Pukul delapan lewat tujuh menit pagi, suara dering ponsel membangunkanku.
Kepalaku masih berat. Hujan semalam membuat tubuhku sedikit demam, tetapi begitu melihat nomor tak dikenal dengan kode Jakarta muncul di layar, kantukku langsung hilang.
Aku duduk di tepi ranjang dan menarik napas.
“Halo?”
“Selamat pagi. Apakah benar kami berbicara dengan Saudari Nisa Maharani Putri?”
“Iya, saya sendiri.”
“Perkenalkan, kami menghubungi Anda terkait penerimaan mahasiswa baru Universitas Indonesia dan program bantuan pendidikan yang tercantum dalam pemberitahuan Anda.”
Aku menggenggam ponsel lebih erat.
Suara perempuan di seberang terdengar formal dan tenang. Ia memverifikasi beberapa data, menjelaskan tahapan administrasi, lalu menegaskan bahwa bantuan yang kuterima mencakup biaya pendidikan sesuai ketentuan program, dukungan tempat tinggal, serta biaya hidup bulanan.
“Berdasarkan dokumen prestasi yang diajukan sekolah dan hasil seleksi, Anda termasuk penerima yang direkomendasikan untuk program pembinaan akademik mitra.”
Aku terdiam beberapa detik.
“Apakah Saudari Nisa masih tersambung?”

“Masih, Bu.”
“Selamat, ya.”
Untuk pertama kalinya sejak pengumuman SNBT keluar, seseorang mengucapkan selamat kepadaku.
Bukan Mama.
Bukan Papa.
Bukan Arga.
Orang asing di ujung telepon.
Anehnya, justru ucapan sederhana itu membuat tenggorokanku tercekat.
“Terima kasih, Bu.”
Aku baru hendak menanyakan dokumen yang perlu disiapkan ketika terdengar suara benda jatuh dari luar kamar.
Brak.
Pintuku ternyata tidak tertutup rapat.
Di lorong, Mama berdiri dengan keranjang pakaian yang terjatuh di dekat kakinya.
Wajahnya pucat.
Aku tahu dia mendengar.
Aku melanjutkan pembicaraan sampai selesai. Setelah telepon ditutup, Mama masih berdiri di tempat yang sama.
“Kamu… diterima UI?”
Aku menatapnya.
“Iya.”
“Jurusan apa?”
“Ilmu Komputer.”
Mata Mama membesar.
“Sejak kapan kamu tahu?”
“Semalam.”
“Kenapa nggak bilang?”
Pertanyaan itu membuatku hampir tersenyum.
Aku berdiri.
“Memangnya ada yang tanya?”
Mama terdiam.
Suara langkah kaki terdengar dari bawah. Rupanya suara keranjang tadi membangunkan yang lain.
Papa naik lebih dulu.
“Ada apa?”
Mama menoleh kepadanya.
“Nisa masuk UI.”
Papa langsung menatapku.
“Serius?”
Aku mengangguk.
“Ilmu Komputer.”
Beberapa detik kemudian Dina muncul di tangga dengan Arga di belakangnya.
Dina masih mengenakan kaus tidur. Arga tampaknya menginap di kamar tamu karena semalam terlalu larut untuk pulang.
“Nisa masuk UI?” tanya Dina.
“Iya.”
Arga tersenyum lebar dan berjalan mendekat.
“Kenapa nggak bilang dari semalam? Gila, Nis. Kita bertiga satu kampus!”
Tangannya hampir menyentuh bahuku ketika aku mundur satu langkah.
Gerakanku kecil, tetapi cukup membuat senyumnya menghilang.
Mama buru-buru bertanya, “Tadi telepon soal apa?”
Aku menjawab apa adanya.
“Program bantuan pendidikan.”
“Beasiswa?”
“Kurang lebih.”
“Berapa?”
“Biaya kuliah ditanggung sesuai program. Ada bantuan tempat tinggal dan biaya hidup.”
Lorong mendadak sunyi.
Papa adalah orang pertama yang bereaksi.
“Berarti kamu nggak perlu uang saku lagi?”
Aku menatapnya.
Entah kenapa, kalimat pertama Papa setelah mendengar semua itu justru terasa lebih menyakitkan daripada ditinggalkan di bandara.
Bukan selamat.
Bukan bangga.
Bukan bagaimana perasaanku.
Melainkan soal uang.
“Iya, Pa.”
Mama terlihat lega.
“Nah, bagus dong. Pesan Mama semalam berarti tepat. Kamu memang harus belajar mandiri.”
Aku menatap wajahnya lama.
Dina tampak tidak nyaman.
“Tante, mungkin maksudnya bukan begitu…”
Mama justru tersenyum.
“Ini kabar baik. Kalian bertiga masuk UI. Kita harus rayakan.”
Aku berjalan kembali ke kamar.
“Nisa,” panggil Arga.
Aku berhenti.
“Nanti siang kita keluar, yuk. Sekalian makan.”
Aku menoleh.
“Bertiga?”
Arga tampak bingung.
“Ya… sama Dina juga. Kita kan sama-sama lolos.”
Aku mengangguk kecil.
“Nggak usah.”
Pintu kamar kututup.
Siangnya, aku mulai mengurus semua dokumen.
Ada satu hal yang tidak kukatakan kepada keluargaku.
Dalam formulir program itu, penerima bantuan tempat tinggal diperbolehkan menempati hunian mitra lebih awal untuk mengikuti pembinaan dan orientasi akademik.
Artinya, aku tidak harus tinggal di rumah sampai perkuliahan dimulai.
Aku bisa pergi.
Dan untuk pertama kalinya, pikiran itu tidak terasa menakutkan.
Selama beberapa hari berikutnya, suasana rumah berubah aneh.
Mama mulai bercerita kepada keluarga besar bahwa kedua “putrinya” berhasil masuk UI.
Papa mengunggah foto Dina dan aku di grup keluarga dengan tulisan panjang tentang keberhasilan mendidik anak.
Padahal foto yang digunakannya adalah foto dua tahun lalu.
Aku hampir tertawa ketika membacanya.
Arga juga berubah.
Dia mulai lebih sering mengirim pesan.
Sudah makan?
Dokumennya aman?
Mau aku antar ke kampus nanti?
Pesan-pesan yang dulu kuharapkan kini terasa terlambat.
Aku menjawab seperlunya.
Sampai suatu sore, Arga datang.
Aku sedang memasukkan beberapa buku ke dalam kardus ketika dia berdiri di pintu.
“Kamu mau pindah?”
“Iya.”
“Kok nggak bilang?”
Aku terus melipat pakaian.
“Minggu depan aku mulai program pembinaan.”
“Nisa.”
Aku berhenti.
Arga masuk dan menutup pintu.
“Aku tahu kamu marah soal Bali dan bandara.”
Aku menatapnya.
“Hanya itu?”
Dia mengerutkan kening.
“Maksud kamu?”
“Kamu benar-benar pikir masalahnya cuma bandara?”
Arga terdiam.
Aku mengambil botol jus semangka kosong yang sejak penerbangan masih kusimpan di samping tas.
Entah kenapa aku belum membuangnya.
“Kamu ingat ini?”
Dia melihatnya.
“Jus?”
“Kamu tahu aku selalu minum jus semangka kalau gugup.”
Arga tidak menjawab.
“Tapi malam pengumuman, kamu membelikannya untuk Dina.”
“Nis, cuma minuman.”
“Iya. Cuma minuman.”
Aku mengangguk.
“Lift juga cuma tujuh menit. Bali cuma beberapa hari. Koper cuma barang. Tiga panggilan nggak terjawab juga cuma panggilan.”
Aku menatap matanya.
“Masalahnya bukan satu kejadian besar, Ga. Masalahnya ratusan hal kecil yang selalu mengatakan hal yang sama.”
“Apa?”
“Bahwa kalau ada aku dan Dina, kamu akan memilih Dina.”
Wajahnya berubah.
“Itu nggak adil.”
“Di Bali, siapa yang selalu harus mengalah?”
Dia diam.
“Di lift bandara, siapa yang kamu suruh keluar?”
Tetap diam.
“Waktu mobil pergi tanpa aku, kamu bahkan nggak sadar.”
“Nisa, aku pikir kamu sama Mama.”
“Dan Mama pikir aku sama kamu.”
Aku tersenyum tipis.
“Lucu, ya? Semua orang mengira aku bersama orang lain sampai akhirnya nggak ada seorang pun yang benar-benar memastikan aku ada.”
Arga duduk di ujung ranjang.
“Aku nggak pernah berniat bikin kamu merasa begitu.”
“Aku tahu.”
Dia mengangkat kepala.
“Justru itu masalahnya. Kamu bahkan nggak sadar.”
Arga mencoba menggenggam tanganku.
Aku menariknya.
“Mulai sekarang kita selesai.”
Dia berdiri cepat.
“Nisa.”
“Aku nggak marah.”
“Kamu mutusin aku gara-gara Dina?”
“Bukan.”
Aku menatapnya lurus.
“Aku mutusin kamu karena akhirnya aku berhenti menunggu dipilih.”
Arga pergi tanpa berkata apa-apa lagi.
Kupikir masalah selesai.
Ternyata belum.
Dua hari kemudian, Dina mengetuk pintuku.
Matanya sembap.
“Aku boleh masuk?”
Aku mempersilahkannya.
Dia duduk di kursi meja belajarku.
“Aku sama Arga nggak ada apa-apa.”
“Aku tahu.”
Dia tampak terkejut.
“Aku nggak pernah suka dia.”
“Aku juga tahu.”
“Terus kenapa kamu menjauh dariku?”
Aku menatap Dina.
Untuk pertama kalinya aku menyadari sesuatu.
Dina juga tidak pernah meminta ayahnya meninggal.
Dia tidak pernah meminta tinggal di rumah kami.
Mungkin selama ini dia hanya menerima semua perhatian yang diberikan orang-orang kepadanya.
Tetapi menerima tetaplah sebuah pilihan.
“Kamu ingat hari kedua di Bali?” tanyaku.
Dia mengangguk pelan.
“Kamu bilang capek dan minta jadwal dibatalkan.”
“Iya.”
“Aku bilang tempat itu sudah kupesan tiga bulan sebelumnya.”
Dina menunduk.
“Kamu dengar Arga bilang aku harus mengalah.”
“Iya.”
“Kamu tetap pergi tidur.”
Air matanya mulai jatuh.
“Aku minta maaf.”
Aku menarik napas.
“Aku nggak benci kamu, Din. Tapi jangan bilang kamu nggak tahu apa-apa. Kamu tahu. Kamu cuma merasa selama bukan kamu yang menyuruh mereka menyakitiku, berarti kamu nggak bertanggung jawab.”
Dina menangis tanpa suara.
Beberapa menit kemudian, dia mengeluarkan sesuatu dari saku.
Sebuah amplop.
“Apa ini?”
“Buka.”
Di dalamnya ada bukti transfer.
Jumlahnya membuatku mengernyit.
“Ini apa?”
“Uang tabunganku.”
“Buat apa?”
Dina mengusap air mata.
“Waktu Ayah meninggal, ternyata dia meninggalkan dana pendidikan atas namaku. Papa kamu yang mengurus semuanya sampai aku delapan belas tahun.”
Aku masih tidak mengerti.
Dina melanjutkan dengan suara bergetar.
“Aku baru tahu minggu lalu. Selama aku tinggal di sini, sebagian besar biaya sekolah dan hidupku sebenarnya diambil dari dana itu.”
Dadaku terasa dingin.
“Maksudmu?”
“Tante selalu bilang kepadamu keluarga banyak mengeluarkan uang untukku, kan?”
Aku mengangguk.
“Itu nggak sepenuhnya benar.”
Dina menatapku.
“Bahkan perjalanan Bali kemarin, tiket dan hotelku kubayar sendiri dari rekening itu. Aku transfer ke Papa.”
Aku membeku.
Selama hampir dua tahun, setiap kali aku meminta kursus tambahan, Mama selalu mengatakan kondisi keuangan keluarga sedang berat karena mereka juga harus membiayai Dina.
Ketika aku meminta laptop baru untuk belajar pemrograman, Papa berkata aku harus memahami bahwa sekarang mereka memiliki dua anak perempuan.
Aku membeli laptop bekas dengan uang hasil mengajar matematika daring.
“Kenapa kamu kasih tahu aku sekarang?”
“Karena aku dengar Tante menghentikan uang sakumu.”
Dina menarik napas.
“Dan aku baru sadar selama ini namaku dipakai supaya kamu merasa bersalah setiap kali meminta sesuatu.”
Malam itu aku tidak tidur.
Bukan karena marah kepada Dina.
Aku hanya merasa ada sesuatu di dalam diriku yang akhirnya runtuh.
Keesokan paginya, aku bertanya langsung kepada Papa.
Awalnya dia menyangkal.
Lalu aku menunjukkan bukti transfer Dina.
Mama duduk diam.
Papa akhirnya berkata, “Itu urusan orang tua. Kamu nggak perlu tahu.”
“Aku cuma mau tahu kenapa.”
“Kenapa apa?”
“Kenapa setiap kali aku butuh sesuatu, kalian bilang harus mengalah karena Dina?”
Mama menjawab lebih dulu.
“Supaya kamu belajar bersyukur.”
Aku menatapnya.
“Dengan membuatku merasa menjadi beban?”
“Nisa, jangan dramatis.”
Aku tertawa kecil.
Kata itu lagi.
Sensitif.
Dramatis.
Manja.
Semua kata yang digunakan setiap kali aku mencoba mengatakan bahwa sesuatu menyakitiku.
Aku berdiri.
“Nggak apa-apa.”
Papa mengerutkan kening.
“Apanya?”
“Aku akhirnya ngerti.”
“Mengerti apa?”
“Bahwa aku nggak akan pernah menang kalau terus berusaha membuktikan bahwa aku layak diperlakukan seperti anak sendiri di rumahku sendiri.”
Mama berdiri.
“Kamu bicara apa, sih?”
Aku tidak menjawab.
Seminggu kemudian, aku pindah.
Hanya dua koper.
Satu kardus buku.
Laptop bekas.
Dan tabungan hasil mengajar daring.
Mama tidak mengantarku.
Katanya ada acara keluarga.
Papa hanya membantu menurunkan koper ke teras.
Orang yang datang membantuku justru Dina.
Sebelum mobil berangkat, dia memelukku.
“Maaf.”
Aku membalas pelukannya.
“Jangan minta maaf terus. Hidup yang benar saja.”
Dia tertawa sambil menangis.
Tiga bulan kemudian, hidupku berubah lebih cepat daripada yang kubayangkan.
Aku bertemu teman-teman yang mengenalku bukan sebagai saudara Dina atau pacar Arga.
Aku ikut kelompok pemrograman.
Aku mendapatkan proyek kecil.
Untuk pertama kalinya, keberhasilanku terasa benar-benar milikku.
Arga beberapa kali mencoba menghubungiku.
Aku tidak memblokirnya.
Aku hanya tidak lagi merasa harus menjawab.
Suatu sore, setelah kelas, sebuah pesan dari Dina masuk.
Ada foto meja makan di rumah.
Di atasnya terdapat surat.
Dina menulis satu kalimat.
Papa dan Mama baru tahu sesuatu tentang program bantuanmu.
Aku meneleponnya.
“Apa?”
Dina tertawa kecil.
“Ternyata tadi ada perwakilan sekolah datang.”
“Kenapa?”
“Mereka membawa surat penghargaan.”
Aku terdiam.
Kemudian Dina mengatakan sesuatu yang bahkan aku sendiri belum tahu.
Program bantuan yang kuterima bukan hanya berdasarkan nilai SNBT.
Sekolah rupanya mengirimkan portofolio prestasiku tanpa memberitahuku, termasuk aplikasi sederhana yang kubuat untuk membantu teman-teman tunanetra membaca jadwal kelas melalui suara.
Program itu kemudian memilih beberapa penerima untuk mengikuti pembinaan lanjutan bersama mitra teknologi.
Namaku salah satunya.
“Tante nangis,” kata Dina.
“Kenapa?”
“Karena guru BK bilang mereka berkali-kali mencoba menghubungi nomor orang tua sebelum pengumuman, tapi nggak pernah mendapat respons.”
Aku teringat sesuatu.
Selama beberapa minggu sebelum kelulusan, Mama memang sering mengabaikan telepon dari nomor asing.
Dia mengira semuanya promosi.
“Terus?”
Dina terdiam sebentar.
“Guru BK bilang, waktu diminta menulis siapa orang yang paling mendukung perjalanan akademikmu, kamu nggak menulis Papa atau Mama.”
Aku memejamkan mata.
Aku tahu formulir yang dimaksud.
“Siapa yang kamu tulis?”
Aku tersenyum.
“Pak Hendra.”
Guru informatika SMA-ku.
Orang yang meminjamkan laptop sekolah ketika laptop bekasku rusak.
Orang yang diam-diam membayar biaya pendaftaran kompetisi ketika aku hampir batal ikut.
Orang yang pernah berkata kepadaku bahwa dukungan tidak selalu datang dari tempat yang kita harapkan.
Dina kemudian bertanya pelan, “Kamu nyesel pergi dari rumah?”
Aku memandang gedung kampus dari jendela.
Mahasiswa berlalu-lalang di bawah cahaya sore.
“Nggak.”
“Marah sama mereka?”
Aku berpikir cukup lama.
“Dulu iya.”
“Sekarang?”
“Sekarang aku cuma nggak mau hidupku ditentukan oleh siapa yang memilihku.”
Setelah telepon ditutup, sebuah email masuk.
Aku membukanya.
Pemberitahuan tentang proyek pembinaan pertamaku.
Di bagian bawah terdapat kolom kontak darurat.
Dulu, tanpa berpikir, aku pasti akan menulis nama Mama.
Jari-jariku berhenti di atas keyboard.
Kemudian aku mengetik satu nama.
Dina Ayu Lestari.
Aku tersenyum.
Karena akhirnya aku memahami sesuatu yang tidak pernah diajarkan oleh hasil SNBT, kampus terbaik, atau beasiswa sebesar apa pun.
Keluarga bukan selalu orang yang tidak pernah mengecewakan kita.
Kadang keluarga adalah orang yang berani mengakui kesalahannya, lalu belajar memperlakukan kita dengan lebih baik.
Ponselku berbunyi.
Pesan dari Dina.
Oh iya, ada satu lagi.
Aku mengetik.
Apa?
Balasannya datang bersama foto.
Arga berdiri di depan rumah membawa buket bunga.
Di belakangnya, Mama memegang koper kecil.
Aku mengernyit.
Lalu pesan berikutnya masuk.
Tante bilang mau ke kampusmu untuk minta maaf langsung. Arga juga datang dan mau ikut.
Aku menatap layar beberapa detik.
Kemudian tertawa.
Aku membalas singkat.
Kasih tahu Mama boleh datang.
Beberapa detik kemudian Dina bertanya.
Arga?
Aku melihat keluar jendela.
Langit Depok sore itu mulai berubah jingga.
Aku mengetik dua kata.
Suruh pulang.
Lalu aku memasukkan ponsel ke dalam tas dan berjalan menuju kelas.
Dulu aku menunggu orang lain memilihku.
Sekarang tidak lagi.
Karena orang pertama yang akhirnya memilih Nisa Maharani Putri adalah diriku sendiri.
