Pagi belum datang ketika sebuah sedan hitam berhenti di ujung gang sempit kawasan Glodok.
Dimas turun seorang diri.
Hujan baru saja reda. Air menetes dari atap-atap tua, sementara lampu toko yang sebagian besar sudah padam membuat gang itu tampak seperti lorong yang terlupakan Jakarta.
Ia menemukan pintu kayu hijau persis seperti yang dikatakan Laras.
Tiga ketukan.
Diam.
Dua ketukan lagi.
Beberapa detik kemudian terdengar suara kunci diputar.
Seorang pria tua membuka pintu hanya selebar telapak tangan.

Dimas tidak berkata apa-apa. Ia mengeluarkan liontin giok berbentuk garuda dan menyerahkannya.
Pria itu menatap liontin tersebut.
Wajahnya langsung berubah.
“Siapa yang memberikan ini?”
“Laras Prameswari.”
Dimas mengingat kalimat yang harus disampaikan.
“Dia mengatakan waktunya sudah tiba.”
Pintu segera ditutup.
Dimas bahkan belum sempat bertanya ketika dari balik pintu terdengar suara pria tua itu memerintahkan seseorang menelepon.
“Hubungi Surabaya, Singapura, dan semua orang yang masih memegang sumpah keluarga Prameswari.”
Dimas berdiri terpaku.
Lalu ia mendengar kalimat berikutnya.
“Beri tahu Tuan Arga bahwa adiknya akhirnya memanggilnya pulang.”
Jantung Dimas seperti berhenti berdetak.
Arga Prameswari.
Nama itu pernah ia dengar.
Kakak Laras yang dinyatakan meninggal dalam kecelakaan kapal delapan tahun lalu.
Sementara itu, di rumah keluarga Mahendra, aku mulai kehilangan kesadaran.
Tubuhku menggigil hebat. Namun rasa sakit itu terasa kecil dibandingkan enam tahun penghinaan yang berputar kembali di kepalaku.
Aku menikahi Rendra ketika usiaku dua puluh empat tahun.
Saat itu perusahaan Mahendra hampir bangkrut.
Ayah Rendra datang sendiri menemui keluargaku. Ia meminta kerja sama bisnis sekaligus mengusulkan pernikahan kami.
Aku menerima bukan karena transaksi.
Aku benar-benar mencintai Rendra.
Ketika perusahaan keluarganya kekurangan modal, aku menjual sebagian saham warisan ibu tanpa pernah memberitahunya.
Ketika Rendra ditolak bank, aku menjadi penjamin melalui perusahaan investasi milik keluarga Prameswari.
Ketika ia akhirnya berhasil, aku memilih berdiri di belakangnya.
Namun keberhasilan membuat Rendra berubah.
Dan perubahan terbesar datang tiga tahun lalu ketika Maya Santoso muncul.
Maya adalah teman masa kecil Rendra.
Cantik, lembut, dan selalu terlihat membutuhkan perlindungan.
Setiap kali sesuatu terjadi, akulah yang disalahkan.
Vas pecah, Maya mengatakan aku marah kepadanya.
Dokumen perusahaan hilang, Maya mengatakan aku memasuki ruang kerja Rendra.
Bahkan ketika Maya mengalami kecelakaan mobil ringan, ia mengatakan aku pernah mengancamnya sehari sebelumnya.
Rendra selalu percaya.
Sampai malam ini.
Suara pintu besi membangunkanku.
Aku mengira Dimas kembali.
Ternyata Rendra.
Ia berdiri di depan pintu dengan wajah dingin.
“Maya demam.”
Aku menatapnya tanpa mengerti.
“Lalu?”
“Dia terus memikirkan kejadian sore tadi.”
Aku hampir tertawa.
Perempuan yang menuduhku mendorongnya sedang tidur di kamar hangat, sementara aku tergeletak di lantai bawah tanah.
“Jadi kamu datang untuk meminta aku meminta maaf?”
“Besok pagi lakukan itu.”
Aku menatap pria yang pernah kucintai lebih dari diriku sendiri.
Untuk pertama kalinya, tidak ada lagi rasa sakit ketika melihatnya.
Hanya kehampaan.
“Rendra.”
“Apa?”
“Kalau malam ini aku mati, apa kamu akan menyesal?”
Rendra terdiam sesaat.
Namun jawaban yang keluar menghancurkan sisa terakhir perasaanku.
“Jangan menggunakan kematian untuk membuatku merasa bersalah.”
Aku tersenyum.
“Baik.”
Hanya itu.
Rendra berbalik.
Sebelum pintu tertutup, aku berkata pelan.
“Mulai besok, jangan menyesal.”
Ia tidak menjawab.
Pukul tujuh pagi, kediaman Mahendra mendadak kacau.
Direktur keuangan perusahaan menelepon Rendra.
“Pak, rekening fasilitas kredit utama kita dibekukan.”
Rendra yang baru turun dari lantai dua berhenti.
“Apa maksudmu?”
“Bank menerima pemberitahuan pencabutan jaminan dari Prameswari Capital.”
Wajah Rendra berubah.
“Prameswari Capital?”
Nama itu sudah lama tidak terdengar.
Perusahaan investasi tersebut pernah menyelamatkan Mahendra Group enam tahun lalu sebelum menghilang dari publik.
Rendra berlari menuju ruang kerja ayahnya.
Namun sebelum ia sampai, telepon lain masuk.
Kemudian telepon ketiga.
Dua investor menarik komitmen.
Satu proyek properti dihentikan.
Bank meminta peninjauan ulang kredit.
Dalam waktu kurang dari satu jam, perusahaan yang dibangun keluarga Mahendra selama puluhan tahun mendadak seperti kehilangan fondasinya.
“Apa yang terjadi?”
Maya turun dari tangga dengan wajah cemas.
Rendra tidak menjawab.
Gerbang depan tiba-tiba terbuka.
Enam mobil hitam masuk berurutan.
Para petugas keamanan Mahendra berusaha menghentikan mereka, tetapi Dimas berlari dari pos depan.
“Pak Rendra.”
“Apa lagi?”
Dimas menelan ludah.
“Ada seseorang ingin menemui Bu Laras.”
“Suruh pergi.”
“Sepertinya tidak bisa.”
Pintu mobil pertama terbuka.
Seorang pria tinggi berusia sekitar tiga puluh lima tahun turun mengenakan setelan hitam sederhana.
Wajahnya tenang.
Namun begitu melihatnya, ayah Rendra yang baru keluar dari ruang kerja mendadak kehilangan warna wajah.
“Tidak mungkin.”
Pria itu berjalan mendekat.
“Apa kabar, Pak Surya?”
Surya Mahendra mundur satu langkah.
“Arga?”
Rendra menatap ayahnya.
“Ayah mengenalnya?”
Arga tersenyum tipis.
“Tentu saja.”
Ia kemudian menatap rumah besar itu.
“Karena delapan tahun lalu keluarga kalian membayar seseorang untuk memastikan aku tidak pernah pulang.”
Semua orang terdiam.
Maya langsung menoleh kepada Surya.
“Apa maksudnya?”
Arga tidak menjawab.
“Di mana adikku?”
Rendra maju.
“Laras sedang dihukum.”
Tatapan Arga yang semula tenang mendadak berubah.
“Hukuman?”
“Ini urusan rumah tangga kami.”
Arga mendekati Rendra sampai hanya berjarak satu langkah.
“Kalau begitu bawa aku melihat bagaimana keluarga Mahendra memperlakukan perempuan yang selama enam tahun membiayai hidup kalian.”
Rendra tertawa tidak percaya.
“Membiayai kami?”
Arga mengeluarkan sebuah map.
Ia melemparkannya ke atas meja ruang tamu.
Dokumen-dokumen berserakan.
Akta perusahaan.
Perjanjian pinjaman.
Dokumen kepemilikan saham.
Jaminan kredit.
Rendra mengambil salah satunya.
Tangannya mulai gemetar.
Nama pemilik manfaat utama Prameswari Capital tertulis jelas.
Laras Prameswari.
“Tidak mungkin.”
Arga menatapnya dingin.
“Enam tahun lalu Mahendra Group memiliki utang lebih besar daripada nilai aset likuidnya. Laras menggunakan warisan ibu kami sebagai jaminan.”
Rendra membalik halaman berikutnya.
“Gedung kantor kalian.”
Halaman berikutnya.
“Proyek apartemen kalian.”
Halaman berikutnya.
“Bahkan rumah ini.”
Arga menunjuk lantai marmer tempat mereka berdiri.
“Semuanya pernah diselamatkan menggunakan uang adikku.”
Maya mulai mundur perlahan.
Namun Arga melihatnya.
“Jangan pergi dulu, Maya Santoso.”
Tubuh Maya membeku.
“Aku tidak tahu apa-apa.”
“Benarkah?”
Arga mengeluarkan telepon.
Sebuah rekaman CCTV diputar.
Terlihat jelas Maya berdiri sendirian di teras sehari sebelumnya.
Laras berada beberapa meter di belakangnya.
Maya melihat kamera.
Kemudian ia sengaja menjatuhkan dirinya sendiri dari dua anak tangga sebelum berteriak.
Wajah Rendra memucat.
“Maya?”
“Aku bisa jelaskan.”
Arga mengganti rekaman.
Video lain.
Maya memasuki ruang kerja Rendra dan menyembunyikan dokumen.
Video berikutnya.
Maya memecahkan vas lalu memanggil pelayan.
Video berikutnya.
Maya berbicara dengan seorang pria di parkiran.
Suara mereka terdengar jelas.
“Selama Rendra terus membenci Laras, kita bisa membuat mereka bercerai. Setelah itu saham keluarga Mahendra akan lebih mudah dikendalikan.”
Rendra menatap Maya seperti melihat orang asing.
“Siapa pria itu?”
Maya tidak menjawab.
Surya tiba-tiba duduk.
Karena ia mengenali pria tersebut.
Arga menatapnya.
“Sepertinya Pak Surya tahu.”
Rendra berbalik kepada ayahnya.
“Ayah?”
Surya menutup wajah.
“Dia adik ayahmu.”
Semua orang terdiam.
“Paman Hendra?”
Rendra hampir berbisik.
Surya mengangguk.
Kebenaran kemudian terbuka satu demi satu.
Hendra Mahendra selama bertahun-tahun ingin mengambil kendali perusahaan dari kakaknya sendiri.
Ia mengetahui keluarga Prameswari menjadi penopang utama Mahendra Group.
Delapan tahun lalu, ketika Arga mulai menemukan transaksi mencurigakan, Hendra merancang kecelakaan kapal untuk menyingkirkannya.
Arga selamat, tetapi memilih menghilang setelah menyadari bahwa musuhnya berada sangat dekat.
Ia mengumpulkan bukti sambil menunggu.
Laras mengetahui kakaknya masih hidup dua tahun kemudian.
Namun Arga memintanya merahasiakan semuanya demi melindungi keluarga.
Liontin giok itu menjadi satu-satunya tanda.
Gunakan hanya ketika Laras benar-benar tidak punya jalan keluar.
Dan selama enam tahun, aku tidak pernah menggunakannya.
Sampai malam tadi.
“Di mana Laras?”
Suara Arga terdengar lebih keras.
Dimas segera membawa mereka menuju ruang bawah tanah.
Ketika pintu dibuka, Rendra berhenti.
Aku terbaring di lantai dengan wajah pucat.
Untuk pertama kalinya selama enam tahun, aku melihat ketakutan nyata di mata suamiku.
“Laras.”
Ia berlari mendekat.
Namun Arga mendorongnya menjauh.
“Jangan sentuh adikku.”
Aku membuka mata perlahan.
Ketika melihat wajah Arga, air mataku akhirnya jatuh.
“Kak.”
Arga berlutut dan memelukku.
“Maaf aku terlambat.”
Aku menggeleng.
“Tidak. Aku yang terlalu lama berharap.”
Rendra berdiri beberapa langkah dari kami.
“Laras, aku tidak tahu.”
Aku menatapnya.
“Apa yang tidak kamu tahu?”
“Semua ini.”
“Bahwa Maya berbohong?”
Rendra terdiam.
“Atau bahwa aku punya uang?”
Ia membeku.
Aku tersenyum pahit.
“Kalau aku bukan pemilik Prameswari Capital, apakah perlakuanmu kepadaku menjadi benar?”
Tidak ada jawaban.
Itulah jawaban sebenarnya.
Beberapa minggu kemudian, penyelidikan terhadap Hendra dan jaringan bisnisnya dimulai berdasarkan bukti yang dikumpulkan Arga.
Maya akhirnya mengakui bahwa ia bekerja sama dengannya karena dijanjikan posisi dan kepemilikan saham setelah aku tersingkir.
Surya mengundurkan diri dari perusahaan.
Sedangkan Mahendra Group tidak bangkrut.
Aku tidak menghancurkannya.
Aku hanya menarik semua hal yang sejak awal memang milikku.
Rendra kehilangan jabatan direktur utama setelah para pemegang saham melakukan restrukturisasi.
Pada hari terakhir proses perceraian kami, ia menungguku di luar gedung pengadilan.
“Laras.”
Aku berhenti.
Ia terlihat jauh lebih tua dibandingkan beberapa bulan sebelumnya.
“Aku tahu maaf tidak cukup.”
“Memang.”
“Kalau waktu bisa diputar kembali…”
Aku memotongnya.
“Waktu tidak perlu diputar kembali.”
Rendra menatapku.
Aku melanjutkan.
“Karena kalau aku kembali menjadi Laras enam tahun lalu, mungkin aku akan melakukan kesalahan yang sama. Aku akan terus mengira cinta berarti bertahan.”
Aku menggenggam liontin giok di leherku.
“Sekarang aku tahu cinta yang membuat seseorang kehilangan harga dirinya bukan sesuatu yang harus dipertahankan.”
Aku pergi tanpa menoleh.
Arga menungguku di mobil.
Namun sebelum aku masuk, ia menyerahkan sebuah amplop.
“Ada satu hal yang belum kuberitahukan.”
Aku membukanya.
Di dalamnya terdapat dokumen pendirian sebuah yayasan.
Namaku tercantum sebagai ketua.
“Apa ini?”
Arga tersenyum.
“Ibu membuat surat wasiat sebelum meninggal.”
Aku membaca satu kalimat yang ditulis tangan di halaman terakhir.
Jika suatu hari Laras menyadari bahwa kekuatan bukan tentang berapa banyak yang bisa ia tahan, melainkan kapan ia berani pergi, serahkan ini kepadanya.
Tanganku gemetar.
Ternyata liontin giok itu bukan warisan terbesar yang ditinggalkan keluargaku.
Bukan pula perusahaan.
Bukan uang.
Bukan kekuasaan.
Warisan sebenarnya adalah sebuah pilihan.
Pilihan untuk berhenti meminta seseorang menghargai kita ketika kita sendiri sudah lupa menghargai diri sendiri.
Aku menatap gedung pengadilan untuk terakhir kalinya.
Enam tahun lalu aku memasuki keluarga Mahendra dengan keyakinan bahwa menjadi istri yang baik berarti bertahan selama mungkin.
Hari itu aku pergi dengan pemahaman yang berbeda.
Terkadang keberanian terbesar bukanlah bertahan.
Melainkan mengetahui kapan sebuah pintu harus ditutup agar kita akhirnya bisa membuka pintu milik kita sendiri.
