Saat Keluarganya Memilih Sang Adik, Alya Diam-Diam Menerima Misi Laut Dalam Selama Sepuluh Tahun dan Menghilang dari Kehidupan Mereka

Tiga hari sebelum keberangkatan, Alya menemukan cincin pernikahannya di dalam kotak obat Nadira.

Bukan karena ia sengaja meletakkannya di sana.

Sore itu, Alya baru pulang dari pemeriksaan kesehatan terakhir ketika ia mendapati Nadira sedang duduk di sofa bersama Raka. Keduanya tertawa melihat sesuatu di layar tablet. Di atas meja terdapat dua cangkir kopi dan sebungkus makanan yang dulu sering dibelikan Raka untuk Alya.

“Kak, kamu pulang?” Nadira menyapa ringan.

Alya mengangguk.

Raka bahkan tidak mengangkat kepala.

“Aku sudah pesan makan. Kalau lapar, ambil sendiri di dapur.”

Alya tidak menjawab.

Ia masuk ke kamar mandi dan hendak mencuci tangan ketika cincin di jarinya terlepas karena sabun. Setelah mengeringkan tangan, ia meletakkannya sebentar di atas meja wastafel.

Saat kembali beberapa menit kemudian, cincin itu sudah tidak ada.

Alya mencarinya sampai ke ruang tamu.

“Nadira, kamu lihat cincinku?”

Nadira terlihat berpikir.

“Oh, tadi aku lihat ada cincin di kamar mandi. Takut jatuh ke saluran air, jadi aku simpan.”

“Di mana?”

Nadira menunjuk kotak obatnya.

Alya membuka kotak itu.

Cincin pernikahannya berada di antara obat jantung, vitamin, dan kartu akses rumah sakit Nadira.

Entah mengapa pemandangan sederhana itu membuat Alya tersenyum tipis.

Bahkan cincin pernikahannya kini seperti benda asing yang harus menumpang di tempat milik adiknya.

Ia mengambil cincin itu, tetapi tidak memasangnya kembali.

Malam tersebut, Alya memasukkannya ke dalam sebuah amplop.

Di dalam amplop yang sama terdapat surat singkat untuk Raka.

Bukan surat perpisahan panjang.

Hanya beberapa kalimat.

Aku sudah terlalu lama menjadi orang yang selalu dianggap akan tetap ada karena aku sehat, kuat, dan bisa mengerti.

Kali ini aku memilih hidupku sendiri.

Jangan mencariku.

Keesokan paginya, Profesor Bima menelepon melalui saluran resmi.

“Jadwal dimajukan.”

Alya terdiam.

“Berapa lama?”

“Empat puluh delapan jam. Ada perubahan teknis pada keberangkatan tim. Kamu harus masuk fasilitas karantina besok malam.”

Alya memandang kalender.

Artinya ia tidak punya tiga hari lagi.

Ia hanya punya satu malam.

Anehnya, ia tidak merasa takut.

Justru malam terakhir itulah yang akhirnya menghapus keraguan sekecil apa pun di dalam dirinya.

Bu Ratna datang membawa beberapa tas pakaian Nadira.

“Alya, pindahkan barang-barangmu dari lemari kamar utama sedikit, ya. Nadira perlu ruang tambahan. Obat-obatnya banyak.”

Alya menatap ibunya.

“Kenapa harus di kamar utama?”

“AC kamar tamu kurang bagus. Nadira gampang sesak.”

“Lalu aku tidur di mana?”

Bu Ratna mengerutkan kening seolah pertanyaan itu aneh.

“Di kamar kerja juga bisa, kan?”

Alya hampir tertawa.

Kamar kerjanya sudah menjadi kamar Nadira.

Namun ia tidak mengatakan apa-apa.

Raka pulang hampir pukul sepuluh malam. Ia terlihat kelelahan dan langsung memeriksa tekanan darah Nadira.

Alya berdiri di pintu ruang tamu sambil memandang mereka.

“Raka.”

“Hm?”

“Kalau suatu hari aku pergi lama, apa kamu akan mencariku?”

Raka akhirnya menoleh.

“Pergi ke mana?”

“Entahlah. Tempat yang jauh.”

Raka menghela napas.

“Alya, aku capek. Jangan mulai drama lagi.”

“Aku cuma bertanya.”

“Kamu mau pergi ke mana memangnya? Orang tuamu di sini. Pekerjaanmu di Jakarta. Rumahmu juga di sini.”

Rumahmu.

Alya memandang sekeliling.

Tidak ada satu pun sudut rumah itu yang masih terasa miliknya.

Raka kembali menunduk melihat alat pengukur tekanan darah.

“Lagipula, kamu selalu bisa menjaga diri sendiri.”

Kalimat itu menjadi jawaban terakhir yang Alya butuhkan.

Pukul empat pagi, ketika seluruh rumah masih tertidur, Alya bangun.

Ia hanya membawa satu koper kecil.

Tidak ada foto pernikahan.

Tidak ada hadiah ulang tahun.

Tidak ada benda sentimental.

Barang-barang pribadi yang tidak bisa dibawa sudah ia titipkan kepada Profesor Bima atau disumbangkan.

Sebelum pergi, Alya berdiri cukup lama di depan pintu kamar.

Raka tidur membelakanginya.

Di sofa kecil dekat tempat tidur, Nadira tertidur karena malam sebelumnya merasa berdebar dan Raka memintanya tidur di kamar mereka agar mudah dipantau.

Alya tidak marah.

Ia hanya merasa seperti sedang melihat kehidupan orang lain.

Ia meletakkan amplop berisi cincin di meja.

Lalu pergi.

Tanpa suara.

Tanpa tangisan.

Tanpa menoleh lagi.

Masalah baru muncul tujuh jam kemudian.

Bukan karena mereka menyadari Alya hilang.

Melainkan karena Nadira harus kontrol ke rumah sakit dan beberapa dokumennya tertinggal.

“Alya!”

Bu Ratna berteriak dari ruang tengah.

Tidak ada jawaban.

Raka menelepon.

Ponsel Alya sudah tidak aktif.

“Pasti ngambek lagi,” katanya kesal.

Mereka pergi tanpa mencarinya lebih jauh.

Hari pertama berlalu.

Hari kedua, Bu Ratna mulai menelepon kantor Alya.

Jawaban yang diterimanya membuatnya terdiam.

“Bu Alya sudah mengundurkan diri hampir sebulan lalu.”

“Apa?”

“Semua tanggung jawab beliau sudah diserahterimakan.”

Bu Ratna langsung menelepon Raka.

Untuk pertama kalinya, Raka merasakan sesuatu yang tidak nyaman di dadanya.

Ia pulang lebih cepat dan membuka lemari Alya.

Kosong.

Laci meja kosong.

Buku-buku pribadi hilang.

Paspor tidak ada.

Dokumen pendidikan tidak ada.

Seolah Alya sudah merencanakan kepergiannya dengan sangat rapi.

Barulah Raka melihat amplop di meja.

Tangannya gemetar ketika cincin pernikahan mereka jatuh ke telapak tangannya.

Ia membaca surat Alya dua kali.

Kemudian tiga kali.

Wajahnya berubah pucat.

Nadira berdiri di belakangnya.

“Kak Alya pergi?”

Raka mengambil ponsel dan mulai menelepon semua orang yang mungkin mengetahui keberadaan istrinya.

Tidak ada hasil.

Ketika ia menelepon Profesor Bima, laki-laki itu hanya berkata tenang, “Alya sudah membuat pilihannya.”

“Dia di mana?”

“Maaf. Saya tidak berwenang memberi tahu.”

“Saya suaminya!”

“Justru itu yang membuat saya heran.”

Raka terdiam.

Profesor Bima melanjutkan, “Selama tiga bulan terakhir, Alya menjalani pemeriksaan, pelatihan, dan proses administrasi yang sangat berat. Tidak sekali pun saya melihat ada anggota keluarganya yang bertanya mengapa dia sering pulang malam atau ke mana dia pergi.”

Raka kehilangan kata-kata.

“Saya tidak tahu.”

“Saya tahu,” jawab Profesor Bima. “Itulah masalahnya.”

Sambungan terputus.

Hari-hari berikutnya berubah menjadi kekacauan.

Bu Ratna mendatangi kantor lama Alya.

Pak Hadi menghubungi kerabat.

Raka menggunakan koneksinya di rumah sakit untuk mencari informasi, tetapi tidak menemukan apa pun.

Jejak administratif Alya seperti berhenti pada satu tanggal.

Nadira mulai merasa bersalah.

“Mungkin Kak Alya pergi karena aku.”

Bu Ratna langsung memeluknya.

“Jangan bicara begitu. Kakakmu memang keras kepala.”

Raka yang mendengar kalimat itu mendadak marah.

“Cukup, Ma.”

Semua orang menatapnya.

Untuk pertama kalinya, Raka membela Alya ketika Alya sudah tidak ada.

“Dia bukan keras kepala.”

Bu Ratna terdiam.

Raka masuk ke kamar kerja lama Alya.

Di gudang, ia menemukan kardus berisi penelitian istrinya.

Ia membuka satu per satu.

Catatan ilmiah.

Foto ekspedisi.

Sertifikat.

Publikasi internasional.

Di dasar kardus terdapat kotak spesimen yang pecah.

Barulah Raka memahami bahwa benda yang dulu ia anggap tidak penting merupakan bagian dari penelitian yang membuat nama Alya dikenal di kalangan ilmuwan kelautan.

Ia duduk di lantai gudang sampai tengah malam.

Untuk pertama kalinya, ia mencoba mengingat kapan terakhir kali bertanya tentang pekerjaan istrinya.

Ia tidak mampu mengingatnya.

Sebulan kemudian, Nadira mengalami serangan jantung serius.

Raka sendiri yang memimpin koordinasi penanganannya.

Operasi berjalan baik.

Namun ketika Nadira sadar, pertanyaan pertamanya bukan tentang kondisinya.

“Kak Alya sudah ketemu?”

Raka menggeleng.

Air mata Nadira mengalir.

“Aku sebenarnya tahu Kak Alya nggak suka aku tinggal di rumah kalian.”

Raka membeku.

“Apa?”

“Aku tahu.”

Nadira menangis.

“Tapi Mama bilang Kak Alya selalu mengalah. Aku pikir… kalau dia benar-benar keberatan, dia pasti bicara.”

Raka menundukkan kepala.

Itulah kesalahan mereka.

Mereka selalu menunggu Alya berteriak.

Karena Alya diam, mereka mengira ia tidak terluka.

Karena Alya mampu bertahan, mereka mengira ia tidak membutuhkan pertolongan.

Karena Alya selalu mengalah, mereka menganggap semua pengorbanannya tidak memiliki batas.

Tahun pertama berlalu.

Kemudian tahun kedua.

Tidak ada kabar.

Raka tidak menikah lagi.

Ia pindah dari rumah itu dan menyimpan cincin Alya di dompetnya.

Bu Ratna mulai berubah. Setiap ulang tahun Alya, ia memasak makanan kesukaan putrinya meskipun tidak ada yang datang memakannya.

Pak Hadi semakin pendiam.

Nadira berhasil menyelesaikan pendidikannya dan kondisi jantungnya stabil.

Lima tahun setelah Alya pergi, sebuah berita muncul di televisi nasional.

Indonesia berhasil mengembangkan sistem pendukung kehidupan untuk fasilitas riset laut ekstrem.

Dalam tayangan dokumenter singkat terlihat sekelompok ilmuwan memakai seragam penelitian.

Wajah mereka hanya muncul beberapa detik.

Namun Raka langsung berdiri.

“Alya.”

Bu Ratna menjatuhkan gelas.

Di layar, Alya terlihat lebih kurus. Rambutnya lebih pendek. Tatapannya berbeda.

Ia sedang tersenyum sambil menjelaskan sesuatu kepada seorang peneliti lain.

Hanya empat detik.

Lalu gambar berganti.

Bu Ratna menangis histeris.

“Dia hidup.”

Untuk pertama kalinya setelah lima tahun, mereka tahu Alya masih hidup.

Namun mereka tetap tidak bisa menghubunginya.

Sepuluh tahun berlalu.

Pada suatu pagi di bulan Agustus, Profesor Bima yang rambutnya kini sudah memutih datang ke rumah Bu Ratna.

Semua orang berkumpul.

Raka datang paling akhir.

Tangannya gemetar.

Hari itu adalah tanggal berakhirnya penugasan Alya.

“Dia pulang hari ini?” tanya Bu Ratna.

Profesor Bima tidak langsung menjawab.

Ia meletakkan sebuah kotak kecil di atas meja.

“Alya menyelesaikan penugasan pertamanya enam bulan lalu.”

Semua orang terdiam.

“Enam bulan?”

Raka berdiri.

“Kalau begitu dia di mana?”

Profesor Bima menatap mereka satu per satu.

“Alya mendapat tawaran memimpin pusat penelitian laut dalam internasional. Kali ini bukan penugasan tertutup. Dia bebas menentukan pilihan.”

Jantung Raka berdegup semakin keras.

“Dan?”

“Dia menerimanya.”

Bu Ratna menutup mulut.

“Berapa lama?”

Profesor Bima tersenyum tipis.

“Tidak ada batas waktu.”

Ruangan mendadak sunyi.

Raka menatap kotak di atas meja.

“Dia menitipkan sesuatu?”

Profesor Bima mengangguk.

Di dalamnya terdapat sebuah benda kecil yang sudah direstorasi.

Spesimen cacing tabung laut dalam yang dulu hancur di gudang.

Di bawahnya terdapat kartu.

Tulisan tangan Alya masih sama.

Terima kasih karena pernah membuatku percaya bahwa menjadi kuat berarti terus mengalah.

Aku baru memahami bahwa menjadi kuat juga berarti berani pergi dari tempat yang tidak lagi menghargai keberadaan kita.

Aku tidak membenci kalian.

Aku hanya tidak ingin kembali menjadi Alya yang dulu.

Bu Ratna menangis.

Raka memegang kartu itu begitu erat hingga jarinya memutih.

“Apakah saya bisa bertemu dengannya?”

Profesor Bima menatapnya lama.

“Alya tidak melarang.”

Mata Raka langsung terangkat.

“Tapi dia juga tidak menunggu.”

Enam bulan kemudian, Raka akhirnya melihat Alya lagi.

Bukan di Jakarta.

Bukan di rumah mereka.

Ia melihatnya dalam sebuah konferensi kelautan internasional di Bali.

Alya berdiri di atas panggung sebagai direktur pusat penelitian.

Tepuk tangan memenuhi ruangan.

Setelah acara selesai, mata mereka bertemu.

Sepuluh tahun rasa bersalah seperti menghantam Raka dalam satu detik.

“Alya.”

Alya berhenti.

Raka ingin meminta maaf. Ingin menjelaskan semuanya. Ingin mengatakan bahwa selama sepuluh tahun ia menunggu.

Namun Alya tersenyum.

Bukan senyum seorang istri kepada suaminya.

Bukan pula senyum seseorang yang menyimpan dendam.

Hanya senyum hangat kepada seseorang yang pernah menjadi bagian dari hidupnya.

“Kamu kelihatan baik, Raka.”

Suara Raka bergetar.

“Aku menunggumu.”

Alya mengangguk pelan.

“Aku tahu.”

“Kamu nggak mau pulang?”

Alya memandang ke luar jendela gedung konferensi. Laut Bali membentang biru di kejauhan.

Kemudian ia menatap Raka lagi.

“Aku sudah pulang.”

Raka terdiam.

Alya tersenyum.

“Hanya saja, ternyata rumahku bukan tempat yang selama ini kalian sebut rumah.”

Seorang perempuan muda dengan kartu identitas peneliti menghampiri Alya.

“Doktor Alya, tim kapal sudah menunggu.”

Alya mengangguk.

Ia kemudian menatap Raka untuk terakhir kalinya.

“Jaga Nadira. Jaga Mama dan Papa.”

“Lalu siapa yang menjaga kamu?”

Pertanyaan itu keluar begitu saja.

Alya terdiam sebentar.

Lalu tersenyum.

“Aku.”

Setelah itu ia berjalan pergi.

Raka tidak mengejarnya.

Untuk pertama kalinya, ia benar-benar mencintai Alya dengan cara yang seharusnya sudah ia lakukan sejak dulu.

Dengan menghormati pilihannya.

Di luar gedung, Alya berjalan menuju kendaraan penelitian yang akan membawanya ke pelabuhan.

Ponselnya bergetar.

Sebuah pesan masuk dari Nadira.

Kak, aku nggak akan meminta Kakak pulang. Aku cuma ingin bilang terima kasih karena akhirnya mengajarkanku sesuatu. Orang yang selalu berkorban bukan berarti tidak punya batas.

Alya membaca pesan itu sambil tersenyum.

Ia membalas satu kalimat.

Jaga dirimu baik-baik. Kali ini Kakak juga akan menjaga diri Kakak sendiri.

Di kejauhan, laut berkilauan diterpa cahaya matahari.

Sepuluh tahun sebelumnya, Alya memasuki pintu baja karena merasa tidak lagi memiliki tempat untuk pulang.

Kini ia berjalan menuju laut bukan untuk melarikan diri dari siapa pun.

Ia pergi karena akhirnya memiliki kehidupan yang benar-benar ia pilih sendiri.

Dan untuk pertama kalinya, tidak ada seorang pun yang memintanya mengalah.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang