Delapan Tahun Menanti Cinta Rahasia, Nadira Baru Mengetahui Sang Jenderal Diam-Diam Menyerahkan Jabatan dan Masa Depannya kepada Adik Kandungnya, Kirana

Nama itu terasa seperti peluru yang menembus tepat ke tempat paling rapuh di dadaku.

ARGA MAHENDRA.

Aku membaca riwayat akses sekali lagi, berharap mataku keliru. Namun angka, waktu, dan identitas pengguna di layar tidak berubah.

Empat puluh tujuh kali.

Arga telah membuka arsip taktisku empat puluh tujuh kali dalam tiga puluh hari terakhir.

Tanganku bergerak otomatis mengambil tangkapan layar dan menyalin log akses ke penyimpanan terenkripsi pribadiku. Aku sudah terlalu lama menjadi perwira untuk bereaksi hanya dengan emosi. Jika ada sesuatu yang kupelajari dari delapan tahun memimpin operasi, itu adalah satu hal sederhana.

Ketika dikhianati, jangan langsung menyerang.

Kumpulkan bukti.

Suara Kirana kembali terdengar dari radio.

“Tim Alfa, putar dari sektor utara. Drone pengintai naik seratus meter.”

Aku memejamkan mata.

Itu juga strategiku.

Bahkan intonasinya hampir sama.

Tiba-tiba pintu kendaraan komunikasi terbuka. Dimas masuk dengan wajah tegang.

“Bu Nadira, ada masalah.”

“Apa?”

“Musuh simulasi mengubah pola pertahanan. Mereka memasang pengacau sinyal bergerak di sektor timur.”

Aku menatap peta.

Dalam hitungan detik aku tahu apa yang akan terjadi.

“Kirana akan kehilangan jalur komunikasi dengan Tim Alfa dalam enam menit.”

Dimas menelan ludah.

“Haruskah kita memberi tahu?”

Aku belum sempat menjawab ketika suara Arga terdengar di kanal utama.

“Kirana, lanjutkan skenario awal.”

“Tapi gangguan sinyal meningkat.”

“Percayalah pada pola yang sudah kupelajari bersamamu.”

Bersamamu.

Dua kata itu membuatku tersenyum getir.

Pola itu bukan dipelajari Arga bersama Kirana.

Pola itu kubangun bersama Arga selama delapan tahun.

Enam menit kemudian, tepat seperti perkiraanku, layar komunikasi berubah merah.

KONTAK DENGAN TIM ALFA TERPUTUS.

Kirana mulai panik.

“Rajawali Dua, jawab!”

Tidak ada balasan.

“Tim drone, cari posisi mereka!”

“Drone tidak merespons, Komandan.”

Ruangan komunikasi mendadak dipenuhi suara yang saling bertabrakan.

Aku menyalakan kanal cadangan.

“Dimas, gunakan frekuensi analog lapis tiga.”

Dia menoleh cepat.

“Itu sistem lama.”

“Justru karena lama, jammer mereka tidak memprioritaskannya.”

Kami menghubungkan perangkat.

Suara berdesis terdengar beberapa detik sebelum akhirnya muncul suara Tim Alfa.

“Merah Daun?”

Aku terdiam.

Mereka masih mengenali suaraku.

“Ubah formasi. Mundur dua ratus meter, masuk lembah barat, lalu bergerak mengikuti sungai kering. Jangan gunakan drone.”

“Siap, Merah Daun.”

Dalam tujuh menit, Tim Alfa kembali terhubung ke jaringan utama.

Namun aku tidak menyangka Arga akan muncul di kendaraan komunikasi tidak lama kemudian.

Wajahnya dingin.

“Kamu mengambil alih komando tanpa izin.”

“Aku menyelamatkan satu tim dari kegagalan simulasi.”

“Kirana adalah komandan lapangan.”

Aku berdiri.

“Kalau begitu ajari dia menjadi komandan, bukan menjadi salinan diriku.”

Wajah Arga berubah.

Hanya sepersekian detik.

Tapi aku melihatnya.

Dia tahu aku sudah menemukan semuanya.

“Nadira.”

“Empat puluh tujuh kali.”

Dia diam.

“Kamu membuka arsip Merah Daun empat puluh tujuh kali dan memberikan sebagian data kepada Kirana.”

“Aku bisa menjelaskan.”

“Silakan.”

Arga menatap Dimas.

“Keluar.”

Aku menggeleng.

“Dia tetap di sini.”

Rahang Arga mengeras.

“Kirana akan mengikuti seleksi untuk posisi Wakil Komandan Garuda Petir tahun depan. Dia butuh fondasi.”

“Jadi kau memberinya fondasi milikku?”

“Aku hanya membantunya belajar.”

“Dengan rekaman suaraku? Catatan evaluasiku? Bahkan strategi yang belum pernah dipublikasikan?”

Arga mendekat.

“Kariermu sudah mapan, Nadira.”

Kalimat itu membuatku tertawa.

Ternyata alasan sebenarnya sesederhana itu.

Karena aku sudah kuat, maka aku boleh dikorbankan.

“Kirana belum punya apa-apa,” lanjutnya. “Kamu kakaknya.”

“Aku kakaknya, bukan tangga untuk dia injak.”

Arga menatapku lama.

“Kamu selalu terlalu keras.”

“Dan kau selalu meminta orang yang paling kuat untuk mengalah.”

Aku mengambil tabletku.

“Mulai malam ini, jangan akses arsipku lagi.”

“Nadira.”

“Aku sudah mengajukan mutasi.”

Wajahnya akhirnya kehilangan ketenangan.

“Kapan?”

“Kemarin.”

“Kenapa tidak bicara denganku?”

Aku hampir tidak percaya dia menanyakan itu.

“Karena selama delapan tahun, setiap kali aku bicara tentang masa depan kita, kau selalu berkata nanti.”

Aku melewatinya.

Namun tangannya menangkap pergelangan tanganku.

“Setelah latihan selesai, kita bicara.”

Aku melepaskan tangannya.

“Tidak ada lagi yang perlu dibicarakan.”

Malam berikutnya menjadi titik balik latihan.

Kirana, mungkin karena ingin membuktikan dirinya, memerintahkan serangan frontal terhadap pusat komunikasi lawan. Strategi itu terlihat bagus di atas peta, tetapi medan sebenarnya berbeda. Hujan deras membuat jalur utama berubah menjadi lumpur.

Dua kendaraan simulasi terjebak.

Tim serbu terisolasi.

Nilai latihan turun drastis.

Aku tidak ikut campur.

Sampai terdengar laporan bahwa salah satu kendaraan medis latihan mengalami kecelakaan sungguhan di lereng.

Seorang personel terluka.

Saat itulah semuanya berubah.

Aku langsung mengambil radio.

“Semua unit hentikan simulasi di sektor selatan. Aktifkan protokol medis nyata.”

Kirana memotong.

“Kak, aku masih memegang komando.”

“Ini bukan lagi simulasi.”

“Aku bisa menangani.”

“Kalau begitu beri perintah.”

Dia terdiam.

Tiga detik.

Lima detik.

Delapan detik.

Dalam keadaan darurat, delapan detik terasa seperti delapan menit.

Aku mengambil alih.

“Tim Bravo buka jalur evakuasi. Unit drone berhenti mengejar target dan cari rute aman. Medis Dua bergerak dari barat. Jangan gunakan jalan utama.”

Tidak ada yang membantah.

Dua puluh tiga menit kemudian, personel yang terluka berhasil dievakuasi.

Latihan dihentikan sementara.

Pagi berikutnya, evaluasi luar biasa diadakan.

Letnan Jenderal Surya hadir langsung.

Semua perwira utama duduk mengelilingi meja panjang.

Kirana terlihat pucat.

Arga duduk di sampingnya.

Aku berada di ujung meja.

Surya membuka rapat.

“Siapa yang memberikan perintah evakuasi?”

“Saya,” jawabku.

“Siapa komandan lapangan resmi?”

Kirana mengangkat tangan perlahan.

“Saya, Jenderal.”

Surya menatapnya.

“Kenapa bukan Anda yang memberi perintah?”

Kirana tidak menjawab.

Arga akhirnya berbicara.

“Kesalahan ada pada saya. Saya mungkin memberi Kirana tanggung jawab terlalu cepat.”

Aku memandangnya.

Untuk pertama kalinya dia mengaku.

Namun ternyata aku masih terlalu naif.

Setelah rapat selesai, aku menerima sebuah dokumen internal yang dikirim anonim.

Dokumen itu berisi rekomendasi restrukturisasi Garuda Petir.

Nama kandidat Wakil Komandan tercantum jelas.

Kirana Prameswari.

Di bawahnya terdapat tanda tangan elektronik Arga.

Tetapi halaman berikutnya jauh lebih mengejutkan.

Arga mengajukan pengunduran diri dari jalur promosi strategis Komando Operasi Gabungan dan merekomendasikan agar posisi yang selama dua tahun dipersiapkan untuknya dialihkan ke program kepemimpinan khusus.

Nama penerima rekomendasi itu juga Kirana.

Aku membaca dokumen tersebut berulang kali.

Jadi bukan hanya posisiku.

Arga bahkan menyerahkan masa depannya sendiri untuk Kirana.

Malam itu aku mendatanginya.

Dia sedang berdiri sendirian di depan pusat komando.

Aku melempar dokumen itu ke meja.

“Apa ini?”

Arga melihatnya dan langsung terdiam.

“Kau bahkan menyerahkan jalur promosimu untuk Kirana?”

“Nadira, dengarkan dulu.”

“Kenapa?”

Dia mengusap wajah.

“Karena aku berutang kepada keluargamu.”

Aku membeku.

“Apa?”

Arga menarik kursi.

“Delapan tahun lalu, sebelum Garuda Petir dibentuk, ayahmu pernah menyelamatkan karierku.”

Aku menatapnya.

“Ayahku?”

“Operasi pertama yang kupimpin hampir berakhir buruk. Ada kesalahan perhitungan dariku. Ayahmu yang waktu itu menjadi bagian tim evaluasi menanggung tanggung jawab administratif agar aku tidak dikeluarkan dari jalur komando.”

Aku tidak pernah tahu.

“Sebagai gantinya?”

“Tidak ada.”

“Jangan bohong.”

Arga menatapku.

“Ayahmu hanya meminta satu hal. Kalau suatu hari Kirana masuk militer, bantu dia.”

Aku tertawa pelan.

“Jadi selama ini kau bersamaku karena utang?”

“Tidak.”

“Lalu apa?”

“Aku mencintaimu.”

Aku menatap matanya.

Untuk pertama kalinya kalimat yang kutunggu bertahun-tahun terdengar begitu tidak berarti.

“Kalau kau mencintaiku, kenapa aku selalu menjadi orang terakhir yang tahu?”

Arga tidak bisa menjawab.

Keesokan harinya aku menerima kabar bahwa mutasiku disetujui.

Tiga hari setelah latihan berakhir, aku meninggalkan Garuda Petir.

Tidak ada upacara perpisahan.

Tidak ada foto.

Aku hanya mengemasi seragam, beberapa buku, dan emblem Merah Daun.

Arga menungguku di parkiran.

“Aku bisa membatalkan rekomendasi Kirana.”

Aku memasukkan koper ke mobil.

“Jangan.”

“Nadira.”

“Kau masih belum mengerti. Aku pergi bukan karena Kirana mendapat posisi.”

Aku menatapnya.

“Aku pergi karena kau merasa berhak menentukan apa yang boleh diambil dariku.”

Enam bulan kemudian, hidupku berubah.

Di Bandung, aku memimpin pengembangan sistem simulasi pertahanan baru. Untuk pertama kalinya dalam delapan tahun, keberhasilanku tidak dikaitkan dengan nama Serigala.

Suatu sore Dimas menelepon.

“Bu, ada berita dari Garuda Petir.”

“Apa?”

“Kirana mengundurkan diri dari seleksi Wakil Komandan.”

Aku terdiam.

“Kenapa?”

“Katanya dia ingin membangun rekam jejak sendiri.”

Malam itu Kirana datang ke apartemenku.

Kami duduk berhadapan cukup lama.

“Aku baru tahu soal arsipmu setelah latihan,” katanya.

Aku menatapnya.

“Arga bilang kau tahu.”

“Dia bilang Kakak sudah setuju membimbingku.”

Potongan terakhir akhirnya masuk ke tempatnya.

Arga tidak hanya berbohong kepadaku.

Dia juga berbohong kepada Kirana.

“Aku memang iri padamu sejak kecil,” lanjut Kirana. “Semua orang bilang Kak Nadira kuat. Aku selalu merasa harus mengejarmu.”

“Dan aku selalu merasa semua orang memilihmu.”

Kirana tertawa getir.

“Lucu, ya? Kita menghabiskan hidup dengan iri pada sesuatu yang ternyata tidak pernah dimiliki satu sama lain.”

Untuk pertama kalinya sejak kecil, kami berbicara bukan sebagai dua saudara yang sedang dibandingkan.

Hanya sebagai dua perempuan yang sama-sama lelah.

Setahun kemudian, sistem pertahanan yang kukembangkan memenangkan penghargaan inovasi nasional.

Saat acara selesai, seseorang menungguku di luar auditorium.

Arga.

Seragamnya masih sama, tetapi pangkat yang seharusnya sudah naik tidak pernah datang.

“Aku dengar sistemmu akan digunakan secara nasional.”

“Ya.”

Dia tersenyum.

“Selamat, Merah Daun.”

Aku menggeleng.

“Nama itu sudah kutinggalkan.”

Arga menatapku cukup lama.

“Aku akhirnya mengerti kesalahanku.”

Aku tidak mengatakan apa-apa.

“Aku mengira cinta berarti melindungi semua orang yang kita sayangi, meskipun harus membuat keputusan untuk mereka.”

“Bukan begitu caranya.”

“Aku tahu sekarang.”

Dia mengeluarkan sebuah amplop.

Aku tidak menerimanya.

“Apa itu?”

“Surat pengunduran diriku dari Garuda Petir.”

Aku terkejut.

“Aku akan mengajar di akademi.”

“Karena Kirana?”

Arga tersenyum kecil.

“Tidak. Untuk pertama kalinya, karena pilihanku sendiri.”

Dia meletakkan amplop itu di bangku dan berbalik pergi.

Aku memanggilnya.

“Arga.”

Dia berhenti.

“Delapan tahun lalu, kalau kau langsung memintaku menikah, mungkin aku akan mengatakan iya.”

Dia menoleh.

“Sekarang?”

Aku tersenyum.

“Sekarang aku sudah belajar bahwa menunggu seseorang memilih kita terlalu lama bisa membuat kita lupa memilih diri sendiri.”

Arga mengangguk.

Tidak mengejarku.

Tidak memohon.

Dan untuk pertama kalinya, aku menghargainya karena itu.

Ponselku bergetar.

Pesan dari Kirana masuk.

Kak, aku lolos seleksi komandan lapangan. Pakai strategiku sendiri. Jangan ketawa.

Aku tertawa.

Lalu sebuah pesan kedua muncul.

Oh iya, Jenderal Surya bilang nama sistem pertahanan baru harus segera didaftarkan. Kakak sudah menentukan namanya?

Aku menatap langit Bandung yang mulai gelap.

Delapan tahun lalu, aku dikenal sebagai Merah Daun karena selalu berada di sisi Serigala.

Sekarang aku tidak membutuhkan nama sandi siapa pun untuk menjelaskan siapa diriku.

Aku mengetik balasan.

Sudah.

Namanya Nadira.

Karena kali ini, aku tidak ingin meninggalkan namaku sendiri demi menjadi bagian dari nama orang lain.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang