“SATU DARI KALIAN HARUS TINGGAL.”
Tulisan itu membuat tengkukku dingin.
Nova berdiri di sampingku tanpa bergerak. Jemarinya masih mencengkeram lenganku begitu kuat sampai kukunya terasa menekan kulit.
“Ran…” suaranya nyaris tak terdengar. “Semalam kertas ini nggak ada, kan?”
“Nggak ada.”
Aku ingin mengatakan bahwa mungkin ayahnya sedang mengerjai kami. Mungkin Nova sendiri melakukannya saat aku tidur. Mungkin semua kejadian semalam hanyalah rangkaian kebetulan yang kebetulan terasa menyeramkan.
Namun sebelum aku sempat mencari penjelasan, radio tua di atas meja kembali berdesis.
Krrrssshhh…
Tombol frekuensinya bergerak perlahan.
Lalu berhenti di antara dua frekuensi.
Suara statis memenuhi ruang keluarga.
Kemudian terdengar suara seorang perempuan.
“Dua puluh tiga tahun…”
Nova menatapku.
Radio kembali berdesis.

“Sudah dua puluh tiga tahun.”
Tiba-tiba terdengar suara benda jatuh dari arah dapur.
Kami menoleh bersamaan.
Ayah Nova berdiri di ambang pintu.
Cangkir kopi yang tadi dipegangnya sudah pecah di lantai.
Wajahnya pucat.
Untuk pertama kalinya sejak aku mengenal Pak Damar, aku melihat ketakutan nyata di matanya.
“Ayah?” Nova mendekatinya. “Kenapa?”
Pak Damar tidak menjawab.
Tatapannya terpaku pada radio.
“Dari mana kalian dapat benda itu?”
Nova menjelaskan bahwa ia membelinya dua hari lalu dari seorang pedagang barang antik di Jalan Cihapit.
Pak Damar langsung berjalan cepat menuju meja.
“Buang.”
Ia meraih radio.
Radio itu mendadak menyala.
Suara perempuan tadi terdengar lagi.
“Damar.”
Tangan Pak Damar berhenti di udara.
Nova membeku.
Aku bahkan lupa bernapas.
Suara itu mengenal namanya.
“Damar… akhirnya kamu mendengarkanku.”
Pak Damar mundur satu langkah.
“Nggak mungkin.”
Radio berdesis.
Lalu terdengar suara tangisan pelan.
Pak Damar langsung mematikan radio, mencabut kabelnya, kemudian mengangkat benda itu.
“Ayah mau bawa ke mana?” tanya Nova.
“Buang.”
“Ayah kenal suara tadi?”
“Nggak.”
Jawabannya terlalu cepat.
Nova menatap ayahnya lama.
“Ayah bohong.”
Pak Damar berhenti.
Nova jarang berbicara keras kepada ayahnya. Sejak ibunya meninggal ketika Nova masih kecil, hubungan mereka sangat dekat. Setidaknya itulah yang selama ini kuketahui.
Tetapi pagi itu ada sesuatu yang berubah.
“Siapa perempuan tadi?”
“Nggak ada siapa-siapa.”
“Dia tahu nama Ayah.”
“Nova, cukup.”
Pak Damar membawa radio keluar rumah.
Beberapa menit kemudian terdengar suara mobil menyala.
Aku dan Nova berdiri di ruang keluarga dalam diam.
“Ayahku tahu sesuatu,” bisiknya.
Aku tidak membantah.
Sekitar satu jam kemudian Pak Damar pulang tanpa radio.
Katanya ia sudah membuangnya ke tempat sampah besar beberapa kilometer dari rumah.
“Jangan pernah melakukan permainan seperti itu lagi,” katanya.
Nova ingin bertanya, tetapi Pak Damar langsung masuk kamar.
Kami sepakat tidak membicarakannya lagi.
Setidaknya sampai malam.
Sekitar pukul sebelas, kami mendengar suara musik dari ruang keluarga.
Nova langsung duduk.
“Ran.”
“Aku dengar.”
Kami keluar kamar.
Langkah kami berhenti bersamaan.
Radio itu kembali berada di atas meja.
Masih berdebu.
Masih memiliki goresan panjang di sisi kirinya.
Padahal Pak Damar sudah membuangnya.
Radio menyala sendiri.
Krrrssshhh…
Lalu suara perempuan itu muncul.
“Cari di bawah tangga.”
Nova menelan ludah.
“Apa maksudnya?”
“Jangan.”
Aku menarik tangannya.
Namun rasa takut Nova tampaknya sudah dikalahkan rasa penasaran.
Rumah itu memiliki tangga menuju lantai dua. Di bawahnya ada gudang kecil yang selama bertahun-tahun digunakan untuk menyimpan kardus dan barang lama.
Nova mengambil senter.
Kami membuka pintunya.
Bau lembap langsung menyergap.
Kami memindahkan beberapa kardus sampai menemukan papan kayu kecil di bagian belakang.
Salah satu sekrupnya sudah berkarat.
Setelah beberapa menit, Nova berhasil membukanya.
Di balik papan itu terdapat sebuah kotak besi.
Nova menariknya keluar.
Di dalamnya ada beberapa foto lama, kaset pita, surat, dan sebuah kartu mahasiswa.
Aku mengambil kartu itu.
Nama perempuan di sana tertulis jelas.
Maya Prameswari.
Foto pada kartu menunjukkan perempuan muda berambut sebahu.
Aku merasa pernah melihat wajah itu.
“Nova…”
Nova sudah mengambil salah satu foto.
Tangannya gemetar.
Foto itu memperlihatkan Pak Damar ketika masih muda berdiri bersama Maya.
Mereka berpelukan.
Di belakang foto tertulis:
Bandung, 2003.
Tahun itu tepat dua puluh tiga tahun lalu.
Kami belum sempat memeriksa semuanya ketika suara terdengar dari belakang.
“Kalian ngapain?”
Pak Damar berdiri di pintu gudang.
Wajahnya berubah ketika melihat kotak itu.
Nova bangkit.
“Siapa Maya?”
Pak Damar diam.
“Jawab, Yah.”
“Maya teman lama Ayah.”
“Teman?”
Nova mengangkat foto mereka.
“Teman seperti ini?”
Pak Damar menutup mata.
Ia tampak seperti seseorang yang selama bertahun-tahun membangun dinding, lalu melihatnya runtuh dalam satu malam.
“Maya pacar Ayah sebelum Ayah menikah dengan ibumu.”
Nova terdiam.
“Apa yang terjadi padanya?”
Pak Damar tidak menjawab.
Radio di ruang keluarga tiba-tiba menyala.
Krrrssshhh…
Kemudian suara perempuan itu berkata,
“Tanyakan tentang malam di Dago.”
Wajah Pak Damar langsung berubah.
Nova menatap ayahnya.
“Malam apa?”
“Sudah cukup.”
“Ayah!”
Pak Damar membentak, “CUKUP!”
Rumah mendadak sunyi.
Beberapa detik kemudian ia terduduk.
Bahunya jatuh.
“Ayah pikir semuanya sudah selesai.”
Ia mulai bercerita.
Dua puluh tiga tahun lalu, Pak Damar, Maya, dan beberapa teman kuliah menghadiri pesta kecil di sebuah vila kawasan Dago.
Maya ingin pulang lebih awal karena mereka bertengkar.
Pak Damar saat itu sedang mabuk.
Maya mengambil mobilnya.
Pak Damar ikut karena ingin menyelesaikan pertengkaran.
Di perjalanan mereka kembali berdebat.
Mobil kehilangan kendali.
Menabrak pembatas jalan.
Pak Damar selamat.
Maya tidak.
“Polisi bilang kecelakaan,” katanya dengan suara bergetar.
Nova menatapnya.
“Lalu kenapa Ayah menyembunyikan semua ini?”
Pak Damar tidak menjawab.
Radio kembali berbunyi.
“Katakan semuanya.”
Pak Damar menutup wajahnya.
“Ayah yang nyetir.”
Nova seperti kehilangan kemampuan bicara.
“Apa?”
“Maya mau menyetir, tapi Ayah merebut kuncinya. Ayah bilang Ayah masih sanggup.”
Aku merasakan perutku mual.
“Setelah kecelakaan,” lanjutnya, “Ayah panik. Ayah memindahkan Maya ke kursi pengemudi sebelum orang datang.”
Nova mundur.
“Jadi selama dua puluh tiga tahun semua orang mengira dia yang mengemudi?”
Air mata mulai mengalir di wajah Pak Damar.
“Iya.”
Nova langsung meninggalkan ruangan.
Aku menyusulnya.
Ia berdiri di halaman belakang sambil menangis tanpa suara.
“Aku selalu pikir ayahku orang paling jujur yang aku kenal.”
Aku tidak tahu harus berkata apa.
Sekitar tengah malam, Nova memutuskan menghubungi polisi keesokan paginya.
Pak Damar tidak melarang.
“Ayah akan mengaku,” katanya.
Aku mengira itulah akhir semuanya.
Ternyata bukan.
Pukul dua dini hari, radio kembali menyala.
Kali ini bukan suara Maya.
Suara laki-laki.
“Kalian belum menemukan kebenarannya.”
Aku dan Nova saling menatap.
Pak Damar keluar dari kamar.
“Apa lagi?”
Radio mengeluarkan suara rekaman.
Seperti suara dari kaset lama.
Terdengar suara Maya.
“Aku takut, Dam.”
Lalu suara Pak Damar muda.
“Aku cuma butuh uangnya.”
“Aku nggak mau ikut lagi.”
“Sudah terlambat.”
Rekaman berhenti.
Pak Damar tampak kebingungan.
“Itu bukan soal kecelakaan.”
Nova mendekati radio.
“Soal apa?”
Radio menjawab,
“Putar kasetnya.”
Kami kembali membuka kotak besi.
Ada tiga kaset.
Kaset kedua memiliki tulisan tangan.
PROYEK P.
Pak Damar langsung mencoba merebutnya.
Nova mundur.
“Apa ini?”
Pak Damar tidak menjawab.
Kami memiliki pemutar kaset tua di gudang. Setelah dibersihkan, kaset itu berhasil diputar.
Suara Maya terdengar.
Ia merekam pembicaraan Pak Damar dan seorang lelaki lain.
Mereka membicarakan dokumen tanah, tanda tangan palsu, dan pembayaran kepada seseorang.
Pak Damar ternyata pernah bekerja untuk perusahaan properti milik ayahnya sendiri.
Perusahaan itu membeli tanah warga dengan menggunakan dokumen yang dimanipulasi.
Maya mengetahui semuanya.
Ia berniat melapor.
Malam kecelakaan itu, pertengkaran mereka bukan tentang hubungan.
Maya membawa bukti.
Pak Damar mengejarnya.
Nova menatap ayahnya dengan wajah hancur.
“Jadi Ayah mengejar dia karena ini?”
Pak Damar menangis.
“Ayah cuma mau mengambil dokumennya. Ayah nggak pernah ingin Maya mati.”
“Tapi Ayah bohong selama dua puluh tiga tahun.”
Pak Damar tidak mampu menjawab.
Pagi harinya polisi datang.
Pak Damar menyerahkan rekaman, dokumen, dan memberikan keterangan.
Penyelidikan lama dibuka kembali.
Beberapa bulan kemudian, kasus itu berkembang jauh lebih besar daripada yang kami bayangkan. Dokumen dalam kotak mengungkap praktik manipulasi tanah yang melibatkan perusahaan keluarga Pak Damar pada awal 2000-an.
Namun ada satu hal yang tidak pernah bisa dijelaskan.
Radio itu.
Setelah Pak Damar dibawa untuk pemeriksaan, radio berhenti menyala.
Tidak ada suara.
Tidak ada frekuensi bergerak sendiri.
Nova ingin membuangnya.
Aku setuju.
Namun sebelum melakukannya, aku memperhatikan sesuatu di bagian belakang radio.
Ada stiker servis yang hampir terkelupas.
Aku membacanya.
Toko Elektronik Prameswari.
Nama itu membuat kami membeku.
Kami mencari alamat toko tersebut.
Tempatnya masih ada.
Pemiliknya seorang lelaki berusia sekitar enam puluh tahun bernama Pak Arif.
Ketika melihat radio itu, wajahnya berubah.
“Dari mana kalian dapat ini?”
Nova menjelaskan semuanya.
Pak Arif duduk lama sebelum akhirnya berbicara.
Radio itu milik adiknya.
Maya Prameswari.
Sebelum meninggal, Maya sering merekam suara menggunakan perangkat yang terhubung ke radio tersebut.
“Dia suka merekam percakapan,” kata Pak Arif. “Katanya suatu hari suara bisa lebih jujur daripada manusia.”
Nova bertanya tentang suara yang kami dengar.
Pak Arif memeriksa radio selama hampir satu jam.
Ia menemukan modul pemancar kecil tersembunyi di dalamnya.
Modul itu jauh lebih baru daripada radio.
Artinya seseorang telah memodifikasinya.
Bukan hantu.
Seseorang mengendalikan radio dari jarak dekat.
Kami langsung melapor.
Dua hari kemudian polisi menemukan jawabannya.
Pedagang yang menjual radio kepada Nova bukan pedagang biasa.
Namanya Reza Prameswari.
Putra Pak Arif.
Keponakan Maya.
Reza mengaku menemukan kaset Maya bertahun-tahun sebelumnya. Dari rekaman itu, ia mengetahui sebagian kebenaran, tetapi tidak memiliki cukup bukti untuk membuka kembali kasus.
Ia kemudian mencari Pak Damar.
Ketika mengetahui putrinya, Nova, menyukai barang antik dan sering datang ke pasar loak, ia menyusun rencana.
Radio itu sengaja dibuat agar jatuh ke tangan Nova.
Speaker pintar di kamar juga berhasil diakses karena Nova pernah menghubungkannya dengan jaringan perangkat radio untuk bereksperimen beberapa hari sebelumnya.
Bayangan.
Lampu.
Suara.
Sebagian besar bisa dijelaskan.
Namun aku masih punya satu pertanyaan.
“Kalau begitu, siapa yang mencekik aku malam pertama?”
Reza menatapku lama.
“Aku nggak pernah masuk rumah itu.”
“Nova sampai pingsan.”
“Aku juga nggak melakukan itu.”
Aku menoleh kepada Nova.
Wajahnya pucat.
Masih ada satu hal lagi.
Kertas bertuliskan SATU DARI KALIAN HARUS TINGGAL.
Reza juga menyangkal membuatnya.
Kami pulang tanpa jawaban.
Malam itu Nova memutuskan radio tersebut akan diserahkan kepada polisi sebagai barang bukti.
Sebelum tidur, kami meletakkannya di dalam kardus dan menutupnya rapat.
Sekitar pukul tiga pagi, aku terbangun.
Tidak ada musik.
Tidak ada lampu berkedip.
Hanya suara sangat pelan dari ruang keluarga.
Krrrssshhh…
Aku membangunkan Nova.
Kami berjalan keluar.
Kardus masih tertutup.
Namun suara radio berasal dari dalamnya.
Nova membuka kardus perlahan.
Radio menyala.
Padahal baterainya sudah dilepas.
Tombol frekuensi bergerak sendiri.
Kemudian suara Maya terdengar.
Jernih.
Tenang.
“Terima kasih.”
Kami tidak bergerak.
Lalu suara itu melanjutkan,
“Sekarang aku bisa pulang.”
Radio mati.
Untuk selamanya.
Nova menangis.
Bukan karena takut.
Mungkin karena akhirnya ia memahami bahwa ada rahasia yang bisa dikubur selama puluhan tahun, tetapi tidak pernah benar-benar hilang.
Beberapa bulan kemudian, Pak Damar menjalani proses hukum dan menerima konsekuensi atas perbuatannya. Hubungan Nova dengan ayahnya tidak pernah kembali seperti dulu, tetapi ia tetap mengunjunginya.
Suatu hari aku bertanya kenapa.
Nova menjawab sesuatu yang sampai sekarang masih kuingat.
“Memaafkan seseorang bukan berarti menghapus kesalahannya. Kadang kita memaafkan supaya kesalahan orang itu nggak ikut mengendalikan hidup kita.”
Radio tua itu akhirnya dikembalikan kepada keluarga Maya.
Sebelum menyerahkannya, aku sempat melihat bagian bawah radio.
Ada tulisan kecil yang tergores di kayunya.
Tulisan yang sebelumnya tidak pernah kami sadari.
M.P. 2003.
Di bawahnya ada satu kalimat.
Jika suatu hari aku tidak bisa bicara, biarkan suaraku yang menemukan kebenaran.
Aku tidak tahu apakah suara terakhir malam itu berasal dari teknologi yang belum kami pahami, rekaman tersembunyi yang belum ditemukan, atau sesuatu yang memang tidak bisa dijelaskan.
Tetapi sejak kejadian itu, aku tidak lagi menertawakan Nova ketika dia mengatakan beberapa benda menyimpan energi masa lalu.
Aku hanya tidak pernah mau melakukan ritual lagi.
Dan sampai hari ini, setiap kali sebuah radio tua tiba-tiba mengeluarkan suara statis di tengah malam, aku selalu teringat satu kalimat.
Jangan matikan radio itu.
