Pria Kesepian Mengikuti Wanita Misterius, Lalu Menemukan Rahasia Mengerikan di Rumah Tua Yogyakarta

Dimas menjerit sambil mencengkeram tanah yang basah. Kukunya menancap ke lumpur, tetapi benang putih yang melilit pergelangan kakinya terus menarik tubuhnya menuju pagar rumah tua itu.

“Laras! Tolong aku!”

Laras tidak bergerak.

Perempuan itu hanya berdiri di bawah hujan dengan senyum tipis yang kini terasa mengerikan.

“Kamu sendiri yang ingin mengantarku pulang, Dimas.”

“Apa-apaan ini?”

“Kamu bilang ingin punya keluarga.”

Suara desis dari dalam rumah semakin keras.

Dimas meraih tiang pagar berkarat dan memeluknya sekuat tenaga. Benang putih itu menegang. Pergelangan kakinya terasa seperti diremas tali baja.

Kemudian dari balik jendela yang tertutup papan, sesuatu bergerak.

Bukan manusia.

Bayangan besar dengan kaki-kaki panjang merayap perlahan di balik celah kayu.

Dimas membeku.

Dalam kepanikan, tangannya menemukan pecahan genting di tanah. Ia mengayunkannya berkali-kali ke benang yang melilit kakinya.

Sekali.

Dua kali.

Tiga kali.

Benang itu akhirnya putus.

Dimas langsung bangkit dan berlari.

Ia tidak berani menoleh.

Gang sempit yang tadi hanya mereka lewati beberapa menit terasa berubah menjadi lorong tanpa ujung. Lampu jalan berkedip. Hujan menghantam wajahnya.

Di belakangnya terdengar langkah.

Bukan langkah kaki manusia.

Tak.

Tak.

Tak.

Cepat sekali.

Dimas berlari semakin kencang sampai akhirnya melihat cahaya kendaraan dari jalan utama.

Ia menerobos keluar dari gang dan hampir tertabrak sepeda motor.

“Mas! Gila, ya!”

Dimas jatuh di tepi jalan.

Ketika ia menoleh ke belakang, gang itu kosong.

Tidak ada Laras.

Tidak ada rumah tua.

Hanya kegelapan.

Dimas pulang menjelang tengah malam dalam keadaan basah kuyup.

Mbah Sri sedang duduk di ruang tamu.

Aneh.

Biasanya neneknya sudah tidur setelah pukul sembilan.

Begitu melihat Dimas, wajah perempuan tua itu langsung pucat.

“Kamu dari mana?”

“Ketemu seseorang.”

Mbah Sri berdiri.

Tatapannya turun ke pergelangan kaki Dimas.

Bekas lilitan berwarna kemerahan terlihat jelas.

“Kamu masuk gang belakang Pasar Kembang?”

Dimas terdiam.

“Aku enggak tahu nama daerahnya.”

“Perempuannya pakai kebaya?”

Jantung Dimas serasa berhenti.

“Mbah kenal Laras?”

Gelas di tangan Mbah Sri jatuh.

Pecahannya berserakan di lantai.

“Kamu sebut namanya?”

Dimas semakin bingung.

“Namanya Laras.”

Mbah Sri langsung menarik cucunya masuk dan mengunci pintu.

Semua jendela ditutup.

Tirai diturunkan.

Kemudian ia mengambil sebuah kotak kayu tua dari lemari.

“Mbah, sebenarnya ada apa?”

Neneknya tidak menjawab.

Ia mengeluarkan sebuah foto hitam putih.

Dimas mengambilnya.

Foto itu memperlihatkan lima orang berdiri di depan sebuah rumah tua.

Dimas mengenali rumah itu.

Rumah yang baru saja didatanginya.

Namun bukan rumah itu yang membuat darahnya seakan berhenti mengalir.

Di tengah foto berdiri seorang perempuan muda berkebaya.

Wajahnya persis Laras.

Di belakang foto tertulis sebuah tanggal.

17 November 1964.

“Enggak mungkin.”

“Itu Larasati,” kata Mbah Sri.

“Siapa dia?”

Mbah Sri duduk perlahan.

