Selama 6 Tahun Kakak Ipar Mengira Aku Meminjam Ratusan Juta—Satu Telepon Membongkar Akun Palsu Buatan Suamiku

Wajah Dimas yang pucat membuatku semakin yakin bahwa ada sesuatu yang ia sembunyikan.

Rani juga melihatnya.

Untuk pertama kalinya sejak aku tiba di rumah sakit, kemarahannya kepadaku perlahan berubah menjadi kebingungan.

“Mas,” katanya pelan. “Kamu tahu nomor ini?”

Dimas menggeleng terlalu cepat.

“Mana aku tahu? Sekarang banyak penipu pakai foto orang lain.”

“Tapi akun ini sudah menghubungiku selama enam tahun.”

Suara Rani bergetar.

“Dia tahu hal-hal yang cuma diketahui keluarga kita.”

Dimas tidak menjawab.

Aku mengambil ponsel Rani lagi.

Aku menggulir percakapan itu sampai enam tahun ke belakang.

Semakin kubaca, semakin sulit aku bernapas.

Beberapa hari sebelum pernikahan mereka, akun palsu itu mengirim pesan kepada Rani.

“Kak, aku malu sebenarnya mau bilang. Aku sedang butuh modal untuk studio desain. Bisa pinjam 45 juta? Jangan bilang Mas Dimas. Dia pasti marah kalau tahu.”

Rani membalas bahwa uang itu sebenarnya tabungan untuk biaya pindah setelah menikah.

Akun palsu itu memohon.

Dua hari kemudian, Rani mentransfer 45 juta rupiah.

Bukan ke rekening atas namaku.

Ke rekening Dimas.

Aku mengangkat kepala.

“Kenapa uang yang katanya kupinjam masuk ke rekeningmu?”

Dimas menelan ludah.

“Waktu itu rekeningmu bermasalah.”

“Rekeningku tidak pernah bermasalah.”

“Nadira, ini rumah sakit. Jangan bikin keributan.”

Aku hampir tertawa mendengarnya.

Bukan karena lucu.

Karena selama enam tahun, kalimat seperti itulah yang selalu digunakannya untuk menghentikan pertanyaan.

Jangan memperbesar masalah.

Jangan bikin suasana buruk.

Jangan membuat Rani sedih.

Mengalah saja.

Rani merebut ponselnya dariku lalu menggulir percakapan lebih jauh.

Ada transfer 25 juta.

Lalu 18 juta.

Lalu 30 juta.

Lalu 12 juta.

Alasannya bermacam-macam.

Modal studio.

Utang kartu kredit.

Biaya pengobatan.

Masalah pajak.

Bahkan pernah ada pesan yang mengatakan aku hampir dilaporkan polisi karena menabrak mobil orang.

“Aku menjual gelang pemberian almarhum ayahku untuk membantu kamu waktu itu,” bisik Rani.

Dadaku seperti dihantam sesuatu.

“Kak, aku bahkan tidak tahu gelang itu pernah dijual.”

Air mata Rani jatuh.

Ia membuka aplikasi mobile banking dan mencari transaksi lama yang masih tersimpan dalam mutasi serta bukti transfer yang pernah ia unduh.

Semuanya menuju rekening Dimas atau beberapa rekening lain yang tidak kukenal.

“Mas bilang rekening Nadira diblokir karena masalah bisnis,” ujar Rani. “Makanya uangnya harus lewat rekening Mas.”

Aku menatap kakakku.

“Berapa totalnya?”

Dimas diam.

“Berapa?”

Rani membuka catatan di ponselnya.

Ia menghitung beberapa saat.

Wajahnya berubah semakin pucat.

“Dua ratus delapan puluh tujuh juta.”

Lorong rumah sakit terasa mendadak sunyi.

Hampir tiga ratus juta rupiah.

Selama enam tahun, Rani mengira uang sebanyak itu dipinjamkan kepadaku.

Dan selama enam tahun pula ia menyimpan kebencian karena menganggap aku tidak pernah berniat mengembalikannya.

Dimas tiba-tiba menarik lenganku.

“Kita bicara di luar.”

Aku menepis tangannya.

“Bicara di sini.”

“Nadira.”

“Di sini.”

Rani berdiri.

“Mas, aku juga mau dengar.”

Dimas memandang kami bergantian. Beberapa anggota keluarga Rani mulai mendekat.

Akhirnya ia mengembuskan napas panjang.

“Baik. Aku memang pernah menggunakan nama Nadira.”

Rani seperti kehilangan tenaga.

“Pernah?”

Dimas mengusap wajah.

“Awalnya cuma sekali.”

Ia mengaku enam tahun lalu, beberapa minggu sebelum menikah, dirinya terjerat utang akibat investasi bisnis bersama seorang teman. Ia membutuhkan uang cepat, tetapi takut Rani membatalkan pernikahan jika mengetahui kondisi keuangannya.

Karena itu, ia membeli kartu SIM baru.

Ia memasang fotoku.

Lalu berpura-pura menjadi aku.

“Aku pikir setelah menikah aku bisa mengembalikannya diam-diam,” katanya.

“Lalu kenapa terus sampai enam tahun?” tanyaku.

Dimas tidak menjawab.

Rani justru menjawab dengan suara dingin.

“Karena berhasil.”

Dimas menunduk.

Kebohongan pertama membuat kebohongan kedua terasa lebih mudah.

Setiap kali Dimas membutuhkan uang, “Nadira” kembali menghubungi Rani.

Dan setiap kali Rani mulai curiga atau kesal, Dimas hadir sebagai suami yang baik.

Ia menenangkan istrinya.

Membela adiknya secukupnya.

Meminta Rani bersabar.

Dengan begitu, ia menjadi satu-satunya jembatan antara kami.

Aku tiba-tiba teringat semua kejadian selama enam tahun terakhir.

“Ulang tahunku empat tahun lalu,” kataku. “Kamu bilang Rani tidak datang karena dia tersinggung melihatku pamer.”

Rani menatapku.

“Aku tidak datang karena kamu mengirim pesan bahwa keluargaku akan membuat pestamu kelihatan kampungan.”

Aku membeku.

“Vitamin yang kukirim setelah Kak Rani sakit?”

“Aku tidak pernah menerima vitamin.”

“Waktu Kak Rani dirawat tahun lalu?”

“Aku menunggu kamu datang.”

Kami berdua menoleh kepada Dimas.

Ia tidak sekadar mencuri uang.

Ia sengaja membuat kami saling membenci.

Karena selama kami tidak berbicara langsung, kebohongannya aman.

Rani mendadak membuka galeri ponselnya.

“Tunggu.”

Ia mencari sesuatu.

Lalu menunjukkan tangkapan layar percakapan tiga tahun lalu.

Akun palsuku meminta 60 juta rupiah dengan alasan aku terlilit utang pinjaman online.

Di bawahnya ada foto KTP-ku.

Aku merasakan darahku seperti berhenti mengalir.

“Itu KTP-ku.”

“Mas yang kirim,” kata Rani. “Katanya kamu takut mengirim langsung karena malu.”

Aku menatap Dimas.

“Dari mana kamu dapat foto KTP-ku?”

Tidak ada jawaban.

Aku teringat satu kejadian.

Lima tahun lalu, Dimas pernah meminjam KTP-ku dengan alasan membantu mengurus dokumen keluarga untuk pembelian tanah warisan.

Tanah itu ternyata tidak pernah dibeli.

Aku segera membuka aplikasi perbankan dan email di ponsel.

Aku mencari namaku.

Nomor KTP.

Kata pinjaman.

Tidak ada sesuatu yang langsung terlihat mencurigakan.

Namun rasa takut sudah telanjur tumbuh.

“Selain rekeningmu,” tanyaku kepada Rani, “uang pernah dikirim ke mana lagi?”

Rani membuka catatannya.

Ada tiga rekening lain.

Satu atas nama seorang laki-laki yang tidak kukenal.

Dua lainnya atas nama perusahaan.

Aku memotret semuanya.

Dimas mulai panik.

“Nadira, jangan macam-macam. Aku akan kembalikan semuanya.”

“Kapan?”

“Aku butuh waktu.”

“Enam tahun belum cukup?”

Ia terdiam.

Saat itulah pintu ruang operasi terbuka.

Dokter keluar dan mengatakan operasi ibu Rani berjalan lancar. Kondisinya masih harus dipantau, tetapi fase kritis telah terlewati.

Rani menangis lega.

Aku juga.

Untuk beberapa menit, masalah kami terlupakan.

Namun setelah ibunya dipindahkan ke ruang pemulihan, Rani menghampiriku.

“Nadira.”

Aku menoleh.

“Maaf.”

Hanya satu kata.

Tetapi aku tahu beratnya.

Aku menggenggam tangannya.

“Aku juga minta maaf karena selama ini tidak pernah datang langsung bertanya kepadamu.”

Kami menangis tanpa peduli orang-orang yang melihat.

Dimas berdiri beberapa meter dari kami.

Sendirian.

Malam itu, aku dan Rani memutuskan melakukan sesuatu yang seharusnya kami lakukan bertahun-tahun lalu.

Kami membandingkan semua percakapan.

Semua transfer.

Semua pesan.

Semua cerita yang pernah disampaikan Dimas kepada kami.

Hampir pukul dua pagi ketika Rani tiba-tiba berkata, “Ada yang aneh.”

Ia menunjukkan satu transaksi sebesar 40 juta rupiah dua tahun lalu.

Saat itu akun palsu mengatakan aku membutuhkan uang untuk membayar biaya pengobatan karena mengalami keguguran.

Tanganku gemetar.

“Aku tidak pernah hamil.”

Rani menutup mulutnya.

Dimas bahkan menggunakan tragedi yang tidak pernah terjadi untuk mengambil uang.

Aku membuka profil rekening tujuan transaksi tersebut.

Nama penerimanya seorang perempuan.

Salsa Maharani.

“Siapa Salsa?” tanyaku.

Wajah Rani berubah.

“Aku pernah dengar nama ini.”

“Dari mana?”

“Dulu Mas bilang dia teman kuliahmu.”

“Aku tidak kenal siapa pun bernama Salsa Maharani.”

Rani langsung menelepon Dimas.

Tidak diangkat.

Sekali lagi.

Tidak diangkat.

Kami bergegas ke tempat Dimas tadi menunggu.

Kosong.

Mobilnya juga sudah tidak ada di parkiran.

Dimas kabur.

Pagi berikutnya kami mendatangi apartemennya.

Rani memiliki kunci cadangan.

Lemari pakaian Dimas hampir kosong.

Laptop hilang.

Beberapa dokumen juga sudah tidak ada.

Namun ia meninggalkan satu benda.

Ponsel lama di laci meja.

Rani mengenali ponsel itu.

“Ini ponsel Mas yang katanya hilang tiga tahun lalu.”

Baterainya habis.

Kami mengisi daya.

Ponsel itu menggunakan PIN.

Rani mencoba tanggal lahir Dimas.

Salah.

Tanggal pernikahan mereka.

Salah.

Lalu ia mencoba tanggal lahirku.

Terbuka.

Aku merinding.

Di dalamnya ada beberapa akun WhatsApp.

Bukan hanya satu akun palsu atas namaku.

Ada akun atas nama Rani.

Akun atas nama ibu kami.

Bahkan akun yang menggunakan nama sepupu Dimas.

Dimas telah membangun jaringan identitas palsu untuk mengendalikan orang-orang di sekitarnya.

Yang lebih mengejutkan, kami menemukan percakapan dengan Salsa.

Ternyata Salsa bukan teman kuliahku.

Ia adalah kekasih Dimas.

Hubungan mereka sudah berlangsung hampir lima tahun.

Apartemen yang ditempati Salsa dibayar dari uang yang selama ini dikira Rani dipinjamkan kepadaku.

Mobil yang digunakan Salsa dibeli dengan uang pinjaman keluarga.

Liburan mereka ke Bali dua tahun lalu bahkan dibiayai dari 40 juta rupiah yang diperoleh Dimas dengan cerita tentang “keguguranku”.

Rani membaca semuanya tanpa menangis.

Mungkin ada titik ketika rasa sakit terlalu besar hingga air mata tidak lagi keluar.

Lalu sebuah pesan baru masuk ke ponsel lama itu.

Dari Salsa.

“Mas, kapan kamu transfer sisanya? Pemilik apartemen sudah menagih.”

Rani menatapku.

Aku menatapnya kembali.

Kemudian ia mengetik.

“Datang ke apartemen. Kita bicara.”

Dua jam kemudian, kami berdiri di depan apartemen Salsa di kawasan Kuningan.

Ketika pintu terbuka, perempuan berusia sekitar tiga puluh tahun itu tampak terkejut melihat kami.

“Kalian siapa?”

Rani menjawab tenang.

“Saya istrinya Dimas.”

Wajah Salsa langsung kehilangan warna.

Ternyata ia juga tidak tahu.

Dimas mengatakan kepada Salsa bahwa dirinya duda.

Ia bahkan menunjukkan surat cerai.

Palsu.

Salsa duduk lemas setelah kami menunjukkan bukti pernikahan.

Lalu ia mulai menangis.

“Aku benar-benar tidak tahu.”

Aku awalnya sulit percaya.

Sampai Salsa mengambil sebuah map dari lemari.

“Kalau kalian tidak percaya, lihat ini.”

Di dalamnya ada dokumen rencana pembelian rumah.

Dimas dan Salsa berencana membeli rumah bersama.

Namun sesuatu pada formulir pengajuan membuatku terpaku.

Ada namaku.

Nadira Prameswari.

Sebagai penjamin.

Dengan nomor KTP-ku.

Tanda tanganku.

Dan slip penghasilan palsu atas namaku.

Aku merasa mual.

Ini sudah jauh melampaui kebohongan keluarga.

Dimas menggunakan identitasku untuk urusan keuangan.

Kami langsung membawa seluruh bukti kepada pengacara dan melaporkan dugaan pemalsuan identitas serta penipuan kepada pihak berwenang.

Setelah dilakukan penelusuran, kebohongannya ternyata lebih besar daripada dugaan kami.

Ada pengajuan kredit menggunakan dataku.

Ada utang atas nama perusahaan fiktif.

Ada beberapa korban lain.

Salah satunya bahkan ibu kami sendiri.

Selama bertahun-tahun Dimas mengatakan kepadaku bahwa ia rutin mengirim uang untuk Ibu.

Kepada Ibu, ia mengatakan akulah yang sedang mengalami kesulitan sehingga uang keluarga harus digunakan untuk membantuku.

Kami semua dipisahkan oleh cerita yang berbeda.

Dimas tidak sekadar mengambil uang.

Ia mengambil kepercayaan.

Beberapa hari kemudian, Dimas akhirnya ditemukan.

Rani tidak menemuinya sendirian.

Aku juga tidak.

Kami menyerahkan semuanya melalui jalur hukum.

Enam bulan kemudian, perceraian Rani selesai diproses.

Urusan hukum Dimas berjalan lebih lama.

Sebagian uang tidak pernah kembali.

Beberapa barang harus dijual.

Utang harus diperiksa satu per satu.

Nama baik yang rusak membutuhkan waktu lebih lama untuk dipulihkan daripada saldo rekening.

Tetapi ada sesuatu yang justru kami dapatkan kembali.

Hubungan kami.

Setahun setelah kejadian itu, aku duduk bersama Rani di sebuah kedai kopi kecil di Jakarta.

Ibunya sudah sehat.

Rani kembali bekerja dan pindah ke tempat tinggal yang lebih sederhana.

Ia tiba-tiba tertawa sambil melihat ponselnya.

“Aneh ya.”

“Apa?”

“Enam tahun aku mengira kamu perempuan paling menyebalkan di dunia.”

Aku ikut tertawa.

“Aku juga mengira Kakak membenciku tanpa alasan.”

Rani terdiam sebentar.

Kemudian ia berkata, “Kalau waktu itu Ibu tidak harus operasi, mungkin aku tidak akan pernah meneleponmu.”

Aku menatapnya.

Benar.

Telepon yang dimulai dengan makian justru menyelamatkan kami dari kebohongan yang telah hidup selama enam tahun.

Aku pernah berpikir musuh terbesar dalam sebuah keluarga adalah pertengkaran.

Ternyata bukan.

Kadang-kadang yang paling berbahaya justru diam.

Karena kebohongan Dimas bertahan bukan hanya karena ia pandai berbohong.

Kebohongan itu bertahan karena kami terlalu lama memilih berbicara melalui dirinya daripada berbicara satu sama lain.

Sejak hari itu, Rani dan aku membuat satu kesepakatan sederhana.

Kalau ada masalah, kami menelepon langsung.

Kalau ada uang, kami konfirmasi langsung.

Kalau ada perkataan yang menyakitkan, kami bertanya langsung kepada orang yang mengatakannya.

Tidak ada lagi perantara.

Beberapa bulan kemudian, sebuah nomor asing mengirim pesan kepadaku.

“Nadira, ini Mas. Aku cuma mau menjelaskan semuanya.”

Aku membaca pesan itu sekali.

Lalu menghapusnya.

Aku tidak membalas.

Karena akhirnya aku memahami sesuatu.

Tidak semua penjelasan layak diberi kesempatan.

Dan tidak semua hubungan harus diperbaiki hanya karena kami memiliki darah yang sama.

Ada hubungan yang diselamatkan dengan kejujuran.

Ada pula hubungan yang hanya bisa diselamatkan dengan keberanian untuk mengakhirinya.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang