Gadis Itu Punya Pelindung Gaib, Tapi Harga yang Diminta Membuat Ibunya Ketakutan

Sari tidak tahu berapa lama ia berdiri di depan pintu kamar Alya.

Hujan masih menghantam genteng. Udara malam Bogor terasa dingin, tetapi keringat mengalir di pelipisnya.

Dari dalam kamar, suara berat itu terdengar sekali lagi.

“Dia harus percaya.”

Sari menahan napas.

Tangannya bergerak perlahan menuju gagang pintu.

“Alya?”

Tawa putrinya berhenti.

Beberapa detik kemudian pintu terbuka.

Alya berdiri di sana dengan piyama merah muda. Wajahnya terlihat seperti anak tujuh tahun biasa. Tidak ada bayangan tinggi. Tidak ada makhluk mengerikan.

“Ibu belum tidur?”

Sari menatap ke belakang putrinya.

Kosong.

“Kamu tadi bicara dengan siapa?”

Alya diam.

“Dengan Raka?”

Ekspresi Alya berubah.

“Ibu sekarang percaya?”

Sari berjongkok agar wajah mereka sejajar.

“Kalau Raka benar-benar ada, Ibu ingin bicara dengannya.”

Mata Alya melebar.

“Jangan.”

“Kenapa?”

“Karena kalau Ibu bisa melihatnya, berarti waktunya sudah dekat.”

“Waktu apa?”

Alya langsung menutup mulut.

Seolah ia baru mengatakan sesuatu yang seharusnya dirahasiakan.

Malam itu Sari tidak tidur.

Keesokan paginya, tanpa memberi tahu Bu Aminah, ia menemui Ustaz Rahman.

Lelaki itu terdiam ketika mendengar cerita Sari.

“Saya mau Anda datang lagi,” kata Sari.

“Saya sudah bilang, jangan memaksa.”

“Anak saya semakin aneh.”

Ustaz Rahman menggeleng.

“Justru itu masalahnya. Alya mungkin bukan sedang diganggu.”

Sari mengernyit.

“Maksud Anda?”

“Gangguan biasanya membuat korbannya menderita. Tapi sesuatu yang bersama Alya justru melindunginya.”

“Itu bagus, kan?”

“Tidak ada perlindungan seperti itu yang gratis.”

Kalimat tersebut membuat dada Sari sesak.

Ia teringat perkataan Ustaz Rahman sebelumnya.

Kesetiaan.

“Apa yang harus saya lakukan?”

“Cari tahu kapan semuanya bermula.”

Sari pulang dengan satu pertanyaan yang terus berputar di kepalanya.

Kapan Alya pertama kali menyebut Raka?

Ia membuka lemari lama, mencari buku harian, foto, dan catatan sekolah Alya. Sampai akhirnya ia menemukan sebuah kotak kardus milik mendiang suaminya, Dimas.

Di dalamnya terdapat dokumen kecelakaan dua tahun lalu.

Sari hampir menutup kotak itu.

Ia masih tidak sanggup membaca detail kematian suaminya.

Namun sebuah foto membuat tangannya berhenti.

Foto lokasi kecelakaan.

Mobil Dimas terbalik di pinggir jalan kawasan Puncak.

Di belakang mobil itu berdiri sebuah bangunan tua.

Sari mengenalinya.

Sebuah vila kosong.

Tiga bulan lalu, saat liburan sekolah, Bu Aminah pernah membawa Alya dan Nisa mengunjungi saudara mereka di kawasan yang sama.

Malam itu Sari langsung bertanya kepada ibunya.

“Ibu pernah berhenti di vila ini?”

Bu Aminah melihat foto tersebut.

Wajahnya berubah.

“Kenapa kamu tanya?”

“Jawab dulu.”

Bu Aminah akhirnya duduk.

“Waktu pulang dari rumah Tante Rina, Alya minta buang air kecil. Kami berhenti dekat vila kosong itu.”

“Alya masuk?”

“Cuma halaman.”

“Sendirian?”

Bu Aminah tidak menjawab.

“Ibu!”

“Dia hilang mungkin sepuluh menit.”

Sari merasa darahnya mengalir dingin.

“Kenapa Ibu tidak pernah cerita?”

“Karena akhirnya ketemu. Alya berdiri di belakang vila. Dia bilang sedang bicara dengan anak laki-laki.”

Sari langsung berdiri.

“Namanya?”

Bu Aminah menelan ludah.

“Raka.”

Malam berikutnya Sari masuk ke kamar Alya tanpa mengetuk.

Putrinya sedang menggambar.

Seorang anak perempuan berdiri bergandengan tangan dengan sosok hitam tinggi.

Di atas kepala sosok itu tertulis satu nama.

RAKA.

Sari mengambil gambar tersebut.

“Alya, kita harus bicara.”

Alya memandang ibunya dengan kecewa.

“Ibu tidak boleh mengambil itu.”

“Kamu bertemu Raka pertama kali di vila?”

Alya tidak menjawab.

“Jawab Ibu.”

“Iya.”

“Apa yang dia katakan?”

Alya menunduk.

“Dia bilang dia kenal Ayah.”

Jantung Sari seperti berhenti.

“Apa?”

“Raka bilang Ayah pernah datang ke sana.”

Sari mencengkeram kertas itu.

“Kapan?”

“Waktu Ayah meninggal.”

Sari mundur satu langkah.

Tidak mungkin.

Kecelakaan Dimas memang terjadi beberapa puluh meter dari vila tersebut.

“Apa lagi yang Raka bilang?”

Alya mulai menangis.

“Dia bilang Ayah minta dia menjaga aku.”

Sari tidak tahu apakah harus marah atau takut.

“Itu bohong.”

“Bukan!”

“Ayahmu tidak pernah percaya hal-hal seperti ini.”

Alya berdiri.

“Raka tahu banyak tentang Ayah.”

“Apa?”

“Dia tahu Ayah memanggil Ibu ‘Sarsar’ kalau sedang bercanda.”

Sari membeku.

Tidak seorang pun mengetahui panggilan itu.

Hanya Dimas.

“Alya…”

“Dia juga tahu cincin pernikahan Ayah tidak hilang.”

Sari merasa lututnya lemas.

Cincin Dimas tidak ditemukan setelah kecelakaan.

“Di mana?”

Alya menunjuk lemari.

“Di bawah pohon belakang vila.”

Dua hari kemudian, Sari pergi ke vila itu bersama Ustaz Rahman dan Bu Aminah.

Mereka menemukan pohon mangga tua di belakang bangunan.

Setelah menggali tanah hampir setengah meter, sekop Sari mengenai benda logam.

Sebuah cincin.

Cincin pernikahan Dimas.

Sari terduduk di tanah sambil menangis.

Namun Ustaz Rahman justru menatap vila dengan wajah tegang.

“Kita harus pergi.”

“Kenapa?”

“Sekarang.”

Saat mereka kembali ke rumah, Alya sudah menunggu di teras.

Wajahnya marah.

“Kalian mengambil barang Raka.”

“Itu milik Ayah,” kata Sari.

“Raka menjaganya!”

Sari memeluk putrinya.

“Alya, dengarkan Ibu. Apa pun yang dia janjikan, kamu tidak membutuhkan dia.”

Alya mendorong tubuh ibunya.

“Kalau Raka pergi, kita semua mati!”

Sari terdiam.

Alya langsung menutup mulut.

Ustaz Rahman berjongkok.

“Kenapa?”

Alya menangis semakin keras.

“Karena perjanjiannya belum selesai.”

Perlahan, rahasia itu terbuka.

Pada malam kecelakaan dua tahun lalu, Dimas ternyata tidak langsung meninggal.

Ia terlempar dari mobil dan merangkak menuju vila untuk mencari pertolongan.

Tidak ada seorang pun di sana.

Menurut cerita Raka kepada Alya, dalam kondisi sekarat Dimas memohon agar keluarganya dilindungi.

Ia berjanji akan memberikan apa pun.

Dan sesuatu menjawab.

Dimas meninggal beberapa menit kemudian.

Tetapi janjinya tetap tinggal.

“Raka bilang Ayah berutang,” bisik Alya.

Sari menggenggam tangan putrinya.

“Utang apa?”

Alya menggeleng.

“Aku tidak boleh bilang.”

“Alya.”

Anak itu akhirnya menatap Nisa yang sedang tidur di sofa.

Sari langsung memahami.

Wajahnya pucat.

“Tidak.”

Alya menangis.

“Raka bilang dia sudah menjaga kita dua tahun. Dia menyelamatkan Ibu, Nenek, Nisa…”

“Tidak!”

Sari memeluk Nisa.

“Dia tidak akan mengambil siapa pun.”

Malam itu mereka memutuskan membawa Alya pergi.

Ustaz Rahman menyarankan agar mereka tidak menantang apa pun yang diyakini Alya secara langsung. Yang paling penting adalah menjauhkan Alya dari vila dan membantunya memahami bahwa rasa takut tidak boleh mengendalikan hidupnya.

Mereka berencana tinggal sementara di rumah saudara di Bandung.

Namun sebelum subuh, Nisa menghilang.

Pintu belakang terbuka.

Di lantai terdapat gambar buatan Alya.

Gambar vila.

Sari berlari ke kamar Alya.

Kosong.

Mereka pergi bersama.

Sari hampir kehilangan akal.

Ia, Bu Aminah, dan Ustaz Rahman langsung menuju vila.

Hujan turun ketika mobil berhenti.

Di belakang bangunan, mereka menemukan Alya berdiri sambil menggandeng Nisa.

Di depannya, di bawah pohon mangga, terlihat bayangan tinggi.

Kali ini Sari melihatnya.

Bukan samar.

Bukan permainan cahaya.

Sosok itu berdiri hampir tiga meter. Tubuhnya gelap, tetapi bentuknya terus berubah seperti asap.

“Alya!”

Sari berlari.

Bayangan itu bergerak.

Suara berat memenuhi halaman.

“Jangan.”

Sari berhenti.

Alya menangis.

“Maaf, Bu.”

“Bawa Nisa ke sini.”

“Aku tidak bisa.”

“Kenapa?”

“Karena Raka harus mengambil satu.”

Sari merasa dunianya runtuh.

“Ambil aku.”

Bayangan itu diam.

Sari maju.

“Dimas yang membuat janji. Aku istrinya. Ambil aku.”

“Bu, jangan!”

Namun suara dari kegelapan terdengar seperti tawa.

“Bukan kamu yang dijanjikan.”

Sari menatap Alya.

Kemudian Nisa.

“Siapa?”

Alya menutup wajah sambil menangis.

“Aku.”

Sari membeku.

“Ayah tidak menjanjikan Nisa,” kata Alya terisak. “Raka bohong supaya aku takut.”

Bayangan itu bergerak mendekati Alya.

“Dia milikku.”

Sari langsung memeluk putrinya.

“Tidak.”

Ustaz Rahman mulai membaca doa dengan suara pelan. Bu Aminah membawa Nisa menjauh.

Namun Alya tiba-tiba berteriak.

“Berhenti!”

Semua terdiam.

Alya menatap bayangan itu.

Untuk pertama kalinya, ketakutan di wajahnya berubah menjadi kemarahan.

“Kamu bilang kamu temanku.”

“Aku menjagamu.”

“Kamu membuat teman-temanku takut.”

“Mereka menyakitimu.”

“Kamu membuat Ibu takut.”

“Aku menyelamatkannya.”

Alya menggeleng.

“Itu bukan menjaga.”

Bayangan tersebut seperti membesar.

“Ayahmu memberimu kepadaku.”

“Bohong.”

Suasana mendadak sunyi.

Alya mengeluarkan sesuatu dari saku piyamanya.

Ponsel lama milik ayahnya.

Sari mengenalinya.

Ponsel itu ditemukan rusak di lokasi kecelakaan dan selama dua tahun tersimpan di lemari.

“Aku memperbaikinya sama Om Arif minggu lalu,” kata Alya.

Tangannya gemetar saat membuka sebuah rekaman suara.

Suara Dimas terdengar.

Lemah.

Terputus-putus.

“Sari… kalau kamu menemukan ini… maaf…”

Sari menutup mulut.

Itu rekaman terakhir suaminya.

“Aku tadi melihat sesuatu… mungkin aku mulai kehilangan kesadaran…”

Suara napas Dimas terdengar berat.

“Aku takut. Aku cuma ingin kalian selamat. Tapi apa pun yang terjadi… jangan pernah menukar hidup siapa pun untuk menyelamatkan yang lain.”

Bayangan di depan mereka mulai bergerak liar.

Rekaman terus berjalan.

“Kalau ada sesuatu yang mendengar aku… aku tidak menjanjikan anakku. Aku tidak memberikan keluargaku. Mereka bukan milikku untuk diberikan.”

Alya menatap Raka.

“Ayah tidak pernah memberikan aku.”

Bayangan itu mengeluarkan suara menggelegar.

Pohon-pohon berguncang.

Kaca vila pecah.

Sari memeluk Alya sekuat tenaga.

Kemudian sesuatu yang tidak pernah ia duga terjadi.

Bayangan itu menyusut.

Perlahan.

Dari sosok raksasa menjadi bentuk manusia.

Lalu menjadi seorang anak laki-laki.

Usianya mungkin delapan atau sembilan tahun.

Wajahnya pucat.

Pakaiannya tampak kuno.

Ia menatap Alya.

Bukan dengan marah.

Dengan sedih.

“Aku cuma tidak mau sendirian lagi.”

Alya menangis.

Sari menatap Ustaz Rahman.

Lelaki itu tidak berkata apa-apa.

Anak laki-laki itu menunjuk ke bawah pohon.

“Namaku bukan Raka.”

Tanah di bawah kaki mereka seperti baru saja ambles setelah hujan.

Di antara akar terlihat potongan kain dan sesuatu yang menyerupai gelang kecil berkarat.

Polisi dipanggil keesokan harinya.

Penggalian menemukan kerangka seorang anak yang diperkirakan telah terkubur puluhan tahun.

Penyelidikan lama akhirnya mengungkap bahwa vila itu pernah dihuni sebuah keluarga pada akhir 1980-an. Anak mereka, Farhan, dilaporkan hilang pada usia delapan tahun.

Kasusnya tidak pernah terpecahkan.

Sampai hari itu.

Sari tidak pernah tahu mana dari semua yang mereka alami yang bisa dijelaskan secara masuk akal dan mana yang tidak.

Namun sejak jasad Farhan dimakamkan dengan layak, Alya tidak pernah lagi berbicara kepada Raka.

Tidak ada lagi peringatan tentang kecelakaan.

Tidak ada bayangan di dinding.

Tidak ada suara di tengah malam.

Beberapa bulan kemudian Alya mulai bermain sepeda lagi.

Suatu sore, Sari melihat putrinya tertawa bersama teman-temannya di depan rumah.

Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, rumah mereka terasa normal.

Sari menghampiri Alya.

“Kamu kangen Raka?”

Alya terdiam sebentar.

“Kadang.”

“Kamu masih takut?”

Alya menggeleng.

“Sekarang aku ngerti.”

“Ngerti apa?”

Alya memandang langit yang mulai berwarna jingga.

“Kalau seseorang benar-benar sayang sama kita, dia tidak akan membuat kita takut supaya kita tetap bersamanya.”

Sari memeluk putrinya.

Malam itu, setelah Alya tidur, Sari membuka kembali rekaman terakhir Dimas.

Ada bagian yang sebelumnya tidak terdengar karena tertutup suara hujan.

Ia menaikkan volume.

Setelah kalimat terakhir Dimas, terdengar suara anak kecil dari kejauhan.

“Aku tidak mau anakmu.”

Sari membeku.

Kemudian suara itu melanjutkan.

“Aku cuma ingin seseorang menemukanku.”

Sari menatap ke arah kamar Alya.

Saat itulah ia akhirnya memahami semuanya.

Farhan mungkin tidak pernah meminta nyawa siapa pun.

Ketakutan merekalah yang mengubah permintaan seorang anak yang kesepian menjadi ancaman mengerikan.

Dan Alya bukan anak yang dipilih untuk menjadi korban.

Sejak awal, dialah satu-satunya orang yang mau mendengarkan.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang