katanya kalian hanya menunggu proses administrasi.”

Aku tertawa getir.

“Dan kamu percaya?”

“Karena dia menunjukkan surat persetujuan dengan tanda tangan Kakak.”

Darahku terasa turun ke kaki.

Laras membuka tas dan menyerahkan foto sebuah dokumen.

Tanda tangan di bagian bawah memang milikku.

Namun dokumen itu bukan yang kuingat pernah kutandatangani.

Aku memperbesar fotonya.

Tanggalnya sebulan lalu.

“Aku datang karena ada hal lain.”

Laras terlihat ragu sebelum akhirnya berkata, “Arga bilang kalian tidak pernah punya anak karena Kakak mandul.”

Aku menamparnya.

Suara tamparan itu terdengar keras.

Laras tidak melawan.

Aku sendiri terkejut dengan tindakanku.

“Aku minta maaf,” katanya sambil memegang pipinya. “Tapi Kakak harus tahu apa yang dia katakan.”

Tanganku gemetar.

“Aku tidak mandul.”

“Aku tahu.”

Aku membeku.

Laras menatapku.

“Itulah alasan aku datang.”

Dari tasnya, ia mengeluarkan sebuah amplop.

“Aku bekerja sebagai peneliti klinis di Singapura selama empat tahun terakhir. Sebelum kembali ke Jakarta, aku menjalani pemeriksaan kesehatan lengkap karena riwayat operasi donor yang pernah kulakukan.”

Aku tidak memahami arah pembicaraan itu.

“Saat itu dokter menemukan sesuatu dalam arsip medis lama Arga.”

Ia menyerahkan beberapa lembar kertas.

Nama Arga tertera di atasnya.

Hasil analisis laboratorium.

Aku membaca bagian kesimpulan.

Lalu membacanya sekali lagi.

Tanganku mulai gemetar.

“Kapan pemeriksaan ini dilakukan?”

“Enam tahun lalu.”

Sebelum kami menikah.

Hasil itu menunjukkan Arga pernah mengalami gangguan kesuburan serius setelah komplikasi penyakit yang hampir merenggut nyawanya.

Kemungkinan memiliki anak secara alami sangat rendah.

Aku mengangkat wajah.

“Dia tahu?”

“Dia tahu.”

Aku teringat lima tahun terakhir.

Puluhan pemeriksaan.

Suntikan hormon.

Program kehamilan.

Malam-malam ketika aku menangis sendirian di kamar mandi karena menstruasi datang lagi.

Dan setiap kali aku menyalahkan tubuhku sendiri, Arga memelukku.

“Kita coba lagi,” katanya.

Aku bahkan pernah meminta maaf kepadanya karena merasa gagal menjadi seorang istri.

Dia hanya mengusap kepalaku.

“Tidak apa-apa.”

Sekarang dua kata itu terasa seperti penghinaan.

“Kenapa dia tidak pernah memberitahuku?”

Laras menggeleng.

“Aku tidak tahu.”

Tanganku otomatis menyentuh perut.

Gerakan kecil itu tertangkap mata Laras.

Wajahnya berubah.

“Kak Nadira…”

Aku segera menarik tangan.

Terlambat.

“Kakak hamil?”

Aku tidak menjawab.

Namun ekspresiku sudah menjawab semuanya.

Laras menatapku seolah baru melihat sesuatu yang mustahil.

“Kalau begitu Arga harus tahu.”

“Tidak.”

“Tapi kalau hasil pemeriksaan itu benar…”

“Aku tidak pernah berselingkuh.”

“Aku tidak bilang begitu.”

“Tapi itu yang kamu pikirkan.”

Laras diam.

Aku masuk ke mobil dan pergi.

Untuk pertama kalinya, bukan perceraian yang membuatku takut.

Melainkan pertanyaan yang jauh lebih mengerikan.

Jika Arga hampir tidak mungkin memiliki anak secara alami, anak siapa yang sedang kukandung?

Aku langsung menelepon dokter yang menangani program kehamilan kami dua tahun lalu.

Kliniknya sudah tutup.

Dokternya pindah ke luar negeri.

Aku kemudian menghubungi pusat fertilitas tempat kami pernah menjalani prosedur terakhir.

Setelah menunggu hampir dua jam, seorang staf mengatakan rekam medis lama kami tersimpan di arsip.

Ada sesuatu yang aneh.

Menurut catatan mereka, dua tahun lalu aku pernah menjalani prosedur transfer embrio.

Aku hampir menjatuhkan telepon.

“Itu tidak mungkin. Program kami dihentikan sebelum tahap transfer.”

Staf itu terdengar bingung.

“Di sistem tercatat prosedur dilakukan.”

“Atas persetujuan siapa?”

“Sebentar.”

Beberapa menit kemudian ia kembali.

“Persetujuan suami.”

Dadaku sesak.

Malam itu aku tidak pulang ke rumah.

Aku menginap di apartemen sahabatku, Rani.

Keesokan paginya aku menemui pengacara.

Bukan pengacara Arga.

Pengacara yang direkomendasikan Rani.

Namanya Adrian.

Setelah memeriksa salinan dokumen perceraian, wajahnya berubah serius.

“Bu Nadira, tanda tangan ini mungkin asli. Tapi kalau Ibu menandatangani dokumen karena ditipu mengenai isi dan tujuannya, ada persoalan hukum yang sangat serius.”

“Apa perceraian itu bisa dibatalkan?”

“Kita harus melihat seluruh berkas perkara.”

Ia kemudian membuka halaman berikutnya.

“Yang lebih aneh justru ini.”

“Apa?”

“Dalam dokumen pembagian harta, Ibu disebut telah melepaskan klaim terhadap saham perusahaan tertentu.”

Aku membaca nama perusahaan itu.

Prameswari Biomedika.

Aku mengenalnya.

Perusahaan bioteknologi kecil yang didirikan ayahku sebelum meninggal.

Setelah menikah, pengelolaannya memang kuserahkan kepada Arga karena aku tidak memahami bisnis.

“Berapa nilai saham saya?”

Adrian menatapku.

“Menurut dokumen lama, empat puluh satu persen.”

Aku tercekat.

“Nilainya?”

“Kalau valuasi terakhir yang saya temukan benar, sekitar sembilan ratus miliar rupiah.”

Dunia seolah berhenti.

Tiba-tiba semuanya masuk akal.

Perceraian diam-diam.

Dokumen perusahaan.

Tanda tangan.

Pertunangan yang dilakukan secepat itu.

Mungkin Laras bukan alasan utama.

Mungkin ia hanya tirai.

Aku meminta Adrian menyelidiki semuanya.

Dua hari kemudian, kami menemukan sesuatu yang bahkan lebih buruk.

Prameswari Biomedika sedang dalam proses akuisisi oleh perusahaan farmasi Singapura.

Dan transaksi itu membutuhkan kepemilikan saham Arga melewati batas tertentu.

Sahamku adalah penghalangnya.

Perceraian kami bukan kisah cinta tragis tentang lelaki yang kembali kepada cinta pertamanya.

Itu transaksi bisnis.

Namun masih ada satu misteri.

Kehamilanku.

Aku kembali ke pusat fertilitas bersama Adrian.

Kali ini kami meminta audit rekam medis.

Setelah berjam-jam pemeriksaan, kepala klinik menemui kami sendiri.

Wajahnya tegang.

“Bu Nadira, ada kesalahan administrasi yang sangat serius pada arsip lama.”

Aku menahan napas.

“Dua tahun lalu memang ada embrio yang disimpan atas nama Anda dan Pak Arga.”

“Dari sperma Arga?”

Dokter itu tidak langsung menjawab.

“Tidak.”

Jantungku serasa berhenti.

“Lalu dari siapa?”

“Donor.”

Aku berdiri begitu cepat hingga kursiku jatuh.

“Aku tidak pernah menyetujui donor.”

“Kami sedang menyelidikinya.”

“Siapa yang menandatangani?”

Dokter menunjukkan dokumen.

Arga.

Aku merasa mual.

“Kenapa embrio itu ada di tubuh saya sekarang? Dua tahun lalu saya tidak hamil.”

Dokter menggeleng.

“Embrio tersebut tidak pernah ditransfer kepada Anda.”

Aku menatapnya bingung.

“Kalau begitu?”

“Embrio masih tersimpan.”

Ruangan mendadak sunyi.

Aku menatap hasil USG dalam tas.

Jika embrio itu masih ada, kehamilanku tidak berhubungan dengan prosedur tersebut.

Aku meminta pemeriksaan lebih lanjut.

Beberapa hari terasa seperti bertahun-tahun.

Sementara itu Arga terus menelepon.

Aku tidak menjawab sampai akhirnya sebuah pesan masuk.

Nadira, hentikan pengacaramu. Jangan memperumit semuanya.

Aku membalas untuk pertama kalinya.

Takut?

Jawabannya datang cepat.

Kamu tidak tahu apa yang sedang kamu lakukan.

Aku tersenyum pahit.

Untuk pertama kalinya dalam lima tahun, justru aku tahu persis apa yang sedang kulakukan.

Seminggu kemudian, hasil pemeriksaan genetik awal keluar.

Dokter memintaku datang langsung.

Ketika aku masuk ke ruangannya, Laras sudah ada di sana.

Aku langsung berhenti.

“Kenapa dia di sini?”

Dokter Maya menatap kami bergantian.

“Karena hasil ini berkaitan dengan kalian berdua.”

Aku semakin bingung.

Dokter meletakkan sebuah berkas di meja.

“Bu Nadira, kehamilan Anda terjadi secara alami.”

Aku mengembuskan napas yang bahkan tidak kusadari kutahan.

“Dan berdasarkan analisis genetik yang memungkinkan dilakukan pada tahap ini, tidak ditemukan indikasi yang bertentangan dengan Pak Arga sebagai ayah biologis.”

Aku menatap Laras.

“Bukankah kamu bilang dia hampir mandul?”

“Hampir,” jawab dokter. “Bukan berarti mustahil.”

Air mata langsung memenuhi mataku.

Anak ini anak Arga.

Namun dokter belum selesai.

“Ada hal lain yang kami temukan setelah Bu Laras meminta arsip donor enam tahun lalu diperiksa ulang.”

Laras terlihat pucat.

Dokter melanjutkan.

“Operasi yang selama ini disebut sebagai donor Laras untuk menyelamatkan Arga tidak pernah terjadi seperti yang kalian pahami.”

Aku mengernyit.

Laras pun terlihat terkejut.

Dokter menyerahkan dokumen lama.

“Laras memang menjalani operasi pada hari yang sama. Tapi donor yang menyelamatkan Arga berasal dari orang lain.”

“Siapa?” tanyaku.

Dokter menatapku.

“Ibu Anda.”

Aku tidak bisa bergerak.

Ibuku meninggal enam tahun lalu setelah komplikasi operasi yang selama ini disebut sebagai operasi darurat akibat penyakit mendadak.

Ternyata sebelum meninggal, Ibu mendonorkan sebagian organ yang dibutuhkan Arga.

Semua dilakukan diam-diam karena Arga berjanji kepadanya akan menjagaku.

Laras berada di rumah sakit pada waktu yang sama karena prosedur lain. Keluarga Arga kemudian membiarkan cerita bahwa Laraslah penyelamatnya berkembang karena hubungan mereka saat itu.

Aku tertawa.

Bukan karena lucu.

Karena terlalu menyakitkan.

Lelaki itu menceraikanku demi perempuan yang selama ini ia anggap telah menyelamatkan hidupnya, sementara orang yang benar-benar menyelamatkannya adalah ibuku.

Dan ia membalasnya dengan menipu putrinya.

Malam itu aku akhirnya menemui Arga.

Bukan di rumah.

Di kantor Adrian.

Arga datang dengan wajah marah.

“Apa lagi yang kamu mau?”

Aku meletakkan tiga benda di atas meja.

Dokumen saham.

Berkas medis ibuku.

Dan hasil USG.

Wajah Arga berubah ketika melihat benda terakhir.

“Kamu hamil?”

Aku menatapnya tanpa berkedip.

“Sepuluh minggu.”

Ia langsung duduk.

Untuk pertama kalinya sejak ballroom itu, kesombongannya hilang.

“Nadira…”

“Anakmu.”

Tangannya bergerak hendak mengambil hasil USG, tetapi aku lebih dulu menariknya.

“Kamu tidak berhak.”

“Nadira, dengarkan aku.”

“Lima tahun aku mendengarkanmu.”

Ia terdiam.

“Kamu bilang Laras menyelamatkan hidupmu. Ternyata ibuku.”

Wajah Arga memucat.

“Kamu tahu?”

Ia tidak menjawab.

Itulah jawabannya.

Aku merasakan dadaku seperti dihantam.

“Kamu tahu sejak awal?”

“Aku baru tahu beberapa tahun setelah kita menikah.”

“Dan kamu tetap melakukan semua ini?”

Arga menunduk.

“Aku terdesak. Aku butuh saham itu untuk menyelamatkan perusahaan.”

“Jadi kamu menceraikanku.”

“Aku pikir kamu akan baik-baik saja secara finansial.”

Aku tertawa pelan.

“Kamu masih tidak mengerti.”

Aku berdiri.

“Aku tidak kehilanganmu ketika kamu menceraikanku, Arga. Aku kehilanganmu saat menyadari lelaki yang kucintai ternyata tidak pernah benar-benar ada.”

Beberapa bulan kemudian, pengadilan membatalkan sejumlah dokumen pengalihan aset yang diperoleh melalui penipuan. Aku mendapatkan kembali kendali atas saham peninggalan ayahku.

Aku tidak kembali kepada Arga.

Laras juga membatalkan pertunangannya.

Terakhir kudengar, ia kembali bekerja di Singapura.

Arga kehilangan posisi sebagai direktur utama setelah penyelidikan internal menemukan manipulasi dokumen perusahaan.

Namun aku tidak merasa menang.

Beberapa luka tidak menghasilkan pemenang.

Tujuh bulan setelah malam ketika aku diusir dari ballroom itu, aku melahirkan seorang bayi perempuan.

Aku menamainya Kirana.

Arga datang ke rumah sakit.

Ia berdiri di balik kaca ruang bayi cukup lama.

Aku membiarkannya melihat putrinya.

Bukan karena aku sudah memaafkannya.

Melainkan karena aku tidak ingin Kirana tumbuh dari kebencian yang diwariskan.

Sebelum pergi, Arga menyerahkan sebuah amplop.

Di dalamnya ada surat tulisan tangan ibuku yang selama bertahun-tahun ia simpan.

Satu kalimat membuatku menangis paling lama.

Jaga Nadira bukan karena kamu berutang nyawa kepada Ibu, tetapi karena suatu hari kamu memilih mencintainya.

Aku melipat surat itu perlahan.

Akhirnya aku memahami sesuatu.

Arga memang gagal memenuhi janjinya kepada ibuku.

Tetapi kehidupan tidak selalu menagih sebuah janji melalui orang yang membuatnya.

Kadang kehidupan mengembalikannya dalam bentuk lain.

Aku menatap Kirana yang tertidur di pelukanku.

Lima tahun aku mengira kebahagiaanku bergantung pada seorang lelaki yang menyebut dirinya rumah.

Ternyata rumah bukan seseorang yang harus kupaksa untuk tetap tinggal.

Rumah adalah tempat di mana aku tidak perlu mengorbankan harga diriku agar dicintai.

Dan pagi itu, sambil memeluk putriku di bawah cahaya matahari Jakarta yang masuk melalui jendela rumah sakit, untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun aku tidak merasa ditinggalkan.

Aku merasa pulang.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang