Aku tidak langsung merebut gelang itu dari tangan Alya.
Aku hanya berdiri di ambang ruang keluarga dengan seragam yang masih basah, sementara air hujan menetes dari ujung rambutku ke lantai marmer.
Alya adalah orang pertama yang menyadari kehadiranku.
Wajahnya langsung pucat.
“Nadira…”
Semua orang menoleh.
Mama bangkit. “Kamu kehujanan? Kenapa tidak telepon sopir?”
Aku tersenyum tipis.
“Aku telepon.”
Ruangan mendadak sunyi.
Bibi Sari mengalihkan pandangan.
Aku berjalan mendekati sofa, lalu menatap pergelangan tangan Alya.
“Bagus gelangnya.”

Alya refleks menutupinya dengan tangan lain.
“Aku cuma mencoba. Bibi Sari yang menyuruh.”
“Sudah disesuaikan ukurannya?”
Bibi Sari langsung menyela.
“Jangan membuat masalah hanya karena gelang. Nona Alya sedang sakit.”
Aku menatapnya.
“Nona Alya?”
Bibi Sari terdiam.
Aku mengangguk pelan.
“Benar. Dia Nona Alya. Aku cuma Nadira.”
“Nadira!” Mama menegur.
Aku membuka tas, mengeluarkan formulir sekolah yang tadi belum sempat kukumpulkan, lalu meletakkannya di meja.
“Aku tidak akan mengganti nomor kontak darurat.”
Setelah itu aku naik ke kamar.
Malam itu, untuk pertama kalinya sejak kembali ke keluarga Pratama, aku mengunci pintu.
Keesokan paginya aku menemukan gelang itu di depan kamarku.
Kotaknya terbuka.
Di sampingnya ada secarik kertas.
Maaf. Aku benar-benar tidak tahu Mama membelinya untukmu.
Tulisan tangan Alya.
Aku menatapnya lama.
Entah mengapa, aku percaya.
Karena selama setahun tinggal bersamanya, Alya memang tidak pernah terang-terangan menyakitiku.
Ia bahkan beberapa kali mencoba mendekat.
Bibi Sarilah yang selalu muncul di antara kami.
Kalau Alya mengajakku makan, Bibi Sari akan berkata aku pasti lebih nyaman makan sendiri.
Kalau Mama mengajakku berbelanja, tiba-tiba Bibi Sari mengingatkan bahwa Alya sedang sedih.
Kalau Papa mengajakku menghadiri acara perusahaan, seragamku mendadak hilang dari lemari.
Hal-hal kecil.
Terlalu kecil untuk disebut kejahatan.
Namun terlalu sering untuk disebut kebetulan.
Aku mulai memperhatikan.
Tiga hari kemudian, sekolah mengadakan pertemuan orang tua.
Mama berjanji datang.
Aku menunggu hampir satu jam di depan aula.
Ia tidak muncul.
Ketika kutelepon, Mama terdengar panik.
“Alya pingsan di rumah. Mama sedang membawanya ke rumah sakit.”
Dadaku terasa dingin.
Lagi-lagi Alya.
Tetapi malam itu sesuatu yang aneh terjadi.
Saat aku pulang, Alya sedang duduk di meja makan.
Wajahnya sehat.
“Kamu sudah baikan?”
Ia mengerutkan kening.
“Baikan dari apa?”
“Kamu pingsan.”
Alya menatapku seolah aku sedang bercanda.
“Aku tidak pingsan.”
Sendok di tanganku berhenti.
“Bibi Sari menelepon Mama dan bilang kamu pingsan.”
Wajah Alya berubah.
“Aku cuma sakit kepala sedikit. Bibi memberiku obat, lalu menyuruhku tidur.”
Kami saling menatap.
Untuk pertama kalinya, aku melihat ketakutan yang sama di mata Alya.
Bukan kebencian.
Ketakutan.
Malam itu kami masuk ke kamarku dan mengunci pintu.
“Ada yang aneh dengan Bibi,” bisik Alya.
Aku hampir tertawa.
“Kamu baru sadar?”
Alya menunduk.
“Aku tahu dia terlalu melindungiku. Tapi kupikir karena dia membesarkanku.”
“Dia bukan melindungimu.”
Aku menatapnya.
“Dia sedang memastikan keluarga ini selalu memilihmu.”
Alya menggigit bibir.
Kemudian ia mengatakan sesuatu yang membuatku terdiam.
“Beberapa bulan sebelum kamu ditemukan, aku pernah mendengar Bibi bertengkar dengan seseorang lewat telepon.”
“Apa katanya?”
Alya mencoba mengingat.
“Dia bilang, ‘Kalau keluarga Pratama sampai tahu, semuanya selesai.’”
Bulu kudukku berdiri.
“Kamu tahu siapa yang ditelepon?”
Alya menggeleng.
Aku tidak tidur malam itu.
Pukul dua dini hari, aku membuka laptop dan mencari semua artikel lama tentang kasus bayi tertukar yang melibatkan kami.
Menurut penyelidikan rumah sakit, kesalahan terjadi ketika gelang identitas dua bayi terlepas saat pemindahan setelah listrik rumah sakit padam.
Tidak ada unsur kesengajaan.
Kasus dianggap selesai.
Namun ada satu detail yang membuatku berhenti bernapas.
Nama perawat yang bertugas di ruang bayi malam itu adalah Sari Wulandari.
Aku membaca nama itu berkali-kali.
Sari.
Aku turun dari tempat tidur.
Keesokan paginya aku menunggu sampai rumah sepi, lalu masuk ke ruang kerja Papa.
Aku menemukan dokumen lama penyelidikan.
Di salah satu halaman terdapat daftar pegawai rumah sakit.
Sari Wulandari.
Foto identitasnya sudah buram.
Tetapi aku mengenali wajah itu.
Bibi Sari.
Tanganku gemetar.
Jadi perempuan yang selama setahun membuatku merasa seperti orang asing di rumah sendiri ternyata berada di rumah sakit pada malam aku tertukar.
Aku memotret dokumen itu.
Namun ketika berbalik, Bibi Sari sudah berdiri di pintu.
Wajahnya tidak lagi ramah.
“Kamu mencari apa?”
Aku menyembunyikan ponsel di belakang tubuh.
“Kenapa Bibi tidak pernah bilang pernah bekerja di rumah sakit tempat aku lahir?”
Matanya berubah.
Hanya sepersekian detik.
Tetapi aku melihatnya.
Panik.
“Sudah lama sekali.”
“Bibi bertugas malam itu?”
“Nadira.”
Ia melangkah mendekat.
“Tidak semua hal lama perlu digali.”
“Kenapa?”
“Karena kadang-kadang kebenaran hanya menghancurkan orang.”
Aku menatapnya.
“Bibi takut kebenaran yang mana?”
Wajahnya mengeras.
Lalu ia pergi tanpa menjawab.
Malamnya laptopku hilang.
Papa mengira aku lupa meletakkannya.
Mama menyuruhku tidak menuduh siapa pun.
Aku tidak membantah.
Aku hanya menelepon Mama Rina.
Ibu yang membesarkanku datang keesokan harinya.
Begitu kutunjukkan foto dokumen itu, wajahnya pucat.
“Kamu kenal dia?” tanyaku.
Mama Rina tidak langsung menjawab.
“Nadira… delapan belas tahun lalu, beberapa minggu setelah kamu kubawa pulang, perempuan ini pernah datang ke rumah kita.”
Dunia seperti berhenti.
“Untuk apa?”
“Dia bilang ingin memastikan bayiku sehat. Katanya program kunjungan rumah sakit.”
“Kenapa Mama tidak pernah cerita?”
“Karena saat itu tidak terasa aneh.”
Mama Rina menggenggam tanganku.
“Tapi setelah itu dia datang dua kali lagi.”
Aku hampir tidak bisa bernapas.
Malam itu aku dan Alya membuat keputusan.
Kami tidak akan menuduh Bibi Sari tanpa bukti.
Rumah keluarga Pratama memiliki CCTV hampir di seluruh area umum, tetapi rekaman biasanya terhapus otomatis setelah tiga puluh hari.
Arga, kakakku, bekerja di perusahaan teknologi dan mengelola sistem keamanan rumah.
Awalnya ia tidak percaya.
Namun setelah melihat dokumen rumah sakit, wajahnya berubah.
“Aku punya backup.”
Kami bertiga memeriksa rekaman selama berjam-jam.
Dan apa yang kami temukan jauh lebih buruk daripada dugaanku.
Bibi Sari beberapa kali masuk ke kamarku ketika aku tidak ada.
Ia mengambil hadiah ulang tahunku.
Menyembunyikan surat undangan sekolah.
Menghapus pesan dari telepon rumah.
Bahkan pada hari pertemuan orang tua, kamera dapur merekam Alya sedang makan dengan sehat pada waktu Bibi Sari menelepon Mama dan mengatakan Alya pingsan.
Tetapi rekaman paling mengerikan berasal dari tiga minggu sebelumnya.
Pukul sebelas malam.
Bibi Sari berdiri di ruang penyimpanan sambil menelepon seseorang.
Suara kamera tidak terlalu jelas, tetapi Arga memperbesar volumenya.
“Aku sudah mencoba membuat anak itu tidak betah.”
Kami bertiga membeku.
Suara Bibi Sari berlanjut.
“Kalau Nadira pergi sendiri, tidak ada yang akan curiga.”
Alya mulai menangis.
Namun kalimat berikutnya membuat tangisnya berhenti.
“Yang penting Alya jangan pernah tahu kalau pertukaran itu memang sengaja.”
Aku merasa lantai menghilang dari bawah kakiku.
Sengaja.
Aku tidak tertukar karena kesalahan.
Seseorang menukarkanku.
Papa dan Mama kami panggil malam itu juga.
Tidak ada lagi yang bisa disembunyikan.
Ketika rekaman diputar, wajah Mama kehilangan warna.
Papa langsung memanggil Bibi Sari.
Perempuan itu masuk dengan tenang.
Namun saat melihat layar televisi, langkahnya berhenti.
Papa berdiri.
“Jelaskan.”
Bibi Sari tidak menjawab.
“JELASKAN!”
Untuk pertama kalinya aku mendengar Papa berteriak.
Bibi Sari perlahan duduk.
Lalu ia menangis.
Delapan belas tahun lalu, ia bekerja sebagai perawat kontrak di rumah sakit.
Saat itu ia mengenal ibu kandung Alya.
Seorang perempuan bernama Lestari.
Lestari adalah adik kandung Bibi Sari.
Semua orang terdiam.
Alya seperti kehilangan kemampuan bicara.
“Jadi…” suaranya bergetar. “Bibi adalah tante kandungku?”
Bibi Sari mengangguk sambil menangis.
Lestari hidup dalam kemiskinan dan ditinggalkan suaminya ketika hamil.
Ia takut anaknya tumbuh tanpa masa depan.
Ketika mengetahui keluarga Pratama melahirkan bayi perempuan pada malam yang sama, Bibi Sari melakukan sesuatu yang tidak pernah bisa diperbaiki.
Ia menukar gelang identitas kami.
Lalu membuat semuanya terlihat seperti kesalahan saat listrik padam.
Beberapa bulan kemudian, Bibi Sari berhenti dari rumah sakit dan mencari pekerjaan di keluarga Pratama.
Ia ingin berada dekat Alya.
“Jadi selama delapan belas tahun…” suara Mama pecah, “kamu tahu dia bukan anak saya?”
Bibi Sari menangis.
“Saya cuma ingin Alya punya hidup yang baik.”
Aku tertawa pahit.
“Dengan mencuri hidupku?”
Ia menatapku.
Untuk pertama kalinya, tidak ada kebencian di wajahnya.
Hanya rasa bersalah.
“Aku tidak menyangka kamu akan ditemukan.”
Kalimat itu lebih menyakitkan daripada semua perlakuannya selama setahun.
Alya berdiri tiba-tiba.
“Cukup.”
Bibi Sari menatapnya.
“Nona Alya…”
“Jangan panggil aku begitu.”
Alya melepas gelang emas mawar dari tangannya dan meletakkannya di meja.
“Aku tidak pernah meminta Bibi mencuri keluarga seseorang untukku.”
Bibi Sari menangis semakin keras.
“Aku melakukan semuanya untukmu.”
“Tidak.”
Suara Alya bergetar.
“Bibi melakukannya karena Bibi ingin merasa menjadi penyelamat.”
Polisi datang malam itu.
Bibi Sari dibawa untuk diperiksa.
Kasus lama dibuka kembali.
Tetapi kehancuran terbesar tidak terjadi ketika polisi membawanya pergi.
Kehancuran terbesar terjadi setelah pintu tertutup.
Mama mendekat kepadaku.
“Nadira…”
Aku mundur.
Selama setahun aku mengira masalah terbesar dalam hidupku adalah keluargaku lebih menyayangi Alya.
Ternyata kami berdua hanyalah dua anak yang hidupnya dipilihkan oleh orang dewasa.
Aku kehilangan delapan belas tahun bersama keluarga kandungku.
Alya kehilangan kepastian tentang siapa dirinya.
Dan Mama Rina, perempuan sederhana yang membesarkanku dengan seluruh hidupnya, ternyata menerima seorang bayi yang seharusnya tidak pernah sampai ke pelukannya.
Beberapa hari kemudian aku kembali mengisi formulir sekolah.
Kolom kontak darurat masih kosong.
Mama duduk di sebelahku.
Aku menulis dua nomor.
Nomor Mama Rina.
Dan nomor Mama kandungku.
Mama menatapnya lama.
“Aku boleh berada di sana?”
Aku mengangguk.
“Keluarga bukan lomba siapa yang paling berhak.”
Air mata Mama jatuh.
“Tapi aku butuh waktu.”
Mama menggenggam tanganku.
“Ambil sebanyak yang kamu perlukan.”
Saat aku hendak menyerahkan formulir, Alya menungguku di depan pintu.
Ia membawa kotak gelang.
“Aku sudah mengembalikan ukurannya seperti semula.”
Aku menerima kotak itu.
Lalu bertanya, “Kamu mau ke mana?”
Alya tersenyum tipis.
“Mencari ibu kandungku.”
Aku terdiam.
“Sendiri?”
Alya menggeleng.
“Kalau kamu mau… temani aku.”
Untuk pertama kalinya sejak mengetahui kami tertukar, aku tidak melihat Alya sebagai perempuan yang mengambil hidupku.
Aku melihat seseorang yang hidupnya juga dicuri.
Aku memasukkan kotak gelang ke tas.
“Ayo.”
Beberapa bulan kemudian, kami menemukan Lestari di sebuah kota kecil di Jawa Tengah.
Ketika melihat Alya berdiri di depan rumahnya, perempuan itu langsung tahu.
Ia menangis bahkan sebelum Alya memperkenalkan diri.
Namun ada satu hal terakhir yang baru kami ketahui hari itu.
Lestari ternyata tidak pernah meminta kakaknya menukar bayi.
Ia bahkan tidak tahu.
Selama delapan belas tahun, ia percaya putrinya meninggal beberapa jam setelah dilahirkan.
Bibi Sari telah membohongi semua orang.
Keluarga Pratama.
Mama Rina.
Lestari.
Aku.
Bahkan Alya.
Di perjalanan pulang ke Jakarta, Alya duduk di sebelahku tanpa bicara.
Setelah beberapa jam, ia menyandarkan kepala ke bahuku.
“Aneh ya,” katanya lirih. “Kita seharusnya membenci satu sama lain.”
Aku memandang jalan panjang di depan kami.
“Untung kita tidak melakukannya.”
Karena akhirnya aku memahami sesuatu.
Darah memang bisa menentukan dari siapa kita lahir.
Tetapi darah tidak selalu menentukan siapa yang menjadi keluarga.
Delapan belas tahun hidup kami telah dicuri oleh sebuah kebohongan.
Aku tidak bisa mendapatkannya kembali.
Alya juga tidak.
Namun kami masih memiliki sesuatu yang tidak berhasil dicuri Bibi Sari.
Kesempatan untuk menentukan sendiri seperti apa hidup kami setelah kebenaran terungkap.
Dan kali ini, tidak ada seorang pun yang akan memilihkannya untuk kami.
