Tetangga Melaporkanku Karena Teriak “Bunuh Dia”, Malamnya Aku Menemukan Tangan Dingin Menyembul dari Bawah Ranjang

Jari itu bergerak.

Bukan karena tanganku gemetar.

Bukan pula karena kasur bergeser.

Jari manusia yang dingin di bawah ranjangku benar-benar membalas genggamanku.

Selama dua detik, otakku seperti berhenti bekerja.

Lalu aku menjerit.

Aku menarik tangan begitu keras sampai tubuhku terjungkal dari kasur. Punggungku menghantam lantai, sementara jantungku berdetak seperti hendak merobek dada.

Aku menatap celah gelap di bawah ranjang.

Tidak ada suara.

Aku meraih ponsel yang tergeletak tak jauh dari kakiku, menyalakan senter, lalu mengarahkannya ke bawah.

Cahaya putih menyapu debu dan beberapa barang lama.

Kemudian berhenti pada sebuah wajah.

Seorang perempuan berada di sana.

Matanya terbuka.

Wajahnya pucat.

Rambut panjangnya menutupi sebagian pipi.

Aku menjerit lagi sambil mundur sampai punggungku membentur lemari.

Namun perempuan itu tiba-tiba mengangkat telunjuk ke bibir.

“Ssst.”

Aku membeku.

Dia hidup.

Perempuan itu merangkak keluar dengan susah payah. Usianya mungkin sekitar dua puluh lima tahun. Ia mengenakan celana panjang hitam dan kemeja abu-abu yang sudah kusut. Ada memar di pergelangan tangannya.

“Tolong jangan teriak,” bisiknya.

“Siapa kamu?”

Dia menoleh ke pintu kamar, ketakutan.

“Kunci pintunya.”

“Apa?”

“Tolong kunci pintunya sekarang.”

Entah karena takut atau bingung, aku menurut. Setelah pintu kamar terkunci, aku kembali menatapnya.

“Bagaimana kamu bisa masuk ke apartemenku?”

Perempuan itu tidak menjawab. Ia justru bertanya, “Polisi tadi sudah pergi?”

Darahku terasa dingin.

“Kamu tahu polisi datang?”

Dia mengangguk.

“Aku ada di bawah ranjang waktu mereka memeriksa kamar.”

Aku langsung teringat dua polisi yang berdiri hanya beberapa langkah dari tempat tidurku.

“Tapi mereka melihat ke sini.”

“Tidak sampai bawah ranjang.”

“Kenapa kamu tidak keluar?”

Wajahnya berubah.

“Karena Dimas ada di luar.”

Nama itu membuat tengkukku meremang.

“Dimas? Tetanggaku?”

Perempuan itu mengangguk cepat.

“Namaku Alya.”

Ia menarik napas panjang sebelum melanjutkan.

“Aku pacarnya.”

Aku hampir tertawa karena situasinya terlalu absurd.

“Pacar Dimas bersembunyi di bawah ranjangku tengah malam?”

“Bukan pacar lagi.”

Alya menatap pergelangan tangannya yang memar.

“Aku mencoba meninggalkannya.”

Kemudian ia menceritakan semuanya.

Alya dan Dimas sudah tinggal bersama hampir setahun. Awalnya Dimas terlihat perhatian. Namun perlahan sifat aslinya muncul. Ia mulai memeriksa ponsel Alya, melarangnya bertemu teman, mengatur pakaian, bahkan mengambil sebagian besar gajinya dengan alasan menabung untuk menikah.

Seminggu terakhir, Alya menemukan sesuatu yang lebih mengerikan.

Dimas ternyata menggunakan identitasnya untuk mengajukan pinjaman online dan membuka beberapa rekening.

Ketika Alya mengancam akan melapor, Dimas mengurungnya di apartemen.

“Sore tadi aku berhasil keluar ketika dia mandi,” katanya.

“Lalu kenapa masuk ke sini?”

“Aku lari naik tangga darurat. Aku dengar dia mengejar. Kebetulan pintu apartemenmu tidak tertutup rapat.”

Aku teringat saat mengambil paket siang tadi. Mungkin aku memang tidak mendorong pintunya sampai benar-benar terkunci.

“Aku masuk dan bersembunyi di kamar. Lalu kamu mulai main game. Aku mau keluar, tapi Dimas datang ke lantai ini.”

Aku mulai memahami sesuatu.

“Jadi suara perempuan yang didengar Dimas…”

“Bukan aku.”

Alya menggeleng.

“Dia sebenarnya tahu aku mungkin ada di apartemenmu. Laporan polisi itu cuma alasan supaya apartemenmu diperiksa.”

Aku menatapnya tak percaya.

“Kalau begitu kenapa dia melapor polisi? Bukankah polisi justru bisa menemukanmu?”

“Dia pikir kalau polisi menemukan aku di apartemen laki-laki asing, dia bisa bilang aku selingkuh atau mencuri. Dia sudah mengirim pesan ke keluargaku bahwa aku tidak stabil.”

Potongan kejadian sore tadi mulai tersusun.

Tatapan Dimas pada pintu kamar.

Kegigihannya mengatakan ada perempuan.

Dan wajah kecewanya ketika polisi tidak menemukan apa pun.

Aku segera mengeluarkan ponsel.

“Kita telepon polisi sekarang.”

Alya langsung memegang lenganku.

“Jangan.”

“Kenapa?”

“Ponselku masih di apartemen Dimas. Semua buktinya ada di sana. Foto dokumen, percakapan, rekening. Kalau dia sadar aku sudah bicara, dia akan menghapus semuanya.”

“Nyawamu lebih penting daripada bukti.”

“Aku tahu.”

Matanya berkaca-kaca.

“Tapi kalau aku tidak punya bukti, dia akan melakukan hal yang sama lagi. Mungkin kepada perempuan lain.”

Aku terdiam.

Kemudian terdengar suara dari luar.

Tok.

Tok.

Tok.

Kami saling menatap.

“Raka?”

Suara Dimas.

Tubuh Alya langsung menegang.

“Jangan buka,” bisiknya.

Dimas mengetuk lagi.

“Ka, maaf soal tadi sore. Gue mau ngomong sebentar.”

Aku memberi isyarat kepada Alya untuk kembali bersembunyi.

Aku keluar dari kamar dan menutup pintunya, lalu berjalan ke pintu utama.

“Ada apa?”

“Ada barang gue ketinggalan di sini.”

Aku mengernyit.

“Barang apa?”

Dimas diam sesaat.

“Kunci motor.”

“Kamu bahkan tidak masuk ke apartemenku tadi.”

Keheningan.

Kemudian gagang pintu bergerak perlahan.

Dia mencoba membukanya.

Aku mundur satu langkah.

“Mas Dimas?”

Tidak ada jawaban.

Aku langsung menelepon polisi.

Namun sebelum tersambung, listrik apartemenku mati.

Seluruh ruangan gelap.

Dari luar terdengar suara logam.

Seseorang sedang mencoba membuka kunci.

Aku berlari ke kamar.

“Alya, kita harus keluar.”

“Lewat mana?”

Apartemenku berada di lantai delapan. Tidak ada balkon yang terhubung ke unit lain.

Aku membuka jendela dan melihat ke bawah.

Mustahil.

Lalu aku teringat gudang.

Di belakang tumpukan kardus terdapat pintu kecil menuju ruang servis tempat pipa utama gedung berada. Teknisi pernah masuk melalui sana.

Aku membawa Alya ke gudang.

Suara pintu utama tiba-tiba terdengar.

Klik.

Dimas berhasil masuk.

Kami menahan napas.

“Alya.”

Suara Dimas terdengar dari ruang tamu.

Lembut.

Hampir seperti orang yang sedang memanggil anak kecil.

“Aku tahu kamu di sini.”

Alya gemetar.

Aku membuka pintu servis dan menyuruhnya masuk lebih dahulu.

Kami merangkak melewati lorong sempit yang penuh pipa.

Dari belakang terdengar langkah kaki semakin dekat.

Pintu gudang terbuka.

“Raka!”

Aku tidak menjawab.

Kami terus merangkak.

Di ujung lorong ada tangga besi menuju lantai tujuh.

Begitu kakiku menyentuh tangga, tangan seseorang tiba-tiba menarik pergelangan kakiku.

Aku hampir jatuh.

Dimas.

Dia berhasil menyusul.

“Jangan ikut campur urusan gue!”

Aku menendang sekuat tenaga.

Pegangannya terlepas.

Alya menjerit.

Dimas mencoba meraih kakiku lagi, tetapi aku menendang pintu besi di antara kami sampai tertutup.

Kami turun ke lantai tujuh dan berlari menuju koridor.

Seorang petugas keamanan gedung muncul dari lift.

Aku langsung berteriak meminta bantuan.

Beberapa menit kemudian polisi datang.

Dimas ditemukan masih berada di lorong servis.

Kali ini dia tidak bisa mengatakan bahwa semuanya hanya salah paham.

Namun kejutan sebenarnya baru muncul keesokan paginya.

Polisi memeriksa apartemen Dimas.

Mereka menemukan ponsel Alya, beberapa kartu identitas, dokumen pinjaman, serta belasan kartu SIM.

Tetapi ada satu benda yang membuat penyelidikan berubah arah.

Sebuah laptop.

Di dalamnya terdapat folder berisi foto beberapa penghuni apartemen.

Termasuk aku.

Ada foto ketika aku berangkat kerja.

Ketika mengambil paket.

Ketika membeli makanan.

Bahkan foto jendela kamar tidurku dari gedung seberang.

Polisi kemudian menemukan bahwa Dimas sudah berbulan-bulan mengumpulkan informasi tentang penghuni yang tinggal sendirian.

Ia memanfaatkan data pribadi untuk membuat akun pinjaman ilegal dan rekening penampung.

Aku ternyata salah satu target berikutnya.

Alasannya sederhana.

Aku tinggal sendiri, jarang berinteraksi dengan tetangga, dan sering menerima paket berisi dokumen kantor.

Namun ada sesuatu yang masih tidak masuk akal.

“Kalau begitu,” tanyaku kepada Alya ketika kami memberikan keterangan di kantor polisi, “kenapa kamu memilih apartemenku?”

Alya menatapku lama.

“Aku tidak memilih secara acak.”

Aku terdiam.

“Apa maksudmu?”

Dia membuka ponselnya yang sudah dikembalikan polisi.

“Aku menemukan folder tentang kamu tiga hari lalu. Itu sebabnya aku tahu namamu.”

Ia menunjukkan sebuah foto.

Foto diriku sedang memasuki apartemen.

Di bawahnya terdapat catatan.

TINGGAL SENDIRI.

KELUARGA DI LUAR KOTA.

TARGET MUDAH.

Dadaku terasa sesak.

“Aku sebenarnya berniat memperingatkanmu,” kata Alya. “Tapi sebelum sempat, Dimas tahu aku membuka laptopnya.”

Aku menatap perempuan itu.

Jadi orang asing yang kukira bersembunyi di bawah tempat tidurku ternyata masuk ke apartemenku bukan hanya untuk menyelamatkan dirinya.

Secara tidak langsung, dia juga menyelamatkanku.

Dimas akhirnya ditahan. Penyelidikan menemukan beberapa korban lain yang datanya telah digunakan tanpa izin.

Aku sempat berpikir kejadian itu sudah selesai.

Sampai tiga minggu kemudian.

Malam itu aku baru pulang kerja ketika seseorang mengetuk pintu.

Tok.

Tok.

Tok.

Tubuhku langsung menegang.

Sejak kejadian dengan Dimas, suara ketukan pintu selalu membuat jantungku berdetak lebih cepat.

Aku melihat melalui lubang pintu.

Dua polisi berdiri di luar.

Salah satunya polisi senior yang datang pertama kali pada malam itu.

Aku membuka pintu.

“Ada apa, Pak?”

Dia menyerahkan sebuah amplop plastik transparan.

“Kami menemukan ini saat pemeriksaan lanjutan.”

Di dalamnya terdapat sebuah kunci.

Kunci apartemenku.

Aku menatap polisi itu.

“Kenapa Dimas punya ini?”

“Bukan ditemukan di apartemen Dimas.”

Aku semakin bingung.

“Lalu?”

“Di ruang servis.”

Polisi itu kemudian menjelaskan sesuatu yang membuat bulu kudukku berdiri.

Kunci itu bukan duplikat buatan Dimas.

Itu kunci cadangan asli apartemenku.

Aku baru ingat bahwa ketika pertama kali pindah, pemilik apartemen memberiku dua kunci.

Satu selalu kugunakan.

Satu lagi kusimpan di laci meja dekat pintu.

Aku berlari memeriksanya.

Laci itu kosong.

Artinya seseorang sudah pernah masuk ke apartemenku jauh sebelum malam ketika Alya bersembunyi di bawah ranjang.

Aku kembali menatap polisi.

“Jadi Dimas pernah masuk sebelumnya?”

Polisi itu menggeleng.

“Kami belum bisa memastikan.”

“Tapi siapa lagi?”

Dia tidak langsung menjawab.

Sebaliknya, dia bertanya sesuatu.

“Saudara Raka, selama beberapa bulan terakhir, pernah merasa barang di kamar berpindah sendiri?”

Pertanyaan itu membuatku teringat hal-hal kecil yang selama ini kuabaikan.

Botol minum yang tiba-tiba berada di dapur.

Jendela yang kukira sudah kututup tetapi terbuka sedikit.

Kemeja yang kutemukan di lantai meski aku yakin sudah menggantungnya.

Aku selalu menyalahkan sifat pelupaku.

Polisi itu kemudian mengatakan mereka menemukan sidik jari lain pada kunci tersebut.

Bukan milikku.

Bukan milik Alya.

Dan bukan milik Dimas.

Aku berdiri membeku.

“Punya siapa?”

“Kami belum tahu.”

Malam itu aku tidak tidur di apartemen.

Aku menginap di hotel dan memutuskan pindah beberapa hari kemudian.

Sebelum meninggalkan tempat itu untuk terakhir kali, aku berdiri di kamar yang sudah kosong.

Tidak ada kasur.

Tidak ada lemari.

Tidak ada pakaian berserakan.

Hanya lantai dingin dan dinding putih.

Aku memandang tempat di mana ranjangku dulu berada.

Tiba-tiba ponselku berbunyi.

Pesan dari Alya.

Terima kasih karena malam itu kamu tidak menyerahkanku kepada Dimas.

Aku tersenyum kecil.

Lalu pesan kedua masuk.

Tapi ada sesuatu yang belum pernah aku ceritakan kepadamu.

Senyumku menghilang.

Aku mengetik.

Apa?

Tiga titik muncul cukup lama.

Kemudian jawabannya datang.

Malam ketika aku masuk ke apartemenmu, aku langsung bersembunyi di bawah ranjang.

Aku menunggu.

Aku mengerutkan kening.

Pesan berikutnya muncul.

Sekitar satu jam sebelum polisi datang, seseorang masuk ke kamar tidurmu.

Aku merasa darah meninggalkan wajahku.

Aku mengetik dengan tangan gemetar.

Dimas?

Jawabannya datang beberapa detik kemudian.

Bukan.

Aku menatap layar.

Lalu pesan terakhir muncul.

Aku tidak pernah melihat wajahnya karena aku takut bergerak.

Tapi orang itu berdiri di samping ranjangmu hampir lima menit.

Dia hanya berdiri diam.

Mengawasimu bermain game dari balik pintu kamar.

Dan sebelum pergi, dia berjongkok.

Lalu melihat tepat ke bawah ranjang.

Ponselku hampir terlepas dari tangan.

Pesan terakhir Alya masuk.

Raka, orang itu tahu aku ada di sana.

Tapi dia tidak mengatakan apa-apa.

Aku berdiri sendirian di kamar kosong sambil menatap celah gelap menuju lorong servis.

Untuk pertama kalinya aku memahami sesuatu yang jauh lebih menakutkan daripada menemukan tangan dingin di bawah ranjang.

Malam itu, Alya bukan satu-satunya orang asing yang berada di dalam rumahku.

Dan sampai hari ini, aku masih belum tahu siapa orang yang satunya.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang