Selama Tiga Tahun Aku Merawat Suamiku yang Pura-Pura Lumpuh, Sampai Satu Langkah Ceroboh Membongkar Pengkhianatan dan Rahasia di Balik Kebakaran Itu

Aku membaca pesan itu berulang kali sampai huruf-huruf di layar terasa kabur.

“Semua rekaman CCTV malam kebakaran sudah kuhapus. Nadira tidak akan pernah tahu siapa yang menyalakan api itu.”

Pesan itu dikirim oleh Maya.

Tanganku dingin. Selama tiga tahun aku percaya kebakaran itu adalah kecelakaan. Korsleting listrik, begitu kata polisi saat itu. Tidak ada korban jiwa, tidak ada bukti yang cukup untuk mencurigai siapa pun, dan kasus pun ditutup.

Namun sekarang satu kalimat di ponsel tua itu menghancurkan semua yang selama ini kupercaya.

Aku ingin langsung menelepon polisi. Tetapi sebelum sempat melakukannya, terdengar suara kunci dari pintu depan.

Arga pulang.

Aku buru-buru memotret layar ponsel dengan ponselku sendiri, lalu memasukkan perangkat lama itu ke dalam koper.

“Nadira!”

Suara Arga terdengar dari ruang tengah.

Aku menarik napas panjang sebelum keluar.

Ia berdiri di dekat sofa tanpa tongkat.

Tidak ada lagi alasan untuk berpura-pura.

“Jadi sekarang kamu tidak perlu kursi roda lagi?” tanyaku.

Arga menatapku beberapa detik.

“Aku bisa menjelaskan.”

“Tiga tahun?”

“Aku punya alasan.”

“Alasan untuk membiarkan istrimu memandikanmu, memijat kakimu setiap malam, mengantarmu terapi, dan bekerja sampai larut untuk membayar biaya pengobatan yang bahkan tidak kamu butuhkan?”

Wajahnya mengeras.

“Aku tidak pernah menyuruhmu melakukan semua itu.”

Kalimat itu jauh lebih menyakitkan daripada bentakannya selama tiga tahun terakhir.

Aku mengangguk perlahan.

“Benar. Aku melakukannya karena aku mencintaimu.”

Arga terdiam.

Aku mengambil koper.

Saat melewatinya, tangannya mencengkeram lenganku.

“Kamu mau ke mana?”

“Pergi.”

“Kita belum selesai bicara.”

“Bagiku sudah.”

Cengkeramannya semakin kuat.

Untuk pertama kalinya, aku tidak melihat seorang suami yang frustrasi karena kehilangan kemampuan berjalan.

Aku melihat laki-laki yang selama bertahun-tahun memanfaatkan rasa bersalahku.

“Lepaskan.”

Mungkin ada sesuatu dalam tatapanku yang berbeda malam itu. Arga akhirnya melepaskan tangannya.

Aku berjalan keluar tanpa menoleh.

Aku menginap di rumah sahabat lamaku, Sinta, seorang mantan penari yang sekarang bekerja sebagai pengacara di Jakarta dan sedang berada di Bandung untuk mengurus perkara.

Ketika melihat bekas merah di lenganku dan ponsel tua yang kubawa, ia tidak banyak bertanya.

Kami memeriksa percakapan lama Arga dan Maya sampai hampir pukul tiga pagi.

Sebagian besar pesan biasa.

Pertemuan rahasia.

Ucapan rindu.

Foto.

Namun semakin jauh kami menggulir, semakin jelas bahwa hubungan mereka sudah berlangsung sebelum kebakaran.

Lalu kami menemukan pesan yang membuat Sinta langsung duduk tegak.

“Aku cuma mau membuat Nadira gagal tampil besok. Aku tidak menyangka apinya akan sebesar itu.”

Pesan dari Maya.

Balasan Arga muncul dua menit kemudian.

“Aku sudah bilang jangan panik. Aku akan urus semuanya.”

Aku merasa mual.

Sinta mengambil ponsel itu dari tanganku.

“Jangan sentuh apa pun lagi. Kita serahkan perangkat ini sebagai barang bukti.”

Aku menutup wajah dengan kedua tangan.

“Tapi kenapa?”

Sinta diam.

Aku sudah tahu jawabannya.

Maya menginginkan posisiku.

Saat itu aku sedang mempersiapkan pertunjukan terbesar dalam karierku. Koreografi utama dibuat olehku, dan sebuah perusahaan hiburan dari Jakarta akan datang untuk mencari penari yang akan dikontrak selama dua tahun.

Maya adalah penggantiku.

Kalau aku tidak tampil, dialah yang naik panggung.

Namun masih ada satu pertanyaan.

Mengapa Arga melindunginya?

Jawabannya muncul keesokan paginya.

Sinta menemukan sebuah percakapan yang disembunyikan dalam folder arsip.

Tiga hari sebelum kebakaran, Arga menulis kepada Maya.

“Setelah kontrakmu keluar, kita punya cukup uang untuk pergi. Tapi Nadira jangan sampai curiga sebelum semuanya selesai.”

Dadaku terasa kosong.

Jadi bukan hanya perselingkuhan.

Mereka sudah merencanakan hidup bersama.

Aku hanyalah penghalang.

Kami menyerahkan ponsel itu kepada polisi dan meminta agar kasus lama diperiksa kembali. Aku juga memberikan semua foto layar yang sudah kusimpan.

Namun sore harinya, Arga menelepon.

Aku tidak menjawab.

Ia menelepon lagi.

Lalu lagi.

Pada panggilan ketujuh, Sinta berkata, “Angkat. Rekam.”

Aku menekan tombol.

“Nadira, pulang.”

“Tidak.”

“Kita bisa menyelesaikan ini baik-baik.”

“Seperti kamu menyelesaikan kebakaran itu?”

Hening.

Hanya beberapa detik, tetapi cukup.

“Aku tidak tahu apa yang kamu bicarakan.”

“Aku menemukan ponsel lamamu.”

Napasnya berubah.

“Nadira, dengarkan aku.”

“Sekarang aku mendengarkan.”

“Maya tidak berniat membakar studio.”

Aku menutup mata.

Dia baru saja mengaku.

“Maya cuma ingin merusak kostummu dan membuatmu gagal tampil. Dia menyalakan api kecil di gudang properti. Tapi ada cairan pembersih di sana. Api menyebar terlalu cepat.”

“Dan kamu menghapus CCTV?”

“Aku cuma ingin melindunginya.”

“Lalu aku?”

Arga terdiam.

“Siapa yang melindungiku?”

Tidak ada jawaban.

Aku tertawa kecil, tetapi air mata mengalir.

“Tiga tahun, Arga.”

“Aku masuk ke gedung untuk menyelamatkanmu!”

“Lalu kenapa kamu pura-pura lumpuh?”

Suara di seberang berubah pelan.

“Karena setelah kebakaran, kamu mulai bertanya terlalu banyak.”

Aku membeku.

“Kamu ingin kembali ke studio. Kamu ingin melihat rekaman. Kamu ingin bicara dengan teknisi. Kalau kamu terus mencari, cepat atau lambat kamu akan menemukan sesuatu.”

“Jadi kamu membuatku merasa bersalah.”

“Aku tidak punya pilihan.”

Aku hampir tertawa mendengar kalimat itu.

Tidak punya pilihan.

Selama tiga tahun dia punya pilihan setiap pagi ketika duduk di kursi roda.

Punya pilihan setiap malam ketika membiarkanku memijat kaki yang sehat.

Punya pilihan setiap kali menghancurkan barang-barangku.

Dan setiap kali, dia memilih berbohong.

“Aku punya satu pertanyaan,” kataku.

“Apa?”

“Kenapa kamu menyelamatkanku malam itu kalau sebenarnya kamu ingin hidup bersama Maya?”

Lama sekali Arga tidak menjawab.

Kemudian ia berkata pelan, “Karena aku tidak ingin kamu mati.”

Untuk sesaat, bagian bodoh dalam diriku hampir menganggap kalimat itu sebagai bukti bahwa pernah ada cinta.

Sampai ia melanjutkan.

“Aku cuma ingin kamu berhenti menari.”

Aku memutus sambungan.

Dua hari kemudian, Maya menghilang.

Apartemennya kosong. Nomornya tidak aktif. Manajernya mengaku tidak tahu keberadaannya.

Namun polisi menemukan sesuatu yang jauh lebih penting.

Data cadangan CCTV.

Ternyata teknisi studio tidak benar-benar menghapus seluruh rekaman. Sistem keamanan secara otomatis mengirim salinan berkala ke server perusahaan penyedia keamanan.

Tiga tahun lalu tidak ada yang memeriksanya karena polisi menerima informasi bahwa seluruh data rusak dalam kebakaran.

Rekaman itu menunjukkan Maya masuk ke gudang properti pukul 20.47.

Ia membawa sebuah botol.

Enam menit kemudian ia keluar terburu-buru.

Asap mulai terlihat pukul 20.56.

Tetapi ada bagian lain yang membuat penyidik terkejut.

Arga tiba di studio pukul 20.51.

Sebelum api membesar.

Ia bertemu Maya di lorong belakang.

Mereka berbicara hampir dua menit.

Kemudian Maya pergi.

Arga tidak langsung memperingatkan siapa pun.

Ia justru masuk ke ruang keamanan.

Api baru membesar beberapa menit kemudian.

Saat itulah ia berlari mencariku.

Aku tidak bisa tidur setelah mengetahui itu.

Arga sebenarnya punya waktu untuk menghentikan semuanya.

Ia bisa menarik alarm.

Ia bisa memperingatkan orang-orang.

Ia bisa memanggilku keluar.

Tetapi ia memilih menghapus bukti terlebih dahulu.

Aku hampir mati karena beberapa menit yang ia gunakan untuk melindungi Maya.

Seminggu kemudian, Maya ditemukan di sebuah penginapan di Yogyakarta.

Ia akhirnya mengaku.

Namun pengakuannya membawa kejutan terakhir.

“Aku memang menyalakan api,” katanya dalam pemeriksaan. “Tapi ide untuk membuat Nadira berhenti menari bukan dariku.”

Aku menatapnya dari balik meja.

“Lalu dari siapa?”

Maya menunduk.

“Arga.”

Ruangan mendadak sunyi.

Maya menangis.

“Dia bilang kalau kariermu terus naik, kamu akan meninggalkannya. Dia merasa kamu semakin terkenal sementara dia tidak punya apa-apa. Awalnya dia cuma menyuruhku merusak kostummu. Aku yang bodoh karena memakai api.”

Aku tidak mampu berkata-kata.

Selama ini kupikir Maya adalah pusat semuanya.

Ternyata bukan.

Arga cemburu pada keberhasilanku.

Perselingkuhan dengan Maya terjadi setelah ia menemukan seseorang yang mudah dimanipulasi untuk menjatuhkanku.

Dan setelah kebakaran benar-benar melukaiku, dia melihat kesempatan yang lebih sempurna.

Dengan berpura-pura lumpuh, ia tidak hanya mendapatkan simpatiku.

Ia mengikatku dengan rasa bersalah.

Beberapa bulan kemudian, proses hukum berjalan.

Aku mengajukan perceraian.

Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, aku kembali memasuki studio tari lama.

Bangunannya sudah direnovasi.

Tidak ada lagi bekas kebakaran.

Namun tubuhku masih mengingat semuanya.

Bau asap.

Panas di kulit.

Suara kaca pecah.

Aku berdiri di depan cermin besar.

Bekas luka di wajahku terlihat jelas.

Dulu aku selalu menutupi bagian itu dengan rambut.

Hari itu aku mengikat rambutku ke belakang.

Seorang perempuan muda menghampiriku.

“Kak Nadira?”

Aku menoleh.

Dia tersenyum gugup.

“Aku dulu pernah melihat Kakak menari. Sebelum kebakaran.”

Aku tersenyum tipis.

“Itu sudah lama.”

“Kenapa Kakak berhenti?”

Aku memandang pantulan diriku di cermin.

Pertanyaan itu terdengar sederhana.

Namun jawabannya telah memakan tiga tahun hidupku.

“Karena aku percaya pada orang yang salah.”

Perempuan itu terdiam.

“Tapi sekarang Kakak kembali?”

Aku menatap lantai kayu.

Kakiku bergerak satu langkah.

Lalu satu langkah lagi.

Tubuhku masih mengingat ritmenya.

Tidak sempurna.

Bahuku tidak lagi selentur dulu karena jaringan luka bakar. Beberapa gerakan terasa sakit.

Tetapi untuk pertama kalinya, aku tidak peduli.

Aku menyalakan musik.

Aku mulai menari.

Tidak untuk panggung.

Tidak untuk kontrak.

Tidak untuk membuktikan apa pun.

Aku menari karena tubuh ini masih milikku.

Beberapa bulan kemudian, aku membuka kelas tari kecil khusus untuk perempuan yang sedang memulihkan diri setelah trauma, kecelakaan, atau kehilangan kepercayaan diri.

Pada hari pembukaan, sebuah paket tanpa nama pengirim tiba.

Di dalamnya ada bola kristal kecil.

Aku langsung mengenalinya.

Hadiah Maya untuk Arga.

Di bawahnya terdapat sepucuk surat.

Tulisan tangan Maya.

“Aku tidak meminta maaf agar kamu memaafkanku. Aku tahu beberapa hal tidak pantas dimaafkan. Aku hanya ingin mengembalikan benda terakhir yang mengingatkanku pada hidup yang kubangun dari penderitaanmu.”

Aku membawa bola kristal itu ke tempat sampah.

Tanganku sempat berhenti.

Tiga tahun lalu, aku akan menyimpannya sebagai bukti rasa sakit.

Sekarang tidak.

Aku menjatuhkannya.

Lalu berjalan kembali ke studio.

Di dinding depan, Sinta sudah memasang papan nama kelas baruku.

Aku berdiri cukup lama membacanya.

Bukan nama Arga.

Bukan nama Maya.

Bahkan bukan namaku.

Hanya sebuah kalimat sederhana.

“Hidupmu Tidak Berakhir di Hari Mereka Menghancurkanmu.”

Aku tersenyum.

Selama tiga tahun, aku mengira luka terbesar yang kuterima berasal dari api.

Ternyata aku salah.

Api hanya membakar kulitku.

Kebohonganlah yang hampir membakar seluruh hidupku.

Tetapi ada satu hal yang tidak pernah dipahami Arga.

Ia bisa berpura-pura tidak mampu berjalan selama tiga tahun untuk membuatku tetap berada di sisinya.

Namun pada akhirnya, justru aku yang belajar berjalan pergi.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang