Arga Mengirim Rp300 Juta Tiap Bulan, Tapi Nadira Hanya Menerima Rp2 Juta dan Membawa Putranya Berjualan Daging di Pasar”

Pukul tiga pagi berikutnya, aku terbangun bukan karena alarm, melainkan karena suara benda jatuh dari kamar Raka.

Aku berlari ke sana dan mendapati bocah itu sudah mengenakan kaus, celana pendek, serta sepatu olahraga. Di lantai tergeletak celengan berbentuk dinosaurus yang pecah.

“Apa yang kamu lakukan?”

Raka jongkok memunguti uang receh.

“Modal.”

Aku terpaku.

“Modal apa?”

“Kalau Ayah sedang krisis likuiditas, kita harus punya dana darurat.”

Aku hampir tertawa, tetapi melihat wajahnya yang begitu serius, tawaku berubah menjadi rasa sesak di dada.

Anak enam tahun ini benar-benar percaya ayahnya sedang kesulitan hanya karena ucapan bodohku.

Aku berjongkok dan mengembalikan uang receh itu ke tangannya.

“Simpan. Hari ini Tante yang cari modal.”

“Tapi kita satu tim.”

Kalimat sederhana itu membuat tanganku berhenti.

Selama bertahun-tahun hidup sendirian, aku sudah terbiasa mengandalkan diri sendiri. Entah sejak kapan, bocah yang awalnya ingin mengusirku itu mulai menganggap kami sebagai satu tim.

Sejak hari itu, rutinitas kami berubah.

Setiap pukul empat pagi, kami pergi ke Pasar Kebayoran. Aku membantu Pak Hadi memotong, menimbang, dan membungkus daging. Raka bertugas menempel label harga, memasukkan pesanan ke kantong, dan menjaga kotak uang.

Anehnya, pelanggan mulai menyukainya.

“Raka, Tante beli dua kilo sapi.”

“Yang has dalam atau sengkel?”

Pembeli itu tertawa.

“Kamu tahu bedanya?”

Raka mengangkat dagu.

“Has dalam lebih empuk. Sengkel cocok buat semur. Tapi kalau Tante mau hemat, ambil sengkel.”

Aku menahan tawa.

“Jangan mengajari pelanggan pelit.”

“Aku membantu perencanaan keuangan.”

Dalam dua minggu, Raka berubah.

Bocah yang sebelumnya membuang makanan kini menghabiskan nasi sampai butir terakhir. Dia mulai merapikan tempat tidur sendiri karena katanya kami tidak boleh membayar orang untuk pekerjaan yang bisa dilakukan sendiri.

Masalahnya, perubahan itu akhirnya diketahui Bu Ratna.

Suatu pagi kami pulang membawa kantong sayur dan dua kilogram daging ketika perempuan itu berdiri di ruang tamu dengan wajah pucat.

“Dari mana?”

“Pasar,” jawab Raka santai.

Bu Ratna menatap bajuku yang sedikit terkena noda daging.

“Kamu membawa Tuan Muda ke pasar?”

“Iya.”

“Untuk apa?”

“Kerja.”

Wajahnya berubah drastis.

“Kerja?”

Raka mengangguk bangga.

“Aku bendahara.”

Bu Ratna langsung menarik lengannya.

“Ya Tuhan, Tuan Muda! Kalau keluarga besar tahu…”

Aku melepaskan tangannya dari Raka.

“Jangan ditarik.”

Dia menatapku tajam.

“Kamu sadar siapa anak ini?”

“Anak enam tahun yang perlu makan.”

“Dia pewaris keluarga Pratama!”

“Pewaris juga bisa lapar.”

Bu Ratna menatapku seolah aku orang paling bodoh di Jakarta.

Hari itu, untuk pertama kalinya, aku merasa ada sesuatu yang tidak beres.

Sebab kalau keluarga ini benar-benar sedang kesulitan, mengapa Bu Ratna justru lebih takut Raka terlihat bekerja daripada memikirkan bagaimana kami memenuhi kebutuhan sehari-hari?

Kecurigaanku semakin besar ketika sore harinya seorang kurir datang membawa paket vitamin impor atas nama Raka.

Aku membuka faktur yang menempel di kardus.

Rp7.850.000.

Aku mengernyit.

“Bu Ratna!”

Dia datang tergesa-gesa.

“Ini siapa yang pesan?”

“Langganan Tuan Muda.”

“Katanya biaya makan, susu, buah, dan vitamin Raka cuma satu juta delapan ratus?”

Wajahnya menegang.

“Itu paket berbeda.”

“Bayarnya pakai apa?”

“Rekening rumah tangga.”

Aku membeku.

“Rekening rumah tangga?”

Dia langsung mengambil kardus itu.

“Tidak perlu ikut campur.”

Malamnya aku membuka aplikasi bank.

Setiap awal bulan, Arga memang mengirim tepat Rp2 juta ke rekeningku.

Tidak lebih.

Aku mulai merasa malu karena sempat menuduhnya gengsi dan bangkrut.

Mungkin memang begitulah cara keluarga kaya menguji calon menantu.

Kalau benar begitu, aku akan menyelesaikan ujian ini tanpa mengeluh.

Sampai tiga hari kemudian.

Saat aku sedang memotong daging di pasar, ponselku berdering.

Arga.

Aku buru-buru melepas sarung tangan.

“Halo?”

“Nadira.”

Suaranya terdengar lelah.

“Raka bagaimana?”

Aku melirik bocah yang sedang berdebat dengan pelanggan soal uang kembalian lima ribu rupiah.

“Sehat.”

“Makannya?”

“Banyak.”

“Syukurlah.”

Kemudian Arga berkata sesuatu yang membuat pisau di tanganku berhenti.

“Uang bulan ini cukup?”

Aku terdiam sebentar.

“Cukup.”

“Kalau kurang bilang. Jangan dipaksakan.”

Aku tersenyum kecil.

“Kamu sendiri bagaimana?”

“Maksudmu?”

“Proyek perusahaan.”

“Lancar.”

Aku menggigit bibir.

Dia masih berpura-pura.

“Aku tahu keadaanmu mungkin sedang sulit.”

Di ujung telepon terdengar keheningan.

“Keadaanku sulit?”

“Tidak apa-apa. Aku mengerti.”

“Nadira, kamu bicara apa?”

Aku melihat Raka dan menurunkan suara.

“Aku akan jaga Raka. Kamu fokus saja memperbaiki cash flow perusahaan.”

Sunyi.

Lalu Arga bertanya pelan.

“Cash flow apa?”

Sebelum aku sempat menjawab, seseorang memanggilku dari belakang.

“Nadira, pesanan dua puluh kilo!”

Aku refleks menjawab, “Iya, Pak!”

Arga langsung bertanya.

“Kamu di mana?”

“Rumah.”

Suara mesin pemotong daging mendadak menyala keras.

Arga diam.

Aku mematikan telepon.

Sepanjang perjalanan pulang, jantungku tidak tenang.

Benar saja.

Malam itu Bu Ratna memanggilku.

“Pak Arga menelepon?”

“Iya.”

“Apa yang kamu katakan?”

“Tidak ada.”

Dia terlihat sangat gugup.

Aku semakin curiga.

“Bu Ratna.”

“Apa?”

“Sebenarnya Pak Arga mengirim berapa untuk kebutuhan Raka?”

Wajahnya berubah.

“Dua juta.”

Aku menatap matanya.

“Yakin?”

“Kenapa bertanya begitu?”

Aku tidak menjawab.

Malam itu aku mulai mencari sesuatu.

Di ruang kerja Arga terdapat lemari dokumen yang biasanya terkunci. Raka tiba-tiba muncul membawa kunci kecil.

“Aku tahu kuncinya.”

Aku melotot.

“Kamu dapat dari mana?”

“Aku pernah sembunyikan karena mau bikin Ayah marah.”

Anak ini ternyata memang mantan teroris rumah tangga.

Aku membuka lemari.

Sebagian besar hanya dokumen perusahaan. Namun di bagian bawah terdapat map bertuliskan Household Management.

Aku membukanya.

Ada laporan pengeluaran bulanan.

Listrik.

Keamanan.

Perawatan kolam.

Gaji staf.

Biaya sekolah Raka.

Kemudian mataku berhenti pada satu baris.

Dana kebutuhan pribadi Raka dan wali pendamping.

Rp300.000.000 per bulan.

Aku membaca lagi.

Tiga ratus juta.

Bukan dua juta.

Tanganku mendadak dingin.

Di bawahnya terdapat instruksi transfer.

Penerima awal adalah rekening operasional rumah tangga atas nama Ratna Kusumawati.

Setelah itu, Rp2 juta ditransfer ke rekeningku.

Aku terduduk.

Selama ini aku bekerja sejak pukul empat pagi karena mengira Arga sedang bangkrut.

Sementara seseorang menerima ratusan juta rupiah atas nama kebutuhan Raka.

Raka melihat dokumen itu.

“Ayah tidak miskin?”

Aku menutup map perlahan.

“Tidak.”

“Jadi kita jualan daging buat apa?”

Aku menatapnya.

“Karena Tante bodoh.”

Raka menggeleng.

“Enggak.”

Matanya tiba-tiba berkaca-kaca.

“Kita jadi teman gara-gara jualan daging.”

Aku tidak mampu berkata apa-apa.

Keesokan harinya aku tidak menegur Bu Ratna.

Aku justru bersikap seperti biasa.

Aku pergi ke pasar.

Memotong daging.

Menimbang pesanan.

Pulang.

Namun diam-diam aku memotret seluruh dokumen.

Aku juga meminta rekening koran dari bank.

Jejaknya jelas.

Setiap bulan Arga mengirim Rp300 juta.

Sebagian digunakan untuk kebutuhan rumah. Tetapi hampir Rp200 juta selalu dipindahkan ke rekening lain.

Penerimanya sama.

Dimas Kusumawati.

Aku mencari nama itu.

Ternyata Dimas adalah anak Bu Ratna.

Lebih mengejutkan lagi, uang tersebut dipakai membayar cicilan apartemen, mobil mewah, dan modal restoran.

Aku tidak langsung melapor kepada Arga.

Aku ingin tahu seberapa jauh permainan ini berlangsung.

Namun sebelum aku sempat bergerak, semuanya meledak.

Pagi itu tiga mobil hitam berhenti di depan pasar.

Bu Ratna turun bersama seorang perempuan berusia sekitar enam puluh tahun dengan pakaian mahal.

Aku mengenalinya dari foto keluarga.

Ibu Arga.

Ny. Pratama.

Dia berjalan melewati lorong pasar sambil menutup hidung.

Ketika melihat Raka sedang membawa kantong daging, wajahnya memucat.

“RAKA!”

Seluruh pasar menoleh.

Raka membeku.

Neneknya menariknya.

“Kamu diapakan perempuan ini?”

“Enggak diapakan.”

“Kenapa kamu bekerja di tempat seperti ini?”

Raka langsung memeluk pinggangku.

“Aku suka di sini.”

Ny. Pratama menatapku penuh penghinaan.

“Kamu mau menjadi istri anak saya dengan cara mengeksploitasi cucu saya?”

Bu Ratna menyela.

“Saya sudah mencoba melarang, Bu. Tapi Mbak Nadira bilang uang dari Pak Arga tidak cukup.”

Aku menatapnya.

Jadi begini permainannya.

Aku melepaskan celemek.

“Memang tidak cukup.”

Ny. Pratama mendengus.

“Anak saya memberikan tiga ratus juta setiap bulan!”

Suasana mendadak sunyi.

Beberapa pedagang menoleh.

Aku pura-pura terkejut.

“Tiga ratus juta?”

Bu Ratna langsung pucat.

Ny. Pratama menoleh kepadanya.

“Kamu tidak bilang?”

Bu Ratna tergagap.

“Saya… saya kira Mbak Nadira tahu.”

Aku mengambil ponsel.

“Yang masuk ke rekening saya cuma dua juta.”

Aku menunjukkan mutasi bank.

Wajah Ny. Pratama berubah.

Bu Ratna mundur selangkah.

“Pasti ada kesalahan sistem.”

Aku tersenyum tipis.

“Kesalahan sistemnya punya nama?”

Aku membuka foto transfer.

“Dimas Kusumawati.”

Bu Ratna langsung terdiam.

Saat itulah suara laki-laki terdengar dari belakang.

“Lanjutkan.”

Aku membeku.

Arga berdiri di ujung lorong pasar.

Kemeja putihnya kusut seperti baru turun dari pesawat.

Di belakangnya ada dua orang staf perusahaan.

Bu Ratna langsung menangis.

“Pak Arga, saya bisa jelaskan.”

Arga berjalan mendekat.

Wajahnya tidak menunjukkan emosi.

“Jelaskan.”

“Saya hanya meminjam.”

“Dua tahun?”

Aku menoleh tajam.

Dua tahun?

Berarti pencurian itu sudah berlangsung bahkan sebelum aku datang.

Arga menunjukkan tablet.

Audit internal menemukan total dana yang dialihkan mencapai lebih dari Rp4 miliar.

Bu Ratna jatuh terduduk.

Dia ternyata memanfaatkan kepercayaan keluarga sejak ibu kandung Raka meninggal. Karena Arga sering bepergian, semua kebutuhan rumah diserahkan kepadanya.

Tujuh pengasuh sebelumnya bukan berhenti karena Raka.

Mereka dipecat Bu Ratna.

Beberapa dari mereka pernah mempertanyakan anggaran rumah yang tidak masuk akal.

Raka menatap Bu Ratna dengan mata membesar.

“Jadi bukan aku yang bikin mereka pergi?”

Bu Ratna tidak menjawab.

Aku merasakan sesuatu menusuk dada.

Selama ini Raka percaya semua orang meninggalkannya karena dia anak nakal.

Padahal seseorang sengaja membuatnya merasa seperti itu.

Arga berjongkok di depan putranya.

“Maaf.”

Raka memalingkan wajah.

“Ayah juga selalu pergi.”

Kalimat itu jauh lebih menyakitkan daripada kemarahan.

Arga terdiam.

“Ayah kasih uang banyak,” lanjut Raka. “Tapi aku makan sendirian.”

Mata Arga memerah.

Untuk pertama kalinya, aku melihat seorang pria yang bisa mengendalikan perusahaan bernilai triliunan rupiah tidak mampu menjawab anak enam tahun.

Setelah kasus Bu Ratna diserahkan kepada pihak berwenang, kami pulang.

Arga duduk di ruang tamu bersama Raka dan aku.

Dia meletakkan kontrak yang kutandatangani beberapa minggu lalu di meja.

“Kontrak ini batal.”

Aku menatapnya.

“Kenapa?”

“Kamu gagal.”

Aku berdiri.

“Baik.”

Aneh, aku tidak merasa sedih.

Mungkin karena sejak bekerja di pasar, tujuan awalku berubah.

Aku tidak lagi terlalu peduli menjadi Nyonya Pratama.

Aku hanya peduli pada bocah yang sekarang sedang duduk sambil memeluk celengan dinosaurusnya.

Aku berbalik hendak pergi.

“Nadira.”

Arga memanggil.

Aku berhenti.

“Kamu gagal menjadi pengasuh yang saya pekerjakan.”

Dia merobek kontrak itu.

“Tapi kamu berhasil menjadi satu-satunya orang yang membuat anak saya merasa punya rumah.”

Aku menatapnya.

Arga mengeluarkan sebuah kotak kecil.

Aku langsung mengangkat tangan.

“Jangan.”

Dia membeku.

“Aku tidak mau menikah karena kontrak.”

“Aku tahu.”

“Aku juga tidak mau menjadi ibu pengganti hanya karena Raka membutuhkan seseorang.”

“Aku tahu.”

“Dan kalau kamu mau menikah denganku, kamu harus belajar menjadi ayah dulu.”

Arga terdiam cukup lama.

Lalu dia memasukkan kembali kotak itu ke saku.

“Baik.”

Tidak ada lamaran hari itu.

Tidak ada pernikahan kilat.

Arga justru membatalkan sebagian perjalanan bisnisnya.

Setiap pagi dia sarapan bersama Raka.

Seminggu sekali, dia ikut kami ke pasar.

Pertama kali Arga datang mengenakan jam tangan mahal dan sepatu kulit, Pak Hadi langsung memberinya celemek.

“Kalau mau pacaran sama pegawai saya, bantu angkat daging.”

Aku hampir tersedak.

Arga hanya menggulung lengan kemeja.

“Berapa kilo?”

Raka berteriak dari kasir.

“Jangan kasih Ayah bagian uang! Ayah belum lulus masa percobaan!”

Seluruh kios tertawa.

Enam bulan kemudian, Arga melamarku lagi.

Bukan di restoran mewah.

Bukan di hotel bintang lima.

Dia melamarku pukul lima pagi di depan kios daging Pak Hadi.

Tangannya masih memegang kantong belanja.

Raka berdiri di sampingnya membawa tulisan buatan sendiri.

Tante Nadira, sekarang Ayah sudah lumayan.

Aku tertawa sampai menangis.

Aku menerima lamaran itu.

Bukan karena Arga seorang konglomerat.

Bukan karena rumah besar di Pondok Indah.

Dan tentu saja bukan karena Rp300 juta per bulan.

Aku menerimanya karena pria yang dulu berpikir uang bisa menggantikan kehadiran akhirnya memahami bahwa seorang anak tidak menghitung kasih sayang dari jumlah transfer.

Setelah menikah, Arga masih mengirim dana kebutuhan rumah setiap bulan.

Namun suatu pagi dia menemukan laporan keuangan baru di meja.

Di bagian paling atas tertulis tiga nama.

Arga.

Nadira.

Raka.

Di bawahnya terdapat tulisan tangan Raka.

Semua pengeluaran harus diperiksa Bendahara Raka.

Arga menatap putranya.

“Kalau Ayah mau beli mobil?”

“Ajukan proposal.”

“Jam tangan?”

“Ditolak.”

“Liburan?”

Raka berpikir sebentar.

“Boleh kalau Tante ikut.”

Aku tertawa.

Arga menggeleng pasrah.

Tidak ada yang menyangka kekacauan tentang Rp300 juta itu justru menyelamatkan keluarga kami.

Sebab akhirnya aku memahami satu hal.

Ada rumah yang memiliki puluhan kamar tetapi tidak terasa seperti rumah.

Ada meja makan panjang dengan kursi mahal tetapi seorang anak tetap makan sendirian.

Dan terkadang, keluarga justru terbentuk di tempat yang paling tidak terduga.

Di antara suara pedagang pasar, timbangan digital, tangan yang bau daging, dua roti hangat yang dibeli dari hasil kerja sendiri, dan seorang bocah enam tahun yang akhirnya berhenti bertanya siapa yang akan meninggalkannya berikutnya.

Karena kali ini, kami memilih untuk tinggal.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang