Pukul delapan lewat lima puluh delapan menit keesokan paginya, Rani sudah duduk di depan laptop.
Rambutnya masih basah setelah mandi. Di sebelahnya ada segelas kopi susu, buku catatan, dan ponsel yang terus berbunyi.
Aku duduk di meja makan sambil pura-pura membaca pesan.
Sinta berdiri di dapur, tetapi sejak percakapan semalam, dia hampir tidak berbicara.
Tepat pukul sembilan, Rani mengirim pesan ke grup.
“300 SLOT DIBUKA SEKARANG!”
Dalam waktu kurang dari satu menit, balasan berdatangan.
“Aku dua kardus!”
“Jogja ke Balikpapan bisa?”

“Kak, lima koper ke Medan berapa?”
Rani mengetik cepat.
“Semua tetap sesuai harga promo.”
Aku menatapnya.
“Ran, kamu masih mau lanjut?”
Tangannya berhenti.
“Kenapa?”
“Aku sudah bilang semalam. Semua ongkir itu masuk tagihan perusahaan Ayah.”
Rani menghela napas panjang, seolah akulah orang yang menyusahkan.
“Nadya, jangan mulai lagi, deh. Aku sudah janji ke orang-orang.”
“Itu bukan uangmu.”
“Dan bukan uangmu juga.”
Aku hampir tertawa karena tidak percaya.
Rani memutar laptopnya sedikit menjauh dariku.
“Lagipula aku cuma pakai fasilitas perusahaan besar. Ayahmu pasti punya biaya operasional ratusan juta setiap bulan. Masa gara-gara anak-anak baru lulus kirim barang saja kamu ribut?”
Aku tidak menjawab.
Itulah terakhir kalinya aku memperingatkannya.
Hari itu, Rani bekerja seperti pemilik perusahaan logistik sungguhan.
Dia membagi jadwal penjemputan, mencatat alamat, menerima transfer, bahkan meminta dua mahasiswa junior membantu menempelkan label pada kardus.
Menjelang sore, lorong depan kos dipenuhi koper dan paket.
Yang tidak diketahui Rani, setiap nomor resi otomatis masuk ke sistem perusahaan Ayah.
Setiap transaksi tercatat.
Setiap kilogram dihitung.
Dan angka tagihan terus naik.
Pukul tujuh malam, Ayah mengirim pesan kepadaku.
Rp103.780.000.
Dua jam kemudian menjadi Rp116.340.000.
Aku tidak bisa tidur.
Bukan karena takut Ayah kehilangan uang. Perusahaan memang mampu membayar tagihan itu untuk sementara.
Aku takut karena melihat seseorang yang selama empat tahun tinggal bersamaku berubah hanya karena merasa menemukan uang yang bukan miliknya.
Rani sebenarnya bukan orang jahat sejak awal.
Ketika ibuku datang menjenguk saat tahun pertama kuliah, Rani membantu membawakan koper.
Ketika aku demam, dia pernah membelikan bubur.
Kami pernah makan mi instan bertiga karena uang bulanan terlambat.
Mungkin justru karena itulah semuanya terasa lebih menyakitkan.
Kesempatan tidak selalu mengubah seseorang.
Kadang kesempatan hanya menunjukkan bagian dirinya yang selama ini tersembunyi.
Keesokan paginya, teleponku bergetar.
Ayah.
“Sudah Rp127.180.000.”
Aku menutup mata.
“Berapa paket?”
“Yang sudah masuk sistem 518.”
Aku langsung bangun.
Namun suara ribut terdengar dari ruang depan.
Rani sedang menelepon seseorang.
“Tidak bisa dibatalkan, Kak. Barangnya sudah dijemput.”
Nada suaranya mulai meninggi.
Aku keluar kamar.
“Ada apa?”
Rani menutup mikrofon ponselnya.
“Orang ini cerewet banget. Dia mau batal karena katanya paketnya belum bergerak dari gudang.”
Aku melihat layar ponselnya.
Lalu pesan dari Ayah masuk.
Akun korporat baru saja dibekukan.
Aku tahu waktunya sudah tiba.
Kurang dari lima menit kemudian, ponsel Rani kembali berbunyi.
Kemudian sekali lagi.
Lalu terus-menerus.
Wajahnya mulai berubah.
“Kenapa semua statusnya tertahan?”
Aku tidak menjawab.
Rani membuka aplikasi ekspedisi, memasukkan beberapa nomor resi, lalu berdiri.
“Nad.”
Aku menatapnya.
“Kodenya kenapa?”
“Ayah memblokirnya.”
Wajah Rani langsung pucat.
“Kok diblokir?”
Aku sampai tidak tahu harus menjawab bagaimana.
“Karena itu akun perusahaan Ayah.”
“Tapi paket orang-orang sudah masuk semua!”
“Makanya semalam aku sudah menyuruhmu berhenti.”
Rani menatapku beberapa detik sebelum suaranya meninggi.
“Kamu sengaja, ya?”
Sinta yang sedang melipat pakaian langsung menoleh.
Aku mengernyit.
“Sengaja apa?”
“Kamu sengaja biarkan aku menerima pesanan, terus sekarang kamu blokir supaya aku malu!”
Aku menatapnya tanpa berkata-kata.
Logikanya benar-benar terbalik.
“Ran, aku sudah memperingatkanmu.”
“Tapi kamu tidak bilang akan diblokir!”
“Aku perlu memberi tahu pencuri kapan pintunya akan dikunci?”
Wajah Rani memerah.
“Aku bukan pencuri!”
“Lalu uang Rp127 juta itu siapa yang bayar?”
“Itu biaya perusahaan!”
“Perusahaan siapa?”
Dia terdiam.
Untuk pertama kalinya sejak semua ini dimulai, Rani tidak memiliki jawaban.
Namun masalah sebenarnya baru datang satu jam kemudian.
Seorang pria mengenakan seragam ekspedisi muncul di depan kos bersama dua orang lainnya.
Rani langsung menghampiri.
“Mas, paket-paketnya kenapa ditahan?”
Pria itu memperkenalkan diri sebagai supervisor area.
“Karena akun pengirim sedang dalam pemeriksaan penyalahgunaan.”
Rani menoleh kepadaku.
“Penyalahgunaan?”
Supervisor itu membuka tablet.
“Akun ini terdaftar atas nama PT milik Bapak Hendra Pratama. Penggunaan akun korporat hanya untuk kebutuhan perusahaan dan pihak yang mendapat otorisasi.”
Rani menelan ludah.
“Kalau saya bayar sekarang?”
“Total tagihan sementara Rp127.180.000.”
Wajah Rani seketika kehilangan warna.
“Berapa?”
“Seratus dua puluh tujuh juta seratus delapan puluh ribu rupiah.”
Rani memegang meja.
“Itu salah hitung.”
Supervisor tersebut tetap tenang.
“Tidak, Mbak. Sebagian besar barang berukuran besar sehingga menggunakan perhitungan berat volumetrik. Ada pengiriman ke Papua, Maluku, Kalimantan, Sulawesi, Sumatra.”
Rani mulai panik.
“Tapi saya cuma dapat uang sekitar enam juta!”
Tidak ada yang menjawab.
Kalimat itu justru membuat situasinya semakin jelas.
Dia telah mengambil enam juta rupiah dengan membuat perusahaan orang lain menanggung biaya lebih dari seratus dua puluh juta.
Tak lama kemudian, mahasiswa mulai berdatangan ke kos.
Awalnya tiga orang.
Kemudian tujuh.
Lalu belasan.
“Kak Rani, barangku ditahan?”
“Katanya ongkir sudah termasuk!”
“Aku sudah transfer!”
Rani mencoba menenangkan mereka.
“Sabar dulu. Ini cuma masalah sistem.”
Aku berdiri di sudut ruangan.
Lalu seorang perempuan bernama Fitri menunjukkan ponselnya.
“Aku barusan telepon ekspedisinya. Mereka bilang akun yang kamu pakai bukan milikmu.”
Suasana mendadak sunyi.
Rani memandangku.
Kemudian dia berkata sesuatu yang tidak pernah kuduga.
“Akun itu punya keluarga Nadya. Dia yang kasih aku akses.”
Semua mata langsung beralih kepadaku.
Dadaku terasa panas.
Sinta berdiri.
“Jangan bohong, Ran.”
Rani menatapnya tajam.
Sinta mengambil ponselnya.
“Aku rekam percakapan kalian semalam.”
Aku bahkan tidak tahu Sinta merekamnya.
Dia menekan tombol putar.
Suara Rani terdengar jelas.
“Ya sama saja. Yang bayar perusahaan, bukan kita.”
Kemudian suaraku menjelaskan bahwa semua ongkir akan ditagihkan.
Lalu kalimat Rani berikutnya terdengar.
“Bapakmu pemilik perusahaan, Nadya. Uang segitu apalah artinya?”
Wajah Rani membeku.
Tidak ada lagi yang bertanya kepadaku.
Sore itu, Ayah datang dari Semarang bersama kepala keuangan perusahaan dan seorang pengacara.
Rani yang sejak tadi masih berusaha terlihat berani akhirnya benar-benar panik.
“Om, kita bisa bicarakan baik-baik.”
Ayah duduk di kursi ruang tamu.
“Ayo.”
Rani mulai menangis.
“Saya benar-benar tidak tahu ongkirnya sampai sebesar itu.”
Ayah mengangguk.
“Mungkin pada hari pertama kamu tidak tahu.”
Rani cepat mengangguk.
“Tapi setelah Nadya menjelaskan?”
Rani terdiam.
Ayah meletakkan beberapa lembar dokumen di meja.
“Setelah tahu itu pascabayar, kamu membuka ratusan pesanan tambahan.”
Air mata Rani jatuh.
“Saya bisa cicil.”
Ayah tidak langsung menjawab.
Kemudian kepala keuangan menunjukkan daftar transaksi.
Semua lengkap.
Waktu penggunaan akun.
Nomor resi.
Alamat penerima.
Rekening tempat mahasiswa mentransfer uang.
Bahkan rekaman CCTV dari agen penjemputan.
Ayah kemudian mengatakan sesuatu yang membuatku ikut terkejut.
“Perusahaan tidak akan meminta kamu membayar Rp127 juta itu sendirian.”
Rani mendongak.
Ada secercah harapan di matanya.
“Benarkah, Om?”
“Benar.”
Dia hampir tersenyum.
Namun Ayah melanjutkan.
“Karena sebagian paket belum diberangkatkan. Kami sudah berkoordinasi dengan ekspedisi untuk menghitung ulang transaksi yang bisa dibatalkan atau dikembalikan. Mahasiswa yang menjadi korban juga tidak boleh menanggung semuanya.”
Rani mengangguk berkali-kali.
“Terima kasih, Om. Saya janji tidak akan mengulanginya.”
“Tapi semua uang yang kamu terima harus dikembalikan. Setelah nilai kerugian final keluar, kita buat perjanjian pertanggungjawaban. Kalau kamu menolak, perusahaan akan menempuh jalur hukum berdasarkan bukti yang ada.”
Senyum Rani lenyap.
“Tapi saya sudah pakai sebagian uangnya.”
“Untuk apa?”
Rani menunduk.
Tidak menjawab.
Sinta tiba-tiba berkata pelan.
“Bukannya kemarin kamu beli laptop baru?”
Ruangan kembali sunyi.
Tiga hari sebelumnya, Rani memang pulang membawa laptop baru.
Katanya hadiah wisuda dari pamannya.
Ternyata bukan.
Rani menangis semakin keras.
Dia mengaku sudah menggunakan hampir empat juta rupiah untuk membayar uang muka laptop, membeli sepatu, dan mentraktir beberapa teman.
Aku menatap perempuan yang selama empat tahun tidur hanya beberapa meter dariku.
Aneh sekali.
Semua ini bermula dari angka nol di layar.
Rp0.
Angka kecil yang membuat Rani merasa tidak ada siapa pun yang membayar.
Padahal selalu ada yang membayar.
Hanya saja bukan dia.
Dua minggu kemudian, perhitungan akhir selesai.
Sebagian besar paket yang belum berangkat berhasil dibatalkan. Beberapa paket dikembalikan ke pengirim. Untuk paket yang telanjur dikirim, perusahaan Ayah tetap membayar kewajibannya kepada ekspedisi.
Kerugian akhirnya jauh di bawah Rp127 juta, tetapi tetap puluhan juta rupiah.
Rani menandatangani perjanjian pengembalian dana dengan pendampingan keluarganya.
Orang tuanya datang dari Solo.
Ibunya menangis saat meminta maaf kepada Ayah.
Aku justru merasa kasihan melihat mereka.
Sebelum meninggalkan kos, Rani berdiri di depan pintu kamarku.
Dia tampak jauh berbeda dari beberapa minggu sebelumnya.
“Nad.”
Aku berhenti memasukkan buku ke kardus.
“Kenapa kamu nggak langsung blokir dari awal?”
Aku menatapnya.
Pertanyaan itu sudah kuduga.
“Kalau diblokir sejak paket pertama, kamu mungkin akan bilang semuanya cuma salah paham.”
Rani diam.
“Aku sudah menjelaskan bahwa itu pascabayar. Setelah tahu, kamu tetap memilih melanjutkan.”
Matanya memerah.
“Jadi kamu sengaja mau lihat aku sejauh apa?”
“Tidak.”
Aku menggeleng.
“Aku berharap kamu berhenti sendiri.”
Itulah bagian yang paling menyedihkan.
Aku benar-benar berharap malam itu Rani akan merasa bersalah, membatalkan 300 slot tambahan, lalu datang kepadaku dan meminta maaf.
Kalau dia melakukan itu, mungkin semuanya akan berbeda.
Namun dia tidak melakukannya.
Rani mengusap air matanya, kemudian pergi tanpa mengatakan apa-apa lagi.
Sebulan setelah aku pulang ke Semarang, Sinta mengirim sebuah tangkapan layar.
Sebuah akun media sosial milik Rani mengunggah foto dirinya bekerja di sebuah toko kecil.
Di bawah foto itu ada tulisan panjang.
Aku mengira dia akan menyalahkanku.
Ternyata tidak.
Kalimat terakhirnya membuatku terdiam cukup lama.
“Aku pernah mengira sesuatu yang tidak keluar dari dompetku berarti gratis. Ternyata kata gratis sering kali hanya berarti ada orang lain yang dipaksa membayar.”
Aku membaca kalimat itu dua kali.
Lalu Ayah masuk ke ruang kerjaku membawa sebuah amplop.
“Dari Rani.”
Di dalamnya ada bukti transfer cicilan pertama.
Jumlahnya tidak besar.
Hanya Rp750.000.
Namun di bagian berita transfer tertulis satu kalimat.
“Untuk uang yang sejak awal memang bukan hak saya.”
Aku tersenyum tipis.
Bukan karena semuanya sudah selesai.
Utangnya masih panjang.
Kepercayaan yang rusak mungkin tidak akan pernah kembali seperti semula.
Tetapi setidaknya, untuk pertama kalinya sejak melihat angka Rp0 di layar ponselku, Rani akhirnya memahami satu hal sederhana.
Tidak ada uang yang benar-benar gratis ketika kita sedang menggunakan milik orang lain.
