Seminggu Sebelum Menikah, Nadira Menemukan Gaun Pengantinnya Ternyata Dibuat untuk Sahabatnya, dan Pengkhianatan Arga Akhirnya Terbongkar di Depan Matanya Sendiri

Foto itu berdiri di tengah ruang tamu seperti sebuah tamparan yang sengaja diperbesar dua meter.

Laras mengenakan gaun pengantinku.

Bukan sekadar mencoba gaun itu di butik seperti siang tadi. Rambutnya ditata dalam sanggul rendah, wajahnya dirias sempurna, dan di kepalanya terpasang veil panjang yang seharusnya kupakai saat berjalan menuju altar tujuh hari lagi.

Di sudut bawah foto, tulisan tangan Arga terlihat jelas.

“Karya paling sempurna, untuk perempuan paling sempurna.”

Tanganku gemetar.

Aku membalik kardus pengiriman dan menemukan kartu kecil dari studio percetakan.

“Pesanan Mas Arga. Sesuai permintaan, dikirim ke alamat rumah setelah sesi pemotretan selesai.”

Sesi pemotretan?

Aku segera menelepon nomor studio yang tertera.

“Maaf, Mbak,” kata perempuan di seberang sana. “Bukannya foto ini memang untuk kejutan pernikahan?”

“Pemotretannya kapan?”

Dia terdiam sebentar.

“Sekitar tiga minggu lalu.”

Tiga minggu lalu.

Saat itu aku sedang menjalani diet ketat karena Arga mengatakan pinggangku masih terlalu besar empat sentimeter.

Sementara aku menahan lapar, Laras diam-diam mengenakan gaun yang katanya dibuat khusus untukku.

Aku menutup telepon.

Beberapa menit kemudian, pintu rumah terbuka.

Arga masuk.

Wajahnya langsung berubah saat melihat foto itu.

“Kok sudah dikirim?”

Bukan penjelasan.

Bukan permintaan maaf.

Kalimat pertamanya justru mempertanyakan mengapa rahasianya terbongkar terlalu cepat.

Aku menatapnya.

“Jadi kamu memang tahu?”

Arga meletakkan kunci mobil dengan kasar.

“Itu cuma proyek portofolio.”

“Dengan gaun pengantinku?”

“Nadira, jangan mulai lagi.”

Aku tertawa kecil.

Aneh. Setelah menangis berbulan-bulan karena merasa tubuhku tidak cukup baik, malam itu aku justru tidak mampu mengeluarkan setetes air mata.

“Kenapa ada tulisan perempuan paling sempurna?”

“Itu konsep.”

“Konsep siapa?”

Arga tidak menjawab.

Aku mendekati foto tersebut.

“Kenapa Laras memakai veil-ku?”

Diam.

“Kenapa dia dirias seperti pengantin?”

Diam lagi.

“Kenapa gaun itu pas sempurna di tubuhnya?”

Arga akhirnya kehilangan kesabaran.

“Karena memang dari awal Laras yang jadi fitting model-nya!”

Aku membeku.

Dia sepertinya baru sadar telah mengatakan terlalu banyak.

“Dari awal?”

“Nadira…”

“Berarti tiga tahun lalu, saat kamu bilang akan membuat gaun khusus untukku, kamu sudah menggunakan ukuran Laras?”

Arga mengusap wajahnya.

“Aku desainer. Aku butuh tubuh dengan proporsi ideal untuk membangun desain.”

Proporsi ideal.

Dua kata itu terasa lebih menyakitkan daripada makian.

“Lalu aku apa?”

“Kamu calon istriku.”

“Bukan itu pertanyaanku.”

Arga terdiam.

Aku mengangguk perlahan.

“Aku mengerti.”

Aku masuk kamar dan mengambil koper.

Arga mengejarku.

“Mau ke mana?”

“Hotel.”

“Kita menikah minggu depan.”

“Belum tentu.”

Tangannya mencengkeram lenganku.

“Keluarga kita sudah menghabiskan hampir dua miliar untuk acara ini.”

Aku menatap tangannya sampai dia melepaskannya.

“Kalau uang lebih penting daripada perempuan yang akan kamu nikahi, seharusnya kamu menikahi rekening bank.”

Aku pergi malam itu.

Keesokan paginya, aku menemui dokter.

Setelah memeriksa hasil tes darahku, dokter memandangku serius.

“Diet seperti ini harus dihentikan.”

Aku menunduk.

“Pernikahan saya seminggu lagi.”

“Kalau diteruskan, yang datang ke pernikahan bisa jadi bukan pengantin perempuan, tapi ambulans.”

Untuk pertama kalinya dalam tiga bulan, aku makan sarapan lengkap.

Nasi, telur, sayur, dan segelas jus.

Aku menangis saat suapan pertama masuk ke mulut.

Bukan karena rasanya.

Aku baru sadar betapa jauh aku telah menyakiti diriku sendiri demi mendapatkan persetujuan seseorang yang bahkan tidak pernah benar-benar melihatku.

Siang itu aku membuka laptop.

Kontrak Auckland sudah dikirim.

Gajinya hampir dua kali lipat pekerjaanku di Jakarta. Proyeknya berlangsung dua tahun dan perusahaan menyediakan apartemen.

Aku menandatanganinya.

Keberangkatanku dijadwalkan satu hari setelah tanggal pernikahan.

Aku belum membatalkan pernikahan.

Belum.

Aku ingin memastikan satu hal terlebih dahulu.

Sore harinya, aku kembali ke butik saat Arga sedang menghadiri pertemuan klien.

Penjahit senior yang kemarin membawa gaun Laras terlihat terkejut melihatku.

Namanya Bu Santi.

“Boleh aku lihat pola pertama gaunku?”

Wajahnya langsung pucat.

“Mbak Nadira…”

“Bu, saya cuma ingin tahu kebenarannya.”

Dia menatap pintu cukup lama sebelum akhirnya mengajakku ke ruang pola.

Dari lemari arsip, dia mengeluarkan sebuah map cokelat.

Di bagian depan tertulis kode gaun pengantinku.

Di dalamnya ada lembar pengukuran.

Nama model referensi: Laras Maheswari.

Tanggal: dua tahun delapan bulan lalu.

Aku hampir tidak bisa bernapas.

Kemudian mataku menangkap tulisan lain.

Bride concept: L.M.

Inisial Laras Maheswari.

“Kenapa bukan namaku?”

Bu Santi menunduk.

“Karena awalnya gaun itu memang bukan dibuat untuk Mbak.”

Dunia seperti berhenti.

“Apa?”

Bu Santi terlihat ketakutan.

“Saya sudah lama bekerja dengan Mas Arga. Saya sebenarnya tidak mau ikut campur urusan pribadi.”

“Tolong lanjutkan.”

Dia menarik napas.

“Mas Arga membuat desain itu setelah Mbak Laras bilang suatu hari dia ingin menikah memakai gaun rancangan Mas Arga.”

Aku menatapnya tanpa berkedip.

“Waktu itu aku sudah bertunangan dengannya.”

“Iya.”

“Kenapa gaun itu kemudian menjadi gaunku?”

“Karena beberapa bulan lalu Mas Arga memutuskan memakai desain yang sama untuk pernikahan kalian.”

Aku merasa mual.

“Dia pernah membuat gaun lain untukku?”

Bu Santi mengangguk.

Kemudian dia membuka lemari berbeda dan mengeluarkan sebuah kotak besar.

Di dalamnya ada sketsa gaun sederhana dengan garis lembut, lengan tipis, dan detail bunga kecil di pinggang.

Di bagian bawah terdapat tulisan tangan Arga.

Untuk Nadira. Jangan mengubah tubuhnya. Gaunnya yang harus mengikuti dia.

Aku menutup mulut.

“Tahun pertama kalian bertunangan,” kata Bu Santi, “Mas Arga membuat ini.”

“Kenapa tidak pernah jadi?”

“Setelah Mbak Laras mulai sering menjadi model utama butik, desainnya berubah.”

Aku tidak bertanya lagi.

Jawabannya sudah cukup.

Namun sebelum pergi, Bu Santi menyerahkan sebuah flashdisk.

“Saya rasa Mbak perlu melihat ini.”

Malamnya di hotel, aku membuka flashdisk tersebut.

Isinya dokumentasi fitting selama bertahun-tahun.

Video ketiga membuat darahku membeku.

Arga sedang memasang kain di tubuh Laras.

Mereka tidak sadar kamera dokumentasi masih menyala.

Laras tertawa.

“Kalau Nadira tahu kamu lebih hafal ukuran badanku daripada ukuran dia, bagaimana?”

Arga menjawab santai.

“Dia tidak akan tahu.”

“Kalau tahu?”

“Paling ngambek. Nanti juga balik.”

Laras menatapnya.

“Kamu yakin mau menikah dengannya?”

Arga berhenti bekerja.

Lalu berkata,

“Nadira itu aman.”

“Aman bagaimana?”

“Keluarganya baik, dia stabil, nggak ribet. Cocok jadi istri.”

Laras tersenyum tipis.

“Kalau aku?”

Arga menatapnya lama.

“Kamu tahu jawabannya.”

Video berhenti.

Aku duduk di depan laptop sampai lewat tengah malam.

Ternyata ada penghinaan yang lebih menyakitkan daripada perselingkuhan.

Mengetahui seseorang memilihmu bukan karena mencintaimu, tetapi karena menganggapmu pilihan yang aman.

Pagi berikutnya Arga datang ke hotel.

Entah dari mana dia tahu tempatku menginap.

Dia mengetuk pintu berkali-kali.

“Nadira, buka.”

Aku membukanya.

Dia membawa bunga.

“Aku minta maaf.”

Aku hampir tertawa.

Tiga tahun bersamanya, dan baru kali itu aku mendengar kalimat tersebut keluar begitu mudah.

“Aku keterlaluan soal diet,” katanya. “Gaunnya akan diperbesar. Dua sentimeter, empat sentimeter, terserah.”

“Aku tidak mau gaunnya.”

“Oke. Kita buat baru.”

“Aku juga tidak mau.”

Wajahnya berubah.

“Kamu mau apa?”

Aku menatapnya.

“Apakah kamu mencintai Laras?”

Dia terdiam.

Itu sudah menjadi jawaban.

“Aku mencintaimu,” katanya kemudian.

“Bukan itu yang kutanya.”

“Nadira, hubungan orang dewasa tidak sesederhana itu.”

“Apakah kamu pernah tidur dengannya?”

Wajah Arga menegang.

Aku merasa jantungku jatuh.

“Berapa kali?”

“Itu sudah lama.”

Aku mundur satu langkah.

“Kapan?”

“Nadira…”

“Kapan?”

“Sekitar setahun lalu.”

Aku tertawa pelan.

Setahun lalu, aku sedang mengurus renovasi rumah yang akan kami tempati setelah menikah.

Aku memilih warna dinding.

Memesan lemari.

Membandingkan harga sofa.

Sementara calon suamiku tidur dengan sahabatku.

“Keluar.”

“Nadira, dengarkan dulu.”

“Keluar.”

“Itu kesalahan.”

“Kesalahan terjadi sekali, Arga. Setelah itu namanya keputusan.”

Dia menatapku lama sebelum akhirnya pergi.

Hari pernikahan tiba enam hari kemudian.

Aku tidak membatalkannya.

Setidaknya, tidak secara resmi.

Ballroom hotel di Jakarta Pusat sudah dipenuhi bunga putih. Hampir lima ratus tamu datang. Media fashion hadir karena pernikahan Arga dianggap sebagai salah satu acara sosial terbesar tahun itu.

Pukul sepuluh pagi, Arga berdiri di depan altar.

Namun aku belum datang.

Pukul sepuluh lewat lima belas, keluarga mulai panik.

Pukul sepuluh lewat tiga puluh, layar besar di belakang panggung tiba-tiba menyala.

Wajahku muncul.

Aku mengenakan setelan putih sederhana.

“Selamat pagi.”

Ruangan langsung sunyi.

“Aku minta maaf karena tidak hadir sebagai pengantin hari ini.”

Arga membeku.

“Tiga bulan terakhir, aku diminta menurunkan berat badan agar bisa masuk ke dalam gaun yang katanya dibuat khusus untukku.”

Di layar muncul foto pola gaun.

Nama Laras terlihat jelas.

“Belakangan aku mengetahui gaun itu dibuat menggunakan ukuran perempuan lain.”

Bisik-bisik mulai terdengar.

Laras yang duduk di barisan depan berdiri.

Kemudian video fitting diputar.

Suara Laras memenuhi ballroom.

“Kalau Nadira tahu kamu lebih hafal ukuran badanku daripada ukuran dia, bagaimana?”

Lalu suara Arga.

“Dia tidak akan tahu.”

Wajah Arga memucat.

Namun aku tidak memutar bagian pengakuan perselingkuhan.

Aku tidak membutuhkannya.

“Aku tidak menunjukkan ini untuk mempermalukan siapa pun,” kataku. “Aku menunjukkan ini karena selama berbulan-bulan aku dibuat percaya bahwa tubuhku adalah masalah. Padahal masalah sebenarnya adalah aku berusaha masuk ke dalam sesuatu yang sejak awal tidak pernah dibuat untukku.”

Beberapa orang mulai bertepuk tangan.

Aku melanjutkan.

“Bukan hanya gaunnya.”

“Hubungan ini juga.”

Layar menjadi hitam.

Di kamar hotelku, aku menutup laptop.

Koper sudah berada di samping pintu.

Ponselku dipenuhi ratusan panggilan.

Namun ada satu pesan yang membuatku berhenti.

Dari Laras.

“Aku perlu bertemu kamu. Ada sesuatu yang Arga belum pernah bilang.”

Aku hampir menghapusnya.

Kemudian foto yang dia kirim membuat tubuhku membeku.

Itu hasil USG.

Aku meneleponnya.

“Ini apa?”

Suara Laras terdengar gemetar.

“Aku hamil.”

Aku menutup mata.

“Anaknya Arga?”

“Bukan.”

Aku terdiam.

Laras menangis.

“Aku memang pernah tidur dengannya. Aku salah. Tapi hubungan kami sudah selesai berbulan-bulan lalu. Aku baru tahu minggu kemarin kalau ternyata dia masih menyimpan foto-fotoku dan membuat gaun itu berdasarkan tubuhku.”

“Lalu bayi siapa?”

“Suamiku.”

Aku membeku.

“Suami?”

“Aku menikah diam-diam tiga bulan lalu di Bali.”

Untuk pertama kalinya semuanya terasa semakin aneh.

“Arga tahu?”

“Tidak.”

Laras menarik napas panjang.

“Dia pikir aku masih menunggunya.”

Tiba-tiba aku memahami sesuatu.

Gaun itu bukan hadiah cinta untuk Laras.

Itu monumen obsesi seorang pria yang tidak mampu menerima bahwa perempuan yang diinginkannya telah memilih hidup lain.

Dan aku selama ini hanya dipaksa mengenakan bayangan perempuan tersebut.

Tiga jam kemudian aku berada di Bandara Soekarno-Hatta.

Arga datang tepat sebelum aku masuk ke pemeriksaan imigrasi.

“Nadira!”

Aku berhenti.

Dia berlari mendekat dengan wajah berantakan.

“Kita masih bisa memperbaiki semuanya.”

Aku menatap pria yang pernah kubayangkan akan menjadi ayah dari anak-anakku.

Anehnya, aku tidak membencinya lagi.

Aku hanya tidak menginginkannya.

“Kamu benar tentang satu hal,” kataku.

“Apa?”

“Gaun itu memang tidak boleh diubah satu sentimeter pun.”

Arga menatapku bingung.

Aku tersenyum.

“Karena bukan gaunnya yang salah.”

Aku mengangkat koperku.

“Aku saja yang selama ini berdiri di tempat yang salah.”

Aku berbalik dan berjalan menuju pemeriksaan keberangkatan.

Delapan bulan kemudian, sebuah majalah desain interior di Selandia Baru memuat proyek hotel pertamaku di sampulnya.

Di foto tim proyek, aku berdiri di tengah dengan tubuh yang tidak lagi kutimbang setiap pagi.

Aku makan ketika lapar.

Tidur tanpa takut menerima pesan tentang ukuran pinggang.

Dan untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, aku merasa cukup.

Beberapa minggu kemudian, sebuah paket tiba dari Jakarta.

Pengirimnya Bu Santi.

Di dalamnya ada sketsa gaun pertama yang pernah dibuat Arga untukku.

Di bawah tulisan lama, Untuk Nadira. Jangan mengubah tubuhnya. Gaunnya yang harus mengikuti dia, Bu Santi menambahkan satu kalimat dengan tinta biru.

Jangan pernah lagi mengecilkan dirimu agar muat dalam kehidupan seseorang.

Aku memandangi kalimat itu cukup lama.

Lalu memasukkan sketsa tersebut ke dalam laci.

Bukan karena aku ingin melupakan semuanya.

Justru karena akhirnya aku mengerti.

Kadang-kadang, sesuatu yang tidak muat bukan berarti kita terlalu besar.

Kadang-kadang tempat itu memang tidak pernah dibuat untuk kita.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang