Aku baru tahu Raka melihat ciuman itu tiga tahun kemudian, tepat pada malam ketika pertunangan kami seharusnya menjadi perayaan paling membahagiakan bagi dua keluarga.
Dua minggu berlalu begitu cepat.
Ballroom hotel di Jakarta Selatan dipenuhi bunga putih dan lampu keemasan. Lebih dari dua ratus tamu hadir. Ayah dan ibuku tersenyum sejak sore, sementara keluarga Santoso sibuk menyambut rekan bisnis dan kerabat.
Aku berdiri di depan cermin mengenakan gaun berwarna champagne ketika Raka masuk tanpa mengetuk.
“Kamu cantik.”
“Terima kasih.”
“Tapi wajahmu seperti orang yang mau menghadiri pemakaman.”
Aku menatap pantulan dirinya di cermin.
“Kamu sendiri?”
“Lebih buruk. Dion menelepon tadi.”
Tanganku berhenti.

“Apa katanya?”
“Dia mau mengakhiri semuanya.”
Aku langsung berbalik.
“Kenapa?”
Raka tersenyum hambar.
“Karena malam ini aku memasangkan cincin pada perempuan lain di depan ratusan orang, sementara dia harus berpura-pura tidak mengenalku.”
Untuk pertama kalinya aku benar-benar melihat kelelahan di wajah sahabatku.
Kami berdua ternyata sama.
Bertahun-tahun bersembunyi di balik keputusan yang dianggap paling aman sampai lupa bertanya apakah hidup seperti itu benar-benar layak dipertahankan.
“Batalkan saja,” kataku.
Raka terdiam.
Aku menggenggam tangannya.
“Kalau kamu ingin berhenti, kita berhenti malam ini.”
“Lalu kamu?”
“Aku akan baik-baik saja.”
Raka menatapku lama.
“Maya, ada sesuatu yang seharusnya kukatakan sejak tiga tahun lalu.”
Sebelum ia sempat melanjutkan, ibuku masuk dan memberi tahu bahwa acara akan segera dimulai.
Raka hanya berbisik, “Setelah acara. Kita harus bicara.”
Aku mengangguk.
Namun percakapan itu tidak pernah sempat terjadi sesuai rencana.
Ketika turun ke ballroom, mataku secara refleks mencari satu orang.
Adrian.
Ia berdiri bersama beberapa anggota keluarga Santoso di sisi ruangan, mengenakan setelan hitam. Wajahnya tampak tenang seperti biasa.
Hanya tasbih di pergelangan tangannya yang sudah tidak ada.
Sejak malam butir tasbih itu retak, Adrian menghindariku.
Dua minggu.
Tidak ada telepon.
Tidak ada pesan.
Bahkan saat kami berada dalam satu rumah, ia akan pergi begitu aku memasuki ruangan.
Seharusnya aku lega.
Justru rasanya seperti kehilangan sesuatu untuk kedua kalinya.
Acara dimulai.
Sambutan keluarga diberikan. Foto masa kecilku dan Raka ditampilkan di layar besar. Para tamu tertawa melihat foto kami ketika berusia tujuh tahun dengan seragam sekolah.
Kemudian pembawa acara mempersilakan kami berdiri untuk prosesi pertukaran cincin.
Raka berdiri di hadapanku.
Kotak cincin dibuka.
Tangannya gemetar.
“Maya,” bisiknya.
Aku menatapnya.
“Kalau aku berhenti sekarang, kamu akan membenciku?”
Aku tersenyum kecil.
“Tidak pernah.”
Ia mengembuskan napas panjang.
Namun sebelum Raka sempat melakukan apa pun, terdengar suara benda jatuh dari arah meja keluarga.
Adrian berdiri.
Tasbih kayu yang selama dua minggu tidak pernah kulihat kini berada dalam genggamannya.
Benangnya putus.
Butiran kayu berhamburan ke lantai ballroom.
Suasana langsung hening.
Adrian menatapku.
Untuk pertama kalinya, tidak ada ketenangan di wajah pria itu.
Ia tampak seperti seseorang yang sudah terlalu lama menahan sesuatu sampai akhirnya tidak sanggup lagi.
“Aku minta maaf.”
Ayah Raka mengerutkan kening.
“Adrian, ada apa?”
Adrian tidak menjawab kakaknya.
Ia berjalan lurus ke arahku.
Setiap langkahnya membuat jantungku berdetak semakin keras.
Kemudian ia berhenti beberapa meter di depan kami.
“Raka.”
Raka menatap pamannya.
“Aku minta maaf.”
Raka justru tertawa kecil.
“Akhirnya.”
Semua orang menoleh kepadanya.
Adrian membeku.
“Apa maksudmu?”
“Aku sudah menunggu Om mengatakan sesuatu sejak tiga tahun lalu.”
Darahku terasa turun ke kaki.
Raka menatapku.
“Maya, malam sebelum kamu berangkat ke Melbourne, aku melihat kalian.”
Aku tidak mampu berkata apa-apa.
“Aku melihat Om Adrian mencium keningmu di taman belakang. Aku juga mendengar kalian bertengkar.”
Adrian menutup mata sesaat.
Ayah Raka bangkit dari kursinya.
“Kalian sedang membicarakan apa?”
Raka menarik napas.
“Pertunangan ini tidak bisa dilanjutkan.”
Suara gaduh langsung memenuhi ballroom.
Ayah Raka berjalan mendekat dengan wajah memerah.
“Raka!”
Namun Raka tidak mundur.
“Papa selalu bilang aku harus belajar bertanggung jawab atas hidupku sendiri. Jadi malam ini aku akan melakukannya.”
Ia menoleh kepadaku.
“Aku tidak mencintai Maya sebagai pasangan. Maya juga tidak mencintaiku.”
Ibuku menutup mulut karena terkejut.
Aku menggenggam gaunku erat.
Raka melanjutkan, “Kami melakukan ini karena sama-sama takut mengecewakan keluarga.”
“Cukup!” bentak ayahnya.
Untuk pertama kalinya, Raka tidak menunduk.
“Belum.”
Aku tahu apa yang akan dikatakannya.
Aku langsung memegang lengannya.
“Kamu tidak harus melakukan ini sekarang.”
Raka menatapku.
“Aku sudah bersembunyi lima tahun, Maya.”
Matanya mulai berkaca-kaca.
“Aku capek.”
Kemudian ia memandang ayahnya.
“Aku sudah memiliki seseorang yang kucintai.”
Ruangan kembali sunyi.
“Namanya Dion.”
Ayahnya menatap Raka seolah tidak memahami.
“Dion?”
“Dia laki-laki.”
Beberapa tamu mulai berbisik.
Wajah ayah Raka berubah pucat.
Aku berdiri di samping Raka ketika ia mengatakan semuanya. Tentang Dion. Tentang hubungan mereka. Tentang ketakutannya kehilangan keluarga dan pekerjaannya.
Ayahnya tidak langsung menjawab.
Ia hanya melepas kacamata, kemudian berjalan keluar dari ballroom.
Raka menundukkan kepala.
Aku memeluknya.
“Pergi temui Dion.”
Ia menatapku.
“Sekarang?”
“Sekarang.”
“Tapi kamu?”
Aku tersenyum.
“Untuk pertama kalinya dalam hidup kita, berhenti mengkhawatirkan apa yang akan dipikirkan orang.”
Raka tertawa di tengah air matanya.
Sebelum pergi, ia mendekati Adrian.
“Om.”
Adrian menatapnya.
“Jangan ulangi kebodohan yang sama denganku.”
Kemudian Raka pergi.
Para tamu perlahan meninggalkan ballroom. Kedua keluarga sibuk menghadapi kekacauan yang terjadi.
Aku sendiri berjalan menuju balkon hotel.
Jakarta malam itu penuh cahaya.
Aku mendengar langkah kaki beberapa menit kemudian.
Tidak perlu menoleh untuk mengetahui siapa yang datang.
“Aku sudah bilang jangan menemuiku lagi,” kata Adrian.
Aku tertawa kecil.
“Ini balkon hotel. Bukan rumah Om.”
Ia berdiri di sampingku.
Beberapa detik kami hanya diam.
“Apa yang sebenarnya terjadi tiga belas tahun lalu?” tanyaku akhirnya.
Adrian menegang.
Aku menoleh kepadanya.
“Raka mengatakan Om sudah menunggu terlalu lama. Malam ini Om menghancurkan tasbih itu seperti orang yang kehilangan sesuatu. Jadi katakan yang sebenarnya.”
Adrian menghela napas.
“Tiga belas tahun lalu, kamu baru berusia tujuh belas tahun.”
Aku mengangguk.
“Aku dua puluh tiga.”
Aku terdiam.
“Aku baru kembali dari kuliah ketika pertama kali menyadari perasaanku berubah.”
Dadaku terasa sesak.
“Karena itu Om selalu menghindariku?”
“Karena kamu masih terlalu muda. Aku orang dewasa. Kamu putri sahabat keluarga kami. Apa pun yang kurasakan saat itu adalah tanggung jawabku, bukan beban yang boleh kutaruh di pundakmu.”
Aku tidak tahu harus menjawab apa.
Adrian melanjutkan dengan suara rendah.
“Aku pikir perasaan itu akan hilang.”
“Ternyata?”
Ia tersenyum pahit.
“Tidak.”
“Selama tiga belas tahun?”
“Selama tiga belas tahun.”
Aku menahan napas.
“Kenapa tidak pernah menikah?”
“Karena tidak adil menikahi seseorang ketika hatiku berada di tempat lain.”
“Kenapa tiga tahun lalu Om menyuruhku pergi?”
Adrian terdiam cukup lama.
“Malam itu kamu bilang kamu menyukaiku.”
Aku masih mengingatnya.
Aku berusia dua puluh tujuh tahun saat itu. Sudah cukup dewasa untuk mengetahui perasaanku sendiri.
Aku mengatakannya.
Adrian justru mencium keningku dan menyuruhku pergi ke Melbourne.
“Aku pikir Om menolakku.”
“Aku sedang berusaha memberimu kesempatan untuk hidup tanpa dipengaruhi perasaanku.”
“Tiga tahun, Adrian.”
Untuk pertama kalinya aku memanggil namanya tanpa kata Om.
Matanya langsung menatapku.
“Aku pergi tiga tahun dan tetap tidak bisa melupakanmu.”
Adrian mengepalkan tangan.
“Aku juga tidak.”
“Lalu kenapa ketika aku pulang, kamu tetap diam?”
“Karena kamu akan bertunangan dengan keponakanku.”
Aku hampir tertawa karena frustrasi.
“Pertunangan palsu.”
“Aku tidak tahu.”
“Tapi sekarang tahu.”
Adrian tidak menjawab.
Aku menatapnya.
“Sekarang apa alasanmu?”
Ia benar-benar kehilangan kata-kata.
Kemudian Adrian mengeluarkan sesuatu dari saku jasnya.
Seutas tasbih.
Benangnya sudah putus dan beberapa butir kayunya retak.
“Aku membeli ini tiga belas tahun lalu,” katanya.
Aku menyentuh salah satu butirnya.
“Kenapa?”
“Hari ketika aku sadar aku mencintaimu, aku pergi ke vihara karena merasa bersalah.”
Aku menatapnya tak percaya.
Adrian tersenyum tipis.
“Aku meminta satu hal. Bukan supaya bisa memilikimu. Aku hanya meminta supaya diberi kekuatan untuk tidak mengganggu hidupmu sampai kamu cukup dewasa untuk menentukan hidupmu sendiri.”
Air mataku akhirnya jatuh.
“Bodoh.”
“Aku tahu.”
“Benar-benar bodoh.”
“Aku juga tahu.”
“Dan sekarang tasbihnya putus.”
Adrian memandang butiran kayu di tangannya.
“Mungkin karena aku sudah tidak sanggup meminta kesabaran lagi.”
Aku tertawa sambil menangis.
Namun sebelum salah satu dari kami mengatakan sesuatu, pintu balkon terbuka.
Raka berdiri di sana.
Aku buru-buru menghapus air mata.
“Kamu belum pergi?”
“Aku mau.”
Ia memandang Adrian, lalu aku.
“Tapi ada satu hal lagi yang harus kalian tahu.”
Raka mengeluarkan sebuah amplop tua dari saku jasnya.
Ia menyerahkannya kepadaku.
“Aku menemukan ini tiga tahun lalu setelah melihat kalian di taman.”
Aku membuka amplop itu.
Di dalamnya terdapat surat dengan tulisan tangan Adrian.
Tanggalnya sebelas tahun lalu.
Untuk Maya.
Tanganku gemetar ketika membaca beberapa baris pertama.
Surat itu bukan pengakuan cinta.
Justru sebuah surat perpisahan.
Adrian menulis bahwa suatu hari, ketika aku dewasa, mungkin aku akan jatuh cinta kepada seseorang. Jika hari itu tiba, ia berharap dirinya cukup kuat untuk tersenyum dan memberikan restu.
Aku mengangkat wajah.
“Kenapa surat ini ada pada Raka?”
Adrian tampak sama terkejutnya.
Raka menjawab, “Karena Nenek yang menyimpannya.”
Kami berdua terdiam.
“Nenek tahu?” tanyaku.
Raka mengangguk.
“Tahu sejak lama.”
Adrian memucat.
“Nenek tidak pernah mengatakan apa pun.”
“Dia sengaja.”
Raka kemudian mengeluarkan secarik kertas kecil dari amplop.
“Tiga tahun lalu sebelum meninggal, Nenek memberikan ini kepadaku.”
Aku membaca tulisan tangan yang berbeda.
Jika suatu hari Adrian masih memilih kesendirian dan Maya kembali mencarinya, jangan biarkan dua orang keras kepala itu membuang hidup mereka hanya demi membuat keluarga bahagia.
Air mataku jatuh lagi.
Adrian tertawa pelan untuk pertama kalinya malam itu.
Raka menggeleng.
“Nenek ternyata jauh lebih progresif daripada kita semua.”
Ia lalu menunjuk kami bergantian.
“Sekarang urus masalah kalian sendiri. Aku punya masalahku sendiri.”
“Kamu mau ke mana?” tanyaku.
“Bandung.”
“Sekarang?”
“Sekarang.”
Ia berbalik, tetapi kemudian berhenti.
“Dan Maya?”
“Ya?”
Raka tersenyum.
“Terima kasih sudah menjadi tunangan palsu terbaik yang pernah kumiliki.”
Aku melempar saputangan ke arahnya.
Ia tertawa lalu pergi.
Setelah pintu balkon tertutup, aku dan Adrian kembali sendirian.
Adrian memandang surat lama itu.
“Tiga belas tahun.”
Aku menggenggam tangannya.
“Kita sudah membuang cukup banyak waktu.”
Ia menatap tangan kami.
“Maya, aku tidak ingin malam ini membuatmu mengambil keputusan karena emosi.”
Aku mengangguk.
“Baik.”
Wajahnya terlihat sedikit kecewa.
Aku melanjutkan, “Jadi jangan melamarku malam ini.”
Adrian terdiam.
“Besok ajak aku makan.”
“Makan?”
“Seperti orang normal. Kita mulai dari awal.”
Senyum kecil muncul di wajahnya.
“Lalu?”
“Kalau setelah beberapa bulan ternyata kita saling menyebalkan, kita berhenti.”
“Dan kalau tidak?”
Aku mengambil satu butir tasbih yang retak dari telapak tangannya lalu menggenggamnya.
“Kalau tidak, kali ini jangan suruh aku pergi lagi.”
Adrian menatapku lama.
“Tidak akan.”
Enam bulan kemudian, Raka tidak kehilangan keluarganya seperti yang ia takutkan.
Ayahnya memang membutuhkan waktu lama untuk menerima kenyataan. Hubungan mereka sempat memburuk, tetapi perlahan mereka mulai berbicara lagi. Dion tidak langsung kembali kepadanya. Raka harus meminta maaf dan membangun kembali kepercayaan yang selama bertahun-tahun ia korbankan demi ketakutannya sendiri.
Sedangkan aku dan Adrian benar-benar memulai dari awal.
Tidak ada janji besar.
Tidak ada hubungan rahasia.
Hanya makan malam, pertengkaran kecil, percakapan panjang, dan proses mengenal dua manusia yang selama bertahun-tahun hanya mengenal bayangan satu sama lain.
Setahun kemudian, Adrian membawaku ke vihara yang pernah ia datangi tiga belas tahun sebelumnya.
Di halaman yang sunyi, ia mengeluarkan sebuah kotak kecil.
Namun sebelum membukanya, ia memberikan sesuatu kepadaku.
Tasbih lama itu.
Sudah diperbaiki.
Satu butir yang pernah retak tetap dibiarkan memiliki garis patahan kecil.
“Kenapa tidak diganti?” tanyaku.
Adrian tersenyum.
“Karena sesuatu yang pernah retak tidak harus dibuang untuk menjadi utuh kembali.”
Kemudian ia berlutut.
Aku tertawa sambil menangis.
Saat itu aku akhirnya mengerti.
Tiga belas tahun bukanlah kisah tentang seorang pria yang menungguku.
Bukan pula tentang seorang perempuan yang gagal melupakan seseorang.
Itu adalah kisah tentang dua orang yang terlalu lama mengira cinta berarti mengorbankan kebahagiaan sendiri demi orang lain.
Padahal terkadang, keberanian terbesar dalam mencintai bukanlah menunggu.
Melainkan berhenti bersembunyi dan membiarkan orang yang kita cintai memilih dengan bebas.
Dan kali ini, ketika Adrian mengulurkan tangannya kepadaku, aku tidak pergi ke mana-mana.
