Pagi itu, untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku berharap Ayah dan Ibu pergi secepat mungkin.
Aku bahkan tidak tidur semalaman.
Sari duduk meringkuk di sudut kamarku dengan punggung menempel ke dinding. Setiap kali aku bergerak, matanya langsung terbuka lebar. Ia masih tidak percaya kepadaku.
Aku tidak menyalahkannya.
Selama bertahun-tahun, akulah orang yang selalu menggagalkan pelariannya.
Aku yang mengejarnya ke kebun singkong.

Aku yang menemukannya bersembunyi di bawah jembatan.
Aku juga yang pernah menarik kakinya ketika ia hampir berhasil naik ke bak mobil sayur menuju kota.
Sembilan puluh sembilan kali.
Selama ini aku mengira aku sedang menjaga adikku.
Ternyata aku membantu dua orang penculik menjaga tahanan mereka.
Sekitar pukul empat lewat tiga puluh, terdengar suara Ibu dari dapur.
“Nisa, bangun!”
Aku pura-pura baru terjaga.
“Iya, Bu!”
“Jaga rumah. Jangan biarkan Sari keluar!”
Aku membuka pintu kamar sedikit.
Ayah sudah mengenakan jaket hitam. Di tangannya ada tas besar yang tidak pernah kulihat sebelumnya.
“Mau ke mana, Yah?”
“Urusan orang dewasa.”
Aku mengangguk.
Namun saat Ayah melewatiku, terdengar suara Ibu dari luar.
“Orang Surabaya itu sudah kasih kepastian?”
Ayah segera menutup pintu.
Aku hanya sempat mendengar jawabannya.
“Sudah. Tinggal tunggu umur anaknya cukup.”
Darahku seketika dingin.
Anaknya.
Aku tahu siapa yang mereka maksud.
Sari.
Beberapa menit kemudian, suara sepeda motor menjauh.
Aku menunggu.
Lima menit.
Sepuluh menit.
Lima belas menit.
Baru setelah benar-benar yakin mereka tidak kembali, aku membuka kotak kayu di bawah ranjang.
“Bangun.”
Sari menatapku.
Aku mengeluarkan seluruh tabunganku.
Uang receh dan lembaran kusut itu kukumpulkan menjadi satu kantong plastik.
“Ambil.”
Sari menggeleng.
“Jangan bodoh. Kalau kamu mau pergi, kamu butuh uang.”
Ia tetap tidak bergerak.
Lalu suara hatinya terdengar.
【Kenapa dia membantuku?】
Aku menatapnya tajam.
“Karena kalau kamu tidak pergi sekarang, mungkin aku tidak akan pernah tahu siapa diriku sebenarnya.”
Sari membeku.
Aku juga membeku.
Aku terlalu terbawa emosi.
Seharusnya aku tidak mengetahui rahasia itu.
Sari menatap bibirku, lalu menunjuk dirinya sendiri dan kemudian menunjuk kepalaku.
Aku tidak memahami gerakannya.
Ia mengambil arang kecil dari dekat tungku dan menulis di lantai.
Aku hanya melihat garis-garis hitam.
Sekali lagi aku merasa seperti orang paling bodoh di dunia.
“Aku tidak bisa membaca.”
Sari menatapku lama.
Kemudian ia menggenggam tanganku dan menarikku menuju pintu.
Aku menggeleng.
“Kamu pergi sendiri.”
Ia menolak.
“Kamu tahu jalan pulang, kan?”
Ia mengangguk.
“Kalau begitu pergilah.”
Sari justru menarik tanganku semakin keras.
【Aku ingat kehidupan sebelumnya.】
【Aku pernah berhasil menemukan orang tua kandungku.】
【Tapi saat itu semuanya sudah terlambat.】
Aku menahan napas.
【Lima tahun lagi, setelah aku dijual, Nisa juga akan dijual kepada jaringan lain.】
【Dia mencoba melawan.】
【Ayah membunuhnya.】
Kakiku kehilangan tenaga.
Aku terduduk.
Sari langsung memegang bahuku.
Aku menatap wajahnya.
“Baik.”
Aku bangkit.
“Kita pergi bersama.”
Kami keluar melalui kebun belakang.
Untuk pertama kalinya, tidak ada yang mengejar kami.
Kami berjalan hampir dua jam sampai jalan tanah berubah menjadi jalan beraspal. Kaki Sari sudah berdarah ketika sebuah mobil bak terbuka lewat.
Aku melambaikan tangan.
Sopirnya, seorang lelaki paruh baya bernama Pak Darto, bersedia membawa kami sampai terminal kecamatan.
Di perjalanan, aku terus memikirkan satu hal.
Bagaimana mungkin dua anak bisa hilang bertahun-tahun tanpa seorang pun menemukan mereka?
Jawabannya datang lebih cepat daripada yang kuduga.
Begitu kami turun di terminal, Sari mendadak berhenti di depan sebuah kantor polisi kecil.
Ia menunjuk bangunan itu.
Aku langsung menarik tangannya.
“Jangan.”
Sari menatapku bingung.
Aku teringat beberapa tahun lalu ketika polisi pernah datang ke rumah.
Ayah memberi mereka dua ekor ayam dan sebuah amplop.
Setelah itu mereka minum kopi bersama sambil tertawa.
“Aku tidak tahu siapa yang bisa dipercaya.”
Sari terdiam.
Lalu ia menunjuk sebuah angkot yang hendak berangkat menuju kota.
Kami naik.
Di dalam perjalanan, aku bertanya kepada penumpang bagaimana caranya menemukan alamat seseorang.
Seorang mahasiswa perempuan bernama Rika menatap kami dengan curiga.
“Kalian kabur dari rumah?”
“Tidak.”
“Kalian punya telepon?”
Aku menggeleng.
“Nama orang yang dicari?”
Aku menatap Sari.
Sari mengambil kertas dari Rika dan menulis sesuatu.
Rika membacanya.
“Bambang Santoso dan Ratih Kusuma?”
Sari mengangguk cepat.
Rika mencari nama itu melalui ponselnya.
Beberapa menit kemudian ekspresinya berubah.
“Kalian kenal mereka?”
Aku menggeleng.
Rika memperlihatkan layar ponsel.
Ada foto sepasang suami istri berdiri sambil membawa poster seorang anak perempuan.
Di bawahnya tertulis sebuah berita lama.
Aku tidak bisa membaca, tetapi Rika membacakannya.
“Pasangan asal Malang masih mencari putri mereka yang hilang sebelas tahun lalu.”
Sari mulai menangis.
Tangannya gemetar ketika menyentuh foto perempuan di layar.
【Ibu.】
Aku memalingkan wajah.
Jadi suara hati itu benar.
Rika akhirnya membawa kami ke sebuah pos bantuan perempuan dan anak di kota. Dari sana, petugas menghubungi nomor yang tercantum dalam berita lama.
Tidak sampai tiga jam kemudian, sebuah mobil berhenti di halaman.
Seorang perempuan turun bahkan sebelum mobil benar-benar berhenti.
“Sari!”
Tubuh Sari bergetar hebat.
Perempuan itu berlari dan memeluknya.
Sari tidak bisa berkata apa-apa.
Ia hanya menangis tanpa suara sambil mencengkeram pakaian perempuan itu.
Seorang lelaki menyusul dari belakang.
Tangannya gemetar ketika menyentuh kepala Sari.
“Ayah di sini, Nak.”
Aku berdiri beberapa meter dari mereka.
Entah kenapa dadaku terasa sakit.
Bahagia melihat Sari menemukan keluarganya.
Namun pada saat yang sama, aku sadar tidak ada siapa pun yang datang mencariku.
Aku berbalik hendak pergi.
Tiba-tiba Sari melepaskan pelukan ibunya dan mengejarku.
Ia memeluk pinggangku dari belakang.
“Sudah.”
Aku berusaha melepaskan tangannya.
“Kamu sudah pulang.”
Ia tidak mau melepaskanku.
Ayah kandung Sari kemudian bertanya, “Kamu Nisa?”
Aku mengangguk.
“Sari sering menulis namamu di buku-buku yang kami kirim ke berbagai yayasan.”
Aku terkejut.
“Buku?”
“Iya. Beberapa tahun lalu kami pernah menerima surat tanpa nama pengirim. Isinya hanya dua nama, Sari dan Nisa, serta gambar sebuah rumah.”
Aku menatap Sari.
Rupanya ia sudah berkali-kali mencoba meminta pertolongan.
Hanya saja tidak ada seorang pun di rumah kami yang bisa membaca suratnya.
Hari itu polisi dari kota mulai melakukan penyelidikan.
Aku diminta menceritakan semuanya.
Tentang rumah.
Tentang kandang tempat Sari dikurung.
Tentang orang-orang asing yang sering datang malam hari.
Tentang amplop yang diterima Ayah.
Dan tentang tas hitam yang dibawanya pagi itu.
Petugas akhirnya menemukan sesuatu yang jauh lebih besar daripada dugaan kami.
Ayah dan Ibu bukan hanya menculik kami.
Mereka adalah bagian dari jaringan perdagangan anak yang sudah beroperasi belasan tahun.
Anak-anak yang masih kecil dibesarkan sementara.
Sebagian kemudian dijual sebagai pekerja ilegal.
Sebagian dipaksa menikah.
Sebagian lagi dipindahkan ke keluarga lain dengan dokumen palsu.
Aku dan Sari hanyalah dua dari banyak korban.
Ayah dan Ibu ditangkap malam itu ketika kembali ke rumah.
Tetapi rahasia tentang diriku belum terpecahkan.
Tidak ada dokumen.
Tidak ada foto.
Tidak ada nama keluarga.
Hanya satu petunjuk.
Sebuah gelang rumah sakit yang ditemukan polisi di dalam peti besi tua.
Tulisan di gelang itu hampir hilang.
Namun masih terlihat tanggal lahir dan sebuah nomor.
Polisi menelusurinya.
Tiga minggu kemudian, aku dipanggil.
Seorang petugas perempuan meletakkan sebuah foto di depanku.
“Ini kemungkinan orang tua kandungmu.”
Aku menatap foto itu.
Seorang perempuan muda sedang menggendong bayi.
Di sampingnya berdiri seorang lelaki berkacamata.
“Mereka meninggal?”
Petugas itu diam beberapa saat.
“Kami dulu menduga kecelakaan. Sekarang kasusnya dibuka kembali.”
Aku tidak menangis.
Entah mengapa air mataku tidak keluar.
“Mereka mencari saya?”
“Sampai hari terakhir.”
Petugas menyerahkan sebuah kotak kecil.
“Barang ini ditemukan di mobil mereka setelah kecelakaan dan disimpan sebagai barang bukti.”
Di dalamnya ada boneka kain kecil berbentuk kelinci.
Di lehernya terdapat bordiran.
Aku tidak bisa membacanya.
Petugas membacakannya.
“Untuk Nisa. Ayah dan Ibu akan membawamu pulang.”
Saat itulah pertahananku runtuh.
Aku menangis sampai tidak bisa bernapas.
Selama bertahun-tahun aku mengira tidak bersekolah karena keluargaku miskin.
Aku mengira tidak pernah memiliki akta kelahiran karena Ayah malas mengurusnya.
Aku mengira dipukul adalah hal biasa.
Aku bahkan merasa bangga setiap kali mendapat uang karena berhasil menangkap Sari.
Padahal uang itu adalah upah karena menjaga tahanan.
Setelah jaringan itu terbongkar, aku tinggal sementara bersama keluarga Sari.
Orang tuanya tidak pernah memaksaku memanggil mereka Ayah dan Ibu.
Mereka hanya berkata aku boleh tinggal selama yang kubutuhkan.
Aku mulai sekolah melalui program khusus.
Hari pertama memegang buku, aku menangis diam-diam.
Sari duduk di sampingku.
Ia menunjuk sebuah kata.
Nisa.
Namaku sendiri.
Itulah kata pertama yang berhasil kubaca.
Beberapa bulan kemudian, persidangan dimulai.
Ayah dan Ibu dibawa ke ruang sidang dengan tangan diborgol.
Ketika melihatku, Ibu menangis.
“Nisa! Kamu anak Ibu!”
Aku hanya menatapnya.
“Aku membesarkanmu!”
Untuk sesaat, kenangan lama muncul.
Tangannya yang pernah menyisir rambutku.
Sup hangat ketika aku demam.
Uang hadiah yang selalu kusimpan.
Lalu aku teringat ruangan gelap tempat Sari dikurung.
Aku teringat gelang rumah sakit.
Aku teringat boneka kelinci.
“Aku memang dibesarkan olehmu.”
Ibu berhenti menangis.
Aku melanjutkan pelan.
“Tapi anak bukan milik orang yang berhasil menculik dan menyembunyikannya paling lama.”
Wajahnya pucat.
Aku berbalik.
Di luar ruang sidang, Sari menungguku.
Ia kini memakai alat bantu dengar yang diberikan keluarganya setelah pemeriksaan medis.
Dokter mengatakan kerusakan pendengarannya tidak sepenuhnya permanen. Dengan terapi panjang, ada kemungkinan ia bisa mengenali beberapa suara.
Aku mendekatinya.
Sari tersenyum.
Lalu tiba-tiba bibirnya bergerak.
Suara yang keluar sangat pelan dan tidak jelas.
“Nis…”
Aku berhenti.
Sari mencoba lagi.
“Nisa.”
Air mataku langsung jatuh.
Selama ini aku mendengar suara hatinya tanpa pernah mendengar suaranya sendiri.
Aku memeluknya erat.
Namun ada satu hal yang tidak pernah kukatakan kepada siapa pun.
Sejak hari Sari memanggil namaku dengan suaranya sendiri, aku tidak pernah lagi mendengar suara hatinya.
Seolah kemampuan aneh itu memang hanya diberikan kepadaku untuk satu tujuan.
Membuatku berhenti menangkapnya.
Dan membiarkan kami berdua akhirnya pulang.
Beberapa tahun kemudian, ketika aku sudah bisa membaca dengan lancar, Sari memberikan sebuah buku catatan lama.
Di halaman pertama ada tulisan yang dibuatnya pada malam ketika ia dikurung di gudang.
Aku mengenali bentuk huruf itu.
Itulah tulisan yang dulu ia goreskan dengan jarinya di telapak tanganku.
Aku membacanya perlahan.
Kak Nisa, jangan bawa aku kembali.
Kalau Kakak ikut denganku, kita bisa pulang bersama.
Aku menutup buku itu sambil menangis.
Ternyata pada malam itu, sebelum aku mengetahui kebenaran apa pun, Sari tidak pernah berniat meninggalkanku.
Ia sudah tahu kami bukan saudara kandung.
Ia sudah tahu aku adalah orang yang menangkapnya sembilan puluh sembilan kali.
Namun dalam rencana pelariannya yang keseratus, ia tetap ingin membawaku bersamanya.
Saat itulah aku akhirnya mengerti.
Keluarga bukan selalu orang yang darahnya sama dengan kita.
Kadang keluarga adalah seseorang yang, bahkan ketika pintu kebebasan sudah terbuka di depannya, masih berbalik dan mengulurkan tangan agar kita tidak tertinggal.