“Adik nenekku.”

Dimas menatapnya.

Mbah Sri kemudian menceritakan kisah yang selama puluhan tahun sengaja dikubur keluarganya.

Larasati adalah perempuan cantik yang tinggal di rumah itu bersama keluarganya. Ia dikenal pendiam dan sangat menyayangi adik-adiknya.

Namun suatu hari, Larasati menghilang.

Beberapa minggu kemudian, dua pemuda yang terakhir terlihat bersamanya juga menghilang.

Lalu seorang pedagang.

Kemudian mahasiswa.

Semua laki-laki muda.

Semua dikenal sedang mengalami masalah cinta.

Warga mulai mencurigai rumah keluarga Larasati.

Ketika akhirnya rumah itu dibuka, mereka tidak menemukan Larasati.

Mereka hanya menemukan ruangan belakang dipenuhi benang putih seperti sarang.

Di tengahnya terdapat kepompong besar.

Rumah itu kemudian ditinggalkan.

“Tapi Laras tadi bicara denganku. Aku menyentuh tangannya.”

“Itulah masalahnya,” bisik Mbah Sri. “Kalau dia sudah bisa disentuh, berarti dia semakin kuat.”

Dimas menelan ludah.

“Maksud Mbah?”

“Dia tidak mencari korban untuk dimakan.”

Mbah Sri menatap cucunya.

“Dia mencari seseorang untuk tinggal bersamanya.”

Malam itu Dimas tidak tidur.

Sekitar pukul tiga pagi, terdengar ketukan di jendela kamarnya.

Tok.

Tok.

Tok.

Dimas menarik selimut hingga dada.

Tok.

Tok.

Tok.

Kemudian suara perempuan terdengar dari luar.

“Dimas.”

Ia mengenali suara itu.

“Kenapa kamu meninggalkanku?”

Dimas tidak bergerak.

“Bukankah kamu bilang ingin seseorang yang tidak akan pernah meninggalkanmu?”

Dimas menutup telinga.

Lalu suara itu berhenti.

Pagi harinya, ia menemukan setangkai melati di ambang jendela.

Hari-hari berikutnya menjadi semakin aneh.

Dimas melihat Laras di mana-mana.

Di seberang kedai kopi.

Di halte.

Di kaca jendela bus.

Namun setiap kali ia menoleh langsung, perempuan itu menghilang.

Lebih aneh lagi, bagian dari dirinya mulai merindukan Laras.

Itulah yang paling menakutkan.

Sebab di antara semua perempuan yang pernah ditemuinya, hanya Laras yang benar-benar mendengarkan.

Ketika Dimas bercerita, Laras tidak memotong.

Tidak menertawakan.

Tidak mengatakan ia terlalu berlebihan.

Pada malam keempat, Laras muncul di halaman rumah.

“Aku tahu kamu takut,” katanya.

Dimas berdiri di balik pintu.

“Kamu sebenarnya siapa?”

“Laras.”

“Kamu sudah mati.”

Perempuan itu tersenyum sedih.

“Apakah orang mati tidak boleh kesepian?”

Kalimat itu menusuk sesuatu dalam diri Dimas.

Laras melanjutkan.

“Aku tidak akan menolakmu seperti mereka.”

“Diam.”

“Aku tidak akan bosan mendengarkanmu.”

“Pergi.”

“Aku bisa menjadi keluarga yang selalu kamu inginkan.”

Dimas hampir membuka pintu.

Tangannya sudah menyentuh gagang ketika suara Mbah Sri terdengar.

“Kalau dia mencintaimu, suruh dia datang saat matahari terbit.”

Laras langsung menoleh.

Wajahnya berubah.

Untuk sepersekian detik, Dimas melihat sesuatu di balik kulit cantiknya.

Mata hitam besar.

Mulut yang terbuka terlalu lebar.

Dan kaki-kaki panjang seperti laba-laba muncul dari punggungnya.

Kemudian Laras menghilang.

Mbah Sri menarik Dimas menjauh.

“Dia sudah masuk ke pikiranmu.”

“Aku enggak akan ikut dia.”

“Kamu akan ikut.”

“Enggak.”

Mbah Sri menatapnya lama.

“Kamu masih berpikir dia satu-satunya yang memahami kamu. Itu pintunya.”

Dimas terdiam.

Untuk pertama kalinya ia memahami sesuatu.

Selama ini bukan cinta yang dicarinya.

Ia mencari seseorang yang bisa menutup lubang dalam dirinya.

Kesepian karena tumbuh tanpa ayah dan ibu di rumah.

Ketakutan ditinggalkan.

Keinginan membuktikan bahwa dirinya layak dicintai.

Dan Laras mengetahui semuanya.

Malam berikutnya, Mbah Sri menghilang.

Dimas menemukan pintu belakang terbuka.

Di lantai terdapat benang putih.

Di atasnya ada secarik kertas.

Datanglah sendiri kalau ingin nenekmu pulang.

Dimas tahu ke mana ia harus pergi.

Ia kembali ke gang itu menjelang tengah malam.

Kali ini rumah tua tersebut terlihat jelas.

Pintunya terbuka.

“Laras!”

Tidak ada jawaban.

Dimas masuk.

Bau lembap menusuk hidungnya.

Dinding dipenuhi sarang putih. Beberapa benda tergantung di dalamnya.

Tas.

Jam tangan.

Sepatu.

Ponsel lama.

Barang-barang milik orang yang pernah datang ke sana.

Kemudian Dimas melihat bentuk-bentuk besar menggantung dari langit-langit.

Seperti kepompong manusia.

Napasnya tercekat.

Salah satunya bergerak.

“Dimas…”

Suara Mbah Sri.

Dimas berlari menuju suara itu.

Neneknya terbungkus benang hingga dada.

Dimas mencoba menarik benang tersebut.

“Jangan!” teriak Mbah Sri.

Terlambat.

Pintu di belakang Dimas menutup.

Laras muncul dari kegelapan.

“Kamu kembali.”

“Lepaskan Mbah.”

“Boleh.”

Laras tersenyum.

“Asalkan kamu tinggal.”

Dimas menatap kepompong-kepompong di sekelilingnya.

“Mereka juga bilang begitu?”

Senyum Laras menghilang.

“Mereka berjanji mencintaiku.”

“Lalu?”

“Mereka berubah pikiran.”

Tubuh Laras mulai bergerak tidak wajar.

Dari balik kebayanya muncul kaki hitam panjang.

Satu.

Dua.

Empat.

Delapan.

Tubuh manusianya terangkat dari lantai.

Namun wajah Laras tetap cantik.

“Aku hanya ingin seseorang yang tidak pergi.”

Dimas akhirnya memahami.

Makhluk di depannya bukan sekadar monster.

Ia adalah kesepian yang membusuk menjadi obsesi.

Sama seperti dirinya, hanya jauh lebih parah.

Dimas perlahan menurunkan tangannya.

“Kalau aku tinggal, Mbah boleh pulang?”

“Ya.”

“Dan kamu enggak akan menyakiti orang lain?”

Laras mendekat.

“Kalau kamu menjadi keluargaku, aku tidak membutuhkan siapa pun lagi.”

Dimas tersenyum tipis.

“Baik.”

“Dimas!” teriak Mbah Sri.

Laras mendekat dengan wajah bahagia.

Namun ketika jaraknya tinggal satu langkah, Dimas mengeluarkan korek api dari sakunya.

Sejak memasuki rumah, ia sudah mencium sesuatu selain bau lembap.

Minyak tanah.

Lampu tua di ruangan itu masih menggunakannya.

Dimas menendang lampu hingga pecah.

Api menyambar lantai.

Laras menjerit.

Benang-benang putih terbakar sangat cepat.

Dimas menarik Mbah Sri keluar dari kepompong.

Mereka berlari.

Di belakang mereka terdengar jeritan yang berubah antara suara perempuan dan desis makhluk.

“Kamu bohong!”

Dimas menoleh sekali.

Laras berdiri di tengah api.

Untuk sesaat wujud mengerikannya menghilang.

Ia kembali terlihat seperti perempuan muda dalam foto tahun 1964.

Air mata mengalir di pipinya.

“Aku cuma tidak ingin sendirian.”

Dimas berhenti.

Mbah Sri menarik lengannya.

Namun Dimas berkata, “Laras.”

Perempuan itu menatapnya.

“Menahan seseorang supaya tidak pergi bukan cinta.”

Api semakin besar.

“Kalau kamu harus memenjarakan orang agar mereka tetap bersamamu, kamu tetap sendirian.”

Wajah Laras bergetar.

Kemudian untuk pertama kalinya, ia tidak tersenyum.

Ia menangis.

Atap rumah mulai runtuh.

Dimas membawa Mbah Sri keluar beberapa detik sebelum bangunan itu dilalap api.

Ketika warga berdatangan, rumah tersebut hampir rata dengan tanah.

Polisi menemukan benda-benda milik beberapa orang hilang, tetapi tidak menemukan jasad.

Tidak ada kepompong.

Tidak ada makhluk.

Tidak ada Laras.

Beberapa orang menganggap Dimas dan Mbah Sri mengalami halusinasi akibat asap.

Dimas tidak peduli.

Sejak malam itu, Laras tidak pernah muncul lagi.

Berbulan-bulan kemudian, kehidupan Dimas perlahan berubah.

Ia masih bekerja di kedai kopi.

Masih kuliah.

Masih kadang merasa kesepian.

Bedanya, ia tidak lagi menganggap kesepian sebagai keadaan darurat yang harus segera diisi seseorang.

Ketika bertemu perempuan baru, ia belajar mengenal tanpa buru-buru memiliki.

Ia belajar bahwa perhatian bukan janji.

Kecocokan bukan takdir.

Dan seseorang yang mencintainya tidak berkewajiban menyembuhkan semua luka yang tidak pernah ia rawat sendiri.

Suatu sore, Dimas sedang membersihkan gudang bersama Mbah Sri ketika menemukan kotak foto lama.

Ia membuka foto Larasati tahun 1964.

Namun ada sesuatu yang berbeda.

Perempuan yang sebelumnya berdiri di tengah foto kini tidak ada.

Yang tersisa hanya empat orang.

“Kenapa Laras hilang?” tanya Dimas.

Mbah Sri mengambil foto itu.

Wajahnya mendadak pucat.

Ia membaliknya.

Tulisan tanggal masih ada.

Namun di bawah tanggal muncul sebuah kalimat yang sebelumnya tidak pernah terlihat.

Terima kasih sudah membiarkanku pergi.

Dimas menatap Mbah Sri.

Neneknya mulai menangis.

Bukan karena takut.

Ia memeluk foto itu ke dada.

“Mungkin selama ini,” katanya lirih, “yang terperangkap di rumah itu bukan orang-orang yang dibawa Laras.”

Dimas menunggu.

Mbah Sri menatap ruang kosong tempat Laras seharusnya berdiri dalam foto.

“Justru Laras sendiri.”

Malam itu hujan turun di Yogyakarta.

Dimas duduk di teras sambil mendengarkan suara air jatuh dari genting.

Untuk pertama kalinya, hujan tidak membuatnya ingin mencari seseorang untuk mengusir kesepian.

Ia hanya duduk.

Menikmati udara dingin.

Menerima bahwa ada ruang kosong dalam hidup yang tidak selalu harus segera diisi.

Dari kejauhan terdengar samar musik keroncong dari rumah tetangga.

Kemudian aroma melati melintas bersama angin.

Dimas menoleh.

Di pagar tergeletak setangkai bunga melati putih.

Tidak ada siapa-siapa.

Dimas tersenyum kecil.

Ia tidak mengambil bunga itu.

Ia membiarkannya di sana.

Sebab akhirnya ia mengerti sesuatu yang dulu tidak pernah dipahaminya.

Cinta yang sehat tidak datang untuk menyelamatkan seseorang dari kesepian.

Cinta datang ketika dua orang yang mampu berdiri sendiri memilih berjalan bersama.

Dan terkadang, bentuk kasih sayang terakhir yang bisa kita berikan kepada seseorang adalah berhenti menggenggamnya.

Lalu membiarkannya pergi.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang