“Orang yang menghancurkan Wijaya Group adalah kakakmu sendiri, Adrian.”
Suara mantan tunangan Adrian terdengar ringan, tetapi kalimat itu membuat suasana di depan rumah mendadak membeku.
Tanganku masih berada di setang motor.
Keisya menatap perempuan itu seolah baru saja mendengar sesuatu yang mustahil.
“Apa maksudmu, Selena?”
Selena tersenyum tipis. “Tanya saja pada kakakmu kenapa tiga bulan sebelum perusahaan gagal bayar, dia memindahkan hampir seluruh dana investasi ke perusahaan cangkang.”
Keisya langsung menoleh kepada Adrian.
“Kak?”
Adrian tidak menjawab.
Hujan semakin deras.
Aku melihat tangannya mencengkeram pegangan kursi roda.
Selena tertawa kecil.
“Kasihan sekali. Kalian bahkan belum tahu semuanya.”
Ia masuk kembali ke mobilnya, meninggalkan kami di tengah hujan dan tatapan orang-orang yang sejak tadi menikmati kehancuran keluarga Wijaya seperti tontonan gratis.
Aku menatap Adrian.

“Benar?”
Adrian mengangkat wajah.
“Tidak seperti yang dia katakan.”
“Kalau begitu jelaskan.”
“Bukan di sini.”
Aku diam beberapa detik, lalu melepaskan tali yang tadi kuikatkan ke kursi rodanya.
Keisya menatapku khawatir.
“Kamu berubah pikiran?”
“Tidak.”
Aku menunjuk mobil bak kecil milik pedagang bunga yang sedang parkir beberapa rumah dari sana.
“Kalau benar-benar kutarik kursi roda kakakmu pakai motor sampai rumahku, yang bangkrut bukan cuma keluarga kalian. Tulang belakang Kak Adrian juga ikut bangkrut.”
Untuk pertama kalinya sejak aku datang, Keisya tertawa.
Tangis dan tawanya bercampur menjadi satu.
Aku menyewa mobil bak itu.
Satu jam kemudian, dua pewaris keluarga Wijaya yang dahulu hidup di rumah seluas hampir dua ribu meter persegi tiba di rumah kontrakanku yang bahkan ruang tamunya menyatu dengan ruang kerja.
Keisya berdiri di pintu sambil memandangi tumpukan kardus.
“Kamu tinggal di sini?”
“Ya.”
“Semua ini barang bekas?”
“Sebagian.”
Adrian memandangi rak-rak berisi tas, pakaian, kamera, elektronik, dan berbagai barang yang sudah diperbaiki.
“Bisnismu?”
Aku mengangguk.
“Lumayan.”
Keisya membuka lemari kecil.
Dia membeku.
Di dalamnya ada tumbler berwarna biru tua.
Tumbler yang pernah dia buang saat kuliah.
Di sebelahnya ada jas hujan kuning miliknya.
Di rak bawah ada sepatu yang dulu katanya membuat kakinya terlihat gemuk.
“Kamu masih menyimpan semuanya?”
“Yang belum laku.”
Keisya mengambil tumbler itu.
Air matanya jatuh lagi.
“Dulu aku bodoh sekali.”
Aku mengambil tumbler dari tangannya.
“Sekarang juga masih.”
Dia menatapku.
Aku tersenyum.
“Tapi setidaknya sekarang lebih miskin. Jadi peluangmu sembuh lebih besar.”
Keisya melempar bantal sofa ke arahku.
Malam itu kami makan mi instan bertiga.
Adrian hampir tidak bicara.
Setelah Keisya tertidur, aku menemukan lelaki itu masih duduk di dekat jendela.
“Sekarang jelaskan.”
Adrian menatapku lama.
“Selena tidak sepenuhnya berbohong.”
Dadaku menegang.
“Aku memang memindahkan dana perusahaan.”
“Berapa?”
“Seratus delapan puluh miliar.”
Aku hampir menjatuhkan gelas.
“Kak Adrian, itu bukan memindahkan uang. Itu memindahkan satu kompleks perumahan.”
“Aku menemukan manipulasi laporan keuangan.”
Menurut Adrian, hampir dua tahun terakhir ayahnya mempercayakan operasional kepada seorang direktur bernama Surya Mahendra.
Surya adalah sahabat lama keluarga mereka.
Orang yang bahkan dipanggil Om oleh Keisya.
Adrian menemukan proyek-proyek fiktif, nilai tanah yang digelembungkan, dan pinjaman yang menggunakan aset perusahaan sebagai jaminan tanpa persetujuan dewan.
Ketika Adrian mencoba memperingatkan ayahnya, tak seorang pun percaya.
Sebab Surya sudah bekerja bersama keluarga Wijaya selama lebih dari dua puluh tahun.
“Aku memindahkan sebagian dana yang masih bisa diselamatkan ke rekening escrow untuk melindungi hak karyawan dan investor kecil.”
“Kenapa diam-diam?”
“Karena aku curiga ada orang dalam.”
Aku langsung mengerti.
“Selena?”
Adrian mengangguk.
Ternyata ayah Selena adalah salah satu kreditur terbesar Wijaya Group.
Selena mendekati Adrian bukan hanya sebagai tunangan.
Dia memiliki akses ke dokumen, jadwal rapat, bahkan laptop pribadi Adrian.
“Tiga hari setelah aku mengumpulkan bukti, aku kecelakaan.”
Aku menatap kursi rodanya.
“Kecelakaan biasa?”
“Rem mobilku gagal.”
Ruangan mendadak terasa dingin.
“Kamu melapor?”
“Laptopku hilang dari mobil. Ponsel rusak. Dokumen yang kusimpan di kantor juga lenyap.”
“Lalu perusahaan bangkrut.”
Adrian mengangguk.
Aku terdiam cukup lama.
Kemudian satu hal terlintas di kepalaku.
“Barang-barangmu setelah kecelakaan ke mana?”
Adrian mengernyit.
“Apa?”
“Barang pribadi. Pakaian, tas, barang kantor.”
“Sebagian dibuang Keisya ketika membersihkan apartemenku.”
Aku langsung menoleh ke kamar.
Lima menit kemudian Keisya kubangunkan.
“Kei, setelah kakakmu kecelakaan, kamu pernah memberiku barang?”
Dia mengucek mata.
“Banyak. Kenapa?”
“Termasuk tas kerja hitam?”
Keisya berpikir.
“Oh, tas kulit jelek itu?”
Adrian mendadak menegakkan tubuh.
“Itu tas kerja dari Italia.”
“Ya, tetap jelek.”
Aku berlari menuju gudang kecil di belakang rumah.
Selama bertahun-tahun, aku punya satu kebiasaan yang selalu ditertawakan orang.
Aku tidak pernah langsung membuang barang.
Kalau belum bisa dijual, kuperbaiki.
Kalau belum tahu kegunaannya, kusimpan.
Setelah hampir dua puluh menit membongkar kardus, tanganku menemukan sebuah tas kulit hitam.
Wajah Adrian berubah.
“Itu.”
Kami membuka seluruh kompartemennya.
Kosong.
Keisya menghela napas kecewa.
“Tidak ada apa-apa.”
Aku meraba bagian bawah tas.
Lapisan kainnya terasa lebih tebal pada satu sisi.
Aku mengambil gunting kecil dan membuka jahitan yang sudah rusak.
Sebuah benda jatuh ke lantai.
Flashdisk.
Adrian menatap benda itu seperti melihat hantu.
“Aku menyembunyikannya sendiri.”
Keisya menutup mulut.
Di dalam flashdisk itu tersimpan salinan laporan keuangan, rekaman rapat, bukti transaksi, dan surat elektronik internal.
Namun ada satu folder yang membuat Adrian pucat.
Namanya sederhana.
SELENA.
Isinya rekaman suara.
Suara Selena berbicara dengan Surya.
Mereka membahas bagaimana membuat Wijaya Group kehilangan likuiditas, memaksa aset dijual murah, lalu membelinya melalui perusahaan lain.
Tetapi kejutan terbesar muncul di akhir rekaman.
Ada suara ketiga.
Ayah Selena.
“Kalau Adrian terus menyelidiki, hentikan dia sebelum rapat pemegang saham.”
Keisya langsung menangis.
Adrian tidak bergerak.
Aku menutup laptop.
“Kita serahkan semuanya ke pengacara dan polisi.”
Adrian menatapku.
“Kamu tidak takut?”
“Tentu takut.”
“Lalu kenapa tetap membantu?”
Aku memandang tas kulit tua itu.
“Karena rupanya sampah yang kusimpan lebih berguna daripada orang-orang kaya yang membuang kalian.”
Untuk pertama kalinya, Adrian tertawa.
Dua minggu berikutnya menjadi kekacauan.
Bukti dari flashdisk membuka penyelidikan baru.
Sejumlah transaksi dibekukan.
Surya diperiksa.
Nama keluarga Selena ikut terseret.
Media yang sebelumnya menulis kehancuran keluarga Wijaya mulai mempertanyakan apakah kebangkrutan itu memang murni kegagalan bisnis.
Namun hidup kami tidak langsung berubah.
Keisya tetap tinggal bersamaku.
Dia yang dulu tidak tahu harga satu kilogram beras mulai membantuku mengemas pesanan.
Hari pertama bekerja, dia memasukkan tas seharga tiga juta rupiah ke kardus bekas mi instan.
Aku hampir pingsan.
“Keisya!”
“Apa?”
“Pakai bubble wrap!”
“Oh.”
Hari berikutnya dia salah menulis alamat.
Hari ketiga dia memotret sepatu preloved dengan latar tumpukan cucian.
Aku menatapnya tanpa kata.
“Aku sedang belajar,” katanya defensif.
Anehnya, dia benar-benar belajar.
Sebulan kemudian, justru Keisya yang mengusulkan agar bisnis preloved-ku dibuat lebih profesional.
Dia mengatur katalog, membuat konten media sosial, dan menghubungi beberapa teman kuliahnya.
Adrian juga mulai membantu.
Dari kursi rodanya, dia membenahi pembukuan yang selama ini kukerjakan secara sederhana.
Suatu malam dia melihat laporan penjualan dan menatapku aneh.
“Maya.”
“Hm?”
“Kamu sadar omzetmu sudah ratusan juta setahun?”
“Ya.”
“Kenapa pembukuanmu seperti warung fotokopi?”
“Karena Excel membuatku ingin menangis.”
Adrian menahan tawa.
Tiga bulan kemudian, terapi fisiknya menunjukkan perkembangan.
Ia sudah bisa berdiri dengan bantuan tongkat.
Pada hari pertama Adrian berhasil berjalan lima langkah tanpa kursi roda, Keisya menangis paling keras.
Aku justru merekamnya.
“Kenapa direkam?” Adrian protes.
“Konten.”
“Maya.”
“Perjuangan mantan pewaris konglomerat belajar berjalan. Bisa viral.”
“Kamu benar-benar kejam.”
“Terima kasih.”
Namun persoalan Wijaya Group belum selesai.
Keluarga mereka memang korban manipulasi, tetapi perusahaan tetap memiliki utang besar.
Rumah terakhir benar-benar dilelang.
Ayah dan ibu Keisya pindah ke rumah kerabat.
Mereka tidak kembali menjadi keluarga kaya dalam semalam.
Anehnya, Keisya tampak lebih tenang.
Suatu sore dia berkata kepadaku, “Dulu aku pikir kehilangan uang adalah hal paling mengerikan.”
“Sekarang?”
“Ternyata kehilangan orang yang hanya menyukaimu karena uang jauh lebih menyakitkan.”
Aku tidak menjawab.
Karena aku tahu dia sedang berbicara tentang puluhan orang yang menghilang setelah keluarganya jatuh.
Enam bulan kemudian, Selena datang ke tokoku.
Dia tidak lagi tampil seperti dulu.
Wajahnya pucat.
Perusahaan ayahnya sedang diselidiki dan sejumlah aset mereka dibekukan.
Dia menatap Adrian yang kini sudah bisa berjalan menggunakan tongkat.
“Aku ingin bicara.”
Adrian tetap tenang.
“Tidak ada yang perlu dibicarakan.”
“Aku tidak tahu ayahku merencanakan kecelakaanmu.”
“Tapi kamu tahu mereka mencuri perusahaan keluargaku.”
Selena terdiam.
“Aku hanya melakukan apa yang diminta keluargaku.”
Adrian tersenyum hambar.
“Dan aku dulu hampir menikahimu.”
Selena menatapku.
“Maya, kamu pikir kamu menang?”
Aku mengangkat alis.
“Menang apa?”
“Kamu mendapatkan Adrian saat dia tidak punya apa-apa. Sekarang setelah kasus ini selesai, sebagian aset keluarganya mungkin kembali.”
Aku tertawa.
“Selena, kalau aku mengejar uang, aku tidak akan membuka toko barang bekas.”
Selena pergi tanpa menjawab.
Setahun kemudian, pengadilan menetapkan sejumlah transaksi ilegal dan beberapa aset dikembalikan kepada kreditur serta pihak yang berhak. Wijaya Group tidak pernah kembali seperti dulu.
Adrian juga tidak mencoba membangunnya kembali.
Sebaliknya, dia melakukan sesuatu yang tidak pernah kuduga.
Dia menginvestasikan uang pribadinya yang tersisa ke bisnisku.
Kami mengubah toko kecil itu menjadi platform preloved dan refurbish bernama Second Story.
Keisya menjadi kepala pemasaran.
Aku mengurus operasional.
Adrian mengurus keuangan dan investasi.
Tiga tahun kemudian, Second Story memiliki gudang di Jakarta, Bandung, dan Surabaya.
Hari pembukaan gudang terbesar kami, seorang reporter bertanya kepadaku,
“Benarkah bisnis ini bermula karena Anda sering mengambil barang buangan teman sekamar?”
Aku menoleh kepada Keisya.
Dia langsung tertawa.
“Bukan teman sekamar,” katanya. “Saya pemasok pertama.”
Semua orang tertawa.
Setelah acara selesai, aku berdiri sendirian di gudang.
Ribuan barang tersusun di rak.
Barang yang pernah dianggap tidak berguna.
Barang yang pernah ditinggalkan.
Barang yang diberi kesempatan kedua.
Adrian datang membawa sesuatu.
Tumbler biru tua.
“Ini masih ada?”
“Tentu.”
Dia menyerahkannya kepadaku.
Di bawah tumbler itu terdapat kotak kecil.
Aku langsung menatapnya curiga.
“Jangan bilang cincin.”
“Kalau cincin?”
“Aku jual di marketplace.”
Adrian tertawa.
Lalu membuka kotaknya.
Memang sebuah cincin.
“Maya Pratiwi.”
Aku menatapnya.
“Aku pernah kehilangan perusahaan, rumah, uang, tunangan, bahkan kemampuan berjalan.”
Suaranya pelan.
“Waktu semua orang melihatku sebagai sesuatu yang sudah tidak bernilai, kamu membawaku pulang.”
Mataku mulai panas.
Adrian melanjutkan,
“Jadi sekarang aku cuma ingin tahu, apakah barang second-hand seperti aku boleh tinggal bersamamu seumur hidup?”
Aku tertawa sambil menangis.
“Kondisimu berapa persen?”
“Apa?”
“Barang preloved harus dijelaskan kondisinya.”
Adrian berpikir serius.
“Delapan puluh persen?”
Aku menggeleng.
“Terlalu tinggi.”
“Tujuh puluh?”
“Masih mencurigakan.”
Keisya tiba-tiba muncul dari balik rak.
“Lima puluh persen saja, Maya. Banyak cacatnya!”
“Keisya!”
Aku tertawa semakin keras.
Lalu mengulurkan tangan.
“Baiklah.”
Adrian terdiam.
“Baiklah apa?”
“Boleh tinggal.”
Beberapa tahun lalu, orang-orang memanggilku tempat sampah berjalan milik Nona Wijaya.
Mereka mengatakannya sebagai hinaan.
Sekarang aku justru berterima kasih.
Sebab dari Keisya aku belajar bahwa harga sebuah benda tidak selalu sama dengan nilainya.
Dan dari Adrian aku memahami sesuatu yang jauh lebih penting.
Manusia juga begitu.
Ada orang yang datang ketika kita masih berkilau, lalu pergi saat hidup kita lecet sedikit.
Ada pula orang yang bersedia memungut bagian-bagian diri kita ketika semuanya sudah berantakan, membersihkannya perlahan, lalu mengingatkan bahwa kita tidak pernah benar-benar kehilangan nilai.
Karena terkadang yang disebut dunia sebagai barang buangan bukanlah sesuatu yang tidak berharga.
Ia hanya jatuh ke tangan orang yang salah.
Dan menunggu seseorang yang tepat untuk melihat nilainya kembali.
